TOGETHER WITH YOU!
Cast: HunHan, Baekhyun, Chanyeol
Genre: Romance, Sad(maybe?), and other
WARNING! YAOI!^^
Rated: K-T (kurang lebih?)
Catatan: ini ff request temen saya, jadi temen saya HunHan shipper, so oleh sebab itu saya buat deh ni ff!
Chapter 4. The Broken Heart
Sebongkah tisu itu membuat Sehun tampak kesal. Ya, sejak 3 hari yang lalu, Luhan terus saja menangis tanpa henti. Kenapa? Kakek Luhan meninggal saat dalam perjalanan ke Korea. Itu karena kecelakaan pesawat. Padahal jasad kakek Luhan sudah dikubur. Dan itu 3 hari yang lalu. Sehun memutar bola matanya. Ia tak percaya, bahwa Luhan akan menangis sampai berhari-hari seperti itu. Sehun duduk di salah satu bangku kosong dekat karangan bunga. Selama 3 hari ia menunggu di rumah sakit. Ia masih setia menemani Luhan yang masih saja menangis. Sehun menundukkan kepalanya. Ia merasa kepalanya sedikit pusing. Mungkin karena efek 3 hari berturut-turut mendengar tangisan Luhan. Tiba-tiba seseorang datang memberikan seikat bunga pada Sehun. Sehun menenggakkan kepalanya. Ia terkejut. Itu Baekhyun. Wanita yang ia peluk beberapa hari yang lalu.
"Um, kakek Luhan meninggal?"
"Ne. Ada apa kau datang?"
"Tentu saja ikut berduka cita atas kematian kakek Luhan." (duduk di samping Sehun)
"Oh. Baiklah. Terima kasih."
Sehun kembali menundukkan kepalanya. Tiba-tiba Baekhyun memberikan sebuah jaket ke punggung Sehun. Sehun pun terkejut. Baekhyun tersenyum manis pada Sehun. Sementara Luhan menghentikan tangisnya. Kemudian mencari Sehun. Luhan terdiam. Ketika melihat Sehun dan Baekhyun berdua lagi. Mata Luhan mulai berkaca-kaca. Ia tak bisa menahannya. Hatinya benar-benar sakit. Di saat ia tengah berduka atas kematian kakeknya, suaminya sendiri malah duduk bersama wanita lain. Luhan mundur. Ia duduk di lantai yang dingin.
"Apparaghu. Ini sakit. Sangat. Tapi kau tak mengerti. Lupakanlah. Anggap saja ini hanya mimpi Xi Luhan. Aku yakin. Sehun tidak akan selingkuh dariku bukan? Dia tidak akan membuat hatiku menangis untuk yang kedua kalinya bukan?"
Luhan menundukkan kepalanya. Menahan rasa sakit yang ia rasakan. Tapi ia tetap berpegang teguh. Sehun tak akan mengkhianatinya. Sehun mencintainya. Luhan menahan isak tangis yang ia rasakan. Sangat sakit.
.
.
.
Beberapa hari sebelumnya~
Malam itu, Sehun tertidur dalam pelukan Luhan. Yah, kau seperti anak kecil Oh Sehun! Keesokan paginya Luhan tampak sibuk membereskan dapurnya yang acak-acakan. Tiba-tiba Sehun memeluk Luhan dari belakang. Luhan pun kaget dan bingung pada Sehun. Luhan menatap Sehun dengan bingung. Sementara Sehun memejamkan matanya pada pelukan Luhan.
"Apa yang sedang kau lakukan huh?"
"Aku? Memelukmu."
"Seperti anak kecil. Minggirlah, aku harus membereskan barang-barang ini."
Sehun melepaskan pelukannya. Mengkrucutkan bibirnya. Ia kesal. Kemudian handphone Luhan berbunyi.
"Ne, yeoboseo?"
"Aku akan datang ke Korea! Kau bersiaplah! Aku ingin menemui suamimu!"
"Eh? Kakek akan datang kemari? Kapan?"
"Hari ini aku dalam perjalanan. Aku sudah memesan tiket."
"Mwo?! Hari ini juga?!"
Sehun melirik pada Luhan.
"Um, baiklah. Aku akan menunggumu. Sampai jumpa."
Luhan menutup teleponnya dan langsung berlari ke arah Sehun.
"Kakek akan datang kemari!"
"Mwo?! Onje?"
"Hari ini juga! Dia akan mengambil penerbangan hari ini! Ouch! Kita harus bagaimana?!"
"Um, entahlah. Dia tidak akan menanyakan anak atau semacamnya kan?"
"Mwo? Kau pikir dia tidak akan mengatakan itu? Tentu saja ia akan mengatakannya! Oleh sebab itu aku merasa gugup."
"Eh? Kalau begitu aku akan bilang kita akan mencoba."
"What?! Mencoba apa maksudmu?!"
"Anak."
"No! Aku tidak mau."
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?"
"Um, entahlah. Aku juga tidak tahu."
