ONE LAST TIME

DISCLAIMER BELONGS TO KAGAMI TAKAYA

STORY IS MINE

WARNINGS: TYPO(S), OOC, ALUR BERANTAKAN, ABAL, GAJE AND OTHERS.

Author's note : Yo! Jumpa lagi dengan aku, Amika Shindo yang super GAJE. Pada penasaran nih Guren kemana? Jangankan kalian, aku aja penasaran*plakk*. Okeoke, aku juga berterimakasih banyak sama kalian yang udah nge-review fict ini*bungkuk*. Aku juga minta maaf karena gak bisa bales review kalian, tapi aku udah baca semuanya kok. Kalau ada kesempatan aku bakal bales semua review kalian! Aku bener-bener gak sempet buat ngebales, soalnya aku sekolah dari pagi sampe sore(jam 4 baru pulang) trus pas pulang langsung ngerjain fict ini sampe selesainya pas tengah malem, jadi bener-bener gak sempet. Hontou ni Gomenasai!*sungkem*. Mari kita lanjut aja fict ini~~~

STOOOP!

DON'T LIKE, DON'T READ~

5 menit yang lalu Shinya baru keluar dari ruangan Kureto Hiragi dan sekarang dia berada di ruangannya sambil duduk dimeja kerjanya. Dia menghela nafas karena mengingat perkataan Kakaknya tadi.

-FLASHBACK- (BEBERAPA MENIT YANG LALU)

"Kita akan mengadakan perang dalam waktu 3 hari lagi, kali ini kita akan berperang di Shinjuku." Kureto menatap Shinya.

"Ha?" Shinya tercengang dengan ucapan sang Kakak.

"Kau mungkin akan menemukan sesuatu disana." Kureto masih menatap Shinya.

"Sesuatu?" Shinya menaikkan sebelah alisnya.

"Bisa dibilang begitu(jeda sebentar) Baiklah, aku mengandalkanmu, Shinya." Kureto tidak lagi menatap Shinya, dia memilih untuk membaca dokumen-dokumen diatas mejanya.

"Baiklah." Shinya menjawab dan kemudian dia keluar dari ruangan Kureto.

FLASHBACK OFF

"Nii-san." Celetuk gadis cebol yang baru saja masuk keruangannya tanpa diizinkan *disabit Shinoa*

"Hm? Ada apa, Shinoa?" Shinya melirik Shinoa yang sekarang berjalan kearah mejanya.

"Aku sudah dengar dari Kureto-nii kalau kita akan berperang 3 hari lagi." Shinoa tidak memalingkan pandangannya pada Shinya dan dia lebih memilih untuk duduk di sofa yang ada diruangan Shinya.

"Kau juga akan ikut berperang?" Shinya menatap Shinoa.

"Tentu saja, apalagi Yuu-san sangat ingin ikut berperang untuk membunuh para vampir itu." Shinoa membalas tatapan Shinya dan kemudian tersenyum tipis.

"Yuu? Ahh, dia salah satu eksperimen Owari no Seraph, kan?" Shinya masih menatap Shinoa.

"Ya, begitulah." Shinoa memalingkan wajahnya.

"Kureto -nii bilang aku akan menemukan sesuatu disana. Kau tau maksudnya?" Shinya kembali mengingat perkataan sang kakak.

"Sesuatu? Ah..mungkin pengganti Letkol Guren?" Shinoa melirik Shinya.

"Hah?! Yang benar saja?!" Shinya menaikkan volume suaranya.

"Ahahaha~ aku bercanda, Nii-san." Shinoa cekikikan.

"Ck, kau membuat moodku jadi buruk, Shinoa." Shinya cemberut.

"Ahaha~ Gomen, Nii-san. Tapi aku sangat yakin sekarang." Shinoa menatap Shinya.

"Hah? Yakin? Yakin akan apa?" Shinya menatap Shinoa dengan wajah heran.

