ONE LAST TIME
DISCLAIMER BELONGS TO KAGAMI TAKAYA
STORY IS MINE
WARNINGS: TYPO(S), OOC, ALUR BERANTAKAN, ABAL, GAJE AND OTHERS.
Author's Note : Holaaaa! Kembali lagi dengan author gaje, Amika Shindo! Hohoho~ Ah, Amika minta maaf karena di chapter sebelumnya jadi ShinGuren, bukannya GurenShin*dihajar readers* Yah, Amika emang rada-rada sengaja buat ShinGuren, SOALNYA Amika pengen banget sekali-sekali Guren yang manja sama Shinya. Sudahlah, nanti malah kepanjangan. Ayo kita baca fanfict GAJE ini!
…
STOOOP!
DON'T LIKE, DON'T READ~
Sekarang mereka berada diatap gedung yang berada tidak jauh dari persembunyian leluhur Vampir ke-13, Crowley Eusford.
Guren sedang sibuk memantau bangunan yang menjadi persembunyian Crowley dengan teropongnya.
"Cih, mereka menyadera cukup banyak pasukan kita." Guren melihat satu persatu pasukan yang sekarang tengah disandera.
"Kita akan melakukannya kan? Kita akan membebaskan para sandera, kan?" Yuu yang berada di samping Shinoa angkat bicara.
"Baiklah, kita akan menembaknya dari sini untuk melihat reaksi mereka. Target ada 3, yaitu Crowley Eusford, Chess Belle dan Horn Sklud. Jika musuh lebih kuat dari kita…kita terpaksa meninggalkan mereka." Guren menyudahi kegiatan memantaunya.
"Letkol, apa prioritas utama kita dalam misi ini?" Kali ini Shinoa yang bicara.
"Tujuan utama kita adalah untuk menambah pasukan. Lalu, membebaskan para sandera." Guren menjelaskan.
"Jadi, ada misi lain setelah ini?" Narumi menatap Guren.
"Tugas kita adalah menahan para vampir di Nagoya selama yang kita bisa untuk mengulur waktu pasukan di Shibuya berkumpul." Guren balas menatap Narumi.
"Pasukan utama Shibuya sedang bergerak?" Narumi cukup terkejut dengan penjelasan sang Letkol.
"Ya, jika ini sesuai rencara, mereka sedang menuju Shinjuku." Guren masih menatap Narumi.
"Intinya, misi di Nagoya hanyalah pengalih perhatian." Setelah dari tadi diam akhirnya Kimizuki bersuara (Emang sengaja dibuat diem *dibacok*)
"Kau benar, Kimizuki. Misi pemusnahan vampir bangsawan baru saja tahap 1. Mulai sekarang, kita akan menarik perhatian musuh selama yang kita bisa. Karena itulah-" Penjelasan Guren terpotong.
"…Kita akan melihat reaksi musuh. Jika mereka menyerang, kita lari. Kalau berjalan lancer, kita akan bebaskan para sandera." Shinya memotong penjelasan Guren.
"Dan kalau bisa, kita bunuh Crowley dan yang lainnya." Guren melirik Shinya yang berada disampingnya dan entah sejak kapan pria itu sudah menggenggam senjatanya.
"Itu takkan terjadi." Shinya tersenyum tipis pada Guren.
"Dasar pesimis." Guren malah tersenyum geli melihat Shinya.
"Aku hanya bicara kenyataannya, Guren. Tapi ayo kita berjuang sekeras mungkin." Shinya masih tersenyum tipis.
"Ah, Yoichi-kun, ikutlah denganku. Ini giliran kita." Shinya melihat Yoichi dan kemudian berjalan ke tempat mereka akan membidik musuh mereka.
"Hai'" Yoichi mengangguk dan mengikuti Shinya.
Sementara Tim Narumi dan Shinoa pergi untuk bersiap melakukan penyerangan.
"Aku akan membidik lantai 4. Kau bidiklah lantai 5." Shinya memposisikan dirinya untuk membidik.
