Kuroko merasa tubuhnya membeku, kaku. ia terlalu terkejut—sekaligus panik— ketika pemuda bersurai merah yang terlihat lebih dewasa darinya itu mengucapkan sebuah nama. Ya, nama yang tidak mungkin dia lupa.

"K—kau? Tidak mungkin."

Sang surai merah mengangguk. Kalau boleh jujur sebenarnya ia juga tidak percaya. Tapi, inilah yang terjadi. Faktanya ia bisa berbicara, bisa menggerakkan tubuhnya, bisa tidur, bisa memandang Tetsuya yang terlihat ketakutan menatap tubuhnya yang sedang topless.

Tunggu. Kalau dia berubah menjadi manusia, tentu pakaiannya tidak akan muat. Itu artinya tidak ada sehelai benangpun ditubuhnya kan? Benar, kan?

Memastikan ,Sang surai merah tanpa basa-basi menyibak selimut yang menutupi area di bawah pinggang. Manik heterokromnya melotot horror,Darahnya mendidih, naik memenuhi seluruh muka berparas porselen. Akashi-kun memandang patah-patah pada sang pemilik yang semakin beringsut ke tepi nakas. Bibirnya gemetar, menahan malu yang tidak bisa diungkapkan kata-kata.

"T—Tetsuya…. tolong pinjamkan aku sepotong baju."

"….."

"T-Tet..Tetsuy—"

.

.

.

.

.

GGGGYYYYYYAAAAAAAAAAAA!
.

Teriakan dari sang pemilik dan ciuman weker di jidat adalah kombinasi indah di pagi hari.


Give Me a Change, Tetsuya

2/?

Kuroko No Basket Doesn't Mine

Fujimaki Tadatoshi is owner

AKAshi Seijuurou x KUROko Tetsuya

Warning : BL, Male x Male , Yaoi, ooc berlebihan, nista!Akashi, typo sana sini

Don't like Don't read!

A/N : Halo semuanya. Terima kasih pada para reader yang sudah mau mampir,baca,follow, fav dan terkhusus bagi yang udah review. Saya merasa bangga sekali/hahaha. Gomen, karena update fict ini luama sekali/saya terkena WB berkelanjutan. Tidak suka. Tidak usah flame, tidak usah baca. Silahkan kembali dan Scrolling down cerita lain./becanda.Tidak suka. Silahkan klik kembali sebelum menyesal. Wanna review? Klik tulisannya di bawah.

DLDR!

Enjoy~


Kuroko masih setia menodongkan sapu pada pintu kamar mandi yang tertutup. Kewaspadaan naik hingga level maksimal. Meski ia tahu di dalam sana ada orang asing modus yang tadi malam sudah mengapa-apakan tubuhnya, ia tidak mengusirnya. Kuroko sontak mematung.

Tunggu, seharusnya aku mengusirnya. Kenapa aku malah meminjamkan baju?

Cklekk

Lamunannya sontak berganti kembali menjadi menatap tajam pada sosok merah yang keluar dari toiletnya. Ditatapnya lekat orang asing itu. Baju kemeja birunya nampak kekecilan di tubuh maskulin orang ini, kancingnya hanya masuk lubang tiga buah di atas, tengah dan bawah. Err, tidak sesuai lubang. Lalu celana olahraga merah miliknya juga terlalu pas di kaki jenjang yang gemetaran.

"Bagaimana,Tetsuya? Apa aku sudah keren?" Akashi tersenyum menjijikkan sambil menyibak poni pendeknya dengan tiga jari.

Keren dari hongkong.

Tetsuya menatap datar sedatar menatap triplek. Orang asing di depannya ini sudah modus, mesum, tidak tahu diri, kurang ajar, sok keren lagi. Kuroko jadi sedikit tidak yakin dia seorang kriminalitas pelecehan seksual. Tidak, sudah jelas orang di depannya ini nyelonong masuk kamarnya dan tidur diranjangnya. Kuroko menodongkan gagang sapu tepat di moncong hidung runcing sang pria asing.

"J-Jangan bergerak! Tetap di sana." Perintah sang empunya sapu. Akashi yang mencoba langkah dengan kaki gemetar—ya, ia seperti anak rusa baru lahir akibat transformasi ajaibnya—kembali menghentikan langkah dan beralih bersandar di pintu. "Tetsuya, tenangkan dirimu."

