Sungmin akan menikah...
Akan menikah..
Menikah...
Gema itu terus mengiang di kepala Kyuhyun setelah mendengarnya dari Heechul.
Nafasnya tercekat. Badannya lemas. Kakinya lunglai dan rahangnya segera terasa ngilu. Pandangannya jadi tak fokus dan begitu dia sadar, dia sudah terduduk di kursi. Dengan dada yang sakit layaknya tertimpa beton hingga rusuknya remuk.
Belum habis kegalauannya soal kebenaran hubungan Sungmin-Saeun tempo lalu dan sekarang ini? Maunya dunia ini apa? Batinnya pedih. Mulutnya tetap tertutup sementara dia bernafas lamat-lamat, berusaha menghilangkan sumbatan di dada.
Semua yang ada di sana tak menduga kalau inilah reaksi yang timbul. Leeteuk tak bisa menahan lebih lama lagi hingga tanpa ancang-ancang, dia mengambil langkah seribu dan meraih Kyuhyun untuk masuk dalam dekapannya. "Kyu..." panggilnya lirih. Kyuhyun yang tadi kembali hilang fokus tersentak, dan nafasnya kembali netral—tapi tidak dengan badannya yang lemas. Ia hanya bergumam, membuka mulut dan memandang sekeliling tak jelas.
Mata Donghae mendadak tertutup air mata. "Hah," helanya sambil mendongak setelah terisak. Dia juga baru mengetahui dari Eunhyuk, berita yang terlalu buruk untuk didengar sebelum jadwal wamil dan masa comeback mereka. Prasangka-prasangka buruk terus menghantui pikirannya. Baik prediksi dia soal reaksi K-ELF, ELF dari seluruh dunia, dan Sungmin—yang pasti sekarang sedang dihujat habis sampai mampus. Terlalu mengerikan, terlalu menakutkan. Dan baru memikirkan itu saja, badannya sudah gemetar seperti ini.
Tubuh tinggi miliknya dia buat mondar-mandir dengan kalap. Eunhyuk melihatnya, dan dengan cepat memegang bahunya. Membisikkan sesuatu dengan wajah yang tak kalah kusut dan hanya dibalas Donghae dengan gelengan cepat.
Siwon hanya duduk diam sambil melihat. Tak tahu mau apa, sama dengan Heechul, Yesung, dan Ryeowook.
"Kyuhyun-ah, jangan begini." bisik Leeteuk lirih saat bahu Kyuhyun bergetar samar. Dia usap punggung anak itu pelan, berusaha mengecilkan isakannya sendiri dan meredam getaran pada bahu adiknya yang makin hebat.
"Kumohon, lepaskan. Lepaskan saja. Kau makin tersiksa kalau kau memendamnya begini, ayo Kyu, tak apa." bujuknya, dan sekarang isakan yang Ryeowook terdengar. Dirinya tenggelam dalam rasa takut yang besar terhadap reaksi yang bakal Sungmin dapat besok atau satu jam dari sekarang, atau mungkin sudah dimulai sejak berita itu beredar. Dia menggeleng, kepala dan badannya sudah terlanjur larut dalam takut. Dan itu tak berkurang sedikitpun saat Yesung memeluk dia dan menjauhkannya sedikit dari sana ketika tangis Donghae terdengar.
Kyuhyun yang mendengar hanya bergerak kecil, merangkul punggung hyungnya dengan sebelah tangan sembari menyipitkan mata. Dia tak berbohong, rasanya lebih pedih dari hantaman besi saat kecelakaannya dulu. Membuat air mata yang tadi mengumpul makin memaksa untuk tumpah ruah dari kungkungan matanya. Memaksanya meluapkan rasa sakit yang terbendung dalam dada. Dia tak tahu mau apa. Dia tak tahu mau berkata apa. Dan dia tak tahu, itu kenapa? Apa yang salah dengannya?
Dia mengerang. Mendengung, dan bergumam. Menahan diri atas dasar gengsi sebagai seorang maknae usil yang rajin membuat orang menangis. Tapi usapan Leeteuk terus menggoda air matanya untuk turun, yang lagi-lagi dia tahan dengan sekuat tenaganya—mengutamakan gengsi, harga diri yang tinggi.
Tak dia sangka, Leeteuk malah mendekap dia makin erat dan membuat airmatanya jatuh saat berkedip. Sontak dia mengelak. Menggeleng kalap dan memberontak dari pelukan hyungnya sambil memohon, agar dia lepas dan bisa menyendiri dalam kamarnya. Tapi Leeteuk diam. Tetap memeluk dia sambil menahan diri untuk menangis.
"Kyu. Kyu." kini Siwon yang membujuk. Kyuhyun menggeleng, dia mendongak dan menarik nafas berat sambil mengusap air matanya. "Kyu, tak apa. Kau bisa menangis." kata pria Choi itu sambil berjalan. Ditepuknya kepala adiknya itu sesaat dia sampai di dekat mereka, menyalurkan rasa pedulinya akan Kyuhyun. Tapi tetap. Anak itu dengan keras kepalanya bertahan. Masih dengan dengungan lirih dan kepala yang mendongak tinggi.
"Kyuhyun." sekarang dia merubah panggilannya. Dan nihil, bocah itu masih dengan posisinya.
Leeteuk yang masih memeluk tetap setia mengusap punggung Kyuhyun untuk meruntuhkan pertahanan dia, mencoba membuat anak itu beranjak dari egonya. Dan tetap gagal. Masih gumaman samar dan hela nafas serak yang keluar. "Itu akan membuatmu makin sakit, Kyu. Kumohon, lepaskan saja. Kau harus rela." bisiknya lagi dan kembali dibalas oleh gelengan. Donghae yang makin tak tahan melihatnya kemudian lari dan mengikuti Leeteuk. Memeluk Kyuhyun erat dan menangis bersama dalam ketakutan luar biasa.
Hingga akhirnya maknae itu menangis sejadi-jadinya.
-0o0-
Jauh
Semua karakter yang ada disini milik Tuhan, keluarga dan diri mereka sendiri.
-0o0-
Kyuhyun menatap kalendernya malas. Hari ini hari minggu. Dan libur. Dan hari -287 sebelum konser perpisahan Super Junior.
