ONE LAST TIME

DISCLAIMER BELONGS TO KAGAMI TAKAYA

STORY IS MINE

WARNINGS: TYPO(S), OOC, ALUR BERANTAKAN, ABAL, GAJE AND OTHERS.

Author's Note : Sudah dimulai kah? Oh iya, Hai semua! (Ceritanya syuting) Gimana kabar kalian? Semoga baik-baik aja yah. Yosh! Kali ini Amika bakalan buat Shinya super duper galau mikirin Guren. Amika udah bilangin kan, kalau chapter kali ini bakalan nyeritain kisah setelah peperangan? (Yaelah, baru juga semalem aku bilangnya) dan satu lagi! Mungkin chapter kali ini bakalan rada-rada nyerempet ke rate M. Kalau gitu kita lanjut aja cerita GAJE ini!

STOOOP!

DON'T LIKE, DON'T READ~

Sendirian adalah hal yang sedang dialami Shinya saat ini. Dia sedang berada dibalkon sambil menatap langit biru di pagi hari. Biasanya dia tidak sendiri disini, selalu ada seseorang yang menemaninya, seseorang yang akan selalu memeluknya dari belakang, seseorang yang selalu mengejutkannya ketika dia sedang melamun, seseorang yang akan mengacak-acak rambutnya setelah berhasil membuatnya terkejut, seseorang yang akan selalu menggenggam tangannya dan seseorang yang selalu bisa membuatnya tenang disaat dia sedang khawatir, tapi sayangnya orang itu sudah tidak ada. Sudah 2 minggu semenjak peperangan di Nagoya dan sudah 2 minggu pula Guren tertangkap. Tak ada yang tau apa yang terjadi dengan Guren saat ini. Entah dia masih hidup atau mungkin dia sudah mati. Tak ada yang tau, tapi entah kenapa Shinya merasa kalau Guren masih hidup. Belakangan ini dia bermimpi tentang Guren dan Guren berkata padanya untuk jangan khawatir, karena dia tidak apa-apa. Hal yang dikatakan Guren di dalam mimpinya itu terus terngiang-ngiang dikepalanya.

"Aku yakin kau masih hidup, Guren." Shinya bergumam sambil tersenyum tipis.

"Nii-san.." Shinoa muncul dari belakang Shinya.

"Shinoa?" Shinya langsung membalikkan badannya menatap sang adik.

"Boleh aku menemanimu?" Shinoa tersenyum kecil kearah sang kakak.

"Silahkan saja." Shinya kembali membalikkan badannya.

"Terimakasih." Shinoa sekarang berada disamping Shinya.

"Masih memikirkan Letkol Guren?" Shinoa melirik Shinya.

"Hm." Shinya kembali menatap langit biru.

"Kau tidak boleh terus-terusan memikirkannya." Shinoa mencoba menasehati kakaknya.

"Hah? Mana mungkin aku bisa berhenti memikirkannya." Shinya agak marah dengan ucapan Shinoa barusan.

"Apa kau tidak melihat perubahan pada dirimu, Nii-san?" Kali ini Shinoa menatap Shinya, walaupun yang ditatap lebih memilih untuk melihat langit biru.

"Perubahan apa?" Shinya berpura-pura tidak tau.

"Semenjak kepergian Letkol, kau jadi kurang tidur, tidak mau makan, lebih sering melamun, tidak fokus, berwajah sedih dan mood-mu benar-benar buruk! Bahkan kau sudah 4 kali tidak mengikuti rapat, Nii-san!" Shinoa menaikkan volume suaranya.

Shinya hanya mendengus mendengar penjelasan Shinoa. Yah, semua yang dikatakan Shinoa itu benar. Bisa dibilang, raganya ada disini tapi tidak dengan jiwanya.

"Aku mengatakan ini karena aku peduli padamu, Nii-san." Shinoa masih menatap Shinya.

"Hee, aku pikir kau tidak pernah peduli padaku karena aku ini bukanlah saudara kandungmu, Shinoa." Kali ini Shinya menatap Shinoa.

