Disclaimer: Manga/Anime Naruto is belong to Kishimoto-sensei .
Covered by: Cristopher Mizutto~!
Genre: Romance, Comady, Parody (yang mungkin nggak lucu).
Rate: T
Warning: Cerita ini mengandung beberapa istilah jejepangan yang akan ditandai dan dijelaskan di bagian basa-basi (diakhir cerita). Mohon perngertiannya….
Mizutto juga akhirnya memutuskan...akan membalas review lewat PM~! Jadi itung-itung biar bisa lebih kenal dengan kalian semua yang selama ini mensupport Mizutto yang newbie ini, tehee~. Mulai saat ini dan seterusnya, tetap dukung Mizutto, ya!
Hai, ikuzo, minna!
~AkagamiXotaku Doki Doki~
"Kira-kira sekarang Namikaze-nii tinggal dimana, ya?" gumam Kushina, wajahnya menjadi agak memerah dan Kyuubipun tersenyum makin lebar.
"Betewe, lu suka anak itu, Kush?"
"Ah...dia kakak baik yang selalu membelaku saat aku dibully dipanti asuhan. Dia orang yang penting bagiku. Tapi aku keburu diadopsi ke keluarga ini. Natsukashii*…."
"Jawabannya hanya suka atau tidak suka, Kushina Uzumaki."
Wajah Kushina jadi semakin memerah dan diapun mengangguk pelan. Kyuubi terkekeh, dan dia mendekati adiknya yang mulai menunjukkan sifat tsundere*.
"Bagaimana kalau gua bilang dia Minato? Ah, kalo gua nggak salah membaca gerak gerik lu, lu pasti habis dicium Minato. Hahaha, teman gua, tuh! Greget!" ujar, tidak kuasa menahan senyum lebar nan menjijikan muncul diwajahnya. Dan tentu saja, itu membuat Kushina yang sempat berbunga-bunga menjadi bad mood.
"Namikaze-nii bukan boss sialan itu! Ih, amit-amit," balas Kushina menganggapi pernyataan Kyuubi. Senyum Kyuubi makin lebar dan makin mejijikan. Dia semakin senang saat mendengar Kushina tidak membantah pernyataan kalau adiknya abis dicium Minato, membuat pria paruh baya berambut oranye kemerahan itu ingin lebih menjahili sang adik.
"He, nama lengkapnya Minato Namikaze, soplak! Masa lu nggak tau?"
Kushina terdiam. Dia menatap kembali anak laki-laki unyu berambut hitam di fotonya, lalu dia membandingkannya dengan Minato. Kushina menelan ludah. Mereka mirip, Cuma beda warna rambut. Dan sedetik setelah dia menyadarinya, keringat dinginnya mulai menetes. Baginya, kini bumi sudah terbelah dua dan muncul efek jledar dibelakangnya. Ok, agak hiperbola.
Kushina berjalan kembali menuju kamrnya setelah dia melayangkan sebuah pukulan ke ulu hati sang kakak. Mari kita lupakan Kyuubi. Ehem, kini Kushina tidur-tiduran dikasurnya sambil menatap kembali foto masa kecilnya yang kelam. 'Bagaimana bisa kakak yang begitu baik hati dan bersinar-sinar menjadi om-om nggak waras yang aneh?' batin Kushina. Dia harus memastikannya. Tapi dengan adanya insiden di ruang kerja Minato, Kushina jadi enggan berbicara dengan Minato.
Dia mengacak-acak rambutnya. Kalaupun benar Minato adalah Namikaze-nii yang dikenalnya waktu kecil, apakah perasaannya akan berubah? Entah dari benci menjadi suka, atau sebaliknya. Kushina pusing memikirkannya. Tapi hanya satu hal yang pasti, Kushina tak ingin berhenti bekerja di Doukaku café.
Wake up fall again, attempt to whisper back
Do you have the same dream every night?
Furue teta toki e tsunagaru
Sō sa kimi mo subete o kakete
Tatakau basho e tobidashitara
You can't believe it
That's the way it have to be
Bangun, terjatuh lagi, mencoba untuk berbisik kembali
Apakah kau memiliki mimpi yang sama setiap malam?
