Indiscriminate Love
Disclaimer : Naruto © Mashashi Kishimoto
Author : Namikaze Fansboy
Rated : T
Genre: Romance/ Friendship/ Other
Pair : [Naruto X Sakura]
.
.
.
Chapter Sebelumnya...
Sakura yang melihat sendiri insiden di depan matanya, sempurna membulatkan matanya namun tak lama karena Sakura langsung berlari kearah Naruto melupakan rasa sakit yang ada dikakinya itu untuk melihat apa benar yang tertabrak adalah Naruto, dan terlihat Naruto yang sedang bernafas pendek dengan darah mengucur di kepalanya.
"Kenapa kau menyelamatkan aku Naruto, jika saja kau tidak menyelamatkanku kau tidak akan seperti ini.."
"K-Karena A-AKu mencintamu Sakura... M-Maaf-" Setelah mengucapkan itu Naruto tidak sadarkan diri rasa sakit yang ia rasakan dibagian kepala.
"NARUTO!" Teriak Sakura khawatir.
~XXX~ Chapter 6 ~XXX~
sudah dua jam berlalu bagaikan neraka bagi seorang Haruno Sakura. Gadis itu tak henti-hentinya mondar-mandir di depan ruangan, dimana di dalam sana ada Naruto yang sedang mendapat penanganan dari dokter karena kecelakaan tadi sedangkan Yamato memilih untuk kembali paling tidak untuk memberi tahu berita ini pada Kizashi dan Mebuki.
Cklek!
Pintu ruang IGD terbuak yang kemudian menampakan sosok dokter beambut perak yang dapat dilihat dari name tag-nya ia bernama Kabuto.
"Bagaimana keadaan teman saya dokter?" Tanya Sakura cemas, sedangkan dokter itu hanya menatap Sakura dengan tatapan prihatin.
"Apa tidak ada keluarganya? karena ini adalah hal yang penting" Ucap Dokter Kabuto pada Sakura.
"Dia tidak mempunyai keluarga dok, dia selama ini hidup sebatang kara jadi bisakah dokter menjelaskan pada saya karena saya yang bertanggung jawab pada dirinya?" Tanya Sakura yang dibalas anggukan oleh sang dokter kemudian keduanya mulai berjalan menuju ruang kerjanya.
"Jadi apa yang terjadi dengan Naruto dok?" Tanya Sakura cemas pada Naruto.
"Kami memiliki kabar baik dan buruk tentang keadaan Naruto-san" Ucap Kabuto yang membuat Sakura menautkan alisnya.
"Apa itu?"
"Kabar baiknya pendarahan yang ada dikepala Naruto-san sudah berhenti dan kemungkinan ia akan sadar beberapa hari lagi, tapi..." Senyum lega diwajah Sakura tiba-tiba menghilang mendengar kata tapi dari Dokter Kabuto.
"Naruto-san mengalami kelumpuhan karena benturan keras pada kakinya yang bisa jadi karena tertabrak mobil, dan kemungkinan selanjutnya Naruto-san tidak akan bisa melanjutkan hidup normal seperti biasanya" Lanjutnya yang membuat hati Sakura langsung mencelos penuh penyesalan, bersalah dan rasa tidak percaya.
"Dokter pasti bercanda, tidak mungkin Naruto mengalami kelumpuhan pasti dokter salah diagnosa" Ucap Sakura dengan nada yang lebih tinggi dari tadi tak lupa tatapan tajam terarah pada Kabuto dengan air mata yang sudah keluar dari pelupuk matanya.
"Kami tidak mungkin melakukan kesalahan dalam diagnosis, dan memang itu yang terjadi Haruno-san" Ucapnya meyakinkan Sakura yang kini semakin deras meneteskan air mata.
"Apa ia dapat normal kembali dok?" Tanya Sakura disela-sela tangisnya.
"Aku juga tidak tahu, kita hanya dapat berdoa Kami-sama agar dapat memberikan kesembuhan bagi Naruto-san" Ucapnya berusaha menghibur Sakura.
