TOGETHER WITH YOU!
Cast: HunHan, Baekhyun, Chanyeol
Genre: Romance, Sad(maybe?), and other
WARNING! YAOI!^^
Rated: K-T (kurang lebih?)
Catatan: ini ff request temen saya, jadi temen saya HunHan shipper, so oleh sebab itu saya buat deh ni ff!
Chapter 3. Love?
Luhan berjalan bersama seorang namja tinggi nan gagah. Sehun selaku suami Luhan mengikuti Luhan dari belakang dengan diam-diam. Dilihatnya-Sehun- Luhan bergandengan tangan dengan namja tersebut. Layaknya sepasang kekasih yang romantis. Sehun pun menggelengkan kepalanya seolah-olah tak percaya. Luhan dan namja tersebut berhenti di sebuah restoran. Mereka memesan beberapa pun memasuki restoran tersebut. Berpura-pura duduk sebagai seorang pelanggan. Sesekali, Sehun mengintip ke arah meja Luhan. Luhan terlihat tengah membicarakan suatu hal yang tampaknya menarik.
"Jadi kau sudah menikah?"
"Ne, tapi aku rasa pernikahanku tidak berjalan lancar dengannya."
Sehun memandang Luhan dengan bingung.
"Benarkah? Ada apa?"
"Entahlah aku hanya tidak bisa mengatakan keadaanku yang sebenarnya."
"Kalau begitu jangan menangis." (namja tersebut mengusap air mata Luhan)
Sehun melemaskan tatapannya. Menaruh korannya di meja. Dan berjalan keluar dari restoran tersebut. Selagi berjalan, tiba-tiba ia memegang dadanya yang terasa sakit. Entahlah, apakah kau mulai mencintai Luhan? Kemudian Sehun meneteskan air matanya. Ia tak sadar setetes air mata telah jatuh membasahi pipinya. Lagi-lagi tak ada yang peduli padanya. Eh, tidak. Ada. Seorang yeoja cantik berdiri di depannya. Menyodorkan sapu tangan pada Sehun. Sehun menerima sapu tangan itu.
"Aku Byun Baekhyun. Masih ingat?"
"Oh, kau."
"Kenapa kau menangis?"
"Um, aku,"
"Jangan sampai aku melihatmu menangis lagi di lain hari oke?" (mengusap air mata Sehun)
Sehun terdiam. Ia berpikir, "Seharusnya aku mencintaimu Byun Baekhyun. Bukan Luhan." Ouch, apakah Sehun berpindah hati?
.
.
.
1 hari sebelumnya~
"Jadi sejujurnya kau mencintai Luhan kan Sehun?" –Ayah Sehun
Sehun terdiam. Tak menjawab sepatah katapun. Kemudian Sehun marah dan pergi dari pelaminannya. Ayah Sehun pun mengejar Sehun. Tapi Sehun terlanjur pergi dengan taksi menuju apartemennya. Pernikahan itu tak berlangsung sempurna. Sehun menatap dirinya sendiri di cermin.
"Aku mencintai Luhan?"
Lagi-lagi Sehun tak bisa mengendalikan emosinya. Sehun menonjok cermin tersebut sampai cermin tersebut pecah. Tangan Sehun berlumuran darah. Sehun menatapi tangannya. Kemudian tiba-tiba seseorang membalut tangan Sehun dengan kapas. Memberikan sedikit obat merah pada tangan Sehun. Sehun ternganga. Um, itu adalah Luhan. Hah?! Luhan?!
"Karena aku, kau seperti ini. Mianhae."
Sehun menatap Luhan dengan bingung.
"Kalau kau tidak mencintaiku tak apa."
"Um, aku,"
"Ini adalah hari pertamaku denganmu."
"Huh?"
"Kau tak bisa menyakiti dirimu seperti ini. Berhentilah. Aku akan belajar mencintaimu."
Sehun terdiam. Bertatap mata dengan Luhan. Tak lama Luhan mengecup pipi Sehun. Sehun semakin terdiam layaknya patung.
