ONE LAST TIME

DISCLAIMER BELONGS TO KAGAMI TAKAYA

STORY IS MINE

WARNINGS: TYPO(S), OOC, ALUR BERANTAKAN, ABAL, GAJE AND OTHERS.

Author's note : Haiii! Ketemu lagi dengan Author yang gaje ini! Gimana kabarnya, Minna-san? Semoga baik-baik aja ya. Amika minta maaf karena baru bisa update sekarang, soalnya kuota modem Amika abiss dan ditambah penyitaan notebook Amika yang baru dibalikin kemarin. Amika juga mau bilang terimakasih buat yang udah ng-review chapter sebelumnya. Oke, daripada capek dengerin curhatan Amika yang sebenarnya masih banyak, mendingan kita langsung masuk ke cerita aja~~

STOOOP!

DON'T LIKE, DON'T READ~

Menatap dunia yang sudah hancur berantakan seperti saat ini adalah hal yang biasa bagi Shinya. Yah, hari ini mereka kembali berperang, tapi sepertinya perang kali ini tidaklah sebesar perang yang lalu. Saat ini Shinya sedang mengamati dari atap gedung tua.

"Bagaimana keadaan disana, Mito-chan?" Shinya bertanya pada Mito yang baru datang dan sepertinya hendak menghampirinya.

"Eh, ternyata anda bisa merasakan kehadiran saya." Mito tidak menyangka kalau Shinya bisa merasakannya.

"Yah, karena aura-mu cukup kuat Mito-chan dan kau adalah orang kedua yang bisa dengan mudah kurasakan kehadirannya." Ucap Shinya tana membalikkan badannya menghaap Mito.

"Begitu ya.." Mito bergumam.

"Jadi, bagaimana keadaan disana, Jujo Mito?" Kali ini Shinya membalikkan badannya dan menatap kearah Mito.

"Belum ada tanda-tanda dari para vampir sama sekali, Shinya-sama." Mito balas menatap Shinya.

"Sou ka~ Kalau begitu kau boleh kembali ke posisimu, Mito-chan dan teruslah bersiaga." Shinya tersenyum tipis pada Mito.

"Hai' " Mito berbalik dan meninggalkan Shinya.

Shinya menatap langit diatasnya. Gelap. Yah, cuacanya memang kurang mendukung, tapi perang tetap harus dilakukan.

"Apa yang akan kutemukan disini?" Batin Shinya.

Jujur saja, Shinya masih bingung dan penasaran tentang 'sesuatu' yang dimaksud Kureto, tapi untuk saat ini dia harus fokus pada peperangan ini. Baru saja Shinya ingin menghela nafas, tiba-tiba-

DUARR (Bener gak?)

-terdengar suara ledakan.

"Hoo, sudah waktunya ya?" Shinya tersenyum tipis.

"Shinya-sama! Mereka sudah datang." Goshi baru saja datang dan saat ini sedang berdiri dibelakang Shinya.

"Dan siapa yang akan kita lawan?" Shinya masih tersenyum, walaupun tipis.

"Menurut laporan yang saya terima dari Tim 10, musuh kita adalah leluhur ke-13, Crowley Eusford." Goshi memperhatikan Shinya yang masih membelakanginya.

Shinya agak kaget saat mendengar nama musuh yang akan dilawannya, tapi kemudian Shinya menghela nafas pelan dan berbalik menghadap Goshi.

"Ayo kita habisi mereka." Shinya memasang senyuman err…yandere-nya yang terkesan sadis dan kemudian berjalan melewati Goshi.

Goshi agak aneh melihat senyuman Shinya tadi, tapi tanpa pikir panjang dia mengikuti Shinya keluar dari gedung tersebut. Sebenarnya menurut Goshi, senyuman Shinya tadi terkesan seperti seorang psikopat yang ingin membunuh seseorang(?).

"Goshi, kumpulkan Tim 7, 9, 12 dan 15 kemudian perintahkan mereka untuk berkumpul di garis depan. Kita akan segera berperang." Shinya angkat bicara.

"Baik!" Goshi langsung pergi melaksanakan perintah Shinya.

-ONE LAST TIME-

Disisi lain, terlihat seorang(?) vampir bangsawan, Crowley Eusford yang sedang mencabut pedang miliknya dari tubuh lawannya dan kemudian menatap salah satu rekan-nya yang sedang membelakanginya.

"Kerja yang bagus, rekan-KU. Kau melakukannya dengan sangat baik." Crowley menatap rekan-nya tersebut.

"Cih, jangan meremehkanku." Sang rekan mendengus kesal.

"Ahaha~ jangan marah begitu." Crowley tersenyum geli.

