TOGETHER WITH YOU!
Cast: HunHan, Baekhyun
Genre: Romance, Sad(maybe?), and other
WARNING! YAOI!^^
Rated: K-T (kurang lebih?)
Catatan: ini ff request temen saya, jadi temen saya HunHan shipper, so oleh sebab itu saya buat deh ni ff!
Chapter 2. The Kiss
Sehun dan Luhan duduk terdiam di sebuah kursi di pelaminan mereka. Tak ada sedikitpun rasa bahagia dari mereka. Mereka memasang wajah kesal mereka di depan pelaminan. Ayah Sehun pun menginjak kaki Sehun. Seolah-olah berkata pada Sehun "Tersenyumlah! Ini pernikahanmu!". Sehun hanya terdiam tak mendengarkan ayahnya. Begitupun Luhan, ayah Luhan berulang kali berbisik pada Luhan untuk tersenyum di hadapan para tamu. Pernikahan ini bagaikan sebuah mimpi buruk bagi mereka. Hingga akhirnya Sehun bangun dari kursinya. Membuat semua orang kaget.
"Dengar, Luhan, aku tidak mencintaimu. Aku tahu, kita telah disahkan menjadi suami istri. Tapi, cinta ini karena paksaan. Bukan cinta sesungguhnya. Bahkan aku tak bisa menunjukkan bagaimana kasih sayang seorang suami yang tepat padamu. Itu karena, aku tak mencintaimu."
Ayah Luhan kaget dengan perkataan Sehun tersebut. Bahkan seisi aula pernikahan juga merasakan hal yang sama. Ayah Sehun merasa malu. Kemudian ayah Sehun menarik tangan Sehun dan menyuruh Sehun untuk mencium Luhan. Sehun tak mau. Karena bagi Sehun, Luhan adalah gadis yang menjijikan. Ya, seperti yang ia katakan sebelumnya. Menyentuhnya saja ia tak mau. Ayah Luhan pun ikut berdiri dan menyuruh Luhan untuk mau berciuman dengan Sehun. Luhan tak mau. Apalagi berciuman dengan seorang pria brengsek. Se-isi aula pun meneriaki dengan kencang. "Kisseurae! Kisseurae! Kisseurae!". Sehun menutup matanya seolah-olah ia merasa sedang dipermalukan di depan umum. Kemudian melirik sedikit ke arah sang ayah. Ayahnya malah mendorong Sehun makin dekat dengan Luhan. Luhan pun tak mau dicium oleh Sehun, dan menutup mulutnya. Tapi ayah Luhan menarik tangan luhan dan menggenggamnya. Sehun dan Luhan semakin dekat. Bahkan tak ada waktu untuk menghindar. Semakin mereka dekat membuat suasana pun semakin tegang.
CHU~
.
.
.
3 hari sebelumnya~
"Aaah! Misi mu itu bodoh Oh Sehun! Karena kau, kita harus mempersiapkan pernikahan dalam waktu 3 hari ini!"
"Apa?! 3 hari?! Tapi, itu waktu yang sangat sedikit! Apakah ayahmu gila?"
"Tak bisakah kau bicara lebih sopan sedikit?"
"Um, ya maksudku, 3 hari itu waktu yang tak wajar. Aku bahkan belum kenal sama sekali denganmu."
"Tapi karena misi bodohmu itu, ayahku mengira kita sudah melakukan sesuatu. Huaaa.."
"Hey, aku bahkan jijih melihat air matamu."
"Aaaa, pokoknya aku tak ingin menikah denganmu!"
"Kau pikir aku mau?"
"Cepat lakukan sesuatu. Atau," belum selesai bicara, tiba-tiba bel apartemen Sehun berbunyi.
Ting Tong
Sehun segera membukakan pintu tersebut. Mendengar bunyi bel tersebut, Luhan pun langsung mengikuti dari belakang. Dibukanya –Sehun- pintu apartemennya. Dilihatnya seorang yeoja cantik dengan rambut di urai. Seorang yeoja yang cantik itu memasuki apartemennya. Kemudian yeoja itu duduk di sebuah sofa di apartemen Sehun. Kemudian yeoja itu mengeluarkan sebuah buku tebal berwarna merah muda. Sehun langsung menutup pintu apartemennya dan berjalan menuju yeoja tersebut. Di bacanya buku merah muda tersebut. "Wedding Dress" Sehun membacanya sedikit demi sedikit. Kemudian ia terkaget. Mendengar bacaan Sehun tersebut, Luhan langsung mendekati Sehun. Luhan menganga. Kemudian Yeoja itu membuka kaca mata hitam yang ia kenakan.
"Halo, namaku Herin Kang. Panggil aku Herin. Aku disini di suruh oleh Direktur Xi –ayah Luhan- untuk menyuruh kalian memilih gaun pernikahan kalian."
"Gaun?! Pernikahan?!" ucap Sehun dan Luhan bersamaan.
