TOGETHER WITH YOU
Cast: HunHan, Baekhyun, Chanyeol
Genre: Romance, Sad(maybe?), and other
Rated: T (kurang lebih?)
Catatan: ini ff request temen saya, jadi temen saya HunHan shipper, so oleh sebab itu saya buat deh ni ff!
Chapter 8. Because I Love You
Luhan berjalan menuruni bisnya. Ia tampak lelah karena yang Sehun lakukan semalam. Luhan tertunduk lesu. Karena merasa lelah, Luhan duduk di sebuah halte. Ia menengok ke arah jam tangannya. Di jam tersebut, menunjukkan pukul 3 sore. Luhan memejamkan matanya. Tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya. Luhan melirik. Matanya melotot kaget. Ketika menatap seorang pria berdiri di sampingnya. Pria itu pun duduk di samping Luhan.
"Kau ingat aku bukan?"
"Ya. K-kau adalah,"
"Benar. Aku Wu Yi Fan."
Luhan ternganga kaget. Setelah kurang lebih 2 tahun ia tak bertemu dengan Yi Fan. Tiba-tiba saja ia bertemu dengannya di negara yang bukanlah tempat lahir mereka. Yi Fan tersenyum manis pada Luhan sedangkan Luhan masih ternganga pada Yi Fan.
.
.
.
1 hari sebelumnya~
Luhan terjatuh di kasur. Dan kini Sehun berada di atas badan Luhan. Sehun terus melumat bibir Luhan. Begitupun Luhan. Ia membalas lumatan bibir Sehun. Sehun perlahan melepas kecupannya. Beralih ke leher Luhan. Sehun membuat sebuah kissmark pada leher Luhan. Semulanya Luhan ingin menghindar. Tapi Sehun terus saja menciumi Luhan. Sehun berhenti. Ia tidur di samping Luhan.
"Kau, apa yang baru saja kau lakukan Oh Sehun?"
"Kau yang memintaku melakukannya."
"Tapi kau melakukannya dengan sempurna. Kau belajar dari siapa? Kau pernah memiliki wanita lain?"
"Yang benar saja. Kau satu-satunya wanita yang beruntung karena mendapatkan bibirku."
"Beruntung apanya? Kau yang beruntung!"
"Aku?"
"Ya! Karena kau mendapatkan bibir seksiku!"
"Haish, mwoya."
"Kau kalah Oh Sehun."
"Tidak aku tidak kalah."
"Ya, kau!"
Sehun menatap Luhan dekat-dekat. Kemudian ia menarik selimutnya. Dan mengajak Luhan masuk ke dalam selimut tersebut. Woah, apa yang akan kalian lakukan? Keesokan harinya, Luhan dan Sehun bangun kesiangan. Sehun yang pertama kali bangun. Ia melirik sedikit pada Luhan. Kemudian Sehun menuju kamar mandi. Ia segera mengguyur air ke tubuhnya. Ia menatap dirinya di cermin. Ia memegang bibirnya. Mengingat ciuman indah semalam.
"Ya, aku luar biasa."
Tak lama pintu kamar mandi terketuk.
"Chagi, kau di dalam?"
Sehun langsung memakai handuknya. Kemudian membukakan pintu kamar mandi. Sehun berjalan keluar dari kamar mandi meninggalkan Luhan. Dengan muka datar. Luhan memasang wajah kesalnya. Kemudian langsung mengambil handuknya dan memasuki kamar mandi. Sehun segera memakai kemejanya. Kemudian ia duduk di ruang keluarga sambil memakan sepotong roti. Tiba-tiba handphone Luhan berbunyi. Telefon dari nomor tak dikenal. Sehun mengangkat telefon tersebut.
"Ne. Yeoboseo?"
"Ini Luhankah?"
"Ya, ini handphone Luhan. Ada apa?"
"Aku Wu Yi Fan. Bisa hubungkan dengan Luhan?"
Sehun terdiam. Tampaknya ia pernah mendengar nama orang tersebut. Tapi siapa? Sehun tercekat. Ia mengingatnya. Wu Yi Fan adalah cinta pertama Luhan. Ya, Luhan pernah cerita sebelumnya. Sehun menutup telefon tersebut.
