Sudah delapan hari Itachi meninggalkan adik kesayangannya, dan sepertinya anak bungsu Uchiha yang manis ini yang benar-benar mengalami frustrasi. Terlebih saat ia mendengar bahwa kakaknya membatalkan pulangnya dari hari Sabtu yang direncanakannya menjadi mundur dua sampai empat hari mendatang, Sasuke ingin mengamuk saat itu juga dan nyaris memesan tiket kereta – tidak, pesawat asal bisa segera bertemu kakaknya.

Bahkan Mikoto dan Fugaku sampai heran melihat perilaku anaknya yang mendadak berubah agresif, memang tidak 'menyerang' secara harafiah, tapi entahlah, Sasuke jadi mudah marah dan benar-benar menghindari orang tuanya jika ditanya 'kenapa' atau 'ada apa'.

Di sekolah pun sama, ia menolak berkumpul dengan teman-temannya ketika istirahat makan siang, dan ia absen untuk kegiatan ekstra kurikuler. Yang dilakukannya hanyalah memegang HP dan mengetik pesan singkat untuk kakaknya. Bahkan di tengah pelajaran pun, ia tak peduli ditegur sang guru, malah ia dengan senang hati keluar kelas jika diusir, karena ia malah mendapat ruang dan waktu kosong untuk berkomunikasi dengan sang kakak tercinta.

Anak lugu macam Sasuke memang sulit, Leo jantan yang memegang orientasinya dengan teguh. Orientasinya adalah Itachi—saat ini, maka yang lain hanya batu kerikil.

"Sasuke, kudengar, kau beberapa kali ditegur oleh gurumu, hm? Kau jangan seperti itu, Otouto…" Pernah sekali waktu Itachi ikut angkat bicara.

"Kau tahu apa? Apa pedulimu selain pekerjaanmu?" Si bungsu malah balik menyerang Itachi.

"Setidaknya berfikirlah bahwa aku pasti pulang, aku hanya terlambat beberapa hari…"

"Hanya? Oh, bagimu 'hanya' beberapa hari… Aku semakin mencurigaimu jangan-jangan kau dikelilingi wanita-wanita cantik disana atau kau mengadopsi adik laki-laki lain sebagai penggantiku…"

Dan akhirnya berakhir dengan mereka bertengkar. Itachi cukup dewasa dan matang menghadapi hal seperti ini, karena ia begitu mengerti adiknya dan di sisi lain, ia sadar posisinya sebagai 'karyawan' kantor. Setidaknya, sehebat apapun Sasuke memulai pertengkaran, konsentrasi Itachi pada pekerjaannya tidak memudar.

Tapi, tidak berlaku pada si bungsu. Itachi lebih mengkhawatirkan adiknya yang mulai terganggu kegiatan sehari-hari dan orientasi sekolahnya ketimbang kehilangan konsentrasi kerjanya.

.

.

.

Selasa siang menjelang sore, Sasuke pulang ke rumah dengan malas. Rasanya ia ingin sekali menghabiskan waktunya di luar untuk mengalihkan rasa frutrasinya, tapi itu tak mungkin, karena jadwal rutin Sasuke itu 'sex on webcam' hampir setiap malam dengan kakaknya. Jadi, ia harus pulang. Alasan yang konyol? Begitulah.

Rumah sepi, sang ibu meninggalkan pesan singkat yang ditempelkan di pintu kulkas bahwa ia dan Fugaku pergi mengunjungi kerabat yang sedang sakit. 'Uang ada di laci, Sasuke dan makanan sudah ibu siapkan di kulkas, kau tinggal menghangatkannya dengan microwave'—begitu kalimat terakhir dari surat yang ditulis ibunya yang cantik ini.

Setelah menaruh tasnya di meja belajarnya, Sasuke ke kamar mandi dan hanya membersihkan wajahnya. Hari ini ia benar-benar jenuh.

Ponselnya berdering.

'Itachi'

"Kuso aniki itu…" Desah Sasuke malas sambil mengangkat panggilan telepon dari kakaknya.