"Terimakasih dok, kalau begitu saya permisi dulu untuk melihat keadaan Naruto" Pamit Sakura dengan nada lemas, Kabuto yang melihat itu tidak tega biasanya artis muda berbakat yang selalu nampak ceria kini berubah 180 derajat tapi apa yang ia tidak dapat berbuat apa-apa karena ini sudah ketentuan dari Kami-sama.
Sakura menatap tubuh Naruto yang tengah berbaring dengan tatapan sedih, bersalah dan senang. Sedih karena melihat kondisi Naruto yang kemungkinan tidak bisa hidup normal selanjutnya, Senang karena ternyata orang yang disukainya atau lebih tepatnya yang dicintainya memiliki perasaan yang sama.
"Naruto hiks... bangunlah onegai hiks..." Sakura terisak tak kuasa melihat Naruto terbujur tak berdaya karena menyelamatkannya tadi.
"Hiks... kenapa kau sebodoh itu Naruto... hiks kenapa kau begitu bodoh dengan mengorbankan apa yang kau punya hanya untuk diriku, tak taukah kau kalau itu membuatku tersiksa hiks..." Lanjutnya yang masih terisak tersedu.
"Aku mencintaimu maka dari itu aku mohon kau bangung hiks..." Mohonnya yang masih terisak dengan menggenggam erat tangan Naruto berupaya menyalurkan kekuatannya pada Naruto.
Sakura masih berandai-andai jika dirinya mendengarkan peringatan dari Ino pastinya kejadian tadi tidak akan terjadi, dan jika Naruto tidak menyelamatkannya pastinya Naruto masih sehat dan dirinya yang akan berbaring disini, tapi waktu adalah waktu dan tidak mungkin akan kembali lagi.
~XXX~ Indiscrimate Love ~XXX~
Sedangkan diluar rumah sakit tampak dua pasang pria dan wanita paruh baya dan seorang anak berusia sekitar 8 tahun sedang berjalan memasuki rumah sakit.
"Sebenarnya apa yang terjadi Mebuki sampai kita harus datang kesini?" Tanya Wanita berambut merah darah yaitu Kushina pada Mebuki.
"Ah maaf kami jadi menyeret kalian, karena kami panik mendengar berita Sakura yang tadi kerumah sakit karena menunggu temannya yang tadi menyelamatkannya dari tabrakan mobil" Jawab Mebuki pada Kushina.
"Tak apa kami mengerti kok, karena kami juga ingin bertanya sesuatu pada Sakura" Sahut Minato, kemudian mereka menuju meja adminstrasi untuk bertanya dimana tempat rawat teman Sakura, setelah mendapat informasi mereka kemudian menuju kamar yang diberitahu oleh suster.
Tok! Tok!
Mebuki mengetuk kamar rawat VIP yang kemungkinan adalah tempat dimana teman Sakura yang dirawat, tak menunggu lama sahutan pelan terdengar dari dalam membuat Mebuki langsung membuat Mebuki membuka pintunya, dan sebuah pemandangan yang menyesakan tersaji kala dilihatnya sang putri tercinta menangis terisak dengan menggenggam tangan erat pemuda yang berbaring di atas kasur pasien.
"Sakura" Sakura yang mendengar panggilang dari belakang, kemudian langsung menengok dan mendapati ibunya tengah berdiri menatapnya. Sakura langsung berlari kearah ibunya kemudian menangis dipelukan Mebuki.
"Ibu... hiks... hiks... Ini salahku ibu Naruto menjadi seperti ini, ini salahku" Ucap Sakura terisak sambil memeluk ibunya, sedangkan Mebuki hanya dapat mengelus punggung Sakura berusaha memberikan ketenangan dari sang putri tercinta.
Dan tanpa disadari oleh yang lainnya Kushina mendekat kearah Naruto yang berbaring lemah di atas tempat tidur, Kushina mengamati Naruto mulai darh warna rambutnya, tiga pasang guratan tipis yang menghiasi wajahnya, dan juga warna kulitnya entah mengapa rasanya Kushina ingin memeluk Naruto dan tanpa ia sadari setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya dan ia yakin bahwa ia adalah Menma putrnya yang hilang.
