Sebelumnya, terima kasih untuk para pembaca yang sudah menyempatkan diri untuk mengisi kotak review saya. Saya senang sekali dengan komentar-komentar kalian, membuat saya makin semangat untuk mengetik.

Bagi yang belum mereview, harap review ya! Saya sangat mengharapkan tanggapan kalian terhadap tulisan saya.

-0o0-

.

.

.

Henry melempar tasnya ke dinding geram.

"KENAPA KAU MENAHANKU TADI!"

"Henry."

"GEGE! KENAPA KAU TEGA!?" hardik Henry tanpa menurunkan suaranya. Seluruh etika yang dia punya menguap entah kemana, semua karena kejadian barusan. Sungmin dengan seenak jidatnya muncul setelah membuat mereka hampir mati menunggu. Tanpa dosa meninggalkan Kyuhyun begitu saja setelah pamit biasa tanpa kesan. Itu hyungnya atau bukan? Kemana sifat hangatnya yang selalu memeluk dulu sebelum pergi? Kemana kebiasaannya yang melucu dulu sebelum pamit?

Apa dia harus melabrak Sungmin dan mengatakan semuanya supaya dia mengerti? Supaya dia tahu sesakit apa Kyuhyun selama ini?

Ryeowook dan Yesung hanya bertukar pandang. Dalam hati mereka juga marah, tapi melakukan itu tak akan menyelesaikan masalah—bahkan akan memperparah keadaan. Sementara Shindong hanya diam sambil melirik ponselnya. Wajah jenaka dia terlihat bimbang.

"Ry, tenangkan dirimu." Sekarang Zhoumi angkat bicara. Henry menepis tangan Zhoumi yang menariknya duduk dan menyingkir ke belakang Shindong, menghadap ke jendela ruang tamu kediaman Ryeowook. "Mau sampai kapan kita biarkan Kyuhyun-hyung begini? Kalian tak lihat mukanya tadi? Dalam hatinya dia pasti hancur." Henry berbicara dengan tubuh tetap memunggungi yang lain. "Aku tak tahan melihat dia seperti itu."

"Tapi itu tak akan menyelesaikan persoalan."

"Tak mesti selesai, paling tidak dia lega." Yesung membalas argumen Zhoumi. Semua langsung melirik kearahnya. "Aku juga tak tahan. Bukannya menyalahkan Sungmin, tapi dia masih dalam euforia menjadi Ayah. Ini baru hari pertama dan dia menghabiskan ¾ jam cuma untuk membicarakan anak-anaknya. Kalau kalian di posisi Kyuhyun, bagaimana rasanya? Sakit, 'kan?" yang lain langsung berekspresi sendu. Terlebih Ryeowook yang memang dominan melankolisnya.

Pria bermata sipit itu melanjutkan argumennya. "Kalau Kyuhyun—atau salah satu dari kita memberitahunya, paling tidak Sungmin bisa membatasi diri dan makin berhati-hati untuk bicara. Sulit memang, tapi apa pilihannya?" Yesung menatap satu persatu orang yang ada disana serius. "Itu pendapatku."

Shindong melambaikan tangan kanannya, tanda tak setuju. "Itu benar. Aku sependapat denganmu, hyung. Itu satu-satunya cara."

"Sejauh ini."

"Ge!" tegur Henry dan Zhoumi menulikan telinganya. Pria tinggi itu hanya mengacuhkan si adik sambil menatap Yesung serius. "Kita tak tahu apa yang akan terjadi nanti diantara mereka. Apa Sungmin menjauhi Kyuhyun? Apa Kyuhyun tetap menjaga jarak? Atau malah mereka berdua yang menjauh? Aku hanya mewanti-wanti, hyung. Aku tak mau ini tak seperti ekspektasi kita."

Mendengar itu Ryeowook langsung menjawab dengan nada tinggi. "Kau tak lihat apa yang terjadi hari ini? Kejadian tadi itu hasil dari pendaman bertahun-tahun! Hampir 4 tahun, Mi, 4 tahun! Apa kau sanggup menahan diri selama itu?!" dia menatap Zhoumi nyalang. Tangan kirinya mengepal di dada dan menepuk letak jantungnya geram. "Kau baru pacaran 5 bulan sudah kebelet mengajak pacarmu untuk tunangan. Bayangkan dia! Dia bahkan harus sembunyi-sembunyi dan hati-hati untuk menunjukkan perasaannya! Kau punya otak atau tidak, hah?!"

"Wookie!" Yesung menegur.

"Tapi aku kesal, hyung!"

Zhoumi meneguk ludahnya gugup. "H-hyung, aku hanya memberi pendapat."

"Berikan pendapat yang masuk akal, 'lah! Pintar sedikit kenapa!" dan pria bermarga Kim itu membanting dirinya di sofa sebelum melemaskan tubuhnya. Hening melingkupi mereka bersama suasana tak mengenakkan bernama canggung. Semua terpaku dalam benak masing-masing yang sama-sama memikirkan satu hal.

Kyuhyun, saudara tersayang mereka.

-0o0-

Jauh

Semua karakter yang kalian sebut namanya, yang saya tulis dan yang saya deskripsikan disini adalah milik diri mereka sendiri, keluarga mereka, Tuhan dan yang terpenting fans mereka. Beberapa karakter tambahan diselipkan dengan sengaja untuk mendukung jalannya cerita.

Kejadian yang ada disini hanyalah fiksi semata. Karya ini tidak dituliskan berdasarkan gosip ataupun fakta, melainkan imajinasi tak terbatas.

.

.

.

Tapi Baper sedikit gak papa sih. Banyak apalagi (:p)

-0o0-

Leeteuk menyelimuti tubuh isterinya dengan hati-hati sebelum beranjak ke balkon. Malam musim semi yang dingin, suasana yang pas untuk mendinginkan kepala.

Lagi-lagi diluar prediksinya.

Dia tak menyangka kalau mengundang Sungmin akan membuat Kyuhyun makin terpuruk. Dia tak punya pilihan, baik diundang atau tidak keduanya sama-sama membuat Kyuhyun sakit. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

Membiarkan ini? Tak ada bedanya dengan yang tadi. Memberitahu Sungmin? Dia takut Sungmin malah menjadi canggung dan keadaannya jadi tak jauh berbeda. Apakah ada pilihan lain yang lebih sedikit resikonya?

Kedua tangan besar itu lalu bersatu untuk membekap wajah tampannya. Dia kehabisan akal.

-0o0-

17 Februari, pukul 13:44 waktu setempat.

Kyuhyun menggerakkan tubuhnya dengan lincah dibawah tuntunan musik. Dia berjingkrak, bersalto, dan melompat dengan enerjik, memukau semua orang yang ada disana tak terkecuali sang kakak yang duduk di dekat si Leader Super Junior, Ahra.