Super Junior sudah seharusnya pensiun, kata Lee Sooman dua tahun yang lalu. Dia ingat dengan jelas, bagaimana ekspresi para member saat mendengar itu. Terlebih Sungmin. Yang baru benar-benar aktif setelah masa wamilnya. "Kalian rata-rata sudah menikah dan itu membuat penggemar kalian menjadi lesu. Ditambah kalian sudah mulai sibuk dengan karir masing-masing, aku rasa ini sudah saatnya kalian bebas."
"Pak, anda serius?" tanya Leeteuk cepat sebelum yang lain protes. Sooman mengangguk. Dia menghela nafas sebelum akhirnya mencondongkan sedikit badannya ke depan dari posisi duduknya sambil menatap satu-satu kumpulan pria yang sedang berdiri didepannya. "Aku paham kalau ini sangat mengejutkan, tapi ayolah—kalian sadar tidak kalau dukungan fans kalian semakin hari semakin menurun? Apalagi saat Siwon, Yesung, dan Leeteuk menikah." yang disinggung hanya menunduk sambil menelan ludah. Hal itu tak bisa mereka bantah.
Kyuhyun mendengus sebal. Peristiwa itulah yang membuatnya mengasingkan diri dari dunia hiburan dan memaksakan diri untuk fokus pada bisnis pendidikan, mengikuti jejak sang Ayah. Tentu rasanya berat. Dia rindu sorot kamera, teriakan senang para gadis, jadwal super ketat dari agensinya, omelan manager, jerit kesal dan candaan para member Super Junior, juga...
Dia.
Pria berambut ikal itu menggeleng dan bangun dari tidurnya. Dia sadar benar kalau harus melepas orang itu. Dan dia sangat sadar kalau dunia mereka sudah berbeda arah. Dia sudah berkeluarga, bahagia, dan makin menjadi bahagianya saat anak-anaknya lahir kemarin. Beda dengan dia yang mengasingkan diri menjadi pelarian, sebagai hukuman atas penyimpangan orientasi seksualnya.
Homo.
Pengecut.
Penakut.
Dan sok.
Mengingat semua itu, dia hanya bisa menyunggingkan senyum pahit. Setelah sekian lama, baru kali ini dia sadar apa karakternya yang sesungguhnya. Benar-benar menyedihkan.
Suara dering ponselnya terdengar tiba-tiba. Kyuhyun segera menoleh dan menyambar ponsel canggih di atas meja lalu membaca nama pemanggil yang tertera di layar. "Donghae-hyung?" gumamnya. Dan setelah itu, dia terima panggilan itu.
Ternyata video call.
"Haaaaaaaiiii~" sapa orang dari sana. Mata Kyuhyun segera membulat. Terlihat jelas wajah Eunhyuk, Donghae, Yesung dan Ryeowook di layar. Latar belakang mereka terlihat begitu asri dengan pepohonan lebat dan taman yang rapi dan jalanan bata berwarna kusam. "Hyungdeul!" balasnya ceria. Yang disana tertawa senang. "Yaaaaa, sombong sekali kau, maknae! Sudah hampir dua minggu sejak teleponmu yang terakhir, ngurusin apa kau memangnya disana, hah?"
"He-Heechul." gumamnya takut dan langsung disembur teriakan si lawan bicara. Yang lain hanya tertawa sementara Donghae selaku pengontrol ponsel terlihat sibuk memasang sesuatu pada ponselnya hingga layar bergoyang tak menentu. Tak lama, dia menggerakkan tongsis yang tadi dia pasang dan mengangkatnya tinggi, lalu melambai bersama yang lain. "Hai, Pak Cho~, gimana lokasi? Cerah?"
"Heii~, cuaca pagi ini tumben cerah. Langitnya bagus." dan dia langsung melangkah ke balkon sambil tersenyum senang. Dia julurkan tangannya yang memegang ponsel sepanjang yang dia bisa dan berkeliling perlahan, memamerkan kecantikan dari daerah tempat dia tinggal dengan wajah bangga. Sorak senang terdengar riuh dari sana, dan setelah puas, dia kembali ke kamar. "Sombong sekali kau, gak bilang-bilang ke kami kalau kau sekarang tinggal disana. Tahu gitu kami sudah pesan pesawat buat nginap." sindir Heechul.
"Siapa juga yang mau kasih tahu. Ngomong-ngomong, kalian tahu aku tinggal disini dari siapa?"
"Sungmin-hyung." jawab Ryeowook. Kini mereka sedang berjalan dan ponsel masih dipegang Donghae. "Ya, kalian sedang syuting ya? Sepi sekali disana. Mana yang lain?" tanya Kyuhyun setelah meminum airnya. Heechul mengambil ponsel Donghae dan berjalan agak lambat bersama Ryeowook. "Leeteuk-hyung sedang syuting. Kangin-hyung malas-malasan dan menikmati libur. Shindong sedang mengurus isterinya dan Manager sedang mengurus persiapan konser." jelasnya panjang dan dibenarkan oleh Ryeowook lewat senyuman dan anggukan senang. "Hei, bocah. Jangan sampai lupa kalau dua hari lagi kita latihan. Siapkan jadwalmu."
"Nde~"
"Jangan iya-iya aja! Ntar kayak kemaren, tak datang sampai latihan ke-5." peringat Ryeowook tegas. Kyuhyun hanya tertawa. Wajah Eternal Maknae Suju ini masih tetap manis walaupun sudah menikah. "Nde, hyung. Kali ini aku gak akan lupa. Biar kalian gak marah, aku bakal bawain oleh-oleh deh."
"JEONGMAL?"
"Nde! Serabi dan keripik pisang, kan?" tebak Kyuhyun yang langsung dibalas anggukan senang dari Kim Ryeowook. "Serabinya yang pandan sama cokelat. Beli yang banyak! Shindong-hyung juga pasti mau!" tambah pria manis itu dan hanya di balas "okeeeeee" panjang oleh Kyuhyun. Heechul yang tak mau kalau langsung menghadapkan lensa depan pada dirinya sendiri. "Buatku, jangan lupa belikan batu akik Red Borneo sama Kecubung Pontianak. Kemaren ada yang ukuran besar, cuma aku telat beli—jadi kehabisan. Ingat! Yang belum diasah, ukurannya jangan terlalu besar!" dan gelak tawa dua maknae terdengar keras. Eunhyuk yang sepertinya mendengar langsung menyerobot bersama Yesung. "Buatku! Buatku! Bawakan aku molen pisang sama roti Bandung! Pempek, Rendang, Nasi Kuning—"
"YA! Kau kira aku jualan!?"