"Kau memang bukan saudara kandungku, tapi karena kau sudah menyandang marga yang sama denganku, itu artinya kau sudah jadi bagian dari keluargaku. Aku tidak peduli dengan statusmu sebagai anak angkat di keluargaku, tapi asalkan kau sudah menyandang marga Hiragi, itu berarti kau adalah keluargaku." Shinoa tersenyum tipis pada Shinya.

Shinya hanya membalas senyuman Shinoa dengan senyuman khasnya. Dia cukup senang karena Shinoa menganggapnya sebagai keluarga. Tidak seperti Kureto, Seishiro, bahkan ayah angkatnya, Tenri Hiragi yang memperlakukannya sama saja seperti yang keluarga Hiragi lakukan pada keluarga Ichinose.

"Terimakasih, Shinoa." Shinya mengelus rambut Shinoa sambil tetap tersenyum.

"Sama-sama, Nii-san." Shinoa tersenyum sangat lembut.

CUP

Shinya mengecup kening Shinoa dan kemudian menatap adik angkatnya itu. Sementara Shinoa sedikit merona akibat ulah sang kakak.

"Kau orang ke-2 yang keningnya pernah kucium setelah Guren." Shinya tersenyum geli.

"Huh! Aku tau itu!" Shinoa cemberut.

"Hahaha, jangan cemberut begitu Shinoa." Shinya malah mengacak-acak rambut Shinoa.

"Jangan mengacak rambutku, Nii-san!" Shinoa berusaha membuat Shinya berhenti mengacak rambutnya.

Shinoa mendapatkan ide dan dia langsung menginjak kaki Shinya.

"Ittai!" Shinya menahan sakit di kakinya yang baru saja dipijak.

"Itu balasan dariku, Nii-san." Shinoa menjulurkan lidahnya kemudian berlari pergi.

"Awas kau, Shinoa!" Shinya berteriak, tapi dia tidak mengejar Shinoa.

Shinoa yang mendengar teriakan Shinya hanya tertawa dan pergi menjauh dari sana.

"Haah, sepertinya kalau Guren tau dia akan marah." Shinya tersenyum geli mengingat Guren yang marah padanya hanya karena Shinya dekat dengan orang lain dan Shinya juga mengingat hukuman yang pernah diberikan Guren padanya karena hal sepele itu.

Shinya mengeluarkan kalung yang dipakainya. Dia memandangi kalung tersebut, kalung dengan cincin yang menjadi hiasannya. Sebenarnya kalung itu sepasang, tapi kalian sudah pasti tau kan siapa yang memakai pasangan dari kalung itu? (Sebenarnya Author males jelasin makanya dibuat gitu aja *ditimpuk*)

"Aku merindukanmu, Guren." Shinya memandangi kalung tersebut dan dia mulai mengingat saat Guren memberikan kalung itu padanya.

(Mari kita ber-flashback ria!)

FLASHBACK ON

Shinya terbangun dari tidurnya, dia melirik kesampingnya, yah, disampingnya ada seorang pria yang sedang tertidur pulas sambil memeluk pinggang Shinya. Shinya tersenyum dan kemudian membalikkan tubuhnya menghadap pria tersebut.

"Ohayou, Guren." Shinya berbisik dan kemudian mengecup kening Guren.

"Ngg, jangan ganggu aku, Shinya." Guren malah semakin mengeratkan pelukannya.

Yah, hari ini mereka libur selama 3 hari penuh dan jika sudah liburan, Guren akan sulit dibangunkan.

"Dasar pemalas." Shinya tersenyum geli melihat sifat pemalas Guren yang akan kambuh di hari libur.

"Memangnya ini jam berapa?"Guren setengah membuka matanya.

"Hm? Ini sudah jam 7 pagi, Guren." Shinya melirik kearah jam yang ada dikamar Guren.

"Oh.." Guren membuka matanya sepenuhnya dan dia menatap Shinya.

"Apa?"Shinya merasa ada alarm bahaya ketika melihat tatapan Guren dan sekarang Guren menyeringai mesum kearahnya.

"Shinya.."Guren berbisik dengan suara yang berat.