"Baik!" Yoichi mengeluarkan senjatanya dan kemudia membidik lantai 5, seperti yang Shinya perintahkan.
Baru saja Yoichi membidik, dia sudah menemukan Crowley yang sedang asik membaca beberapa lembaran kertas.
"Aku melihat vampire di lantai 5. Dia bangsawan!" Yoichi masih berkonsentrasi untuk membidik Crowley.
Shinya langsung menghentikan kegiatan membidiknya dan dia lebih memilih untuk melihat Yoichi yang ada disebelahnya.
"Tolong izinkan aku menembaknya!" Yoichi sudah menarik anak panahnya, tapi tentunya dia butuh izin sang Letkol untuk menembak.
"Izin diterima!" Guren tanpa pikir panjang langsung menerima permintaan izin Yoichi.
Yoichi melepaskan anak panahnya menuju sasarannya. Ah, tapi sayang sekali. Crowley menyadari ada yang datang dan dia berhasil menghindari serangan Yoichi. (Ibaratnya nih ya, 1-0!)
"Aku gagal!" Yoichi mengeluh atas kegagalannya.
"Mekipun dia seorang bangsawan, biasanya serangan itu sulit untuk dihindari." Shinya menatap Yoichi.
"Itu berarti dia sangat kuat dan pantas saja pasukan ke 9 berhasil dia habisi." Guren melirik Shinya.
"Haah, ayo kita pindah tepat." Guren berjalan lebih dulu meninggalkan gedung itu.
Shinya hanya menatap punggung Guren. Dia tau kalau sekarang ini pasti Guren sedang sibuk dengan pemikirannya. Dia berjalan paling terakhir dari mereka semua, yah entah kenapa dia lebih memilih untuk dibelakang.
Mereka pindah ke gedung lain yang lebih dekat ke persembuyian Crowley daripada yang sebelumnya.
"Semuanya, bersiap diposisi!" Guren berjalan kearah Shinya.
"Baik!" Semuanya langsung bersiap diposisi.
"Shinya, bagaimana keadaan musuh?" Guren sekarang berada di samping Shinya yang sedang memantau musuh lewat senjatanya.
"Mereka tidak bergerak. Kemungkinan mereka sedang menunggu kita. Mereka juga pasti telah merencanakan sesuatu" Shinya masih fokus pada kegiatannya.
"Jadi, kita yang akan menyerang mereka duluan?" Kali Mito yang bertanya.
"Ya, dengan mantra ilusi bisa membuat seolah-olah ada 200 orang yang sedang menyerang mereka. Kau bisa kan?" Guren menatap Goshi.
"Bicara sih gampang, tapi aku tidak bisa melakukannya kecuali aku berada dekat dengan musuh." Goshi menyenderkan tubuhnya pada dinding dibelakangnya.
"Kalau begitu kita hanya perlu mendekat." Guren tersenyum tipis.
"Apa?" Kali ini Goshi cukup terkejut.
"Ahaha, kali ini Goshi akan mati." Shinya terkekeh pelan.
"Jangan berkata seperti itu, Mayjen Shinya." Goshi cemberut mendengar perkataan Shinya.
-ONE LAST TIME-
Sekarang Tim Shinoa dan Narumi sedang berangkat menuju bangunan tua yang menjadi persembunyian leluhur ke-13
"Haruskah melakukan ini bersama?" Narumi melirik Shinoa yang berada disampingnya.
"Tidak, jika tujuannya adalah membebaskan sebanyak mungkin sandera dalam waktu 5 menit, akan lebih efektif jika kita berpencar." Shina menjawab pertanyaan Narumi.
"Kalau begitu, ayo berpencar!" Narumi dan Tim-nya berpencar kearah yang berlawanan dengan Tim Shinoa (Ya iyalah, kalau masih bareng bukan mencar namanya *dibacok*)
(Mari kita balik ke Guren dan yang lain)
"Baiklah, ayo kita mulai. Kalian sudah siap, kan?" Guren berjalan kearah para Tim-nya.
"Kapan pun kami siap." Goshi menjawab tanpa ragu.
