TOGETHER WITH YOU

Cast: HunHan, Baekhyun, Chanyeol

Genre: Romance, Sad(maybe?), and other

Rated: K-T (kurang lebih?)

Catatan: ini ff request temen saya, jadi temen saya HunHan shipper, so oleh sebab itu saya buat deh ni ff!

Chapter 6. What is Love?

Luhan memegang segelas kecil berisi alkohol. Ia mabuk berat karena pesta yang di adakan oleh Chanyeol. Luhan tertidur di pesta. Ia tidak pulang semalaman. Tentu saja itu membuat Sehun, suaminya khawatir. Pukul 22.00, Sehun masih menunggu kedatangan Luhan. Tapi Luhan tak kunjung pulang. Sehun pun segera mengambil jaketnya. Ia berniat untuk menyusul Luhan. Sehun awalnya mengirim pesan pada Baekhyun. Bertanya apakah Luhan berada dengannya. Dan Baekhyun menjawab bahwa Luhan berada di rumah Chanyeol. Mereka sedang berpesta. Mendengar kata-kata itu, Sehun langsung bergegas menuju rumah Chanyeol. Sesampainya di pesta Chanyeol, Sehun berkeliling mencari Luhan.

"Ouch, Luhan kau dimana?" ucap Sehun tampak khawatir. Sangat.

Hingga akhirnya ia menemukan Luhan sedang meminum beberapa botol alkohol. Sehun pun berlari menuju Luhan. Menepuk punggung Luhan.

"Xi Luhan, apa yang kau lakukan?"

"Mwoya? Kau siapa?"

"Luhan, geumanhae. Jangan minum alkohol lagi. Kau sudah mabuk berat." Sehun berusaha menyingkirkan gelas dan botol alkohol Luhan.

"Eh? Kau pasti Sehun ya? Hai!"

"Xi Luhan."

"Jadi kau mencintaiku ya? Tapi kenapa? Bukankah, dulu kau bilang bahwa kau membenciku? Kenapa sekarang kau malah mencintaiku?"

Sehun terdiam ketika Luhan mengucapkan kata-kata tersebut. Ia merasa entahlah, aneh. Karena sesuatu.

.

.

.

Sehun memundurkan wajahnya. Luhan pun membuka matanya dan bingung pada Sehun.

"Aku tidak akan menciummu. Kau biasa saja. Tak perlu tegang seperti itu."

Sehun menidurkan dirinya di kasur.

"Tapi bukankah kita sudah tidur sekasur?" Tanya Luhan.

"Lalu kenapa?"

"Ya, bukankah itu dapat membuat bayi?"

Sehun memukul kepala Luhan.

"Berhentilah berbicara kau! Sudah tidur! Apa aku perlu menyanyikan lagu tidur untukmu sambil menepuk-nepuk punggungmu huh agar kau tertidur?"

"Ya, arraseo! Aku akan tidur!"

Hari berganti. Keesokan harinya, ayah Luhan datang ke apartemen Sehun. Bel apartemen Sehun tiba-tiba berbunyi. Sedangkan Luhan dan Sehun masih tertidur. Sehun terbangun, mendengar bel apartemennya berbunyi. Sehun berjalan malas mendekati pintu. Sehun membukakan pintunya. Ya, lagi-lagi Sehun tak ada perasaan kaget.

"Jadi, bagaimana semalam?"

"Semalam? Hm, entahlah. Kau bisa bertanya pada Luhan. Karena Luhan yang merasakannya."

Ayah Luhan merasa bingung.

"Luhan dimana?"

"Dia masih tidur. Mungkin lelah."

"Baiklah. Kalau begitu, telefon saja ayah oke? Jika kalian mendapatkan sebuah kabar."

Sehun mengangguk. Kemudian ayah Luhan pergi meninggalkan apartemen Sehun. Beberapa menit setelah itu, Luhan bangun dan menghampiri Sehun.

"Ayah mu tadi datang."

"Hah?! Lalu apa yang dia ucapkan?!"

"Dia bertanya, apakah semalam berjalan lancar, dan aku bilang untuk bertanya lah pada Luhan. Karena kau yang merasakannya."

"Lalu apa lagi?"

"Dia bertanya tentang kau. Dan aku bilang, bahwa kau masih tertidur."

"Haaaa, bagaimana ini? Kita sudah berbohong!"

"Tenang saja. Katakan yang sebenarnya. Bilang saja kita sudah mencoba tapi tak bisa."

"Mungkin itu memang tampak mudah bagimu dasar pria!"

Luhan memasang celemeknya. Kemudian memasakkan sarapan untuk Sehun. Sementara Sehun sibuk merapikan baju kerjanya. Sehun memakan sarapannya dengan cepat.

"Aku akan pulang awal jadi tunggu aku chagi!" Ucap Sehun sambil mencium pipi Luhan

Kemudian Luhan pun tersenyum malu. Setelah itu, Luhan segera membersihkan dapurnya. Kemudian membersih-bersihkan apartemennya. Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Sebuah panggilan dari Park Chanyeol.

