Emperor Waltz chapter 2, up!

-oOo-

Gintama © Sorachi Hideaki.

Emperor Waltz © Hana Kumiko.

Warning! Ooc, typo, lime/lemon. DLDR.

Happy reading ^^

-oOo-

Kagura berdiri di beranda. Kedua sikunya saling bertumpu pada pagar pembatas. Ia menikmati angin musim semi yang berhembus mengibarkan beberapa helai rambutnya. Apalagi warna senja yang ikut mewarnai dirinya. Setelah keluar dari ruang tengah, Kagura memutuskan untuk bersantai di sana.

"Kau di sini, Kagura-chan?"

Shinpachi yang kebetulan sedang istirahat memutuskan untuk keliling apartemen Sougo. Dan saat itu ia melihat Kagura berada di beranda apartemen Sougo memutuskan untuk menyapa gadis itu.

"Shinpachi?!"

Laki-laki berkacamata itu tersenyum. Ia juga hanya tersenyum maklum mengetahui Kagura sedikit menjaga jarak dengannya. Mungkin karena perlakuannya saat berkenalan tadi. Yah, Shinpachi akui tadi itu hanyalah praktek berdekatan dengan wanita yang ia pelajari dari buka milik kakak iparnya, Kondo Isao. Sepertinya saran itu tidak berlaku untuk gadis bersurai jingga tersebut.

"Hei, maaf ya untuk yang tadi," kata Shinpachi.

"Ya, tidak masalah." Perhatian Kagura tertuju pada Shinpachi. "Aku hanya terkejut tadi."

Setelahnya keadaan menjadi hening. Mereka terdiam. Sama-sama menikmati AC alami.

"Oh ya, tadi kenapa Kagura-chan menolak mengakui kalau sebenarnya kau suka dansa pada Sougo?" Shinpachi membuka pembicaraan.

Kagura terperanjat. "Eh, kau tahu?!"

"Semuanya pasti menyadari kalau kau menolak Okita-san tahu tentang kau yang menyukai dansa."

"Benarkah?!"

Shinpachi tertawa. "Ya."

Usia Shinpachi satu tahun lebih tua dari Kagura. Dan sebagai laki-laki tulen yang peka terhadap wanita, tentu dia mengerti kalau Kagura tidak ingin Sougo tahu kalau Kagura menyukai dansa. Tapi Shinpachi yakin, tanpa diberitahu pun Sougo pasti tahu. Mungkin selama ini Kagura selalu dikenal perempuan bar-bar di mata Sougo. Dan Kagura yang sudah nyaman dengan pandangan Sougo yang seperti itu tidak ingin merubah image-nya. Jadi dia akan terus seperti itu. Setidaknya di mata Sougo.

"Kagura-chan."

"Hm?" gumam Kagura menyahut panggilan Shinpachi.

"Mau berdansa denganku?"

Reflek Kagura menoleh. Matanya melebar. Tak jauh darinya Shinpachi berdiri setengah membungkuk dengan sebelah tangan terulur ke arah Kagura. Menantikan sambutan dari gadis itu lengkap dengan senyumnya.

"H-hei! Aku tidak bisa berdansa," elak Kagura sambil mengibaskan tangannya.

"Tidak masalah," sahut Shinpachi santai. "Kau hanya perlu mengikutiku. Ini mudah. Percayalah."

Kagura melarikan matanya ke sembarang tempat sementara otaknya berpikir. Dia ingin mencoba berdansa dengan seseorang, tapi ia ragu. Sesekali matanya melirik ke tangan Shinpachi yang masih terulur.

"U-uhm, baiklah," ujar Kagura setelah beberapa saat. "Tapi jangan marah padaku kalau kakimu terinjak."

"Tentu."

Maka dengan ragu Kagura mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Shinpachi. Senyumn pria itu melebar. Tangan kanannya menggenggam dengan tangan kiri Kagura sementara tangan yang lain berada di pinggang ramping gadis itu. Kagura sendiri meletakkan sebelah tangannya di pundak pria yang terbalut kemeja biru tersebut.

