TOGETHER WITH YOU
Cast: HunHan, Baekhyun, Chanyeol
Genre: Romance, Sad(maybe?), and other
Rated: T (kurang lebih?)
Catatan: ini ff request temen saya, jadi temen saya HunHan shipper, so oleh sebab itu saya buat deh ni ff!
Chapter 11. Call me Appa!
Sehun duduk di sebuah bangku di rumah sakit. Ia tertunduk lemas. Pikirannya campur aduk. Antara khawatir, takut, senang, sedih, bahkan kecewa. Entahlah, Sehun hanya merasa seperti itu karena Luhan sedang dalam ruang operasi. Dokter bilang, Luhan tidak bisa lahir normal. Karena tensi darahnya terlalu tinggi. Sehun menyesal akan yang baru saja ia lakukan dengan Baekhyun beberapa menit yang lalu. Yap, sebenarnya, beberapa menit yang lalu, Baekhyun datang ke rumah Sehun. Kemudian memberikan seikat bunga pada Sehun. Awalnya Sehun tampak biasa saja. Tapi tiba-tiba Baekhyun mengecup pipinya. Tanpa sepengetahuan Sehun, ternyata Luhan memperhatikan dari belakang. Luhan dengan tatapan hampir menangis, menampar wajah Sehun. Luhan marah. Kemudian tiba-tiba perut Luhan terasa sakit. Memang sudah 9 bulan. Dan merupakan waktu untuk melahirkan sang jabang bayi. Sehun pun dengan cekatan langsung menggendong Luhan dan membawanya ke rumah sakit dengan mobilnya. Ya, begitulah. Hal itu yang membuat Sehun selalu cemas. Ia takut bayinya tidak bisa selamat. Begitu juga dengan Luhan. Sehun takut kedua orang tersayangnya menjadi korban. Sehun menangis. Hingga tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya.
"Tak apa Hun?"
"Eh?"
Sehun bingung. Ia mengusap-usap matanya berulang kali. Ia pasti sedang bermimpi. Seorang pria tinggi dengan jas hitam berdiri di depannya. Itu adalah sunbae-nya. Kakak kelas Sehun dulu, saat Sehun kuliah di perguruan tinggi. Mereka memang seperti kakak adik dari dulu.
"Joon Myun hyung, kenapa kau disini?"
"Aku dengar kau sudah menikah dengan seorang wanita Cina. Dan katanya dia cantik. Benarkah?"
"Um, ya. Dan dia sedang melahirkan anakku."
"Anakmu? Kau sudah punya anak? Tapi kau tak memberitahuku."
"Um, aku benar-benar minta maaf hyung. Hehe,"
Sehun tertawa seperti anak kecil. Sedangkan Joon Myun menatap dengan datar. Kemudian seorang dokter keluar dari ruang operasi. Dokter itu membuka maskernya kemudian berjabat tangan dengan Sehun. Sehun bingung. Ada apa ini?
.
.
.
Sehun dan Luhan sampai di apartemen. Luhan tampak tersenyum bahagia karena ciuman dari Sehun. Sedangkan Sehun tampak berekspresi biasa saja. Sehun menyalakan televisinya. Ia membolak-balikan sebuah dadu kecil yang ada di tangannya. Ia bosan. Cuaca dingin ini, membuatnya agak kedinginan. Ia ingin tidur, tapi tak bisa. Ia harus menjaga Luhan. Ia takut akan terjadi sesuatu jika ia meninggalkan Luhan begitu saja. Luhan membawakan semangkuk ramen hangat yang baru saja dibuatnya. Ia menaruhnya di meja dekat Sehun. Sehun menatap ramen itu. Ia sangat, kruyukkk.. Perut Sehun berbunyi. Luhan pun tertawa melihat Sehun.
"Sehunie, makanlah. Aku tahu kau lapar."
"Apa? Tidak. Um, ini hanya, .. mm, suara tv!"
"Suara tv? Bahkan tvnya saja mute. Tak bersuara."
