TOGETHER WITH YOU
Cast: HunHan, Baekhyun, Chanyeol
Genre: Romance, Sad(maybe?), and other
Rated: K-T (kurang lebih?)
Catatan: ini ff request temen saya, jadi temen saya HunHan shipper, so oleh sebab itu saya buat deh ni ff!
Chapter 5. Stand By Me!
Luhan menggigit jari-jari tangannya. Ia merasa ketakutan. Karena, ayahnya memarahi Sehun berulang kali. Kok Sehun dimarahin? Ya, sebab kejadian kemarin itu, ayah Luhan melihatnya. Ayah Luhan tampak geram karena Sehun mengkhianati istrinya sendiri.
"Aku pikir kau adalah anak yang baik Oh Sehun! Tapi ternyata, kau membuat anakku menderita!"
"Um, ayah mertua aku minta maaf. Ini hanya kesalah pahaman."
"Ya ayah. Aku tak menderita. Aku bahagia bersama Sehun."
"Tidak. Ayah sudah berpikir. Sehun sudah membuatmu menangis seperti itu. Akan ayah pastikan kalian akan bercerai."
"Mwo?!" teriak Sehun dan Luhan bersamaan.
"Ayah aku mohon pikirkan lagi. Aku lebih bahagia hidup dengan Sehun. Ayolah ayah!"
"Um, ayah mertua, aku akan membahagiakan Luhan dan ayah mertua. Oleh sebab itu berikan kami kesempatan kedua."
"Kesempatan kedua? Hm, kalian mau kesempatan kedua?"
"Ya!" teriak Luhan dan Sehun bersamaan.
"Kalau begitu bahagiakan ayah! Buatlah seorang bayi untuk ayah. Dan kalian akan tetap bersama."
"Mwo?!" teriak Sehun dan Luhan bersamaan.
"Kalau kalian tidak mau, silahkan tanda tangani surat perceraian ini."
Sehun dan Luhan saling bertatapan. Mereka tidak ingin cerai. Tapi mereka juga tidak ingin seorang bayi. Hmmzz, ga mau jadi ortu ya? So, sekarang mereka dalam kebingungan. Sehun menatap mata ayah Luhan dengan tajam. Kemudian Sehun berdiri dari sofanya.
"Baiklah ayah mertua! Berikan kami waktu untuk dapat menciptakan bayi untuk anda."
Sehun menarik tangan Luhan menuju kamar. Eh? Apa yang akan kalian lakukan?
.
.
.
1 hari sebelumnya~
Sehun dan Luhan terdiam di sebuah bangku di dekat karangan Bunga. Tiba-tiba Luhan menidurkan dirinya ke pundak Sehun.
"Kau tidak akan membuatku sakit hati lagi, lain kali?"
"Kau pikir aku manusia bodoh huh? Yang membuat istrinya selalu saja menangis?"
"Iya. Kau memang manusia bodoh Oh Sehun!" Luhan tertawa kecil.
"Kau menyebalkan. Tapi aku menyayangimu."
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan Baekhyun?"
"Lupakan dia. Dia hanya perusak rumah tangga orang."
Kemudian Sehun mengecup lembut dahi Luhan. Keesokan harinya, Sehun terbangun dari kasurnya. Tak ada Luhan di sampingnya. Sehun mengambil Handphonenya. Dilihatnya sebuah pesan masuk. 'Oh Sehun, siang ini aku akan datang ke rumahmu. Salam sayang, Baekhyun.' Tulis pesan tersebut. Sehun memasang wajah datarnya. Ia tak mengerti. Kenapa wanita itu masih saja mengurusi rumah tangganya. Sehun menghapus pesan tersebut. Kemudian menuju ruang makan. Luhan tampak menyajikan sepiring nasi goreng untuk Sehun.
"Aku harap kau menyukai sarapan paginya chagi!"
Sehun menatap Luhan dengan bingung.
"Chagi? Sejak kapan kau memanggilku seperti itu?"
"Sejak kau menciumku kemarin."
"Jadi kau terkesan dengan ciuman itu?"