"Ingat, Kagura-chan. Jika kaki kananku maju, maka kaki kirimu harus mundur. Begitu juga sebaliknya. Jika kaki kirimu maju, maka aku akan memundurkan kaki kananku. Itu untuk menghindarkan kita agar tidak saling menginjak," jelas Shinpachi.

Kagura mengangguk singkat. Atensinya tertuju pada kaki mereka. Mencoba memahami dan mempraktekkan apa yang Shinpachi katakan.

"Baiklah. Mari kita coba," ucap Shinpachi.

Kaki keduanya melangkah. Mempraktekkan dasar berdansa yang paling mudah. Tapi meski begitu, beberapa kali Kagura akan menginjak kaki Shinpachi. Membuat Shinpachi meringis meski tidak benar-benar sakit dan Kagura akan meminta maaf beberapa kali setelahnya. Mereka terus seperti itu hingga beberapa menit kemudian. Tanpa tahu kalau sejak Shinpachi mengulurkan tangannya mengajak Kagura berdansa, sepasang mata bermanik crimson terus mengawasi mereka.

-oOo-

"Makan malam yang menyenangkan," ujar Mitsuba ceria.

"Hm," gumam Hijikata yang duduk di samping Mitsuba.

"Ah, aku akan membawa ini ke dapur, "ujar Shinpachi seraya mengambil beberapa piring kosong dan membawanya ke dapur. Kagura mengikuti Shinpachi ke dapur. Berniat membantu pria berkacamata tersebut.

Mereka baru saja makan malam. Terlalu asyik berlatih membuat mereka lupa dan memutuskan untuk sekalian makan malam di tempat Sougo. Mitsuba dan Nobume yang memasak. Sementara para pria duduk mengobrol menunggu masakan jadi. Kagura yang tidak pandai memasak hanya membantu sebisanya. Maka ketika selesai makan malam, Kagura ikut membantu membereskan meja makan dan mencuci piring.

Setelah semuanya selesai, Mitsuba, Hijikata, Nobume dan Shinpachi memutuskan untuk pulang. Kagura bergidik ketika di saat semua tamu Sougo pulang, tapi Nobume tetap bertahan di depan pintu. Menatap datar ke arah Kagura yang ikut mengantarkan tamu pulang.

Sougo yang juga masih di sana bertanya. "Ada apa, Nobume?"

Nobume menatap Sougo sekilas dan kembali beralih pada Kagura. "Kau tidak pulang?" tanyanya. Suaranya pelan dan bening. Tapi masih bisa didengar oleh Kagura.

"Aku?" tunjuk Kagura pada dirininya sendiri. Nobume mengangguk singkat. Sougo hanya diam memperhatikan kedua gadis itu.

"E-eh, ya setelah ini aku akan pulang," jawab Kagura akhirnya.

Nobume terdiam. "Aku menyukai dia. Jadi jangan dekat-dekat dengannya."

Setelah mengatakan itu, Nobume mengalihkan perhatiannya pada Sougo. "Aku pulang." Dan Nobume berlalu dari hadapan mereka.

Kagura menelengkan kepalanya bingung. Siapa 'dia' yang dimaksud Nobume? tanya Kagura dalam hati. Kemudian ia melirik Sougo yang kebetulan juga sedang meliriknya.

"Apa?"

Kagura menggeleng. "Jangan-jangan ... 'dia' yang dimaksud Nobume tadi adalah kau!"

Sougo mengangkat bahunya tak acuh. "Memang."

"Yang benar?!" seru Kagura. Ia terkejut, tentu saja. Tidak menyangka kalau tebakannya benar.

Sougo memutar bola matanya. "Ya. Dia mengatakannya sendiri padaku beberapa tahun lalu dengan wajah datarnya," jawab Sougo malas.

Kagura menatap lantai keramik putih apartemen Sougo. "Jadi begitu," gumamnya.

Sougo melirik Kagura. "Kau cemburu?"

Dengan cepat Kagura menggelengkan kepalanya. "Tidak! Untuk apa aku cemburu padamu, hah?!"

"Ya ya ya. Terserah kau saja," ujar Sougo malas. "Aku akan mandi dulu. Kau ... terserah. Lakukan sesukamu."

