ONE LAST TIME
DISCLAIMER BELONGS TO KAGAMI TAKAYA
STORY IS MINE
WARNINGS: TYPO(S), OOC, ALUR BERANTAKAN, ABAL, GAJE AND OTHERS.
AUTHOR'S NOTE : Tes, tes, 1,2,3..Oh halo lagi!*teriak pake mic* Gimana kabar kalian semua? Semoga baik yahh. Yosh! Hari ini Amika udah update chapter 2! Banzai! Banzai! Ah iya, disini Shinya mungkin rada-rada OOC dan disini Shinya bakal nyanyi, walaupun dia bakalan nyanyiin lagu barat, tapi kebayang gak sih? *teriak lebay* Hal yang paling penting adalah makasih banyak buat yang udah nge-review dan ngebaca fict GAJE ini*terharu* Semoga kalian yang udah nge-review dan ngebaca ini fanfict gak bosen dan terus ngikutin sepak terjang Amika dalam membuat cerita ini*sungkem* Nah, kalau gitu kita lanjut aja cerita Gaje-nya!
…
STOOOP!
DON'T LIKE, DON'T READ~
Tepat pukul 9 pagi mereka (Tim Guren maksudnya) sudah sampai di Nagoya. Saat ini mereka sedang beristirahat di sebuah gedung tua yang ada di dekat stasiun Nagoya. Lalu bagaimana dengan 100 orang pasukan yang dibawa Guren? Yah, sebagian dari mereka sedang berpatroli dibeberapa tempat yang diperintahkan Guren dan sisanya sedang beristirahat.
"Hei, Guren! Lihat apa yang aku temukan!" Shinya menemukan sebuah gitar tua dan kelihatannya dia gembira sekali
"Aku sedang sibuk, Shinya." Guren menjawab Shinya tanpa melihat pria itu sedikitpun dan lebih memilih untuk memikirkan sesuatu.
"Mou~ yasudah kalau kau tidak mau." Shinya duduk di sebuah kursi dan kemudian jari-jarinya mulai memetik beberapa senar gitar tua tersebut.
Guren yang mendengar suara itu langsung melihat Shinya.
"Hee~ Shinya-sama bisa memainkan gitar? Sugee!" Goshi heboh-heboh sendiri begitu melihat Shinya memainkan gitar.
"Ahaha, menurutmu begitu?" Shinya terkekeh pelan saat mendengar perkataan Goshi barusan.
"Mainkan gitarnya, Shinya-sama" Mito tersenyum kearah Shinya.
"Ah, aku bingung akan menyanyikan lagu apa" Shinya memasang wajah berpikirnya.
"Apa anda punya lagu yang membekas dengan anda, Shinya-sama?" Goshi ikut-ikutan berpikir.
"Yah, kalau itu ada sih." Shinya melirik Guren yang dari tadi melihatnya tanpa berbicara sedikit pun.
"Benarkah? Kalau begitu nyanyikan saja lagu itu!" Goshi begitu semangat untuk mendengarkan Shinya memainkan gitar.
Sementara Guren masih diam sambil tetap melihat Shinya. Dia sedikit penasaran dengan lagu yang akan dimainkan Shinya (Jiaaahh, si Guren Kepo*ditebas Guren*)
"Baiklah, aku akan menyanyikannya!" Shinya jadi ikut-ikutan semangat.
Goshi, Mito, Sayuri dan Shigure menunggu Shinya untuk menyanyikan lagu yang dimaksud Shinya.
Shinya kembali memetik senar gitar dengan jemarinya dan dia mulai bernyanyi.
(Nyanyi bareng Shinya yuk!)
SONG : Ariana Grande – One Last Time (Author suka banget sama lagu ini, trus kalo lagi denger lagu ini Author sering ngebayangin Shinya suka sama Guren tapi Gurennya suka sama Mahiru, apalagi Author suka inget episode terakhir OnS S2, pas Guren bilang kalau dia bakalan ngubah dunia, dimana anak angkat seperti Shinya bisa tegar. Ahh! Author jadi baper, Gomen!)
I was a liar
I gave into the fire
I know I should've fought it
At least I'm being honest
Feel like a failure
Cause I know that I failed you
I should've done you better
Cause you don't want a liar
And I know
She gives you everything
But boy, I couldn't give it to you
And I know
That you got everything
But, I got nothing here without you
So One Last Time
I need to be
The one who takes you home
One More Time
I promise after that i'll let you go
Baby, I don't care if you got her in your heart
All I really care is you wake up in my arms—
Baru saja Shinya akan menyambung lagunya, tapi Guren sudah menyambungnya duluan.