Terhubung saat menggigil
Ya, kau pertaruhkan semua yang kau miliki
Bergegas ke tempat di mana kita bertarung
Kau bisa mempercayainya
Itulah jalan seharusnya
Kalau dihitung, ini sudah hari ke-15nya bekerja di cosplay café di akihabara ini. 2 minggu lebih dia berusaha bertahan tempat yang baginya adalah tempat penyiksaan mental. Bagaimana tidak? Setiap hari Kushina harus berurusan dengan berbagai jenis pelanggan otaku. Dan tak jarang ada pelanggan yang bahkan berusaha melakukan sekuhara* padanya. Belum lagi ditambah dengan sebetapa merepotkan dan menyebalkannya Minato.
Bosnya yang satu ini memang jagonya mencari berbagai alasan untuk melakukan aksi bolos kerja. Bahkan kalau saja Mikoto tidak curiga Minato pergi ke-WC terlalu lama, pemilik café Doukaku itu akan sukses bolos kerja di WC seharian penuh. Dan banyak kelakuan lainnya yang membuat Kushina heran.
Satu diantaranya adalah, Minato selalu mendektinya seakan Minato sudah kenal lama dengannya. Bahkan Minato berani menciumnya dengan alasan hukuman. Yah, siapa juga boss yang mau memberikan hukuman berupa ciuman kepada bawahannya? Memang menurutnya Minato sudah kurang waras, tapi menciumnya bukanlah hal yang dapat dilupakan dengan mudah.
Saat mengingatnya, rasanya dia ingin menendang Minato, menggilas muka tampan Minato dengan parutan keju, dan melumeri mukanya dengan selai stroberi basi. Tapi disaat bersamaan, hati kecil Kushina menginginkannya lagi, lagi, dan lagi.
Rasa manisnya, dan juga sensasi ciuman yang diberikan Minato tanpa sadar membuat ksuhina menjadi ketagihan. Mengingatnya saja membuat Kushina menjadi memerah, dan secara reflex menjauhi Minato.
Kushina menggelengkan kepalanya dan kemudian berjalan menuju salah satu meja dengan sebuah baki berisikan sebuah Eye Scream* (menu baru di Doukaku café). Setelah menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, Kushina meletakkan pesanan sang pelanggan itu. Seorang siswi SMA yang terlihat cantik walau Kushina melihat cantiknya karena make-up tebal yang menor.
"Silahkan, goshuujin-sama," ujar Kushina. Dia lalu duduk bersimpuh disebelah bangku sang pelanggan.
"Apa ada yang ingin anda perintahkan kepada saya, goshujin-sama?" tambah Kushina. Si pelanggan seakan berpikir keras sambil memakan ice cream berbentuk mata dengan selai strowberry yang sengaja dibuat menyerupai darah.
"Em…caritakan tentang Minato-sama saja. Bisa?" ujar si pelanggan. Kushina hanya tersenyum kecut sebelum menjawab, "Maaf, goshuujin-sama, tapi kami tidak diperbolehkan menceritakan apapun tentang boss."
"Naruhodo*…" si pelanggan terlihat kecewa dan agak bersedih. 'Menyebalkan sekali, sih! Lagian dari tadi Minato-Minato mulu…' batin Kushina.
"Tapi saya bisa membaca garis tangan anda. Mau mencobanya, goshujin-sama?" tawar Kushina.
Dia memang mempelajari beberapa cara membaca garis tangan dari kakaknya yang seorang lulusan dari jurusan psikologi. Itupun dengan agak memaksa. Namun, si pelanggan terihat antusias. Pelanggan tadi langsung mengangguk cepat dan kembali tersenyum.
"Tolong ramalkan percintaanku!" perintah si pelanggan.
"Hai, wakarimashita. Bisa tolong ulurkan tanganmu, goshuujin-sama?" Si pelanggan mengulurkan tangannya dan Kushinapun memperhatikan garis tangan si pelanggan dengan seksama.
"Disini terbaca…anda akan bertemu dengan jodoh anda tahun ini," jelas Kushina singkat. Si pelanggan jadi memerah dan bergerak-gerak gelisah.
"Apa dia Minato-sama?" Tanya si pelanggan. Kushina tersenyum dan menjawab, "Entahlah. Tapi disini juga terlihat kalau dia adalah sosok yang sangat dekat dengan anda. Mungkin teman sekelas atau teman kecil anda, goshuujin-sama."