Kemudian Sougo berjalan menuju kamarnya. Tempat di mana kamar mandi pribadinya berada. Mandi malam Sougo merupakan mandinya perempuan. Bukan Sougo yang mendadak berubah jadi perempuan ketika mandi malam, melainkan karena lamanya mandi, hingga seperti perempuan. Entah apa yang dilakukan Sougo di dalam sana. Sambil menunggu Sougo menyelesaikan acara mandinya, Kagura memutuskan masuk ke ruangan yang tadi dipakai untuk berlatih dansa. Ruangan tersebut merupakan ruangan kedap suara. Jadi ketika Sougo ingin mendengarkan musik keras-keras, suaranya tidak akan tedengar keras sampai ke luar.

Kagura menghela napas ketika mengingat kejadian tadi. Melihat Sougo berdansa dengan Nobume diiringi musik waltz dan menjadikannya terlihat indah. Apalagi yang Kagura lihat adalah bagian dansa yang paling Kagura sukai. Yaitu berputar. Kagura berjalan ke tengah ruangan. Tempat di mana Sougo dan Nobume berdansa. Ia memejamkan mata. Menghalau rasa nyeri yang mendadak muncul di dadanya. Tanpa sadar, Kagura bergerak. Bergerak gerakan dansa yang ia lihat dan ia praktekkan bersama Shinpachi tadi. Entah karena sudah bisa atau digerakkan oleh insting, yang jelas siapapun yang melihat gerakan Kagura, akan terpesona melihatnya. Kagura mengayunkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Melangkahkan kakinya ke depan dan ke belakang. Sesekali membuat gerakan memutar.

Memang tanpa musik, tapi dia menikmatinya.

Kagura bahkan tidak sadar kalau Sougo masuk ke ruangan tersebut dan mengamati setiap gerak gerik gadis itu. Kagura bahkan juga tidak sadar ketika Sougo mulai menggenggam tangannya, merangkul pinggangnya dan ikut berdansa dengannya. Gadis itu baru sadar ketika Sougo berbisik di telinganya.

"Berdansa, China?"

Seketika itu juga Kagura terkesiap. Ia langsung membuka matanya yang mana langsung berhadapan tepat di hadapan Sougo. Ia juga menyadari akan posisinya saat ini.

"Sejak kapan—"

"Baru saja," potong Sougo. "Mau dilanjutkan?" tawar Sougo sambik tersenyum tipis.

Kagura memalingkan wajah. "Boleh saja. Tapi jangan salahkan aku jika kakimu terinjak."

"Tenang saja. Aku tidak sebodoh Shinpachi yang membiarkan kakinya terinjak berulang kali."

"Kau ... melihatnya?" Matanya menatap Sougo.

Sougo tersenyum sinis. "Ya."

"Aku juga melihatmu berdansa dengan Nobume," gumam Kagura.

"Aku tahu. Bagaimana menurutmu?" Sougo menggerakkan tubuhnya. Membimbing Kagura untuk melanjutkan dansanya.

"Hm ... bagus. Aku tidak menyangka kau bisa berdansa seperti itu." Kagura mengikuti langkah Sougo.

Sougo tidak berbicara apa-apa lagi. Kemudian keduanya dilanda keheningan. Hanya bergerak dengan mengikuti musik dari jiwa mereka.

"Emperor Waltz. Itu musik yang kau tunjukkan padaku saat pertama kali kita bertemu." Kagura membuka suara.

"Hm. Dan kau langsung menyukainya," tanggap Sougo.

"Tadi kau menggunakan musik itu ketika berdansa Nobume."

"Memang. Kenapa?" Sougo menahan senyum.

"Tidak apa-apa," sanggah Kagura. Tiba-tiba Sougo tertawa terbahak.

"Kau ini kenapa?!"

"Haha ... kau, astaga ... bilang saja kalau cemburu," ujar Sougo masih dengan tertawa.

"Aku tidak cemburu, sialan!" elak Kagura tegas. Ia mendorong tubuh Sougo menjauh.

"Pfft. Oke, oke. Kau tidak cemburu." Kemudian Sougo bergerak cepat lingkarkan tangannya di pinggang Kagura setelah membuat kedua tangan Kagura melingkari lehernya. "Kau hanya tidak suka kalau musik kesukaan kita berdua dipakai oleh orang lain selain kau dan aku. Benar?"