"Minato" Panggil Kushina tanpa mengalihkan pandangannya dari Naruto bahkan ia menyentuh lembut wajah Naruto.
"Ada apa?" Tanya Minato.
"Dia... dia mirip sekali dengan Menma, mulai dari warna rambutnya hingga tanda lahirnya" Ucap Kushina yang langsung membuat Minato dan Kizashi yang langsung mendekat kearah Kushina dan ikut memandangi wajah Naruto yang ternyata memang benar seperti apa yang diucapkan oleh Kushina.
"Aku harus memastikannya" Ucap Minato kemudian mencabut beberapa helai rambut dari kepala Naruto.
"Apa yang akan kau lakukan Minato?" Tanya Kizashi.
"Tentu saja, aku ingin memastikan bahwa ia benar Menma atau tidak" Jawab Minato yang kemudian mengajak Kizashi untuk keluar dari ruang rawat inap untuk datang ke ruang lab rumah sakit.
Sakura yang mendengar kasak kusuk tadi antara pembicaraan antar ayahnya, Minato, dan Kushinapun kemudian melepaskan pelukannya dari sang ibu kemudian ia baru teringat suatu fakta bahwa sahabat ayahnya dan ibunya ini kehilangan putra mereka saat kecil dan Ia juga menyadari bahwa Naruto tidak mengetahui siapa orang tuanya dan seperti semua ini ada keterikatan.
"Bibi" Panggil Sakura yang kembali berjalan menuju arah ranjang Naruto.
"Apa yang terjadi padanya Sakura? kenapa ia bisa sampai seperti ini?" Tanya Kushina pada Sakura yang menatap Naruto dengan sedih.
"Naruto sampai seperti ini karena tadi ia menolongku yang hampir tertabrak mobil, dan... hiks ia mengalami kelumpuhan karena mengalami benturan keras dikakinya" Ucap Sakura yang lagi-lagi tak bisa menahan rasa sedihnya kala mengingat Naruto seperti ini karenanya, sedangkan Kushina dan Mebuki menatap Sakura tak percaya bahwa pemuda didepannya ini mengalami kelumpuhan.
"Apa ia bisa pulih seperti sedia kala?" tanya Kushina yang memandang sedih Naruto, entah mengapa rasanya ada sesuatu yang sesak saat melihat pemuda itu berbaring tak berdaya di ranjang ini.
"Aku tidak tahu, dokter berkata kita harus berdoa pada Kami-sama agar Naruto dapat pulih seperti sedia kala, dan aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya karena aku sudah berjanji padanya untuk mencari keberadaan orang tuanya yang hilang" Jawab Sakura yang lagi-lagi airmata mengucur dari iris green emeraldnya.
"Dia itu bodoh, bibi tahu kenapa? ia bodoh karena menyelamatkan aku dan mengorbankan kakinya hanya karena dia mencintaiku, dan hiks..." Sakura tak bisa menyelsaikan kalimatnya karena lagi-lagi terisak.
"Memang kamana orang tuanya?" Tanya Kushina tapi dalam hati ia ingin memastikan.
"Aku juga tidak tahu, karena selama ini Naruto bercerita bahwa dia berasal dari sebuah panti asuhan dipinggiran kota Konoha kemudian keluar saat panti asuhan itu ditutup, dan selama ini dia hidup sebatang kara dengan membiayai hidupnya melalui bekerja paruh waktu disebuah stand ramen, dan dia dapat bersekolah karena ia mendapat beasiswa karena kepiawaiannya dalam bermain sepak bola, tapi sekarang?" Ucap Sakura sedih karena bisa jadi beasiswa Naruto akan dicabut karena kondisinya, dan jika itu terjadi Naruto akan sangat terpuruk dan Sakura tidak pernah ingin melihat Naruto terpuruk terlebih karena dirinya.
