Disclaimer: Manga/Anime Naruto is belong to Kishimoto-sensei .

Covered by: Cristopher Mizutto~!

Genre: Romance, Comady garing, Parody abal-abal.

Rate: T

Warning: HalooooDouble Update, jadi dua chapter dijadiin satu ya, disclaimernyaa~ hehehe

OST: Always Coming Back - One OK Rock


Akagami X Otaku Doki Doki chapter 7: Regret


Some nights we fight, we scream
We don't know what to do
But I guess it's just the simple things
That people they go through


"Apa yang kau lakukan!?" Kushina kenal suara itu, sangat mengenalinya. Itu suara Minato, Kushina yakin itu. Dia tersenyum kecil dan mengusap mulutnya.

"Kushi-chan, minum ini dulu dan lap keringatmu, ya," ujar Minato dengan lembut sambil menyodorkan teh panas yang baru saja ingin diminumnya. Kushina mengangguk lemas dan menuruti perintah Minato.

"Kau…kakuzu! Apa yang kau lakukan pada Kushina?" Tanya Minato. Dia berusaha tenang, walaupun tetap tidak bisa. Dia kesal, khawatir dan tegang.

"Aku hanya berbisik pada Kushina, dia memang lemah dari dulu. Hora!" Kakuzu menunjuk kearah Kushina. Minato jadi semakin kesal dengan jawaban Kakuzu.

"Tidak mungkin! Aku mengenalnya dengan sangat baik, kau tahu!" bantah Minato.

"Heh, aku juga kalau begitu. Aku bahkan tahu apa yang tidak kau ketahui dari Kushina, Minato-senpai."

Amarah Minato sudah mencapai puncaknya sekarang, dia sangat ingin menonjok wajah Kakuzu sekuat tenaga. Dan memang itu yang telah dilakukannya. Kakuzu menabrak dinding café akibat pukulan Minato. Semantara Minato dan Kakuzu sedang asik berkelahi di dalam café, semua pegawai yang lain berkumpul -bersembunyi dibalik meja counter. Mereka tahu kalau Minato sudah berkelahi, tidak ada yang bisa menghentikannya sampai lawannya pingsan. Mereka kesanapun malah akan dianggap sebagai lawan oleh Minato.

Namun Kushina yang masih terduduk lemas tak bisa tinggal diam. Dia memang sudah sering berkelahi ataupun melihat Minato berkelahi saat kecil. Tapi hati nuraninya memerintahkan Kushina untuk menghentikan perkelahian tidak guna itu.

"Minato, cukup!" teriak Kushina, tapi Minato seolah tidak mendengar. Dia mencengkram jaket Kakuzu dan bersiap membanting pemuda itu. Kushina segera berdiri dan memeluk Minato dari belakang. Dari film-film tokusatsu yang diatonton, adegan seperti ini pasti efektif untuk menghentikn sebuah pekelahian.

"Namikaze-nii! Yamero yo*!" teriak Kushina. Dan kali ini Minato tiba-tiba berhenti. Bravo, Kushina!

"Ada apa Kushina? Kau khawatir denganku? Kawai na…" kata Kakuzu yang walaupun sudah babak belur masih terdengar baik-baik saja.

Mata Kushina kembali terbelalak. Kata-kta 'kawai' yang diucapkan Kakuzu tergiang-giang dikepalanya dan membuatnya kembali merasa mual sebelum akhirnya muntah, dibaju yang dikenakan Minato.

"Kushi-chan?" Minato kembali panik. Dia menggendong Kushina, tidak peduli bajunya yang kotor karena terkena muntahan Kushina.

"Pergi. Sekarang," perintah Minato. Ekspresinya berubah drastis. Terlihat tenang, namun juga sangat mengintimidasi. Kakuzu mengangkat bahunya dan segera meninggalkan café yang sudah berantakan itu.

"Kalian!" teriak Minato. Semua pegawai Doukaku café langsung berdiri di tempat persembunyian dengan serentak.

"Bersihkan kekacauan ini. Hizashi, café kuserahkan padamu sampai sore nanti. Aku akan mengurus Kushina dirumah. Wakatteru nda*?"