"Apa yang mau kau lakukan, Guren?"Shinya makin merasakan ada Shinyal –maksudnya sinyal- bahaya dari Guren.

Dan dengan cepat Guren membalikkan posisinya. Sekarang dia berada diatas Shinya. Guren menumpukan berat badannya pada kedua tangannya yang berada di kanan dan kiri Shinya.

"Oh ayolah, Guren. Kita sudah "melakukannya" tadi malam, dan sekarang kau masih belum puas?" Shinya sedikit merona kalau mengingat-ngingat yang dia lakukan dengan Guren semalam.

"Aku memang belum puas, tapi aku tidak akan melakukannya."Guren mendekatkan wajahnya pada wajah Shinya.

Shinya bisa merasakan nafas hangat Guren menerpa wajahnya. Shinya tersenyum geli melihat ke-MESUM-an Guren.

Guren langsung meraup bibir Shinya. Sementara Shinya yang diperlakukan seperti itu membalas ciuman Guren dan kemudian dia melingkarkan tangannya kebalik leher Guren. Guren menyeringai dalam hati. Saat ini dia dan Shinya sedang berperang lidah.

Mereka berciuman selama 10 menit dan peperangan dimenangkan oleh Guren(Banzai! Banzai! Banzai!*tebar bunga*). Shinya mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal, dia sudah terbiasa dengan kekalahannya.

"Guren..." Shinya yang sudah berhasil mengatur nafasnya menatap Guren.

"Kau kalah lagi, Shinya."Guren kembali memasang seringai mesum dibibirnya.

"Aku sudah terbiasa kalah darimu, Guren." Muncul rona tipis diwajah Shinya.

"Hee~ tidak biasanya aku melihatmu merona seperti itu, Shinya." Guren mencoba menggoda Shinya.

"U-urusai!" Shinya mengalihkan pandangannya.

Guren terkekeh pelan kemudian dia menyingkir dari atas Shinya. Guren duduk dipinggir ranjang sambil menatap Shinya. Shinya duduk dan balas menatap Guren.

"Aku mau mandi, nanti kita bertemu lagi jam 9 ditempat biasa." Guren bangkit dan masuk ke kamar mandi.

"Eh?" Shinya heran dengan ucapan Guren barusan, tapi mau bilang apa lagi, mungkin saja Guren sedang ada urusan.

Shinya bangkit dan keluar dari ruangan Guren, kemudian dia berjalan ke ruangannya, sekarang dia lebih memilih untuk ke ruangannya. Dia tidak tau apa yang Guren rencanakan tapi semoga saja itu bukanlah hal yang aneh.

-ONE LAST TIME-

"Sekarang sudah jam 8 , masih ada waktu 1 jam lagi untuk menemui Shinya." Guren membatin.

Saat ini Guren sedang berada diruangan tempat mereka biasa melakukan rapat. Yah, dia lebih tepatnya seperti sedang melakukan persidangan. Di ruangan ini hanya ada dia, Kureto Hiragi dan Tenri Hiragi. Suasananya cukup tegang, karena dia mendapat tatapan yang tajam dari Tenri Hiragi.(Guren disidang sama camer-nya!)

"Jadi, sebenarnya apa hubunganmu dan Shinya, Ichinose Guren?" Sang Tenri Hiragi memberikan pertanyaan pertama

"Ha? Aku dan Shinya hanya teman lama, tidak lebih dan tidak kurang." Guren menghindari tatapan sang Tenri Hiragi.

"Tapi menurut laporan yang kudengar, hubunganmu dan Shinya lebih dari TEMAN." Kali ini sang Tenri Hiragi member penekanan pada kata "teman".

"Kalau maksudmu lebih dari teman itu adalah sahabat, maka aku akan mengatakan IYA." Kali ini Guren menatap sang Tenri Hiragi.

"Tapi salah satu bawahanmu pernah melihatmu berpegangan tangan dengan Shinya." Kali ini Tenri Hiragi merasa dirinya akan menang.

"Ha? Itu hal yang sudah biasa kami lakukan. Pada awalnya Shinya yang akan mengejutkanku dengan cara datang entah dari mana dan kemudian dia pasti menyuruhku untuk menemaninya entah kemana dank arena aku tidak mau dia jadi menarikku dan memaksaku untuk ikut." Guren lancar menjelaskan.