"Apa maumu penjahat?!"

Akashi mendelik tajam pada sang pemilik, sedangkan Kuroko gantian tremor mendadak."Berapa kali harus aku bilang, kalau aku ini bukan penjahat, apalagi penjahat kelamin—turunkan sapumu, Tetsuya!"

Kuroko menggeleng tidak percaya. "J-jangan berbohong! Kau pasti sindikat perampok yang suka meniduri korbanmu, kan? Mengaku saja, atau aku akan berteriak!"

Akashi menghela nafas bosan. Sepertinya akan susah menjelaskan apa yang telah terjadi pada sang pemilik. "Baik, baik. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Tapi sebelum itu biarkan aku duduk dulu. Kakiku sudah tidak kuat ini."

Kuroko dengan sapu masih menodong menggeser kakinya ke kiri. Bermaksud memberi jalan pada orang asing ini. Akashi mulai dengan langkahnya yang pertama. Di kamar mandi tadi, ia sudah bersusah payah hanya untuk berdiri. Ya, sebenarnya ia merangkak hanya untuk duduk di atas kloset. Dan di depan Kuroko, tidak mungkin ia harus merangkak juga. Sudah pasti itu sangat memalukan.

Dengan perasaan was-was ia mulai melangkah. Sayang seribu sayang, pada langkahnya yang kedua, tungkainya terbelit kaki sendiri. Sungguh tatapan Kuroko membuatnya gugup setengah mati.

Brukk

Jidatnya kembali berciuman mesra dengan lantai bergaris coklat.

Sungguh Kuroko merasa kasihan pada orang di depannya. Lihatlah dia, jatuh bangun hanya untuk berjalan. Apa benar orang seperti dia adalah kriminal pelecehan seksual? Berjalan yang benar saja tidak bisa. Memutar maniknya bosan, Kuroko pada akhirnya turun tangan membantu sang pemuda asing untuk duduk di tepi kasurnya. Memapahnya untuk berjalan ke tepi kasur. Jujur saya, Kuroko jadi tidak semangat untuk berkelahi dengan pemuda asing-yang sudah tidak dicap penjahat- di depannya.

Kuroko di depannya berdiri dengan tatapan sedatar Teflon, kedua lengan disilang di depan dada pettan. Kuroko mengcoba mengintimidasi sang pria asing. "Jadi, apa maumu sekarang orang asing. Apa kau tersesat?"

Akashi menatap Kuroko bingung. Dia sudah tidak dianggap penjahat lagi? Sang pria merah menghela nafas kecil meyakinkan dirinya saat ini bukanlah mimpi. Tidak mau kalah, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada maskulin.

"Ya… aku juga tidak percaya dengan yang terjadi pada diriku. Tapi kau harus percaya kalau aku Akashi-kun."

"Aku tidak mungkin percaya. Kau sendiri saja juga tidak percaya," kembali sapu digenggam erat."Lagipula, Akashi-kun itu boneka. Jangan mengada-ngada!"

Akashi mendengus lagi, sepertinya memang butuh usaha besar untuk meyakinkan Kuroko maupun dirinya. Akashi mengusap dagu dengan telunjuk. Berfikir apa yang bisa membuat Kuroko percaya.

Hmmmm…. Ah, Ketemu!

"Tetsuya, kau punya fotomu bersama denganku, bukan?" Tanya Akashi.

"Foto? Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak mengenalmu." Jawab Kuroko skeptik. Baiklah, Akashi memang harus menepuk keningnya.

"Baiklah, bukan fotoku, tapi fotomu dengan boneka Akashi-kun." Kuroko berpikir sejenak, lagi mengangguk pelan.

"Kalau begitu, ambil." Sepertinya sifat dasar Akashi itu suka memerintah.

Kuroko mulai kembali terlihat tenang, sapunya ia turunkan sedikit. "Untuk apa?" tanyanya lagi.

"Ambil saja."

Orang ini menyebalkan, pikir Kuroko. Meski enggan, ia tetap berjalan ke arah yang nakas yang ada di samping tempat tidurnya. Manik azurenya tetap mengawasi sang pemuda asing dengan waspada.