Guren melirik Shinya yang berada disamping Shigure. Shinya memasang raut wajah agak khawatir dan itu akan menjadi pikiran di dalam otak Guren.
(Mari kita balik lagi ke Tim Shinoa!)
"Kita akan mengatur jam kita. Atur alarm-nya pada pukul 15.10. Saat alarm-nya berbunyi, apa pun yang terjadi, kita harus mundur." Shinoa dan yang lainnya sedang menyetel alarm pada jam saku mereka.
"Terutama kau, Yuu-san. Ini adalah perintah. Saat waktunya sudah habis, mau bagaimana pun keadaannya, kita tetap harus mundur. Itulah peraturan misi kali ini, meskipun itu berarti kita harus meninggalkan rekan kita." Shinoa menatap Yuu.
"Tapi-" Perkataaan Yuu terpotong.
"Tidak ada tapi-tapian! Ketua Tim-nya adalah aku, dan aku tak ingin siapapun terbunuh karena kesalahanku. Jadi tolong, patuhilah perintahku." Shinoa tersenyum tipis kearah Yuu.
"Baiklah. Kita hanya perlu menyelamatkan semuanya dalam waktu 5 menit,kan?" Yuu masih menatap Shinoa.
"Ini tidak akan semudah itu, Yuu-san." Shinoa masih tersenyum tipis pada Yuu.
"Tapi kita pasti bisa!" Kali ini Mitsuba memberikan semangat.
"Kau benar, kita pasti bisa!" Yoichi memasang senyuman khasnya.
DUARRR! (Bener gak suaranya kayak gitu?)
Tembakan yang menjadi sinyal bahwa misi mereka dimulai un diluncurkan.
"Ayo kita mulai misinya!" Shinoa dan yang lainnya langsung memulai misi tersebut.
(Balik lagi ke Tim Guren!)
Guren sedang beradu pedang dengan beberapa vampir yang lain, sama halnya dengan Mito, Sayuri dan Shigure, mereka membukakan jalan untuk Shinya dan Goshi.
Para sandera yang melihat sang Letkol datang menjemput cukup terkejut.
Guren berhenti menyerang dan menunggu vampir-vampir yang lainnya menyerang mereka.
"Oi, Goshi. Bagaimana dengan jarak segini?" Guren melirik Goshi yang berada tidak jauh dibelakangnya.
Goshi mulai meniup cerutu-nya yang bisa menghasilkan ilusi.
"Mereka sudah berada dalam jangkauan ilusiku, ayo maju!" Muncul prajurit-prajurit ilusi dibelakang Goshi.
"Semuanya, serang para manusia itu!" Salah satu vampir mulai menyerang para prajurit-prajurit ilusi ciptaan Goshi.
Para vampir yang lain langsung ikut menyerang prajurit-prajurit ilusi tersebut.
"Apakah kami akan selamat?" Salah satu prajurit yang disandera heran.
"Tentu saja!" Narumi muncul dan langsung memotong ikatan-nya.
Tak lama kemudian Tim Shinoa muncul dan mereka membebaskan para sandera yang lainnya.
"Mito, kuserahkan sisanya padamu!" Guren melompat ke lantai 5 gedung tersebut (Kok Guren lompatannya bisa tinggi banget ya?), secara dindingnya sudah hancur, itu jadi memudahkan Guren dan disaat yang tepat Crowley sedang memperhatikan keadaaan dari situ.
"Oya,sepertinya aku pernah melihatmu?" Crowley malah bertanya saat Guren sudah berada dihadapannya.
"Oh, jadi kau pimpinannya, ya?" Crowley mengeluarkan pedangnya.
"Kami datang untuk membunuh kalian vampir!" Guren menyerang Crowley.
Tapi sayang sekali, serangan itu dengan mudah ditangkis oleh Crowley.
"Heh, kuat juga, tapi masih terlalu lemah!" Guren memasang wajah mengejek (Jujur waktu Guren bilang itu aku gagal vaham :v)
"Yang lemah itu kau!" Crowley menggenggam erat tangan Guren.