Rupanya jadi makin tampan dengan kaos oblong abu-abu dan tight jeans warna biru gelap malam. Pergelangan tangan besarnya dihias dengan jam Swiss-Army edisi baru berbahan kulit warna hitam dan sepatu Jogger cokelat tua. Kasual dan Classy, heeemmm, breath taking—bahasa Indianya. "Park Mandong versi nyata," puji Donghae samar. Eunhyuk yang mendengar hanya mendengus geli, walau dalam hatinya juga mengatakan demikian.

Sutradara yang memantau di kursinya menggerakkan jempol kaki dengan wajah kakunya. Picingan sabit di kedua mata di wajahnya cukup menggambarkan kalau dia puas dengan hasil latihan kilat seorang Cho Kyuhyun untuk konser akbar rancangannya nanti. Konser yang telah dia janjikan akan membekas dan berkesan di hati setiap orang yang menontonnya, yang tak akan terlupakan. Dan harus sukses apapun keadaan para pengisinya. Tidak, jangan bilang dia kejam—tapi inilah realita dunia hiburan Negeri Ginseng Korea Selatan.

Survey yang mereka buat menunjukkan kalau ada 5 member yang paling ditunggu para ELF untuk menari solo di konser nanti. Mereka adalah Siwon, Kyuhyun, Kangin, Yesung dan Eunhyuk. Donghae? Entah, mungkin Donghae sudah terlalu sering menari sehingga mereka bosan. Sebenarnya 12% sisanya menjawab Hangeng dan Kibum karena adanya gosip tentang berpartisipasinya mereka dalam konser ini. Entah siapa orang yang dengan entengnya membuat kabar itu, tapi dia harus berterima kasih untuk itu. Konser ini akan makin meriah kalau ada mereka. Namanya juga perpisahan. Semua harus hadir, 'kan?"

Walau belum ada balasan dari mereka.

Dan untuk 3 besar tari berpasangan, entah mengapa Kyuhyun-Sungmin menjadi yang paling atas. Siwon-Heechul dan Yesung-Ryeowook mengikuti di bawah sehingga akan tampil juga.

Mata tajam sang sutradara beralih ke Sungmin yang mulai masuk ke panggung. Acara crossdress tentu masih menjadi agenda. Dan hasil undi memaksa namja manis itu untuk berperan sebagai Go Sora, pasangan dari karakter yang dilakoni Kyuhyun. Pasangan dari webcomic yang sedang hangat di Korea.

And one word.

Wow.

Wajah awet muda seorang Lee Sungmin begitu menyatu hingga menyamai wujud asli gadis manis berambut hitam ikal panjang itu, dengan rambut selalu berhias jepit pita biru dan berpakaian manis, rok selutut cokelat dan baju terusan lengan panjang bermotif bunga-bunga simpel perpaduan kuning dan abu-abu. Kaki? Dihias dengan wedges manis warna pitch yang dihias simpel. Intinya dia dibalut mode Mori yang masih populer di kalangan gadis-gadis Jepang—dan Sungmin sangat manis disini! Ryeowook dan Heechul saja sampai tak berkedip!

"O-M-G SUNGMIIIIN!" jerit HaeHyuk kesenangan dengan langkah malu-malu Sungmin di panggung. Siulan menggoda membahana seketika.

Kyuhyun?

Dia yang awalnya menari lincah saat itu juga menjadi kaku. Tapi dia mengontrol dirinya sesegera mungkin sebelum kesalahannya terdeteksi dengan mengikuti naskah.

Ingat gerakan. Ingat gerakan! Teriak dia dalam hati.

Dan begitu kerlip lampu dan music berganti, duo KyuMin itu menjalankan instruksi naskah. Mereka dengan ceria menari bersama, saling melemparkan senyum dan melakukan sedikit skinship seperti saling gandeng atau pelukan kecil sambil mengelilingi panggung. Satu gerakan berputar ala Waltz yang mereka lakukan membuat sorakan terdengar makin nyaring. Sekilas, gerakan mereka mirip dengan rusa hutan yang sedang main-main dengan pasangannya.

Pasangan?

Kyuhyun tersenyum remeh. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu.

Mengabaikan sorakan senang para penonton gladi, Kyuhyun memilih untuk menikmati momennya sekarang. Kapan terakhir kali dia menari dengan Sungmin? Ah, waktu di SC Beijing rasanya, saat ada game tebak-tebakan gerakan tari. Masih teringat olehnya saat Sungmin satu grup dengannya saat itu—jantungnya seperti sedang dipompa paksa, dia bahkan hampir meloncat kesenangan.

Dan Sungmin kembali menari dengannya—dengan wujud gadis manis berbadan montok yang sudah sukses menaikkan intensitas pompa jantungnya. Bahkan dia harus menelan ludah berkali-kali, sebagai ganti keinginannya mencubit atau mencium pipi gembul orang di depannya kini. Terlebih dengan riasannya sekarang.

Mata jernih, eyeshadow warna pink tipis, warna bibir yang merah muda dan berkilau. Rambut ikal bervolume yang menggoda...

Kurang apa alasan buat dia memacari sosok ini, coba!

Oh ya, orang itu seorang Pria.

Sudah berkeluarga,

Sudah punya anak,

Bahagia.

Kepala bersurai cokelat itu menggeleng frustasi setelah dia menyadari itu. Logika sialan kembali menghancurkan suasana hatinya dan membuat tarian mereka sedikit berantakan. Sebelum akhirnya dia memekik kaget saat merasakan kaki kanannya terinjak hak wedges Sungmin dan menghentikan tarian mereka.

"Berhenti!" interupsi si Sutradara dan para operator menurutinya. Lampu teater berganti dari redup menuju terang, dan sunyi menggantikan posisi musik ceria yang baru saja mengisi. "Kyuhyun! Ada apa?" tanya Pria itu. Semua langsung diam seribu bahasa, tak terkecuali dua insan yang masih berdiri di panggung.

Leeteuk dan Kangin saling pandang. Mereka sadar apa yang terjadi.

"Ma-maafkan saya, Sutradara Go." Sungmin angkat bicara. "Tadi aku menginjak kakinya dan membuat dia kesakitan. Kami akan mengulanginya sekali lagi."

"Bukan! Itu salahku!" Kyuhyun langsung menyahut. Dia lirik Sungmin sekilas sebelum berganti ke Tuan Go yang masih di seberang. "Aku.. Aku hanya kurang tidur. Aku minta istirahat sebentar."

"Tapi kita baru mulai."

