Melihat senyumnya, sebuah kebahagiaan untuk ku. Berada didekatnya, kesejukan tersendiri untuk ku. Berada di sampingnya, kenyamanan yang tak pernah ku harap berakhir, hari ini, dan sampai kapan pun.
Hembusan napasnya, hadiah termanis dan tersempurna dalam hidup ku. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Tapi justru aku lah yang membuat dia – Jinyoungku- tersiksa.
Aku yang terlalu egois mengiginkan segala hal untuk dilakukannya, namun dia tetap tersenyum di hadapanku. Dia –Jinyongnya- memberikan segalanya yang dirinya punya untuk ku. Tapi yang kuberikan hanyalah luka, bahkan mungkin lebih setelah ibu kami kembali.
Aku duduk di beranda kamar ku dengan gitar di tanganku dan dengan Jinyoung yang duduk bersandar di bahuku, sembari menikmati sisa hujan yang lalu turun membasahi permukaan bumi, memberikan aroma khas membawa ketenangan. Aku mengiringi suara merdu Jinyoung menyanyikan lagu kesukaannya.
I got all I need when I got you and I
I look around me, and see sweet life
I'm stuck in the dark but you're my flashlight
You're gettinig me, getting me through the night
Can't stop my heart when you shine in my eyes
Can't lie, it's a sweet life
I'm stuck in the dark but you're my flashlight
You're gettin' me, gettin' me through the night
Cause you're my flash light
Kebahagiaan dan sesak di dadaku terasa bersamaan. Bahagia karna Jinyoung berada di sampingku. Dan sesak karna lagu ini Jinyoung pernah bilang jika lagu ini seperti aku dan dirinya. Aku menyinari nya dalam gelap. Jinyoung aku tidak sebaik yang kau kira.
Jinyoung maafkan aku, Mom akan datang sebentar lagi Jinyoung dan setelah kau tau rencana mom kau masih akan menganggapku flashlight? Aku tidak tau bagaimana aku menyampaikan rencana mom kepadamu. Tapi percayalah Jinyoung aku akan berusaha membatalkannya.
Jinyoung menatap ku dan tersenyum lagi. Kali ini lebih manis, senyum Jinyoung selalu manis. Jinyoung terus melanjutkan lagi bait demi bait lagu itu.
Kecupan yang Jinyoung berikan di pipiku mengakhiri lagu yang Jinyoung nyanyikan. Senyum yang lebih lepas sampai mata cantiknya tertutup karena senyum manis itu. Aura bahagia yang selalu ingin aku lihat terpancar diwajahnya.
Aku mencubit pipinya memberi kecupan dan sedikit lumatan pada bibirnya yang selalu terasa manis di mulutku. Aku mengakhiri pertemuan bibir kami. "Jinyoung apa pun yang terjadi aku sangat mencintaimu" Jinyoung hanya membalas dengan pelukan.
.
.
.
"Mark apa Jinyoung tidak ada kuliah pagi ini?"
" ada mom, tapi sepertinya Jinyoung belum bangun."
"lalu kenapa kau masih berada disini? Cepat bangunkan adikmu, sebelum dia benar-benar kesiangan."
" aku masih ingin menemani mom memasak, aku masih merindukan mom."
" Mom akan berada disini cukup lama sayang, jadi cepat bangunkan adikmu sebelum mom menjewermu."
Mark tertawa "baiklah mom aku akan membangunkan adik ku tercinta." Mark beranjak dari dapur menuju kamar Jinyoung.
Ibu Mark tersenyum, untung lah Mark bisa mengurus Jinyoung yang pendiam. Setidaknya Mark bisa diandalkan sebagai kakak.
.
.
Mark membangunkan Jinyoung dengan kecupan kecupan kecil di seluruh wajah Jinyoung.
" Yahhhh Mark aku sudah bangun, jam berapa sekarang Mark?" Jinyoung menatap wajah tampan Mark.
" ini sudah pukul tujuh pagi sayang, cepat bangun dan mandi mom sudah menunggu kita di bawah untuk sarapan."
"Mom ada di korea?" Jinyoung bertanya dengan keterkejutannya.
"iya mom sampai tadi malam saat kau sudah tertidur sangat pulas."
"chaaa cepat mandi."
"tunggu, tunggu apa appa juga ada?"
"tidak sayang dad tidak ikut kesini, hanya mom. Cepat mandi aku juga akan mandi, jangan membuat mom menunggu lama."
"baiklah Mark." Jinyoung beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi, dalam hati Jinyoung bersyukur appa nya tidak iku datang kesini.
Mark memandang pintu kamar mandi Jinyoung dengan tatapan nanar "maafkan aku Jinyoung."
.
.
Mark duduk di ruang makan lebih dulu tidak lama kemudian Jinyoung datang. Memberi salam dan pelukan kepada ibunya, walau Jinyoung sedikit canggung.