"Tidak, tapi kau." Shinya muncul disamping Crowley dengan mengarahkan Byakkomaru miliknya pada Crowley.
"Baiklah, checkmate…" Baru saja Shinya akan menembak tapi Crowley langsung melempar Guren pada Shinya dan alhasil mereka jadi bertubrukan. Karena Crowley menggunakan tenaga dalam(?) untuk melempar Guren, mau tak mau getaran yang cukup kuat terjadi.
"Guren!" Mito berteriak dari luar dan berencana untuk menyusul Guren.
"Jangan kesana, kalau kita kesana, kita hanya akan menjadi beban bagi mereka." Goshi mencegah Mito.
"Tapi…" Mito menatap Goshi.
"Aku punya rencana." Goshi balas menatap Mito.
"Kita harus mengulur waktu dulu untuk mereka, Mito-san." Sayuri memegang sebelah pundak Mito.
(Ayo kita balik ke GurenShin!)
"Sakit sekali bertubrukan denganmu, Guren." Shinya menatap Guren yang ada dihadapannya. Yah, mereka berhasil melarikan diri ke lantai bawah.
"Berisik." Guren mengacak-acak rambutnya.
"Kita mungkin saja mati." Shinya masih menatap Guren.
Guren tersentak dengan apa yang barusan dikatakan Shinya. Guren berjalan kearah Shinya yang masih menatapnya.
"Jangan asal bicara dulu,Shinya." Guren menempelkan dahi-nya dengan dahi Shinya.
"Ini yang aku khawatirkan, Guren." Shinya menutup matanya.
"Kau percaya padaku kan?" Guren mejauhkan wajahnya dan kemudian menatap Shinya.
Shinya membuka matanya kemudian mengangguk "Iya"
"Dan kau ingat janji kita kan, Shinya?" Guren tersenyum lembut pada Shinya.
"Iya." Shinya kembali mengangguk.
"Kau akan selalu berada disisiku walaupun aku jauh darimu dan begitupula sebaliknya, aku akan selalu berada disisimu walaupun aku jauh darimu." Gurenmasih menatap Shinya.
"Aku tau itu, tapi tetap saja aku tidak ingin kehilangan kau, Guren." Shinya menatap tatapan Guren agak tajam.
"Kalau begitu percayalah padaku." Guren mengacak-acak rambut Shinya perlahan.
"Oi, jangan mengacak rambutku!" Shinya cemberut.
"Haha, kau lebih manis kalau begitu." Guren berhenti mengacak-acak rambut Shinya.
"Sekarang, kita harus memikirkan cara untuk kabur." Guren baru saja mau memikirkan cara untuk kabur.
"Hee? Padahal aku baru saja mau memulai pertunjukkan utamanya." Crowley muncul dengan santainya.
"Ayo kita mulai pertunjukannya, Crowley-sama." Chess muncul bersama Horn dan saat ini mereka sudah berada disamping Crowley.
"Kau dengar itu kan, Guren?" Shinya melirik Guren.
"Yah, sepertinya kita harus menerima undangan pertunjukannya, Shinya." Guren tersenyum mengejek kearah Crowley.
"Hee, sepertinya menarik." Crowley langsung menyerang Guren, tapi sayangnya Guren bisa menghindar.
Guren balas menyerang Crowley, tapi Crowley dengan santainya menangkis semua serangngan Guren.
"Cih, berhentilah bergerak!" Shinya mencoba membidik Crowley, tapi tiba-tiba saja dia mendapat cambukan dari Horn.
"Crowley-sama, bolehkah kami ikut bergabung?" Horn masih mencambuk Shinya yang sedang menghindar dari cambukannnya.
"Tidak perlu, musuhnya hanya seperti ini." Crowley tersenyum kearah Horn.
"Jangan melihat kearah lain!" Guren langsung menyerang Crowley dengan sekuat tenaga.
"Hoo, kemampuanmu bertambah baik, ya?" Crowley menangkis serangan Guren.
"Mahiru no Yo!" Guren menancapkan pedangnya pada dinding dibelakangnya dan muncullah aura-aura hitam.