"10 menit saja. Aku mohon." Kyuhyun memelankan suaranya. Semua yang duduk di bangku penonton menggulirkan pandangan ke posisi sang Sutradara sekarang, menanti persetujuan yang diminta.

Merasa terpojok, Sutradara Go hanya menghela nafas samar. "Istirahat 20 menit! Lighting, cek lagi lampu sorot utama! Speaker atas, volumenya dikurangi!" dan perintahnya langsung dilaksanakan oleh yang bersangkutan. Kyuhyun melemaskan tubuhnya segera dan mengangkat tangan kanan, menawarkan sebuah Tos pada Sungmin. Sungmin langsung menyambut. "Kau memang terlihat lelah. Apa kau menghapalkan tariannya setelah sampai di rumah?"

Pria Cho itu mengangkat kedua alisnya lelah. "Astaga.. Jangan bilang kau belum tidur sama sekali."

"Itu wajar, hyung. Aku sudah bolos 5 pertemuan." Dan mereka menuruni panggung bersama. Ahra langsung menyambut. "Tumben kau begini. Ayo minum dulu." Sarannya. Kyuhyun hanya menurut dan meminum air mineral yang diberikan sang kakak, sementara Sungmin merapikan wignya di kursi.

Henry yang masih sengsi memutar mata bosan.

"Pasti gara-gara dia." Bisik Ahra. Si adik menatap dirinya bingung. "Kau tak fokus karena terkejut melihat riasannya, kan? Oh Tuhan, Kyu, lupakan dia."

"Aku sudah mencoba dan nyaris tak bisa, sulit sekali, Kak." Jawab Kyuhyun balas berbisik. Ahra menggeleng lemah. Dia tak habis pikir kenapa adik kesayangannya bisa jatuh cinta pada Sungmin. Sungmin memang manis, tapi dia laki-laki! Siapa yang sudah tega mempengaruhi adiknya seperti ini? "Paling tidak minta dia digantikan oleh yang lain. Heechul masih lebih cantik dari dia. Apalagi Ryeowook. Siwon atau Yesung pasti tidak keberatan!"

"Sekarang kau yang mulai, kak."

"Aku serius! Kau.." dan diam. Ahra kemudian menggeleng lemah. "Lupakan."

Seperti tahu isi kepala sang kakak, Kyuhyun bicara lagi. "Sudahlah, kak. Tinggal 9 bulan lagi dan mungkin aku bisa mencari yang lain. Untuk sekarang biarkan aku menikmati momenku dengannya dulu." Katanya sambil menatap Sungmin. Matanya yang teduh perlahan berbinar dan makin hangat, pandangan yang jarang dia tunjukkan pada orang. Dan Ahra tahu, itu tatapan cinta.

Ahra tersenyum ragu dan menarik adiknya untuk duduk, menikmati sisa istirahat yang diberikan. Dengan mata yang siaga mengawasi Sungmin.

-0o0-

"Apa benar kau tak apa, Kyuhyun-ah?"

"Tidak, aku baik-baik saja."

"Baguslah..."

"Dah,"

Kyuhyun melambaikan tangannya.

Sungmin yang melihat balas melambaikan tangan riang. Dia berjalan sedikit terburu ke pintu putar lobi sambil menenteng tasnya, sebelum...

"BAA!"

"AIGO—Astaga," yang mengagetkan tertawa lepas. Sungmin menggelitik pinggang orang itu gemas. "Mimi! Kenapa kau kemari?"

"Tentu saja aku mau menjemputmu, mau apalagi?" Saeun membenarkan topi Sungmin dan melirik ke belakang, tempat Kyuhyun berdiri.

Keduanya sama-sama terkejut.

Wanita cantik itu menelan ludah gugup saat pria itu menatap langsung ke matanya. Sunyi beberapa detik hingga keduanya menyadari eksistensi Sungmin. "Noona." Sapa Kyuhyun duluan dengan kaku sambil membungkuk. Saeun mengangguk singkat sambil tersenyum ramah. "Kau darimana saja, Kyuhyun-ssi? Kau membuatku khawatir."

"Maaf karena jarang menghubungimu." Kyuhyun memutuskan untuk mendekat dan menjabat tangan Saeun, formalitas. "Dan selamat, anak-anakmu pasti manis seperti kalian."

"Aaaahhh, bisa saja kau." Dan mereka tertawa.

"Oh, ya, anak-anak kau bawa?"

"Tidak, mereka sedang dengan ibu mertua."

"Kalau begitu kita harus cepat pulang. Sudah waktunya makan malam." Ajak Sungmin sambil menggandeng Saeun. Yang digandeng sedikit gelagapan dan cepat-cepat melepas gandengannya. "W-wae?" tanya Sungmin.

"Aa..." Saeun melirik Kyuhyun yang sama terkejutnya dengan sang suami. Diapun tertawa gugup. "A-aku hanya takut ada wartawan yang memotret kita nanti. Biarpun sudah lama, tapi aku masih—"

"Sudahlah, tak akan apa-apa." Dan Sungmin kembali menggandeng Saeun mesra, mengabaikan pandangan Kyuhyun pada dirinya. "Jangan lupa istirahat, Kyunie! Kau terlihat pucat!"

"...Nde.." Kyuhyun tersenyum kecil. "Hyungie."

"Akhirnya kau memanggilku begitu seharian." Dan mereka menghilang dari balik pintu putar. Meninggalkan Kyuhyun yang berdiri sendiri diatas lapisan marmer mewah bermozaik antik seorang diri.

Pria berambut ikal itu menarik nafas dalam sambil memejamkan mata. Senyum yang semula terukir perlahan luntur seiring dengan pergerakan tubuhnya—berbalik dan melangkah menuju lorong utama. Sekelembat memori tentang dia dan Saeun terputar seraya dia bergerak. Mendatangkan penyesalan yang teramat sangat. Dalam hatinya dia merutuk kenapa di masa lalu dia berbuat sedemikian jahatnya kepada dia yang sama sekali tak tahu permasalahannya.

Dan dia orang yang baik, Kyuhyun tahu itu. Saeun bukan wanita yang bakal membuat Sungmin menderita.

Saeun sudah jelas membuat Sungmin bahagia.

Saeun bisa menjaga kebahagiannya.

Kyuhyun bersyukur teramat sangat karena cintanya tak salah memilih pendamping hidup. Betapa bodohnya dia masih mengharapkan hal lain dari itu. Terlalu egois, pikirnya lagi.

Tapi ini wajar, kan?

"Ah!" tak sangka ternyata dia menabrak seseorang. Dia pegangi dadanya sendiri. "Aduuhh..." ringisnya pilu sembari meringkuk. Orang di hadapannya makin gelagapan. "Wa-wah! Maaf! Aku tak sengaja!" sesal orang itu sambil menuntunnya duduk di kursi tunggu pada lorong.