"Belikan aku akik Black Opal dan Blue Safir. Aku belum dapat yang itu—sekalian pempek! Yang kapal selam ya. Sama keripik talas. Terus rempeyek, bakpia cokelat, sama kue semprit." pesan Yesung dan dibalas ogah-ogahan oleh Kyuhyun. Tapi dalam hatinya dia senang. Hyungdeulnya masih seperti yang dulu.
Donghae lalu mengambil alih ponsel dan mengubah mode panggilan menjadi audio. "Halo?" panggilnya dan Kyuhyun menyahut. "Sekarang kami sedang dalam perjalanan ke rumah Sungmin-hyung. Kami mau menjenguk Saeun."
Perlahan ekspresi ceria Kyuhyun memudar.
"Kau meneleponku hanya untuk itu?" tanyanya dingin.
"Iya. Aku ragu kalau kau akan mengunjunginya sebulan atau setahun dari sekarang. Atau bahkan saat kita ngumpul nanti. Jadi ini kesempatan yang bagus." jelas Donghae yang langsung dibalas hela nafas berat oleh Kyuhyun. "Kyu. Apa kau sudah meneleponnya semalam?"
"Sudah."
"Kalian mengobrol lama?"
"Nggak." dan sejenak mereka diam. Hanya terdengar suara gesek dan derap kaki samar.
Suara lain lalu menyapa telinga Kyuhyun. "Halo? Halo? Ini aku."
"Hyung," panggil Kyuhyun lega. Eunhyuk terkekeh pelan. "Kyu, aku tahu hatimu sakit, tapi paling tidak kau ajak Saeun dan Sungmin bicara lewat videocall. Kemarin kalian hanya bertelepon biasa, kan?" Kyuhyun hanya mendengung lirih sambil mengangguk. Tangannya yang kosong dia gunakan untuk mengambil dokumen yang sudah dia kerjakan kemarin malam, dan matanya mengoreksi dengan teliti kata-kata yang ada lembar demi lembar.
"Jangan begitulah, Hyunhyun. Sungmin dulu orang yang paling dekat denganmu. Dia paling sayang padamu, Kyu, dan kau sayang padanya. Dan walau perasaanmu hanya sepihak," Eunhyuk memelankan suaranya di kalimat itu. "Tapi paling tidak, hargailah dia dengan menunjukkan wajahmu. Pertemuan terakhir kalian sangat buruk. Kau tak mempedulikan dia walau dia menahanmu dan fans melihat itu. Perbaikilah hubungan kalian sebelum konser perpisahan kita."
Hyungnya benar. Dia ingat betul bagaimana dia memperlakukan Sungmin saat mereka akan berpisah di bandara—saat itu Sungmin akan ikut SuperCamp di Jepang bersama yang lain sementara Kyuhyun memulai misinya untuk lari dari Sungmin. Tentu saja hanya Sungmin yang tak tahu. Anehnya, entah darimana Sungmin sadar kalau dia tak akan satu tujuan dengan mereka dan bertanya kemana tujuan Kyuhyun beserta alasannya dengan baik-baik.
Yang dengan kurang ajarnya malah Kyuhyun jawab dengan teriakan marah dan wajah murka.
Jeleknya, banyak ELF yang melihat...
Dengan Saeun ada di dekat mereka...
Dan wajah Sungmin yang terkejut sekaligus bingung itu, dia bersumpah kalau itu akan menjadi yang pertama dan yang terakhir.
Eunhyuk di ujung sana hanya bersandar pada dinding sambil menahan posisi ponsel dan menyimpan tangan satunya dalam saku. Dia paham benar bagaimana perasaan Kyuhyun. Tapi ini tak benar jika Kyuhyun terus berlari dan menghindari Sungmin. Sudah saatnya anak itu untuk menghadapi ketakutannya sendiri. Dan dia tahu kalau Kyuhyun bisa.
Suara rendah Kyuhyun membawa dia keluar dari lamunannya. "Hyung?" panggil pria Cho itu, dan hanya dia balas dengungan. "Apa... Kau pikir aku akan bisa melupakan Sungmin-hyung?"
Nafas Eunhyuk terhenti beberapa detik sebelum akhirnya dia tersenyum. "Nde. Tentu kau bisa, Kyu."
"Tapi, hyung. Aku rasa.. belum sanggup." jeda sebentar. "Maaf, Eunhyuk-hyung. Aku tak bisa-kurasa bukan sekarang."
Dengus maklum dikeluarkan si pria berahang tegas. "Aku mengerti, Kyu."
"Aku janji, aku akan melakukannya kalau waktunya tiba. Aku janji!"
"Sssttt, sudah, sudah, aku tahu kau bisa." potong Eunhyuk cepat. Kyuhyun yang ada di seberang hanya menghisap otot dagunya gugup. "Dua hari lagi kau akan bertemu dengannya. Bersikaplah yang wajar, jangan sampai tergugu. Jika Saeun juga datang, sambut dia dengan akrab. Ajak dia mengobrol, godai dia sedikit agar tak canggung dan sesekali libatkan Sungmin juga. Kau bisa mulai dengan melakukan itu, dongsaeng-ah. Mengerti?" kata Eunhyuk panjang sambil memandang langit sore. Senyum lebar dia sunggingkan saat mendengar dengung malas di telepon. "Ya! Kau bilang kau mau melupakan dia."
Pria yang lebih muda menjawab dengan lirih. "Akan kucoba, hyung."
"Jawaban yang bagus." dan satu suara membuat pria Lee itu menoleh ke belakang. Ternyata Donghae. Yang kini sedang berjalan ke arahnya. "Mau ngomong?" tawar Eunhyuk dan Donghae balas dengan gelengan, tubuhnya kemudian memberi kode apakah Eunhyuk sudah selesai atau belum, dan dibalas dengan anggukan. "Sungmin akan menyambut kami. Sudah dulu ya? Telepon aku kalau kau ada waktu, Kyu."