"Um, baiklah, baiklah. Kau memenangkanku. Ya, benar aku lapar."
Sehun langsung menyantap ramen buatan Luhan. Luhan tertawa kecil melihat Sehun tampak sangat lahap memakan ramennya.
"Maaf ya, karena aku hanya bisa membuatkanmu ini."
"Gwenchana. Tak apa. Aku suka."
Luhan tersenyum. Kemudian ia memikirkan sesuatu. Ia menatap Sehun dekat-dekat.
"Um, kau tidak memberikan barang bayi yang dulu aku beli, kepada tetangga sebelahkan?"
"Kalau ya?"
"Hah?! Ayolah, aku membeli itu dengan susah payah. Aku membelinya untuk calon anak kita! Bahkan aku membeli yang mahal dan bermerk!"
"Waktu itu, kau bilangpadaku untuk memberikannya pada tetangga sebelah."
"Ah, apakah kau tak mengerti yang dimaksud dengan sindiran?"
"Hm,"
"Haaiissh! Kau ini menyebalkan!"
"Haha, tidak, tidak. Aku hanya menyimpannya di rumah ayahku. Tenang saja, barang itu masih ada."
"Benarkah? Fyuh, syukurlah."
Luhan melirik pada sebuah iklan di televisi tentang make up berkualitas bagus dan bermerk. Luhan mendekat pada tv tersebut. Kemudian ia melirik pada Sehun yang sudah selesai menyantap ramennya.
"Chagi,"
"Apa?"
"Boleh aku minta yang satu ini?"
"Huh? Apa yang sedang kau bicarakan?"
"Ini. Make up ini. Sepaket hanya 3 juta! Ayolah. Sudah ada lipstick, bedak, bb cream, dan semuanya lengkap!"
"Kau sedang hamil, seharusnya meminta yang sewajarnya seperti, makanan."
"Ayolaahh. Chagiii... ayo ayooo."
Luhan menarik lengan Sehun. Sehun tak percaya. Mengapa istrinya mengidam yang seperti ini. Sehun dan Luhan pun pergi menuju supermarket. Ia melihat-lihat semua kosmetik disana. Kemudian Luhan menemukan sebuah boneka rusa yang lucu.
"Chagi, yang satu ini sangat lucu bukan? Aku pikir Se Joon akan menyukainya."
"Se Joon? Duggu?"
"Ah! Aku lupa memberitahumu. Aku sudah merencanakan ini. Karena margamu Oh, maka aku akan memberi nama anak kita dengan nama Oh Se Joon. Bukankah itu nama yang bagus? Mirip seperti namamu. Oh Se Hun."
"Huh? Se Joon? Hm, baiklah. Lumayan. Jadi kau akan mengambil boneka ini?"
"Ya! Dan boneka beruang yang ini. Oh, dan ini juga. Hm, dan kelinci pink ini, ah! Lalu sebuah boneka kucing ini."
"Hey, bahkan anak kita baru satu. Dan kau sudah membeli boneka sebanyak ini?"
"Ayolah. Ini hanya boneka. Aku membutuhkannya untuk tidur."
Sehun ternganga. Sehun dan Luhan pun lanjut berjalan. Luhan menghentikan langkahnya. Melihat banyak baju anak sedang diskon disana. Luhan langsung berjalan melihat-lihat baju.
"Ayolah Luhan, kau sudah membeli banyak baju anak. Kau mau membeli lagi?"
"Ini. Sebuah baju bertulisan baby. Juga sebuah tulisan Saranghae appa, saranghae omma. Lucukan? Ayolah!"
"Kau ini. Yang benar saja."
Kemudian belum selesai membayar baju tersebut Luhan berlari ke arah seperangkat alat makan bayi.
"Haiisshh, Luhan, ini belum selesai dibayar!"
"Tunggu sebentar chagi! Ada sebuah tempat makan eksklusif untuk bayi!"
"Ya Tuhan."
