Selama perjalanan Itachi berkali-kali menggeser duduknya karena ia sungguh tidak merasa nyaman, rasa sempit dibagian celananya sama sekali tidak berkurang, padahal hanya foto yang sebenarnya 'biasa' saja, tapi pikiran Itachi menggeneralisir ke berbagai 'aspek mesum'. Klakson mobil berkali-kali ia tekan dengan sedikit emosi karena jam pulang kerja seperti ini memang agak macet di beberapa tempat, dan malangnya, Itachi selalu sial mendapatkan lampu lalu lintas yang berwarna merah di setiap persimpangan besar.
Sepanjang perjalanan itu pula, ponsel Itachi terus berdering, bukan pesan singkat lagi melainkan telepon, tak ingin mendengar adiknya berbuat aneh-aneh di telepon selagi ia masih dijalan, Itachi mengeraskan suara speaker tape di dalam mobilnya, pasalnya nada dering yang digunakan Itachi untuk panggilan telepon untuk nomor Sasuke adalah rekaman suara Sasuke sendiri. Dan tentu akan berbahaya jika Itachi mendengar suara seksi dan memanja adiknya dalam ringtone tersebut dalam waktu yang lama.
.
Sejam kemudian, Itachi sampai di hotel dan langsung menuju kamarnya, ia makan dengan terburu dan melepas semua pakaian kerjanya. Dan Sasuke kembali menelepon.
'Nii-san, kau sudah di hotel?' Tanyanya dengan suara yang polos.
Pura-pura polos dan hanya akal-akalannya saja untuk menggoda sang kakak.
"Kalau aku belum sampai, aku tak kan mengangkat teleponmu, Otouto…" Jawab Itachi tetap berusaha kalem walaupun pikirannya sudah nyaris meledak.
'Hn'
Terputus, dan Itachi langsung mengambil laptop dari tasnya, menaruhnya di kasur dan menyalakannya. Tak lupa memasangkan modem, Itachi tak membuang waktu untuk segera menyambungkannya ke internet dan melakukan video call. Tentu saja, Sasuke sudah menunggunya disana, ketika layar video call sudah terbuka, terlihat disana Sasuke duduk dengan tenang di atas kasurnya dengan kaki yang bersila. Tak ada tanda-tanda seduktif atau godaan disana, adik satu-satunya ini sedang tersenyum ke arah komputer dengan wajah polos. Menyebalkan. Dia berlagak seperti tidak terjadi apa-apa.
Itachi berusaha tetap tenang menunggu hal apa yang akan dilakukan Sasuke selanjutnya, ia tak mau terlihat begitu penasaran dan membutuhkan di depan adiknya atau itu hanya akan membuat Sasuke semakin senang karena merasa menang. Lagipula, Itachi sudah bertekad untuk menghukum kenakalan adiknya ini. Nanti. Saat ia sudah sampai dirumah.
"Apa maksudmu, Sasuke?" Tanya Itachi membuka pembicaraan karena dilihatnya adiknya ini hanya diam sambil tersenyum polos ke arahnya.
Sasuke menaikkan kedua alisnya dan mengedipkan matanya beberapa kali masih bersikap pura-pura polos.
'Apanya?' Tanyanya balik.
Itachi mendengus berat dan memejamkan matanya.
"Kalau begitu, kuputus video call nya dan aku ingin istirahat…" Jawab Itachi sedikit menyelipkan nada ancaman di dalamnya.
Dan tentu anak manis ini langsung bereaksi. Dia masih polos pada intinya, dan Itachi senang memanfaatkan kepolosan si pantat ayam mungil ini.
'Tunggu Itachi…. Hn, maksudku tunggu dalam arti yang sebenarnya…' Jawabnya sambil beranjak dari tempat tidur.
Itachi menaikkan pinggir bibirnya puas dengan reaksi Sasuke dan menunggu Sasuke kembali. Matanya masih lurus ke arah laptopnya, setidaknya ia melihat isi kamar adiknya, ah, ia semakin rindu ingin pulang. Ia rindu adiknya. Ia ingin menyerang adiknya dengan buas setelah menahan diri selama empat hari.
