Indiscriminate Love
Disclaimer : Naruto © Mashashi Kishimoto
Author : Namikaze Fansboy
Rated : T
Genre: Romance/ Friendship/ Other
Pair : [Naruto X Sakura]
.
.
.
Chapter Sebelumnya...
"Darimana kau mendapatkan ini Minato?" Tanya Kushina dengan mata bergetar tapi tidak memungkiri ada sesuatu yang membuat dirinya merasakan kebahagiaan kala melihat dua buah foto yang menunjukan gambar seorang anak berusia 10 tahun.
"Itu aku menemukan dengan bantuan Hayate kemarin lusa, dan saat itu aku belum memberitahumu karena aku ingin mencari kepastian dulu, dan tadi akhirnya aku menemukan kepastian yaitu foto digambar itu adalah Menma" Jelas Minato membuat Kushina menangis terharu karena akhirnya setelah sekian lama dirinya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan putranya kembali.
"Lantas apa kau sudah menemukan keberadaannya Menma?" Tanya Kushina kemudian yang dibalas gelengan pelan oleh Minato.
"Masih belum, tapi dengan mendapat petunjuk bahwa Menma tidak diadopsi maka aku yakin bahwa Menma berada disekitar Konoha bahkan mungkin di Konoha"
~XXX~ Chapter 5 ~XXX~
Naruto dan kelompoknya kini sedang menyelusuri labirin, ini sudah berlalu 30 menit tapi mereka belum ada tanda-tanda untuk menemukan kedua benda yang sedang mereka cari yaitu boneka monyet dan jam pasir agar mereka bisa secepatnya mencari jalan keluar dari labirin.
"Kau tak apa Naruto?" Tanya Sakura khawatir yang melihat wajah Naruto semakin pucat, mungkin karena cuaca yang sedang tidak bersahabat.
"Aku tidak apa hanya kepalaku sedikit pusing" Bohong Naruto karena saat ini ia merasakan kepalanya sangat pusing dan berkunang-kunang tapi demi kelompoknya ia akan berusaha sekuat tenaga.
"Yang dikatakan Sakura benar Naruto, wajahmu terlihat pucat" Sahut Ino yang melihat wajah Naruto yang sangat pucat.
"Aku tak apa Ino sud-... ug" Naruto mengerang karena merasakan kepalanya berdenyut sakit, dan sontak itu membuat perasaan cemas Sakura muncul.
"Kalian duluan saja, biar aku yang menjaga Naruto disini" Ucap Sakura memandang Sasuke, Ino, dan Tenten.
"Baiklah, kami tak apa Sakura lebih baik kau jaga Naruto kami akan berusaha menemukan boneka monyet dan jam pasir itu dan jika waktu masih memungkinkan kami semua akan kembali kesini tetapi jika tidak memungkinkan mungkin hanya beberapa dari kami yang akan datang" Ucap Ino panjang lebar yang kemudian dibalas anggukan oleh Sakura, setelah itu dengan enggan Sasuke mengambil lentera dari Naruto karena ia tidak rela meninggalkan Naruto dan Sakura berduaan.
"Apa yang kau rasakan Naruto?" Tanya Sakura cemas melihat wajah kedinginan Naruto, tapi paling tidak mereka sudah berada dibawah pohon rindang jadi tidak khawatir untuk mendudukan Naruto.
"A-..."
"Aku ingin kau menjawab jujur dan tidak berkata bahwa kau tidak apa-apa" Potong Sakura galak membuat Naruto meringis merasa takut.
"Baiklah, aku merasa diriku rasanya berat sekali dan meriang dan kepalaku rasanya seperti dilempari krikil" Jawab Naruto yang kini sudah tidak bisa berbohong lagi.
"Sebentar..." Ucap Sakura menggantung seraya menggambil sesuatu dari ranselnya yang ternyata adalah handuk kecil dan termos kecil.
"Aku akan mengompresmu supaya panasmu bisa turun dan besok kondisimu bisa pulih" Ungkap Sakura seraya menempelkan handuk kecil pada dahi Naruto yang tadi sudah dibasahi oleh air hangat.