Luhan kembali ke kasir membawa seperangkat alat makan untuk bayi. Orang-orang di sekitar memperhatikan Sehun dan Luhan dengan bingung.
"Luhan, kembalikan itu. Kita sudah membeli banyak barang untuk anak oke? Aku tak ingin kita repot."
Sehun meraih seprangkat alat makan bayi yang di pegang Luhan. Sehun mulai kesal. Kemudian ia menaruh kembali barang itu ketempat semulanya. Luhan pun marah. Luhan menarik tangan Sehun.
"Aku ingin membelinya untuk Se Joon. Bukan untukku atau kau. Kalau kau tak mau, ya sudah. Biar aku yang bayar. Memangnya apa masalahnya? Ini hanya sebuah barang. Dan kau memarahiku seperti itu? Apa yang salah huh? Apakah seorang calon ibu tidak layak untuk membeli barang untuk calon bayinya?"
Sehun terdiam. Air mata perlahan menetes di pipi Luhan.
"Baiklah. Jangan menangis. Ini di supermarket. Kau tahu? Aku hanya tidak ingin barang ini terbuang sia-sia. Baiklah, aku mencintaimu."
Sehun memeluk Luhan dengan erat. Luhan pun menangis dalam pelukan Sehun. Entahlah, orang di sekitar mereka, bahkan petugas kasirpun ikut menangis. Tak lama Sehun melepaskan pelukannya.
"Kalau begitu, ambilah. Kalau ini adalah yang terbaik untuk Se Joon kita."
Sehun mengambil barang yang baru ia taruh. Kemudian menaruhnya di meja kasir. Luhan tersenyum.
"Tak perlu. Aku rasa kita sudah punya banyak."
Luhan langsung mengambil barang belanjaannya dan bergegas keluar dari supermarket. Sehun memandang Luhan dengan aneh. Sehun dan Luhan pun memasuki mobil mereka.
"Kau tidak mau membeli kosmetik yang kau inginkan?"
"Tadinya aku ingin. Tapi aku rasa itu tak perlu. Lagipula untuk apa? Bukankah lebih baik untuk biaya di rumah sakit nanti."
"Um, bagus juga."
Sehun tersenyum. Hari berganti. Bulan berganti. Musim berganti. Kandungan Luhan sudah memasuki umur ke 9 bulan. Sehun menunggu. Ia tak sabar melihat anaknya. Siang itu, Sehun baru saja keluar dari kamar mandi. Ia baru membasuh wajahnya yang penuh keringat karena latihan gym. Luhan sedang menata baju anak di kamarnya. Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Sehun langsung membukakan pintu apartemennya. Ia kaget seorang yeoja yang sudah sangat tidak asing lagi, tengah berdiri di depannya sambil memberikan seikat bunga.
"Ada apa ini?"
"Hm, aku hanya ingin memberikannya untukmu. Terimalah."
"Terima kasih."
Sehun terdiam. Tiba-tiba Baekhyun mengecup pipinya. Luhan keluar dari kamarnya. Betapa kagetnya Luhan melihat kejadian tersebut. Luhan menatap Sehun dengan tatapan penuh amarah. Begitu juga tangannya yang tampak meremas sebuah baju bayi yang ia bawa.
"Chagi." Luhan memanggil Sehun dengan nada goyang.
"Luhan?"
Sehun bingung ketika tiba-tiba Luhan melemparkan baju bayi ke wajahnya.
"Luhan kenapa?"
"Hey kau! Wanita perebut suami orang! Byun Baekhyun! Jangan pernah ganggu keluargaku lagi atau,"
Ucapan Luhan terhenti. Ia merasakan perutnya sakit. Luhan terjatuh. Kemudian dengan cepat Sehun menggendong Luhan menuju mobilnya dan langsung menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, para dokter dan perawat dengan cepat menangani Luhan. Sehun dengan persaan sangat khawatir, memperhatikan dari belakang. Seorang dokter menghampirinya.