"Crowley-sama, setelah ini kita akan kemana?" Salah satu rekan atau lebih tepatnya pelayannya, Horn angkat bicara.

"Kita akan berangkat ke garis depan dan berperang." Crowley menatap Horn sekilas kemudian menatap rekan-nya tadi.

"Dan kau, lebih baik kau memberikan kejutan pada mereka, kulihat kau sangat berbakat dengan serangan kejutan." Crowley tersenyum.

"Ayo kita pergi." Crowley berjalan lebih dahulu dan di ikuti oleh 2 orang pelayannya, Horn Skuld dan Chess Belle serta rekan-nya.

"Baik!" Sahut Chess.

"Sepertinya in akan menarik." Gumam Crowley.

-ONE LAST TIME-

Sementara ditempat Shinya, mereka sudah siap di garis depan dan sedang menunggu lawan mereka. Sinya memang tidak bersama mereka, tapi dia sedang berada di atap gedung sambil mengawasi kedatangan musuh.

"Shinya-sama…" Sayuri bergumam, dia menatap kearah atap gedung yang tidak jauh dari tempat mereka berada dan gedung itu adalah tempat persebunyian Shinya sekarang.

"Hm? Ada apa, Sayuri-chan?" Goshi yang berdiri disamping Shigure ternyata mendengar gumam-an Sayuri.

"Tidak, aku hanya… agak khawatir dengan Shinya-sama." Sayuri masih menatap kearah gedung tadi.

"Kau tenang saja. Shinya-sama tidak akan mati dengan mudahnya." Goshi tersenyum, walaupun Sayuri tidak melihatnya.

"A-aku tau, tapi..entah kenapa aku mengkhawatirkannya, apalagi kali ini tidak ada Guren-sama…" Sayuri menatap Goshi dengan tatapan khawatir.

"Dengan atau tanpa Guren, kita tetap harus maju." Goshi menepuk pelan kepala Sayuri.

Sayuri yang diperlakukan begitu jadi malu dan diwajahnya muncul rona merah dan langsung saja dia mengalihkan wajahnya dari Goshi.

"Ah! Mito- chan, bagaimana? Apa sudah ada perintah dari Shinya-sama?" Goshi menatap Mito yang baru saja datang dan sedang berjalan kearahnya.

"Belum ada perintah sama sekali dari Shinya-sama, sepertinya kita masih harus menunggu." Mito berhenti tepat disamping Sayuri.

"Lalu apa yang sedang dilakukan Shinya-sama diatas sana?" Sayuri melirik Mito.

"Hm? Dia sedang mengawasi musuh dari sana dan jika dia sudah melihat musuh, dia akan memberikan sinyal untuk bergerak." Mito menjawab pertanyaan Sayuri.

"Begitu ya.." Sayuri tersenyum tipis mendengar jawaban Mito.

"Apa kita akan berhasil? Shinya-sama hanya membawa 100 orang prajurit." Goshi menatap Mito.

"Mengingat kekalahan kita diperang yang lalu dan musuh yang kita hadapi masihlah sama, mungkin..tidak, tapi kita tetap harus berjuang agar hal yang tidak mungkin menjadi mungkin." Mito menatap lurus ke depan.

"Kau benar, Mito -san." Sayuri ikut menatap lurus ke depan.

"Hh, mau bagaimana lagi, ini sudah jadi resiko dari awal." Mito menghela nafas pelan.

Mito membalikkan badannya menghadap para prajurit yang dibawa oleh sang Mayor Jendral.

"Semuanya! Kita akan berperang lagi hari ini, mungkin peperangan kali ini tidak akan sebesar perang yang lalu, tapi kita tetap akan maju dan membunuh para vampir itu. Musuh kita kali ini masihlah sama, yaitu leluhur ke-13, Crowley Eusford beserta ke-2 pengikutnya Chess Belle dan Horn Skuld. Mungkin hanya mereka bertiga, tapi kita tetap harus waspada, siapa tahu musuh akan mendatangkan bala bantuan. Kita harus pulang membawa kemenangan kali ini!" Mito mengatakan dengan suara yang cukup keras.

"Tapi, kali ini..Letkol Ichinose tidak bersama kita..apakah ini semua akan berhasil?" Salah satu prajurit bergumam dan gumamannya itu terdengar sampai ke telinga Mito.

Karena satu gumaman itu, semua prajurit yang lain jadi krasak-krusuk dan mengatakan hal yang sama.

"Apa mungkin berhasil?"

"Kenapa Letkol harus menghilang disaat seperti ini?"

"Letkol Guren.."

"Kita tak akan bisa tanpa Letkol Guren!"