"Iya."
"Sampai jumpa besok lusa-jangan lupa oleh-olehnya!" dan tawa riang keduanya lepas di tempat terpisah sebelum sambungan telepon itu terputus. Eunhyuk menatap ponsel yang dia pegang sambil mengulum senyum, kemudian memberikannya kembali pada si pemilik, Donghae. "Kalian ngobrol tentang apa? Lama sekali." keluhnya dan menyimpan ponsel itu. Lawan bicaranya tertawa. "Rahasia."
"Ya! Beritahu kena-" sebuah kecupan menghentikan protes seorang Lee Donghae. Wajahnya segera menoleh ke si pencium sambil memegang pipi, tempat kecupan tadi mendarat dengan wajah tak percaya, sementara yang ditatap hanya tertawa malu. "Pinang aku segera, Hae-ah~, sampai kapan kau akan membuatku menunggu?"
"Ya ampun, Hyukkie-kita di rumah orang!"
"Tak peduli." dan dia menjulurkan lidah sambil berlalu. Meninggalkan pria yang barusan dia cium seorang diri di teras rumah besar ini.
Pria kelahiran Mokpo itu tak lama terkekeh. "Sebentar lagi, sayang. Waktunya belum tepat."
-0o0-
Sungmin membungkuk hormat saat mobil Mertua dan orangtuanya menjauh dari kediamannya. Setelah dia rasa mobil itu sudah jauh, dia angkat tubuhnya dengan perlahan. Mertuanya sangat baik. Dia senang saat mereka memeluknya dan tak henti-hentinya memberinya selamat lalu berceloteh soal apa yang akan dia dan Saeun hadapi sebagai orangtua. Tak jarang mereka berdebat dengan Ayah dan Ibunya tentang tips merawat bayi, yang selalu diselingi tawa canda. Aaahh, hari terbaik di hidupku, batin Sungmin.
Dengan senang dia kembali ke kamarnya, menatap teduh isterinya yang kini sedang menimang anak-anak mereka. Senyum hangat dia ukir seraya mendekati mereka, merangkul tubuh sang isteri sambil menatap sayang buah hati mereka. "Sung!" panggil Saeun senang. Sungmin terkekeh dan mengecup keningnya senang, sebelum berbisik sambil mengusap tangan si anak laki-laki. "Mungil dan hangat." komentar pria bermarga Lee itu. Saeun tertawa kecil. "Hidungnya mirip denganmu, ya?" balasnya. Dan mereka tertawa bersama.
Suara manis bayi perempuan mereka mengalun lemah dan dia mengangkat tangannya. "Omo, uri aegya~" sambut Sungmin sambil menggenggam tangan itu lembut.
Bahagia.
Hanya itu kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan mereka sekarang.
Terlepas dari segala respon negatif ELF beberapa tahun yang lalu, kini kebahagiaan yang sesungguhnya telah mereka dapatkan. Ucapan selamat atas kelahiran anak-anak mereka mengalahkan banyaknya cemoohan di masa lalu, membuat gairah hidup mereka berkoar. Tak ada kata yang cocok selain 'Syukur' dan 'Terima kasih' sebagai balasan mereka. Kini di hari ke-2 bayi mereka lahir, ucapan dan doa masih terus berdatangan. Mengaburkan kenangan kelam masa lalu mereka hingga terlupakan.
"Ming?" panggil Saeun. Sungmin hanya mendengung. "Bukankah kawan-kawanmu akan datang kemari? Mereka sudah terlambat 20 menit."
"Oh, iya." balas Sungmin sambil melirik jam tangannya. "Mungkin mereka terjebak macet. Kau tahu'kan, kalau ada demo buruh di jalan utama?"
"Bisa jadi, ya." dan Saeun manggut-manggut. Dengan hati-hati, dia baringkan tubuh rapuh bayi-bayi mereka di sebelahnya. Tapi mendadak, satu hal penting yang lama terbenam dalam benaknya melintas dan membuatnya melirik Sungmin. Mulutnya sudah membuka untuk bersuara, tapi dengan segera dia katupkan. Sadar kalau hal itu tak layak untuk dibicarakan. "Wae?" ternyata Sungmin melihatnya. Saeun menjawab cepat. "Enggak."
"Ada apa?" selidik Sungmin lagi dan Saeun terus mengelak. Wanita cantik itu hanya tertawa kikuk untuk menutupi rasa takutnya.
Tidak, dia tak mungkin bertanya pada Sungmin soal Kyuhyun.
Tapi kalau dia boleh jujur, dia benar-benar penasaran dengan gosip yang dia dengar dari teman-temannya. Soal karir Kyuhyun sekarang, soal lokasi kerja Kyuhyun sekarang, dan yang paling hangat. Pelaksanaan konser perpisahan grup suaminya yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi.
Dan rasa penasaran terbesarnya jatuh pada Kyuhyun.
Pertama kali dia bertemu pria itu, hubungan mereka sangatlah akrab. Kyuhyun orang yang humoris. Jahil, periang, supel, dan berkharisma. Mereka menjadi kawan main yang kompak dan itu bertahan beberapa tahun kedepannya. Hingga akhirnya hal itu harus berhenti saat media membeberkan hubungan dia dengan Sungmin.
Saeun tak mungkin tak bingung dengan reaksi Kyuhyun. Tatapan matanya saat mereka bertemu, gelagatnya ketika mereka berada di jarak yang dekat, dan cara Kyuhyun berbicara padanya. Bahkan saat pernikahannya-oh, Saeun tak mungkin lupa kalau Kyuhyun sebenarnya hadir dalam pesta mereka. Dia duduk di ujung ruangan. Memandangi dia dan Sungmin dengan tatapan... tak rela? Tak terima? Kecewa, atau patah hati. Mungkin yang terakhir paling cocok untuk mendeskripsikannya, tapi kenapa?
Apa karena Kyuhyun merasa kalau dia merebut Sungmin darinya?
Merasa kalau dia telah merebut sosok Abang dari seorang Kyuhyun?