"Telefon dari siapa chagi?" terdengar suara Luhan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Bukan siapa-siapa. Hanya ayahmu."
Sehun langsung melahap habis rotinya. Kemudian segera mengambil kunci mobilnya dan pergi. Luhan menatap Sehun dengan bingung. Sehun tak pernah seaneh ini. Sementara di sisi Yi Fan, ia tengah berada di bandara Incheon. Ia duduk di salah satu bangku kosong. Kemudian meminum sebotol minuman ringan. Ia memandang sebuah foto. Yang tidak asing lagi. Itu adalah Luhan.
"Aku rasa sudah salah karena menyia-nyiakan dirimu dulu. Mungkin seharusnya aku mencintaimu. Beginilah ucapan hatiku."
Yi Fan memandangi sekeliling. Kemudian berdiri dari bangkunya. Kemudian berjalan menaiki sebuah taksi.
"Um, permisi. Bisa antarkan aku ke hotel dekat sini? Aku rasa aku ingin istirahat."
"Baiklah."
Yi Fan memasuki sebuah hotel bintang lima. Di pesannya sebuah kamar hotel. Dia akan menginap di Korea beberapa minggu. Ia menaruh tasnya di lantai kamar. Kemudian ia menidurkan dirinya di kasur. Sekarang ia merasakan. Betapa sakitnya hati Luhan saat itu. Yi Fan meneteskan air matanya. Entahlah. Wu Yi Fan, kau menangis? Sementara Luhan memutar-mutar handphonenya. Ia mencari sinyal untuk video call dengan Sehun. Tak lama sinyal di handphonenya muncul. Luhan berteriak girang. Kemudian langsung menelpon Sehun.
Drrtt drrrtt..
"Mwo?"
"Chagi! Kau sedang apa? Aku rasa aku bosan. Jadi aku menelponmu."
"Bodoh. Yang benar saja. Untung saja aku sedang istirahat."
"Hey, tapi kau senang kan aku menelponmu?"
"Senang? Hm, entahlah. Sedikit."
"Hey chagi. Apakah kita tidak mempunyai topik lain untuk dibicarakan?" tanya Sehun mengalihkan pembicaraan.
"Um, tidak tahu."
"Soal tadi malam,"
"Ya chagi! Aku menyukainya!"
"Eh?"
"Ciumanmu itu sangat lembut. Ouch, Tuhan, aku hampir saja mabuk karena ciumanmu. Dan juga, kissmark mu masih menempel di leherku. Membiru."
"Ouch, apakah aku memberikan kissmark terlalu keras?"
"Ah, aniya. Justru luar biasa."
Sehun mengangguk. Kemudian ia teringat soal Yi Fan.
"Um, Luhan, ada yang ingin aku bicarakan."
"Apa itu? Bicaralah."
"Wu Yi Fan, cinta pertamamu. Benarkan?"
"Kau ini ada apa sih chagi? Tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Benarkan?"
"Um, ya. Tapi itu masa lalu. Lagipula dia sudah punya wanita lain. Dan aku juga sudah milikmu."
Sehun terdiam. Tak menjawab kata-kata Luhan.
"Um, yeoboseo? Chagi? Kau tak apa?"
Sehun menekan tombol merah di layar hpnya. Tanda mematikan telepon dari Luhan. Sehun memasang wajah cemasnya.
"Ouch, ayolah. Luhan tidak akan berpaling dariku. Luhan adalah milikku. Oke. Percaya saja Oh Sehun."