"Wawah! Kau pintar sekali! Pacar baruku memang temanku sejak kecil!" teriak si pelanggan. Kushina terheran. 'Sudah punya pacar masih aja ngincar boss soplak, dasar anak muda jaman sekarang,' batinnya.
"Ah, Sekarang coba kau ramal percintaanmu sendiri!" kata si pelanggan yang terlihat lebih antusias. Percintaan? Kushina bahkan tidak pernah lagi berpikir kesana setalah insiden beberapa tahun silam yang menyebabkan trauma psikis baginya.
"Eh? Saya tidak pernah mencobanya, tapi kalau itu keinginan anda…akan saya lakukan."
Kushina lalu menganalisa garis tangannya sendiri. Tak lama kemudian, matanya terbelalak dan diapun menelan udah.
"Bagaimana?"
"Ini mengerikan, goshuujin-sama. Saya malu mengatakannya," jawab Kushina. Si pelanggan langsung berubah ekspresi dan kembali memakan pesanannya.
"So desu ne*…." gumam si pelanggan, agak merasa kecewa.
"Goshujin-sama, sebagai ganti saya yang tidak bisa melaksanakan perintah anda, anda bisa meminta saya melakukan apapun," ujar Kushina, dia tahu pelanggannya tidak puas dengan layanan yang dia berikan.
"Kalau begitu ceritaan tentang Minato!" pinta si pelanggan. Kushina kembali tersenyum kecut dan tanpa disadarinya, tatapannya berubah menjadi deathglare.
"Baiklah. Goshujin-sama, anda harus tahu kalau sebenarnya, boss itu…."
"Ada apa denganku, Kushina? Mencoba melanggar peraturan? aku akan dengan senang hati memberimu hukuman," potong Minato yang entah sejak kapan berada di belakang Kushina.
"Kyaa! Minato-sama!" pekik sang pelanggan dengan wajah yang sudah memerah sepenuhnya.
"Maaf goshuujin, café akan tutup istirahat siang sebentar lagi," kata Minato. Dia tidak bermaksud untuk mengusir sang pelanggan, namun istirahat siang jauuuuh lebih penting dari pada pelanggan ini. Toh, dia sudah membayar dan makanannya juga sudah habis.
"Ha…hai, Minato-sama! Apapun yang kau inginkan~!" si pelangganpun berdiri, dia mengedipkan sebelah matanya dengan gaya kijil dan berkata, "Jya ne*, Minato-sama~, muach!"
Kushina tertegun. Agak kagum, terharu, jijik, dan bingung. Kenapa gadis yang manis dan terlihat normal ini berusaha memancing di lubang buaya? 'Tau rasa tuh anak kalau tahu bagaimana si boos sebenarnya batin Kushina.
Namun saat si pelanggan sudah pergi dan meninggalkan Kushina berdua dengan Minato, Kushina sadar dialah yang sekarang sedang berada dalam lubang buaya.
"Nee, Kushina…" kata Minato. Tapi sebelum Minato sempat menyelesaikan perkataannya, Kushina sudah duluan ambil langkah seribu.
Dia harus kabur, tidak peduli kemana. Bahkan dia rela menghabiskan seluruh waktu istirahatnya dan bekerja lebih sibuk lagi supaya tidak berhubungan dengan Minato. Ayolah, Kushina bahkan tidak berani menatap mata Minato setelah insiden 'itu' terjadi. Belum bisa.
"Masa bodoh dengan Namikaze-nii!" teriak Kushina dalam hati. Dia segera masuk ke WC dan mengunci diri disana.
Dia berusaha melupakan semuanya. Semua tentang Minato dan segala tetek bengek yang Minato lakukan kepadanya. Dia melihat kembali telapak tangannya. Dia berharap dia salah membaca ramalan garis tangannya sendiri.
'Akan bertemu dengan jodohku waktu musim panas tahun ini? Orang dari masa lalu yang berhasil merebut hatiku? Omong kosong dengan apa yang dikatakan garis sialan ini! Amit-amit cabang bayi,' batin Kushina.