"Ya, aku sarankan kalian mengambil yang ini. Karena mempelai wanita bertubuh mungil dan cocok memakai yang satu ini. Begitu juga dengan mempelai pria, yang bertubuh tinggi dan berotot. Aku yakin ini akan cocok. Dan untuk kemejanya, um, hitam?"
Sehun dan Luhan tak mendengarkan kata-kata Herin. Sehun dan Luhan malah ternganga. Herin pun merasa tak dianggap. Kemudian membanting buku tersebut ke meja. Membuat Sehun dan Luhan langsung terbangun dari bengongan mereka. Saling memandang satu sama lain.
"Aku yakin, dengan kalian memakai gaun ini, kalian akan menjadi pasangan terindah sepanjang masa."
"Terserah. Tapi sebenarnya kami menikah karena paksaan. Bukan perasaan, jadi," Sehun menjelaskan yang tiba tiba dipotong oleh Luhan.
"Kami akan senang sekali dengan tawaran anda! Kami akan memilih gaun itu! Baiklah, sampai jumpa!" Luhan mendorong Herin keluar dari apartemen Sehun.
Sehun melirik dengan tatapan aneh pada Luhan.
"Jadi kau ingin menikah denganku?"
"Apa? Untuk apa? Masih ada pria lain yang lebih mapan darimu!"
"Lalu kenapa kau bilang kita akan menikah?"
"Kau tahu, jika kita bicara bahwa kita tak saling mencintai, maka orang tersebut akan memberitahukan pada ayahku. Jika kita semakin tak mencintai, maka ayahku akan semakin mempercepat pernikahan!"
"Apa? Sebenarnya apa yang salah dengan ayahmu?
"Itu semua karena,"
~Flashback~
.
.
.
Aku pacaran dengan seorang pemain basket. Aku tak mengerti tentang cinta. Yang aku tahu, cinta adalah dimana seseorang menyukai orang lain. Aku mencintainya. Wu Yi Fan. Seorang pebasket terkenal di Cina. Suatu hari, ayahku menyuruhku langsung menikah dengan Yi Fan. Aku senang. Sangat senang. Aku bahkan ingin menghabiskan waktu hidupku bersamanya. Tapi apa yang aku lihat. Semuanya menyakitkan. Aku tak tahu kalau Yi Fan hanya menyukaiku. Tapi tidak mencintaiku. Dia mencintai wanita lain. Wanita yang ternyata adalah sahabat karibku sendiri. Melihat mereka berciuman di hadapan mataku sendiri, membuatku sangat sakit. Aku tak lagi mempercayai cinta. Aku menjadi stres karena kejadian itu. Yi Fan tak pernah menciumku, tapi ia merelakan bibirnya pada sahabat karibku sendiri?! Sudah 1 tahun ini, aku tak mau melanjutkan kuliahku. Aku tak peduli dengan semua yang kulakukan. Aku mengurung diriku dalam kamar. Dalam kegelapan, dan kesepian. Tanpa cinta.
Normal
.
.
.
"Oleh sebab itu, ayahku menyuruhku untuk belajar mencintai seseorang bukan menyukai."
"Kau tak apa?" Sehun tersontak ketika melihat setetes air mata mengalir di pipi Luhan.
"Aku tak apa. Aku hanya,"
"Kau tahu, aku juga tak percaya cinta. Oleh sebab itu, aku tak ingin mencintai, ataupun dicintai."
"Kau, jangan pernah meneteskan air mata ini lagi." Sehun mengusap air mata Luhan dengan lembut.
Luhan menatap Sehun dengan bingung. Oh tidak! Oh Sehun! Apakah kau jatuh cinta?! Hey,hey! Sadarlah Oh Sehun! Kemudian Sehun memandang mata Luhan dan memberikan sedikit senyumannya. Luhan pun ternganga. "Seorang Oh Sehun, tersenyum?". Luhan menendang perut Sehun. Luhan tak ingin berada dekat-dekat dengan Sehun apalagi Itu bahkan kurang dari 10 cm. Sehun kesakitan. Melirik dengan tatapan marah pada Luhan.
"Aku tak ingin kita terbalut dalam cinta! Bye, aku mau pulang!" Luhan keluar dari apartemen Sehun.
Sehun memandangi tangannya yang tampak basah karena mengusap air mata Luhan. Sehun memandangi dengan serius. Ia tak tahu, apakah ia tengah terbalut dalam cinta? Sehun teringat masa lalunya.
~Flashback~
.
.
.
Saat itu Sehun kelas 3 SMA. Suatu hari, Sehun melihat seorang adik kelasnya menangis. Sehun yang tak tega pun mendekat pada wanita tersebut-adik kelas Sehun-. Sehun bertanya pada wanita tersebut.
"Kenapa kau menangis?"
"Seseorang menolak coklat valentine dariku."
"Eh? Kalau begitu jangan menangis. Kemari, biar aku makan coklatnya."
"Tapi kau kakak kelasku. Aku tak mungkin memberikan coklat ini padamu. Lagipula kita bukan pacar."