Laci kecil pada nakas dibuka , Kuroko mengobrak-abrik isi laci. Membolak-balik kertas yang tampak berserak di dalam laci. Jemarinya berhenti saat menemukan kertas foto berwarn putih. Dibaliknya kertas foto tersebut.

Manik azurenya terlihat sendu bercampur rindu saat menatap gambar bocah lelaki bersurai baby blue kisaran usia lima tahun yang tersenyum lebar. Bocah laki-laki itu tengah memeluk erat boneka kain bermanik merah emas yang terlihat lucu. Namun, tatapannya fokus pada dua sosok orang dewasa yang mengapit dirinya. Yang satu seorang wanita bersurai baby blue dewasa kisaran umur tiga puluh tahunan yang sedang tersenyum dan menggendong sang bocah. Satu lagi pria berjas hitam berambut abu-abu yang sedang merangkul pinggang si wanita. Foto yang terlihat layaknya keluarga bahagia dan harmonis. Senyum miris tak kala menghiasi paras Kuroko.

"Kau merindukan mereka Tetsuya?" pertanyaan Akashi langsung menyadarkan Kuroko pada dunia nyata. Ditatapnya Akashi yang sudah berpindah dari tepi kiri ke tepi kanan kasur, lalu kembali ke foto. Kuroko mengangguk kecil, senyum kecilnya kembali terlihat.

"Ya, aku merindukan Okaa-san dan Otou-san."

"Begitukah?—Tetsuya, Kau tidak apa-apa?" Akashi cukup kaget saat linangan air mata jatuh dari pelupuk mata Kuroko. Cepat-cepat Kuroko menghapusnya. "Aku tidak apa-apa."

"Kau… menyesal hidup seperti sekarang?" Akashi kembali bertanya.

Kuroko masih fokus menatap foto tersebut. Kuroko diam, namun tatapannya kembali mengigatkan Akashi pada semua kejadian yang terjadi kemarin malam."Aku…aku tidak tahu. aku tidak tahu harus marah atau melawan," Kuroko menghela nafas berat. Ia tanpa sadar menjawab pertanyaan Akashi tanpa curiga sedikitpun."Aku tidak tahu." Kuroko semakin menundukkan kepalanya. Akashi hanya diam memandang Kuroko. Bocah biru ini bukannya tidak ingin melawan, hanya saja ia tidak bisa.

Kuroko tersentak, ia menoleh pada pemuda asing. "Tunggu…apa maksudmu aku menyesal dengan hidupku?"

Akashi memutar heterokromnya jengah. "Aku sudah bersamamu sebelas tahun, Tetsuya. Tentu saja aku tahu jalan cerita kehidupanmu."

Kuroko mundur beberapa langkah, tongkat sapunya kembali ditodongkan. "Jangan bergerak! Tetap di sana."

Akashi benar-benar sudah muak."Lihat foto bonekanya dan amati aku."

Masih dengan sapu yang diacungkan, Kuroko melirik lekat pada boneka di dalam foto. Pertama surai merah, oke. Manik kuning dan merah, oke. Tapi bisa saja ia memakai kontak lensa. Lalu dibandingkan pakaian sang boneka dengan si surai merah. Oke,itu tidak mungkin. Tadi orang asing ini tidak pakai apa-apa. Masih tidak bisa dipercaya. Manik azurenya tetap menguliti sang surai merah.

Akashi sudah jengah kuadrat ditatap sedemikian oleh si pemilik. Di silangkan kedua tangannya di depan dada, mengambil posisi duduk tegap.

"Baiklah, kalau kau belum percaya padaku. Tanyakan sesuatu padaku , apa saja. Yang pasti berhubungan dengan boneka itu." Ujar Akashi.

Kuroko nampak berfikir sejenak. Pertanyaan apa yang sekiranya bisa ia berikan pada pemuda merah ini. Sebenarnya Kuroko merasa ini sungguh konyol. Memangnya dunianya ini dunia fantasi? Mana mungkin boneka bisa berubah jadi manusia. Tapi, Kuroko penasaran juga. Siapa tahu saja keajaiban itu memang ada.

"Baiklah. Kalau kau memang Akashi-kun yang menjadi manusia. Pasti kau bisa menjawab ini." Kuroko mulai serius. Akashi menangguk paham.