Kyuhyun mengintip benda yang dibawa orang itu. Suitcase kulit. Dari tepiannya Kyuhyun sudah tahu kalau itu terbuat dari logam padat yang tumpul. Pasti itu yang menumbuk ulu hatinya barusan.

Biar begitu, perhatiannya pada rasa sakit barusan masih ada. Dia menjawab dengan lirih. "Tak apa, tak apa."

"Bagaimana bisa kau bilang begitu, aku akan membawamu ke rumah sakit—"

"Nona, aku baik-baik saja." Dan Kyuhyun menatap orang itu.

Sekejap, kedua matanya membuka lebar. Badannya segera menegak. "Kyuhyun, ya?" tanya orang itu memastikan. Kyuhyun mengerjap gugup. "Kau.. Eulali, kan?" Dia membuat sikap formal. "Kita bertemu lagi."

Orang itu juga membuat sikap formal dengan menunduk standar. Keduanya saling memandang lama dan bertahan dengan sikap masing-masing.

Sebelum akhirnya tawa konyol mengalun di udara.

.

.

.

"Bagaimana NASA? Apa orang-orangnya mengerikan?"

"Lebih mengerikan dari yang kukira." sekarang mereka berjalan menuju pintu keluar arah timur. Pembicaraan mereka dilakukan dengan bahasa Indonesia. "Aku tak menyangka kalau tesnya makin berat. Jadi Astronot tidak seperti yang kukira."

"Yang penting kau dapat tiket." Eulali tertawa singkat.

Kyuhyun melirik wanita itu sambil tersenyum. "Jadi kau akan pesiar pertama?"

"Yap!"

"Ke?"

"Kemana, hayooo..." sekarang Kyuhyun yang tertawa. "Bercanda, aku akan terbang perdana ke salah satu satelit Jupiter-rahasia. Devisiku dapat misi untuk mengambil data dari bangkai robot yang tertinggal disana."

"Wow! Tunggu, kenapa tidak pakai robot lain saja?" Eulali menggeleng. Gadis bermata lebar itu menatap Kyuhyun. "Biaya pembuatannya sama dengan biaya pemeliharaan 5 astronot selama pesiar 10 tahun. Dan lagi, prototype paling kecil yang dites saja tak berhasil." Anak adam itu mengangguk mengerti. Sang hawa kemudian melanjutkan. "Menurutku sih, Direktur kami termakan hasutan publik karena sudah jarang menugaskan manusia. Karena itu mereka memutuskan hal ini lalu, voila! Kami terpilih setelah tes yang puaaaaanjang."

"Wow, makanya rambutmu pendek begini?" Kyuhyun memegang ujung rambut model Bob milik Eulali. Gadis Indonesia itu menepis pelan tangan Kyuhyun sambil terkekeh. "Aku hanya sedang iseng. Ini cuma wig."

"Kapan kalian berangkat?"

"3 tahun lagi."

"Hmm... Kau beruntung bisa terpilih. " puji Kyuhyun sambil mengangguk kagum dan membukakan pintu untuk Eulali. Mereka lalu berjalan menuju parkiran dengan langkah santai. Perempuan berkulit cokelat itu menatap Kyuhyun. "Aku tak menyangka kau akan disini. Apa kau sedang rekaman?" tanyanya.

Kyuhyun menggeleng imut. "Kasih tau gak ya..."

"Sialan."

"Hahahaha, ada yang aku urus disini." Pria Cho itu menyingkirkan tinju si dara dari bahunya. "Kau sendiri? Ngapain disini?"

"Adikku kerja disini dan tasnya ketinggalan. Mumpung aku sedang belanja di mall sebelah, dia minta tolong padaku untuk mengambilnya setelah selesai." Dengus meremehkan terdengar dari Kyuhyun. "Tak kusangka kau mau saja disuruh-suruh adikmu." Komentarnya.

Eulali balas mendengus. "'Oh' aja ya."

"Sip aja ya."

"Hehe, ah, ini dia." Eulali langsung membuka kunci mobil dan masuk ke dalamnya. Tak lama, mobilnya menyala. "Terima kasih sudah mengantarku. Kapan kau akan pulang?"

"Mungkin minggu depan."

"Baiklah." Dan pintu tertutup. Gadis itu memajukan posisi mobilnya dan melambai ke arah Kyuhyun. "Hati-hati!"

"Daaahhh..." balas Kyuhyun sambil tersenyum. Dia tatap mobil itu lama sebelum akhirnya berbalik.

"WAA!?"

Donghae dan Eunhyuk cuma cekikikan.

"YA!" jerit Kyuhyun gugup. Duo D&E yang tadi mengagetkan pria itu langsung merangkul Kyuhyun dari kedua sisi. "Siapa cewek tadi, Kyu? Kenapa kalian dekat sekali? Mentang-mentang bisa bahasa asing, kau langsung pamer disini sekalian modus supaya pembicaraan kalian gak kami mengerti, kan?" Sindir Eunhyuk dengan wajah yang Kyuhyun rasa menjijikkan. Magnae yang diapit hanya menghela nafas sambil memejamkan mata, dia tak bisa berkutik.

"Kau tak bilang kalau ternyata kau sudah punya cewek, Kyu. Orangnya manis juga, bodinya juga—uwoohh, montok." Eunhyuk segera melirik Donghae tajam. Yang dilirik tersadar dan hanya tertawa gugup. "M-maksudku, dia cocok denganmu. Ya, ya, itu maksudku."

"Sudahlah, dia hanya temanku."

"Jangan bohong, setelah kejadian itu kau jarang tertawa selepas itu." Goda Donghae sambil mengikuti Kyuhyun. Mereka sekarang berjalan menyusuri parkiran gedung. "Dan soal yang tadi.."

Kyuhyun berhenti melangkah.

"... Lupakan."

"Aku tahu." Kyuhyun mengusap punggung tangan Donghae yang menggenggam tangannya. Donghae tersenyum kecil sebelum menepuk kedua bahunya keras. "Harusnya kau bilang pada Sutradara Go untuk ganti. Kenapa kau malah diam, sih?"

"Aissshh, kau kira mudah? Aku malah ditanya-tanya kalau begitu."

"Tapi kau malah menyiksa diri, Kyu. Kenapa sih kau suka sekali begitu." Eunhyuk akhirnya bicara. Kyuhyun yang sudah menemukan mobilnya hanya menghela nafas singkat. "Hyung, kau sudah tahu alasanku."

"Aku tahu dan karena itu aku kesal. Dari 6 miliar orang di dunia, kenapa harus Sungmin?" balas Eunhyuk sambil melipat tangan di dada. Nadanya masih lembut walau sikap tubuhnya mulai tegas. "Gadis tadi sepertinya baik untukmu. Dia ada di depanmu, Kyu, saranku mulailah dari dia."