"Sasuke?"

"Hn…"

"Kau benar-benar marah padaku?" Tanya Itachi.

"Menurutmu?"

Terdengar dengusan berat di seberang sana dan Sasuke tak begitu peduli, ia menjepit ponselnya diantara telinga dan bahunya sambil mengambil makanan dari kulkas dan bermaksud menghangatkannya.

"Kau dimana sekarang, Otouto?" Tanya Itachi mengalihkan pembicaraan.

"Dapur…" Jawab si bungsu singkat dan sedikit ketus.

"Kau merindukanku?"

"Sama sekali tidak…"

"Sayang sekali, padahal aku sangat merindukanmu… Dan juga sangat bergairah…" Tiba-tiba saja suara Itachi merendah.

Deg! Seketika jantung Sasuke berdegup kencang mendengar suara kakaknya yang merendah dan begitu dalam, rona merah mulai mewarnai wajah putihnya, ia malu, baru kali ini Itachi menggodanya di telepon, apalagi ini masih siang, biasanya ia masih sibuk ini dan itu, jangankan menggodanya, bahkan bila Sasuke sendiri yang duluan mengirimkan SMS, pasti jawabannya 'aku masih sibuk, Otouto'.

"Oh, jadi kau bermaksud ingin masturbasi di kantor? Begitu bosannyakah kau? Kesepian? Dan kau masih bisa bertanya apakah aku merindukanmu… Kenyataannya kau yang merindukanku…"

"Tadi kan sudah kubilang bahwa aku merindukanmu, Sasuke…" Balas Itachi yang sepertinya tahu bahwa adiknya ini kesal.

Begitupun ia tak bisa marah, ia mengerti sekali kalau Sasuke kesal, bagaimana tidak? Hari yang dijanjikan bahwa ia akan pulang, ternyata harus tertunda. Jangankan adiknya yang super manja itu, bahkan dia sendiri pun sebenarnya sudah nyaris ingin kabur dan segera bertemu dengan Sasuke. Delapan hari bukan waktu singkat bagi mereka yang sejak lahir tidak pernah terpisahkan. Oke, berlebihan.

"Lalu, untuk apa kau menelepon? Biasanya kau sedang asyik dengan pekerjaanmu di jam-jam segini?" Tanya Sasuke sinis.

"Kau tadi sudah menebaknya, Sasuke… Aku ingin bermasturbasi di kantor…"

"Jangan bercanda, bodoh… Sudah kututup saja teleponnya…"

"Tutup saja, Sasuke dan aku akan keluar kantor mencari anak-anak manis yang semanis dirimu untuk bermain denganku walaupun hanya beberapa jam saja…"

Sasuke mengerutkan bibirnya mendengar ancaman Itachi, walaupun ia tahu Itachi tak mungkin melakukannya, tetap saja bayangan ia sedang merangkul remaja seumurannya mengganggu pikirannya.

"Lalu kau mau apa, Kuso aniki?"

"Hm, sebelumnya, aku ingin kau pindah ke ruang tamu…"

"Hah? Untuk apa?"

"Lakukan saja…"

Sambil menggerutu pelan, Sasuke berjalan dari dapur menuju ruang tamu, dan duduk di sofa.

"Sudah…"

"Coba kau pukul meja di depanmu agar aku yakin kau sudah ada di ruang tamu…"

"Itachi, kau tak mempercayaiku?"

"Sedikit… Cepat lakukan…"

Sasuke pun tak bisa berbuat banyak selain mematuhi perintah kakaknya, dan setelah ia menunaikan tugas kecilnya, terdengar dengusan geli dari seberang sana yang membuat Uchiha bungsu ini semakin kesal. Entah ia harus berguru pada siapa agar ia bisa menang dari Itachi.

"Aku ingin kau membantuku, Sasuke… Kau rilekslah…" Dan lagi-lagi, suara Itachi langsung berubah melembut dan penuh sayang. Tak bisa dipercaya, mungkin Itachi punya kepribadian majemuk.