"Ya, ada apa?"

"Malam ini kau ada acara tidak?"

"Um, kurasa tidak. Memangnya kenapa?"

"Aku ingin mengundangmu ke pesta ku."

"Pesta? Pesta apa?"

"Um, ini seperti reuni."

"Kau akan mengajak teman dari Cina juga?"

"Iya tentu saja."

"Um, aku bisa tapi,"

Luhan memandang foto Sehun yang berada tepat di sampingnya.

"Bagaimana?"

"Aku akan mempertimbangkan terlebih dahulu. Karena Sehun pasti menungguku di rumah."

"A, jadi kau takut soal itu."

"Tidak. Aku tidak takut hanya saja aku khawatir padanya."

"Khawatir? Memangnya dia akan melakukan apa padamu?"

"Bukan. Lupakan saja. Aku akan datang."

"Benarkah? Keputusan yang bagus Luhan! Aku akan menunggumu dah!"

Luhan menutup teleponnya. Ia menatap foto Sehun. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Waktu berlalu. Matahari sudah semakin terik. Semakin panas. Luhan baru saja pulang dari supermarket. Ia membawa banyak belanjaan. Kemudian tiba-tiba Sehun datang memasuki apartemen. Sehun terkaget melihat barang belanjaan Luhan yang begitu banyak. Sehun menatap Luhan dengan tatapan aneh.

"Kenapa chagi? Kau sudah pulang?"

"Barang-barang ini untuk siapa? Dan kenapa semuanya adalah barang bayi?" Sehun berkata sambil menunjukan sebuah baju kecil bergambar kartun yang baru saja dibeli istrinya tersebut.

"Um, entahlah. Tadi aku ke supermarket. Melihat barang-barang anak sedang promo. Dan ya, aku pikir kapan lagi ada waktu seperti ini. Jadi aku membelinya."

"Kau pikir kita akan punya anak?"

"Um molla. Aku hanya berjaga-jaga. Setidaknya kalau juga itu terjadi maka—" Sehun menutup mulut Luhan.

"Berhentilah berbicara. Saat kau berbicara itu terlihat aneh."

"Jadi kau memperhatikan cara bicaraku? Kau memperhatikan bibirku ya?" Luhan tertawa.

Sehun melirik kecil ke arah Luhan.

"Dasar kau. Sekarang kita harus menaruh semua barang itu dimana?"

"Um, chagi, bukankah ada satu kamar kosong disana? Bagaimana dibuat menjadi kamar anak?"

"Mwo? Sejak kapan kau ingin membuat anak denganku?"

"Sejak kemarin? Aku baru menyadari, bahwa keluarga yang harmonis membutuhkan anak."

"Kau baru saja mengikuti pelatihan KB-kah?"

Mendengar kata-kata Sehun, Luhan menendang kaki Sehun. Sehun menjerit kesakitan. Kemudian melirik tajam pada Luhan.

"Baiklah! Lupakan! Berikan saja peralatan bayi itu pada tetangga sebelah! Bukankah dia baru saja melahirkan anak?! Aku mau ke kamar!"

Sehun menarik tangan Luhan kemudian memeluk Luhan dengan erat.

"Baiklah terserah apa maumu. Yang terpenting tetaplah di sisiku seperti ini."

Sehun mengusap lembut rambut Luhan. Tiba-tiba handphone Luhan bergetar. Lagi-lagi, itu adalah panggilan dari Chanyeol.

"Duggu?" tanya Sehun.

"Um, bukan siapa-siapa. Nomor tidak dikenal."

"Um, benarkah? Angkat saja."

"Tak mau."

Luhan meninggalkan Sehun dan berjalan memasuki kamar mandi. Sehun memandang Luhan dengan tatapan lemah. Malam pun datang. Luhan bersiap menuju pesta Chanyeol.

"Sehun, aku akan pergi sebentar. Aku akan pulang cepat. Tolong tunggu aku ya!" ucap Luhan meninggalkan Sehun. Sehun tak menaruh rasa curiga sedikitpun. Sehun menonton tvnya. Sementara di pesta Chanyeol, Luhan kaget melihat Baekhyun ada di tempat tersebut. Chanyeol dan Baekhyun mendekat pada Luhan.

"Xi Luhan. Ini adalah Byun Baekhyun pacarku."

Luhan menatap Baekhyun dengan aneh.

"Ini pertemuan kita yang ke berapa kali ya? Sepertinya kita sudah sering bertemu. Benar bukan?"

Luhan tidak mau berjabat tangan dengan Baekhyun. Luhan berpindah tempat. Ia mengambil segelas kecil alkohol dan menenggaknya. Tanpa ia sadar ia sudah meminum lebih dari 1 botol alkohol. Luhan mabuk.

"Cinta? Aku rasa aku tak mempercayainya. Haha, Oh Sehun luar biasa dapat mencintai wanita sepertiku."