"Sakura" Panggil Naruto pelan.
"Ya?"
"Terimakasih karena sudah mau merawat dan menjagaku disini" Ujar Naruto yang menimbulkan rona tipis dikedua pipi Sakura.
"S-sama-sama" Balas Sakura gugup membua Naruto tertawa tertahan.
"Ngomong-ngomong yang dikatakan sensei benar ya kali ini bulan purnama muncul dan sedang bersinar dengan terang pantas saja sensei tidak memberi bahan bakar cadangan" Ucap Sakura mengalihkan pembicaraan seraya menatap bulan purnama yang bersinar terang.
"Kau benar, tapi sayang malam indah seperti ini tidak ada bintang yang bertabur dilangit" Sahut Naruto membuat Sakura mengalihkan pandangannya kesamping.
"Memang kenapa? kalau aku perhatikan seperti kau suka bintang" Ucap Sakura.
"Kau memang benar, aku memang menyukai bintang" Jawab Naruto.
"Kenapa kau menyukai bintang bukan yang lainnya?" Tanya Sakura penasaran.
"Karena sedari kecil aku memandang bintang adalah sebagai impian yang harus kukejar sampai dapat, tak peduli sejauh apa, setinggi apa, dan apapun rintangannya aku akan berusaha menggapainya" Jawab Naruto membuat Sakura memandangnya kagum.
"Aku yakin kau dapat menggapai semua impianmu, karena aku tahu kau tidak akan pernah menyerah" Sahut Sakura yang dibalas senyum miring oleh Naruto.
"Lalu, kau sendiri apa memiliki impian yang belum terwujud?" Tanya Naruto kemudian.
"Impian ya? Sebenarnya aku memiliki cita-cita namun tidak pernah terpikirkan olehku lagi semenjak aku menjadi aktris yaitu menjadi seoran dokter spesialis" Jawab Sakura pada Naruto.
"Kalau begitu bermimpilah, karena mimpi tidak hanya satu saja, kita dapat bermimpi sebanyak apa yang kita mau" Balas Naruto pada Sakura yang dibalas pandangan tak mengerti oleh Sakura, dan ia baru sadar bahwa Naruto adalah orang yang sangat sulit ditebak.
"Apa maksudmu Naruto?" Tanya Sakura tak mengerti.
"Mimpi tidak hanya satu, maka kerjalah impianmu untuk menjadi dokter! Kau tahu jika kau menjadi dokter itu akan membuat dirimu terlihat sempurna walau manusia tidak ada yang sempurna" Ucap Naruto dengan nada yang masih pelan karena tubuhnya belum pulih total.
"Aku? Sempurna?" Tanya Sakura memastikan.
"Ya" Jawab Naruto singkat.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Tanya Sakura dengan pipi yang sedikit memerah.
"Entah, hanya saja terlintas di pikiranku jika kau menjadi seorang dokter kupikir itu hal yang sangat bagus" Jawab Naruto yang semakin membuat Sakura merona tapi sayang Naruto tidak menyadarinya karena memang sifat bawaannya yang kurang peka dalam masalah perempuan.
"Kau daritadi berbicara tentang Impian, lalu kau sendiri tidak pernah memberitahu impianmu" Ucap Sakura yang mengalihkan pembicaraannya ke hal yang lebih normal.
"Hahahaha…. Jadi kau ingin tahu? Sebenarnya cita-citaku adalah menjadi seorang dokter sama sepertimu, tapi impianku sebenarnya adalah untuk bertemu dengan kedua orang tuaku atau tidak sekedar mengetahui bahwa aku memiliki orang tua" Jawab Naruto dengan tersenyum miris, miris setiap ia mengingat bahwa ia besar tanpa kasih sayang orang tua.
"Lalu jika kau nyatanya bertemu dengan mereka apa yang akan kau lakukan? Apa kau tidak membeci mereka yang sudah meninggalkanmu sejak kecil?" Tanya Sakura kemudian.
