Indiscriminate Love
Disclaimer : Naruto © Mashashi Kishimoto
Author : Namikaze Fansboy
Rated : T
Genre: Romance/ Friendship/ Other
Pair : [Naruto X Sakura]
.
.
.
Summary : Haruno Sakura adalah seorang aktris cantik, terkenal dan ternama, Sakura merupakan siswi dari Konoha Highschool, suatu hari ia secara tidak sengaja tertabrak oleh seorang siswa bernama Naruto yang merupakan siswa sederhana dengan kehidupan sederhana pula.
Chapter 2
Teng! Teng!
Suara pertanda bel pelajarang pertama akan dimulaipun berbunyi semua siswa maupun siswi dengan cepat memasuki gerbang karena lima menit setelah bel berbunyi maka gerbang akan ditutup dan beruntungnya Sakura karena tepat waktu saat memasuki gerbang.
"Huh! Untung saja aku tidak terlambat tadi itu nyaris saja!" Ucap Sakura pelan tetapi tetap saja siswi ini mendapat perhatian karena pagi-pagi sekali Sakura terlihat nafasnya tersenggal-senggal karena lari saat turun dari mobil bel langsung berbunyi.
Kemudian Sakura mulai menegakkan tubuhnya dan tak jauh dari tempatnya berdiri sosok pemuda berambut pirang tiba-tiba menjadi tujuan pandangannya.
'Cepat juga dia sampai kesekolah? Apa ia lari?' Batin Sakura melihat Naruto sudah sampai disekolah. Kemudian sosok itu menghilang bersamaan dengan kerumunan siswa yang memasuki sekolah.
"Hey Forehead tumben kau berangkatnya hampir telat?" Tanya Ino saat melihat sahabat pinknya berangkat siang tidak seperti biasanya.
"Tadi aku bangun kesiangan dan tadi di jalan Yamato-san hampir menabrak anak" Ucap Sakura membuat Ino melotot.
"Bagaimana bisa?" Tanya Ino.
"Itu karena aku meminta Yamato-san untuk cepat dan di jalan ada anak yang melintas sembarangan beruntung ada Naruto jika tidak aku tidak tahu bagaimana nasib anak itu dan juga diriku" Jawab Sakura menjelaskan perkara yang sebenarnya.
"Naruto?" Tanya Ino heran.
"Ya Naruto, Naruto yang kemarin menahan tinju dari Kiba" Lanjut Sakura.
"Aku tahu Naruto yang itu tapi-... ahh sudahlah lebih baik kita masuk" Ucap Ino pada Sakura.
Kemudian kedua sahabat itu mulai menuju kelas mereka, dan seperti biasanya perjalanan mereka kekelaspun mendapat tatapan dari hampir seluruh murid dari kelas yang mereka lewati makluk saja Sakura ada Artis papan atas yang sedang naik daun.
"Ngomong-ngomong bagaimana syuting kemarin?" Tanya Ino
"Membosankan Pig" Jawab Sakura.
"Membosankan atau membosankan? Ayolah lawan mainmu itu Prince Sasuke" Ucap Ino tak percaya pada Sakura.
"Lantas jika Sasuke yang menjadi lawan mainku kenapa?" Tanya Sakura
"Mungkin kau bisa menjatuhkan hatimu pada Sasuke" Goda Ino.
"Tidak akan! Karena aku sudah menjatuhkan pilihanku" Ucap Sakura tanpa sadar membuat Ino melotot.
"Siapa?" Tanya Ino keras.
'Baka kenapa aku bisa keceplosan!' Teriak Sakura dalam hati, dan sekarang ia akan memikirkan cara untuk mengalihkan perhatian Ino.
"Kau salah dengar" Balas Sakura.
"Telingaku masih sehat Forehead" Ucap Ino tak mau kalah.
"Sudahlah pig lebih baik kita kekelas, aku tidak mau dihukum oleh iruka-sensei" ucap Sakura mengalihkan perhatian yang sontak membuat Ino langsung kesal karena sahabatnya mulai rahasia-rahasian dengan dirinya.
"Sakura!" teriak Ino kesal pada sahabatnya ini, sedangkan yang menjadi objek teriakan hanya terkekeh pelan.
= Indiscrimate Love =
Saat ini dikelas Sakura sedang diadakan jam pembelajaran dari iruka, namun pembelajaran harus terhenti sebentar karena suara sirene yang sepertinya akan memberikan pengumuman.