"Ini adalah kecupan yang aku berikan karena aku ingin bilang bahwa,"
Luhan tak melanjutkan kata-katanya. Terdiam dan langsung melepaskan tangan Sehun. Sehunpun semakin bingung dengan sikap Luhan. Luhan menundukkan kepalanya.
"Ada apa?"
"Aku jatuh cinta padamu!
"Kau jatuh cinta padaku? Tapi,"
"Ya! Sejak kau mengusap air mataku, dan kau memberikan rasa perhatianmu padaku!"
"Tapi aku tak mengerti."
Luhan menangis di hadapan Sehun. Sehun tak mengerti dengan semua yang telah Luhan katakan. Sehun merasa bahwa ia tengah berada dalam mimpi. Sehun memegang tangan Luhan yang tampak sayu. Luhan mengangkat kepalanya menatap wajah Sehun.
"Geumanhae. Katakan yang sejujurnya."
"Mwo? Katakan apa?"
"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam apartemenku?"
Mendengar kata-kata Sehun, Luhan pun terdiam. Luhan tampak bingung. Dasar pria tidak peka! Luhan menghapus air matanya. Dan mundur dari wajah Sehun. Luhan memajang wajah kesalnya pada Sehun, karena Sehun tidak merasakan apa yang Luhan rasakan.
"Lupakan! Aku mau ambil barang di mobil!"
Luhan berjalan keluar dari apartemen Sehun. Sehun hanya melirik sedikit pada Luhan. –SKIP- pukul 19.00, Luhan tampak bosan duduk di sofa. Sedangkan Sehun dengan asyiknya bermain game. Luhan pun menyerah duduk di samping Sehun yang asyik sendiri bermain game. Luhan memasuki kamar. Sehun yang melihatnya pun memberhentikan gamenya dan menyusul Luhan. Dilihatnya-Sehun- Luhan tengah menata kasur kecil di lantai. Sehun memandangi Luhan dengan bingung.
"Done! Oke, Kau! Oh Sehun, tidurlah di lantai. Dan aku akan tidur di kasur."
"Kenapa tidak tidur bersama saja? Kan kasurnya luas."
"Hey! Aku tak mau sekasur denganmu."
"Kalau begitu aku tak mau tidur di lantai."
"Ya, sudah terserah. Tidur di sofa pun tak apa."
"Memangnya ini rumah siapa?"
"Rumahmu."
"Kasurnya milik siapa?"
"Kau.
"Maka, yang harus tidur di kasur?"
"Kau."
"Yup—"
"Eh, tidak! Bukan, aku!"
"Tidak, pokoknya kau tidur dimanapun terserah! Aku mau di kasur." (Sehun langsung menidurkan dirinya di kasur)
"Eh, andweee! Aku yang harus di kasur! Minggir...!" (Luhan menggeser tubuh Sehun)
Sehun menarik tangan Luhan, sehingga badan Luhan terjatuh ke kasur. Luhan pun menatap Sehun dengan kaget.
"Diam disini. Sudah tidur. Besok hari yang panjang."
Yup, Sehun dan Luhan akhirnya tidur di satu kasur yang sama. Keesokan paginya, Sehun tampak sibuk membetulkan dasinya yang agak berantakan. Dan Luhan tengah sibuk memasak sarapan. Tak lama Luhan tersenyum melihat masakannya sudah matang. Ia langsung menaruh masakannya ke meja makan. Di susul dengan Sehun yang sudah siap berangkat ke kantor. Dengan kemeja hitam dan dasi abu-abu, membuatnya benar-benar tampak tampan. Sehun memakan sarapannya dengan buru-buru. Kemudian langsung pergi meninggalkan Luhan. Luhan menyibukkan dirinya sendiri. Ia menyapu apartemennya. Kemudian membersihkan semua barang-barang di apartemen. Tak lama, handphone Luhan berbunyi. Dilihatnya sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Luhan mengangkat telepon tersebut.
"Ne, yeoboseo?"
"Hai, aku Park Chanyeol. Teman SMA-mu yang dari Korea."
"Eh? Chanyeol?"
Luhan mengingat-ingat.
~Flashback~
.
.
.