Sehun menenangkan dirinya. Sementara Luhan bingung dengan perlakuan Sehun tersebut. Luhan berjalan menuju kulkas. Dilihatnya kulkas tampak sepi. Kemudian ia mengambil catatannya. Dan langsung pergi menuju supermarket. Luhan memilih-milih banyak sayuran dan buah-buahan. Sementara Yi Fan juga tengah berbelanja di supermarket tempat Luhan berbelanja. Yi Fan tercekat kaget. Ia melihat Luhan tampak sedang memilih-milih. Yi Fan pun mengikuti Luhan dari belakang. Seketika, Luhan sampai di tempat kasir. Ia membayar semua belanjaannya. Kemudian berjalan keluar supermarket dan menuju halte bis. Luhan duduk di salah satu bangku kosong. Yi Fan duduk tepat di belakang Luhan. Tapi Luhan tak menyadarinya. Luhan tiba-tiba merasa lelah. Entahlah. Mungkin efek yang semalam mereka lakukan. Apalagi saat Sehun menarik selimutnya. Luhan memegang kehernya. Terasa pegal. Kemudian bis pun berhenti. Luhan berjalan menuruni bisnya. Luhan tertunduk lesu. Karena merasa lelah, Luhan duduk di sebuah halte. Ia menengok ke arah jam tangannya. Di jam tersebut, menunjukkan pukul 3 sore. Luhan memejamkan matanya. Tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya. Luhan melirik. Matanya melotot kaget. Ketika menatap seorang pria berdiri di sampingnya. Pria itu pun duduk di samping Luhan.
"Kau ingat aku bukan?"
"Ya. K-kau adalah,"
"Benar. Aku Wu Yi Fan."
Luhan ternganga kaget. Setelah kurang lebih 2 tahun ia tak bertemu dengan Yi Fan. Tiba-tiba saja ia bertemu dengannya di negara yang bukanlah tempat lahir mereka. Yi Fan tersenyum manis pada Luhan sedangkan Luhan masih ternganga pada Yi Fan. Sementara di sisi Sehun, Sehun buru-buru berlari mencari Luhan. Setelah berpikir menenangkan dirinya, Sehun tak bisa. Ia tak bisa diam saja ketika cinta pertama Luhan datang dan mencari Luhan. Ia tak mau Luhan di rebut. Sehun mengirim pesan berulang kali ke handphone Luhan. Juga telepon. Tapi Luhan tidak menjawabnya. Sehun menaiki mobilnya. Ia menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia pergi menuju apartemennya. Dilihatnya sebuah memo. 'Chagi, aku ke supermarket sebentar. Membeli beberapa sayuran dan buah. Aku akan segera pulang.' Tulis Luhan di memo tersebut. Sehun berlari lagi menaiki mobilnya kemudian mencari Luhan ke supermarket yang biasa Luhan datangi. Sementara di sisi Luhan ia masih terdiam. Itu adalah rasa sakit, entah bahagia. Mata Luhan berkaca-kaca. Kemudian setetes air mata membasahi pipinya. Yi Fan tersontak kaget dan mengusap lembut pipi Luhan. Luhan geumanhae! Nanti Sehun dateng! Luhan masih terdiam. Dalam pandangan kosong. Yang ada di benaknya hanyalah sebuah kenangan. Kenangan indah dan buruk yang dibuat oleh Yi Fan. Tak lama Sehun berhasil menemukan Luhan. Awalnya ia tersenyum bahagia, tapi, ketika ia melihat Yi Fan tengah mengusap pipi Luhan Sehun terkaget.
Crek
Sehun hanya memandangi dari jauh. Ia ingin melihat apa reaksi Luhan selanjutnya. Luhan kemudian menyingkirkan tangan Yi Fan dari pipinya. Luhan masih teringat akan kenangan buruk tentang Yi Fan.
"Xi Luhan, aku mohon. Dengarkan aku oke, aku mencintaimu. Dan dulu aku salah. Aku mohon kembalilah padaku."
"Apa? Kembali? Kau pikir aku ini apa?! Aku bukanlah sebuah tisu, yang bisa kau pakai kapanpun, dan kau buang kapanpun juga! Aku bukan seperti itu Yi Fan." Luhan menangis.
"Aku mohon Xi Luhan. Aku mohon."
Luhan berjalan menyebrangi jalan. Ia tidak tahu ada sebuah mobil berkecepatan tinggi melintas di sampingnya. Sehun pun langsung berlari mengejar Luhan dan melindungi Luhan.
Bruk.