One Last Time
I need to be
The one who takes you home
Yah, lagu pun ditutup oleh Guren. Shinya yang mendengar Guren langsung tersenyum penuh arti, kemudian meletakkan gitar itu. Sementara Goshi heran bagaimana Guren bisa tau lagu itu dan yang lainnya terkejut karena ini baru pertama kalinya Guren benyanyi!
"Kemarin aku mimpi apa ya sampai bisa mendengar Guren-sama bernyanyi, walaupun sebentar" Sayuri membatin sambil melihat Gurn yang masih menatap Shinya dengan tatapan yang lembut.
"Hoo~ ternyata kau masih ingat ya, Guren" Shinya masih tersenyum saat melihat Guren.
"Ck, bagaimana mungkin aku bisa lupa?" Guren memalingkan wajahnya.
"Dasar Guren tsundere." Shinya bangkit dari acara duduknya dan berjalan kearah Guren.
"Cih, urusai." Guren tau kalau Shinya berjalan kearahnya, jadi dia mencoba memancing Shinya dengan pergi ke balkon gedung tersebut.
"Hee~ memancingku ya?" Shinya bergumam kecil dan mengikuti Guren ke balkon.
"Hei, bagaimana bisa Guren tau lagu yang tadi?" Mito angkat bicara.
"Ha? Kau tidak ingat ya, Mito-chan?" Goshi menatap Mito.
"Memangnya kenapa?" Mito malah balas bertanya.
"Haahh, kau ini ya, Mito-chan. Kau ingat saat kita masih SMA dulu? Saat itu sedang ada acara apa ya? Ah, aku pun lupa acara apa itu. Tapi yang jelas saat itu Shinya -sama juga menyanyikan lagu tadi sambil memainkan gitar juga dan kalau tidak salah waktu itu itu Shinya-sama bilang kalau lagu itu dia tujukan untuk Guren" Goshi bercerita dengan panjang lebar sambil ber-flashback ria.
"Ah iya! Aku ingat sekarang." Mito akhirnya ingat saat SMA dulu Shinya pernah menyanyikan lagu yang sama.
Sementara Sayuri dan Shigure mengangguk karena mereka juga baru ingat kejadian waktu SMA dulu.
(Daripada mikirin mereka, lebih baik kita balik ke GurenShin)
Shinya sekarang sudah berada di balkon tapi dia tidak menemukan Guren. Dia yakin kalau Guren sekarang berada di dekatnya.
"Jangan bersembunyi, Guren." Shinya malah menatap langit biru, sebiru matanya.
Guren akhirnya keluar dari persembunyiannya (ternyata dia sembunyi dibalik dinding) dan berjalan mendekat kearah Shinya. Guren memeluk Shinya dari belakang.
"Akhirnya kau keluar juga." Shinya menyentuh tangan Guren yang sedang melingkar di pinggangnya.
"Tak kusangka kau akan menyanyikan lagu itu." Guren mengeratkan pelukannya pada Shinya
"Aku juga tidak menyangka kalau kau akan ikut menyanyikan lagu itu." Shinya tersenyum kecil. Dia bisa merasakan dagu Guren di bahunya.
"Aku juga tidak tau, aku reflek saja ikut bernyayi" Guren menciumi leher Shinya.
"Ngh, hentikan itu, Baka Guren." Shinya langsung membalikkan badannya.
"Tapi aku belum mau berhenti, Shinya~" Guren sengaja bernada manja, karena Guren tau kalau begini Shinya tidak bisa menolaknya. Sekarang Guren sudah melingkarkan tangannya ke balik leher Shinya.
Shinya tersenyum geli melihat Guren saat ini. Yah, secara Guren hanya bisa bermanja-manja padanya dan dia sangat suka melihat Guren yang bermanja-manja seperti ini. Guren pun tidak akan pernah menunjukkan sifat manja-nya ada orang lain selain Shinya.
"Dasar manja.." Shinya langsung menarik Guren dan meraup bibir ranum Guren.
Guren menutup matanya sambil menikmati ciuman Shinya. Tapi sepertinya Guren tidak akan membiarkan Shinya yang memegang kendali, karena sekarang tangan Guren sudah masuk ke dalam jas seragam Shinya dan mulai meraba-raba tubuh Shinya.
"Ja-jangan disini, Guren." Shinya sudah melepaskan ciumannya dan menyuruh Guren untuk berhenti melakukan hal-hal yang seharusnya tak dilakukan di saat seperti ini.
"Baiklah." Guren berhenti dan mundur selangkah dari Shinya.
"Ayo pergi, kita masih ada misi, Guren" Shinya berjalan kembali ke tempat Goshi, Mito, Sayuri dan Shigure.