"Hai!" jawab seluruh pegawai dengan serempak. Mereka langsung dengan sigap mengambil sapu dan alat pel, sementara yang lain membersihkan kekacuan yang dibuat Minato karena perkelahiannya tadi.


But on other nights the glimpse I see the real one that's you
And I know than nothing will stop me from standing I can't


Setelah mandi dan mengganti bajunya, Minato menemui Kushina di ruang tamu di apartemennya. Wajah Kushina terlihat pucat dan gelisah. Hal itu tentu membuat Minato khawatir.

"Apa kau sedang tidak enak badan, Kushi-chan? Mananya yang sakit?" tanya Minato. Dia menaruh segelas teh panas di depan Kushina, namun gadis bersurai merah itu tetap tidak bergeming.

"Mau istirahat dikamarku sampai keadaanmu membaik?" tawar Minato. Dan Kushina tetap tidak bergeming. Minato tersenyum dan kembali menggendong Kushina. Dia berjalan kearah kamarnya. Dan menidurkan Kushina di futonnya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Minato.

"Aku…kakuzu…benci…," lirih Kushina, "Otaku…dia…memaksaku."

Minato tersenyum kecil. Dia mengelus rambut Kushina adengan lembut dan berkata, "Kalau begitu tidurlah. Ceritakan padaku kalau keadaanmu sudah membaik."

Kushina mengangguk pelan. Keadaannya sudah agak baikkan sekarang. Perutnya sudah tidak mual lagi, walaupun kepalanya masih pusing. Berada disisi Minato memang selalu menenangkan seperti dulu. Dan tak lama setelahnya kushinapun terlelap.

Minato tetap tersenyum saat dia menghela nafas. Kushina mungkin sudah berubah. Dia bukanlah Kushi-chan yang dulu polos dan imut. Dia sudah menjadi gadis cantik dan unik, Minato tahu itu. Bahkan dia yang tidak pernah berhenti memikirkan Kushi-chan selama 10 tahun penuh, tidak menyadari kalau Kushina adalah kushi-chan. Dia kembali jatuh cinta pada Kushina untuk kedua kalinya.

"Sebenarnya selama 10 tahun ini apa yang kau alami, kushi-chan?" gumam Minato dengan suara pelan supaya tidak membangunkan Kushina.


I'm always coming back to you
You got me till the end
I'm always coming back to you
You keep pulling me in
I'm always coming back


Saat Kushina membuka matanya, hal yang pertama diihatnya adalah Minato yang sedang berganti baju di depannya. Saraf motoriknya langsung bereaksi dan melampar sebuah buku yang entah kenapa ada disampingnya kearah Minato.

"Hentai!" teriak Kushina. Minato hanya cemberut dan manatap kerah Kushina.

"Kenapa kaget? Dulu kita bahkan mandi berdua, makan berdua, tidur berdua…," balas Minato. Kushina sontak memerah dan membalikkan badannya ke kanan –membelakangi Minato.

"Bodoh, sekarang sudah berbeda!" bantah Kushina. Minato terkekeh dan mendekati Kushina.

"Syukurlah kau sudah tidak apa-apa," kata Minato sambil nyengir.

"Ya, kurasa…. Ah, tunggu dulu. Ini dimana?" Kushina sadar kalau dia bukan sedang berda di kamarnya, di ruangan manapun di rumahnya dan di Doukaku. Jadi apa mungkin….

"Di kamarku," jawab Minato. Yup, efek jledar-jledar muncul dibelakang Kushina. Bagaimana bisa?! Oh, Kami-sama…apa lagi cobaan yang kau berikan pakaku, batin Kushina.

"Kau muntah-muntah, jadi aku membawamu ke rumahku. Kau pasti tidak bisa beristirahat kalau di cafe. Dan kebetulan rumahku cuma punya 1 kamar. Hehehe, " jelas Minato.