Bisa jadi, tapi hal itu terlalu berlebihan. Ah, tidak-tidak berlebihan. Yang berlebihan itu adalah saat mereka di bandara. Kyuhyun tanpa sebab yang jelas meneriaki suaminya di hadapan dia dan berlalu begitu saja tanpa minta maaf. Saeun sempat mendendam padanya. Tapi dia sadar, kalau Kyuhyun bukan orang yang mudah marah. Sesuatu yang serius pasti terjadi di antara mereka hingga menyulut emosi Kyuhyun dengan sebegitu hebatnya. Ya, pasti itu.
Tapi dia tetap haus akan klarifikasi yang resmi dari Sungmin.
Tidak. Sabarlah, Saeun, batinnya dalam hati.
Dia tahu kalau pilihan terbaik yang harus dia ambil adalah diam.
Sorak gembira segera membahana di ruang kedatangan Bandara Incheon saat Kyuhyun dan rombongannya tiba. Para gadis yang berteriak melambaikan tangan heboh dan melompat-lompat, beberapa sampai menangis dan berlomba untuk memamerkan benda-benda bertema sang idola, sebagai wujud bahagia mereka akan kedatangannya. Kyuhyun menyunggingkan senyum cerianya sambil balas melambai, membuat jeritan para gadis makin menggila.
Melihat reaksi itu, Kyuhyun sontak termenung. Mata hitam teduhnya memandang para gadis yang masih terus mengucapkan selamat datang dengan tatapan haru. Dia tak menyangka kalau mereka tetap menunggunya setelah 2 tahun menghilang, bahkan sampai repot membuat poster dan yel-yel untuk melampiaskan rasa senang mereka karena dia kembali dengan selamat. "Kyuhyun-oppa! Selamat datang!" dan "Kyuhyun-oppa! Aku rindu!" terus menyapa telinganya, dan membuat sekitar dadanya berdesir aneh.
Perlahan senyumnya menghilang.
Dengan tangan yang melepas topi dan maskernya, dia mendekati mereka, kemudian membungkuk dalam-dalam di hadapan mereka. Yang membuat suara heboh disana enyah entah kemana.
Kyuhyun lalu menegakkan badannya. "Terima kasih. Terima kasih karena kalian telah menungguku." ucapnya tulus. "Aku minta maaf karena sudah menghilang tanpa kabar dalam waktu yang lama. Aku tak mengabari kalian, Aku tak aktif memberitahu aktifitasku dan menjadi sangat tertutup. Melihat kalian disini membuatku sangat bahagia, terima kasih!" dan dia kembali membungkuk di hadapan mereka. Mengabaikan puluhan kamera media yang sekarang ribut memotret dan merekam tindakannya.
Para gadis yang sepertinya tersentuh dengan cepat bereaksi, dengan balas membungkuk dan terisak haru. Sorakan senang kembali menggema dan membuat Kyuhyun menegakkan tubuhnya, menampilkan sosok seorang Cho Kyuhyun yang kini sedang menahan desakan airmata dan isakannya. Sontak jeritan dan pekikan terdengar, bebarengan dengan celotehan mereka agar Kyuhyun tak menangis. Pria itu berusaha tersenyum dan kemudian tertawa. Lalu kembali melambaikan tangan dan mengikuti rombongannya untuk menuju mobil dan diiringi sorak senang para penggemar.
Mata Kyuhyun yang tadi berkaca-kaca menyipit senang saat melihat sekelompok orang di depannya. Eunhyuk, Leeteuk, Kangin, beserta si Manager galaknya, Kim Jonghoon. "Kyuhyun!" jerit Leeteuk girang dan direspon Kyuhyun dengan pekik senang dan lompatan kekanakan. Mereka meniru tingkah Kyuhyun dan berlari, memeluk maknae mereka erat-erat sambil menggerakkan tubuh mereka tak menentu. Sorak senang terdengar makin keras saat Kyuhyun akhirnya menangis dengan Leeteuk dalam pelukan itu. Oh, ternyata Kangin juga. Dia bergegas menunduk dan menyembunyikan wajahnya dengann topi saat sadar kalau dirinya menangis.
Pria Cho itu mendongak. Rasa bersalah dan haru masih menguasai hatinya hingga membuatnya menangis seperti sekarang. Dia masih tak menyangka kalau kembalinya dia kemari akan se-emosional ini. "Jangan nangis. Ini baru pulang kampung, belum perpisahan yang sebenarnya." sindir Managernya, Kim Junghoon. Kangin yang mendengar itu memukul pelan bahu sang manager dan start duluan menuju mobil, yang akhirnya diikuti mereka sambil tertawa dan saling merangkul. Melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu.
"Ah, Kyuhyun..." panggil Leeteuk lirih setelah mereka duduk di mobil. Tangannya masih memeluk Kyuhyun dengan erat. Eunhyuk yang melihat itu hanya mengangkat tangannya untuk menepuk kepala Kyuhyun sambil tertawa singkat. "Sudah, hyung. Kyuhyunnya sudah disini."
"Aku kangenn..."
"Iya, aku juga kangen. Sudah, lepaskan aku! Aku bukan anak kecil, tahu." desak Kyuhyun sambil menghapus air mata dan ingusnya. Kangin mendengus. "Bukan anak kecil katanya, padahal masih cengeng."
"Kayak sendirinya nggak aja."
"YA!"
"Sudah, jangan bertengkar disini." dan mereka terkekeh. Detik berikutnya, obrolan dengan berbagai topik mereka lakukan. Mulai dari pengutaraan kangen, menanyai bisnis, perkembangan Suju, jadwal persiapan konser dan kehidupan pribadi. Kyuhyun mengikuti itu sambil bergelayut pada lengan Leeteuk dengan manja. Berbanding terbalik dengan sanggahannya pada Kangin entah berapa menit yang lalu. "Yang lain mana?" tanya Kyuhyun akhirnya. Jonghoon yang menyetir melirik Kyuhyun sebentar sebelum fokus pada jalan lewat spion. "Mereka sekarang sedang dengan jadwal masing-masing. Nanti saat makan malam mereka akan datang. Lebih baik kau istirahat." dan Kyuhyun mengangguk. Leeteuk yang sedaritadi membelai rambut Kyuhyun memandang menghela nafas perlahan, dan membuka suaranya.