Sementara Kushina menatap Naruto dengan sedih walau ia belum mengetahui kepastian apakah Naruto adalah putranya tapi ia merasakan ikatan pada pemuda ini, sungguh ia tidak kuat mendengar pengakuan dari Sakura namun yang dapat ia perbuat hanya memeluk putra bungsunya berusaha membagi rasa kegelisahannya.
~XXX~ Indiscrimate Love ~XXX~
Kushina sudah tiba dirumah baru saja setelah tadi Mebuki menyeretnya untuk pulang biarlah Sakura menjaga Naruto, dan akhirnya ia menurut untuk pulang walau sebenarnya ia masih ingin tetap berada disana tapi memang hari yang sudah mulai malam, sedangkan Minato sepertinya masih dirumah sakit menunggu hasil lab keluar.
"Jadi namanya Naruto ya? tapi aku yakin dia adalah Menma" Gumam Kushina yakin bahwa Naruto adalah Menma putranya yang menghilang.
"Ibu kenapa? kenapa terlihat cemas seperti itu?" Tanya Yahiko yang sedikit cemas melihat ibunya.
"Ibu tidak apa-apa, apa tadi kau melihat niichan yang berbaring di kasur tadi?" Tanya Kushina yang dibalas anggukan oleh Yahiko.
"Dia adalah kakakmu yang selama ini kau tanyakan" Ucap Kushina pada Yahiko yakin bahwa Naruto adalah putranya.
"Apa benar? lalu kenapa Niichan tidur tidak bangun-bangun?" Tanya Yahiko terkejut sekaligus senang.
"Karena dia sedang sakit" Jawab Kushina tersenyum sedih.
"Memang Niichan sakit apa?" Tanya Yahiko dengan polosnya.
"Dia baru saja mengalami kecelakaan jadi dia harus dirawat dirumah sakit, nanti setelah dia sembuh nanti dia akan bermain bersama Yahiko" Ucap Kushina membuat Yahiko menatapnya berbinar.
"Benarkah?" Tanya Yahiko, tapi belum sempat Kushina menjawab pintu rumah sudah terbuka yang kemudian menampilkan sosok Minato yang membawa sebuah map.
"Yahiko, kau masuk kekamar belajar, nanti kalau sudah waktunya tidur maka kau harus tidur" Suruh Kushina yang dibalas anggukan oleh Yahiko.
Kushina menggiring suaminya itu untuk duduk disofa yang ada diruang keluarga untuk bertanya sekedar hasil lab yang dilakukan Minato tadi.
"Bagaimana Minato hasil lab-nya" Tanya Kushina.
"Kau bisa baca sendiri" Ucap Minato memberikan map yang ia pegang pada Kushina tadi dengan senyum terhias di wajahnya membuat Kushina menaruh curiga, dan begitu mata Kushina membaca deretan angka dan huruf matanya membulat sempurna karena kecocokan DNA Minato dengan Naruto adalah 99.99% yang artinya Naruto adalah Menma putra mereka yang menghilang.
"Jadi benar dia adalah Menma?" Tanya Kushina memastikan yang dibalas anggukan oleh Minato dan sontak Kushina langsung memeluk Minato karena apa yang dirasakannya memang tidak salah.
"Ya, Kushina dia adalah Menma tapi kondisinya.." Minato tak dapat menyelsaikan ucapannya.
"Namanya sekarang adalah Naruto saat ini dokter memvonisnya mengalami kelumpuhan dan kemungkinan akan membutuhkan waktu sangat lama untuk Naruto pulih seperti sedia kala" Ucap Kushina sedih, sedangkan Minato yang mendengar itu terkejut rasa senangnya tadi kini berubah menjadi perasaan cemas dan khawatir.
"Aku memang ingin bertemu dan berkumpul kembali dengan Menma tapi tidak dalam keadaan seperti ini disaat ia harus mengalami kejadian buruk dalam hidupnya" Ucap Minato tersenyum sedih, merasa tidak baik menjadi ayah karena selama ini tidak ada disaat Naruto membutuhkannya.