"Kalau kau dan Letkol terhubung, tidak peduli dimanapun kalian berada. Kalian saling mengisi satu sama lain. Kalian juga sudah pasti akan sangat sulit bila dipisahkan. Sebenarnya aku penasaran bagaimana kalian bisa jadi sepasang kekasih sampai sekarang. Aku penasaran, bagaimana awal mulanya, Nii-san? Apa Letkol Guren yang menyatakannya lebih dulu?" Shinoa memasang wajah penasaran.

"U-untuk apa kau menanyakan hal itu, Shinoa?" Shinya jadi terbata-bata.

"Ayolah, Nii-san. Ceritakan padaku!" Shinoa bangkit dari acara duduknya dan berjalan ke meja Shinya.

"Tidak mau!" Shinya melihat Shinoa yang saat ini sudah berada disampingnya.

"Onegai, Nii-san~" Shinoa memasang kitty eyes-nya, itu adalah jurus paling ampuh.

"Baiklah, baiklah, kalau begitu duduklah." Shinya tidak tahan melihat kitty eyes Shinoa.

"Yatta!" Shinoa melihat kursi kecil yang tidak jauh dari meja Shinya kemudian menariknya dan menempatkannya disamping kursi Shinya.

"Tapi jadikan ini rahasia, Shinoa." Shinya memutar kursinya menghadap kearah Shinoa yang sudah duduk manis.

"Baik, aku mengerti!" Shinoa mengangguk.

"Haah, aku harus mulai dari mana?" Shinya menghela nafas pelan.

"Kau bisa memulainya dari…saat kalian mengutarakan perasaan masing masing!" Shinoa terlihat sangat bersemangat.

"Hh, baiklah." Shinya kembali menghela nafas dan mulai bercerita.

-FLASHBACK ON-

Saat itu sedang ada acara tahunan disekolah dan Shinya disuruh oleh gurunya untuk mengisi acara dengan cara menampilkan sesuatu. Mau tidak mau Shinya terpaksa untuk mengikuti permintaan gurunya, sebenarnya Kureto lah yang menyuruh guru tersebut untuk memaksa Shinya mengisi acara.

"Hee~ tak kusangka kau akan mengisi acara ini, Shinya." Celetuk Guren yang berada disamping Shinya.

"Berisik." Shinya melirik Guren.

Guren malah mengacak-ngacak rambut Shinya.

"H-hei, apa yang kau lakukan?" Shinya berhasil menjauhkan tangan Guren yang sempat mengacak-ngacak rambutnya.

"Entahlah, tapi aku ingin sekali mengacak rambutmu." Guren tersenyum.

Shinya yang melihat itu sedikit merona dan jantungnya jadi berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.

"Cepat pergi, mungkin aku akan melihatmu." Guren menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal sama sekali.

"Terimakasih, Guren." Shinya tersenyum dan kemudian naik ke atas panggung kecil yang sudah disiapkan.

"Kyaa! Shinya-sama!"

"Kakkoi!"

"Shinya-sama!"

"Kyaa!"

Yah, itu adalah teriakan para siswi yang melihat Shinya muncul sambil membawa gitar dan sekarang sedang duduk di salah satu kursi yang ada disana.

"Terimakasih sudah mau ikut dalam acara ini, Shinya-sama." Seorang gadis yang bisa dibilang adalah host dari acara ini tersenyum pada Shinya.

"Apa anda ingin mengatakan sesuatu, Shinya-sama?"Sang host mengarahkan mic pada Shinya.

Shinya menatap sekelilingnya, dia melihat Guren yang berada dibarisan paling belakang bersama Goshi, Mito, Sayuri dan Shigure. Shinya yang menemukan Guren hanya tersenyum tipis.

"Yah, aku akan menyanyikan sebuah lagu dan lagu ini kutujukan pada Ichinose Guren." Shinya tersenyum.

Tapi perkataannya barusan membuat ekspresi terkejut dari seluruh murid yang ada disana, termasuk sang host tentunya.

"Hah?! Untuk apa?"