"Tanggal berapa Okaa-san memberikanku boneka Akashi-kun?" Tanya Kuroko.

Pertanyaan mudah. Akashi tentu mengetahuinya. "Dua puluh Desember. Tepat saat hari ibumu mendaftarkanmu ke TK."

Kuroko mengangguk pelan mengiyakan. Lanjut ke pertanyaan kedua."Berapa kali Okaa-san harus menjahit bagian tubuh Akashi-kun? Dan dimana saja itu?"

Akashi menyeringai lebar. Dengan mantap ia menjawab ." Empat kali. Dua kali pada bagian lengan, kaki dan samping perut."

Kuroko melongo tidak percaya. Bagaimana mungkin ia tahu,batinnya. Kuroko menelan ludah gugup. "Kau…kau benar Akashi-kun?"

Akashi memutar bola matanya lelah. sampai berapa kali ia harus mengatakannya. "Kau masih tidak percaya kalau aku ini bukan Akashi-kun—Hey,kau sedang apa sih?"

Akashi merasa risih karena sedari tadi Kuroko mencolek pipinya. Menusuk-nusuk seakan itu benda dari luar angkasa. "Kau ini sedang ap—Tetsuya?"

Wajah tirus sang surai merah di tampung dalam genggaman kecil. Manik azure Kuroko mengamati setiap detail paras sang surai merah. menatap bola mata heterokrom itu dengan sirat kagum. "Sugoii! Kau kelihatan seperti manusia."

Akashi mengedip canggung. Terdiam kaku ketika paras sang pemilik begitu dekat dengannya. Wajah itu manis, terlalu manis sampai rasanya ia tidak rela noda biru di sekitar pipi dan kening Kuroko tergores di sana. Akashi mendecih, ia merasa sangat marah sekarang.

Suara gerendelan kunci terdengar setelahnya. Mereka berdua tersentak. Kuroko yang pertama kali sadar kalau itu berasal dari luar pintu kamarnya. Tentu Kuroko tahu bahwa itu adalah tanda ayah tirinya sedang mendekat. Dengan panik Tetsuya menyuruh Akashi bersembunyi. Awalnya Akashi tidak ingin bersembunyi, ia bisa menghadapi sang ayah tiri kalau mau. Bunyi kunci yang bertemu dengan gembok terdengar. Dengan sangat terpaksa, Tetsuya menarik Akashi dan mendorongnya untuk masuk ke dalam lemari pakaian dan menguncinya. Setelahnya, ia bergegas kembali berbaring di kasurnya, berpura-pura tidur.

Langkah kaki terdengar begitu berat ketika seorang lelaki paruh baya masuk ke kamarnya. Akashi mengintip dari celah-celah kecil di lemari. Dari sana ia bisa melihat Pria itu menendang Tetsuya, menjambak rambut biru muda itu kasar dan membantingnya ke nakas.

"Berani sekali kau melawanku,Hah! Anak kurang ajar! Tidak tahu diri!"

Kembali pria itu menjambak surai biru muda itu lagi. "Aku tahu kau mengumpulkan uang untuk kabur dari sini. Kau pikir aku bodoh, hah! Dasar bocah dungu!" tangannya menampar pipi itu lagi.

"Sekarang, berikan uangnya padaku."

"Tidak. Tidak akan aku berikan sepeserpun pada Tousan." Kuroko masih punya harga diri atas jerih payahnya. Sang pria mendecih . mencengkram leher mungil Kuroko. Mencekiknya. Akashi reflek bergerak. mencoba membuka lemari. Sadar kalau lemari dikunci oleh Kuroko, ia tidak mungkin mendobrak. Tidak , belum saatnya ia keluar. Ia harus menahan emosinya. Jemari itu ia genggam erat, berusaha menahan agar tidak menjebol pintu lemari kasar.

"Dasar bocah dungu tidak tahu diri! Kau pikir aku tidak bisa membunuhmu. Kau pikir aku tidak berani membuatmu menyusul ibumu, hah?" Pria itu semakin mencekiknya, Kuroko mencakar lengan yang berusaha menghalangi pernafasannya. Ia tidak tahan sungguh.