"Ini hanya coklat." (merebut coklat wanita tersebut)
"Kalau kau mau, kita bisa berpacaran." –Sehun
"Apa? Tapi,"
"Memangnya apa yang masalah? Dan satu lagi, jangan sampai air mata ini mengalir di pipimu." (mengusap air mata wanita tersebut)
Tak lama Sehun dan wanita tersebut berpacaran, beberapa bulan kemudian, wanita tersebut kecelakaan. Dan meninggal pada saat ulang tahun Sehun. Sehun menangis. Tapi tak ada orang yang peduli dengannya. Oleh sebab itu, Sehun tak lagi percaya cinta. Sehun yakin, saat kau hidup dengan atau tanpa cinta, itu sama saja. Nasib yang menentukan, kebahagiaan atau kesedihan.
Normal
.
.
.
Sehun tak kuasa menahan air matanya ketika ia mengingat kejadian tersebut. Ya, masih sama, tak ada yang peduli padanya saat dia menangis. Dia masih sendirian. Waktu berlalu sangat cepat. Semua persiapan pernikahan sudah matang. Bahkan ketika Sehun dan Luhan tengah resmi menjadi suami istri. Sementara mereka duduk terdiam di pelaminan mereka. Tak ada sedikitpun rasa bahagia dari mereka. Mereka memasang wajah kesal mereka di depan pelaminan. Ayah Sehun pun menginjak kaki Sehun. Seolah-olah berkata pada Sehun "Tersenyumlah! Ini pernikahanmu!". Sehun hanya terdiam tak mendengarkan ayahnya. Begitupun Luhan, ayah Luhan berulang kali berbisik pada Luhan untuk tersenyum di hadapan para tamu. Pernikahan ini bagaikan sebuah mimpi buruk bagi mereka. Hingga akhirnya Sehun bangun dari kursinya. Membuat semua orang kaget.
"Dengar, Luhan, aku tidak mencintaimu. Aku tahu, kita telah disahkan menjadi suami istri. Tapi, cinta ini karena paksaan. Bukan cinta sesungguhnya. Bahkan aku tak bisa menunjukkan bagaimana kasih sayang seorang suami yang tepat padamu. Itu karena, aku tak mencintaimu."
Ayah Luhan kaget dengan perkataan Sehun tersebut. Bahkan seisi aula pernikahan juga merasakan hal yang sama. Ayah Sehun merasa malu. Kemudian ayah Sehun menarik tangan Sehun dan menyuruh Sehun untuk mencium Luhan. Sehun tak mau. Karena bagi Sehun, Luhan adalah gadis yang menjijikan. Ya, seperti yang ia katakan sebelumnya. Menyentuhnya saja ia tak mau. Ayah Luhan pun ikut berdiri dan menyuruh Luhan untuk mau berciuman dengan Sehun. Luhan tak mau. Apalagi berciuman dengan seorang pria brengsek. Se-isi aula pun meneriaki dengan kencang. "Kisseurae! Kisseurae! Kisseurae!". Sehun menutup matanya seolah-olah ia merasa sedang dipermalukan di depan umum. Kemudian melirik sedikit ke arah sang ayah. Ayahnya malah mendorong Sehun makin dekat dengan Luhan. Luhan pun tak mau dicium oleh Sehun, dan menutup mulutnya. Tapi ayah Luhan menarik tangan luhan dan menggenggamnya. Sehun dan Luhan semakin dekat. Bahkan tak ada waktu untuk menghindar. Semakin mereka dekat membuat suasana pun semakin tegang.
CHU~
Semua orang se-isi ruangan malah tertawa. Ternyata Sehun tidak mencium bibir Luhan melainkan mencium leher Luhan. Semua orang pun bingung. Seharusnya seorang pengantin baru berciuman bibir bukan leher. Luhan membuka matanya. Ia kaget melihat Sehun tampak sedang mencium lehernya. Luhan pun berlari mundur menjauhi Sehun. Sehun menghentikan ciumannya. Berdiri layaknya patung tanpa ekspresi. Luhan kaget dan marah pada Sehun.
"Kau mau apa padaku?! Kau mau membuat sebuah kissmark pada leherku?!"
"Mwo? Kau gila?"
"Hey! Oh Sehun katakan sejujurnya! Kau mencintaiku?!"
"Apa? Cinta?"
Sehun terdiam sejenak. Mengingat saat-saat ia menghapus air mata Luhan. Dan memberikan senyuman pada Luhan. Sehun berpikir kembali. Menatap Luhan dengan pandangan kaget.
"Aku, mencintaimu?"
Sehun menatap Luhan dengan tatapan bingung. Sementara Luhan memandang Sehun dengan ekspresi kaget.
Together With You-
Hehe, ini chapter 2nya wkwk, maaf kalo mungkin agak gaje-in.
(R: thor, kok ff yang sebelumnya aja belum selese, tapi udah bikin kayak gini? A: iya nih hehe, tangan ga kuat gatel pengen bikin new ff dan ini jugakan buat temenku wkwk, dan buat temenku juga yang request KaiSoo, sabar ya, mau cari ide duluu^^)
Gomawo udah baca, riview ya!^^