"..." Kyuhyun hanya mengangguk. Eunhyuk langsung luluh dan menghampiri dia untuk menepuk kepalanya. "Kau bisa. Percaya itu."

"Terima kasih." Sepasang kekasih itu hanya tersenyum dan mengawasi mobil adik mereka yang sudah di kejauhan.

Setelah mobilnya menghilang, pria yang bermata lebih sipit disana mendesah lesu. "Kalau dengan gadis tadi, aku dukung sih." Ujarnya dan mereka berjalan. "Kuharap dia bisa melupakan Sungmin."

"Yeah." Donghae menggandeng Eunhyuk dan memasukkan tangannya ke saku jaket. "Ayo pulang."

.

.

.

.

-0o0-

24 September, pukul 18:57 waktu setempat.

Saeun menatap cermin riasnya dengan ragu. Tak biasanya Sungmin langsung menyuruh dia bersiap untuk pergi setelah menanyakan jadwalnya, bahkan mengajak Gaeum dan Saehee untuk ikut. Saeun sempat menolak dengan alasan akan repot menjaga anak kembar mereka, tapi karena Sungmin menjamin kalau acara tak akan lama, diapun mengiyakan. Katanya sih, acara ulangtahun pengusaha terkenal dan dia mengisi acara disana. Isteri wajib ikut, tambah Sungmin, dan mau tak mau Saeun harus menurut.

Sekarang wanita cantik itu berdiri, mematut dirinya yang terbalut gaun Brokat warna krem yang membentuk lekuk-lekuk badannya. Rambut cokelatnya dia kucir samping dan kedua telinganya telah dihias anting emas putih beruntai panjang. Pas. Sekarang dia tinggal menyiapkan anak-anaknya.

"Mimi?"

"Nde?"

"Kau dimana?"

"Aku di kamar." Sahut Saeun sambil menyisiri rambut Saehee. Batita yang baru berumur 7 bulan itu menatap lucu sang Ibu. "Uruuu, udah cakep-cakep. Apalagi yang kurang ya?" Saeun memeriksa tas bayi. "Oh ya, botol susu."

"Mimi~"

"Aku disini~" pintu kamar kemudian terbuka. Tampak Sungmin yang terbalut jas krem dan dasi kupu-kupu hitam masuk ke dalam. "Suit, suittt! Cantik seperti biasa." Godanya mesra.

Saeun meleletkan lidah. "Gombal."

"Sudah siap? Yang lain sudah duluan kesana."

"Yang lain?" Sungmin mengangguk. Pria manis itu menggendong Gaeum dan menenteng tas bayi yang sudah Saeun siapkan. "Oh astaga, aku lupa bilang kalau aku tak sendiri. Super Junior mengisi acara disana."

Saeun hanya tersenyum dan mengikuti Sungmin ke mobil seusainya mengunci rumah. Berarti Kyuhyun juga hadir? "Apa semua anggotanya akan datang?" tanyanya lagi saat mobil berjalan. Sungmin mengangguk senang. "Kyuhyun baru datang dari INA, sekalian dia mau rekaman."

"Waww, dia mau rilis album?"

"Nggggg—gak sih, rasanya single. Karena dia fokus ke kerjaannya di 'sana'." Sungmin menggeser tuas kanan pada leher setir hingga membuat tanda belok ke kiri. Dirinya membagi konsen dengan sangat bagus. "Kau bertanya tentang dia terus. Kau rindu padanya?"

"Wae? Cemburu?"

"Ani. Hanya bingung." Sekarang Sungmin yang meleletkan lidah.

Saeun menepuk bahunya. "Sudah, fokus saja ke jalan."

"Iya, iya."

"Berarti Agnes dan Sunghye ada juga, dong!"

"Yap. Kalian bisa ngobrol lama sambil menunggu kami." Wanita berpipi gembul itu berjingkrak senang. "Aaaaaaa kenapa gak bilang! Tau begitu aku bakal bawa Fisheye buat foto-foto—wait," Saeun menyambar tas bayi dan mengobrak-abrik isinya. Sungmin melirik dari ujung matanya. "Kelupaan apa?"

Saeun menganga lebar. "Botol susu."

-0o0-

Kyuhyun menguap lebar di kursi penumpang.

Dia ketiduran di ruang make up hingga Ryeowook harus menjemputnya, salahkan si manager yang ngotot mau mengantarnya langsung ke studio tanpa meninggalkan kunci mobil. Giliran diperlukan, dia malah tak ada. Padahal dia yang membuat jadwal, keluh Kyuhyun dalam hati.

"Ya, ramai sekali." Ujar pria itu setelah mobil Ryeowook masuk ke lokasi. Ryeowook yang mendengar hanya mendengus sementara Taehee, si isteri, tertawa kecil. Wanita berambut panjang itu menoleh ke Kyuhyun. "Bukankah wajar kalau pesta seorang miliyaner seramai ini? Kau jadi punya banyak pilihan gadis untuk kau kencani."

"Yak!"

"Dia benar, Gyu, akui saja." Dan mereka tertawa. Kyuhyun hanya memutar mata jengah. "Kudengar Hangeng dan Kibum juga diundang, sih. Aku mau datang karena mau ketemu mereka."

"Embel-embel, Kyu." Tak lama mobil mereka berhenti. Bodyguard yang sudah bersiap di tempat membuka pintu mobil bagian Taehee sehingga wanita cantik itu keluar sambil menahan ekor gaunnya dengan anggun. Media yang sudah siap langsung menerkam, melemparkan ratusan blitz yang menyilaukan tanpa mempedulikan kedipan risih target mereka. Ryeowook yang paham dengan segera menggandeng isterinya dan melemparkan senyum ramah, sebelum memberikan kunci mobilnya pada Bellboy dan meninggalkan Kyuhyun di belakang.

Tapi baru mau berjalan, sekelompok wartawan mengacungkan microphone mereka sambil memanggil heboh. "Kyuhyun! Kyuhyun!" seperti itu. Kyuhyun yang merasa kalau itu penting langsung mendekat, dan sinar cahaya kamera makin ramai menimpa dia. "Maaf, aku dari MNETA TV. Bagaimana perasaanmu setelah 4 bulan comeback? Apa kau mengalami kesulitan karena membagi pekerjaan di tempat yang berbeda?"

Kyuhyun berpikir sejenak. "Tidak, aku tidak mengalami kesulitan. Jadwalku tersusun dengan pas, jadi jam istirahatku lumayan banyak. Aku juga jadi merasa tak terbebani. Masalah comeback, tentu aku senang. Fans dengan setia mendukungku." Kini dia tersenyum.