"Membenci untuk apa? Memang dulu aku pernah berpikir bahwa mereka sangat kejam padaku yang menelantarkan diriku sendirian tapi lamban laun aku sadar bahwa kebencian tidak ada gunanya dan aku berusaha menghilangkan perasaan benci ini dan kemudian rasanya aku ingin bertemu mereka dan bertanya sebenarnya apa yang terjadi hingga mereka harus meninggalkanku saat aku keci" Jawab Naruto sambil melihat keatas menerawang keatas langit seolah ia dapat menemukan jawaban diatas sana.
"Aku yakin kau akan menemukan mereka Naruto, dan aku janji aku akan membantumu" Ucap Sakura memberikan tanda piss-nya tanda ia berjanji akan membantu Naruto.
"Tak perlu Sakura, karena kau mau menjadi temanku saja itu sudah lebih dari cukup" Sahut Naruto karena sebenarnya ia tidak ingin terikat janji dengan seseorang, setelah itu mereka terlingkup dalam suasana hening, hingga suara lembut Sakura memecahkan keheningan yang ada.
"Naruto" Panggil Sakura yang membuat Naruto mengalihkan pandangan kearahnya.
"Apa kau menyukai seseorang?" Tanya Sakura tiba-tiba yang membua Naruto cukup terkejut mendengarnya.
"Kenapa kau ingin tahu?" Tanya Balik Naruto yang dibalas dengusan oleh Sakura.
"Tidak apa-apa, kau mau menjawab atau tidak itu bukan masalah" Jawab Sakura pura-pura kesal dengan menggembungkan kedua pipinya membuat ia menggemaskan dimata Naruto.
"Suka ya? sebenarnya aku tidak atau lebih tepatnya tidak pernah merasakan jatuh cinta dan aku juga tidak tahu apa itu cinta, walau sebenarnya akhir-akhir ini aku sangat senang jika bertemu seseorang dan sering merasa sepi jika tidak melihatnya" Jawab Naruto kemudian membuat Sakura menautkan alisnya.
"Siapa?" Tanya Sakura was-was, entah mengapa mengetahui Naruto menyukai orang lain membuat dadanya merasa sesak seperti terkena asma.
"Dia adalah seseorang yang keras kepala namun baik dan juga peduli dengan orang lain, dan jika aku berada didekatnya sering aku merasa tidak pantas berada didekatnya mengingat siapa aku dan siapa dirinya" Ucap Naruto yang mendeskripikan dengan tepat yang hanya dibalas pandangan bingung oleh Sakura.
"Siapa dia?" Tanya Sakura tak sabar membuat Naruto tertawa.
"Kenapa kau tertawa memang ada yang salah dengan pertanyaanku?" Tanya Sakura kesal.
"Tidak, hanya saja apa kau tidak tahu siapa yang aku maksud padahal aku sudah memberitahu dengan tepat siapa orang itu" Jawab Naruto dengan tersenyum lebar melupakan kenyataan bahwa dirinya saat ini sedang sakit.
"Memang siapa?"
"Dia ada didekatku" Pungkas Naruto.
"Siapa? memang ada orang lain lagi di sekitar kita? apa yang kau maksud adalah makhluk halus atau sejenisnya" Tanya Sakura yang membuat Naruto semakin tertawa dengan intesitas yang semakin keras.
Duak!
"Ittai... kenapa kau memukulku apa salahku?" tanya Naruto yang tiba-tiba dijitak oleh Sakura.
"Karena bukan menjawabku pertanyaanku malah menertawakanku" Balas Sakura yang dari tadi dibuat kesal oleh tingkah Naruto yang seolah ingin menggodanya.
"Bagaimana aku tidak tertawa jika kau tidak sadar bahwa orang yang ku maksud adalah dirimu dan kemudian berbicara seenaknya seolah aku ini memiliki indra keenam" Ucap Naruto spontan.
"Aku? jadi seseorang yang kau maksud adalah aku?" Tanya Sakura menunjuk dirinya sendiri, sedangkan Naruto dalam hati mengerutuki kecerobohannya.
