TOGETHER WITH YOU

Cast: HunHan, Baekhyun, Chanyeol

Genre: Romance, Sad(maybe?), and other

Rated: T (kurang lebih?)

Catatan: ini ff request temen saya, jadi temen saya HunHan shipper, so oleh sebab itu saya buat deh ni ff!

Chapter 7. Your Kiss

Luhan duduk di kasurnya sambil membaca sebuah majalah. Sehun memasuki kamar dan menidurkan dirinya di kasur. Luhan menggigit ujung lolipopnya. Kemudian menendang Sehun sehingga Sehun terjatuh ke lantai. Sehun pun menjerit kesakitan. Ia menatap Luhan dengan tatapan marah. Luhan menunjuk Sehun dengan lolipopnya.

"Kau!"

"Aku?"

"Ya tentu saja! Kau pikir siapa lagi?!"

"Ya. Kenapa?"

"Jangan pernah menyentuh kasurku oke!"

"Memangnya kenapa? Itu adalah kasurku yang aku beli sendiri. Bukan milikmu."

"Hey Oh Sehun! Bahkan aku tak tahu kalau kita sudah menikah? Aku tidak mungkin kan menikah dengan orang sepertimu?!"

"Lalu kalau kenyataannya iya?"

Luhan menatap Sehun dengan marah. Seperti anak kecil. Luhan membanting sebuah bantal ke kepala Sehun. Sehun terkena lemparan bantal tersebut. Kemudian Sehun pun mengambil bantalnya dan melemparkan Luhan dengan bantalnya. Mereka seperti ya, perang bantal.

"Hey Oh Sehun! Kau akan kalah! Kau yang akan jatuh!" teriak Luhan tertawa jahat.

Sehun tak menjawab Luhan. Sehun melangkahkan kakinya mendekati Luhan. Luhan masih saja melempari Sehun dengan bantal. Sehun mendorong badan Luhan hingga terjatuh ke kasur. Kini Sehun berada di atas badan Luhan. Luhan pun menatap Sehun dengan bingung.

"Aku tidak tahu, ada peraturan seperti ini di permainan perang bantal."

Sehun memejamkan matanya mendekatkan bibirnya ke bibir Sehun. Ya, dan Chu! Bibir mereka saling bersentuhan!

.

.

.

Beberapa hari sebelumnya~

Sehun menunggu Luhan di ruang tunggu. Tak lama, ayah Luhan dan ayah Sehun datang. Ayah Luhan segera mendatangi Sehun. Dilihatnya-ayah Luhan- Sehun sedang tertunduk sambil menangis. Ayah Luhan menghampiri Sehun sambil mengusap lembut punggung Sehun. Sehun menenggakkan kepalanya dan menatap ayah Luhan.

"Um, yah mertua, aku minta maaf. Aku tak bisa menjaga Luhan dengan baik."

"Memangnya Luhan kenapa?"

"Luhan terjatuh ke kolam renang. Aku sudah menekan dadanya agar air yang ia telan keluar. Aku juga sudah memberi nafas buatan. Tapi ia tak kunjung sadar."

Ayah Luhan dan ayah Sehun ternganga ketika mendengar bahwa Sehun telah memberikan nafas buatan untuk Luhan.

"Um, jadi bibir kalian bersentuhan?"

"Eh? Kenapa ayah mertua bertanya seperti itu?"

"Entahlah aku hanya bertanya. Kalian pernah berciuman?"

Sehun bingung dengan kata-kata ayah Luhan yang malah menanyakan soal ciuman.

"Uh? Kami berciuman? Um, itu tentu saja sering sekali ayah mertua." Jawab Sehun polos.

Ayah Luhan menelan air ludahnya. Ayah Sehun dan ayah Luhan saling bertatapan.

"Memangnya kenapa ayah mertua bertanya seperti itu?"

"Aku pikir, kalian tidak pernah romantis. Dan berhubungan seperti itu."

"Bahkan kami tidur sekasur kok ayah mertua."

Ayah Luhan semakin ternganga dan melotot pada Sehun.

"Memangnya apa salahnya suami istri berciuman dan tidur di kasur yang sama?"

"Um, tak ada. Hanya saja, bukankah kalian saling membenci? Oleh sebab itu, ayah mertua ingin kalian untuk berhubungan dan menghasilkan anak. Tapi ternyata tanpa ayah mertua menyuruh, kalian sudah melakukannya terlebih dahulu. Aku bangga padamu Oh Sehun."

Ayah Luhan mengusap kepala Sehun. Tak lama, dokter keluar dari ruangan Luhan. Sehun langsung berdiri dari bangkunya.

"Jadi bagaimana dokter?"

"Sepertinya kami menemukan benturan di kepalanya. Mungkin dia akan lupa ingatan sementara. Tidak permanen tenang saja."

"Apa lupa ingatan?"

Sehun berlari memasuki ruangan Luhan. Dilihatnya-Sehun- Luhan terbaring lemas di kasur. Sehun memandangi Luhan dengan tatapan sedih. Sehun duduk di samping Luhan.