"Aku juga merasakannya Minato, aku tidak tahu bagaimana hari yang dilewatinya apakah ia sehat atau tidak" Tanpa Sadar air mata menetes dari pelupuk mata Kushina.
"Lalu siapa yang menjaga Menma dirumah sakit?" Tanya Minato kemudian.
"Disana ada Sakura-chan, sepertinya dia mencintai Menma karena ia tidak mau pulang saat Mebuki menyuruhnya bahkan ia menghiraukan syuting dan sesi foto hari ini demi menunggui Menma" Jawab Kushina yang membuat senyum simpul terpampang diwajah tampan Minato.
"Tak apa, besok kau bisa menengok Menma dan aku akan memberitahu sebenarnya bahwa dia adalah putraku yang hilang setelah ia sadar nanti, untuk malam ini biar aku yang akan pergi kerumah sakit menjaga Menma, aku yakin kau butuh banyak istirahat karena kau selalu memikirkan Menma jadi jam tidurmu berkurang" Ucapnya yang dibalas anggukan dari Kushina.
Dan malam ini akhirnya keluarga Namikaze menemukan putra mereka yang hilang tapi disaat yang bersamaan mereka juga merasakan kesedihan kala mengetahui kondisi putra mereka yang mengalami kecelakaan dan saat ini kondisinya lumpuh tapi itu bukan masalah bagi Minato maupun Kushina karena bagi mereka sudah mengetahui Menma masih hidup dan dapat bertemu dengannya saja sudah sangat senang sekali.
~XXX~ Indiscrimate Love ~XXX~
Tak hentinya Sakura berharap bahwa Naruto akan sadar sekarang juga, melihat kondisi Naruto yang seperti ini membuatnya berpikir betapa beruntungnya ia mengenal Naruto dan ia juga berpikir pertemuannya dengan Naruto dikantin waktu itu adalah takdir yang sudah dibuat oleh Kami-sama, dan tanpa mereka sadari sebuah perasaan absurd muncul diantara keduanya.
"Sakura kau makanlah terlebih dahulu, daritadi kau belu makan apapun" Sakura menoleh kesamping dan mendapati sahabat pirangnya yaitu Ino memintanya untuk makan.
"Aku belum lapar Ino"
"Ya, karena perasaanmu mempengaruhi pikiranmu tapi aku yakin saat ini perutmu membutuhkan tenaga jadi kita bisa pergi kekantin mungkin kau bisa memakan sesuatu disana" Saran Ino.
"Tapi Nar-..." Ucapan Sakura terpotong kala Ino memotong dengan cepat.
"Aku yakin Naruto tidak akan senang melihatmu yang menyiksa dirimu seperti ini, dan untuk Naruto kau tidak perlu khawatir karena Naruto tidak akan pergi kemana-mana karena dia sedang tidak sadarkan diri" Potong Ino yang akhirnya dibalas anggukan oleh Sakura, kemudian keduanya mulai beranjak dari ruang kamar inap Naruto menuju kekantin guna mengisi perut.
Sesampainya di kantin Sakura langsung memesan ramen dan anmitsu karena memang hanya itu makanan yang cocok untuk suasana hatinya sekarang, dan dari meja sebrang Ino hanya menghela nafas karena sepertinya sahabatnya ini sangat terpukul mendengar kondisi Naruto sekarang terlebih semua itu karena dirinya.
"Lidahmu bisa tergigit jika kau makan dengan melamun seperti itu" Sindirnya yang membuat Sakura kembali dari alam bawah sadarnya.
"Maaf, aku hanya tidak bisa fokus. Ngomong-ngomong apa kau tidak pulang? hari sudah mulai malam" Ucap Sakura mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja aku akan pulang, setelah ini aku akan pulang aku hanya ingin memastikan kau sudah makan, lalu apa kau sendiri tidak pulang?" Tanya Ino.
"Aku menginap disini karena aku ingin menjaga Naruto karena Naruto tidak memiliki keluarga jadi aku yang akan menemaninya" Jawabnya yang justru membuat Ino tersenyum penuh arti.