CTAKK

Putus sudah urat kesabaran Mito mendengar ocehan-ocehan para prajurit dan seketika itu pula muncul perempatan siku-siku kepalanya. Hal itu membuat Mito mengepalkan tangannya kuat-kuat dan karena sudah tak tahan dia akhirnya membuka suara.

"Kalian semua dengarkan aku! Dengan atau tanpa Letkol Ichinose Guren, kita tetap akan berperang! Mungkin kelihatannya tidak berhasil dan jujur saja aku juga agak yakin dengan hal itu, tapi kita tidak akan terus-terusan bergantung pada Letkol! Ada saatnya kita harus berdiri dengan kekuatan yang kita miliki! Jadi, kita harus berjuang sekaut tenaga agar hal yang tidak mungkin menjadi mungkin! Keluarkan semua kemampuan kalian, kita basmi vampir-vampir itu!" Mito mengatakannya dengan suara yang lantang.

Para prajurit yang baru saja mendapatkan ceramah dari sang Kolonel, Mito Jujo langsung diam, mereka tidak ada yang berani berbicara setelah melihat sang kolonel sudah kehilangan kesabaran.

"Anda benar, Kolonel Jujo. Kita tidak bisa selamanya bergantung ada Letkol Guren!" Salah satu prajurit angkat bicara dan prajurit yang lainnya mengangguk setuju.

"Kalau begitu, ayo kita basmi mereka!" Goshi menambahi.

"Ternyata yang dikatakan Guren-sama itu benar ya.." Sayuri bergumam.

"Hah? Memangnya apa yang dikatakan Guren?" Ternyata Mito mendengar gumaman Sayuri.

"Katanya Mito-san kalau sedang marah itu mengerikan dan Mito-san adalah orang ke-2 setelahnya yang bisa membangkitkan semangat para prajurit dan semangat kami." Sayuri tersenyum pada Mito.

"Hah?! Dia bilang begitu?!" Wajah Mito jadi merah, oh tidak, bukan karena dia malu, tapi karena dia sedang menahan emosinya.

Sayuri mengangguk dan masih tersenyum pada Mito. Jika dilihat, saat ini muncul api dibelakang Mito sebagai background.

"Maa..maa..Tenanglah, Mito-chan." Goshi mencoba menenangkan Mito.

Mito menghela nafas panjang dan seketika wajahnya yang tadi berwarna merah karena menahan emosi sudah kembali seperti semula.

"Baiklah, ayo kita berjuang bersama-sama!" Mito tersenyum kepada para prajurit.

"YA!" Para prajurit langsung bersorak penuh semangat.

Sementara itu di tempat Shinya, dia mendengar sorakan daripara prajurit disana dan kemudian tersenyum tipis, well, dia menyimpulkan kalau saat ini Mito sedang memberikan semangat pada mereka dan itu benar.

Shinya kembali mengawasi musuh yang akan datang lewat teropongnya, tapi hasilnya masih Nihil, belum ada tanda-tanda dari Crowley dkk(?). Angin berhembus kearah Shinya dan entah kenapa seketika itu juga dia merasakan perasaan yang tidak enak yang datang entah dari mana.

"Tenang Shinya..Kau harus fokus pada perang ini, jangan lengah lagi.." Shinya berucap dengan suaran yang pelan.

Ya, itu benar, dia tidak boleh lengah lagi, karena untuk kali ini, jika dia lengah lagi maka ratusan nyawa akan melayang begitu saja. Dia tidak ingin diomeli oleh sang ayah ataupun sang kakak. Shinya melirik kesampingnya dan kemudian tersenyum pahit.

"Kenapa disaat-saat seperti ini aku masih berpikir kalau ada dia disampingku? Saat ini aku sedang sendirian, tidak ada siapa pun disampingku." Shinya masih tersenyum pahit.

"Kau tidak sendirian, Shinya." Tiba-tiba saja suara Guren terngiang-ngiang di kepala Shinya. Shinya tersenyum, kali ini bukan senyum pahit seperti barusan tapi senyuman kali ini adalah senyuman yang tulus dari seorang Shinya Hiragi.

"Yosh!" Shinya kembali pada acara memantaunya, tapi kali ini hasilnya tidak Nihil! Shinya melihat Crowley dkk sedang berlari ke garis depan. Shinya langsung bersiap, dia mengeluarkan senjata andalannya, Byakkomaru dan mulai membidik.

-ONE LAST TIME-

"Mito-san, sampai kapan kita akan menunggu disini?" Sayuri angkat bicara.

"Sampai para musuh datang, Sayuri-san." Mito menjawab dengan santainya.

"Tapi kapan mereka da-"

DUARRR (Bner gak?)

"Mereka sudah datang." Mito melirik Goshi.