"Keluarga Ichinose? Kenapa Shinya-sama melakukan itu?"

"Jangan-jangan lagu yang akan dinyanyikan Shinya sama adalah lagu untuk menjelekkan keluarga Ichinose. Kalau memang iya, itu bagus sekali!"

Itu adalah bisikan-bisikan dari para murid-murid, mereka semua menatap Guren tajam.

Guren yang ditatap seperti itu hanya memasang wajah datar. Shinya melihat tatapan tajam dari para murid-murid dan kemudian jari-jarinya mulai memetik senar gitar dan itu berhasil menarik perhatian semua murid. Shinya mulai menyanyikan lagunya. (Pasti udah pada tau kan itu lagu apa?)

-ONE LAST TIME-

Acara itu sudah selesai dan untuk hari ini para murid dibiarkan untuk bebas dan sekarang Shinya sedang mencari Guren, tapi dia tidak menemukan Guren dimanapun.

"Mito-chan, kau melihat Guren?" Shinya bertanya Mito yang sedang berdiri di dekat gerbang.

"Guren ya? Kalau tidak salah tadi dia bilang ingin tiduran di bukit yang ada dibelakang sekolah." Mito menatap Shinya.

"Benarkah? Terimakasih atas informasinya! Jaa!" Shinya melambaikan tangannya dan kemudian dia berlari kearah bukit yang berada dibelakang sekolahnya.

"Guren?" Shinya menemukan sosok yang dicari-carinya sedang tidur di bawah pohon sakura besar yang ada di bukit itu.

Shinya mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal dan kemudian duduk disamping Guren yang sedang tertidur.

"Dasar, ditempat seperti ini pun kau bisa tidur." Shinya tersenyum geli melihat wajah polos Guren saat sedang tertidur.

"Shinya…" Guren mengigau dalam tidurnya.

Shinya terkejut dan dia berpikir kalau Guren sedang memimpikannya, tapi kemudian dia malah tersenyum.

"Kau sedang memimpikanku ya, Guren?" Shinya bergumam sambil mengelus surai hitam milik Guren.

Guren merasa ada yang sedang mengelus rambutnya, jadi dia membuka kedua matanya secara perlahan.

"Shinya?" Guren menatap Shinya.

"Eh? Sudah bangun, ya?" Shinya berhenti mengelus surai hitam Guren dan kemudian membalas menatap Guren.

"Bagaimana kau bisa tau aku disini, Shinya?" Guren langsung duduk. Dia cukup terkejut dengan kemunculan Shinya.

"Aku mencarimu ke seluruh penjuru sekolah, tapi aku tidak menemukanmu sama sekali. Aku bertemu Mito-chan di gerbang dan dia bilang kalau kau ada disini, makanya aku langsung kemari." Shinya menghela nafas pelan.

"Hah? Untuk apa kau mencariku?" Guren menaikkan sebelah alisnya.

"Untuk apa ya? Ah, aku juga tau, tapi aku tidak begitu suka dengan mereka. Apalagi setelah acara tadi aku malah dikejar murid-murid yang lain. Menjengkelkan sekali!" Shinya mendengus kesal.

"Tapi aku tidak menyangka kalau kau akan tampil." Guren cekikikan.

"Itu sebuah pujian atau ejekan, Guren?" Shinya tersenyum sadis.

Kali ini Guren tertawa dan tawaan Guren membuat Shinya jadi cemberut, dia memalingkan wajahnya dari Guren.

"Jangan cemberut begitu, Shinya." Guren sudah berhenti tertawa.

"Aku tidak peduli." Shinya masih tidak ingin melihat Guren.

"Ck, aku hanya bercanda, Shinya." Guren menghela nafas pelan.

Shinya kembali menatap Guren dan dia bisa melihat kalau saat ini Guren tersenyum, senyuman yang lembut dan hal itu membuat jantung Shinya berdetak lebih cepat.

"Baka Guren!" Shinya kembali memalingkan wajahnya.