"Kupikir aku tidak tahu Sakura, kau melakukan ini karena kau mencintainya bukan? dan kau ingin selalu berada disisi Naruto saat ia sedang dalam musibah bukan?" Skakmat, ucapan Ino telak memaku Sakura ditempat karena memang apa yang diucapkan Ino memang benar apa adanya.
"Kau memang tahu apa yang aku rasakan Ino, lagipula kalau bukan aku yang menjaganya siapa lagi" Untuk pertama kali dihari ini setelah insiden tadi ia tersenyum.
"Bagus dan kurasa aku bisa pulang sekarang karena hari yang semakin larut, dan kuharap kau bisa datang di malam puncak perayaan sekolah lusa dan kalau bisa ajak Naruto kalau dia sudah sadar" Ucap Ino sekaligus pamit, kemudian keduanya menuju kasir untuk membayar apa yang sudah mereka makan, setelah itu mereka pergi untuk ketempat tujuan masing-masing.
Setelah perpisahan dengan Ino yang pulang tadi Sakura berjalan sendiri dilorong rumah sakit karena ini memang jalan untuk menuju kamar Naruto, dan setelah sampai dikamar Naruto ia sedikit terkejut mendapati Minato berdiri didepan ranjang Naruto.
"Paman Minato" Panggil Sakura yang membuat Minato menengok kearah Sakura.
"Ahhh Sakura kupikir kau sudah pulang" Balas Minato.
"Aku tadi baru dari kantin, dan apa yang paman lakukan disini?" Tanya Sakura.
"Paman hanya ingin menengok keadaan Menma" Jawabnya membuat Sakura bingung kareng disini tak ada yang namanya Menma.
"Menma? siapa Menma?" Tanya Sakura pada Minato.
"Maksudku Naruto, karena sebenarnya Naruto adalah putraku dan Kushina yang saat kecil hilang karena sebuah kecelakaan belasan tahun yang lalu" Ucapn dari Minato membuat Sakura terkejut bukan main bahwa Minato adalah ayah dari Naruto.
"Benarakah? apa paman tidak bercanda?" Tanya Sakura yang memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Tentu saja tidak, Naruto memang putraku"
"Ternyata memang benar apa yang dirasakan oleh bibi Kushina" Ucap Sakura sembari berjalan menuju jendela kemudian menatap langit malam yang sedang cerah berbintang, entah apa yang terjadi tiba-tiba ia terpikirkan ucapan Naruto malam itu tentang impian dan bintang.
"Malam yang cerah dan berbintang, andai kau dapat melihatnya pasti kau senang karena impianmu sudah tercapai" Ucap Sakura tersenyum.
"Apa kau tahu apa yang diimpikan oleh Naruto, paman Minato?" Tanya Sakura pada Minato.
"..." Minato tak menjawab apa-apa hanya menggelengkan kepalanya.
"Selama ini ia bermimpi untuk bertemu dengan orang tuanya atau paling tidak mengetahui bahwa ia memilik orang tua" Ucap Sakura yang untuk kesekian kalinya tak dapat menahan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.
"Benarkah? tapi apakah ia membenci kami? marah pada kami karena selama ini tidak ada untuknya?" Minato berpikir apakah Naruto membenci dirinya dan Kushina atas apa yang terjadi selama ini.
"Tidak, Naruto tidak membenci ataupun marah pada kalian, ia hanya ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya kenapa ia bisa berada dipanti asuhan" Jawab Sakura, membuat Minato tersenyum karena ia memiliki putra yang tumbuh dengan hebat.
'Terimakasih Kami-sama' Batin Minato, dan untuk beberapa lama diantara Minato dan Sakura hanya terisi keheningan sebelum Minato bersua pada Sakura.
"lalu kenapa kau belum pulang apa ayah dan ibumu tidak mencarimu?" Tanya Minato pada Sakura.
"Aku sudah meminta izin pada ayah dan ibu untuk menginap disini malam ini, karena bagaimanapun Naruto seperti ini karenaku juga" Ucapnya sedih.