"Tuan, istri anda harus melahirkan sekarang. Tapi tidak bisa karena tensi darahnya terlalu tinggi. Jadi akan kami bawa ke ruang operasi."
Sehun mengangguk. Kemudian para dokter dan perawat langsung membawa Luhan ke dalam ruang operasi. Sehun duduk di sebuah bangku di rumah sakit. Ia tertunduk lemas. Pikirannya campur aduk. Antara khawatir, takut, senang, sedih, bahkan kecewa. Ia takut bayinya tidak bisa selamat. Begitu juga dengan Luhan. Sehun takut kedua orang tersayangnya menjadi korban. Sehun menangis. Hingga tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya.
"Tak apa Hun?"
"Eh?"
Sehun bingung. Ia mengusap-usap matanya berulang kali. Ia pasti sedang bermimpi. Seorang pria tinggi dengan jas hitam berdiri di depannya. Itu adalah sunbae-nya. Kakak kelas Sehun dulu, saat Sehun kuliah di perguruan tinggi. Mereka memang seperti kakak adik dari dulu.
"Joon Myun hyung, kenapa kau disini?"
"Aku dengar kau sudah menikah dengan seorang wanita Cina. Dan katanya dia cantik. Benarkah?"
"Um, ya. Dan dia sedang melahirkan anakku."
"Anakmu? Kau sudah punya anak? Tapi kau tak memberitahuku."
"Um, aku benar-benar minta maaf hyung. Hehe,"
Sehun tertawa seperti anak kecil. Sedangkan Joon Myun menatap dengan datar. Kemudian seorang dokter keluar dari ruang operasi. Dokter itu membuka maskernya kemudian berjabat tangan dengan Sehun. Sehun bingung. Ada apa ini? Dokter itu tersenyum.
"Bayi anda seorang laki-laki selamat. Dan istri anda akan segera sadar."
"Benarkah? Woah, jeongmall gamsahamnida."
Sehun dan Joon Myun segera menuju ruangan Luhan. Luhan tampak terbaring lemas disana. Perlahan Luhan membuka matanya. Ia menatap Sehun sambil tersenyum. Sehun mengusap lembut rambut Luhan.
"Chagi. Ini Se Joon. Dia lahir dengan selamat. Aku berterima kasih padamu karena mau berkorban segalanya."
"Si Baekhyun, kemana?"
"Kau ini baru saja sadar dan sudah menanyakan dia. Sudah istirahat dulu. Cobalah gendong Se Joon."
Luhan menggendong Se Joon sambil tiduran. Perlahan Luhan meneteskan air matanya. Ia terharu.
"Sehun, aku sangat bahagia melihat bayimu."
"Tak apa hyung. Terima kasih sudah datang."
"Aku akan menemuimu besok di kafe tempat kita biasa bertemu dulu. Aku haruspergi. Sampai jumpa."
Luhan mencium kening Se Joon. Luhan pun menangis bahagia.
Sehun POV
Luhan, tersenyumlah. Aku hanya ingin kita berdua bahagia.
END POV
"Sehunie, aku rasa kau akan menjadi appa. Dan aku akan menjadi omma."
"Kalau begitu, jadilah omma yang baik oke? Jaga Se Joon ya?"
"Tentu saja chagi."
Beberapa menit kemudian keluarga Sehun dan Luhan datang. Berkumpul menjadi satu keluarga besar yang bahagia. Beberapa hari kemudian, keluarga Sehun dan Luhan tampak berkumpul di sebuah studio foto untuk membuat foto keluarga. Luhan menggendong Se Joon disana. Dengan Sehun yang memakai jas hitam berdiri tepat di samping Luhan.
"1... 2... 3! Cheese!"
Ckrek.
Sebuah foto dicetak. Foto keluarga besar antara Sehun dan Luhan. Luhan tersenyum bahagia sambil menggendong Se Joon. Begitu juga Sehun disampingnya. Yang tampak senang dengan kehadiran buah hati di keluarga besar mereka ini.
Together With You-