"Kyu?" panggilnya. Kyuhyun mendengung sambil meliriknya. "Mmm.. kau dan Sungmin, apa kalian sudah baikan?" tanyanya hati-hati.
Kyuhyun terdiam sebentar dan tersenyum. "Nde. Kami baik-baik saja."
"Tak ada masalah?" sambung Jonghoon dan Kyuhyun mengangguk. "Yah, masih agak canggung. Tapi sudah lebih baik dari yang dulu."
"Baguslah." dan diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tak lama Eunhyuk memecah hening. "Kau sudah memberitahu yang lain kalau sudah sampai?"
"Sudah, hyung."
"Termasuk dia?"
Kyuhyun mengangguk pelan. "Tapi dia tak balas smsku."
"Mungkin dia sibuk, Kyu." jawab Leeteuk cepat. Kyuhyun hanya mendengus geli.
"Jadi, jadwal kita hari ini hanya makan dan latihan?"
"Yup. Pagi besoknya kau bebas sampai sore, setelah itu latihan lagi. Lusa, kau pulang." jelas Jonghoon. Matanya masih fokus pada jalan sementara anggota geraknya sibuk mengendalikan mobil. "Omong-omong, Kyu. Apa kau sudah punya pacar?"
Alis kiri Kyuhyun berkedut. "Apa?" tanyanya langsung.
"Pacar, Kyu. Pacaaar..." ulang Eunhyuk dan Jonghoon berbarengan. Yang lain hanya tertawa. "Sekarang hanya kau yang masih jomblo diantara yang lain. Saranku sih, kau harus menggandeng seseorang dan mengumumkannya pada ELF sebelum konser." ujar Jonghoon lagi dan melirik spion tengah. Kyuhyun langsung melepas rangkulan Leeteuk dan memekik protes. "Kalian kira itu mudah? Move on saja aku belum sanggup, sekarang kalian minta aku mencari orang lain? Dan mengumumkannya sebelum konser? Iya kalau ketemu yang cocok." sanggah Kyuhyun panjang lebar sambil mengerucutkan bibir ngambek. Tawa senang kembali mengudara, membuat hati sang Evil Maknae makin membara marah. "Ya ampun, Kyu... kau punya segudang fans. Yang naksir kamu sekampung! Kau tinggal tunjuk saja, mereka pasti mau!" semprot Kangin sinis. Dan dibalas pekik marah seorang Cho Kyuhyun.
Satu-satunya pria bermarga Park di mobil itu tertawa. Dengan jahil dia acak rambut dongsaengnya itu dan merangkulnya lagi. "Sudahlah, Kyu. Ikuti saja saran kami. Kasihan ibumu, loh, kau tega menggantung harapannya selama ini? Kau keterlaluan, tahu!" sekarang Eunhyuk yang mengacak rambut Kyuhyun dengan gemasnya. Jerit tak senang Kyuhyun keluarkan lagi.
"Kyu." panggil Kangin saat tawa mereka reda. Suaranya yang tadi jenaka tiba-tiba berubah menjadi serius, membuat Kyuhyun menajamkan telinga untuk mendengar. Pria bermarga Kim itu menoleh padanya, menatap matanya dalam dan bertanya,
"Sudah siap bertemu Sungmin?"
DEG
Jantung Kyuhyun serasa diinjak. Leeteuk dan Eunhyuk langsung menatap Kangin, sementara Jonghoon hanya mendengar. "Dia pasti akan datang menyambutmu. Saeun dan anaknya tak mungkin ikut, tapi apa kau sudah siap?" tanyanya lagi. Kyuhyun mengedip beberapa kali sebelum akhirnya mengangguk. Gurat wajahnya kini berubah menjadi lesu.
"Ingat, Kyu. Sapa dia. Ajak dia bicara." kata Leeteuk mengingatkan dan dibarengi senyum kecil milik Eunhyuk. Kyuhyun membalas dengan mengangguk dan senyumnya, seolah menyemangati diri sendiri dengan melakukan itu.
Dia pasti bisa.
Dia harus bisa.
Malampun tiba.
Sesampainya di restoran, tubuh Kyuhyun langsung disambut dengan pelukan, pukulan, jitakan, tepukan dan tinju bertubi. Dia tertawa lepas hingga menangis, melepas emosi yang dia rasakan saat berkumpul dengan kawan-kawan seperjuangannya dan keluarga yang sudah lama tak berjumpa dengan dia. Pelukan terlamanya dia lakukan dengan Ibunya, meminta maaf karena tak sempat pulang lebih sering ke rumah dan dibalas dengan ciuman sayang. Sindiran akan ciuman itu dan foto Kyuhyun saat di bandara entah kenapa menjadi bahan ejekan dan pembuka pesta yang pas.
Kini mereka duduk bersama di satu meja bundar yang besar. Mata beriris hitam miliknya menatap senang orang-orang yang ada di sekelilingnya. Yesung, Heechul, Zhoumi, Henry, Orangtuanya, Manager dia, Shindong, dan Siwon yang duduk di hadapan dia. Sementara di sebelah kanan dan kiri, ada Donghae, Eunhyuk, Leeteuk, Ryeowook, Kangin, dan kakaknya, Ahra. "Oh ya, Kyu! Oleh-oleh!" tagih Heechul semangat. Ryeowook yang mendengar langsung menangkupkan kedua tangan dengan moncong maju dan ekspresi ngambek yang dibuat-buat, dan kemudian ditiru oleh member yang lain. Kyuhyun tertawa lagi dan menyambar dua tas plastik besar bawaannya yang penuh sesak.
Tangan besarnya terlihat sibuk menyusun kotak-kotak yang berukuran besar dan mengecek isinya hati-hati. Donghae yang penasaran mengintip. "Ya!" bentak Kyuhyun dan semua tertawa.
Setelah memastikan semua isinya aman, dia mengedarkan oleh-olehnya. "Buat Ayah dan Ibu."
"Terima kasih, Kyu."
"Buat Jonghoon-hyung."
"Sankyu!"
"Buat Siwon-hyung."
"Thanks!" dan Siwon membuka paket itu. Pekik riang langsung dia keluarkan, dan dengan tak sabaran dia pakai benda pemberian Kyuhyun pada jarinya. Cincin berhias akik Kecubung Hitam. "Astaga! Aku belum dapat akik yang ini! Tahu darimana kau, Gyu?!"