"Baiklah, ada yang bis-..." ucapan iruka tentang pelajaran sejarah harus terpotong karena tiba-tiba sebuah sirine berbunyi nyaring di penjuru kelas pertanda akan ada pengumuman.
"Maaf mengganggu waktu belajar kalian sebentar karena saya ingin memberitahukan bahwa kegiatan kegiatan belajar menggajar selama satu minggu di tiadakan karena sebagai persiapan untuk ulang tahun sekolah kita, untuk sistematika acara dan kegiatan akan ditempel di mading. Sekian terimakasih" Suara dari kepala sekolah menggema di penjuru sekolah, dan sedetik setelah kepala sekolah memberikan informasi teriakan senang terdengar dari semua kelas, guru yang mengajarpun menghela nafas mencoba maklum.
"Baiklah sekarang tenang" ucap iruka menenangkan para siswa yang masih bersorak senang. Para siswapun mulai tenang tapi tetap masih terdengar gumaman.
"Ngomong-ngomong acaranya seperti apa ya?" tanya Sakura pada Ino.
"kalau dengar dari shikamaru akan ada lomba menghias dan kebersihan kelas, lalu acara keluar sekolah sampai dua hari sebelum acara puncak. Dan ngomong acara puncak aku jadi penasaran akan seperti apa" ucap Ino sambil membayang seperti apa nanti acara puncaknya.
"Kalau menurutmu akan seperti apa?" tanya Sakura pada Ino.
"Kau ini, akupun sama penasarannya dengan dirimu jadi jangan bertanya padaku ok?" Ucap Ino pada Sakura.
"Baiklah Ino, ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan rusa pemalas itu?" Tanya Sakura pada Ino atau lebih tepatnya menggoda sahabatnya ini.
"Apa maksudmu?" Tanya Ino gugup.
"Aku tahu bahwa kau menyukai Shikamaru, Akui saja ino" Ucap Sakura dengan menunjukkan senyum mennggoda pada sahabat pirangnya ini.
"Ya! Aku mengakui kalau aku menyukai Shikamaru. Kau sendiri sebenarnya tipe seperti apa yang kau sukai?" Tanya Ino pada Sakura, Ino berencana akan menguras rahasia Sakura karena saat ini pelajaran sedang kosong untuk seminggu kedepan dan tidak ada alasan untuk Sakura menghindari dari introgasinya.
"Apa aku harus menjawab?" Tanya Sakura di balas deathglare dari Ino.
"Baiklah, tapi saat ini aku masih belum memiliki perasaan apapun terhadap laki-laki!" Ucap Sakura membuat Ino menepuk jidatnya karena sahabatnya ini tidak mengerti dengan maksud dirinya.
"Kau memang tidak asik Forehead!" teriak Ino histeris.
= Indiscrimate Love =
Halaman belakang seklah menjadi tempat yang indah untuk bersantai mengingat banyaknya pohon rimbun yang membuat area disini terasa sejuk, dan disinilah seorang pemuda bersurai pirang bermanik blue saphire sedang menikmati angin lembut yang menerbangkan rambutnya perlahan.
"Seperti biasa ditempat ini aku bisa merasa sedikit lega dengan semua masalah yang aku alami" Gumam Naruto dengan mata masih terpejam menikmati angin sepoi.
Naruto adalah remaja yang jarang sekali menikmati masa muda seperti kebanyakan temannya, karena ia harus bekerja paruh waktu demi mencukupi kebutuhannya, karena sedari kecil ia tidak tahu siapa orang tuanya karena yang ia tahu ia berasal dari sebuah panti asuhan yang kemudian ditutup karena berdiri di lahan sengketa yang membuat para anak panti asuhan harus pergi.
"Naruto!" Naruto membukan matanya dan menampilkan saphire yang indah kala sebuah suara khas laki-laki memasuki pendengarannya. Kemudian ia menengok dan mendapati seseorang yang ia kenal sebagai sahabatnya Sabaku Gaara.
"Ya, Ada apa?" Tanya Naruto yang mulai mengambil posisi berdiri.
"Dasar kau itu, kau itu menjabat sebagai ketua kelas maka dari itu kau harus memberi instruksi pada para siswa kelas kita" Ucap Gaara pada Naruto.
"Ini menyebalkan kenapa bukan kau saja yang memberi instruksi kau itu wakilku bukan?" Tanya Naruto kesal.
"Selagi ada kau kenapa harus aku?" Sukses perkataan Gaara membuat Naruto hanya menghela nafas dan menuruti ucapan Gaara sebelum sang wali kelas Morino Ibhiki mencincangnya menjadi rubah panggang.
