TOGETHER WITH YOU

Cast: HunHan, Baekhyun, Chanyeol

Genre: Romance, Sad(maybe?), and other

Rated: T (kurang lebih?)

Catatan: ini ff request temen saya, jadi temen saya HunHan shipper, so oleh sebab itu saya buat deh ni ff!

Chapter 9. Miracle in December

Sehun tampak sedang tertidur di kasurnya. Ia tertidur sendirian di kasurnya yang cukup besar tersebut. Alarm di jamnya sudah berbunyi satu jam yang lalu. Salju tebal nan dingin masih menyelimuti kota Seoul di pagi hari itu. Perlahan Sehun membuka matanya dengan sayu. Ia membuka jendela apartemennya perlahan. Sebutir salju jatuh di jarinya. Sehun tersenyum. Kemudian ia berjalan menuju lobby apartemen. Ia duduk di sofa sambil memakan sepotong roti yang ia beli di lobby. Ia memainkan handphonenya. Masih terpampang sebuah kenangan. Kenangan indahnya dengan Luhan. Sehun melahap rotinya sampai habis. Ia berjalan-jalan di taman apartemennya. Ia memasang headseat-nya kemudian mulai berlari pagi. Tiba-tiba langkahnya berhenti ketika ia melihat sepasang kekasih sedang jalan pagi bersama. Ouch, sepertinya Sehun akan menangis. Perlahan setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ia duduk lemas di bangku taman tersebut. Sehun membuka handphonenya. Ia tampak sedih memandangi sebuah foto di depannya. Itu adalah fotonya dengan Luhan. Sehun terisak dalam tangisnya. Hujan air mata membasahi pipinya. Tiba-tiba sebuah sapu tangan muncul di hadapannya. Sehun mengusap air matanya dan menatap orang tersebut. Sehun terdiam layaknya patung. Ia mengusap-usap matanya berulang kali.

"Oh Sehun, kenapa kau menangis?"

"Um,"

"Sehunie, kau merindukanku eoh?"

Sehun terdiam tak menjawab perkataan orang tersebut.

"Sehunie?"

Lagi-lagi Sehun terdiam.

"Oh Sehun! Ini aku! Chagi! Jangan terbengong seperti itu!"

"Luhan, aku hanya,"

"Chagi, kau tak apa?"

Luhan memegang pipi Sehun dengan lembut. Sehun ternganga pada Luhan. Sehun tak pernah menyangka, Luhan akan pulang ke Korea secepat ini.

.

.

.

Sudah dua minggu Luhan menunggu Sehun di rumah sakit. Sementara Luhan sendiri sudah di perbolehkan pulang beberapa hari yang lalu. Hari ini, Sehun di ijinkan pulang dari rumah sakit. Sehun dan Luhan pulang menggunakan mobil ayah Luhan. Di sepanjang perjalanan, Sehun terus memandang ke arah luar jendela. Sehun terus memandangi hujan yang membasahi kota Seoul tersebut. Luhan melirik ke arah Sehun. Luhan mengkerucutkan jidatnya, kemudian ia menidurkan kepalanya ke pundak Sehun. Sehun melirik sedikit pada Luhan.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

"Aku? Bersandar di pundakmu."

"Kenapa kau seperti ini?"

"Karena aku merindukanmu."

"Apa yang sebenarnya sedang kau bicarkan?"

"Aku rindu berada di pelukanmu seperti ini."

"Minggirlah. Kepalamu berat."

Sehun berusaha menyingkirkan kepala Luhan. Luhan tampak kesal pada Sehun.

"Baiklah! Lupakan saja."

Luhan memandang ke arah luar jendela. Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Luhan buru-buru mengambil handphonenya. Dilihatnya sebuah pesan. Itu adalah sebuah pesan dari dosennya. Ia kaget ketika membaca bahwa ia mendapat kesempatan untuk gratis melanjutkan kuliahnya sampai tingkat tertinggi. Luhan tersenyum bahagia. Kemudian Luhan sedikit melirik ke arah Sehun. Luhan tampak sedang berpikir. Jika ia kembali kuliah, maka siapa yang akan menjaga Sehun? Siapa yang akan menemani Sehun setiap harinya? Bagaimana kalau si Baekhyun itu datang lagi? Pikiran Luhan penuh dengan kekhawatiran. Kemudian sebuah pesan masuk lagi ke handphonenya. Di situ bertuliskan jika Luhan ingin mengikutinya, maka harus secepatnya. Luhan berpikir sangat keras. Sesampainya di apartemen, Sehun membuka kaos yang ia pakai. Luhan memperhatikan Sehun dari belakang. Luhan menatap Sehun dengan tatapan penuh kekhawatiran. Kemudian tiba-tiba Sehun menyenggol sebuah vas bunga di sebelahnya. Sehun berusaha membereskan pecahan vas bunga tersebut. Luhan pun kaget. Karena ternyata tangan Sehun justru tergores pecahan vas tersebut. Luhan dengan cepat berlari mendekati Sehun sambil membawa kotak berisi obat merah, kapas, dan alkohol. Luhan dengan cepat mengangkat tangan Sehun dan membalutnya dengan kapas. Sehun terdiam melihat Luhan yang sangat cekatan.