"Shinya!" Guren memberikan sinyal pada Shinya.
Shinya langsung menembak Crowley dan Crowley berhasil menangkis serangan Shinya.
"Bukankah kalian terlalu sering menggunakan pola serangan yang sama?" Crowley langsung terdiam saat melihat Guren dan Shinya sudah tidak ada ditempat.
Crowley tidak sadar kalau serangan yang tadi itu hanya pengalih perhatian saja. Saat ini Guren sedang membopong Shinya, karena tadi Shinya sempat terkena serangannya sendiri, jadi mau tak mau dia harus dibopong oleh Guren.
"Apa lukamu dalam, Shinya?" Guren yang sedang memboong Shinya angkat bicara.
"Aku baik-baik saja." Shinya menahan sakit di dadanya.
"Kalau kau baik-baik saja, berjalanlah sendiri!" Guren masih sempat mendengus.
"Hahaha, biarkan aku dibopong seperti ini dulu olehmu, Guren." Shinya tersenyum miris.
"Aku akan menahan mereka." Shinya melirik Guren.
"Hei, jangan lari begitu. Aku tak suka main kejar-kejaran " Crowley keluar dari tembok yang baru saja dihancurkannya.
"Kalau begitu jangan kejar kami!" Shinya menembak Crowley, tapi lagi-lagi berhasil ditangkis.
Setidaknya serangan tadi bisa memperlambat Crowley, Guren yang melihat itu langsung saja berlari bersama Shinya dan mereka berhasil bersembunyi dari Crowley.
"Cih, dia terlalu kuat, Guren." Bahkan sang Mayor Jendral, Shinya Hiragi tidak sanggup lagi untuk bertarung.
"Shinya.." Guren menatap pria yang sedang dibopongnya saat ini.
"Ada apa, Gu—Hmpphh." Omongan Shinya terpotong dan digantikan dengan ciuman oleh Guren.
Guren tetap mencium Shinya sampai pria itu menikmatinya dan kemudian Guren melepaskan ciumannya.
"Yang tadi itu apa-apaan, Guren?" Shinya menatap Guren.
"Hanya..sebuah perpisahan." Guren bergumam pelan.
"Hah? Kau bilang apa tadi?" Shinya mendengar apa yang barusan Guren katakana.
"Tidak." Guren memalingkan wajahnya.
"Guren, kau tidak berencana untuk mati disini kan?!" Shinya menaikkan volume suaranya.
"Sudahlah, Shinya. Kita harus siap dengan segala resikonya." Guren masih memalingkan wajahnya.
"Kau bodoh Guren! Kau sungguh bodoh!" Entah kenapa Shinya jadi emosi.
Guren menarik Shinya kedalam pelukannya, tapi Shinya malah berontak.
"Lepaskan aku, bodoh!" Shinya mendorong Guren, tapi sia-sia saja.
"Shinya, sebentar saja." Guren mengeratkan pelukannya.
Shinya akhirnya diam dan membalas pelukan Guren tak kalah erat. Sungguh, saat ini Shinya ingin menangis kalau membayangkan yang akan terjadi setelah ini. Dia tau kalau salah satu diantara mereka tidak akan selamat.
"Shinya, kalau ini yang terakhir bagaimana?" Guren menghirup aroma khas tubuh Shinya yang selalu bisa menenangkannya.
"Jangan berkata seperti itu, Baka." Shinya tersenyum, tapi itu bukanlah senyuman bahagia.
"Jangan mencari penggantiku, Shinya." Guren mencoba menggoda Shinya.
"Pffttt, kau pikir itu hal yang mudah? Tapi aku tidak akan mencarinya, Guren." Shinya mengelus surai hitam Guren.
"Siapa tau kau akan melakukannya, Shinya." Guren hanya terkekeh pelan. Dia mendapat firasat bahwa ini adalah saat terakhirnya dengan Shinya.
"Itu tidak akan terjadi, Guren." Shinya tersenyum tipis. Dia juga mendapatkan firasat yang sama dengan Guren.