"Baik-baik!" Ucap Naruto menekan setiap kata membuat Gaara tersenyum simpul.
'Dasar rakun' Batin Naruto dalam hati.
"Habis sekolah nanti kau ada acara?" Tanya Gaara pada Naruto.
"Ada? Kenapa? Mau mengajakku kencan? Maaf saja aku masih menyukai perempuan" Ucap Naruto mengejek sahabatnya ini.
"Bukan Baka, aku ingin mengajakmu survey tempat yang akan di jadikan menjadi tempat perkemahan kita!" Ucap Gaara pada Naruto.
"Jika aku tidak harus mencari uang aku akan menyetujuinya tapi sayang aku harus bekerja demi menyukupi kebutuhan diriku" Ucap Naruto menolak dengan halus agar tidak menyinggung perasaan Gaara.
"Tak apa Naruto, aku mengerti kok jadi tak perlu merasa bersalah" Ucap Gaara yang di balas anggukan oleh Naruto.
"Ngomong-ngomong siapa saja yang akan ikut kemah?" Tanya Naruto pada Gaara.
"Kelas satu dan dua karena tidak mungkin kelas tiga yang meningat beberapa bulan lagi mereka akan menghadapi ujian" Jawabnya pada Gaara, dan beberapa saat kemudian mereka sudah berada di depan kelas tanpa menunggu apa-apa lagi mereka memasuki ruang kelas beruliskan 11-5 itu.
= Indiscrimate Love =
Hujan yang mulai deras membasahi bumi, dan itu membuat Sakura harus menghela nafas karena sepertinya ia akan terlambat menuju lokasi syuting mengingat hujan yang semakin deras dan petir yang menyambar dan ada kemungkinan bahwa syuting aku di undur, dan benar saja beberapa menit kemudian ia mendapat pemberitahuan di ponselnya bahwa syuting hari ini di cancel karena cuaca yang tidak terduga.
"Sial! Kenapa juga harus hujan" Ucap Sakura kesal dengan menghela nafas dengan berat.
"Jangan mengehelas nafas Haruno-san karena itu bisa membuat kebahagianmu berkurang" Tiba-tiba terdengar suara baritone dari belakang dan ternyata suara itu adalah suara yang ia kenal sebagai suara Naruto.
"N-Naruto-san?"
"Panggil saja aku Narutom aku tidak suka hal yang berbau formal" Ucap Naruto pada Sakura seraya tersenyum lembut membuat Sakura merona melihat senyum itu.
"Baiklah Naruto" Ucap Sakura membuat Naruto semakin tersenyum lebar.
"Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disini? Apakau tidak memiliki jadwal syuting ya mengingat kau itu Aktris ternama saat ini" Tanya Naruto pada Sakura yang membuat Sakura tertawa pelan saat ini mereka sedang berada di depan sebuah kelas, dan perbincangan mereka ini menjai perhatian mengingat siapa itu Sakura.
"Tadinya ada namun di batalkan karena cuaca yang tidak menentu" Jawab Sakura pada Naruto, sedangkan Naruto hanya tersenyum medengar jawaban Sakura.
Pluk!
Naruto mengalungkan jaket orangenya pada Sakura mengingat Sakura daritadi memeluk tubuhnya.
"Maaf atas ketidas sopananku, tapi aku terlihat kedinginan jadi aku memberikan jaketku padamu dan juga maaf karena jaketku ini murah dan mungkin tidak nyaman untukmu tapi paling tidak itu akan mengurangi rasa dinginnya" Ucap Naruto pada Sakura, sedangkan Sakura yang diperlakukan Naruto seperti itu hanya memerah merona.
"Tidak! Seharusnya aku berterimakasih jaket ini nyaman untukku. Arigatou" Ucap Sakura berterimakasih.
"Sama-sama kalau begitu aku permisi karena aku ada Part-time jadi aku permisi dulu Haruno-san" Ucap Naruto berpamitan pada Sakura, tapi belum jauh Naruto melangkah Sakura sudah memanggilnya.
"Naruto!"
"Ya?" Sahut Naruto.
"Apa kita bisa berteman?" Tanya Sakura ragu pada Naruto.
"Aku tidak tahu, apa kau tidak malu berteman dengan seseorang yang miskin sepertiku yang tidak ada apa-apanya dengan dirimu? Selama ini orang yang berada hanya memandangku rendah dan hanya beberapa yang mau berteman denganku" Jawab Naruto.