"Ireona. Aku janji akan belajar mencintaimu." Ucap Sehun sambil mengecup kening Luhan.

Tangan Luhan memukul tangan Sehun. Sehun pun langsung melirik pada Luhan. Luhan menatap Sehun seperti tatapan orang marah. Ada apa denganmu Luhan? Sehun pun memengang wajah Luhan. Luhan bingung dan menyingkirkan tangan Sehun.

"Hey! Minggir! Kau siapa? Beraninya datang kemari?!"

"Luhan ini aku. Oh Sehun."

"Oh Sehun? Siapa kau? Aku tak pernah mengenalmu."

"Aku suami mu. Oh Sehun. O-H S-E-H-U-N. Kau lupa ingatan karena terbentur di kolam renang."

Luhan menatap Sehun dari ujung kaki sampai ujung rambut.

"Kau akan mencintaiku? Maksudnya?"

"Eh? Kau mendengarnya? Um, kau kan lupa ingatan. Aku akan menjelaskannya setelah kau ingat lagi."

"Aaa, kumohon beritahu padaku. Oh Sehun?"

"Tidak. Aku akan memberitahu jika kau ingat lagi padaku."

"Kalau begitu buat aku ingat. Bagaimana?"

Sehun menatap mata Luhan dengan jijih. Ya, sebab mata Luhan tampak meminta sebuah kasih darinya. Sehun memutar bola matanya.

"Naik ke kursi rodamu. Aku akan cerita padamu." Ucap Sehun membawakan sebuah kursi roda.

Luhan duduk di kursi roda tersebut dan tersenyum bahagia pada Sehun. Sehun mengajak Luhan berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit.

"Ini adalah sebuah cerita. Tentang suami istri yang tak saling mencintai. Di jodohkan karena bisnis. Lama-kelamaan hati sang wanita mengakui rasa cintanya pada sang pria. Tapi sang pria tidak mencintai wanita tersebut. Tapi pria tersebut juga tidak ingin si wanita bersedih. Kemudian si pria akhirnya mencoba belajar mencintai sang wanita. Tapi tak bisa. Sehingga ia hanya berpura-pura mencintai si wanita. Hingga pada suatu hari si wanita kecelakaan. Dan itu karena suaminya."

"Eit, tunggu, bagaimana bisa sang wanita kecelakaan karena si pria?"

"Kau tak mau mendengarkan ceritaku?"

"Ah, tidak tidak. Aku ingin."

"Dan, sang wanita dalam keadaan keritis. Dan saat itulah sang pria baru menyadari bahwa cara ia mencintai itu salah."

Sehun memberhentikan langkahnya. Ia memetik dua buah bunga di taman rumah sakit. Kemudian ia memberikan bunga itu pada Luhan. Luhan menatap Sehun dengan bingung.

"Ya, ini. Bunga biru ada si pria. Dan bunga merah muda adalah sang wanita."

Luhan memandangi bunga tersebut.

"Mana yang akan kau pilih? Bunga mana yang paling cantik?"

"Yang merah muda kurasa."

Sehun tersenyum di depan Luhan.

"Kalau begitu. Yang merah muda memang secantik dirimu."

Luhan terdiam saat tiba-tiba Sehun mencium keningnya. Sehun pun melanjtkan jalannya. Sehun berhenti melangkah ketika sepasang kekasih berdiri di depannya. Chanyeol dan Baekhyun.

"Ada apa lagi? Mau mengganggu keluarga kami? Aku mohon geumanhae."

"Tidak Sehunie. Aku hanya ingin memberikan seikat bunga ini pada Luhan." Ucap Chanyeol.

"Bunga untuk apa?"

"Bukankah Luhan sedang sakit? Oleh sebab itu, aku memberikan bunga ini."

"Goma—" ucap Luhan terputus.

Sehun mengambil bunga tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Luhan melirik pada Sehun. Sehun memutar arah kursi roda Luhan, kemudian langsung menuju kamar Luhan. Baekhyun menarik tangan Sehun. Sehun melirik tanpa ekspresi pada Baekhyun.

"Kami hanya berniat baik. Jadi tolong jangan salah paham."

"Pergilah. Dan urusi saja pernikahan kalian. Bukankah sudah dekat? Jangan mengurusi rumah tangga orang lain oke?"

Sehun berjalan meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun. Baekhyun merasa sedih. Ngapain sedih bacon? Sesampainya di kamar Luhan, Luhan kembali tidur di kasurnya. Sehun meninggalkan Luhan sendiri. Sehun duduk terdiam di ruang tunggu. Ia menenggakkan kepalanya dan memejamkan matanya. Tiba-tiba seseorang membangunkannya. Itu adalah Luhan.

"Oh Sehun, aku tidak bisa tidur. Rumah sakit menyeramkan."

Luhan duduk di samping Sehun sambil membawa botol infusnya. Luhan menyandarkan kepalanya di pundak Sehun.