Bagaikan terhipnotis oleh suara lembut dan hangat barusan. Sasuke mengangguk tanpa mengeluarkan suara, hanya menarik nafas panjang untuk menjawab sang kakak, menunjukkan padanya bahwa ia sedang berusaha mengikuti alur yang dibuat kakak kesayangannya.

"Sasuke, aku akan memberitahumu bahwa sekarang aku sedang duduk di kursi ruanganku dengan celanaku yang turun hingga ke lututku… Kau bisa membayangkannya?" Tanya Itachi dengan suara yang kian panas.

Sasuke menelan air liurnya dengan susah payah, sebelum Itachi bertanya 'kau bisa membayangkannya?' pun, di kalimat 'duduk dengan celana yang turun hingga ke lutut' saja sudah membawa imajinasi Sasuke kemana-mana. Entah sejak kapan ia berubah menjadi mesum dan pikirannya hampir tak pernah bersih jika sudah berhubungan dengan kakaknya. Salahkan Itachi yang terlalu seksi dan hangat.

"N—Ng…" Jawabnya dengan suara tertahan.

"Pintar, sekarang aku ingin kau membantuku dengan suaramu yang manis, Otouto… Bayangkan aku sedang meraih bibirmu dengan bibirku…"

Sasuke memejamkan matanya dengan wajah yang sudah merah padam dan terasa panas, suara seduktif sang kakak sukses menghipnotis Sasuke ke khayalan yang diciptakannya, ia merekahkan bibirnya sedikit membayangkan Itachi sedang mengecup bibirnya lembut.

"Hmm… Seperti biasa kau manis, Otouto…" Bisik Itachi di telepon yang entah mengapa semakin panas. "Bayangkan aku sedang memasukkan lidahku ke dalam mulutmu dan buatlah suara kecupan dengan bibirmu dan merintihlah dengan suara yang pelan dan memanja…"

Tubuh si bungsu kian panas dan tanpa diperintah dua kali, ia sudah membuat suara-suara seperti "chuu~" sebanyak beberapa kali dan juga mengeluarkan rintihan pelan namun memanja, anak nakal ini sudah benar-benar masuk ke dalam ilusi—bukan, tapi delusi yang diciptakan kakaknya.

"Hmnn…Mnnhh…" Rintihnya memelas seolah meminta lebih padahal ia tahu bahwa ini tidak nyata, kakaknya TIDAK ada di hadapannya.

"Kenapa, Sasuke? Sudah tak tahan? Ingin aku menyentuhmu dimana? Di dadamu? Memainkan puting susumu? Menggelitik dan mencubitnya dengan gemas, hm?"

Dan Sasuke tersentak-sentak hanya dengan mendengar tawaran yang berbentuk kata-kata tersebut, badannya sedikit menggeliat sementara tangannya sudah dilarikan ke dadanya, memasukkan tangannya ke dalam bajunya dan mencari puting susunya sendiri seperti yang sedang di 'bahas' oleh Itachi.

"Nii—Hmngg..."

"Atau kau ingin merasakan sensasi basah dan panas mulutku menjilat dan menghisap puting susu merah jambu mu itu? Yang selalu membuatku haus dan membuat insting memerah susu di lidahku ini bekerja… Memintalah, Sasuke dan aku akan memberikannya…"

"A—aku… Ah!"

"Aku tidak mengizinkanmu untuk menyentuh dirimu sendiri, Sasuke—belum!' Sentak Itachi yang membuat mata Sasuke terbuka seolah tersadar bahwa ia sudah mulai meraba tubuhnya sendiri. "Katakan dulu apa maumu, baru kau ku izinkan untuk menyentuh dirimu sambil membayangkan aku yang melakukannya…"

Sang kakak tahu persis bahwa adiknya yang nakal ini tak kan tahan dengan rangsangan sekecil apapun, karena itulah ia sedikit memberi peringatan 'lembut' pada kucing kecilnya ini karena tanpa Itachi melihat pun, Sasuke pasti sudah menyentuh dirinya sendiri, yah terdengar dari pekikan kecil Sasuke barusan.