"Rahasia." dan mereka tertawa. Kyuhyun kembali mengedarkan bungkusannya sesuai dengan nama pada kemasannya. "Hmmm, ini buat Eunhyuk-hyung."
"Yesh!"
"Buat Ryeowook."
"Kamsa!"
"Donghae."
"'Hyung'nya ketinggalan, Kyu. " protes pria ganteng itu. Kyuhyun terkekeh, dan kembali melanjutkan pekerjaannya dengan cekatan. "Aah, capeknya. Buat Leeteuk-hyung!"
"Gomawo~"
"Henry-ah."
"Xie-xie, Ge!"
"Zhoumi-ge."
"Thanks!"
"Buat Kangin-hyung."
"Sip-whoa, berat."
"Shindong-hyung.'
"Wokeehh!"
"Yesung-hyung."
"Kamsa~!"
"Eonnie."
"Makasih-beratnya!?"
"Daaannn... Heenim-hyung." lanjut Kyuhyun cepat. Heechul yang barusan mau marah mengubah ekspresinya dan menerima pemberian Kyuhyun dengan senang. Mereka buka paket itu dan bersorak, terpukau dengan apa yang dibawa Kyuhyun. Aksesoris modis dari Kyuhyun dan jajanan khas Indonesia yang masih segar. Walau keduluan Siwon, Yesung tetap memakai akik titipannya dengan bangga dan mengagumi corak batu itu. Heechul juga sibuk dengan akiknya, Shindong dengan makanan, Ryeowook dengan kain, dan yang lain dengan kesenangan mereka masing-masing. Termasuk orangtua Kyuhyun yang juga mengagumi rasa asing dari keripik talas yang Kyuhyun promosikan sambil menunggu semua pesanan datang.
Mereka lalu bersulang setelah berdoa bersama. Menikmati bir di tengah suasana musim semi yang hangat dan kesenangan tiada tara. "Bwaaaahhhhh, mantap!" jerit Heechul dan disambut dengan tawa. Mereka kemudian menikmati makan malam sambil berbincang dan bercanda.
Manik Kyuhyun yang semula fokus pada omongan hyungdeulnya kini memperhatikan sekeliling kikuk. Mencari sosok manis yang juga dia rindukan dalam mimpi dan realita. Tapi selama 5 menit dia begitu, orang itu belum juga muncul.
20 menit.
43 menit.
70 menit. Ibu Kyuhyun pamit pulang. Kyuhyun dengan segera mengantarnya ke mobil lalu kembali bergabung dengan yang lain, membicarakan ketertinggalannya soal Suju dan saling menggoda soal kehidupan pribadi mereka.
Satu jam 27 menit. Belum juga.
Hingga akhirnya di menit 140.
Tak ada tanda-tanda darinya.
Hati dan jantung Kyuhyun seolah dihujam oleh tumbukan. Bodoh, pikirnya. Seharusnya dia tak berpikir kalau Sungmin akan datang. Pria itu paling sedang bermanja dengan isterinya sambil mengatakan, "Betapa beruntungnya kita sekarang, Mimi-ah~" sebagai kegiatan pengisi malam minggu. Memikirkannya membuat Kyuhyun mendengus merendahkan. Bodoh sekali dirinya karena berharap kalau Sungmin akan datang.
Donghae yang sadar arti tatapan Kyuhyun hanya saling pandang dengan Eunhyuk. Mereka tahu.
Ah, tidak, semuanya tahu. Dan segera, mereka memancing Kyuhyun dalam acara saling ejek. Menarik Kyuhyun dari kegalauannya dengan kesenangan dan rasa sayang yang mereka limpahkan, walau dalam hati mereka juga mengumpati Sungmin karena terlambat begitu lama dari janji.
Tak lama, ponsel Siwon berbunyi. Dengan segera dia buka sms yang masuk. "Ah, aku harus segera pulang. Besok aku ada jadwal."
"Jadwal apa?" tanya Shindong setelah mencoret wajah Heechul dengan tinta. Siwon menggaruk kepalanya canggung.
"Ah, aku tahu. Kau pasti ada jadwal dengan anak dan isterimu." tebak Zhoumi dan disambut dengan sorak sindiran dari yang lain. "Titip salam buat Mama Agnes dan Baby ya, Papa Wonwon~" goda Heechul dan semuanya tertawa terbahak-bahak. Siwon tertawa hingga kedua lesung pipinya timbul dan meninju bahu Heechul sebelum menyambar oleh-oleh dari Kyuhyun dan pamit dari sana.
Tapi baru mau menjauhi meja, sosok di hadapan mereka membuat langkahnya terhenti.
Itu Sungmin.
Berdiri dengan penampilan rapi dan wajah yang penuh peluh.
"Hai! Maaf aku terlambat!"
Begitu katanya.
Kyuhyun diam. Mencoba mengatur diri agar tidak lepas dari kontrolnya. Dia hanya bisa mengepalkan tangan, menahan diri untuk tidak menerjang tubuh orang itu dengan pelukan sementara yang lain, dengan canggungnya menyapa Sungmin. Kecuali Henry yang sepertinya masih kesal karena Sungmin terlambat begitu lama.
Siwon memeluk Sungmin dan tersenyum. "Lama tak jumpa, Min. Selamat atas kelahiran Gaeum dan Saehee." ucapnya dan dibalas Sungmin dengan tawa riang. Mata jernih pujaan Kyuhyun bergulir ke arah pria Cho itu, dan dengan riang menyapa dia,
"Kyuhyunie! Aku rindu padamu!"
Sontak, kepalan tangan Kyuhyun mengeras. Perlahan, dengan tenang, dia berdiri dan menampilkan senyum terbaiknya. "Maaf, semuanya, aku terlambat. Saeun memintaku membantu dia untuk menidurkan Gaeum-kan sulit kalau dua-duanya dia yang urus." jelas Sungmin sambil tertawa senang. Ryeowook yang mendengar itu langsung melirik Kyuhyun cemas. Tapi Kyuhyun masih tersenyum, menyambut balik pelukan Sungmin dan menggoyangkan tubuh mereka agar desiran pada dadanya berkurang.