Sehun memutar bola matanya. Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. 'Um, bisakah kita bertemu hari ini? Ada hal yang ingin aku ucapkan. Dari Baekhyun' tulis pesan tersebut. Sehun memasang wajah datarnya. Ia mengambil jaketnya dan bersegera pergi. Luhan yang melihatnya pun menarik tangan Sehun.
"Kau mau kemana?"
"Seseorang menungguku. Aku harus pergi. Nanti kita bicarakan lagi soal kakekmu."
Sehun buru-buru meninggalkan Luhan. Luhan memasang wajah cemberutnya. Kemudian Luhan mengambil baju kotor untuk di mengambil jaket Sehun. Kemudian memeriksa sakunya. Kemudian Luhan meraih sebuah kartu nama. Bertuliskan Byun Baekhyun. Dengan sebuah foto terpapar di situ. Luhan terkejut. Karena orang tersebut seorang Yeoja. Luhan ingat. Yeoja ini adalah yeoja yang kemarin Sehun peluk. Tiba-tiba Luhan merasakan sakit di hatinya.
"Oh tidak, tidak! Xi Luhan, kumohon ini hanya kartu nama oke? Sehun tidak akan mengkhianatimu. Tenanglah."
Luhan memegang dadanya yang terasa sakit. Ia menahan air mata yang hampir keluar dari matanya. Kemudian cepat-cepat mencuci jaket Sehun. Sementara Sehun menunggu Baekhyun di basement apartemennya. Dilihatnya sebuah mobil berwarna putih mendekat padanya. Baekhyun membuka kaca mobilnya tersenyum ramah pada Sehun. Kemudian mengajak Sehun menaiki mobilnya.
"Apa yang mau kau omongkan?"
"Um, aku ingin mengajakmu makan malam."
"Tak bisa. Istriku menunggu di rumah."
"Tapi ada hal yang ingin aku omongkan."
"Kalau begitu, bicaralah sekarang."
"Aku tak bisa. Aku sedang menyetir."
"Kalau begitu berhentikan mobilnya."
"Um, kita tak boleh berhenti di sembarang tempat."
"Hey Byun Baekhyun. Katakan dengan cepat. Apa yang kau mau dariku?"
"Aku tak bisa bicara sekarang. Aku ingin kau makan malam bersamaku nanti malam."
"Apakah kau tuli? Aku sudah bilang, istriku menunggu di rumah!" (Sehun mulai kesal)
"Cepat ucapkan. Aku tak punya banyak waktu bersamamu." Lanjut Sehun.
"Oleh sebab itu, tolong berikan waktu untukku."
"Memangnya kau pikir aku kekasihmu apa?"
"Ya!"
"Huh?"
"Aku suka padamu Oh Sehun!"
"Mwo?"
"Ya! Tapi kau sudah menikah huaa.." (Baekhyun menangis)
"Ya aku tahu. Mungkin karena ketampananku banyak wanita yang menyukaiku."
"Huuaaa.."
"Hey, geumanhae. Berhentilah menangis."
"Aku tak bisa. Aku menyukaimu!"
Sehun kembali memutar bola matanya. Ia turun dari mobil Baekhyun.
"Kau membuang-buang waktuku."
"Eh? Oh Sehun jangan pergi!"
"Oh Sehun!"
Sehun tak memperdulikan kata-kata Baekhyun. Sehun memang tidak peka. Baekhyun pun mengejar Sehun meninggalkan mobilnya. Kemudian Baekhyun memeluk Sehun dari belakang. Sehun tak terkejut. Ia memasang wajah datarnya. Kemudian berbalik badan ke arah Baekhyun.
"Baekhyun. Geumanhae. Aku masih punya istri ingat? Pergilah. Masih banyak pria yang lebih tampan dariku."
Sehun menyingkirkan tangan Baekhyun dan memanggil sebuah taksi. Sementara Baekhyun masih berkaca-kaca. Ia –Baekhyun- tak mengerti. Mengapa Sehun sangat membencinya. Sementara waktu berlalu. Sehun dan Luhan menonton tv bersama.
"Kecelakaan pesawat. Pesawat jenis BaekDo Air. Dari arah Cina menuju Korea. Dikabarkan semua penumpang, beserta kru dan pilot pesawat meninggal dalam kecelakaan ini. Disampaikan langsung dari Seoul. Joon Kang Hee dari studio melaporkan." Suara tv terdengar.
"Eh? Cina?"
Telepon apartemen Sehun berbunyi. Luhan mengangkat telepon tersebut.
"Apa?! Kakek Xi meninggal dalam kecelakaan pesawat?!"
Sehun dan Luhan langsung berlari menuju rumah sakit. Banyak sekali mayat dari penumpang pesawat tersebut.
"Apakah anda keluarga Tuan Xi?" tanya seorang perawat.
"Ya itu kami."