Bodyguard yang menahan mereka memberi isyarat kalau kesempatan bertanya tinggal sekali lagi. Aksi rebutanpun tak terhindarkan.

Tak ingin lama, satu wartawan Kaukasia mengambil start duluan. "Ada gosip yang menyebutkan kalau Super Junior akan dilengkapi oleh 2 mantan member. Apakah hal itu benar?" tanyanya dengan bahasa Korea yang fasih.

Mata Kyuhyun membulat kaget. "Soal itu, jujur saja aku baru mendengarnya darimu. Mungkin kau bisa menanyakannya pada pihak Agency." Jelasnya ramah sebelum akhirnya undur diri. Sampai di dalam, dia menghela nafas berat. Ryeowook dan Taehee meninggalkan dia dan sekarang dia tersesat. Bagus.

"Aghhh, ponselku di mobilnya hyung..!" desis Kyuhyun putus asa. Jadilah dia berjalan gontai mengarungi lautan manusia itu seperti anak kehilangan Emak. Beberapa orang yang mengenal dia menyapa dan dia balas dengan ramah, walau harus kembali lesu ketika waktu dia bertanya dimana rombongannya, mereka terus menjawab tidak tahu. Tapi tak berlangsung lama dia melihat Heechul sedang berbicara dengan seseorang berpakaian mencolok.

"Hyung!" panggilnya nyaring guna menembus nyaringnya musik. Yang dipanggil menoleh.

"Hyun!" balasnya. Tapi baru satu langkah, Kyuhyun sudah ditarik duluan oleh Heechul. "Coba translate-kan apa yang kukatakan padanya! Kau bisa bahasa Indonesia, kan?"

"Hah?"

"Kau bisa bahasa Indonesia, kan?!" Heechul mulai tak sabaran. Kyuhyun yang terkejut hanya mengangguk kaku. "Tapi tak terlalu bagus, aku tak janji—"

"Bodo amat! Pokoknya lakukan saja!" Heechul berdehem singkat. "Aku mengagumimu! Bagaimana caramu menari seperti itu? Bisa ajari aku sekarang?"

Si Pria Cho menerjemahkan dengan kalimatnya sendiri. Yang ditanya berekspresi senang dan menjawabnya pada Kyuhyun. "Dia bilang: itu tarian yang cukup rumit. Kalau kau mau belajar, datanglah ke tempatku."

"Waaaaawww..." kedua mata milik Heechul berbinar senang. "Tanyakan padanya tempat asalnya!" dan Kyuhyun menyanggupi. Dia ulangi lagi apa yang dia lakukan tadi. "Dia bilang: Aku berasal dari Bali. Berkunjunglah nanti."

"Hahahaha, sip! Katakan padanya kalau aku sangat suka dan menawarkan dia untuk ikut menari dengan kita di konser perpisahan nanti. Mintai juga nomor teleponnya!" perintah Heechul menggebu-gebu dan direspon Kyuhyun dengan cengo. Dengan susah payah dia menyusun kalimat itu, tapi pria di depannya mengerutkan kening tak mengerti. Tapi jujur saja, dia lupa bagaimana cara menanyakan nomor telepon seseorang.

Setelah sekian kali mencoba, akhirnya dia berkata, "A-anu... Emm, maksudku—"

"Katanya: Dia ingin kau menari dengannya saat konser. Berikan juga nomor teleponmu."

Ketiga pria itu langsung menoleh ke sumber suara.

"Eulali!" panggil penari tadi gembira. Heechul melongo. Bagaimana tidak? Berdiri di depan mereka, seorang wanita berbadan jangkung nan bagus dengan gaun panjang ketat warna hijau tua. Wajahnya kotak, dengan pipi agak tirus dan rambutnya yang ternyata agak panjang digelung rapi, membuat garis dagunya terlihat tegas. Bulu matanya lentik. Sorot matanya tajam dan bibirnya yang tebal..

Cantik, batin Heechul tanpa sadar. Senyum tipis dia ukirkan.

Cepat-cepat dia melirik Kyuhyun. Benar saja, pria itu sepertinya juga ikut terpesona.

Mendadak otaknya mendapat ide.

"Kau disini juga ternyata," belum sempat dia bicara, Kyuhyun sudah curi start duluan. Pria itu saling lempar kompak dengan si gadis sebelum mengukir sebuah senyum ramah. "Kau cocok dengan baju itu."

"Kau juga sama." Dan mereka tertawa. Heechul menatap dengan heran, dia tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. "Kawanmu, Kyu?" tanyanya akhirnya. Kyuhyun mendesis geli. "Oh ya, dia anak dari investor-ku. Eulali, dia Kim Heechul, seniorku. Hyung, dia Eulali Han, kawanku."

Eulali menjulurkan tangan sambil tersenyum ramah. "Salam kenal."

"Halo." Sapa Heechul balik seadanya setelah menjabat tangannya.

"Aku senang bisa bertemu denganmu, Tuan Kim. Aku sangat senang menontonmu di drama yang kau mainkan!"

"Hah?"

"Dia senang aktingmu." Simpul Kyuhyun. Heechul langsung tertawa lepas dan mengatakan 'terima kasih' berulang-ulang.

Setelah itu mereka larut dalam kebisingan.

"... Ngg.. Sebentar lagi kalian tampil, kan?" ucap si gadis dan kembali membuat Heechul gelagapan. Pria cantik itu hanya tertawa kaku sebelum berbisik ke Kyuhyun. "Terjemahkan."

Kyuhyun tersadar dari lamunan. "Dia bilang: bentar lagi kita mau tampil'kan?"

"Haaaaaa, iya, iya, mau tampil." Jawab Heechul ramah. Gadis itu tertawa. "Maafkan aku, maaf, aku bercanda.." kata gadis itu dengan bahasa Korea fasih. Kejutan lagi, dan Heechul merespon dengan tawa nyaring. Pria yang tadi Heechul ajak bicara undur diri dan meninggalkan mereka menuju panggung. "Yak! Kau membuatku jantungan saja! Aku hampir menangis karena tak mengerti bahasamu."

"Maaf, maaf. Kenapa kalian tidak duduk dengan yang lain?"

"Aku tersesat. Lalu aku melihat orang tadi tampil. Kau tahu? Tarian apinya benar-benar gila! Jadi aku menunggu di depan panggung dan mengajaknya ngobrol, tapi ternyata dia orang Indo dan gak bisa ngomong bahasa Inggris." Baik Eulali dan Heechul tertawa. Kyuhyun hanya terkekeh mendengar itu. "Untung saja Kyuhyun datang dan menerjemahkannya untukku. Walau yang terakhir parah banget."