"Ya kau benar, aku senang berteman denganmu karena kau mau menjadi temanku tanpa memandang statusku dan kadang aku merasa sedih jika mengingat apa saja hal yang kita lakukan bersama" Pungkas Naruto jujur dengan pikirannya, tapi entah mengapa jauh dari lubuk hatinya ia tidak menyutujui apa yang ia pikirkan.
"Kau berpikir seperti itu? justru seharusnya aku yang berterimakasih padamu karena berkat dirimu aku tahu apa itu arti kehidupan dan juga impian yang membuatku menjadi pribadi yang lebih lagi" Balas Sakura dengan kedua pipi memerah.
Kemudian Naruto bangun dari posisi tidurnya kemudian ikut bersandar disamping Sakura, untuk waktu beberapa lama mereka masih berada disuasana yang hening hingga keduanya menoleh kearah yang bersamaan, keduanya sama-sama terjerat akan indahnya bola mata yang dimiliki keduanya.
Entah siapa yang memulai duluan keduanya mulai mendekatkan wajah mereka yang semaki mengeliminasi jarak diantara mereka hingga bibir keduanya bertemu dalam sebuah ciuman, ciuman yang awalnya hanya sebuah ciuman kasih kini menjadi lumatan agresif dari keduanya.
"Ahhh..." Dengan nafas tak beraturam Naruto melepaskan pungutan antara dirinya dengan Sakura setelah sadar akan apa yang ia lakukan, Sakurapun tak jauh beda kini wajahnya sudah memerah total dengan nafas tak beraturan.
"Maafkan aku Sakura, jujur aku tidak tahu apa yang aku lakukan, tadi aku hanya terbawa suasana, kumohon maafkan aku" Ucap Naruto sedikit panik dan merara bersalah atas apa yang terjadi.
"Tak apa, Naruto tadi aku juga terbawa suasana jadi ini juga salahku" Balas Sakura dengan wajah memerah total dengan nafas yang masih tampak tak beraturan.
"Sungguh aku minta maaf, tapi ku harap ini tidak mengganggu tali pertemanan kita tapi jika kau tidak menerim-.." Ucapan Naruto tak terselsaikan kala sesuatu yang lembut dan kenyal menempel di bibir Naruto, dan itu membuatnya terkejut karena Sakura menciumnya dengan tiba-tiba hanya sekilas namun dapat membuatnya stuck ditempat.
"Sudah berapa kali kubilang apapun yang terjadi aku akan tetap menjadi temanmu" Ucap Sakura dengan pipi merona pekat dengan nafas sedikit tak beraturan, sedangkan Naruto tidak jauh beda dengan Sakura.
Tak terasa keduanya sudah menghabiskan waktu 3jam bersama dan juga tampak hari sudah mulai larut, tak lama kemudian Sasuke, Lee, Ino, dan Tenten sudah kembali dengan benda yang mereka cari, dan ternyata waktu yang tersisa masih cukup banyak yaitu 1 jam.
"Kalian sudah kembali?" Sambut Sakura dengan mengajukan sebuah pertanyaan.
"Tentu saja Forehead, dan kita sudah membawa bonekanya dan jam pasir" Jawab Ino yang menunjukan boneka ditangannya, dan jam pasir yang dibawa Sasuke.
"Kalau begitu kita harus mencari pintu keluar labirin, agar kita cepat sampai di camp agar kita segera istirahat karena besok kita harus menghadapi labirin lagi" Ucap Naruto yang bangkit dari posisi duduknya dan tampak terlihat tubuhnya sudah mulai sehat.
"Apa kau sudah tidak apa-apa Naruto?" Tanya Tenten pada Naruto.
"Tak apa, tadi Sakura sudah mengompresku jadi aku sudah mulai baikan" Jawab Naruto yang mulai maju didepan, sedangkan Ino tampak curiga karena ekspresi yang ditunjukan oleh sahabatnya ini selalu berubah-ubah.
"Kau harus menceritakan apa yang terjadi diantara kalian tadi di tenda nanti Forehead" Ucap Ino menekankan dibeberapa kata seolah ia ada hakim yang sedang mengadili terdakwa.
