ONE LAST TIME
DISCLAIMER BELONGS TO KAGAMI TAKAYA
STORY IS MINE
WARNINGS: TYPO(S), OOC, ALUR BERANTAKAN, ABAL, GAJE AND OTHERS.
Author's note: Gak mau banyak bacot, kita langsung aja!
…
STOOOP!
DON'T LIKE, DON'T READ~
Masih dengan perasaan terkejut, Shinya menatap pria bermanik ungu dihadapannya ini.
"Kau..tidak mengingatku?" Shinya berhenti tepat di depan Guren.
Guren diam, dia tidak menjawab tapi dari yang Shinya simpulkan, maksud tatapan Guren adalah 'Aku tidak ingat pernah mengenalmu'. Seketika itu juga Shinya ingin memukul pria dihadapannya ini.
"Apakah ini sebuah hukuman?" Shinya membatin.
"Baka…Guren.." Shinya berucap lirih.
"Kenapa kau tau namaku?" Guren menatap lurus kearah Shinya. Jujur saja, tubuhnya masih terasa kaku.
"Ini hukuman.." Shinya tersenyum pahit.
"Aku bertanya padamu." Guren agak kesal karena Shinya tidak menjawab pertanyaannya.
"…." Shinya tidak menjawab.
"Cih, merepotkan." Guren menarik pedangnya.
"Kau…tidak serius dengan..ini kan, Guren?" Shinya merasakan alarm bahaya.
"Menyebalkan.." Guren mengambil ancang-ancang akan menyerang Shinya.
Shinya menatap Guren. Dia diam ditempatnya dan dia tidak menghindar sama sekali. Dia tidak takut sedikitpun dan dia tau Guren tidak akan membunuhnya, dia yakin akan itu.
"Hee~ nyalimu besar juga, tidak mau menghindar?" Guren tersenyum meremehkan kearah Shinya.
Shinya memejamkan matanya sebentar sambil menarik nafasnya kemudian dia tersenyum tipis, tapi senyuman itu adalah senyuman sedih.
"Ini salahku, seharusnya aku tidak meninggalkanmu waktu itu.." Gumam Shinya.
Guren langsung mengayunkan pedangnya kearah Shinya, tapi dia langsung memberhentikan ayunan pedangnya tepat di depan wajah Shinya dan tiba-tiba saja tubuhnya bergetar hebat.
"Guren?" Shinya ngeri sendiri saat menatap pedang yang berada tepat di depan wajahnya.
Guren menjatuhkan pedangnya dan dengan tubuh yang masih bergetar hebat, dia menatap Shinya sekilas dan kemudian memeluknya.
"Eh?" Shinya yang dipeluk tiba-tiba tentu saja heran.
"S-shi-shinya…. To-tolong aku…" Ucap Guren terbata-bata.
"Guren?! Kau sudah sadar?!" Shinya cukup senang karena Guren sadar.
"Shinya… Tolong aku…" Guren melepaskan pelukannya dan menatap Shinya.
Guren menangis, iya, Guren menangis. Shinya langsung merasa bersalah, kemudian dia menyentuh pipi Guren.
"Guren..maaf. Ini salahku. Pasti sakit sekali ya? Maaf aku sungguh minta maaf." Shinya menatap Guren dan bisa dilihatnya mata Guren sudah kembali berwarna ungu seperti biasanya.
"Bukan salahmu.." Guren kembali menarik Shinya kedalam pelukannya dan disaat itu pula Mahiru yang ada di dalam tubuhnya mencoba mengambil kendali tubuhnya lagi. Berhasil! Mahiru berhasil menguasai tubuhnya lagi.
"Shinya." Panggil Guren yang sudah dirasuki Mahiru.
"Ya? Ada apa, Guren?" Balas Shinya yang belum tau bahwa Guren sudah kembali dirasuki Mahiru.
Guren mengeluarkan pisau kecil dari dalam sakunya dan dengan cepat menusuk Shinya tepat diperutnya.
"AKH!" Shinya langsung melepaskan pelukan Guren dan mundur kebelakang menjauhi Guren.
"Hee~ ternyata sang Mayor Jendral, Hiragi Shinya, bisa terluka juga ya?" Guren menatap Shinya sambil memainkan pisau yang berlumuran darah ditangannya.
"Mahiru…" Shinya menatap Guren sambil memegangi luka diperutnya.
Shinya tau yang bicara tadi bukanlah Guren, tapi Mahiru, karena suara Guren dan Mahiru bercampur menjadi satu.(Behh, kira-kira gimana tuh?).
"Araa~ Kau masih mengingatku ya, Shinya?" Guren tersenyum sinis dan lagi-lagi yang terdengar masih suara Mahiru dan Guren.
"Tentu saja aku masih mengingatmu, Mahiru.." Balas Shinya.
"Tambah lagi kau pernah jadi tunanganku.." Tambah Shinya dalam hati.
"Ahh.. kau tau kenapa aku mengambil alih tubuh Guren lagi?" Tanya Guren a.k.a Mahiru.
Shinya diam dan memberikan tatapan seperti 'Aku tidak tau'.