Guren hanya diam masih memandangi Shinya yang tidak menatapnya.

"Hei, Guren." Shinya bertanya dengan suara yang cukup pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Guren.

"Apa?" Guren masih menunggu agar Shinya menatapnya.

"Aku penasaran. Sebenarnya, bagaimana rasanya jatuh cinta?" Shinya menatap Guren.

"Hah?Pertanyaan macam apa itu?" Guren cukup terkejut dengan pertanyaan Shinya.

"Ayolah, jawab saja Guren." Shinya masih menatap Guren.

"Ck, menurutku jatuh cinta itu merepotkan. Selalu ingin dekat dengan orang yang disayangi, selalu ingin bersama dengan orang yang disayangi, akan melakukan apa saja untuknya dan jantungmu pasti akan berdetak lebih cepat jika kau sedang bersama orang yang kau sayangi, tapi kau akan merasa sakit hati jika melihat dia bersama orang lain dan kau bisa menangis selama satu hari penuh karena dia meninggalkanmu. Itu menurutku." Guren menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal sama sekali.

Shinya terdiam. Dia mencoba mencerna semua perkataan Guren barusan dan dia mulai membandingkannya dengan apa yang terjadi padanya.

15 menit sudah mereka lalui dengan kesunyian. Tidak ada yang mau berbicara, baik Shinya maupun Guren, mereka tenggelam pada pikiran masing-masing.

"Kenapa Shinya tiba-tiba menanyakan hal itu ya? Apa jangan-jangan dia sedang jatuh cinta? WHAT THE HELL?! Demi alis tebalnya Kureto! Shinya jatuh cinta?!" Guren membatin. Dia tidak habis pikir kalau Shinya akan jatuh cinta.

"Jadi aku jatuh cinta ya? Tapi bagaimana bisa? Bahkan merasakan kasih sayang saja aku tidak pernah." Shinya ikut membatin.

"Oi, Shinya." Guren akhirnya memecah kesunyian.

"Hm?" Shinya tidak menatap Guren. Dia masih berpikir apakah benar dia jatuh cinta.

"Kau…sedang jatuh cinta ya?" Guren memasang wajah penasaran. Jujur, di relung hatinya yang paling dalam merasakan sakit seperti ditusuk oleh beribu pedang.

"Mungkin." Shinya menjawabnya dengan ekspresi yang tidak meyakinkan.

"Dengan siapa?" Guren benar-benar penasaran.

"Percuma saja, kau tidak akan percaya." Shinya menghela nafas.

"Katakan saja." Guren sangat penasaran dengan orang yang sangat beruntung itu.

"Orang itu…" Shinya menggantungkan kalimatnya.

"Siapa?" Guren menunggu jawaban Shinya.

"Orang itu kau, Guren." Muncul rona tipis di wajah Shinya.

"Oh." Guren hanya ber-oh ria.

Sedetik

Dua detik

Tiga detik

Lima menit!

"HAH?!" Serkarang Guren syok berat.

Shinya memalingkan wajahnya. Dia tau kalau Guren pasti tidak akan percaya.

"Kau..serius, Shinya?" Guren ragu-ragu.

"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Shinya menatap Guren dengan ekspresi serius.

"Ti-tidak." Sekarang Guren yakin akan perasaan Shinya padanya.

"Jadi, bagaimana?" Shinya masih memasang ekspresi serius.

"B-ba-bagaimana ya?" Guren memalingkan wajahnya, sekarang wajahnya sudah sangat merah.

"Aku menunggu, Guren"Shinya tersenyum geli karena dia sempat melihat wajah Guren yang merona.

"Sepertinya..aku juga..jatuh cinta padamu, Shinya." Guren berbisik, tapi masih dapat di dengar Shinya.

Sekarang giliran Shinya yang wajahnya menjadi merah akibat perkataan Guren. Jujur saja, saat mendengar ucapan Guren barusan dia senang, senang sekali sampai-sampai dia ingin terbang ke utopia(?)

"Terimakasih." Shinya mengecup pipi Guren.