Guren hanya mendengus dan kemudian mengikuti Shinya dari belakang.
"Kalian sudah siap, Shinya-sama?!" Goshi berteriak dari lantai bawah. Lebih tepatnya mereka sudah berada di pintu masuk.
"Aku datang!" Shinya menuruni tangga tanpa menunggu Guren (Kasihan sekali kau, Guren)
"Maaf kalau aku sudah mengganggu waktu kalian berdua, Shinya-sama." Goshi tersenyum geli melihat Shinya yang sudah berada dihadapannya.
"Kau tidak mengganggu, Goshi" Shinya terkekeh mendengar perkataan Goshi.
"Oi Guren, kau lama sekali" Goshi melirik Guren yang entah sejak kapan sudah disamping Shinya.
"Berisik." Guren mengacak rambutnya perlahan.
Guren berjalan ke depan dan menatap semua pasukan yang dibawanya. Sepertinya beberapa pasukan yang tadi diperintahkannya untuk berpatroli sudah kembali dan tidak ada anggota yang kurang. Guren menghela nafas lega karena tidak ada yang terbunuh sebelum peperangan dimulai.
"Semuanya berbaris!" Shinya yang entah sejak kapan sudah berada disamping Guren langsung memberikan perintah untuk berbaris.
Semua pasukan langsung berbaris. Guren melirik Shinya dan kemudian tersenyum tipis.
"Baiklah kalian semua, kita akan membasmi para vampir sialan itu dan aku ingin kalian semua bekerja sama dalam melakukan hal tersebut. aku tidak akan memaafkan siapa pun yang melanggar perintah dan menganggap misi ini main-main. Mungkin misi ini akan menjadi misi paling berbahaya. Akan ada banyak yang mati. Semua yang ada di sini adalah keluarga. Itu artinya kita akan kehilangan banyak anggota keluarga. Dengar, tujuan kita bukanlah untuk kembali hidup-hidup, tapi tujuan kita adalah untuk meraih kemenangan, mengerti?!" Guren menjelaskan dengan suara yang lantang.
"Ya!" Semua pasukan bersorak dengan semangat.
Guren yang mendengar sorakan semua pasukan tersenyum tipis.
"Kalau begitu, ayo pergi!" Guren kemudian melirik Shinya.
"Semoga beruntung, Guren." Shinya tersenyum kearah Guren.
"Kau juga, Shinya. Jangan sampai mati, ingat itu." Guren dan Tim-nya(-Shinya) melanjutkan perjalanan ke tempat misi pertama mereka.
"Kau juga, Guren." Shinya bergumam. Dia menatap punggung Guren yang sudah menjauh. Dia tersenyum miris dan berharap agar Guren baik-baik saja sampai perang ini selesai.
"Semoga kita bertemu lagi, Guren." Shinya kembali bergumam dan berjalan kearah Tim Shinoa Hiragi.
"Kalian sudah siap?" Shinya sekarang berada disamping Shinoa.
Shinoa terkejut dengan kemunculan seseorang disampingnya ini.
"Ya ampun, Mayjen Shinya. Anda mengejutkan saya." Shinoa menatap pria disampingnya ini
"Mengejutkan ya? Ah iya, kau lebih terkejut yang mana? Aku muncul disampingmu tiba-tiba atau saat kau melihatku dan Guren?" Shinya sengaja menggoda Shinoa.
"Hah? A-apa yang anda bi-bicarakan?!" Shinoa menaikkan volume suaranya. Dia merona hebat karena pertanyaan Shinya.
"Wajahmu merah sekali, Shinoa." Shinya cekikikan melihat wajah merona adiknya.
"U-urusai! Jangan menggoaku, Mayjen Shinya!" Shinoa memalingkan wajahnya.
"Nii-san saja." Shinya tersenyum pada Shinoa.
"Eh? Tapi itu kan tidak diperbolekan." Shinoa langsung menatap Shinya.
"Tapi aku tidak suka saja kalau kau memanggilku begitu." Shinya masih tersenyum pada Shinoa.
"Ba-baiklah.." Shinoa mengangguk dan membalas senyuman Shinya.
"Yosh! Kalau begitu kita akan mulai misinya. Yoichi-kun kau ikut denganku." Shinya menatap Yoichi.
"Baik!" Yoichi menganggukkan kepalanya.
"Aku dan Yoichi-kun akan memantau musuh dari menara." Shinya melirik Shinoa.
"Hai' kami mengerti, kami akan mendiskusikan rencana kami lagi." Shinoa mengangguk mengerti.