"Jinyoung bagaimana dengan kuliah mu, apa ada kesulitan." Ibu nya bertanya di sela sarapan pagi ini.
"semuanya berjalan lancer mom, tidak ada masalah sedikitpun." Jinyoung menjawab dengan wajah menunduk.
"tentu saja Jinyoung termasuk mahasiswa terpandai dikampus Mom, jadi Mom tidak usah khawatir soal nilai-nilainya." Mark menyahut obrolan Ibu nya dan Jinyoung.
"belajarlah seperti Jinyoung, dia tahu bagaimana cara membanggakan orang tuanya, tidak seperti kau Mark." Jinyoung sedikit tersenyum dengan perkataan ibunya. Dia hanya mendapatkan pujian dari neneknya dulu.
"tapi aku juga tidak bodoh Mom." Mark membela diri.
"iya kau kan anak Mom, oh ya nanti kau harus bertemu Jaekyung, mom sudah mengurus tempat pertemuan kalian."
"Mom aku mohon pikirkan lagi." Mark meletakkan tangan kirinya di atas paha Jinyoung, yang berada dibawah meja. Mark belum siap membuat sakit Jinyoung lebih jauh, dan bagaimana menerima respon Jinyoung. Jinyoung yang tidak tahu apa apa hanya mendengarkan percakapan itu dengan seksama.
"Mark Mom sudah mengatakan jauh jauh hari tentang ini, tidak langsung menikah kalian bisa bertunanagn dulu, tiga sampai lima bulan lagi."
Jinyoung yang akan menyuapkan makanan kedalam mulutnya terhenti. Menikah? Mark? Pasti bukan dirinya, wanita bernama Jaekyung. Dan ibunya sudah bicara dengan Mark soal ini jauh jauh hari. Kenapa Mark tidak member tahunya? Kepala Jinyoung terasa pusing.
Mark tidak menjawab perkataan ibunya. Tidak ada obrolan setelah itu, sarapan berlanjut dengan keheningan. Jinyoung memegang tangan Mark erat mencoba mendapat kekuatan lebih.
Bel terdengar Jinyoung buru buru berdiri meminta ijin membukakan pintu. Jinyong menghapus setitik air mata yang keluar, mencoba member senyum pada orang yang berada di balik pintu. Jaebum datang tepat seperti harapan Jinyoung. Jaebum menyelamatkannya, karena Jinyoung benar benar ingin keluar secepat mungkin setelah obrolan tadi.
"oppa mau masuk dulu? Mom ada didalam, apa oppa mau menyapa Mom?" Jinyoung bertanya setelah mendapat kecupan dipipi dar Jaebum.
"Mom? Kapan beliau datang? Aku akan menyapanya sebentar, karena aku tidak mau kekasih ku ini terlambat masuk kelas karena aku terlalu lama mengobrol dengan calon ibu mertuaku."
Jinyoung tidak menjawab hanya memberikan Jaebum pukulan kecil di punggungnya dan mengajaknya masuk. Sekalian dirinya pamit untuk berangkat kepada ibunya dan kekasih sekaligus kakanya –Mark-.
.
.
Jinyoung meminta Jaebum menurunkannya di gerbang depan kampus. Setelah Jaebum pergi dengan motornya ke parkiran Jinyoung berjalan bukan memasuki kampus. Jinyoung menuju halte bus. Setidaknya di bus Mark ibunya atau Jaebum tidak akan menemukannya.
Dirinya ingin sendiri, obrolan Mark dan ibunya membuat hatinya sakit. Jinyoung tertawa miris. Kenapa kebahagiaannya cepat sekali berakhir. Dunia seperti benar tidak berpihak padanya.
Kenapa dirinya mencintai kakaknya sendiri? Kenapa Jinyoung tidak lebih cekatan menghilangkan perasaannya. Kenapa cintanya serumit ini?
Ponsel Jinyoung bergetar, nama Mark tertera di layar ponselnya. Jinyoung mengangkat telepon dari Mark.
"ada apa Mark? Kelasku akan segera dimulai."
"Jinyoung maafkan aku, aku akan jelaskan semuanya."
"Mark kau tidak salah, kelasku sudah mulai."
Jinyoung menutup telepon Mark secara sepihak. Mematikan ponselnya setelah mengirim pesan pada Jaebum jika nanti dirinya akan pulang sendiri.
'Aku seharusnya mengerti..cinta ini tak harus ada, nenek kenapa kau tidak membawaku bersamamu ke surga?"
.
.
.
maaf utk typo yang bertebaran
dan
terimakasih untuk Review-nya:
KimKaChoi, Jeon Hyukie, Pudfa, Salvia Im, Aiko Vallery, liliwat, kookies, Cho Ryeomi, Guest, wang100, shaxobyar, ranu17diva