Waktu berlalu. Luhan terus saja menenggak alkoholnya. Luhan memegang segelas kecil berisi alkohol. Luhan tertidur di pesta. Ia tidak pulang semalaman. Tentu saja itu membuat Sehun, suaminya khawatir. Pukul 22.00, Sehun masih menunggu kedatangan Luhan. Tapi Luhan tak kunjung pulang. Sehun pun segera mengambil jaketnya. Ia berniat untuk menyusul Luhan. Sehun awalnya mengirim pesan pada Baekhyun. Bertanya apakah Luhan berada dengannya. Dan Baekhyun menjawab bahwa Luhan berada di rumah Chanyeol. Mereka sedang berpesta. Mendengar kata-kata itu, Sehun langsung bergegas menuju rumah Chanyeol. Sesampainya di pesta Chanyeol, Sehun berkeliling mencari Luhan.

"Ouch, Luhan kau dimana?" ucap Sehun tampak khawatir. Sangat.

Hingga akhirnya ia menemukan Luhan sedang meminum beberapa botol alkohol. Sehun pun berlari menuju Luhan. Menepuk punggung Luhan.

"Xi Luhan, apa yang kau lakukan?"

"Mwoya? Kau siapa?"

"Luhan, geumanhae. Jangan minum alkohol lagi. Kau sudah mabuk berat." Sehun berusaha menyingkirkan gelas dan botol alkohol Luhan.

"Eh? Kau pasti Sehun ya? Hai!"

"Xi Luhan."

"Jadi kau mencintaiku ya? Tapi kenapa? Bukankah, dulu kau bilang bahwa kau membenciku? Kenapa sekarang kau malah mencintaiku?"

Sehun terdiam ketika Luhan mengucapkan kata-kata tersebut. Ia merasa entahlah, aneh. Karena sesuatu.

"Hey Oh Sehun. Kau mencintaiku dengan tuluskan?"

"Geumanhae Xi Luhan. Kau mabuk."

"Aku tidak mabuk bodoh! Aku masih disini menatap matamu. Tapi dalam matamu kutemukan sebuah ketakutan. Chagi, kau menyembunyikan sesuatu dariku?"

"Xi Luhan berhentilah berbicara. Apa aku harus menutup mulutmu lagi agar kau berhenti bicara. Sikapmu aneh akhir-akhir ini. Ayo pulang."

"Oh Sehun! Jebbalhajusaeyo! Katakan yang sejujurnya! Kau mencintaiku bukan cinta kan? Kau mencintaiku hanya untuk membahagiakanku! Oh Sehun jebbal! Berhentilah berbohong!" Luhan mulai menangis di depan Sehun.

"Oh Sehun, kumohon jujurlah. Katakan yang sejujurnya. Kau mencintaiku hanya agar aku dapat bahagia. Tapi cinta yang kau berikan tidak setulus aku mencintaimu kan?! Kau tahu, aku mencintaimu. Tapi kau tak mencintaiku. Oleh sebab itu, kau berusaha untuk dapat mencintaiku. Tapi gagal bukan?! Oleh sebab itu kau memukul kaca di apartemenmu saat hari pernikahan kita! Tak apa Oh Sehun. Katakan yang sejujurnya. Aku tak butuh ciumanmu. Aku tak butuh kekayaanmu, ketampananmu! Yang aku butuhkan hanya hatimu Oh Sehun. Jebbal, berhenti berbohong seperti itu!"

Sehun meneteskan air matanya. Ia menyadari, bahwa caranya untuk mencintai itu salah. Sehun terjatuh di tanah. Semua orang yang semula tidak mengerti, langsung melirik pada Sehun dan Luhan.

"Maafkan aku Luhan. Aku hanya ingin melihatmu bahagia."

Sehun pergi keluar dari pesta meninggalkan Luhan. Luhan pun mengejar Sehun tapi tiba-tiba Luhan terpeleset di dekat kolam renang. Kemudian terjatuh ke kolam renang.

"Oh Sehun!" teriak Luhan.

Sehun pun menoleh pada Luhan. Sehun kaget ketika melihat Luhanterjatuh ke dalam ari. Sehun pun langsung membuka jaketnya dan menyelamatkan Luhan. Dengan cepat, Sehun menarik tangan Luhan dan menggendong Luhan menuju pinggir kolam. Sehun menekan dada Luhan agar air yang Luhan telan keluar. Tapi Luhan tak kunjung sadar. Sehun akhirnya memberikan nafas buatan untuk Luhan tapi tak kunjung sadar juga.

"Uh, panggil ambulan sekarang!"

Beberapa menit kemudian, ambulan segera datang dan segera membawa Luhan ke rumah sakit. Sehun menunggu di ruang tunggu. Sehun khawatir. Sangat. Ia pikir, ini semua karena nya. Seharusnya ia tidak seperti ini. Sehun menundukkan kepalanya. Ia menangis.

"Luhan. Sembuhlah. Aku janji akan belajar mencintaimu." Ucap Sehun sambil terisak tangis.

Together With You-