Perawat tersebut pun menunjukkan peti mati kakek Luhan. Luhan terjatuh di lantai. Ia menangis sedih di hadapan peti mati kakeknya. Tak lama ayah Luhan dan Sehun juga datang. Luhan terus saja menangis selama 3 hari berturut-turut. Sebongkah tisu itu membuat Sehun tampak kesal. Padahal jasad kakek Luhan sudah dikubur. Dan itu 3 hari yang lalu. Sehun memutar bola matanya. Ia tak percaya, bahwa Luhan akan menangis sampai berhari-hari seperti itu. Sehun duduk di salah satu bangku kosong dekat karangan bunga. Selama 3 hari ia menunggu di rumah sakit. Ia masih setia menemani Luhan yang masih saja menangis. Sehun menundukkan kepalanya. Ia merasa kepalanya sedikit pusing. Mungkin karena efek 3 hari berturut-turut mendengar tangisan Luhan. Tiba-tiba seseorang datang memberikan seikat bunga pada Sehun. Sehun menenggakkan kepalanya. Ia terkejut. Itu Baekhyun. Wanita yang ia peluk beberapa hari yang lalu.
"Um, kakek Luhan meninggal?"
"Ne. Ada apa kau datang?"
"Tentu saja ikut berduka cita atas kematian kakek Luhan." (duduk di samping Sehun)
"Oh. Baiklah. Terima kasih."
Sehun kembali menundukkan kepalanya. Tiba-tiba Baekhyun memberikan sebuah jaket ke punggung Sehun. Sehun pun terkejut. Baekhyun tersenyum manis pada Sehun. Sementara Luhan menghentikan tangisnya. Kemudian mencari Sehun. Luhan terdiam. Ketika melihat Sehun dan Baekhyun berdua lagi. Mata Luhan mulai berkaca-kaca. Ia tak bisa menahannya. Hatinya benar-benar sakit. Di saat ia tengah berduka atas kematian kakeknya, suaminya sendiri malah duduk bersama wanita lain. Luhan mundur. Ia duduk di lantai yang dingin.
"Apparaghu. Ini sakit. Sangat. Tapi kau tak mengerti. Lupakanlah. Anggap saja ini hanya mimpi Xi Luhan. Aku yakin. Sehun tidak akan selingkuh dariku bukan? Dia tidak akan membuat hatiku menangis untuk yang kedua kalinya bukan?"
Luhan menundukkan kepalanya. Menahan rasa sakit yang ia rasakan. Tapi ia tetap berpegang teguh. Sehun tak akan mengkhianatinya. Sehun mencintainya. Luhan menahan isak tangis yang ia rasakan. Sangat sakit. Tak lama Sehun datang menemui Luhan. Sehun pun jongkok dan bingung melihat Luhan.
"Kau masih menangis saja?"
"Tidak. Aku lelah."
"Lelah kenapa?"
"Karena kau selalu membuatku hatiku menangis."
"Mwo?"
"Yang baru saja kau lakukan dengan Baekhyun. Itu benar. Hatiku sangat sakit." (Luhan menangis)
"Kau cemburu?"
"Geumanhae. Aku lelah. Selalu menangis setiap kali melihatmu. Aku mau pulang." (Luhan berjalan pulang meninggalkan Sehun)
Luhan berjalan pelan di depan Sehun. Luhan menghentikan jalannya. Melihat seorang yeoja berdiri di depannya. Dengan rok pendek dan jaket panjang. Yeoja itu menatap Luhan dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku tak bisa mendapatkan Oh Sehun karena kau!"
Baekhyun menampar wajah Luhan dengan kencang. Sehun pun yang semula tak peduli langsung mendekati Luhan. Luhan memegang pipinya yang terasa sakit.
"Kalau begitu ambil saja dia! Peluk dia! Aku tak butuh dia!" (Luhan berteriak sambil menangis)
"Luhan."
"Mwo?! Berhentilah berpura-pura seolah-olah kau menyayangiku! Aku tak membutuhkanmu! Pergilah!"
"Luhan."
"Pergilah! Apakah kau tak puas melihat aku seperti ini huh?! Apa yang kau mau dariku?! APA?!"
"XI LUHAN GEUMANHAE!" Sehun berteriak keras pada Luhan.
"Apa?! Hentikan apa?! Kau tahu, ini sakit lebih dari yang kau rasakan! Kau tak tahu karena kau tak merasakannya! Kau tak pernah mengerti perasaanku! Kau—"
Sehun memberikan kecupan pada bibir Luhan. Membuat Luhan terdiam dan tak bisa bergerak. Baekhyun menutup mulutnya. Kemudian berlari meninggalkan Sehun dan Luhan. Baekhyun menangis dalam kepedihan dari perjuangan cinta yang tak ada gunanya. Sehun masih mengecup bibir Luhan. Luhan berusaha untuk membuat Sehun melepaskan kecupannya. Tapi tak bisa. Tak lama Sehun pun melepaskan kecupannya, dan memeluk Luhan dengan erat. Luhan memukul-mukul punggung Sehun.
"Dengar oke, jangan pernah menangis lagi. Kalau kau menangis lagi, aku akan memberikan hukuman untukmu. Dan jangan pernah membuatku melakukan hal bodoh seperti ini lagi oke?!" Sehun berteriak marah.
Luhan menganggukkan kepalanya sambil terisak tangis. Sementara Sehun memeluk Luhan sambil mengusap embut rambut Luhan. Ouch, this is the Broken Heart.
Together with You-