Sehun dan Luhan tertabrak mobil bersamaan. Orang-orang berkumpul di dekat kecelakaan tersebut. Kemudian beberapa menit kemudian, mobil ambulan datang dan segera membawa Sehun dan Luhan ke rumah sakit. Mereka langsung dilarikan ke UGD. Dengan cekatan para dokter menangani Sehun dan Luhan. Di sisi Sehun, ia tampak terkena luka parah di tubuhnya. Sementara di sisi Luhan, ia tampak tidak begitu parah. Karena ia terlindungi Sehun. Detak jantung Luhan sudah mulai normal dan dapat di bwa ke ruang perawatan biasa. Sementara Sehun masih dalam keadaan kritis. Detak jantung Sehun pun masih belum stabil. Sehun juga kehilangan banyak darah dalam kecelakaan tersebut. Para ahli medis pun segera membawa Sehun ke ruang ICU. Beberapa jam kemudian, Luhan sadar. Ia melihat ke sekelilingnya. Dilihatnya ayahnya sedang menunggunya di ruangan tersebut.
"Ayah, Sehun dimana?"
"Oh, anakku kau sudah sadar."
"Sehun, dia ada dimana? Apakah dia baik-baik saja?"
"Um, karena dia yang melindungimu dari belakang, jadi dia yang terkena tabrakan mobil secara langsung. Dia kristis. Dia di ICU sekarang."
"Mwo?! Andwe! Aku harus ke sana sekarang juga ayah."
"Tidak Luhan tidurlah kau masih sakit."
"Tidak ayah. Sehun yang sedang sakit aku harus menemuinya."
Luhan berjalan menuju ruang ICU dan mendekat pada Sehun. Sehun tampak terbaring lemas. Dengan selang oksigen menempel di mulut dan hidungnya. Begitu juga dengan dua infus yang melekat di tangannya. Yang satu adalah saluran cairan darah, dan yang satu lagi merupakan cairan botol infus RL. Luhan tertunduk menangsi di samping Sehun.
"Oh Sehun. Berhentilah tertidur seperti ini. Geumanhae bangunlah!"
Luhan terus menangis di samping Sehun. Beberapa jam kemudian, Sehun tersadar. Perlahan ia melirik pada Luhan. Ia heran melihat Luhan yang tertidur sambil bergumam. Entahlah, mungkin karena lelah menangis, jadi Luhan tertidur di samping Sehun.
"Oh Sehun bangunlah. Kau tak boleh seperti ini."
Sehun menggerakkan tanggannya. Mengusap lembut rambut Luhan. Tapi Luhan masih saja tertidur. Lalu seorang perawat dan dokter pun datang. Ia mengecek keadaan Sehun. Kemudian melepaskan selang oksigen dari mulut dan hidung Sehun.
"Pernapasanmu sudah berjalan lancar. Kau bisa bernafas lega."
Mendengar suara dokter tersebut, Luhan terbangun. Kemudian menatap Sehun dengan tatapan bahagia. Luhan pun langsung memeluk Sehun senang.
"Oh Sehun, kau sudah menyelamatkanku. Gomawo."
Sehun menangguk sambil tersenyum.
"Tetaplah di pelukanku seperti ini." Ucap Sehun sambil memeluk Luhan. Sementara Yi Fan memasuki ruang ICU dan mendekati Sehun.
"Jadi kau suami Luhan?"
"Ya. Itu aku. Oh Sehun."
"Um, aku minta maaf. Aku hanya, um mencintainya."
"Kalau kau mencintainya, aku tidak akan memberikannya untukmu. Karena kau bukanlah pria yang baik. Aku tidak akan memberikan wanita tercintaku pada pria yang suka bermain wanita. Dan kalaupun kau pria yang baik, masa lalu mu begitu jahat. Sehingga kau tak pantas mendapatkan wanita seperti Luhan. Tak bisakah kau mencari wanita lain? Karena dia sudah disahkan menjadi milikku."
Yi Fan tertunduk malu.
"Maafkan aku. Oh Sehun."
Sehun dan Yi Fan berjabat tangan. Mereka saling memaafkan. Sungguh hari yang luar biasa. Cinta ini, berjalan sesuai rencana Tuhan.
Together With You-