Guren sedikit terkejut, tapi kemudian dia tersenyum kearah Shinya.

"Sama-sama, Shinya." Guren masih tersenyum.

Shinya menatap Guren yang bangkit dari acara duduknya dan menatap langit yang sore. Dia tidak menyangka kalau dia bisa jatuh cinta pada pria yang cukup keras kepala, susah diajak kerja sama-terkadang-, dan..lumayan mesum seperti Guren.

"Ayo pulang." Guren mengulurkan tangannya pada Shinya.

Shinya menerima uluran tangan Guren dan ikut berdiri disamping Guren. Shinya memperhatikan tangannya yang sedang digenggam oleh Guren.

"Hangat." Batin Shinya.

Dia merasakan kehangatan dari genggaman Guren dan kehangatan itu dia biarkan menjalar ke dalam hatinya.

"Shinya." Guren melirik pria disampingnya.

"Ada apa, Guren?" Shinya menatap Guren.

"Ah, tidak jadi. Ayo kita pulang." Guren membatalkan niatnya untuk mengatakan sesuatu pada Shinya dan lebih memilih untuk mulai berjalan.

"Kau ingin mengatakan apa, Guren?" Shinya berjalan beriringan dengan Guren.

"Kan sudah kubilang tidak jadi, kau tidak dengar ya?" Guren mendengus pelan.

"Mou~ padahal aku ingin tau." Shinya cemberut.

Guren melirik Shinya yang cemberut, kemudian tersenyum geli saat melihat wajah Shinya yang sedang cemberut. Menurut Guren, Shinya kalau sedang cemberut itu lebih manis daripada tersenyum.

"Ayolah, Guren. Beritahu aku~" Shinya merengek untuk diberitahu.

"Tidak mau." Guren memalingkan wajahnya.

"Guren~ beritahu aku." Shinya masih merengek pada Guren.

"Ck, jangan berisik, Shinya." Guren kembali menatap Shinya.

"Hidoi~ padahal aku penasaran!" Shinya makin cemberut.

"Cari tahu saja sendiri." Guren tersenyum mengejek.

Begitulah perjalanan pulang Guren dan Shinya. Selalu saja diikuti oleh godaan, ejekan, perkelahian-gak sampai adu jotos ya- dan sebagainya. Kalau bukan Guren yang memulai, pasti Shinya dan begitulah seterusnya.

-FLASHBACK OFF-

"Begitu ceritanya." Shinya selesai mendongengkan masa lalu-nya.

"Hee~ ternyata kalian berdua benar-benar tsundere." Shinoa memasang senyuman mengejek.

"Terserah saja." Shinya menghela nafas pelan.

"Ah! Aku baru ingat kalau aku belum menyerahkan sesuatu pada Kureto-nii!" Shinoa langsung berdiri dan berlari kearah pintu.

"Terimakasih untuk cerita masa lalunya, Shinya -nii. Jaa ne!" Shinoa keluar dari ruangan Shinya.

"Dasar.." Shinya kembali menghela nafas.

Shinya masih memikirkan apa yang dimaksud Kureto dengan menemukan 'sesuatu' di medan perang yang sudah menantinya. Entah kenapa dia merasakan firasat yang tidak enak tentang 'sesuatu' yang dimaksud Kureto.

.

Apakah yang 'sesuatu' yang menanti Shinya di medan perang nanti?

.

.

TO BE CONTINUED

Author's Note Again : Hai semua! Gimana kabar kalian? Semoga baik-baik aja yahh dan gimana dengan cerita kali ini? ? Jelek kah? Gaje kah? Aneh kah? Abal kah? Atau ngebosenin kah? Kalau lebih pendek sih udah pasti. Ah, Amika minta maaf karena nge-update chapter kali ini lama*bungkuk* karena ada ulangan mendadak selama satu minggu, notebook Amika jadi di sita sama Kakak Amika*hiks*. Sudahlah, tak perlu dibahas.

Mind to Review~?