"Kalau aku mengingatmu, apa yang akan terjadi ya?"

Sehun tak menjawab Luhan.

"Oh iya, wanita dan pria yang tadi, duggu?"

"Chanyeol dan Baekhyun."

"Mengganggu rumah tangga kita? Memangnya apa yang telah dia lakukan sampai seperti itu?"

"Dia telah membuat hati mu menangis terus. Dan membuatku khawatir karena kau."

"Eh? Maksudnya?"

"Sudah tidur saja. Ayo masuk kamar. Kau bisa kedinginan disini."

"Aniyeo. Aku sungguh hangat berada di dekatmu."

Sehun terdiam. Ketika Luhan sudah terlelap, Sehun menggendong Luhan menujukamarnya. Keesokan paginya, dokter memperbolehkan Luhan untuk pulang. Sehun menyetir mobilnya menuju apartemen. Sesampainya di apartemen, Luhan langsung mengganti bajunya dan memasuki kamar. –SKIP- malamnya, Sehun tampak sangat lelah. Sementara Luhan sedang membaca majalahnya di kamar Sehun sambil memakan sebuah lolipop. Sehun memasuki kamar dan menidurkan dirinya di kasur. Luhan menggigit ujung lolipopnya. Kemudian menendang Sehun sehingga Sehun terjatuh ke lantai. Sehun pun menjerit kesakitan. Ia menatap Luhan dengan tatapan marah. Luhan menunjuk Sehun dengan lolipopnya.

"Kau!"

"Aku?"

"Ya tentu saja! Kau pikir siapa lagi?!"

"Ya. Kenapa?"

"Jangan pernah menyentuh kasurku oke!"

"Memangnya kenapa? Itu adalah kasurku yang aku beli sendiri. Bukan milikmu."

"Hey Oh Sehun! Bahkan aku tak tahu kalau kita sudah menikah? Aku tidak mungkin kan menikah dengan orang sepertimu?!"

"Lalu kalau kenyataannya iya?"

Luhan menatap Sehun dengan marah. Seperti anak kecil. Luhan membanting sebuah bantal ke kepala Sehun. Sehun terkena lemparan bantal tersebut. Kemudian Sehun pun mengambil bantalnya dan melemparkan Luhan dengan bantalnya. Mereka seperti ya, perang bantal.

"Hey Oh Sehun! Kau akan kalah! Kau yang akan jatuh!" teriak Luhan tertawa jahat.

Sehun tak menjawab Luhan. Sehun melangkahkan kakinya mendekati Luhan. Luhan masih saja melempari Sehun dengan bantal. Sehun mendorong badan Luhan hingga terjatuh ke kasur. Kini Sehun berada di atas badan Luhan. Luhan pun menatap Sehun dengan bingung.

"Aku tidak tahu, ada peraturan seperti ini di permainan perang bantal."

Sehun memejamkan matanya mendekatkan bibirnya ke bibir Sehun. Ya, dan Chu! Bibir mereka saling bersentuhan! Luhan pun memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian, Sehun melepaskan ciumannya. Menatap Luhan dekat-dekat.

"Apa yang akan kau lakukan Oh Sehun?"

"Aku hanya berusaha membuatmu ingat."

Luhan terdiam. Tiba-tiba entahlah kepalanya terasa pusing.

"Kau ingatkah tentang ciuman kita?"

Luhan memegang kepalanya yang terasa pusing. Sehun bangun.

"A,"

Luhan tampak mengingat sebuah kenangan. Kenangan yang sering Sehun bilang.

"Ya, dan bahkan sudah 3 kali."

"Bagaimana bisa kau menghitungnya?"

"Karena itu adalah kenangan."

"Kenangan?"

"Ya. Untuk percintaan kita."

Sehun memberikan sebuah kecupan manis ke bibir Luhan.

"Um Sehun. Sudah berapa kali kita berciuman?" ucap Luhan tiba-tiba.

"Eh? Kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Entahlah. Tiba-tiba saja aku berpikir tentang kau. Sebelumnya, kita pernah berhubungankah?"

"Luhan, apa yang sedang kau bicarakan?"

"Kau menyukaiku kan?"

"Xi Luhan."

"Oleh sebab itu kau memberikan kecupan ini? Kau menyukaiku tapi tak mencintaiku?"

"Xi Luhan."

"Oh Sehun! Itu benarkan?!"

"Kau mengingatnya?"

"Kalau kau menyukaiku, maka apa yang kau suka dariku huh?! Kau suka bibirku?"

"Xi Luhan geumanhae."

"Kau tak menyukai hatiku. Kau hanya melihatku dari luar!"

"Xi Luhan."

Luhan mendekati Sehun dan mencium bibir Sehun. Sangat lembut. Benar-benar malam yang aneh. Ciuman itu bagaikan pemenyatu mereka. Ciuman sebagai pemenyatu cinta? Apakah hati bukan lagi sebagai pemenyatu cinta?

Together With You-