"Tak terjadi apa-apa" Balas Sakura tak peduli namun dengan pipi memerah pekat jika mengingat kejadian tadi, namun Ino tak semudah itu dibohongi mengingat ekspresi dari sahabatnya itu, kemudian keduanya berjalan mengikuti rombongan kelompok yang mencari jalan keluar dari labirin.
~ XXX~ Indicrimate Love ~XXX~
Tampak seorang pria paruh baya berambut pirang yang tak lain adalah Namikaze Minato sedang menimang-nimang sebuah map berwarna coklat yang ada ditangannya yang merupakan data yang diberikan oleh detektif yang ia sewa untuk mencari keberadaan putra sulungnya yang selama ini menghilang.
"Apa kau sudah mendapat petunjuk baru Hayate?" Tanya Minato pada Hayate menanyakan seputra perkembangan tentang pencarian putranya selama ini.
"Untuk saat ini saya masih belum menemukan petunjuk yang berarti dimana keberadaan putra anda, tapi saya mendapat informasi bahwa sesorang pernah bertemu dengan orang yang mirip dengan putra anda yang berada didalam foto" Ucap Hayate membuat Minato terkejut mendengar ada yang mengetaui keberadaan putranya.
"Lalu apa yang ia ketahui tentang putraku?" Tanya Minato tak sabar.
"Tak banyak, ia hanya pernah melihat sekilas setelah ia menyelamatkan anaknya yang dikira hilang, dan Ibu itu juga berkata bahwa dia memakai seragam Konoha Highschool yang berarti kemunngkinan anda dapat menemukan putra anda di Konoga Highschool tapi kemungkinan anda harus mengurungkan niat anda terlebih dahulu" Jelas Hayate mengenai apa saja informasi yang ia dapatkan.
"Kenapa?" Tanya Minato heran,
"Karena saat ini siswa Konoha Highschool sedang mengadakan kemah, dan alangkah baiknya jika anda menunggu mereka kembali dari kemah, lagipula anda mempunyai seorang kenalan yang mempunyai anak bersekolah disana bukan?" Tanya Hayate di balas anggukan oleh Minato.
"Lebih baik anda tanya terlebih dahulu pada anak kenal anda untuk memastikan apa benar ia adalah orang yang kita cari" Jelas Hayate.
"Apakah menurutmu ada kemungkinan dia adalah Menma?" Tanya Minato meminta pendapat dari Hayate.
"Ada kemungkinan dia adalah putra anda, bahkan kemungkinan itu sangat besar mengingat fisiknya begitu mirip dengan anda, namun itu semua siapa yang tahu jika Kami-sama berkata anda dan Kushina-sama akan bertemu lagi dengan Menma-sama pasti akan bertemu tapi hanya waktu yang akan menjawab dan penantian anda selama belasan tahun ini sudah menemukan titik terang" Ucap Hayate memberikan pendapatnya pada Minato.
"Akupun berharap seperti itu Hayate, karena aku dan Kushina sudah sangat merindukan Menma" Ucap Minato sambil mengadah kelangit-langit ruang kerjanya.
"Begitu, lalu dimana Kushina-sama dan Yahiko? mengingat ini hari minggu tidak mungkin Yahiko bersekolah?" Tanya Hayate pada Minato.
"Mereka sedang berbelanja keperluan keluarga, tadinya aku ingin menemani mereka tapi Kushina menolak karena ingin pergi sendiri, dan rencana aku akan memberitahu Kushina nanti tentang ini, aku yakin ia akan senang mendengarnya" Sahut Minato senang yang dibalas anggukan oleh Hayate.
"Kalau begitu saya permisi dulu Minato-sama, jika ada informasi lagi akan saya laporkan pada anda, jika anda masih belum jelas dengan apa yang saya jelaskan anda dapat membaca laporan saya" Ucap Hayate pamit pada Minato.
"Baiklah, terimakasih kerja samanya Hayate" Ucap Minato kemudian Hayate keluar dari ruangan Minato.
'Tinggal selangkah lagi penantian kami selama belasan tahu akan terbayar' Pikir Minato senang.