Lima belas menit Sasuke belum juga kembali, entah kemana anak itu dan Itachi mulai tidak sabar, tapi mau bagaimana lagi, tidak ada aplikasi semacam telepati yang bisa memanggil seseorang dari jarak jauh, dan sekarang Itachi tidak tahu apa yang sedang dilakukan adiknya hingga membuatnya menunggu selama ini.
Keringat Itachi mengalir dari pelipis hingga ke dagunya saat ia melihat Sasuke kembali. Berlebihan? Sama sekali tidak. Pasalnya adik satu-satunya yang luar biasa nakal dan tak pernah kehabisan akal untuk bermanja dan menggoda kakaknya ini naik ke tempat tidur dengan baju seragam sailor wanita, jelas dengan rok mini dan di kepalanya tersemat pita besar.
"Kau itu kenapa, Sasuke? Dapat baju itu darimana?" Tanya Itachi masih berusaha kalem padahal jantungnya sudah ingin melompat dari dadanya.
Sasuke hanya mengedipkan sebelah matanya di depan lensa webcam. Itachi menelan air liurnya. Adiknya, sungguh, anak ini mempunyai aura yang sangat berbahaya. Seksi sekali. Tak pernah terlintas di pikiran Itachi bahwa adiknya bisa melakukan hal seperti ini. Menggunakan pakaian perempuan untuk menggoda pasangan.
Terlalu manis. Sasuke terlalu cantik bahkan dibandingkan dengan wanita manapun, remaja dan gadis imut manapun. Tak heran, kulit Sasuke begitu halus dan licin seperti porcelain, warna kulitnya pun putih bersih, mungkin dari seluruh Uchiha, Sasuke lah pemilik warna kulit terpucat.
'Nii-san, apa aku cantik? Baju ini cocok tidak?' Tanyanya.
Baiklah, suaranya memanja. Lebih halus tapi tidak seperti perempuan, tetap pada suara nyaringnya hanya memanja dan meminta. Nafas Itachi mulai memburu melihat pemandangan itu. Tentu saja cocok, dan bahkan Sasuke lebih cantik dari seorang malaikat sekalipun. Sial!
"Kutanya, darimana baju itu, Otouto?" Itachi masih balik bertanya.
'Naruto...' Jawab Sasuke polos sambil memiringkan kepalanya dengan manis.
'Rubah liar itu harus kuhukum…' Bathin Itachi geram.
"Mengapa kau memakainya?" Tanya Itachi lagi.
Sasuke tertawa kecil-dengan manis-lalu menarik dasi seragam sailor tersebut sambil mengerutkan bibirnya manja.
'Untuk menghiburmu, Nii-san…' Jawabnya sambil mendekatkan bibirnya yang mengerut barusan ke layar komputer. Simple, Sasuke ingin dicium.
Itachi memijat kepalanya tak sanggup menolak 'keinginan' adiknya yang manja tersebut, ia mendekatkan wajahnya ke layar laptopnya, walaupun Itachi tahu ini kekanakan dan aneh, tapi selama yang meminta adalah adiknya, tak masalah. Apapun untuk Sasuke. Bibir mereka pun 'bersentuhan' namun terhalang oleh layar komputer mereka masing-masing. Itachi tertawa kecil, begitu juga Sasuke. Dan mereka menjauhkan wajah mereka lagi dari layar saling berpandangan lembut satu sama lain.
"Aku rindu padamu, Sasuke…" Bisik Itachi sambil tersenyum ke arah Sasuke.
'Aku juga, Nii-san…'
Kemudian, Sasuke merubah posisinya menjadi merangkak dengan wajah tetap ke arah layar komputer, memandang Itachi lurus dengan jari yang mulai membuka kancing baju sailor yang dikenakannya. Dan selang beberapa detik kemudian, dada Sasuke yang putih mulus tersebut terkespos jelas.