"Sudah kubilang tidak!" Kagura berusaha melepaskan diri dari Sougo. Namun rupanya pria itu tidak membuat jalannya mudah. Sougo justru semakin mengeratkan rangkulan tangannya pada Kagura. Semakin mendekatkan tubuhnya pada Kagura dan kembali mengajak gadis itu berdansa. Dengan terpaksa akhirnya Kagura kembali mengikuti gerakan Sougo.

Sougo menyeringai. "Tidak salah atau tidak mengaku?"

"Argh, Sadis sialan!" seru Kagura. Ia mengangkat tangannya dan menjauhkan wajah Sougo yang dirasa terlalu dekat.

Ini lebih baik daripada melihat Kagura yang diam. Beradu otot benar-benar menjadi kebiasaan mereka. Tidak mudah untuk menaklukkkan Kagura. Bahkan di saat mabuk pun Kagura masih sempat beradu otot dengan Sougo. Yah, bukan perjuangan yang sia-sia karena akhirnya gadis itu bisa takhluk juga di bawah kuasanya. Sougo menyeringai dalam hati. Tiba-tiba Kagura berseru, "Aww! Sadist, kau menginjak Kakiku."

Sougo melihat ke arah kaki Kagura yang memang terinjak. Seringai yang tadinya di dalam hati terbawa ke alam nyata. "Ah, maaf," katanya tanpa rasa bersalah.

Kagura melotot sebal. "Kau sengaja, ya?!" Sougo mengendik. "Kan, aku sudah bilang, kalau aku tidak sebodoh Shinpachi yang membiarkan kakinya terinjak olehmu."

"Do-S yarou!" maki Kagura dengan urat kekesalan yang muncul di pelipisnya.

"Tapi China, aku tidak menyangka kau menyukai dansa atau hal semacam ini."

"Sudah kubilang aku tidak suka!" sekali lagi Kagura mengelak.

Sougo memutar bola mata bosan. "Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku China."

Kagura mendengus. "Sudahlah, aku lelah."

Dia berbalik. Berniat meninggalkan Sougo. Tapi baru beberapa langkah, Sougo kembali menghentikannya. Lelaki itu memeluk Kagura dari belakang. "Kau marah, ya?"

Kagura tidak menengok namun matanya melirik ke arah Sougo. "Tidak!"

"Kau tidak pandai berbohong." Telunjuk Sougo menusuk-nusuk pipi Kagura. Sementara tubuhnya dibebankan pada tubuh Kagura di depannya.

"Sadist, jangan bebankan tubuhmu padaku!" bentak Kagura.

"Heh~ kenapa? Aku lelah, China," gumam Sougo di telinga Kagura. Membuat gadis itu menggeliat geli. Tangannya terkepal untuk menghajar wajah pria yang hampir—atau memang—tidak pernah menunjukkan rasa bersalah. Namun terpaksa berhenti karena dengan sigap laki-laki itu menangkapnya. Sougo tersenyum meremehkan.

"Masih seratus tahun lebih cepat untuk bisa menghajarku, China."

"Kuso gaki!" seru Kagura. Kagura berteriak memaki Sougo.

"Ssstt!" Sougo mendesis penuh peringatan. Otomatis Kagura terdiam karena melihat ekspresi Sougo yang menjadi serius. Dia seperti seseorang yang sedang mencoba menganalisis sesuatu. Seperti dia mendengar sesuatu yang mencurigakan di rumahnya. Jantung Kagura berdetak keras. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin mulai bermunculan dari pelipisnya.

"S-sadis—"

Sougo meletakkan telunjuknya di depan bibir. "Ssstt~"

Kagura takut. Sungguh. Tubuhnya menggigil kedinginan. Membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Sougo melirik Kagura yang memucat.

"Bercanda," kata Sougo dengan menampilkan seringai jahilnya. Detik itu Kagura merasa jantungnya absen satu ketukan, napasnya terkesiap. Ia melebarkan matanya menatap pria sadis yang kepalanya ditopangkan pada bahu kirinya.