"Aku—ingin … Hmnn… Nii-san, aku ingin mulutmu menghisap puting susuku…" Jawab Sasuke penuh rasa frustrasi.

"Terkabul, otouto… Kuharap suatu saat nanti dadamu itu juga bisa mengeluarkan susu agar aku bisa meminumnya…" Jawab Itachi setelah terdengar suaranya tertawa kecil di seberang sana.

Tak ada kata-kata yang keluar lagi dari seberang sana, hanya gumaman dan hembusan nafas berat seolah Itachi sedang menghisap sesuatu dengan mulutnya, sesekali terdengar decitan diujung geraman halusnya.

Sasuke sendiri sudah mengangkat kaosnya hingga ke dada dan mencubit-cubit gemas putingnya sendiri membayangkan bahwa yang menyentuhnya adalah sang kakak. Menyebalkan, Sasuke benar-benar frustrasi sekarang. Ia merindukan Itachi, ia ingin kakaknya, mengapa si brengsek itu tidak pulang-pulang juga? Apa ia sengaja ingin membunuh Sasuke pelan-pelan?

"Nii—ssaann… Ahhhh… Aku rindu padamu, Nii-san… Cepatlah pulang…" Rengeknya.

"….. Sasu—kee…. Hhhh…." Desah Itachi di seberang sana. Suaranya tertahan dan begitu tersiksa. Sasuke tahu kakaknya juga sangat merindukannya.

Celana Sasuke kian mengetat, ia ingin menyentuh penisnya sendiri, mengeluarkan burung malang tersebut dari sangkarnya. Tapi, Itachi belum memberinya aba-aba—izin maksudnya, ia sudah berjanji dan memutuskan untuk mematuhi dan mengikuti alur sang kakak. Masih menggelitik putingnya sendiri, Sasuke hanya mengerang dan merintih dengan suara yang lebih keras.

"Penisku sudah keras sekali, Sasuke—tapi aku tak mungkin memasukimu tanpa persiapan, maukah kau mempersiapkan dirimu sendiri, otouto?" Tanya Itachi panas.

"Ngh… Mhm…" Sang adik hanya mejawab dengan gumaman yang ia tahu bahwa kakaknya mengerti maksudnya.

"Bagus, Sasuke… Aku tahu kau juga sudah tidak tahan, hm? Sekarang turunkan celanamu…"

Dengan nafas terengah, si bungsu menurunkan celananya dengan terburu, penisnya yang tegang mencuat keluar, begitu membengkak dan basah oleh cairan pelumasnya sendiri bahkan beberapa tetes sudah menggenang di perutnya, tangannya gemetar ingin segera menyentuhnya, tapi…

"Aku tak mengizinkanmu menyentuh penismu, anak nakal—aku memerintahkanmu untuk mempersiapkan dirimu sebelum aku memasukimu…"

Lagi-lagi Itachi tahu apa yang ada di dalam pikiran sang adik, dan—juga—tahu apa yang 'akan' dilakukan anak manis itu. Malang bagi Sasuke, ia kembali harus mendengus kesal dan frustrasi akibat terperosok dalam permainan kakaknya. Ia kembali menjauhkan tangannya yang nyaris mendarat di batang tegang miliknya.

"Nii-san… Nii-san… Nii-saann…"

"Kubilang 'tidak' , Sasuke—sekarang lebarkan kakimu, anggap aku ada di depanmu dan perlihatkan lubang sempitmu padaku…"

Tak ada yang bisa melawan Itachi, bahkan orang tuanya sekalipun. Entah mengapa, wibawa dan kharisma Itachi terlalu silau, tatapan matanya memang teduh, tapi ada pedang di dalamnya, suara Itachi memang lembut dan ramah, tapi ketegasannya bergemuruh disetiap telinga siapapun yang mendengarnya.