Win or not What's worth the meaning
Nowhere so deep, fade away
Miushinatta mono ga ōi ki ga shita
BLINK ABOUT THE MIRACLE!
SO TELL ASK YOURSELF! WALK OUT HIT THE SOUND!
Ano hi no RIZUMU ima kizamu
YES I'M REACHING OUT! WALK ON EVERLONG!
Tōku ni mi teta mirai tsukanda
Menang atau tidak, apa artinya
Tak ada tempat begitu dalam, memudarlah
Aku pikir ada banyak hal yang sering hilang
Sekejap tentang keajaiban
Jadi, tanyakan pada diri sendiri! Berjalan keluar, bersuaralah!
Irama hari itu kini terukir dalam diriku
Ya, aku meraihnya! Berjalan untuk waktu yang lama!
Meraih masa depan yang aku lihat dari kejauhan
"Minato, Kushina mengurung diri di WC! Apa yang kau lakukan padanya!" teriak Mikoto dengan nada yang agak meninggi. Dia tahu sejak dulu kalau Minato terkadang jahilnya keterlaluan. Namun kalau sudah seperti ini Mikoto merasa dia berhak meminta penjelasan.
"Aku tidak melakukan apapun," bantah Minato dengan wajah memerah yang tidak dapat disembunyikan.
"Usotsuki*!" balas Mikoto.
"Sudahlah, Mikoto. Nanti juga mereka baikan sendiri," kata Inoichi.
"Dia benar, cewek sialan. Bocah tomat itu tidak pantas dikhawatirkan," tambah Gen Renji sambil mengelap replica bazooka favoritnya.
"Apa maksud kalian!? Kushina-chan bekerja lebih keras hari ini, tapi tidak cukup! Kalau terjadi apa-apa bagaimana?" kata Mikoto.
"Aku akan mencarinya," ujar Hiashi, sang bendahara handal yang kerjaannya cuma jaga kasir sambil ngomel-ngomel, yang entah sejak kapan sudah ikut nguping pembicaraan yang mulai menjurus pada perdebatan panjang yang panas.
"Jangan, Hyuuga-san! Biarkan saja Minato yang bertanggung jawab!" teriak Mikoto. Kali ini Inoichi, Hiashi, maupun Gen Renji tidak dapat berkata apapun lagi. Mereka tahu kalau Mikoto yang kalem sudah teriak-teriak begini, tidak ada yang dapat melawannya.
Sementara Minato yang menjadi sumber permasalahan masih tetap berkecimpung dengan cangkir kopi panasnya. Dia sedang membuat kopi untuk menemani rutinitasnya selama jam istirahat. Kali ini beberapa judul anime baru yang sudah direkamnya dan DVD Blu-ray anime yang baru dibelinya kemarin menunggu untuk ditonton.
"Sudah kubilang, aku tidak melakukan apapun," ujar Minato.
"Minato Namikaze, aku sudah mengenalmu sejak lama. Aku tahu betul dirimu, lebih dari yang lainnya. Jadi, kau pasti menjahili Kushina lagi, kan?" tuduh Mikoto.
"Aku tidak menjahilinya lagi."
"Lalu kenapa Kushina sampai mengurung diri begitu?!"
"Mungkin dia memang sedang sakit perut."
"Minato, kalau dia memang sedang sakit perut, dia pasti tidak bekerja lebih keras hari ini! Ayolah, akui saja, Minato!"
"Ah, mou! Oke, aku akan bicara padanya nanti. Tapi tidak sekarang! Ada hal yang lebih penting yang harus kau lakukan!"
Minato berjalan meninggalkan sekelompok pegaiwainya ke ruang kerjanya. Dia seakan tidak mendengarkan ocehan Mikoto yang seolah menyalahkan Minato sepenuhnya atas tindakan Kushina. Hei, hanya mengurung diri di WC juga anak SD sering melakukannya. Bahkan waktu kecilpun Minato tak jarang melakukannya.
'Kenapa perempuan selalu melebih-lebihkan hal sepele, sih?' batin Minato. Dia duduk dibangkunya dan menyalakan laptopnya. Namun, lagi-lagi, seberapa keras dia berusaha berkonsentrasi, pikirannya selalu melayang ke hal lain. Yup, tanpa disadari olehnya Kushina telah memenuhi pikirannya.