'Aku ingin dirimu, Nii-san…'
Itachi menelan air liurnya melihat pemandangan itu, celananya kembali mengetat, seketika tubuhnya panas. Birahi yang selama empat hari kebelakang tertahan, kini seolah meledak. Ia tak pernah melakukan 'sex on webcam' seperti ini, dan tanpa Itachi duga ternyata begitu menarik dan menggoda. Nafasnya mulai berat namun belum memburu, hanya matanya saja yang mungkin kehilangan reflek berkedip.
"Teruskan, Sasuke… Tunjukkan padaku semua yang kau punya…" Bisik Itachi.
Dilihatnya Sasuke mengangguk pelan dengan patuh dengan wajah yang merona merah jambu. Manis sekali. Tangan Sasuke meremas dadanya sendiri dan merayap ke puting susunya, memilin putingnya dan sesekali mencubitnya dengan gerakan sensual. Itachi mulai meraba penisnya sendiri yang masih tertutup celana sambil melihat semua perilaku sang adik.
Sasuke mengambil tiga buah bantal dan merubah posisinya. Duduk di depan laptopnya dengan bersandar di bantal tersebut lalu mulai melebarkan kakinya, tentu karena Sasuke hanya memakai rok mini, paha mulus Sasuke langsung terlihat jelas dengan bonus gundukan besar yang tertutup celana dalam warna jambu bercorak tomat dan strawberry.
"Bahkan kau memakai celana dalam wanita, Sasuke?"
'Mhm… Hanya untukmu, Nii-san…' Jawab Sasuke.
"Tak perlu dilepas roknya, Sasuke dan cukup lepas celana dalammu saja-biarkan celana dalammu menggantung di salah satu pahamu…" Perintah Itachi.
Kembali mengangguk patuh, Sasuke hanya melesakkan sebelah kakinya saja dan membiarkan celana dalamnya menggantung di paha kirinya. Berlagak seperti gadis SMA yang malu-malu, Sasuke menekuk kedua kakinya menutupi penisnya yang sudah tegang sejak tadi dengan rok mininya.
Sasuke memasukkan jari telunjuk dan dari tengah kirinya ke dalam mulutnya, menjilat dan menghisap, menggerakkan keluar masuk jarinya, memberikan pemandangan erotis pada sang kakak.
"Apa yang sedang kau hisap, Otouto?" Goda Itachi.
'Mhmnn… Penismu, Nii-san…' Jawab Sasuke.
"Penisku tidak sekecil itu, Sasuke… Atau benarkah penisku sekecil itu dan kau tak pernah puas setiap bercinta denganku, hm?"
Sasuke menggeleng lemah sambil membuka matanya perlahan memandang Itachi diseberang layar komputer sana.
'Tidak, Nii-san… Penismu besar… Mmm… Hahh… Dan panjang… Uhmm… Aku selalu… Merasa puas setiap bercinta dengan perut yang terasa penuh dengan benihmu, Nii-san…'
Itachi menyeringai senang, ia membuka retsleting celananya sendiri dan menurunkannya hingga ke lututnya. Meremas gemas penisnya yang masih terbalut celana dalam, ia terus menggoda sang adik.
"Rok mu basah, Sasuke? Kau anak sekolah yang nakal, aku akan melaporkan pada gurumu, Otouto…"
Si bungsu semakin merasa terangsang dengan godaan-godaan sang kakak, ia berpura-pura ketakutan dan melepaskan jarinya dari mulutnya lalu kembali merangkak mendekatkan mukanya ke arah layar komputer, memandang sang kakak dengan wajah memelas.
'Jangan… Jangan bilang pada guruku… Aku akan melakukan apapun untukmu, kak…' Mohonnya manja.
"Kalau begitu lebarkan kakimu dan tunjukkan apa yang ada dibalik rokmu pada kakakmu ini…" Perintah Itachi lagi.
Perlahan, dengan gerakan yang malu-malu, Sasuke kembali ke posisi semula, menyenderkan tubuhnya di bantal dan melebarkan kakinya yang tertekuk. Itachi menjilat bibirnya sendiri melihat penis sang adik yang menegak dan basah oleh lelehan precum. Seandainya ia ada disitu, sudah pasti penis manis itu dilahapnya dengan rakus hingga benda itu mengeluarkan isinya.