"Entahlah, hanya,"
"Aku bisa melakukannya kapanpun."
Luhan terdiam ketika Sehun berhenti makan, dan menatap Luhan dengan tajam.
"Kau mau aku melakukannya sekarang?"
"Eh? Mwoya?! Hentikan, sudah makan saja makananmu!"
Setelah sarapan pagi, Sehun menonton televisi di apartemennya. Kemudian tiba-tiba Luhan datang dan tidur di paha Sehun. Luhan membuka sebungkus pepero rasa cokelat. Belum sempat Luhan memakan sebatang peperonya, Sehun mengambil batang pepero tersebut dari tangan Luhan. Luhan yang geram pun berusaha meraih peperonya dari Sehun."Oh Sehun berikan itu padaku!"
"Bukankah masih ada batang yang lain?"
"Aahh, ayolah Oh Sehun hentikan!"
Sehun menggigit ujung peperonya. Kemudian Luhan berusaha mendapatkan pepero yang terdapat di gigitan Sehun. Luhan tertawa karena akhirnya ia mendapatkan peperonya.
"Kau mau pepero kiss huh?" Tanya Sehun.
Luhan terdiam. Karena Sehun sedikit demi sedikit, mulai mengunyah ujung peperonya. Chu! Sehun mendapatkan bibir Luhan. Luhan memejamkan matanya. Begitu pula Sehun. Tapi kemudian, tiba-tiba bel apartemen Sehun berbunyi. Luhan berusaha melepaskan Sehun dari ciumannya. Karena tak bisa, Luhan pun akhirnya menendang perut Sehun.
"Aah!"
Sehun berteriak kesakitan. Kemudian Luhan memajang wajah kesalnya. Luhan berjalan menuju pintu apartemen. Membukakan pintu untuk tamu yang datang.
"Ya, sia-" belum selesai berbicara, Luhan kaget ketika melihat wanita yang berdiri di depannya itu Baekhyun.
"Siapa chagi?" Tanya Sehun.
"Bisa bertemu dengan Sehun?"
Mendengar pertanyaan Baekhyun Sehun melirik dan menuju pintu apartemennya. Sehun memajang wajah datar di depan Baekhyun.
"Ada apa?" Tanya Sehun datar.
"Um, pertama-tama aku ingin bilang bahwa, ya soal yang kemarin, aku benar-benar minta maaf. Xi Luhan, aku mohon, soal yang kemarin lupakan saja. Sehun adalah milikmu. Jeoseonghamnida." Ucap Baekhyun sambil menangis.
"Ada apa denganmu Baekhyun?"
Luhan dan Sehun bingung dengan sikap Baekhyun yang seperti itu. Tiba-tiba seorang pria tinggi menarik rambut Baekhyun dengan sadis. Luhan dan Sehun kaget. Yang datang adalah ayah Luhan dengan bodyguard-nya. Ayah Luhan tampak sangat marah, memasuki apartemen Sehun.
"Oh Sehun! Xi Luhan! Duduk disini."
Sehun dan Luhan pun duduk di sofa.
"Baiklah. Sekarang aku mengetahui penderitaanmu Luhan. Dan soal yang kemarin kau, Sehun, dan wanita tadi, ayah mengetahuinya. Dan ayah sangat kecewa."
Sehun dan Luhan tampak sangat ketakutan. Luhan menggigit jari-jari tangannya. Ia ketakutan. Karena, ayahnya memarahi Sehun berulang kali. Ayah Luhan tampak geram karena Sehun mengkhianati istrinya sendiri.
"Aku pikir kau adalah anak yang baik Oh Sehun! Tapi ternyata, kau membuat anakku menderita!"
"Um, ayah mertua aku minta maaf. Ini hanya kesalah pahaman."
"Ya ayah. Aku tak menderita. Aku bahagia bersama Sehun."
"Tidak. Ayah sudah berpikir. Sehun sudah membuatmu menangis seperti itu. Akan ayah pastikan kalian akan bercerai."
"Mwo?!" teriak Sehun dan Luhan bersamaan.