Setelah bertahun-tahun dia tidak menjalin hubungan serius dengan seorang perempuan, kenapa harus sekarang dia jatuh cinta? Dengan gadis normal pula. Masalahnya kenapa harus disaat dirinya sudah menjadi otaku?
Semua tahu otaku dikucilkan, dianggap remeh. Bahkan dia juga harus berusaha keras menutupi hobinya. Tak terhitung berapa teman yang menjauh darinya saat mengetahui kalau dirinya otaku.
"Yah, kalau dipikir-pikir sepertinya memang aneh Kushina mengurung diri seperti itu. Apa aku sudah keterlaluan kemarin? Tapi hanya sebuah ciuman. Astaga, kenapa perempuan selalu merepotkan seperti ini?" gumam Minato. Dia mengacak rambutnya dan berdiri dari kursi, berjalan ke arah sofa dan berbaring di sana. Mencoba tidur, tapi tidak bisa. Segala permasalahan sepele ini membuat kepalanya ingin meledak. Dan dia memutuskan untuk menemui Kushina besok. Minato menghela nafas dan kembali memejamkan matanya.
Red pulse rushing through, and I can hear you
Afureta NOIZU o kakinarasu
Mirai-zu wa awa no yō ni
ATTRACT TO THE MIRACLE!
Gelombang merah bergegas melewati, dan aku dapat mendengarmu
Memetikkan suara yang mengalir
Sosok masa depan seperti gelembung
Menarik ke keajaiban
Kushina menghela nafas untuk kesekian kalinya hari itu itu. Akhirnya dia berhasil mengyelesaikan tugasnya, walaupun harus lembur. Bukannya dia memutuskan untuk memastikan apakah Minato yang menjadi atasannya itu adalah orang yang disukai Kushina waktu kecil dulu?
Namun, sepertinya Kushina menyerah. Dia mengenakan jaketnya dan kembali menyetel MP3 Player kesayangannya. Dengan headset yang udah nyantel ditelinganya, Kushina bersenandung seraya mengunci semua pintu di cafè. Menjelang reff, Kushina mulai bernyanyi dengan suara lebih keras dan juga cengkok unik yang menjadi ciri khasnya.
SO TELL ASK MYSELF! WALK NOW WATCHING AT!
Hanpana sugatami sezu ni naite
YES YOU'RE REACHING OUT! WALK THEN SEARCHING FOR!
Kechirasu ima o sutezu ni egaite
Blue pulse rushing through, and you can hear me
Mayowazu azu e to gia agete
Genkai o koete ikeba
SPLASH TO THE MIRACLE!
Jadi tanyakan pada diri sendiri! Berjalan sekarang, saksikan!
Tanpa melihat sisa-sisa berapa kali menangis
Ya, kau meraihnya! Berjalan dan kemudian mencari sesuatu!
Alihkan tanpa membuang gambar sekarang
Gelombang biru bergegas melewati dan kau bisa mendengarku
Nyalakan peralatan untuk besok tanpa ragu-ragu
Jika kau pergi melewati batas-batasmu
Percikan ke keajaiban
Setalah yakin kalau semua pintu telah terkunci, Kushina memutuskan untuk segera pulang, dia berhenti sejenak didepan pintu masuk dan menguncinya. Setelah itu, dia menatap jam tangannya.
"Sudah semalam ini rupanya, hehehe," gumam gadis bermata violet itu. Agak terasa lucu mengingat beberapa minggu yang lalu, saat bandnya masih aktif, dia bahkan pulang lebih malam. Belum lagi meladeni preman-preman yang mengajaknya berantem.
"Kukira siapa... Ternyata kau rupanya."
Kushina tersentak lalu membalikkan badannya. Mendapati pria berambut kuning acak-acakan yang mengenakan kaos oblong kegedean, celana jeans selutut, dan sebuah sandal jepit. Kushina mau nganga, tapi dia mengurungkan niatnya dan malah memutuskan untuk menatap pria yang ternyata adalah Minato. Bukankah seharusnya tidak ada yang berada di Doukaku selain aku, pikir Kushina.
"Temee*," lirih Kushina dengan tatapan tajam nan menusuk. Melihat reaksi Kushina, Minato malah tersenyum dan mengangkat bahunya.