Kali ini Tenri Hiragi terdiam, yah, karena memang itu kebiasaan Shinya, jadi dia tidak bisa mengelak.

"Kau yakin kalau hubunganmu dan Shinya hanya sebatas sahabat, Ichinose Guren?" Sepertinya san Tenri Hiragi sudah menyerah, karena asalkan dia menanyakan pertanyaan yang sama, Guren dengan mudahnya menjawab semua pertanyaan itu.

"Yah, begitulah."Sebenarnya Guren berteriak "Hore! Aku bebas!" dalam hati.

"Baiklah, kau boleh pergi."Tenri Hiragi sudah pasrah.

Tanpa mengucapkan apapun, Guren langsung berjalan kearah pintu tapi baru saja dia membuka pintu, dia malah bertanya.

"Kalau Shinya adalah kekasihku, memangnya kenapa?" Guren tidak membalikkan badannya.

"Yah, aku tidak begitu peduli. Aku hanya ingin memastikan." Sang Tenri Hiragi menatap punggung Guren.

Tanpa basa-basi, Guren langsung keluar tanpa mengomentari perkataan dari Tenri Hiragi. Dia lebih memilih untuk menemui Shinya sekarang juga. Dia sempat membuka jam sakunya dan jam tersebut sudah menunjukkan jam 9 lewat 15 menit.

"Cih, persidangan bodoh itu membuang-buang waktuku!" Guren ngomel-ngomel sendiri sambil memasukkan jam sakunya ke dalam saku jas-nya.

Guren sampai ditempat dia dan Shinya biasa berduaan(Ituloh, balkon yang tadi, jarang ada orang yang kesitu, makanya itu jadi persembunyian GurenShin)

Guren melihat Shinya sudah berada di balkon sambil menatap langit biru yang senada dengan warna matanya. Dia terlambat 15 menit, sebenarnya dia tidak mempermasalahkan itu, tapi Shinya pasti akan membahas itu.

"Shinya.." Guren bergumam, dia berjalan mendekat kearah Shinya dan memeluk pria itu dari belakang.

"Kau terlambat 15 menit, Guren." Shinya tersenyum mengejek.

"Maaf, tadi aku ada masalah sebentar." Guren mengeratkan pelukannya.

"Kau ada urusan apa dengan Hiragi Tenri?" Shinya membalikkan badannya menghadap kearah Guren.

"Bagaimana kau bisa tau?" Guren mengangkat sebelah alisnya.

"Tadi aku menanyakanmu pada salah satu prajurit dan dia bilang kau dipanggil oleh Hiragi Tenri." Shinya menatap lurus kearah Guren.

"A-aku hanya.." Guren ragu untuk memberitahukannya pada Shinya.

"Jawablah yang jujur, Guren." Shinya memegang kedua bahu Guren.

"Haah, dia menanyakan, sebenarnya apa hubunganmu denganku. Itu saja." Guren menghela nafas pelan.

"Lalu apa jawabanmu?" Shinya cukup penasaran dengan jawaban Guren.

"Aku bilang kalau aku dank au hanyalah teman, tidak lebih dan kurang. Tapi sebelum aku pergi, aku bertanya apa yang terjadi jika kau adalah kekasihku dan ayahmu hanya menjawab dia tidak peduli, dia hanya ingin memastikan. Itu saja." Guren menjelaskan.

"Sudah kuduga dia tidak akan peduli." Shinya tersenyum tipis.

Guren melepaskan pelukannya kemudian dia memutar tubuh Shinya untuk kembali membelakanginya.

"Apa yang kau lakukan, Guren?"Shinya mengangkat sebelah alisnya

"Tenanglah dan ikuti saja perkataanku." Guren yang berada dibelakang Shinya tersenyum tipis.

Shinya hanya mengangguk kecil setelah mendengar ucapan Guren.

"Tutup matamu." Guren berbisik ditelinga Shinya.