Sakit.
Ryeowook dengan susah payah menahan diri untuk berteriak. Tangan kanannya lalu menepuk punggung Sungmin dan memintanya melepas pelukan itu, yang langsung dilaksanakan Sungmin tanpa pikir panjang. "Ahh, kau makin kurus, Kyu. Apa makanan disana tidak enak? Aku kangen pipi tembemmu itu." goda Sungmin lagi. Kyuhyun hanya tertawa formal. Dia ladeni rangkulan Sungmin sebelum kembali duduk di tempatnya.
Leeteuk yang paham keadaan langsung mengambil alih. "Kau harusnya tepat janji, Min. Kyuhyun juga butuh istirahat untuk besok, dan sekarang kami akan pulang. Kau ketinggalan hal-hal seru."
"Benarkah? Maafkan aku." cengir Sungmin dan disambut kekehan dari yang lain. Kyuhyun lalu mengambil kotak terakhir dan memberikannya pada Sungmin. "Hyung, ini untukmu." katanya.
"Wah? Astaga, Kyuhyun, terima kasih! Kau jadi repot begini." ucap Sungmin senang. Mereka lalu berbincang akrab ditengah canggungnya member yang lain akan situasi sekarang. Bagaimana tidak? Sungmin yang sepertinya masih dalam euforia 'menjadi Ayah' menceritakan pengalaman 4 hari mengurusi anak dengan senangnya. Tak lupa dengan situasi saat dia mendampingi Saeun bersalin, menjabarkan dengan detail apa saja yang dia lakukan untuk menenangkan isterinya hingga curhatannya soal kemiripan anak kembarnya dengan dirinya.
Sementara Kyuhyun. Yang masih cinta mati padanya, mendengarkan dengan sabar walau mereka tahu, Sungmin menciptakan luka yang dalam pada diri Kyuhyun. Heechul yang gerah sesekali mengalihkan pembicaraan Sungmin agar tidak membahas hal itu, tapi entah bagaimana, topik pembicaraan mereka selalu kembali ke sana. Membuat pria berkulit paling halus disana gemas sendiri akan suasana ini.
Siwon yang tak tahan kemudian berdiri. "Sudah tengah malam. Kita harus pulang." ajaknya. Sungmin melenguh kecewa dan melirik jam tangannya. Benar saja, jam sudah menujukkan pukul 2 lewat 3 menit pagi hari. Pria itu kemudian berdiri dan mengikuti yang lain berjalan menuju parkiran bersama Kyuhyun. "Jangan lupa, besok latihan Kyu. Jangan ketiduran. Awas saja kalau begitu." ancamnya imut. Kyuhyun hanya tertawa dan mengiyakan itu lalu berbincang lagi dengan Sungmin di sepanjang jalan. Hingga begitu dia sadar, member yang lain sudah berjalan jauh di depan sana. Menciptakan jarak yang terlampau jauh antara mereka.
Kyuhyun tak tahan lagi.
Sungmin menghentikan langkahnya saat Kyuhyun dengan cepat menyambar lengan kanannya. Dia tatap Kyuhyun dengan heran. "Hyun?" panggilnya. Detik selanjutnya, lengan itu Kyuhyun tarik dan kedua lengannya memerangkap Sungmin dalam pelukan erat. Erat. Teramat erat, hingga Sungmin dapat merasakan guncangan pada bahu Kyuhyun. "Jangan bergerak." bisik Kyuhyun lirih saat Sungmin membuka mulutnya. Bibir tebalnya kini bergetar hebat dan air mata mengalr deras dari matanya, menyalurkan jutaan rasa yang lama dia pendam agar keluar dari jasmaninya.
Lengan kuatnya yang masih memerangkap Sungmin menekan tubuh itu agar semakin menempel pada raganya, seolah ingin mengisi kekosongan dalam dirinya dengan raga Sungmin. Tapi hatinya tak puas. Dia ingin lebih. Dia ingin melakukan hal lain. Dia ingin mengeluarkan uneg-uneg ini dalam bentuk kata dan bukan air mata, tapi dia tak mampu berbuat itu. Membuat posisinya bertahan seperti itu untuk sekian lama.
Suara paraunya meresap masuk ke dalam telinga Sungmin. "Aku rindu.."
"Aku juga rindu. Jangan menangis." Kyuhyun menggeleng. Dia benamkan kepalanya pada bahu Sungmin dan menangis lirih. Mengabaikan belasan pasang mata yang memandangi mereka dan beberapa lensa ponsel yang mengabadikan posisi mereka sekarang. Sungmin gelagapan. Dengan lembut dia elus punggung Kyuhyun. "Kyu, ayo kita pergi. Mereka melihat."
"Tidak."
"Kyu.."
"Tidak."
"Kyuhyun." dan pelukan itu melonggar perlahan. Sungmin menghela nafas lega dan menyembunyikan wajah Kyuhyun dengan tudung jaket anak itu sebelum berlalu. Menggandeng tangan Kyuhyun keluar dari sana dan bergabung dengan yang lain, bersiap pulang ke rumah dan kembali pada keluarga kecilnya. "Jangan menangis, Kyu. Aku juga merindukanmu." hibur Sungmin usai mengantar Kyuhyun ke mobilnya sendiri. Ryeowook yang satu mobil dengan Kyuhyun dan Kangin susah payah menahan diri agar tidak membentak Sungmin dari dalam mobil, sambil merutuki ketidakberdayaan dirinya untuk mengatakan hal sesungguhnya. Pria bergigi kelinci itu menyeka air mata Kyuhyun dan menepuk kepala anak itu, sebelum memeluknya singkat sambil mengusap punggung itu dengan sayang. "Hati-hati di jalan." pesannya. Dan berlalu begitu saja.
Tanpa memperdulikan tatapan pedih Kyuhyun pada dirinya dari belakang.
-0o0-
Jauh
-0o0-
Ahhh, kesampaian juga untuk update. Disini Eunhae jadi pairing resmi selain SaeSung dan SWAG. Couple yang lain akan terungkap seiring berjalannya waktu, jadi ikuti terus ya!
Jujur, saya tidak bisa fokus UN karena kepikiran untuk melanjutkan ini. Semoga menghibur!
PRY0228|19032016