"Apa boleh buat, biar kuantarkan sampai ke stasiun," tawar Minato sambil tetap tersenyum kecil.
"Yada*"
"Nee, jangan sok jaim begitu, Uzumaki-san. Hahahaha."
"Yada"
"Hahaha, Uzumaki-san, jangan-jangan kau tipe Tsundere, ya? Ayolah, aku bukan majikan yang akan membiarkan anak buahnya pulang malam sendirian." Minato nyengir lalu berjalan mendekati Kushina. Merasa dirinya terancam, gadis berambut merah itu mundur menjauh dari mintao dengan jari telunjuk mengarah ke sang pemilik Doukaku café. Dia langsung berteriak, "Jangan mendekat! Kalau kau mendekatiku lagi lebih dari radius 3 meter…. Aku akan senang hati menendang kepalamu sekuat tenaga!"
Minato terdiam sejenak. Kini dia berpikir kalau dia sudah benar-benar di black list Kushina. Agak kecewa, padahal dia baru saja berhasil mengetahui perasaannya pada Kushina. Kalau begini carannya, buat ngomong sama Kushina saja jadi semakin susah. Namun Minato tetap acuh, dikamusnya tidak ada kata menyerah. Diapun kembali menghela nafas.
"Hai, hai… tapi aku akan tetap mengantarmu ke stasuin, nak muda."
"Memangnya siapa yang mau!?"
"Kalau begitu ini perintah."
"Haah, nani?!"
~~Tsuzuku~~
Penjelasan singkat yang bertanda bintang~!:
Natsukashii : Kangennya...
Tsundere: Sejenis malu-malu tapi mau gitu.
Sekuhara : Sex Harassment (pelecehan seksual)
Eye Scream: pelesetan dari ice cream. Ice creamnya dibuat menyerupai mata dengan darah-darah yang membuat orang bisa berteriak histeris. Ini ide yang Mizutto pikirin buat tugas sekolah, nggak tau beneran ada ato nggak.
Naruhodo: Begitu ya...
So desu ne: Hm... Sebenarnya maknanya ada 2: 1. Iya ya... (Digunakan pada saat anda mempunyai pendapat yang sama dengan lawan bicara), 2. Hmmmm... (Digunakan ketika anda perlu waktu berfikir untuk menjawab pertanyaan seseorang).
Jya ne : Sering ditulis dan dibaca "Ja nee!", sebenarnya tulisannyaじゃあね (jya ne). singkatan dari "ja mata ashita" yang artinya sampai jumpa besok.
Usotsuki: Pembohong
Temee: Sebenarnya Teme, tanpa double "e". Dibuat seperti itu untuk menyesuaikan dengan Kushinanya. Artiny 'kamu' dalam bahsa kasar.
Yada: Ogah/tidak mau.
Yooosh! .i~~! .i! Banzaaai! *ohok*
Ehem! Jadi, mulai dari chappy ini urutannya Mizutto ganti, jadi penjelesannya duluan baru basa-basi. Langsung aja, insert song kali ini adalah lagu yang menjadi lagu ending Kuroko no Basuke season 2 yang pertama. Lagu favorit Mizutto kalo lagi nyanyi di WC, hoho! Walk by OLDCODEX~! Kebetulan vokalisnya adalah pengisi suara dan Mizutto cinta pengisi suara! Mulai dari Hikasa Yoko, Ayana Taketatsu, sampai Suzuki Tatsuhisa.
Yap, sudahlah! Sebelum mulai ngelantur nggak jelas, langsung aja…
Domo Arigatou Gozaimasu! (_ _)
Yang sudah review, yang udah baca, yang menge-fav, dll! Semuanya terima kasih banyak atas dukungannya!
Mulai dari chapter ini dan seterusnya tetap dukung Mizutto dengan terus mengkritik atau meRIVIEW, minna! Sampai jumpa Chapter depan~!
Next Chap:
"Karena aku benci boss MESUM nggak guna macam kamu."
"Woi, kita ini cowok! Yah, paling nggak aku ngerasa aku itu cowok tulen 100%. Mana ada cowok yang mau memperkosa cowok!"
"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud…. Argh! Kenapa aku merasa sesenang ini?"