"Sehunie, jangan pernah melukai dirimu seperti ini."

"Aku tidak menyakiti diriku. Ini hanya kecelakaan."

"Tapi lihatlah! Ini berdarah! Untung saja tidak mengenai nadimu!"

"Luhan, kau kenapa?"

"Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri! Coba saja kalau aku tidak disini?!"

"Xi Luhan."

"Berhenti memanggil namaku. Aku akan berusaha menghentikan pendarahannya. Um, aku akan mengambil tisu. Kau diamlah disini oke?"

Luhan berlari mengambil tisu di ruang keluarga, kemudian ia kembali lagi ke hadapan Sehun dan membalut tangannya.

"Luhan, sejak kapan kau begitu peduli padaku?"

"Haish! Kau ini suamiku! Tentu saja aku harus memperdulikan dirimu!"

"Luhan sudah hentikan. Nanti juga berhenti sendiri."

"Berhenti sendiri apanya? Bagaimana kalau kau kehabisan darah?!"

"Kehabisan darah apanya? Kau hanya berlebihan. Sudahlah. Aku tak apa."

"Sehunie, aku hanya tak ingin dirimu dalam bahaya."

"Eh?"

"Baiklah, aku akan jujur. Aku mendapat tawaran untuk melanjutkan kuliah lagi."

"Kalau begitu, lanjutkan kuliah mu."

"Tapi, bagaimana kalau nanti kau dalam bahaya? Bagaimana kalau Byun Baekhyun datang lagi huh?"

"Ha?"

"Iya! Aku akan pergi lama! Aku tak bisa meninggalkanmu seperti ini."

"Aku baik-baik saja. Aku yakin."

Sehun menggenggam tangan Luhan. Kemudian menatap Luhan dekat-dekat dan memeluknya. Luhan terdiam dalam pelukan Sehun.

"Lakukan yang terbaik untuk masa depanmu. Aku akan menunggu untukmu. Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menjaga diriku dengan baik."

Luhan terdiam dalam pelukan Sehun. Ia berpikir lagi. Apa? Sehun mengijinkannya? Luhan mencoba berpikir tentang resiko yang akan terjadi selanjutnya. Tapi selalu tidak bisa. Selalu saja ada alasan untuk meneruskan kuliahnya. Kemudian Luhan melepaskan pelukan Sehun.

"Ya, kalau begitu, aku akan berangkat ke airport besok pagi. Tolong penuhi janjimu Oh Sehun."

"Ne, aku mengerti."

Sehun terus memeluk Luhan dengan lembut. Besok paginya, Sehun mengantarkan Luhan menuju airport. Luhan tampak menundukkan kepalanya sedih. Kemudian ia menangis sambil memeluk Sehun.

"Sehunie, aku akan kembali. Tolong berjanjilah untukku. Aku akan merindukanmu."

Kemudian Luhan melepaskan pelukannya. Sehun mengangguk pada Luhan. Kemudian Luhan melepaskan genggaman tangannya, berjalan menuju pesawat, meninggalkan Sehun. Sehun menatap Luhan dengan tatapan datar di belakang. Setelah Luhan tak tampak lagi dari pandangannya, ia langsung berjalan menaiki mobilnya. Sepanjang perjalanan tampak ia sedang memikirkan Luhan. Sementara Luhan terus memandangi layar Handphonenya. Masih terpampang foto Sehun disana. Kemudian Luhan mematikan handphonenya. Ia tak ingin terus saja sedih karena Sehun. Luhan pun memejamkan matanya. Ia berusaha tertidur melupakan hal yang terjadi. Sementara Sehun merasa bosan di apartemennya. Sehun tampak tiduran bolak balik berulang kali di kasurnya. Sesekali, Sehun menatap foto kenangan indahnya dengan Luhan. Waktu berlalu cepat. Hari-hari Sehun benar-benar membosankan. Sementara Luhan terus saja terfokus pada kuliahnya. Suatu hari, Luhan pulang sore dari kampusnya. Ia menatap kalender di kamarnya. Bertuliskan tanggal 24 Desember 2016. Luhan terkaget dan langsung menatap kalendernya dekat-dekat.

"Sesaat lagi natal? Ouch, aku tak akan meninggalkan Sehun sendirian di natal tahun inikan?"