"Sekarang beritahu aku, di mana kau menyembunyikan uang itu?!" Kuroko tetap menggeleng. Sang pria menyeringai lebar. Tubuh ringkih Kuroko di lempar kesembarang arah. Tidak ada gunanya ia membuat bocah ini mati. Ia masih membutuhkannya sekarang. Dengan kasar ia mengobrak-ambrik kamar, menghamburkan isi laci. Kuroko tidak berdaya lagi saat sang ayah menemukan gulungan kertas di dalam botol selai di bawah tempat tidur. Lelaki itu tertawa bahagia.

"Tou-san aku mohon jangan! Tolong jangan ambil tabunganku."

"Berisik!" Tendangan itu kembali mengenai bahunya.

Pintu kayu dibanting kasar. Kuroko menangis dalam diamnya. Semuanya habis. Ia tidak punya apa-apa lagi sekarang dan ia harus mengumpulkan lagi dari awal. Akashi yang sudah sedari tadi menahan emosinya, tidak sanggup lagi. Dengan kasar ia mendobrak lemari. Berlari mendekati Kuroko tidak peduli ia belum bisa berjalan dengan benar.

"Tetsuya, kau tidak apa-apa?" Cemas, itu yang Akashi rasakan sekarang. Lihatlah memarnya semakin menjadi. Kuroko masih menangis .Akashi mendecih,ia bersumpah akan membalas semua perbuatan orang itu.

"Tetsuya, lebih baik kau obati lukamu."

Kuroko tersentak. Cepat-cepat ia menghapus air matanya,Tersenyum tipis sambil menyentuh lukanya. "Ini… bukan masalah. Lagipula ini luka kecil, tidak usah cemas." Ujar Kuroko tertunduk sendu. Akashi jujur saja, sangat tidak suka dengan orang keras kepala. Ia menarik tangan Kuroko dan mendudukkannya di tepi kasur di sampingnya. Dengan wajah kesal ia merogoh ke bawah bantal. Kuroko hanya diam mengamati, ia kaget saat tahu bahwa orang asing ini mendapati kapas,alkohol dan obat merah di sana.

Akashi menarik tangan Kuroko kasar. Tidak peduli sang pemilik makin merasa kesakitan. Jemarinya terampil menuangkan alkohol pada kapas ataupun meneteskan obat luka di sana. Kuroko berjengit sakit saat kapas itu disentuhkan pada lukanya sementara Akashi masih mendumel sendiri. "Kau bilang ini bukan masalah. Kau buta atau apa?"

Kuroko tidak mengubris sindiran dari sang pemuda. Merasa heran kenapa pemuda asing itu tahu barang seludupan di bawah bantalnya. "Kau.. kenapa tahu—aduh—ada obat di bawah bantalku."

Akashi mendengus pelan. "Aku sudah bersamamu sebelas tahun. Setidaknya aku tahu apa isi ruangan ini. Bahkan semua barang yang kau sembunyikan seperti ini." Ucap Akashi sambil terus menempelkan kapas pada sudut bibir yang terluka. Kuroko memandang sendu."Apa Okaasan yang merubahmu?" Kuroko menghentikan pergerakan lengan Akashi. Memandang Akashi dengan tatapan penuh arti. "Apa kau penyelamat yang diberitahukan oleh Okaa-san dulu?"

Akashi mengeryitkan dahinya tidak mengerti. Penyelamat? Dia tidak berpikir begitu. Tapi, bukankah memang itu tujuannya?

"Ya…,"Tangan ini memberanikan diri membelai pipi porselen pemuda baby blue. Kuroko tidak menjauh, entah kenapa keberadaan belaian itu membuatnya semakin kuat, kuat mempercayai pemuda di depannya. "Aku akan menyelamatkan Tetsuya." Akashi menyunggingkan senyum lembut pada sang lawan bicara yang juga ikut tersenyum padanya.

.

.


Kuroko merasa lelah sekali hari ini. Hari ini weekend dan syukurlah ia bisa pergi kerja part time sejak siang tadi. Suasana rumah kelihatan sepi sekali dan gelap. Sepertinya ayahnya tidak pulang malam ini. Hari ini setidaknya ia bisa bernafas lega.

