Chapter 2
Nulis ditemani lagu panda kesayangan kita T.A.O
W..w..wait a minute hold up!
Let's GO!
Bold
ZiTao tanpa ragu juga menatap dingin anak baru itu. Kenapa dia baru muncul sekarang? Hari sudah mulai gelap disini. Jadi dia menunggui ZiTao? Apa maunya sebenarnya?
"Lama tak bertemu ZiTao. Bagaimana kehidupanmu disini? Better or get worst?" tanya anak baru dengan menatap ZiTao tepat pada manik matanya.
"Kau menyusulku kemari hanya untuk menanyakan hal itu, Minki? Sungguh membosankan" dengus ZiTao bosan
"Sepertinya disini kau mempunyai banyak teman, huh? Luhan, Xiumin, Kyungsoo.. mereka kekasih Sehun, Chen, dan Kai. Apa aku benar?" mendengar nama keenam temannya disebut, ZiTao menggeram marah pada Choi Minki-Ren.
"Kau.. dekati mereka sejengkal saja, mati kau-"
"Dan bagaimana dengan ayahku, ZiTao?" sunyi kemudian. Keadaan mendadak kaku dan dingin. "Apa dia mendekatimu? Apa dia menyakitimu?! Apa dia mengancammu?! Dosa apa yang dia perbuat hingga kau merebutnya dariku?!" teriak Ren tiba-tiba sambil melangkah mendekati ZiTao yang terpaku.
"A.. Apa? Ak.. aku.. aku.." ZiTao bingung harus bagaimana. Yeah, ayah Ren. Alasan utama mengapa mereka saling bermusuhan selama ini. Tidak. Ini hanya salah paham saja. Ya. Seharusnya begitu.
Iris biru gelap ZiTao bergerak gelisah. ZiTao mencoba untuk tidak menatap mata merah Ren yang sebentar lagi akan menggenang itu. Tidak. Jangan ingatkan ZiTao tentang hal buruk itu. ZiTao benar-benar ingin melupakannya. Lagi pula itu hanya salah paham. Mengapa Ren tidak pernah mau mengerti? Melihat ZiTao yang bergerak gelisah, Ren spontan memukul keras wajah ZiTao hingga dia tersungkur.
"Yeah, ZiTao. Apa kau mengingatnya? Ayahku. Choi Siwon. Kau merebutnya dariku dan membuatku menderita selama ini!" Ren mencengkram dan mengangkat tinggi-tinggi kerah seragam ZiTao. Dapat Jong Suk lihat darah mengalir di sudut bibir kucing teman lamanya ini. Bukan. Mantan teman lama.
"Sudah berapa kali kukatakan.. buk..bukan aku yang merenggutnya darimu-"
"LALU SIAPA?! Kau yang ada disana dan kau bilang bukan kau yang melakukannya?! Omong kosong!"
"Aku bersumpah bukan aku orangnya, Ren!" teriak ZiTao dalam hati. Tidak. Ini bukan saatnya ZiTao takut dan kebingungan di depan Ren. ZiTao harus pergi dari hadapan Ren. Maafkan aku, Ren. Kau boleh membalasku lain waktu.
Dan yang terjadi selanjutnya, tanpa ragu ZiTao menendang perut Ren hingga genggaman Ren pada seragamnya terlepas. ZiTao berhasil. Namun tetap dengan gelutan yang lumayan panjang. Pukulan pada wajah ZiTao tetap Ren lakukan dan begitu pula ZiTao yang tetap berusaha lepas dari genggaman Ren. Kini keadaan Ren tak jauh beda dengan ZiTao. Keduanya sama- sama kotor dan kacau. Namun Ren harus rela melepas ZiTao karena bus berhenti di depan halte sekolah. Ren dan ZiTao baru sadar kalau mereka masih berada di sekitaran sekolah. ZiTao memasuki bus dan duduk dengan terengah di dalamnya. Busnya ramai karena sekarang jam para pekerja untuk pulang. Sial. Semua orang menatapnya seolah dirinya adalah kelinci yang baru saja masuk ke kandang harimau. Biarkan saja. Pemandangan jalan jauh lebih menarik ketimbang orang –orang tak penting itu.
...
Jam menunjukkan pukul 8 malam. Kita berada di rumah sakit swasta di Seoul. Di dalam salah satu kamar rawat, terdapat seorang dokter sedang berbicara pada pasien anak-anak. Pasien itu adalah seorang gadis kecil bernama Sophia Cai Shuya.