Kushina kembali ternganga. Dia tidak habis pikir. Kenapa akhir-akhir ini dia selalu tanpa keinginannya jadi selalu dibantu Minato yang notabenenya otaku. Padahal dalam waktu beberapa tahun ini dia mengalami phobia pada otaku. Bahkan Kyuubi yang dulunya otaku berubah menjadi WOTA demi Kushina. Dia tidak tahu kenapa, yang pasti dia merasa lebih nyaman berada disisi Minato.

"Nee, Kushina…bisa kau ceritakan padaku semuanya?"

"Apanya?"

"Hubuganmu dengan orang itu."

"Itu bukan urusanmu."

"Kumohon,"

Kushina terdiam. Melihat ekspresi memelas yang ditunjukkan pemuda kuning dihadapannya membuat Kushina mau tidak mau menuruti permintaan bossnya itu. Dia duduk dan menatap Minato, intens.

"Berjanji kau tidak bereaksi secara berlebihan ketika mendengarnya."

"Hai! Atari mae darou*!"

"Beberapa tahun setelah kau pergi, aku pindah ke Tokyo. Aku memang bisa beradaptasi dengan baik, tapi sajak masuk SMP, semua berubah. Karena mendapat beasiswa, aku bersekolah di sekolah musik di Osaka. Disana orang itu menjadi teman sekelasku.

Dia misterius, pendiam. Tapi disisi lain, nilai akademisnya juga tinggi, banyak yang kagum oleh kepintarannya. Tapi tidak untukku. Dia selalu menatapku dengan tatapan aneh. Jujur saja, itu membuatku jijik.

Baru beberapa bulan, dia akhirnya menemuiku dan berbicara padaku. 'Rambut merahmu indah, aku benar-benar menyukainya. Maukah kau menjadi kekasihku', katanya. Aku menolak. Namun dia terus memaksa.

Sampai dia melakukan berbagai hal yang membuatku dijauhi semuanya. 'Lihat, hanya aku yang mau bersamamu, jadilah kekasihku atau mungkin aku perlu melakukan sesuatu dengan keluargamu', katanya. Mau tidak mau, akupun mengikuti aturan mainnnya." Kushina terdiam sebentar, mengambil jeda pada ceritanya sebelum mencapai klimaks.

"Awalnya dia memperlakukanku seperti perempuan pada umumnya, seperti seorang kekasih. Namun semakin lama semakin aneh. Dia banyak memintaku melakukan hal-hal aneh. Dia sering menyuruhku menggunakan berbagai kostum dan memotretnya. Puncaknya terjadi pada awal kelas 2.

Suatu hari dia menyeretku ke atap sekolah, sepulang sekolah. Dia memintaku melepas bajuku. Tapi siapa yang mau disuruh seperti itu? Aku melawan, memukulnya, menendangnya. Tapi dia ternyata terlalu kuat. Sampai akhirnya dia berhasil mendapatkanku tanpa pakaian."

Kali ini Minato yang berusaha keras menahan diri. Demi apapun, Minato berani bertaruh bahwa cerita Kushina sudah seperti cerita horror 17+ baginya. Dia mau berteriak histeris, tapi tatapan tajam Kushina berhasil membuatnya kembali tenang.

"Dia menyentuh, menjilati dan menciumi tubuhku bahkan hampir merampas kesucianku, seandainya pak satpam sekolah tidak menemukan kami di atap. Atas kasus itu, orang itu dikeluarkan dari sekolah dan masuk penjara. Setelah itu, tanpa memberi tahukan kasus ini kepada keluargaku, aku tetap menjalani masa SMPku hingga lulus dan pindah ke Shinjuku."

"Kushi-chan, bolehkah aku memelukmu?"

Minato memang mengajukan pertanyaan, tapi tanpa menunggu jawaban dari Kushina, dia langsung memeluk gadis berambut merah itu. Kushina sendiri tidak kaget. Dia gemetaran sedari tadi dan berharap Minato segera memotong ceritanya. Tapi mungkin ini yang terbaik, pikir Kushina.

"Maaf, Kushina…maaf…"

"Untuk apa?"

"Karena sudah membiarkan itu terjadi padamu."