"Oya, ternyata tamu-tamu kita berada disini." Crowley menghancurkan pintu ruangan tempat Guren dan Shinya bersembunyi.
"Guren.." Shinya berbisik pelan ditelinga Guren.
"Iya, ini saatnya. Terimakasih untuk segala dan senang bisa mengenalmu, Hiragi Shinya " Guren tersenyum dan melepas pelukannya kemudian dia mendorong Shinya sampai ke sudut ruangan.
Guren mengeluarkan pedangnya dan kemudian menyerang Crowley, tapi sayangnya Guren tidak fokus, karena pikirannya saat ini melayang-layag ke Shinya dan alhasil Crowley berhasil menusuk Guren tepat di bahu.
"Guren!" Shinya terkejut dengan pemandangan dihadapannya.
"Eh, seharusnya aku tidak membunuhmu. Ada banyak hal yang perlu kutanyakan padamu." Crowley memperhatikan Guren yang jatuh terduduk dihadapannya.
"Kuso!" Shinya membidik Crowley.
"Aku sudah tak punya harapan. Kau ambil alih pasukan dan lanjutkan misinya, Shinya!" Guren menahan sakit di bahunya saat Crowley mencabut pedangnya.
"Cepat pergi, Shinya!" Guren sudah tidak sanggup bergerak, apalagi saat ini Crowley mencekiknya.
Baru saja Shinya akan bangkit, tapi Shinoa dan yang lainnya datang untuk membantu.
"Lepaskan Guren!" Yuu mengayunkan pedangnya tapi dengan mudah ditangkis oleh Crowley.
"Cepat pergi! Patuhilah perintah!" Guren member perintah terakhir.
"Kau diamlah." Crowley melempar Guren ke tembok.
"Kita harus pergi, Minna-san!" Shinoa berlari kecil sambil membopong Shinya.
Yoichi menembakkan anak panahnya agar setidaknya waktu mereka terulur dan itu berhasil, mereka berhasil keluar dari sana dan mencari tempat persembunyian baru.
"Nii-san, kau baik-baik saja?" Shinoa melihat ada bekas darah di bagian dada pada jas seragam kakaknya.
"Aku sudah lebih baik." Shinya tersenyum tipis.
"Lalu sekarang bagaimana? Kita akan meninggalkan Guren?!" Yuu membentak Shinya.
Shinya hanya tersenyum miris, bahkan sangat miris. Firasatnya benar. Dia akan kehilangan Guren dan sekarang hal itu terjadi.
"Yuu-san, tenanglah. Mayjen Shinya lebih mngenal Letkol Guren daripada kau. Jadi pasti dia merasakan sakit yang lebih dalam darimu." Shinoa mencoba menenangkan Yuu.
Shinya menunduk dia tidak ingin dilihat oleh siapapun saat ini. Poni-nya menutupi setengah wajah tampannya. Tubuhnya bergetar. Sungguh, dia ingin menangis karena harus kehilangan Guren. Dia kehilangan sahabat lamanya, kekasihnya dan sekaligus alasan dia untuk hidup. Dulu dia pernah berjanji pada Guren untuk tetap hidup, tapi pertinya dia akan kehilangan arah sekarang. Siapa? Siapa yang akan mengantarnya pulang?
.
.
TO BE CONTINUED
Author's Note Again : Helo everybody! Gimana cerita kali ini? Jelek ya? Ngebosenin ya? Gaje ya? Kalau gitu Amika minta maaf yang sebesar-besarnya. Tapi Terimakasih banyak buat yang udah nge-review dan nge-baca fict ini. Amika juga minta maaf karena di chapter ini moment GurenShin-nya kelewat dikit*sujud* Untuk chapter depan, Amika bakalan langsung nge-skip cerita, jadinya nanti setelah peperangan ini tapi walaupun udah di skip, Guren keadaannya masih belum diketahui. Okehh itu sedikit bocoran yah. Terimakasih lagi buat kalian semua yang udah nge-review dan ngebaca kisah abal, gaje, aneh, dll ini!
Mind to Review~?