Kyuhyun memekik tersinggung. "Hyung!"

Heechul meleletkan lidah. "Jadi kenapa kau tak gabung dengan yang lain?" tanyanya.

"Aku tersesat juga." Jawab pria yang paling muda pura-pura acuh.

Merasa ini saat yang tepat untuk idenya, Heechul tersenyum jahil.

"Eulali, eoh, gimana aku harus memanggilmu?"

"Eula saja, Oppa."

"Nde, Eula," Heechul berdehem singkat. Dia geser posisi Kyuhyun dari sebelah kanan ke kiri, membuat Eulali berada di tengah-tengah mereka berdua. "Kau pasti sudah lama di pesta ini. Kau tahu'kan rombongan kami dimana?" Eulali mengangguk sementara Kyuhyun gelagapan. "Nah. Tolong antarkan kami kesana, ya. Aku kasih upah deh, nanti."

"Santai, aku gak pasang tarif kok buat kalian.."

Heechul tertawa lagi untuk kesekian kali. Lucu sekali gadis ini, pikirnya. "Ngomong-ngomong, kau kenal Kyuhyun sejak kapan? Sepertinya kalian akrab sekali."

"Tidak lama sih, ini pertemuan kami yang ke-3 rasanya."

"Ke-4." Koreksi Kyuhyun. "Selanjutnya kami berkomunikasi lewat telepon dan Skype. Dan, yah, begitulah." Heechul manggut-manggut. Dalam hatinya dia senang karena mereka tak sadar dengan rencananya.

Si pria cantik mengamati Eulali baik-baik. Cukup cantik, sepertinya berpendidikan tinggi, lucu dan anggun. Dia terlihat bagus dalam bergaul, karena banyak yang menyapa dia selama mereka berjalan. Ditambah hubungannya dengan Kyuhyun terlihat akrab, dia calon yang baik untuk dongsaengnya! Teukie-hyung akan senang, batinnya gembira sambil tersenyum aneh.

"Bagaimana kalau kau ceritakan lagi tentangmu dan Kyuhyun?"

.

.

.

Henry bermuka tak senang. Entah untuk keberapa kali..

Moodnya selalu tak bagus jika Sungmin sudah masuk dalam penglihatannya. Ditambah sekarang dia membawa isteri dan kedua anaknya kemari. Ingin sekali dia berteriak dan melabraknya di depan semua orang. Tapi dia juga sadar kalau itu hanya akan membuat keadaan makin buruk.

Dia lirik sekelilingnya. Senior-seniornya sama tegangnya dengan dia, apalagi Ryeowook. Taehee yang tahu 'masalah ini' hanya mengusap tangan Ryeowook sambil mencuri pandang dengan Yura, pasangan Heechul. Sejauh ini baru mereka yang tahu.

Siwon hanya membalas senyum ramah para tamu dengan Agnes di sebelahnya. "Apa mereka tersesat?" tanya wanita Indo itu. Siwon hanya mengangguk samar. "Tapi teleponku tak diangkat. Apa harus aku pergi ke depan?"

"Jangan, tunggu disini saja. Sebentar lagi giliran kita." Cegah Shindong sambil menatap panggung. Jari-jarinya mengetuk permukaan meja gugup. "Apa makanannya masih lama?"

"Makan. Makan, makaaan terus yang kau pikir."

"Maaf sayang, tapi aku lapar."

"Setiap detik kau lapar." Dan tawa kecil mengudara. Shindong dan isterinya hanya terkekeh kecil, senang suasana jadi sedikit hidup. "Kudengar Hangeng dan Kibum-oppa akan hadir disini. Apa itu benar?"

"Bohong, mereka tak ada jadwal kemari." Ralat Leeteuk cepat. "Hangeng sedang rekaman untuk film-nya sementara Kibum ikut reality show. Jadi itu hanya hoax."

"Sayang sekali, padahal aku rindu.." Agnes menepuk lengan Siwon sambil tersenyum kecil. "Bagaimana dengan konser nanti? Apa mereka bisa datang?" tanyanya. Kangin menggeleng kecil. "Aku tak tahu, mereka tak membalas e-mail kami."

Wanita cantik itu mengangguk kecil. "Sayang sekali."

"Aku tahu, setiap ingin bertemu selalu begitu." Sesal Zhoumi sambil menatap Agnes. Tak lama tatapannya melayang pada Saeun, yang sibuk mengurusi Gaeum dalam stoller. "Noona, apa kau perlu bantuan?" tawarnya. Semua langsung menoleh pada Saeun.

Saeun yang sadar diajak bicara hanya tersenyum. "Dia hanya mengantuk. Mungkin aku akan menidurkannya di luar."

"Baiklah."

"YOOO—Apa yang kami lewatkan?"

"AIGOOAIGOOAIGOO—" Kangin dan Yesung langsung menghajar Heechul sampai berdiri dari kursi mereka. Hadirin yang melihat langsung tertawa melihat itu, sebelum akhirnya mereka bertiga membungkuk sopan sambil meringis malu. Hanya para member dan isteri mereka yang bertahan untuk tertawa. "Ya! Aku hanya mengejutkan kalian, kenapa aku malah dipukuli seperti maling." Rengut Heechul imut. Kangin membuat gestur muntah. "Kau hampir membuat nyawaku melayang! Kalau saja tadi aku serangan jantung gimana!?"

"Iya, kan, kau masih hidup sekarang."

"Diam sajalah." Kata Yesung mengalah. Sekarang fokus matanya diam pada Kyuhyun dan sosok disampingnya. "Loh, Kyu? Siapa itu?" tanyanya. Semua yang mendengar langsung melihat kesana.

Kyuhyun tersenyum bisnis. "Ini temanku. Dia yang mengantar kami kemari."

"Salam kenal, namaku Eulali Han."

"Oh, iya..." balas semua sambil balas membungkuk. Tapi detik kemudian, Yura berbisik pada Heechul di sebelahnya. "Itu beneran teman Gyugyu? Kok kayaknya mereka imut, ya."

"Kan." Dan mereka cekikikan gemas.

"Hei, Kyu! Ajak dia untuk gabung disini."

"Ah, maaf. Aku harus kembali ke rombongan." Tolak Eulali halus. Shindong yang tadi mengajak mengerang lesu dengan Donghae. Kyuhyunpun mendekat ke gadis itu. "Apa perlu kuantar? Tak mungkin kau kembali kesana." Dia bicara dengan bahasa Indonesia.

"Tak apa, aku bisa sendiri."

"Kau yakin?"