"Ayah aku mohon pikirkan lagi. Aku lebih bahagia hidup dengan Sehun. Ayolah ayah!"
"Um, ayah mertua, aku akan membahagiakan Luhan dan ayah mertua. Oleh sebab itu berikan kami kesempatan kedua."
"Kesempatan kedua? Hm, kalian mau kesempatan kedua?"
"Ya!" teriak Luhan dan Sehun bersamaan.
"Kalau begitu bahagiakan ayah! Buatlah seorang bayi untuk ayah. Dan kalian akan tetap bersama."
"Mwo?!" teriak Sehun dan Luhan bersamaan.
"Kalau kalian tidak mau, silahkan tanda tangani surat perceraian ini."
Sehun dan Luhan saling bertatapan. Mereka tidak ingin cerai. Tapi mereka juga tidak ingin seorang bayi. Hmmzz, ga mau jadi ortu ya? So, sekarang mereka dalam kebingungan. Sehun menatap mata ayah Luhan dengan tajam. Kemudian Sehun berdiri dari sofanya.
"Baiklah ayah mertua! Berikan kami waktu untuk dapat menciptakan bayi untuk anda."
Sehun menarik tangan Luhan menuju kamar. Eh? Apa yang akan kalian lakukan? Sehun menutup pintu kamarnya. Sehun mendorong Luhan ketembok. Jangan negative thinking ya! Luhan yang kaget pun menutup matanya.
"Buatlah cara agar ayahmu tidak meminta yang aneh-aneh."
"Eh? Tapi aku pikir itu tidak aneh. Karena sebagai ayahku, ia pasti ingin sekali memiliki cucu dariku."
"Jadi kau ingin ?" Sehun membuka satu kancing bajunya.
"Eh eh eh, aniya! Tutup bajumu Oh Sehun! Dasar pria mesum!"
"Kalau begitu pikirkan cara agar ayahmu tidak melakukan hal itu!"
"Tapi kau tak ingin pisah dariku?"
"Entahlah. Kau juga."
"Padahal dulu aku sangat membencimu."
"Dan aku sangat jijih padamu."
"Lalu kenapa kau mau menciumku? Dan menyatakan cinta padaku?"
"Entahlah. Ini aneh. Cinta yang, tiba-tiba saja datang."
Tak lama pintu kamar terketuk. Sehun dan Luhan kaget.
"Um, um. Baiklah ini rencananya. Kau tidurlah di kasur dengan posisi, ya kau tahu lah. Dan tutup matamu. Karena aku akan membuka bajuku. Sekali kau mengintip, kau akan dapat masalah! Cepat!"
Luhan mengkerucutkan bibirnya kesal. Luhan pun menutup matanya. Sementara Sehun keluar dari kamar dengan topless. Ayah Sehun tampak tersenyum pada Sehun.
"Baiklah. Lakukan dengan baik. Aku akan menunggu hasilnya besok."
Ayah Luhan langsung pergi meninggalkan apartemen Sehun. Sehun pun memasang bajunya dengan buru-buru. Setelah itu Luhan membuka matanya. Menatap sedih Sehun.
"Apakah kita akan terus saja berbohong seperti ini?"
"Berbohong apa?"
"Ya! Kita membohongi ayahku. Kita tak pernah melakukan hal seperti itu."
"Tapi kita pernah berciuman."
"Hm, berciuman."
"Ya, dan bahkan sudah 3 kali."
"Bagaimana bisa kau menghitungnya?"
"Karena itu adalah kenangan."
"Kenangan?"
"Ya. Untuk percintaan kita."
"Memangnya kita saling mencintai?"
"Kau tidak tahu Luhan? Atau hanya pura-pura tidak tahu?"
"Aku pikir cintamu padaku hanya kebohongan belaka."
Sehun mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan.
"Apakah aku perlu membuktikannya lagi? Berapa kali lagi? 1? 2? 5? 10?"
"A,aku,"
Sehun semakin dekat pada Luhan. Luhan sedikit menjauh dari Sehun. Ya, perlukah cinta Sehun di buktikan lagi Xi Luhan?
Together with You-