Saat itu Luhan duduk terdiam di bangku taman sekolahnya. Seorang namja gendut berkacamata tiba-tiba menghampirinya. Luhan menatap namja itu dengan bingung. Tiba-tiba namja itu menyodorkan seikat bunga mawar pada Luhan. Luhan pun ternganga.
"Maukah kau menjadi pacarku?"
"Eh? Entahlah, apakah kau murid baru dari Korea Selatan?"
"Ya. Um, tak masalahkan kalau kau jadi pacarku? Atau karena aku gendut, kau tak mau?"
"Eh? Tidak juga. Um, aku hanya masih anak-anak. Maaf. Mungkin 8 tahun yang akan datang saja?"
"Kau menerimaku untuk 8 tahun yang akan datang?!"
"Um, sepertinya iya,"
"Wohoo! Fantastic!"
.
.
.
"Ah, jadi kau Chanyeol si bocah gendut itu?"
"Ya, kau mengingatnya? Um, sebenarnya aku menelponmu karena ini sudah 8 tahun. Dulu, kau berjanji, setelah 8 tahun baru aku boleh menjadi pacarmu."
"Apa?"
"Jadi, kapan kita bisa bertemu?"
"Um, bertemu?"
"Ya. Bagaimana kalau besok pukul 1 siang?"
"Eh? Besok?"
"Iya, kau maukan?"
"Um, aku mau, tapi,"
"Baiklah kita bertemu di hotel Diamond, sampai jumpa besok!"
Pria tersebut langsung menutup teleponnya. Luhan pun bingung. Kemudian ia memikirkan sesuatu yang tampak membuatnya kaget.
"Kalau pria itu melamarku, bagaimana dengan Sehun?"
Luhan menjatuhkan handphonenya ke lantai. Seketika Sehun menelpon Luhan. Tapi Luhan tak menjawab telepon dari Sehun. Sementara di sisi Sehun, ia merasakan sesuatu yang aneh pada Luhan. Sepulangnya dari kantor, Sehun mencari Luhan. Dilihatnya Luhan sedang terlelap dalam tidur. Sehun menatap Luhan dari jauh sambil menghembuskan nafasnya. Setelah itu Sehun menutup pintu kamarnya dan memasuki kamar mandi. Sehun lagi-lagi merasakan ada sesuatu yang terjadi pada Luhan. Waktupun berlalu, keesokan harinya, pukul 1 siang Luhan tengah bersiap menemui Chanyeol. Sehun yang libur dari kerja memperhatikan Luhan dengan aneh.
"Aku ada sebuah pertemuan. Aku akan pulang sore. Tapi tenang, aku sudah menyediakan makanan untukmu."
"Kau mau kemana?"
"Itu bukan urusanmu."
Tanpa Luhan ketahui, Sehun mengikuti Luhan secara diam-diam dari belakang. Luhan tiba di hotel Diamond. Luhan berjalan bersama Chanyeol. Sehun selaku suami Luhan mengikuti Luhan dari belakang dengan diam-diam. Dilihatnya-Sehun- Luhan bergandengan tangan dengan Chanyeol. Layaknya sepasang kekasih yang romantis. Sehun pun menggelengkan kepalanya seolah-olah tak percaya. Luhan dan Chanyeol berhenti di sebuah restoran. Mereka memesan beberapa pun memasuki restoran tersebut. Berpura-pura duduk sebagai seorang pelanggan. Sesekali, Sehun mengintip ke arah meja Luhan. Luhan terlihat tengah membicarakan suatu hal yang tampaknya menarik.
"Jadi kau sudah menikah?"
"Ne, tapi aku rasa pernikahanku tidak berjalan lancar dengannya."
Sehun memandang Luhan dengan bingung.
"Benarkah? Ada apa?"
"Entahlah aku hanya tidak bisa mengatakan keadaanku yang sebenarnya."