Lagi-lagi keheningan menyapa mereka, Sakura lebih memilih menuju sofa yang ada dikamar rawat dan duduk diatasnya sembari matanya menengok jam tangan ditangan kirinya yang menunjukan waktu pukul 9 malam, ternyata sudah cukup lama waktu yang berlalu, dan karena tubuhnya terlalu lelah karena kegiatan kemarin tanpa disadarinya ia sudah terlelap di sofa.
~XXX~ Indiscrimate Love ~XXX~
Sang mentari sudah muncul diperaduan, embun-embun sudah menetes dari uncup daun menuju rumput ataupun tanah pertanda pagi hari sudah menyingsing dan sudah pula bagi orang-orang untuk memulai pekerjaan mereka mulai dari bekerja hingga sekolah.
"Enggghhh..." sebuah lenguhan memecah keheningan yang ada disebuah ruang rumah sakit yang ternyata berasal dari seorang gadis berambut soft pink.
Sesaat setelah kesadarannya terkumpul ia menengok kesekitar dan tidak mendapati seseorang lain diruangan itu yang tak lain adalah Minato.
"Dimana paman Minato?" Gumam Sakura sayup-sayup, kemudian netra hijaunya yang masih saya mendapati sebuah Memo.
'Paman akan pulang terlebih dahulu untuk menjemput Kushina, tolong jaga Naruto dan jangan lupa sarapan' Seperti itulah Memo yang dituliskan Minato pada Sakura.
Setelah membaca memo itu Sakura menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka agar tidak terlihat kusut, Sakura tak lama dikamar mandi karena lima menit kemudian ia kembali dengan muka yang lebih segar, setelah itu ia memilih untuk duduk di kursi dekat ranjang Naruto sembari memperhatikan wajah Naruto yang kepalanya dihiasi oleh perban.
"Kumohon bangunlah Naruto... kau itu bodoh seharusnya kau mengungkapkan perasaanmu itu pada malam dilabirin karena itu akan lebih romantis bukan saat kau tertabrak mobil" Ucap Sakura sembari tertawa sedih.
"Cepatlah bangun Naruto karena aku juga ingin membalas ucapanmu bahwa aku juga mencintaimu" Ucapnya sambil memeluk satu tangan Naruto tanpa disadarinya sebuah likuid menetes dari netranya karena lagi-lagi hanya ini yang dapat ia lakukan.
Grep!
Mata Sakura mengerjap kala remasan tangan yang ia lakukan mendapat respon dari Naruto, kemudian kepalanya mengadah dan kemudian mendapati kelopak matanya bergetar yang tak lama kemudian menampakkan iris blue saphire yang tampak sayu.
Grep!
Sakura langsung memeluk Naruto kala untuk pertama kali semenjak kecelakaan kemarin Naruto sadar dari masa kritisnya dan itu adalah hal yang membahagiakan bagi Sakura melebihi apapun.
"S-Saku-ra k-kau kenapa?" Naruto hanya bingung mendapati Sakura yang tiba-tiba memeluknya.
~XXX~ TOBE CONTINUED ~XXX~
Akhirnya update juga yang chapter 6, bagaimana menurut kalian feelnya? pasti gaje ya? yah maaf saja karena sebenarnya saya bukan spesialis genre ini tapi saya akan mencoba genre yang mulai aku sukai, dan maaf masih banyak typo yang bertebaran karena masih belum sempat koreksi karena kesibukan les mendekati UN...
Tapi UN bukan masalah untuk saya berhenti berkarya karena menurut saya jika disana ada waktu senggang kenapa kita tidak meluangkan waktu untuk menulis cerita atau sekedar menuangkan ide cerita yang ada dibenak kita.
Oh ya, fiction yang Cause love not need Reason memang saya hapus karena akan saya ganti dengan fiction genre hurt-comfort/familiy ku yang publish tak lama lagi... jaa ne
Next up : The Sfera Power
.
.
.
Dont forget for...
R
E
V
I
E
W