"Apa kau masih merasa sulit bernapas, Sophia?" tanya dokter pada Sophia. Sophia tersenyum lebar sambil menggeleng pelan.
"Sudah tidak lagi, ge." dokter membalas senyum manis pasien kesayangannya itu.
"Baguslah kalau begitu" dokter menghela napas pelan. "Jangan menjahili suster Likun lagi, kay? Dia sedih karena kau membuat bajunya kotor oleh noda krayon."
Ups, aku ketahuan ya? batin Sophia sambil menutup mulut. Dokter yang melihat tingkah Sophia hanya menggeleng maklum dan mengusap lembut rambut Sophia.
"Ya. Aku akan minta maaf pada Suster Likun, ge. Wufan ge dan Suster Likun tidak akan memberiku obat pahit, kan?" tanya Sophia pada dokternya. Dokter yang dipanggil WuFan itu tertawa pelan.
"Tidak. Kalau kau menemui Suster Likun dan meminta maaf padanya, gege akan membawakanmu ice cream besok." Mata Sophia berkilat senang saat mendengar pernyataan dokter.
"Benarkah? Baiklah. Aku akan menemui Suster Likun nanti, ge. Terima kasih"
Itulah keseharian WuFan sebagai dokter muda di Seoul. Sebenarnya ini sudah waktunya WuFan untuk pulang. Namun WuFan menyempatkan diri menengok pasiennya yang bernama Sophia. Sophia adalah pasien termuda yang ditanganinya. Sophia sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Setiap hari Sophia sendirian dan tidak ada seorangpun yang menjenguknya. WuFanlah yang membawa Sophia ke rumah sakit tempatnya bekerja ini. WuFan menemukannya tertidur di depan rumah reot yang sudah tidak terpakai. Itu seminggu yang lalu. Keadaannya sangat mengenaskan ditambah hujan deras sedang turun waktu itu. Walaupun tubuhnya tertutup jaket, namun jaket itu belum cukup menghangatkan dirinya yang kedinginan hingga akhirnya terkena hipotermia. Saat ditanya tentang orang tua atau kerabatnya, Sophia bilang dia tidak ingin kembali pada orang tuanya sambil menangis meraung dan memohon pada WuFan agar mau membawanya. Membawa dalm arti mengadopsi. Apa yang sebenarnya terjadi pada Sophia? WuFan bingung dan berniat mencari tahu.
WuFan memutuskan untuk pulang ke apartemen tempatnya tinggal. Hari ini benar-benar lelah, namun Sophia sedikit menaikkan moodnya tadi. Benar-benar gadis kecil yang manis. Bagaimana bisa gadis manis seperti Sophia tidak ingin kembali pada orang tuanya? Apakah dia ditelantarkan oleh orang tuanya? Memikirkannya membuat WuFan pusing. Lebih baik dia segera pulang dan mandi. WuFan sangat butuh mandi.
...
ZiTao sedang mengompres luka memarnya dengan sekantung balok es di ruang tengah apartemen. Wajahnya hampir dipenuhi oleh memar akibat pukulan Ren. ZiTao berharap sensasi dingin es batu dapat sedikit menghilangkan bekas memarnya besok. Kupingnya bisa panas terkena omelan teman-temannya kalau mereka melihat ini. ZiTao diam namun tetap mengompres luka di pelipisnya. Matanya terpejam. Ini masalah besar. Dan ZiTao memilih menghindar di masa lalu. Dan sekarang dia terima akibatnya. ZiTao dikejar-kejar oleh penyesalan ditambah dengan munculnya Ren tiba-tiba. Tidak ada yang tahu, saat Tao melihat wajah Ren di lorong kantin, ZiTao seperti tidak dapat merasakan jantungnya berdetak. Apalagi saat mereka bertemu di toilet. ZiTao serasa ingin mati saja saat bertatapan dengan Ren. ZiTao bukan takut. Dia hanya belum siap untuk menjelaskan yang sebenarnya pada Ren. Ren, kumohon mengertilah. Bukan aku yang melakukannya.
Dua hal yang D butuh untuk saat ini, karena D gampang hilang feel. Like and Review juseyo..dan satu pertanyaan. Alurnya kecepetan kah? Terlalu lambat kah? Atau malah ceritanya jelek? Thank's #HugAll