"Kalau begitu kami akan berangkat. Ayo, Yoichi-kun." Shinya berjalan lebih dahulu daripada Yoichi.
"Jaa ne, Minna!" Yoichi melambaikan tangannya pada Tim-nya kemudian menyusul Shinya.
"Semoga beruntung, Nii-san!" Shinoa tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Kalian juga!" Tanpa membalikkan badannya Shinya tersenyum tipis karena ini baru pertama kalinya Shinoa memanggilnya Nii-san saat sedang bertugas.
"Baiklah, Minna-san. Ayo kita berangkat!" Shinoa menatap satu persatu anggotanya dan mereka yang ditatap mengangguk kemudian berangkat ke tempat tujuan mereka.
(Sementara nunggu mereka nyape ke tempat tujuan masing-masing, kita liat Tim Guren yang udah bertarung lebih dulu)
"Cih, merepotkan sekali." Guren dan yang lainnya sudah bertemu dengan salah satu vampir yang cukup tangguh.
"Kalian tangani vampir yang lain! Aku akan tangani yang ini." Guren memerintahkan yang lainnya sementara dia masih sibuk beradu pedang dengan vampir dihadapannya.
"Kalian jangan menganggap kami remeh, manusia! Kalian hanyalah hewan ternak!" Sang Vampir akhirnya angkat bicara.
"Ha! Kami akan membalikkan kata-kata kalian dan kalianlah yang akan jadi hewan ternak kami." Guren tersenyum jahat pada vampir yang sedang dilawannya ini.
"Lancang sekali kau!" Vampir tersebut hampir menebas Guren. Guren dengan mudahnya menghindari tebasan itu, kalau tidak bisa menghindar bukan Guren Ichinose namanya.
Pertarungan sengit antara Guren dan Vampir (yang tidak diketahui namanya*plakk*) itu memakan waktu yang cukup lama. Guren sudah sangat kelelahan menghadapi Vampir ini, tapi dia tidak menyerah begitu saja. Dia memakai sisa-sisa tenaganya untuk menebas Vampir tersebut.
"Akh!" Vampir tersebut mendapat luka tebasan dari Guren Ichinose.
"Ha! Sudah kukatakan kalau aku yang akan menang!" Guren tersenyum bangga atas kemenangannya.
"Manusia sialan.." Vampir itu menatap Guren dengan sangat tajam (setajam….golok!)
"Diam dan matilah." Guren kembali menebas Vampir itu dan kali ini Vampir itu mati dan berubah menjadi debu.
"Sial, nyaris saja." Guren langsung jatuh terduduk ditanah.
"Guren-sama!" Sayuri berlari kearah Guren.
"Aku tak apa. Ini berjalan sesuai rencana." Guren kemudian bangkit setelah merasa tenaganya terkumpul, walaupun sedikit.
"Dari mananya? Kita membuang-buang waktu tahu! Kita sudah ketinggalan dengan Tim yang lain!" Goshi ngomel-ngomel sendiri pada Guren.
"Kalau sampai kita memakan waktu lama begini, itu artinya kita perlu meningkatkan kemamuan Tim kita." Guren melirik Goshi kemudian menyarungkan pedangnya kembali.
"Tapi lain cerita lagi kalau pemimpinnya sampai terbunuh." Mito yang berada disamping Shigure angkat bicara.
"Karena itu aku meninggalkan Shinya. Kalau sampai aku terbunuh, dia bisa jadi pemimpin." Guren menjawab seadanya.
"Lebih baik sekarang kita pergi dari sini." Goshi menatap Guren.
"Hm, ayo pergi dari sini." Guren berjalan lebih dulu dan diikuti oleh yang lainnya.
"Kita akan bergabung dengan Tim Shinoa dan Narumi. Target kita selanjutnya adalah leluhur ke-13, Crowley Eusford." Guren menjelaskan dengan singkat, padat dan to the point.
Yang lainnya hanya mengangguk paham.
-ONE LAST TIME-
(Yo! Ayo kita balik ke Tim Narumi dan Shinoa)
Saat ini Tim Shinoa dan Narumi sedang beristirahat setelah menyelesaikan misi pertama mereka sambil menunggu Tim yang lainnya.
"Jadi, sampai kapan kita akan menunggu disini?" Yuu akhirnya angkat bicara.
"Sampai regu lain bergabung dengan kita." Shinoa hanya melirik Yuu.
"Kapan mereka datang?" Yuu kembali bertanya. (Ini si Yuu kok kepo amat?)
"Jika mereka berhasil, sebentar lagi mereka akan datang." Kali ini Shinoa menatap Yuu.
"Ah, mereka datang." Mitsuba melihat beberapa orang yang berjalan dibalik kabut.