Itulah alasannya.

Sasuke menurut, begitu patuh. Ia melebarkan kakinya sambil mengambil 'headset' dari kantongnya lalu menghubungkan ke ponselnya, agar ia lebih leluasa bergerak, ia tahu Itachi tak kan berhenti sampai disini.

"Hng… Su—sudah… Nii-san… Lihatlah… Lubangku berkedut tak tahan ingin kau sentuh…"

"Ahh… Kau benar, otouto… Lubang seksimu itu begitu merindukanku ternyata, hm?"

"Aku juga merindukanmu, cepatlah pulang, kuso aniki… Sentuh aku…"

"Bukankah sekarang aku juga sedang menyentuhmu, anak bandel?"

"Kau sedang menyiksaku, kau tahu dasar sialan…"

Yang didengar Sasuke selanjutnya malah dengusan geli dari Itachi. Ia semakin sebal, tapi juga terlanjur bergairah. Ia akui kali ini ia kalah telak.

"Lumuri satu jarimu dengan air liurmu agar kau tak terlalu merasa sakit, mengeranglah…"

Mustahil untuk berhenti karena ia sendiri memang sudah tak tahan, Uchiha yang masih duduk di bangku sekolah menengah ini langsung membasahi jarinya dengan air liurnya dan langsung meluncurkan jari licinnya ke bagian bawahnya.

"K—kumasukkan sekarang, nii-san…"

"Tentu, adikku sayang… Berikan kakak suara terbaikmu… Aku juga sedang memanjakan penisku sendiri, membayangkan penisku lenyap ditelan oleh lubangmu yang sempit itu…"

Perlahan, Sasuke memasukkan jari telunjuknya, ia meringis pelan saat spontan otot bagian luar anusnya menjepit spontan jarinya. Di dalam hangat sekali, kini ia mengerti mengapa Itachi begitu menyukai lubangnya. Bahkan setelah klimaks pun, Itachi memilih tetap menanamkan penisnya di dalam tubuhnya.

"Nii… Ahhh… Sa—kiiit…"

"Karena sudah lama tak ada yang memasukimu, otouto—terima kasih…"

"Hng… Nn… Hahhh… Ke—napa… Berterima kasih?"

"Karena kau menjaga kehormatanmu selama aku tak ada… Aku mencintaimu, Sasuke…"

"Mnn… Ah… Ahhhh… AGH…" Si bungsu melesakkan seluruh bagian jari telunjuknya ke dalam anusnya tepat setelah Itachi mengatakan 'aku mencintaimu' padanya.

Itachi menarik nafas panjang mendengar pekikan adiknya, ia tahu jari Sasuke sudah masuk seluruhnya dan ia sedang menyesuaikan diri.

"Shh… Shh… Anak pintar… Jangan terburu, nii-san disini, otouto…" Bisik Itachi panas dan memanja pada adik kesayangannya.

Dan suara lembut dan penuh kasih sayang kakaknya tersebut malah semakin membuat rengekan Sasuke lebih intens dan nyaring. Ia tak hanya ingin suara Itachi, ia juga ingin sentuhan lembut dan memanja Itachi. Sasuke rindu. Sudah tak tertahankan. Mungkin setelah sesi ini berakhir, ia akan bunuh diri jika Itachi tidak pulang satu kali dua puluh empat jam.

"Nii-san, cepat pulang… Nii-san… Nnn… Hhha…"

"Mengapa kau ingin aku cepat pulang, Otouto? Begitu rindukah kau padaku, hm?"