Bibir gadis itu bergetar. Manik birunya berkaca-kaca dengan air mata yang siap tumpah. Sougo panik. Ia langsung melepaskan dekapannya ketika setetes air mata mengalir di pipi Kagura. "O-oi, China. Kau kenapa?"

Tangannya bergerak gelisah, tidak tahu harus apa. Dari dulu Sougo selalu bingung dengan Kagura yang menangis. Sementara Kagura diam tak menjawab. Hanya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menangis sesenggukan.

"Hiks~"

"China ... aku minta maaf. Tadi aku hanya bercanda sungguh. Dan aku menyesal," ucap Sougo menyesal. Tadi dia memang hanya bercanda dan melupakan kelemahan gadis tersebut. Kagura memang selalu takut dengan hal menegangkan seperti itu. Yah meski sedikit banyak ia menyukai ekspresi Kagura yang seperti itu. Dia seorang sadis, ingat?

Sougo memeluk Kagura. Menenggelamkan kepala gadis itu di dadanya. Tangan besarnya mengusap surai jingga Kagura. Mencoba menenangkannya.

"B-baka!" hardik Kagura. Suaranya tercekat. "Sadist no baka!"

"Ya ya terserah katamu," sahut Sougo dengan nada pengertian meski dalam hati jengkel luar biasa. "Ssstt ... maaf, oke?"

Kagura tidak menjawab. Namun kepalanya mengangguk. Menandakan gadis itu memaafkannya.

"T-tapi—"

"Aku tahu, aku tahu. Jangan mengulanginya lagi. Benar, kan?" kata Sougo melanjutkan ucapan Kagura. Dia sudah hapal luar kepala apa yang dikatakan gadis itu. Kagura merengut. Tidak terima kata-katanya dipotong.

Sougo kembali memeluk Kagura. Yang dibalas dengan melingkarkan lengan kecilnya di pinggang Sougo. Sougo bergerak. Mengayun-ayunkan tubuh keduanya ke kana dan ke kiri dalam tempo lambat. Mirip seperti membuai bayi yang berada dalam gendongan ibu. Mereka terus seperti itu sampai beberapa saat.

Kagura mungkin akan jatuh tertidur jika Sougo tidak menghentikan gerakannya. Laki-laki itu menyentuh sisi wajah Kagura. Menengadahkannya untuk menatap Sougo. Ia bisa melihat kalau wajah gadis itu masih sedikit basah dengan air mata. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya pada Kagura. Lidahnya terjulur menjilat sisa-sisa air mata. Kagura reflek menutup mata. Dia merasa geli dengan tindakkan Sougo. Pun dengan lidah lelaki itu yang akhirnya tidak berhenti sampai di sana melainkan terus berjalan menuju telinga Kagura. Napasnya menjadi berat.

Sougo menyusupkan lidahnya ke dalam telinga Kagura. Membelainya dengan lembut. Mengulum daun telinganya dengan mulutnya yang panas. Ia bisa merasakan tangan Kagura yang mencengkram kemeja belakangnya. Dan sebuah lenguhan kecil lolos dari bibir delima Kagura.

Sougo tersenyum. Ah, pancingannya berhasil.

Kemudian ia melanjutkan dengan membubuhi tanda di sekujur leher gadis itu. Memberikan kecupan ringan dengan efek listrik yang mengejutkan seluruh tubuh Kagura. Uap putih keluar dari mulut Kagura. Sudah sepanas apa tubuh gadis itu sekarang? Tangan Sougo bergerak seduktif menjamah seluruh permukaan tubuh Kagura yang masih tertutup kain. Ringan dan mengejutkan. Menambahkan efek panas dan lenguhan menggoda. Sougo bisa merasakan detak jantung Kagura yang menggila sama seperti dirinya. Kagura menengadahkan kepalanya dan menatap Sougo sayu.