"Aku tidak merasa malu berteman dengan dirimu, dan jangan bilang kau bukan siapa-siapa mengingat kau adalah pemain sepak bola terbaik sejepang tingkat Highschool, jadi aku harap kita bisa berteman" Balas Sakura yang berjalan mendekati Naruto.
"Baiklah!" Jawab Naruto berbalik memandang Sakura.
"Jadi kita sekarang berteman?" tanya Sakura yang di balas anggukan oleh Naruto.
"Dan mulai sekarang panggil aku Sakura jangan panggil nama depanku" ucap Sakura.
"Baiklah Sakura, kalau begitu aku permisi dulu, dan untuk jaketnya kau bisa bawa" ucap Naruto kemudian melangkah menerjang hujan yang mulai reda.
'Teman? terdengar bagus' batin Sakura senang karena dapat berteman dengan Naruto.
"Kau salah Naruto, menurutku kau adalah sosok yang sempurna dengan segala kelebihan dan kekuranganmu" gumam Sakura sembari melihat punggung Naruto dari kejauhan.
Tak lama setelah kepergian Naruto jemputan untuk Sakura sudah datang dari sang sopir keluarga haruno yaitu Yamato, melihat itu Sakura melambikan tangannya agar Yamato tahu dimana posisinya dan menyusul dengan payung.
= Indiscrimate Love =
Sakura memasuki kediamannya dengan raut muka yang berseri-seri dengan bersenandung ria seolah mendapat sesuatu yang menyenangkan hatinya. Dan kelakuan Sakura ini membuat sang ibu Mebuki memandang putrinya dengan penuh selidik.
"Sepertinya ada yang sedang bahagia sampai tertawa sendiri" sindir Mebuki pada putrinya.
"Ibu apaan sih" keluh Sakura membuat Mebuki tertawa pelan.
"Ibu? justru kau yang ada apa, kenapa pulang dengan muka seperti itu dan tunggu dulu..." ucap Mebuki menggantung sembari memperhatikan putrinya dari bawah sampai atas.
"Ada apa?" tanya Sakura heran melihat gelagat ibunya.
"Jaket siapa yang kau pakai? ibu baru melihatnya dan dari stylenya itu jaket seorang laki-laki apalagi warnanya orange, dan jawab pertanyaan ibu yang pertama tadi!" tuntut Mebuki pada putrinya seolah putrinya itu tersangka.
"Ini jaket teman laki-lakiku dan soal pertanyaan pertama tadi itu rahasia" jawab Sakura kemudian melesat menuju kamarnya.
"Dasar anak muda jaman sekarang" gumam Mebuki melihat tingkah Sakura yang terlihat menggemaskan.
Sedangkan Sakura yang sudah berada di kamar langsung melemparkan tubuhnya kekasur empuknya dengan posisi terlentang, sembari tangan kanannya memegang dadanya yang saat ini merasakan sesak karena perasaan senang dan bahagia menyeruak dalam dirinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku?" tanya Sakura entah pada siapa, karena semenjak tadi Naruto mau berteman dengan dirinya rasanya seperti ingin berterik senang. Entah bagaimana dirinya menafsirkan perasaannya saat ini karena dirinya baru sekarang merasakannya.
"Berhubung hari ini syuting di cancel aku dapat beristirahat di waktu petang" gumam Sakura yang membaringka tubuhnya dengan benar.
Sakurakemudian mengambil ponselnya di tas dan mengeceknya ternya banya sekali pemberitahuan tentang dirinya di berbagai social media tapi hanya satu yang menarika perhatiannya yaitu sebuah photo yang di upload lewat instagram, yaitu photo saat Naruto mengalungkan jaket orangenya pada Sakura agar tidak kedinginan tadi, dan sontak saja photo itu menjadi perbincangan di instagram tentang siapa laki-laki pirang itu, tapi tak sedikit orang yang tahu bahwa pria itu adalah Naruto mengingat Naruto adalah MVP dalam turnamen sepakbola sejepang tingkat Highschool kemarin.
Sakura yang melihat photo itu tanpa sadar ternyum simpul kemudian ia menyimpan photo unggahan dari seseorang itu ke galeri ponsel miliknya.
"Photo yang bagus" ucap Sakura sembari tersenyum tulus, dan siap saja untuk menjadi perbincang di dunia maya atapun media masa karena photo itu, tapi lebih dari itu semua Sakura merasa senang.
Cklek!