~ XXX~ Indicrimate Love ~XXX~
Naruto dan kelompoknya tampak lelah sekali setelah menyelsaikan misi mereka di kemah tahun ini, mereka akhirya bisa keluar dari Labirin di hari kedua mereka tampak seperti mandi keringat karena memang cuaca hari ini memang sangat panas apalagi rute yang mereka lewati jarang ada pohon yang tinggi, dan artinya jika Labirin kedua telah selesai maka akan tiba di hujung masa kamah ini akan berakhir dan pastinya mereka sebentar lagi akan kembali kerumah masing-masing.
"Huah... akhirnya hari panas dan melelahkan ini berakhir juga" Teriak Ino yang daritadi mengeluh dengan cuaca panas yang terjadi.
"Jangan berteriak Pig, kau membuat telingaku pengang menurutmu hanya kau saja yang lelah? aku juga lelah" Balas Sakura pada Ino yang di balas rengutan oleh Ino.
"Oh ya ngomong-ngomong kau belum menjelaskan apa yang terjadi antara kau dan Naruto kemarin, nanti di bus kau harus menjelaskannya" Ucap Ino mengancam pada Sakura, namun Sakura hanya mendengus seolah tak takut akan ancaman yang Ino tebarkan padanya.
"Baiklah, mungkin aku akan sedikit menjelaskan padamu" Goda Sakura pada Ino yang sontak membuat Ino memekik kesal yang hanya ditanggapi tawa dari Sakura.
"Apa jangan-jangan kau menyukai Naruto Forehead?" Tanya Ino berbisik pada Sakura tepat berada di samping telinga Sakura.
"Benarkah?" Balas Sakura menggoda Ino dengan senyum jahil terpampang jelas di wajahnya.
"Kau menyebalkan Forehead" Pekik Ino lagi dan lagi.
Tak lama berselang sebuah suara sirine berbunyi menandakan peserta kemah harus berkumpul di lapangan untuk mengetahui informasi selanjutnya akan apa yang terjadi.
"Baiklah kemah yang kita adakan akan segera berakhir, harap para siswa untuk berbenah-benah dan membersihkan area sekitar tempat kemah dan nanti sebelum ham dua siang para siswa dan siswi harus bersiap untuk masuk kedalam bus" Ucap panitia kemah yaitu Shikamaru yang memberikan arahan kepada para siswa.
Setelah mendengar perintah dari sang ketua Osis para siswa masuk kedalam tenda untuk merapikan baju dan membersihkan sampah yang ada didalam tenda mereka. pembersihan lahan kemah itu berlangsung hinggal pukul 1 lebih lima belas menit dan ketika jam menunjukan pukul 01.30 para siswa sudah berkumpul di lapangan untuk mengabses siapa saja yang belum ada.
"Apa semuanya sudah lengkap?" Tanya Shikamaru pada peserta kemah.
"Sudah" Jawab semuanya serentak.
"Baiklah kalau begitu kalian bisa masuk kedalam bus" Ucap Shikamaru malas, yang mendapat deklikan dari para guru karena tanpa adanya sambutan atau penutupan Shikamaru langsung menyuruh masuk seluruh siswa, setelah semua siswa masuk akhirnya buspun berangkat untuk kembali kesekolah tercinta mereka.
"Jadi bisa kau jelaskan apa yang sedang kemarin? kau semalam dengan seenaknya tidur tanpa menjelaskan terlebih dahulu" Ucap Ino pada Sakura dengan nada menuntut.
"Aku lelah Ino" Ucap Sakura membuat Ino memincingkan matanya.
"Lelah katamu? kau hanya menunggu Naruto saja" Ucap Ino yang dibalas cengesan oleh Sakura.
"Baiklah aku akan ceritakan..." Ucap Sakura kemudian mendekatkan bibirnya ketelinga Ino kemudian membisikan sesuatu kepada Ino.
"NANI!" Teriak Ino tanpa sadar karena kaget mendengar pengakuan dari Sakura, dna sontak teriakan Ino membuat seluruh penghuni bus mengalihkan perhatian padanya, Sakura maupun Ino hanya dapat meminta maaf akan keberisikan mereka.