"Kau sudah tidak tahan, Sasuke? Penismu gemetar, begitu inginnya kah kau kusentuh, anak nakal?"
Sasuke mengangguk cepat dengan tangan kiri meremas dadanya dan tangan kanan meremas sprei tempat tidur menahan rasa frustrasi, nafasnya terengah, kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri dan pinggulnya sedikit menggelinjang dengan penuh rasa frustrasi. Itachi yang melihat itu semakin tidak tahan, ia pun mengeluarkan penisnya yang sudah nyari meledak dari celana dalamnya.
'Nii-san… Kumohon, aku ingin menyentuh diriku… Aku sudah tidak tahan…' Rengeknya.
"Tentu, Sasuke… Tapi, kau tidak boleh menyentuh penismu dulu… Sekarang, lebarkan pantatmu dan masukkan jarimu ke dalam lubang sempitmu itu, bayangkan aku yang sedang memasukimu, bermain dan berfantasilah, jangan lupa sebut namaku..." Itachi memberi instruksi pada Sasuke sambil tangannya mengolesi penisnya sendiri dengan precum yang sudah sejak tadi meleleh.
Sedikit cemberut karena kecewa, Sasuke tetap menjalankan perintah kakaknya, tangan kirinya melebarkan salah satu bongkahan pantatnya memperlihatkan lubang mungil berwarna merah jambu pada kakaknya sementara mulutnya sibuk melumasi dua jari tangan kanannya dengan airliurnya.
'A-aku mengerti, nii-san…'
Itachi mengangguk dan mulai menggenggam penisnya sendiri, menggerakkan tangannya naik turun perlahan karena ia tak ingin segera klimaks sebelum adiknya menunjukkan semua padanya. Dan detik berikutnya ia melihat jari telunjuk adiknya mulai bergerak mengitari lubang bagian luarnya dan kemudian memasukkannya. Tubuh Sasuke tersentak sejenak dan dia merintih pelan saat jarinya tersebut masuk.
"Apa yang kau rasakan, Otouto?"
'Ku—Kurang, Nii-san…" Jawab Sasuke.
"Kalau begitu tambahkan satu jarimu lagi…"
Dan jari berikutnya menyusul. Itachi menggeram pelan saat rasa panas akibat melihat pemandangan tersebut menjalar ke seluruh tubuhnya, ia benar-benar ingin menggantikan jari tersebut dengan penisnya. Ia ingin mengubur dirinya dalam-dalam di lubang sempit dan lezat milik Sasuke.
'Mmn… Hhh… Nii-san… Ah…'
"Masih kurang, Sasuke?"
Sasuke mengangguk cepat disertai rintihan yang sudah berganti dengan erangan yang lebih keras, sementara jarinya mulai digerakkan keluar masuk, bahkan sesekali ia gunakan jarinya untuk mengorek isi di dalam lubangnya sendiri seolah mencari sesuatu.
"Apa yang kau inginkan, Otouto?"
'P… Pe… Penismu… AH… AHHH… Nii-saaann…" Tanpa di duga oleh Itachi, Sasuke berteriak histeris, sepertinya anak manis itu menemukan titik kenikmatannya sendiri dengan jarinya.
Kocokan tangan Itachi di penisnya semakin cepat, mendengar suara Sasuke dan melihat Sasuke begitu asyik bermain dengan lubangnya membuat Itachi semakin bergairah, ia segera mendekati klimaksnya, tapi belum. Adiknya belum klimaks dan ia tak ingin menjadi pecundang sebagai dominan yang klimaks duluan.
"Cukup, Sasuke… Keluarkan jarimu dari lubangmu dan sentuh penismu, raih puncak kenikmatanmu… Tetap lebarkan bongkahan pantatmu agar aku bisa melihat lubangmu berkedut saat kau klimaks…"
Dengusan lega meluncur dari mulut Sasuke dan segera ia menggenggam penisnya, mengocoknya dengan tempo cepat, tangan kirinya meremas-remas bongkahan pantatnya, pinggulnya menggelinjang dan lenguhan-lenguhan panjang terus mengalun dari mulutnya.