Tanpa perlu ditanya, Sougo tahu apa yang diinginkan gadis itu. Dan langsung saja ia mengabulkannya. Sougo menyatukan bibir mereka. Menggodanya di awal dan melayani dengan sungguh pada akhirnya. Mengecup, melumat dan menggigit kecil bibir bagian bawah Kagura. Kemudian dia membelai pintu masuk menuju dalam mulut Kagura. Gadis itu menyetujuinya dan menyambut tamu tersebut. Mereka bergelut di dalam. Saling bertaut dan berdansa layaknya di bawah bulan. Yang satu ke kanan maka yang lain ke kiri. Berputar dan ditangkap. Berdansa lagi hingga semakin menyatukan keduanya. Membiarkan salivanya tertukar dan menetes keluar akibat tidak kuat akan indahnya gerakan dansa lidah di dalam sana.

Hingga keduanya kelelahan dan memutuskan untuk berhenti. Mereka saling bertatapan. Keduanya sama-sama tersengal, namun tidak begitu kentara untuk Sougo.

Laki-laki itu sudah tidak tahan. Dengan melumat bibir Kagura sekali lagi, Sougo langsung meraih Kagura dalam dekapannya. Membawanya ke ruangan lain yang lebih privasi dan lebih nyaman daripada karpet bulu.

-oOo-

Kagura dan Sougo selalu terbuka satu sama lain. Hampir tidak pernah menyembunyikan rahasia kecuali lupa atau memiliki alasan lain. Tapi pada akhirnya mereka akan tetap terbuka. Termasuk jika keduanya sama-sama tahu kalau mereka memiliki perasaan yang sama namun tidak ingin berpacaran. Mereka berpikir kalau pacaran hanya buang-buang waktu dan tidak bisa saling terbuka. Mereka lebih nyaman seperti ini. Dan jika memang mereka memutuskan akan bersama, maka itu adalah sebuah pernikahan.

Saking terbukanya, Sougo dan Kagura lebih mengetahui masing-masing keduanya lebih daripada yang lain.

Seperti Kagura yang akhirnya membiarkan Sougo melucuti bajunya ketika sudah kehilangan akal akibat bibir panas dan lidah basah Sougo, atau Sougo yang selalu menjilati puncak dada Kagura karena berwarna menarik seperti sekarang. Kagura meremas surai pasir lelaki itu ketika tangan laki-laki sadis itu membelai daerah sensitifnya yang lain. Membuatnya mengerang keras tanpa bisa ditahan. Apalagi ketika lidahnya yang basah ikut bermain membelai benda sebesar biji jagung sementara jarinya masuk ke dalam celah yang selalu sempit sekalipun sudah dimasuki berulang-ulang olehnya.

Lembab dan hangat. Sensasi yang Sougo suka dari Kagura.

"S-Sougo~" erang Kagura. Kepalanya terlempar ke belakang ketika jari itu bertambah dan masuk secara tiba-tiba.

Sougo tidak merespon. Dia hanya melanjutkan pekerjaannya. Hingga ia merasa waktunya Kagura sudah dekat, Sougo melepaskan semua. Menjauhkan wajah dan tangannya dari pusat tubuh gadis itu. Kagura membuka matanya. Napasnya tersengal. Bersiap akan mengeluarkan air mata seperti tadi. Mamun sebelum itu terjadi, Sougo mendekatkan wajahnya. "Setelah ini, oke?"

Kagura mengangguk meski dengan kecewa. Ia memalingkan wajah ketika Sougo membuka celananya—satu-satunya kain yang masih menempel di tubuh Sougo. Untuk keterbukaan yang ini, Kagura sebisa mungkin tidak ingin melihatnya, meski sudah sering. Wajahnya semakin memerah. Sougo menindih tubuh Kagura yang mungil. Sebuah benda yang selalu menggantung di antara kedua kaki lelaki tersebut menggesek daerah inti tubuh Kagura. Mereka sama-sama melenguh.

"Yeah~ ayo kita berdansa, Kagura," bisik Sougo dan memulai penyatuan mereka.

-oOo-

Owari.

-oOo-

Mau tanya ... itu masih masuk implisit lemon, kan? Belom eksplisit, kan?

Makasih udah ngikutin twoshoot ini. Btw, ini twoshoot pertamaku /ga tanya. Dan maaf, aku belum bisa balas reviuw. Makasih buat yang udah nge-read, nge-repiuw, nge-follow dan nge-favo. Yapz, kritik dan saran sangat diterima.

Sampai jumpa di ff yang laiiiinnn~

Hana Kumiko ^^