Pintu kamar Sakura terbuka kemudian menampilkan sosok ibu rumah tangga keluarga Haruno yaitu Mebuki haruno.
"Ada apa ibu?" tanya Sakura yang tiba-tiba memasuki kamarnya.
"Dasar! apa saking senangnya dirimu sampai kau lupa untuk makan siang?" goda sang ibu pada Sakura, sedangkan Sakura menepuk jidat kemudia turun dari kasur empuknya untuk makan siang.
Cup!
"Terimakasih ibu" setelah mengecup pipi sang ibu dan mengucapkan terimakasih Sakura turun menuju meja makan yang disusul oleh Mebuki.
= Indiscrimate Love =
Naruto saat ini sedang kerja paruh waktu di sebuah stand ramen, sang senior di Stand ramen sekaligus anak dari pemilik stand ramen yaitu Ayame memandang Naruto yang tidak seperti biasanya melamun saat bekerja biasanya ia akan semangat dalam bekerja.
"Naruto" Panggil Ayame namun tidak ada sahutan dari Naruto yang masih setia melamun.
"Naruto!" Panggil Ayame kesal dengan menarik pipi Naruto hingga membuat sang empu mengadah kesakitan di pipi kanannya.
"Ittai.. Itta Ayame-nee" Protes Naruto karena tiba-tiba pipinya di tarik oleh Ayame.
"Itu salahmu Baka, kenapa kau melamun saat bekerja?" Tanya Ayame tajam.
"Aku tida melamun" Sangkal Naruto yang di balas deklikan oleh Ayame.
"Baik, Baik aku mengaku" Jujur Naruto membuat Ayame tersenyum penuh kemenangan.
"Memang apa yang kau pikirkan?" Tanya Ayame penuh selidik.
"Hanya memikirkan tentang acara yang akan diadakan sekolah" Jawab Naruto jujur sekaligus bohong karena sebenarnya ada masalah lain yang ia pikirkan.
"Memang akan ada apa di sekolahmu?" Tanya Ayame.
"Disekolah akan ada acar ulang tahun Konoha Highschool yang ke 43" Jawab Naruto pada Ayame.
"Sepertinya akan menyenangkan" Ucap Ayame.
"Menyenangkan apanya? Ini sungguh menyebalkan karena harus 3 hari 3 malam kemah" Tanggap Naruto membuat Ayamen terkekeh karena ia tahu bahwa Naruto tidak menyukai acara keluar.
"Tapi kau tetap mengikuti acara itukan?" Tanya Ayame.
"Tentu saja! Aku adalah ketua kelas dari 11-5 maka dari itu aku harus ikut kalau tidak Ibhiki-sensei akan mencincang diriku!" Ucap Naruto ngeri membuat mereka terkekeh pelan, ya seperti inilah suasana jika Naruto dan Ayame sedang bersantai karena Naruto sudah menganggap Ayame sebagai kakaknya dan hanya kepada orang yang dianggap nyaman oleh Naruto ia dapat terbuka.
"Tapi kalau di perhatikan kau seperti sedang kasmaran eh Naruto?" Goda Ayame pada Naruto.
"Hah? Kasmaran dengan siapa?" tanya balik Naruto.
"Entah, mungkin orang yang kau sukai atau lebih parahnya mungkin pacarmu" Jawab Ayame kemudian tertawa keras melihat ekspresi Naruto yang memerah karena malu di campur kesal karena di goda oleh Ayame.
"Sudahlah Ayame-nee jangan menggodaku terus nanti kalau terlalu dekat denganku malah kau tidak akan mendapat jodoh!" Seru Naruto membuat ayame berbalik kesal, sedangkan Naruto tertawa pelan melihat ekspresi dari sang kakak.
"Ngomong-ngomong apa Teuchi-jisan sudah sembuh dari demamnya?" Tanya Naruto pada Ayame.
"Sekarang demamnya sedang turun tapi sekarang masih dalam tahap penyembuhan jadi untuk kembali bekerja mungkin akan membutuhkan waktu beberapa hari lagi" Jawab Ayame di balas anggukan oleh Naruto.
Krincing!
Sebuah bel yang di pasang dalam pintu berbunyi pertanda ada orang yang masuk dan ternyata ada sekeluarga yang berniat memakan ramen di cuaca yang sulit diprediksi ini, dan akhirnya Naruto dan Ayame di sibukkan dengan para pelanggan yang berdatangan untuk membeli ramen.