Shinya mengikuti perkataan Guren, dia menutup matanya dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Guren sempat mengecek apakah Shinya sudah menutup matanya atau belum. Guren malah tersenyum setelah mengecek Shinya. Dia mengeluarkan sebuah kalung yang disatukan dengan cincin sebagai hiasannya dari dalam saku jas-nya. Dia memakaikan kalung itu pada Shinya dan setelah dia selesai dia belum menyuruh Shinya untuk membuka matanya, tapi dia kembali memeluk Shinya dari belakang.

"Dan saking tidak pedulinya, dia melupakan ulang tahun anaknya." Guren berbisik tepat ditelinga Shinya.

"Eh?" Shinya tersentak dan reflek membuka matanya kemudian dia membalikkan badannya lagi menghadap Guren.

Barusan kau bilang apa, Guren?" Shinya menatap Guren yang sedang senyum-senyum.

"Aku bilang karena saking tidak pedulinya, dia jadi melupakan ulang tahun anaknya." Guren senyum-senyum entah kenapa.

"Ulang tahun?" Shinya sepertinya agak lola karena dia belum mengerti maksud Guren.

"Ini tanggal 22 November, Baka!" Guren langsung berhenti senyum-senyum.

"Berarti hari ini…" Shinya menggantungkan ucapannya.

"Ini hari ulang tahunmu. Selamat ulang tahun, Shinya."Guren kembali tersenyum, senyuman yang sangat lembut.

"Terimakasih, Guren." Shinya memeluk Guren erat.

Guren tidak membalas ucapan Shinya, dia lebih memilih untuk balas memeluk Shinya.

"Aku menyayangimu, Guren." Shinya ingin menangis, tapi dia menahannya sampai-sampai tubuhnya bergetar.

"Jangan sungkan, keluarkan saja." Guren mengelus punggung Shinya yang bergetar. Dia tau Shinya pasti ingin menangis

Shinya menggeleng pelan, dia tidak ingin menangis dihadapan Guren.

"Jangan keras kepala, Shinya." Guren masih mengelus punggung Shinya.

"Bukankah kau yang keras kepala?" Shinya jadi terkekeh pelan.

"Hm? Acara menangisnya tidak jadi?" Guren melepaskan pelukannya dan menatap Shinya.

Shinya menggelengkan kepalanya lagi dan tersenyum pada Guren.

"Baru kali ini ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku." Shinya masih tersenyum menatap Guren.

"Ha? Bahkan Shinoa tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun padamu?" Guren heran.

"Tidak, tidak ada sama sekali. Baru kau yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku Guren~" Shinya tersenyum geli melihat ekspresi Guren.

"Begitu ya…" Guren mangut-mangut.

"Tadi kau menyuruhku menutup mata untuk apa?" Shinya penasaran.

"Kau bisa lihat sendiri." Guren ersenyum sambil menunjuk benda yang ada di leher Shinya.

"Hm?" Shinya mengikuti arah telunjuk Guren dan dia terkejut melihat benda yang diberikan Guren.

"Kalung dengan cincin.." Shinya memegang cincin yang menjadi hiasan dari kalung tersbut dan saat dia melihat cincin tersebut, disana dia melihat ukiran kalimat dengan ukuran yang agak kecil "You're mine, Shinya Hiragi"

Shinya cukup terkejut dengan tulisan tadi dan kemudian dia menatap Guren. Guren yang ditatap hanya tersenyum dan mengeluarkan kalung yang dipakainya, itu adalah kalung yang sama.

"Tulisannya sama denganmu, hanya saja berbeda nama." Guren memperhatikan ukiran kalimat yang agak kecil itu.

"Kau suka itu, Shinya?" Guren menyentuh pipi Shinya.

Shinya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.

"Sudah 4 tahun ya.." Guren menatap mata biru Shinya.

"Kau benar, sudah 4 tahun kita terikat, Guren." Shinya menyentuh tangan Guren yang sedang menyentuh pipinya.

Guren menarik Shinya kedalam tautan bibir. Shinya tentu saja dengan senang hati menerima tautan tersebut. Guren melingkarkan tangannya di pinggang Shinya, sementara Shinya melingkarkan tangannya ke belakang leher Guren.