Kushina memukul perut Minato, lagi. membuat Minato terpaksa melepaskan pelukkanya.

"Itu bukan slahmu, baka!" Kushina berdiri dan mendekati Minato yang masih merintih sambil memegangi perutnya. Rambut itu, mata itu, tubuh itu…sesuatu yang Kushina rindukan. Sejak terakhir kali bertemu sosok pangeran dari Minato Namikaze, Kushina terus berharap dia akan bertemu lagi dengannya.

Kushina menjatuhkan tubuhnya secara sengaja kepada Minato, memeluk pemuda itu dengan sangat erat. Dan tanpa sadar, airmatapun mulai menetes dari kelenjar airmatanya. Minato tersenyum kecil, dia mengelus rambut Kushina dengan lembut dan berkata, "Mulai sekarang, semuanya akan baik-baik saja, Kushi-chan. Percyalah…"


Se wo mukereba mukeru hodo itoshiku
Mukiaeba au hodo hanarete iki sou de
Katachi no nai futashi kana mono wo sagasu
And I know than nothing can stop me from standing I can't
(Jika kita menengok dan melihat kembali, sayang
Kita bertemu seseorang yang cocok meskipun akan berpisah
Kita mencari sesuatu yang tak pasti dan tak berbentuk
Dan aku tahu tak ada yang akan menghentikanku untuk mengerti, aku tak bisa)


Kushina berteriak histeris saat menyadari bahawa kamar Minato terlihat sangat menjijikan. Bukan apa-apa sebenarnya, tapi dengan seluruh pernah-pernik anime yan menempel secara abstrak di ruangan seluas 6 tatami*, tentu membuat seorang Kushina Uzumaki merasa jijik.

"Kenapa? Kau kaget? Itu poster limited edition Erza Scarlet dengan Yūwaku no Yoroi* yang muncul di episode 114 dan di chapter 236 halaman 13," jelas Minato.

"Tidak perlu dijelaskan, baka!" Kushina memeluk kedua bahunya dan langsung menjauh dari pemuda yang beberapa menit lalu dipeluknya dengan erat.

"Sudah kuduga, kau pasti mengerti…"

"Aku tidak mau mengerti! Kemana perginya Namikaze-nii yang keren itu?"

Minato tersenyum dan mendekati Kushina, "Kau bilang apa? Siapa yang keren?"

Dan tanpa banyak bacot, Kushina langsung melayangkan pukulan ke ulu hati Minato. Bisa-bisa Kushina mengganti profesi dari musisi menjadi petinju, jika ini terus terjadi.

"Sudah, aku mau pulang!" kushina menyambar tasnya –yang sudah diambilkan minato sebelumnya dari loker di ruang staf doukaku- dan berjalan keluar dari ruangan itu.

"Tunggu, Kushina! Akan kuantar!" Minato langsung berdiri, mengindahkan rasa sakit yang masih belum hilang. Dia segera meronggoh sakunya, mencari sesuatu sambil mengejar Kushina yang sudah membanting pintu ruangannya.

"Kushina, tunggu!"

Kushina menghentikan langkahnya. Dia menghela nafas dan menoleh ke belakang, menemukan Minato sedang mengatur nafasnya, terengah-engah.

"Apalagi? Kau tidak puas kupukuli terus rupanya…," ujar Kushina.

"Aku akan mengantarmu, dengan mobilku."

"Mobil?" Kushina berpikir sejanak lalu berkata, "Bukannya aku tidak mau. Tapi aku merasa berbahaya, kau bisa saja melakukan ini itu denganku di mobil, kan?"

"Ini itu apa maksudmu?"

"Alah, sok polos. Siapa yang dulu mengancam akan menciumku, dan lain-lain…memaksaku menggunakan baju celemek. Kau kira aku akan sebodoh itu terjebak dalam rencanamu?"

"Memangnya apa yang kurencanakan, Kushina? Ayolah…dulu kau bahkan merengek memintaku menemanimu ke WC"

"Urusee*!"

"Justru aku yang tidak tenang jika membiarkanmu pulang sendiri. Kau tidak ingat insiden di gudang dulu?"