"Yah pembicaraan kita lanjut nanti saja karena pelanggan sudah mulai berdatangan mengingat ini hampir malam" Ucap Ayame di balas anggukan oleh Naruto.
'Aku serahkan padamu Kami-sama' Batin Naruto seraya memanjatkan doanya pada Kami-sama kemudian mulai mengerjakan pekerjaannya.
= Indiscrimate Love =
Saat ini keluarga Haruno sedang berkumpul di ruang keluarga sembari menunggu waktu jam makan malam.
"Oh ya, nanti akan ada teman Papa yang akan datang kemari dan makan malam bersama" Ucap Kizashi membuat pasangan ibu dan anak ini terkejut.
"Kenapa Papa baru bilang sekarang?" Tanya Mebuki menaikkan suaranya.
"Maaf aku lupa!" Balas Kizashi takut-takut, tapi ya mau bagaimana lagi memang dirinya yang salah dadi ia harus menerima konsekuinsinya.
"Memang siapa yang akan datang?" Tanya Mebuki yang mulai menengkan dirinya.
"Kau mengenalnya mereka adalah teman kita saat Highschool dulu" Jawab Kizashi membuat Mebuki penasaran dengan tamunya nanti.
"Tak ada pilihan lain kita harus memesan makanan dari restoran tidak mungkin dengan memasak" Ucap Mebuki yang mulai berdiri untuk menelpon restoran langganannya, sedangkan Kizashi bersyukur karena tidak mendapat jitakan atau setidaknya teriakan keras dari sang istri.
"Hey Sakura bagaimana harimu?" Tanya Kizashi pada putrinya.
"Hari ini syuting di cancel karena tiba-tiba tadi hujan deras dan yang pasti hari ini amat sangat menyenangkan" Balas Sakura dengan tersenyum lebar membuat Kizashi menatap Sakura penuh selidik.
"Dia memang agak aneh hari ini, dari pulang sekolah hingga sekarang selalu tersenyum, tadi saja pulang-pulang ia mengenakan jaket laki-laki" Ucap Mebuki membuat Sakura mengerucutkan bibirnya membuat pasangan suami istri ini terkekeh melihat tingkah putrinya.
"Sepertinya putri ayah ini sedang fall'in love" Ucap Kizashi sok inggris membuat Sakura dan Mebuki tertawa.
"Aku tidak tahu ayah! karena aku belum pernah merasakan apa yang namanya jatuh cinta tapi..." Ucap Sakura menggantung dengan nada sedikit gugup.
"Tapi apa sayang?" Tanya Kizashi.
"Tapi jika seandainya aku menyukai seseorang tetapi dia seorang yang sederhana bukan dari kalangan atas seperti kita apa ayah akan mengizinkan aku berhubungan dengan dia?" Tanya Sakura takut-takut, sedangkan Kizashi dan Mebuki yang mendengar itu hanya tersenyum lembut.
"Kebahagiaan orang tua adalah kebahagiaan anaknya, jika kau bahagia dengan pilihamu maka sebagai orang tua kita tidak ada alasan untuk melarang!" Jawab Kizashi yang di balas anggukan oleh Mebuki setelah itu sang Ibu rumah tangga pamit untuk menyiapkan makan malam.
"Terimakasih Ayah!" Ucap Sakura seraya memeluk ayahnya.
Ting! Tong!
Pelukan hangat antara ayah dan anak ini harus terputus kala sebuah bel berbunyi yang membuat sang kepala rumah tangga harus membukakkan pintu.
"Ya, tunggu Sebentar!" Seru Kizashi pada tersangka pemencet bel, kemudian segera menuju keambang pintu.
Cklek!
"Akhirnya kalian sampai juga!" Ucap Kizashi dengan muka senang melihat dua sosok paruh baya berbeda gender.
"Ya seperti yang kau lihat" Balas sosok pria paruh baya berambut pirang dengan wanita berambut merah disampingnya.
Kemudian Kizashi dan kedua tamunya ini menuju ruang tamu untuk berbincang sebentar guna menunggu waktu makan malam.
-Tobe Continued-
Akhirnya Up juga chap kedua dari cerita ini, menurut kalian bagaimana kecepatan alurnya atau ada lebihnya, tapi kalau yang review panjang ataupun mau kasih saran mending di PM aja, dan maaf kalau storynya abal-abal karena Author masih lemes akibat paksakan temen sekelas buat donor darah tadi hehe. Jaa ne
.
.
.
Dont Forget For Review :D
Selamat Hari Anak Sedunia 20 November 2015 :D