"Ya, aku yakin. Oh! Kata Ayahku, ada tanah yang bagus untuk cabang pertamamu. Hubungi dia kalau kau berminat." Tawar Eulali setengah berbisik. Mereka sama-sama melirik Siwon dan Agnes yang sepertinya curi dengar. "Oke, aku akan menghubungi beliau nanti." Kyuhyun balas berbisik. "Nomor biasakan?"

"Yup."

"Kalau begitu sampai nanti."

"Dahh.. Saya permisi." Eulali pamit. Kyuhyun hanya mengamati dari belakang sebelum akhirnya duduk di sebelah Xiao Wang—tunangan Zhoumi.

Mendadak tak ada yang bicara.

"...Nggg..." Kyuhyun mengamati semuanya dengan kening berkerut bingung. Mendadak semuanya melirik dengan wajah menggoda. "Ah! Ini si kembar Lee, ya?" tanyanya basa-basi dan mendekati stoller. Bayi kembar tak identik yang terbaring damai itu menatap Kyuhyun dengan polosnya. Mengabaikan sekelembat rasa sakit pada jantungnya, dia berkata, "Wah, manis..." dengan ekspresi ceria.

Ryeowook menghapus wajah anehnya dan menatap Kyuhyun was-was sementara Sungmin terkekeh manis dari kursinya.

"Mau gendong, Kyu?" tawar Saeun dan di'iya'kan cepat oleh Kyuhyun. "AH! Aku juga mau gendong! Aku belum gendong dari kemarin!" rengek Yura dan disanggupi Saeun sambil tertawa.

"Ah," Kyuhyun menatap Saehee dalam dekapannya sambil menimang. Gerakkannya begitu lembut, seolah menjaga bayi itu dalam timangan yang dia buat. Senyum lembut terukir, walau denyut nyeri menyebar keseluruh area dadanya. "Ngg.." dengung Saehee, mengundang jari Kyuhyun untuk mencubit pipi gembul si bayi.

Leeteuk tersenyum lega hingga giginya terlihat. Entah mengapa luapan bahagia mengisi hatinya saat melihat Kyuhyun seperti itu.

"Dia pintar, tidak rewel walau baru bertemu denganmu." komentar Sungmin setelah beberapa menit Kyuhyun menimang anaknya. Semua yang melihat tersenyum kecil, menikmati pemandangan langka itu. Yang dipuji hanya menyengir, dan mata teduhnya meneliti tiap lekuk dari wajah bayi itu sebelum akhirnya mengeluarkan ponselnya. "Ei. Anakku bukan objek foto." sergah Sungmin kesal. Kyuhyun menjulurkan lidah. "Salahkan anakmu yang kelewat manis, hyung."

"Iya, dong, bapaknya aja manis."

"Huweeeeeeekkkk..." semua member bergestur muntah bebarengan, mengundang tawa hadirin yang melihatnya. Kecuali Ryeowook, yang sibuk mempertanyakan ketenangan Kyuhyun saat ini.

Tak lama, Kyuhyun dan Yura mengembalikan anak-anak itu pada Saeun. "Ngomong-ngomong, kawanmu cantik sekali, Kyu..." goda Leeteuk sementara isterinya tertawa. Kangin ikut-ikutan. "Kau gak bilang kalau ternyata kau punya pacar. Dasar jahat."

"Y-ya! Kalian salah paham!"

"Jangan bohong, kau saja merona!" Zhoumi benar, pipi gembul si magnae sudah merona hebat. Gelak tawa kembali terdengar dari mereka dan membuat Kyuhyun semakin tak nyaman. "Jangan begitu! Kalian benar-benar—"

"Aigoo, aigoo, ternyata—ohhh, ternyata."

"Kui Xian sudah move on ternyata."

"Pura-pura belum ada gandengan lagi, uruuuu, sok misterius."

"Da—tunggu, move on?" Sungmin tak jadi bergurau. "Move on dari siapa?"

Mendadak suasana akrab mereka menguar. Semua menatap Sungmin dengan tatapan yang berbeda-beda, walau sekali lagi—Henry, dengan terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya pada Sungmin. Saeun yang melihat mengerjap gugup.

"Aaah, kau terlihat serasi dengan nona tadi, Kyu. Kau sudah kenal lama dengannya?"

"Lebih dari yang kukira, Mi, mereka ternyata dekaaaat sekali!" Heechul memperbesar api kompor. "Si nona itu ternyata anak dari investor penting usaha Kyuhyun. Mereka saling bertamu, loh!"

"HEECHUL-HYUNG!"

"Eit, eit." Ryeowook membekap Kyuhyun dan Yesung menahan pergerakannya. Yang diperlakukan begitu hanya bisa menggelempar liar sambil menjerit nista dari bekapan kuat Ryeowook, membuat suasana jadi makin akrab sepanjang Heechul mengumbarkan hasil wawancara tersiratnya dengan mereka selama berjalan tadi. Kangin tertawa lebih keras dari yang lain bersamaan dengan Siwon dan Sungmin. Membuat hadirin lain menjadi tertarik untuk berbaur.

Tapi Saeun dan Henry menarik diri dari keceriaan itu.

Mereka sama-sama ingin memastikan sesuatu.

Juga mendeklarasikan sesuatu.

"Kau juga, Noona?" Henry menggerakkan mulut tanpa suara.

Saeun hanya mengangguk mantap.

.

.

.

"Kita lakukan saat pulang nanti, Henry-ah."

"Iya."

.

.

.

-0o0-

Jauh

-0o0-

Aaaahhhh, kesampaian juga update. UN saya berjalan dengan baik dan sekarang saya sedang menyongsong UKK—ujian terakhir. Doakan supaya saya lulus ya...

Kyuhyun dan Sungmin akan saya buat menderita disini. Tapi tenang, sebagai JOYer yang stay dan kangen momen mereka, saya akan menyisipkan saat-saat manis dan romantis mereka. Jangan judge Saeun-eonnie ya? Dia orang yang baik. Dia juga lucu. Coba deh, mampir ke akun IG dia (4silver_32, kalau-kalau gak tahu). Support dia sebagai anggota baru keluarga kita, ya!

Saya padahal udah nunggu-nunggu reaksi kalian soal pasangan Siwon, tapi ternyata gak ada pertanyaan kayak: 'Kok gak sama Liu Wen? Kok malah sama Agnes? Agnes'kan udah sama mas Saputra? Haehyuk-nya tambahin dong!'-gitu. Disatu sisi saya ngerasa down, tapi tak apa. Terima kasih sudah membaca bab-bab sebelumnya.

Dukung saya terus supaya cerita ini terus berlangsung ya!

Review dikit, slow update. Kalian pasti penasaran sama akhirnya'kan? Wakakakakak #ketawajahat

Akhir kata, terima kasih sudah membaca!

RnR please 3 3

.

.

.