"Semuanya, itu adalah sinyalnya. Ayo kita serang mereka!" Mito, Sayuri dan Goshi langsung berlari kearah Crowley dkk kemudian para prajurit mengikuti mereka.

"Aha~ Sepertinya ini akan menarik." Crowley yang melihat para prajurit berbondong-bondong berlari kearahnya langsung menarik pedangnya.

"Horn, Chess, bersiaplah, kita akan segera mulai." Crowley melirik Chess yang sudah mengeluarkan pedangnya.

"Umm, bagaimana dengan 'dia' , Crowley-sama?" Horn menatap Crowley.

"Bukankah sudah kukatakan tadi? Dia akan memberikan serangan kejutan, jadi 'dia' tidak akan bersama kita, 'dia' akan beraksi sendiri." Crowley kemudian berlari kearah prajurit dan mulai menyerang.

"Terserahlah." Horn menghela nafas pelan kemudian ikut menyerang. Horn melirik Chess, ternyata Chess sudah menyerang duluan.

Sudah jelas, peperangan pun akhirnya dimulai. Sementara sang pemimpin dari peperangan tersebut sedang mencoba membidik target utamanya, tapi sepertinya dia kesulitan karena sang target utama tidak bisa diam, jadi dia memilih untuk membidik target yang satunya.

DUARR

Sayang sekali, sang target ke-2 itu bisa menghindari tembakannya. Shinya mendecak kesal karena tembakannya meleset. Dia membidik target yang ke-3.

DUARR

Voilaa~ sang target ke-3 terpental jauh setelah terkena tembakan dari Hiragi Shinya dan sang target yang kena adalah Horn Skuld. Shinya tersenyum kecil karena berhasil meruntuhkan salah satu pelayan dari leluhur ke-13, Crowley Eusford. Baru saja dia akan membidik target yang lain, dia sudah dikejutkan oleh sosok yang muncul dibelakangnya.

"Cih, manusia lagi." Gumam sosok dibelakang Shinya.

"Hoo~ sejak kapan pelayan Crowley bertambay jadi 3?" Ejek Shinya.

"Aku lelah berurusan dengan kalian." Sahut sosok tadi.

Shinya tersentak, dia merasa tidak asing dengan suara sosok dibelakangnya ini. Shinya langsung saja berbalik dan menatap sosok dihadapannya. Betapa terkejutnya Shinya ketika melihat sosok dihadapannya ini. Tinggi, rambut berwarna hitam, matanya berwarna ungu, dan ekspresi datarnya itu…Shinya tau, itu adalah orang yang selama ini Shinya tunggu.

"G-guren?" Shinya masih terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini.

Guren tidak menjawab, masih memasang ekspresi datar.

"Kau benar-benar Guren?" Shinya melangkahkan kakinya mendekat kearah sosok Guren.

"Jangan mendekat." Guren menatap tajam pada Shinya.

"Kukira kau sudah…" Bukannya menurut, Shinya malah makin mendekat.

"Kubilang jangan mendekat!" Guren menaikkan volume suaranya.

"Hah? Sudah lama aku menunggumu dan sekarang disaat aku sudah bertemu denganmu kau malah menyuruhku untuk menjauh?" Shinya semakin mendekat.

Sementara itu Guren masih menatap Shinya tajam. Entah kenapa tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan. Sesuatu berkecamuk dalam pikirannya saat melihat pria dihadapannya ini. Dia ingin menarik pedangnya, tapi hatinya berteriak"Jangan! Kau tidak boleh melakukan itu padanya!". Hati dan pikirannya kacau, baru kali ini dia merasakan sesuatu bergejolak dalam dirinya untuk menyentuh pria dihadapannya ini tapi dia mencoba untuk mengalihkan hal tersebut. Semenjak dia bersama Crowley, dia tidak ingat pernah mengenal pria dihadapannya ini. Dia bukanlah vampir tapi sebenarnya dia masih berada dibawah pengaruh iblis yang merasukinya, Mahiru no Yo.

"Kau…siapa kau?" Desis Guren pada Shinya.

Shinya terkejut mendengar perkataan Guren barusan.

"Guren..kau tidak mengingatku?" Batin Shinya tanpa menghilangkan perasaan terkejutnya.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

Author's Note : Hai hai semuanya!*ditabok* Gomenne, Amika updatenya sekarang, selain karena kuota abis dan notebook disita, Amika juga kehabisan ide. Rasanya udah buntu amat waktu mau ngelanjutin fict ini tapi karena sesuatu nih ya..ide buat fict ini muncul lagi dan jadinya aku terusin deh. Gimana chapter kali ini? Jelek kah? Abal kah? Ancur kah? Pendek kah? Atau yang lain-lainnya? Oke, aku tunggu semuanya di Review, Minna-san!

Mind to Review~?