"Tadaima." Ucapnya sambil menyalakan saklar lampu di samping rak sepatu. Seperti yang ia duga. Rumah ini sepi sekali. Kuroko menghela nafas kecil, terkadang ia merindukan ucapan sambutan ketika sampai dirumah—

"Okaeri-Ah,Maaf Tetsuya aku sedang menonton tv tadi. "— sepertinya ia lupa kalau mulai hari ini ia tidak tinggal sendirian lagi sekarang.

Kuroko melangkah mendekati sosok surai merah di dekat pintu geser. Entah kenapa ia sudah dapat menerima keberadaan sang surai merah yang awalnya sungguh ia curigai sebagai penjahat kelamin.

"Akashi-kun sedang apa? Sudah bisa jalan?" Kuroko terkekeh ketika mengingat sejak pagi Akashi terus mencoba untuk berjalan seperti orang normal. Kuroko bahkan sempat mengajarinya memakai pakaian yang benar. Kalau boleh jujur, orang di depannya ini sungguh merepotkannya. Tapi, entah kenapa ia tidak juga mengusirnya.

Akashi mendekati Kuroko,memeluknya tanpa segan. Manik Heterokromnya memandang waspada pada sekitar. Kuroko mengedip bingung. Ini bonekanya kenapa?

"A-Akashi-kun ada apa?" Tanya Kuroko. Akashi tidak menjawab pertanyaan sang tuan rumah. matanya masih awas,memandang ke semua arah. Memastikan bahwa suara-suara yang tadi ia dengar bukan suara maling apalagi perampok.

"Semenjak kau pergi dari rumah tadi, aku mendengar suara aneh Tetsuya."

Kuroko sontak mendongak. Ia heran kenapa bonekanya ini punya tubuh lebih maskulin dan lebih tinggi darinya. Apalagi ia bilang umurnya baru sebelas tahun, tapi kenapa perawakannya seperti pemuda dua puluh tahunan begini. Sungguh Kuroko sangat iri pada Akashi-kun. "Kau mendengar suara apa, Akashi-kun?"

"Suara aneh, Tetsuya. Aku sudah memeriksa semua ruangan di rumah ini. Tapi, tidak ada siapa-siapa."

"Oh… Jadi itu alasannya kenapa lampunya tidak dihidupkan." Akashi mengangguk.

"Mungkin tikus Akashi-kun."

"Tidak. Aku tahu suara tikus itu seperti apa—dengar! Itu suaranya."

Kuroko ikut menajamkan pendengarannya, suasana mendadak menjadi mencekam, lampu bulat dekat tangga juga tiba-tiba berkedip-kedip lemah. Akashi semakin mendekap Kuroko dalam, Kuroko mulai merasa ada asap-asap yang entah berasal dari mana. Akashi menelan ludah susah payah, Kuroko tanpa sadar menggengam serat pakaian Akashi takut. Atmosfer di sekitar mereka mendadak menjadi turun beberapa derajat. Sungguh ia tidak tahu kalau di rumahnya ini ada peristiwa janggal yang seharusnya tidak mungkin ada. Keadaan sungguh hening. Begitu hening. Sampai tiba-tiba…

.

.

.

.

.

Kruuuyyuukkkk~

.

Hah?

.

KRUYYUUKK~

"Kau dengar itu Tetsuya." Akashi masih mendekap sang baby blue erat. Sementara Kuroko hanya memasang wajah teflon sudah tidak berminat. Sia-sia sudah ia menegang tak menentu tadi. Apa itu yang tadi di dengar Akashi-kun?

"Akashi-kun, sepertinya itu suara yang berasal dari perutmu." Kuroko mencoba menjelaskan secara perlahan pada pemuda lebih tinggi. Akashi mengerjap polos pada tembok di dalam dekapannya. Ia seumur hidupnya memang tidak pernah mendengar suara seperti itu dan itu adalah suara yang cukup menakutkan bagi dirinya. Ia memandang skeptis pada sang surai baby blue yang hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tidak percaya, ia mendekatkan telinga pada perutnya sendiri.

Kruyuukkk~

Ah, benar. Memang dari perutnya.