"Aku rindu... Aku rindu… Jangan siksa aku lagi… Aku ingin dirimu… Aku ingin bermanja denganmu lagi, Nii-san…"

"Aku kan sedang memanjakanmu, Sasuke—kau lupa? Aku sedang memasukkan jariku ke lubangmu dan oh, sempit sekali… Kau kembali perawan, Sasuke? Kau akan mematahkan penisku…"

Sasuke menanamkan jarinya semakin dalam, melebarkan kakinya selebar-lebarnya seolah di depannya berdiri Itachi yang sedang telanjang dengan penis yang berdiri tegak siap menginvasinya. Keringat mengalir dari pelipis Sasuke hingga membasahi pipi dan lehernya, sementara air liur sudah menggenang di pinggir bibirnya siap untuk meluncur keluar karena sejak tadi Sasuke sepertinya lupa untuk menelan ludah bahkan untuk menutup mulutnya hanya untuk sekedar menarik nafas panjang.

"Nnn… Hhh… Nii-san… Tidak cukup… Aku tak mau cumbuan semu seperti ini… Ah… "

Jarinya mulai digerakkan memutar dan bahkan ia menambahkan jari tengahnya juga.

"Sasuke… Sasuke-ku sayang… Tenanglah sedikit…"

Itachi suka sekali dengan rengekan manja Sasuke, benar-benar seperti kucing kecil yang kelaparan dan akan melakukan apapun asalkan perutnya kenyang. Hanya bedanya, Sasuke yang nakal dan selalu 'tajam' bisa berubah manja dan patuh jika sudah 'kelaparan'

"Ah… Hahhh… Hmnn… Mmm…. Hngng…. Ahhh…."

"Manis, Sasuke… Nii-san akan memanjakan titik kenikmatanmu, bersiaplah, Sasuke… Jariku hampir sampai disana, rileks dan rasakan… " Itachi kembali memberikan sugesti kotor.

Tentu sugesti tersebut menuntun jari Sasuke untuk segera meluncur ke titik kenikmatannya sendiri dengan pikiran yang penuh dengan bayangan Itachi sedang 'menyiksa' isi dalam lubangnya.

"OH! … Nii-san… AGH!... Ahhhh… Nii-san…"

"Stop Sasuke, jangan klimaks dulu atau aku akan marah… Dan ku cancel lagi jadwal kepulanganku…"

"Tidak bisa… Nii-san… Aku tak tahan lagi... Aku tak tahan… Ah… Ohh… Aku… Ah… Aku dekat… Tak bisa berhenti…" Racau Sasuke dengan jari yang semakin brutal memijat kelenjar prostatnya.

"Sasuke! Jangan terburu… Aku peringatkan…"

"Hmmmn… Ahhh… Tidak… Aku tak bisa… Nii-san… Kumohon…" Cairan precum Sasuke semakin deras menetes ke perutnya karena jari Sasuke di dalam lubangnya memerah dengan intens dan ganas.

"Tarik nafas panjang, Sasuke…"

"Tidak… Ahh… Aku … Nii-san… Aku… Sedikit…. Ahh… Ohh… Aku bahkan… Tidak menyentuh penisku… Tapi… Aaughh…."

"SASUKE!" Sentak Itachi yang entahlah bahkan kali ini, Sasuke sudah tak peduli apapun lagi.

Namun,

'Ting-tong' - 'Ting-tong'

Sasuke terperanjat. ADA ORANG DILUAR! Ini sudah tidak lucu, bukan main-main lagi. Seseorang memergokinya.

"Nii-san… Tu—tunggu… Aku pindah ke kamar dulu…" Suara Sasuke mendadak berbisik namun masih terengah berat.

"Siapa yang mengizinkanmu pindah? Tetap disitu!"

"Tapi… Ada yang datang… Aku…"

"Kubilang tetap disitu…"

"Nii-"

Belum sempat Sasuke bernegosiasi lebih panjang lagi dengan Itachi, pintu pun terbuka. Sasuke pasrah dengan keadaannya yang sudah tak mungkin lari, dengan celana yang sudah entah terbang kemana, dengan wajah yang memerah, air liur yang sudah mengotori dagu dan lehernya, keringat yang sudah membasahi tubuhnya bahkan sofa tempat dia berbaring.

'Gawat!'

Sasuke hanya memejamkan mata pasrah…

.

.

.

TBC.

Thanks for reading.

Please leave your review(s).

Regards.