"Apa Letkol sudah kembali?" Tanya seorang perempuan yang baru saja muncul hanya dengan beberapa anggota Tim-nya.
"Masih belum." Kali ini giliran Narumi yang bicara.
"Oh…kalau begitu kita akan bersiaga sampai Letkol kembali." Perempuan tadi memberikan perintah pada anggota Tim-nya.
"Baik!" Jawab para anggotanya dan kemudian mereka mulai bersiaga menunggu kedatangan sang Letkol.
"Aihara." Narumi berjalan kearah perempuan tadi yang baru diketahui namanya*digiles*
"Apa kau menyelesaikan misimu?" Narumi menatap Aihara.
"Kalau kami tidak berhasil, kami tidak akan kembali." Aihara mendengus kesal karena pertanyaan Narumi.
"Apa yang kalian lakukan di siang bolong begini?" Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang juga.
"Kalian sudah menyelesaikan misinya, kan?" Guren berwajah datar.
"Tentu saja!" Yuu tersenyum kearah Guren.
"Narumi, dimana pasukan yang lainnya?" Guren menatap sekitarnya.
"Mereka masih belum kembali." Narumi menjawab pertanyaan Guren.
"Begitu ya. Kalau begitu kita takkan menunggu mereka. Kita akan melanjutkan ke misi selanjutnya." Guren menjelaskan langsung to the point.
Mereka yang lainnya cukup terkejut dengan penjelasan Guren.
"Kita akan pergi ke balai kota. Misi kita selanjutnya adalah menghabisi leluhur ke-13, Crowley Eusford." Guren menjelaskan lagi.
"Letkol!" Aihara menatap Guren.
"Aihara…kau kehilangan 8 bawahanmu, ya?" Guren memperhatikan anggota Tim Aihara.
"Ma-maaf." Aihara mulai menangis.
"Itu memang sudah jadi resiko, kan?" Kali ini Guren kembali menatap sekitarnya.
"Kalau begitu aku ingin kau berjaga disini. Siapa tau tim yang lain akan datang." Guren masih menatap sekitarnya, seperti sedang mencari sesuatu.
"Baik!" Aihara berjalan kembali kearah para anggotanya.
"Anda mencari apa, Letkol?" Shinoa angkat bicara.
"Ah, tidak." Kali ini pandangannya tertuju pada sebuah pohon besar yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.
Firasat Guren mengatakan kalau Shinya ada dibalik pohon itu (Yaelah, Guren kayak peramal aja)
"Aku tau kau disana, Shinya." Guren masih menatap pohon itu.
"Ahaha~ aku ketahuan ya?" Shinya muncul dari balik pohon dengan senyum khasnya.
"Haah, jadi bagaimana? Kau terluka?" Guren hanya tersenyum tipis.
"Tidak sama sekali." Shinya berjalan kearah Guren dan dia masih tersenyum menatap Guren.
"Baguslah kalau begitu." Guren masih tersenyum tipis melihat kekasihnya tidak terluka sama sekali.
"Jadi ternyata Nii-san yang anda cari ya, Letkol?" Celetuk Shinoa dengan senyuman mengejek.
"U-urusai!" Guren memalingkan wajahnya.
"Ayo pergi, Guren." Shinya berbisik tepat ditelinga Guren.
"Ba-baiklah! Semuanya, ayo kita pergi!" Guren jalan duluan yang langsung diikuti oleh Shinya disampingnya.
"Mereka berdua itu, sepertinya akan sulit dipisahkan." Shinoa bergumam dan tersenyum sambil menatap punggung sang Kakak dan sang Letkol.
Kemudian semuanya(-Tim Aihara) berjalan mengikuti Guren dibelakang. Sepertinya mereka sengaja membiarkan Guren dan Shinya berduaan di depan.
.
.
Jadi, apakah yang akan terjadi selanjutnya? Kita tinggu di chapter selanjutnya!
.
.
TO BE CONTINUED
Author's note again : Yuhuuu~ Amika kembali lagi*dadah dadah sama readers* Gomenne Amika update-nya lama*bungkuk* Jadi gimana chapter kali ini? Jelek kah? Gaje kah? Aneh kah? Abal kah? Kepanjangan kah? Atau ngebosenin? Kalau iya aku minta maaf sebesar-besaarnya, Minna-san. Aku minta maaf juga adegan GurenShin cuma dikit di chapter ini, tapi akan aku usahain lagi di chapter depan. Makasih juga buat yang udah nge-review chapter sebelumnya, Hontou ni Arigatou Gozaimasu! Author juga bakalan nunggu review buat chapter ini!
Mind to Review~?