"Pffft…" Kuroko terkikik pelan di sebelahnya. Tidak habis pikir bonekanya ternyata begitu polos layaknya anak kecil,padahal parasnya sudah seperti kepala dua. Kembali wajah tampan itu di penuhi semberut pink tipis. Akashi sungguh malu, karena suara yang ia takutkan harus berasal dari tubuhnya sendiri. Masih dengan semberut pink di wajahnya Akashi melayangkan pelototan tajam pada sang pemilik.

"Tidak ada yang lucu Tetsuya— berhenti mentertawakanku!" Akashi sedikit berteriak dan tampaknya malah membuat tawa itu pecah pada bibir sang surai teal. "Hahaha.. itu lucu Akashi-kun. Kau polos sekali." "Apanya yang polos,hah?" Akashi sungguh tidak dapat menahan semberut merahnya menjalar ke seluruh area wajah.

Tawa itu masih mendera di bibir sang baby blue, Kuroko tidak pernah menyangka ia akan mendapatkan keajaiban seperti ini. Ia masih tertawa tanpa menghiraukan Akashi yang bergeming menatapnya. Sebuah senyuman tercetak jelas pada paras porselen sang pemuda scarlet.

"Syukurlah, akhirnya kau bisa tertawa lagi, Tetsuya." ucap Akashi. Jujur sudah sangat lama rasanya Akashi tidak pernah melihat senyum begitu merekah dari wajah pemiliknya. Rasanya lega bisa melihat sedikit saja Kuroko melupakan beban hidupnys. Tawa Kuroko berhenti, ditatapnya kembali Akashi . Kuroko mungkin belum begitu mengenal orang asing di depannya. dia, juga belum percaya kalau Akashi itu adalah bonekanya meski ciri-cirinya sama. Tapi, untuk saat ini mungkin Kuroko percaya kalau orang asing ini datang untuk menghiburnya, membuatnya merasa ada. Kuroko memalingkan tubuh, berjalan kearah dapur. Untunglah, ia tadi di beri makan siang dari tempat kerjanya. Ya, masih ada sisa,setidaknya malam ini Akashi tidak akan kelaparan.

"Akashi-kun apa kau lapar?"

"Lapar? Apa itu?"

Ah, iya. Kuroko lupa kalau Akashi dulunya bukan manusia.

"Lapar itu… kondisi dimana perutmu berbunyi kruyuk-kruyuk seperti tadi."

Bibir merah milik sang surai merah membulat,Akashi mengangguk paham. "Lalu apa yang harus akau lakukan Tetsuya?"

"Kau harus mengisinya dengan makanan Akashi-kun. Ayo, kita makan."

Akashi mengangguk. Melangkah ikut berjalan di belakang Tetsuya menuju ruang makan di dapur. Akashi duduk di depan meja makan, sembari menunggu Kuroko siap memanaskan makanan yang bagi Akashi wanginya begitu harum. Semakin ia mencium wangi makanan yang di bawa Kuroko, semakin pula suara aneh di perutnya terdengar jelas.

Kuroko tertawa lagi ketika suara perut Akashi sampai ke telinganya. Buru-buru ia menuangkan sup miso tofu dalam mangkuk dang menghidangkannya di depan Akashi. Dengan perlahan ia mengajari Akashi bagaimana cara menggunakan sumpit. "Begini?" "Bukan Akashi-kun, tapi seperti ini."

Karena lelah dengan Akashi yang juga tidak bisa menggunakan sumpit—keburu makanannya mendingin— Ia pun menyuruh Akashi untuk menggunakan sendok. Awalnya, ia tetap kesulitan. Gagang sendoknya di gengam dan dengan gemetar menyendoki makanan dan memasukkannya ke dalam mulut,bahkan rasanya ia ingin menyuapi Akashi saja, kalau bukan Akashi yang mati-matian memaksa Kuroko untuk membiarkannya makan sendiri. Akashi merasa jadi manusia itu lebih memalukan dari menjadi boneka.

"Enak! Tetsuya, apa nama benda putih ini. Rasanya enak sekali." Kuroko baru pertama kali bertemu dengan orang yang begitu berbinar saat makan. Mungkin karena Akashi-kun tidak pernah makan.

"Itu namanya tofu Akashi-kun."

"Aku suka tofu Tetsuya. Besok bawakan aku yang seperti ini lagi."