'Ahhh… Ngng…. Hhhaa… Nii-san… Aku mau keluar… Ahhh… Mm… Oohhh…'
"Ya, adikku sayang, keluarkan… Biarkan kakak melihatmu klimaks… Keluarkan sayang…" Ceracau Itachi dengan mata yang tak berkedip melihat adiknya.
'NGH… Aaaargghh… Nii-saaannnn… Oooouhhh…'
Tak tahan lagi, Sasuke mengangkat pinggulnya spontan dan menghempaskan kakinya ke kasur. Itachi melihat lubang sang adik berkedut hebat, membuka dan menutup berirama beriringan dengan muncratnya sperma sang adik hingga ke dagu dan mukanya sendiri.
"Sekarang giliranku, Sasuke… Jangan istirahat dulu, hadapkan wajahmu ke layar komputer, sayang… Biarkan aku keluar di mukamu…"
Masih dengan nafas yang terengah, Sasuke mematuhi perintah Itachi dengan beranjak dari rebahannya dan mendekatkan wajahnya ke layar komputer, memejamkan matanya seolah ia benar-benar sedang menunggu sesuatu menembak ke mukanya plus dengan sedikit merekahkan bibirnya dan menjilatnya.
"Pintarr… Ahhh… Sasukeee… Ooohh…Yaahhh… Terus begitu, Otouto…"
Itachi pun merubah posisi duduknya menjadi setengah berlutut, mengarahkan penisnya ke layar komputer, persetan ia akan membuat komputernya kotor, itu urusan nanti, sekarang ia butuh 'wajah' adiknya untuk ia melepaskan segala hasratnya. Kocokan tangan Itachi semakin cepat dan akhirnya si sulung pun mencapai klimaksnya.
"Keluar, Sasukeee… Ooohh… Nii-san keluar di mukamu… Ahhhh…"
Cairan putih yang kental pun muncrat keluar dari penis Itachi dan menembak ke layar komputer, tepat ke muka Sasuke yang terpampang disitu. Sasuke membuka sebelah matanya melihat apa yang sedang terjadi dan ia tersenyum tipis, melihat layar komputernya tertutup oleh cairan putih milik sang kakak, ia pun menjilatnya, walaupun itu tidak nyata tapi Sasuke merasa bahwa ia benar-benar sedang melahap benih sang tercinta.
'Oyasumi, Nii-san… Kuharap kau segera pulang, karena aku sudah sangat merindukanmu…'
Belum sempat Itachi menjawab dan atau memberikan adiknya ciuman, layar sudah kembali hitam pertanda koneksi mereka terputus. Itachi mendengus berat dan mengambil tissue basah untuk mengelap layar komputernya yang kotor. Ia sendiri nyaris tak percaya sudah melakukan hal memalukan ini dengan adiknya.
Tapi, tetap saja menyenangkan. Itachi tertawa kecil melihatnya.
"Hukuman belum kau terima, Otouto… Tunggu saja…"
.
.
.
TBC
Yehaaa… Chapter dua ternyata isinya 'sex on webcam'—ohok! Abang ah… Apalah bikin reader pada nyut-nyutan nih… jadi ngiri kan sama dedek Sasuke… Author juga pengen bang 'gituan' sama abang di webcam *ditabok*
Gimana? Ga terduga kan? Pada mikir Sasuke ada di hotel kan? Ya kagak mungkin lah, dedek pan sekolah dan abang juga tiap hari kerja, ngapain juga dedek ada di hotel nanti yang ada abang ga bisa kerja digangguin terus, udah tau dedek Sasuke kan nakalnya minta ampun kalo ama abangnya… untung abang Itachi mah sabar… IYAH, ABANG MAH BEGITU ORANGNYA…*apaan sih?*
Kayaknya ini fic bakal jadi empat chap, chap depan ada kejutan lagi loh ya… Jadi, tetep setia oke? Jangan lupa tinggalin review, biar gue semangat yee?
'Author akan selalu mencintai reader-readernya, tapi reader yang bersedia meluangkan waktunya untuk meninggalkan review akan mendapat tempat VIP di hati author'
Oke, sampe ketemu lagi di chap depan.
Please leave your review(s)
Regards