Luhan terdiam memandangi kalendernya. Ia harus mengambil cuti. Luhan pun berlari menemui dosennya.

"O, ayolah pak. Ku mohon. Aku tak bisa meninggalkan suamiku di Korea sendiri."

"Tapi ini sudah peraturan Xi Luhan."

"Ouch, pak aku mohon. Ini hanya ke negara tetangga saja."

"Kalau kau masih memaksa, maka tinggalkanlah kuliahmu. Silahkan pilih. Suamimu atau kuliahmu."

Luhan terdiam. Ia tak menjawab ucapan dosennya. Ia masih berpikir panjang soal Sehun. Luhan membuka handphonenya. Memandang foto Sehun. Kemudian ia memandang ke luar jendela. Salju mulai turun di Cina. Luhan dalam kebingungan. Ia berpikir sangat keras.

"Kalau begitu, putuskan saja kuliahku. Kalau aku tetap tak bisa bertemu dengan suamiku sendiri di hari besar, untuk apalah gunanya. Tolong sampaikan, aku akan berhenti. Aku masih memiliki tanggung jawab sebagai istri seorang Oh Sehun."

Luhan berjalan menuju kamarnya. Ia membereskan semua barang-barangnya. Kemudian segera menaiki taksi menuju airport. Karena turun badai salju, penerbangan di tunda sampai besok pagi. Luhan terpaksa kembali menuju rumahnya, dan harus pergi ke bandara keesokan harinya. Keesokan harinya, di pagi hari yang masih di selimuti salju tebal, Luhan pergi menuju bandara. Ia menaiki sebuah pesawat jurusan Seoul. Sesampainya di sana, ia menaiki sebuah taksi menuju apartemen Sehun. Sehun tampak sedang tertidur di kasurnya. Ia tertidur sendirian di kasurnya yang cukup besar tersebut. Alarm di jamnya sudah berbunyi satu jam yang lalu. Salju tebal nan dingin masih menyelimuti kota Seoul di pagi hari itu. Perlahan Sehun membuka matanya dengan sayu. Ia membuka jendela apartemennya perlahan. Sebutir salju jatuh di jarinya. Sehun tersenyum. Kemudian ia berjalan menuju lobby apartemen. Ia duduk di sofa sambil memakan sepotong roti yang ia beli di lobby. Ia memainkan handphonenya. Masih terpampang sebuah kenangan. Kenangan indahnya dengan Luhan. Sehun melahap rotinya sampai habis. Ia berjalan-jalan di taman apartemennya. Sementara Luhan berjalan dengan tatapan penuh kebahagiaan. Ia menyususri taman mencari Sehun. Karena ia tahu, setiap hari libur pagi, Sehun akan berkeliling mengelilingi taman apartemen. Sehun memasang headseat-nya kemudian mulai berlari pagi. Tiba-tiba langkahnya berhenti ketika ia melihat sepasang kekasih sedang jalan pagi bersama. Ouch, sepertinya Sehun akan menangis. Perlahan setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ia duduk lemas di bangku taman tersebut. Luhan pun menghentikan langkah berjalannya. Tatapannya yang semula bahagia, menjadi sedikit muram. Sehun membuka handphonenya. Ia tampak sedih memandangi sebuah foto di depannya. Itu adalah fotonya dengan Luhan. Sehun terisak dalam tangisnya. Hujan air mata membasahi pipinya. Kemudian Luhan berjalan mendekati Sehun. Luhan memberikan sebuah sapu tangan pada Sehun. Sehun kaget. Sehun mengusap air matanya dan menatap Luhan. Sehun terdiam layaknya patung. Ia mengusap-usap matanya berulang kali.

"Oh Sehun, kenapa kau menangis?"

"Um,"

"Sehunie, kau merindukanku eoh?"

Sehun terdiam tak menjawab perkataan orang tersebut.

"Sehunie?"

Lagi-lagi Sehun terdiam.

"Oh Sehun! Ini aku! Chagi! Jangan terbengong seperti itu!"

"Luhan, aku hanya,"

"Chagi, kau tak apa?"

Luhan memegang pipi Sehun dengan lembut. Sehun ternganga pada Luhan. Sehun tak pernah menyangka, Luhan akan pulang ke Korea secepat ini. Sehun ternganga. Kemudian Luhan memeluk Sehun dengan lembut.

"Sehunie, bogosipeo."

"Bagaimana dengan kuliahmu?"

"Aku menghentikannya."

"Kenapa?"

"Untukmu. Semuanya ku lakukan untukmu."

Sehun terdiam. Luhan mencium keningnya. Ini, bagaikan mimpi bagi Sehun. Waktu seperti berhenti untuk mereka. Benar-benar waktunya yang indah. Miracle in December.

Sehun POV

Thanks God.

.

.

.

Together With You-