"Kau? ber- Berciuman dengan Naruto?" Tanya Ino tak percaya dengan muka kaget dan sedikit rona merah dipipinya.
"Aku tadi sudah bilang, itu hanya karena kami terbawa suasana jadi ya... hehe" Ucap Sakura gugup.
"Sekarang aku tanya, apa kau mencintainya Forehead? katakan dengan jujur dan jangan bercanda" Ucap Ino pada Sakura serius.
"Ya, ya aku akui aku mencintainya entah bagaimana caranya orang sederhana seperti Naruto bisa masuk kedalam hatiku, kemarin-kemarin aku tidak menyadarinya karena pikiranku masih saja menyangkal tapi setelah kejadian semalam aku sadar bahwa perasaanku bukan hanya rasa kagum semata tapi aku memang mencintainya" Ucap Sakura pelan dengan muka memerah, sedangkan Ino hanya menatap Sakura lembut, karena sahabatnya ini yang jarang dekat dengan laki-laki kini bisa jatuh cinta pada lelaki.
"Lalu kapan kau akan mengucapkannya?" Tanya Ino pada Sakura.
"Entah, aku masih belum siap, yang pasti aku akan mengutarakannya karena ini lebih sulit daripada memerankan apa yang sudah disekenariokan oleh sutradara" Jawab Sakura pada Ino.
"Ya, tapi kau harus tahu Sakura Skenario yang dibuat oleh Kami-sama jauh lebih baik daripada yang dibuat oleh Sutradara" Balas Ino pada Sakura, kemudian keduanya terlibat dalam obrolan ringan hingga mereka sudah sampai di sekolah.
"Huah... akhirnya kita sampai disekolah" Ucap Ino pada Sakura.
"Ya ahhh... itu Yamato-san sudah datang kalau begitu aku dulu ya Pig" Ucap Sakura pada Ino.
"Yamato-san" Teriak Sakura sambil melambaikan tangannya, karena terlalu senang Sakura tiba-tiba kaki Sakura terseleo, bukan itu masalahnya melainkan posisinya yang berada ditengah jalan.
"SAKURA, AWAASS!" Teriak Ino dan Yamato-san yang melihat Sakura duduk tersimpuh di tengah jalan dengan mobil yang mendekat dengan cepat kearahnya.
TIN TIN TIN
Naruto langsung mengalihkan pandangannya kearah suara, matanya membelak karena Sakura terjatuh di tengah jalan dengan Ino yang meneriaki Sakura.
Grep!
Naruto dengan sigap mendorong Sakura hingga terdorong ke pinggir jalan. Namun naas bagi Naruto, dia belum sempat bangun dan tertabrak mobil yang akan menabrak Sakura tadi.
Sakura yang melihat sendiri insiden di depan matanya, sempurna membulatkan matanya namun tak lama karena Sakura langsung berlari kearah Naruto melupakan rasa sakit yang ada dikakinya itu untuk melihat apa benar yang tertabrak adalah Naruto, dan terlihat Naruto yang sedang bernafas pendek dengan darah mengucur di kepalanya.
"Kenapa kau menyelamatkan aku Naruto, jika saja kau tidak menyelamatkanku kau tidak akan seperti ini.."
"K-Karena A-AKu mencintamu Sakura... M-Maaf-" Setelah mengucapkan itu Naruto tidak sadarkan diri rasa sakit yang ia rasakan dibagian kepala.
"NARUTO!" Teriak Sakura khawatir.
~XXX~ Tobe Continued ~XXX~
Akhirya Idiscrimate Love bisa up juga, bagaimana menurut Reader? Tapi seperti biasa mungkin akan banyak Typo karena saya tidak mengoreksinya dan sepertinya Chapter 5 ini sangat dipaksakan teruatam di arc terakhir hehe. tapi yang penting saya bisa Update hehe... Jaa ne
Next Up : The Destiny of Hearth
.
.
.
Dont Forget For Review :D