"Kalau begitu jangan menangis." (Chanyeol mengusap air mata Luhan)
Sehun melemaskan tatapannya. Menaruh korannya di meja. Dan berjalan keluar dari restoran tersebut. Selagi berjalan, tiba-tiba ia memegang dadanya yang terasa sakit. Entahlah, apakah kau mulai mencintai Luhan? Kemudian Sehun meneteskan air matanya. Ia tak sadar setetes air mata telah jatuh membasahi pipinya. Lagi-lagi tak ada yang peduli padanya. Eh, tidak. Ada. Seorang yeoja cantik berdiri di depannya. Menyodorkan sapu tangan pada Sehun. Sehun menerima sapu tangan itu.
"Aku Byun Baekhyun. Masih ingat?"
"Oh, kau."
"Kenapa kau menangis?"
"Um, aku,"
"Jangan sampai aku melihatmu menangis lagi di lain hari oke?" (mengusap air mata Sehun)
Sehun terdiam. Ia berpikir, "Seharusnya aku mencintaimu Byun Baekhyun. Bukan Luhan." Ouch, apakah Sehun berpindah hati? Sehun mematung di depan Baekhyun.
"Wae? Gwenchana?"
"Um, terima kasih. Aku,"
"Apa yang terjadi? Cerita saja."
"Orang yang aku cintai, mengkhianatiku." (Sehun menangis)
"Eh? Jangan menangis."
Sehun memeluk Baekhyun dengan erat. Baekhyun pun bingung. Bahkan ia dan Sehun belum dekat sama sekali. Tangan Baekhyun dapat meraih punggung Sehun. Sehun terus menangis di pelukan Baekhyun. Tak lama Luhan dan Chanyeol keluar dari restoran tersebut. Luhan kaget melihat Sehun tengah berpelukan dengan Baekhyun. Mata Luhan memerah. Luhan meremas bajunya. Seolah-olah sangat marah.
"Oh Sehun?"
Luhan berbicara dengan nada goyang. Sehun melepaskan pelukannya dan berbalik pada Luhan. Luhan meneteskan air matanya. Wait, Luhan, suka sama Sehun? Sehun menatap Luhan dengan bingung, karena Luhan menangis. Luhan menutup mulutnya. Sehun pun mendekat pada Luhan.
"Jangan mendekat! Aku mohon! Aku butuh waktu sendiri. Karena kau tahu, aku juga wanita." (Luhan berlari meninggalkan Sehun)
Sehun makin bingung pada Luhan.
"Kau cemburu padaku dan Luhan?"
"Cemburu apa?"
"Kau tahu, yang kami omongkan hanyalah sebatas teman. Kami tak berkencan atau semacamnya. Asal kau tahu Oh Sehun, aku teman SMA Luhan. Dan kau suaminya kan? Aku tak akan mengambil Luhan darimu. Aku hanya ingin bertemu sebagai teman. Dan yang kau lakukan tadi, itu lebih disebut sebagai pengkhianatan. Kau tahu, Luhan juga wanita yang punya perasaan. Permisi, aku harus pergi."
Sehun terdiam. Tak lama Sehun terjatuh di tanah. Meratapi dirinya yang begitu berpikiran negatif. Baekhyun memegang bahu Sehun. Tapi Sehun marah dan memukul tangan Baekhyun. Sehun kemudian meninggalkan Baekhyun. Menuju apartemennya. Di apartemennya, dilihatnya Luhan tengah menangis dalam kamar.
"Mianhae, aku tak tahu. Aku salah paham."
"Kalau kau punya wanita lain maka menikahlah dengannya. Jangan denganku. Aku tak butuh kau."
Sehun mentekat bulatkan dirinya. Ia memegang tangan Luhan yang kecil itu.
"Tapi aku membutuhkanmu."
Suara Sehun tersebut membuat Luhan kaget dan menatap Sehun. Kemudian Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. Membuat Luhan tersontak keget. Sehun memberikan sebuah kecupan manis ke bibir Luhan. Membuat Luhan melotot.
"Aku akan jujur. Kau adalah orang pertama yang mendapat ciuman dariku. Karena,"
"Oh Sehun."
"Aku mencintaimu."
Sehun menundukan kepalanya. Luhan menatap Sehun dengan bingung. Bagaimana seorang Oh Sehun dapat mencintai wanita? Cinta huh? Luhan memeluk Sehun. Dan ya, malam itu malam pertama mereka menyatakan cinta. Love?
Together With You-