Kuroko mendengus pelan. Mungkin ia harus lebih giat lagi bekerja, beban orang yang ditanggungnya bertambah satu. Kuroko menatap Akashi, namun pikirannya melalang jauh entah kemana. Sadar bahwa sang majikan melamun, Akashi tiba-tiba teringat dengan misinya. Bisa-bisanya ia jadi santai begini. Cih!

"Tetsuya, kau melamun."Tersadar dari lamunan, Kuroko menggeleng pelan. "Ah—maaf Akashi-kun."

"Tetsuya tidak ikut makan?" Tanya Akashi mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi lebih muram. "Aku tidak lapar Akashi-kun."

Mendesah lelah, Akashi menggeser mangkuknya ke depan Kuroko. Sedangkan ia berpindah duduk ke sebelah Kuroko. "Ayo makan bersama. Kalau Tetsuya tidak makan, Aku juga tidak akan makan."

"Aku tidak lapar Akashi-kun."

"Aku mendengar perutmu berbunyi tadi."

"Tap—" saat mulut terbuka, maka perahu berisi tofu dan miso masuk ke dalam goa. Kuroko merengut sebal sambil mengunyah pelan . Akashi tersenyum puas karena berhasil menyuapi sang majikan. "Kau harus makan banyak Tetsuya,biar tumbuh besar."

Kuroko sungguh iritasi mendengar sindiran sang boneka. Mentang-mentang punya tubuh lebih atletis dari dirinya, jadi ia dikucilkan begitu. Bonekanya ini sungguh kurang ajar.

.

.


TBC

A/N : Bagaimana? Akashi sungguh ooc sekali ya/hahaha. Tenang, Sikap Akashi akan berubah seiring bertambahnya chapter/lalala. Apa menurut kalian Alurnya terlalu lambat atau malah terlalu cepat. Saya sungguh membutuhkan saran disini. Semoga para reader mau menyedekahkan reviewnya. See you the next chapter Btw, ini belum beneran bersambung.

.

.

.


Angin malam terasa dingin. Menebar rasa mencekam pada gang-gang sempit minim penerangan. Dari ruangan minim cahaya, terdengar riuh cekikikan wanita, bau alkohol dan asap tembakau menyeruak di setiap penjuru ruangan. Meja-meja poker berdentang dengan dadu dan kartu. Sosok siluet tertutup gelapnya malam mengawasi sekeliling. Manik emasnya memperhatikan sesosok pria paruh baya di depannya. sepatu pantofel kilapnyaberbunyi nyaring menambah takut pria di hadapanya.

Jemari besarnya mengambil sebuah benda tipis di atas meja. Sang lelaki dengan kemeja lusuh dan celana panjang abu-abu berlutut di hadapannya takut-takut. Meski begitu ia masih punya kepercaya diri untuk menawarkan sesuatu pada pria di depannya. "Aku yakin, dia pasti berharga tinggi di pelelangan."

Serangai panjang nampak tercetak pada paras yang sebagian tercemar sinar bulan. "Heh? Boleh juga barangmu. Kau punya keyakinan berapa persen dia bisa menutupi hutang-hutangmu."

"T-Tentu saja seratus persen,Tuan."

Kertas itu di lempar ke atas meja. Senyum seringainya semakin lebar. Sinar bulan berpindah pada manik yang berbinar dengan penasaran. "Kuroko Tetsuya,ka?"

"amenez-le moi!"

.

.

"Ketua, beliau ingin bertemu dengan anda."

Sementara di bagian sudut kota yang lain, sosok siluet menatap keramaian kota Tokyo. Jubah dongkernya berkibar tertiup angin. Di belakangnya, sang anak buah melapor perihal kedatangan tamu yang ia tasa cukup kurang ajar. Manik Scarletnya mendelik tajam pada sang anak buah, mengirimkan pesan tentang betapa mengganggunya sang tamu. Sosok itu menghela nafas berat, apa boleh buat. Ini semua demi kelancaran misinya.

"Katakan padanya, aku akan turun sebentar lagi."

Memberi hormat paham, sang anak buah bergegas pergi meninggalkan sosok yang dipanggil ketua melanjutkan kegiatannya menikmati angin malam ibu kota jepang.


Beneran TBC~

Wanna review