"Baiklah, baiklah…tapi jangan berani macam-macam…"

Kushina menungu dengan tidak sabar di depan Doukaku café. Dia memang melihat ada garasi disamping tempat kerjanya itu, tapi dia tidak menyangka itu adalah garasi milik Minato. jujur saja, sampai tadi pagi, Kushina masih berpikir Minato tinggal di bawah kolong jembatan.

Dan tak lama setelah itu, pintu garasi pun terbuka. Kushina menoleh kearah garasi dan melihat sebercak sinar yang menyilaukan muncul dari dalam. Sangat menyilaukan. Dan menudian semakin lama semakin redup, hingga akhirnya Kushina bisa menyaksikan sendiri dengan kedua manik violetnya, mobil kebanggaan Minato.

Sebuah mobil sedan yang dimodifikasi. Bodynya dicat ulang dan kali ini bergambar ezra Scarlet dengan baju minim. Spionnya berbentuk runcing, plat nomornya berhiaskan armor-armor aneh yang Kushina yakin adalah milik orang yang terpampang di body mobil itu. Intinya, mobil itu norak. Sekali lagi, .

"Ayo, naik, Kushina."

"Maaf, anda salah orang. Selamat tinggal."

"Kushina! Ayolah…aku janji yang kedua kalinya aku akan mengantar dengan mobil ferarri, tapi untuk kali ini biarkan aku mengantarkanmu dengan mobil ini! Puaskanlah hasratku, Kushina!"

"Hasrat dengkulmu! Dasar maniak!"

Dan dengan sangat terpaksa, Kushina memutuskan untuk mengikuti hasrat Minato. Untungnya mobil itu kacanya hitam, kalau tidak Kushina akan pindah ke hokaido saking malunya. Siapa coba yang tidak malu naik mobil begituan?

"Minato, tentang ferarri itu…"

"Hm?"

"Tidak usah juga tidak apa-apa. Kurasa jalan kaki saja cukup."

Minato langsung mengerem mobilnya, mendadak. Dia menutup hidungnya, mungkin kalau tidak ditutup akan ada cairan merah yang keluar dari hidung mancungnya.

"Ap…apa kau bilang?! Kushina, aku tahu kau ingin bersamaku lebih lama…Kushina, aku senang sekali. Kalau begitu, ayo kita buat anak sama-sama!"

Kushina terbatuk-batuk. Dia menoleh kearah Minato yang menatapnya dengan tatapan memelas. Namun tatapan itu seakan tidak ada artinya bagi gadis bersurai merah itu.

"Kau itu tidak sayang nyawa, ya…" Kushina menatap Minato dengan kilatan-kilatan aneh yang menyambar dibelakangnya sebagai background. Membuat nyali Minato ciut dalam sekejap. Dia kemudian menghela nafas dan kembali menginjak pedal gas perlahan.

"Dari sini belok kanan kan, ya?"

"Belok kiri dung…"

"Hai, hai…"


TebeCeee


Bagi yang masih tidak mengerti beberapa kosakata asing, monggo dibaca:

Yamero yo : Hentikan.

Wakatteru nda: Ngerti nggak?

Atari mae darou: tentu saja.

seluas 6 tatami: kira-kira 108 meter persegi, bayangin sendiri *plak*

Yūwaku no Yoroi : bahasa inggrisnya sedaction armor, search sendiri di google. Dia semacam armor menggoda gitu deh. Silahkan cek di episode ato chapter yang Mizutto sebutin, deh~

Urusee: Berisik.

Hai, long time no see, ulala ulele~! *dilempar pete* Mizutto udah selese UN, loooh~! Seneng~ sekarang sedang berjuang mencari Kuliahan, doain Mizutto, yaaa!

Kali ini double update, semoga keterlambatan Mizutto bisa diampuni, hehe. Sampe ada yang ngancem di review di cerita Mizutto yang lainnya, Mizutto minta maaf... nggak dimaafin juga nggak apa-apa, sih, hiks...

Oke, lanjut cerita selanjutnya!

Tapi review dulu, yak~!