Guren melepaskan ciumannya. Benang saliva masih menghubungkan dirinya dan Shinya saat dia menjauhkan wajahnya.

"Cepat sekali~" Shinya cemberut.

"Kita lamjutkan di kamarku saja." Guren langsung menarik Shinya dan membawa Shinya kembali ke kamarnya.

Saat diperjalanan ke kamar Guren, mereka bertemu Shinoa yang ingin menanyakan sesuatu pada Guren.

"Ah, Letkol Guren, aku ingin bertanya ten-" Pertanyaan Shinoa dipotong oleh Guren.

"Aku sedang cuti selama 3 hari, tolong jangan ganggu aku." Guren tidak melirik sedikit pun pada Shinoa, dia berjalan terus sambil masih menarik Shinya.

"Gomen, Shinoa!" Teriak Shinya.

"Mereka berdua itu apa-apaan, sih?!" Shinoa kesal karena dia merasa diabaikan.

-ONE LAST TIME-

Sekarang mereka sudah berada diruangan Guren.

"Shinya, kau masuklah ke kamarku." Guren menatap Shinya.

"Hm? Baiklah." Shinya masuk ke dalam kamar Guren.

Guren yang melihat itu tersenyum geli dan kemudian dia membuka jas seragamnya dan menaruh pedangnya, sekarang dia hanya memakai kemeja putih lengan panjang dan celana panjang berwarna.

"Aku datang, Shinya." Guren ikut masuk ke kamarnya.

Dia bisa melihat Shinyayang berdiri disamping ranjangnya.

"Kau sudah siap, Shinya?" Guren menyeringai mesum.

Shinya tidak menjawab, dia hanya menatap Guren yang sedang membuka 3 kancing kemejanya.

"Dasar mesum.." Shinya tersenyum mengejek pada Guren.

"Berisik." Guren kembali maeraup bibir Shinya.

Shinya membalas ciuman Guren. Ternyata tangan Guren juga ikut bermain, Guren membuka jas seragam Shinya dan kemudian dia menjatuhkan Shinya ke ranjang.

"Ini akan jadi hari yang panjang, Shinya." Guren berbisik ditelinga Shinya.

"Cho-chotto matte! Kau tidak bermaksud untuk melakukannya seharian kan, Guren?" Shinya baru sadar akan niat mesum Guren.

"Hmm, kau terlambat Shinya, tapi kita memang akan melakukannya seharian penuh." Guren memulai aksinya.

"TIDAK!" Shinya berteriak, tapi percuma saja, tidak aka nada yang mendengarnya. Yah, walauun begitu Shinya tetap menyukainya.

FLASHBACK OFF

"Haaah, waktu itu Guren benar-benar melakukannya seharian, aku jadi kesulitan dan karena dia aku jadi tidak bisa berjalan! Dasar Baka Guren!" Shinya merona kemudian dia menyimpan kembali kalungnya.

"Kau dimana Guren? Aku..sendirian." Shinya menatap langit biru diatasnya dan pada saat yang sama angin datang dan sukses membuat rambut Shinya sedikit berantakan.

Shinya mengeluh kemudian dia merapikan rambutnya yang berantakan.

"Aku selalu disisimu, Shinya."

Shinya tersentak, dia melihat ke sekelilingnya, tidak ada siapapun sama sekali, tapi suara itu adalah suara Guren, tapi sayang bisikan itu sudah tidak terdengar lagi.

"Kau benar, kau selalu disisiku, Guren." Shinya memejamkan matanya dan mengingat semua kenangannya bersama Guren dan kemudian dia tersenyum.

.

.

TO BE CONTINUED

Author's Note Again : Gimana cerita kali ini? Makin Gaje ya? Gomen! Amika udah update kilat nih, dalam waktu sehari Amika ngetik chapter kali ini dan untungnya berhasil! Terimakasih banyak ya, buat yang udah nge-review atau yang udah nge-baca fict ini. Buat kalian yang review-nya belum Amika bales, Amika mohon maaf soalnya ada banyak tugas sekolah. Okelah gak usah banyak bacot.

Mind to Review~?