"Karena aku benci padamu!" Guren a.k.a Mahiru melemparkan pisau tadi kearah Shinya, tapi dengan cepat Shinya berhasil menghindari pisau itu.
"Apa maksudmu?" Shinya menaikkan volume suaranya.
Guren menunduk. Dari gerak geriknya, Shinya tau kalau dia ingin mengatakan sesuatu.
"Kau tau? Semenjak aku tiada, Guren selalu putus asa dan membawa beban berat karena sudah membunuhku. Bahkan rasanya dia sudah tidak memiliki tujuan lagi, tapi semenjak kau datang ke kehidupannya, Guren jadi berubah. Dia melupakan bebannya, dia melupakan keputus asaannya dan yang lebih dalamanya, dia melupakanku, Shinya! Sekarang dia sudah memiliki tujuan yaitu melindungi semua orang yang penting baginya. Sekarang aku merasa dia kembali seperti saat-saat dia masih bersamaku dulu.. tapi nyatanya dia malah bersamamu! Seharusnya aku yang membuat Guren bahagia saat ini, seharusnya aku yang membuat Guren memiliki tujuan lagi..bukan kau!" Bentak Guren a.k.a Mahiru, kali ini bukan suara Guren dan Mahiru lagi yang keluar, tapi hanya suara Mahiru.
"Heh, kau kalah start, Mahiru." Ucap Shinya sambil tersenyum remeh.
"Kau..." Kali ini Guren a.k.a Mahiru benar-benar geram melihat Shinya.
"Huuh.. untunng saja lukaku tidak dalam dan untung saja sekarang tidak terlalu terasa sakit lagi." Batin Shinya.
"Hei, Shinya. Aku ingin sekali membunuhmu sekarang, tapi pemilik tubuh ini tidak mengizinkanku. Dia terus menahanku untuk tidak menyerangmu." Ucap Guren a.k.a Mahiru.
"Kembalikan Guren, Mahiru..kumohon." Ucap Shinya sambil berjalan perlahan kearah Guren.
"….." Guren a.k.a Mahiru diam tak menjawab.
"Guren.." Shinya sudah berdiri di hadapan Guren tanpa rasa takut sedikit pun.
"K-kau…" Ucap Guren, tapi kali ini hanya suaranya, tidak ada lagi suara Mahiru.
"Baby you know you're important, i love you more.. always and it won't change." Balas Shinya sambil menyentuh kedua pipi Guren.
Guren terpaku. Dia seperti pernah mendengar kalimat itu, tapi dia tidak bisa mengingatnya, yang dia ingat, kalimat itu selalu dikatakan seseorang kepada orang yang sangat penting baginya, orang yang sangat disayanginya.
Bayangan Mahiru muncul dipikiran Guren, tapi dia tepis jauh-jauh bayangan itu, karena dia yakin bukan Mahirulah orangnya.
"All my life you stood by me, when no one else was ever behind me." Ucap Shinya lagi.
Guren semakin terpaku, kalimat barusan juga dia seperti pernah mendengarnya tapi dia tidak ingat. Dia mencoba menggali kedalam ingatannya, tapi selalu saja Mahiru menahannya untuk melakukan itu, tapi untungnya pikiran Guren melawan Mahiru.
"Masih belum ingat, Guren?" Shinya tersenyum pada Guren.
"Ha?" Guren menatap Shinya dengan tatapan bingung.
"Dulu kau mengatakan itu padaku ketika aku sedang sedih atau ketika aku takut keilangan dirimu. Ingatlah, kau pernah mengatakannya padaku.." Kali ini Shinya tersenyun manis ada Guren.
"Aww…" Guren meringis saat mendengar perkataan Shinya barusan. Dia merasa dia mulai mengingat semuanya, iya, semua yang dikatakan Shinya barusan.
Shinya langsung memeluk Guren. Dia takut sakit yang dirasakan Guren makin menjadi-jadi dan dia takut karena itu Guren jadi pergi lagi.
"Shi-shinya?" Ucap Guren hati-hati.
"Iya, ini aku,baka.." Balas Shinya.
Shinya hanya berharap agar Guren tidak dikuasai oleh Mahiru lagi.
"Shinya…maaf…Aku minta maaf. Aku pasti sudah melukaimu. Aku benar-benar minta maaf." Guren balas memeluk Shinya.
"Tidak apa-apa.. Aku tau kau tidak bermaksud begitu. Kau tidak salah, Guren. Saat itu kau tidak sadar, jadi tidak apa-apa." Shinya mengelus punggung Guren, berusaha menenangkan pria-nya.
Guren melepaskan pelukan Shinya dan menatap Shinya. Shinya balas menatap Guren, tapi dia terkejut saat melihat mata Guren.
"Matanya..masih sama seperti tadi, dia belum sepenuhnya sadar.." Batin Shinya.
"Hei, Guren." Panggil Shinya.
"Hm?" Jawab Guren.
"Sebelumnya aku minta maaf." Balas Shinya.
"Ha? Untuk apa?" Guren menaikkan sebelah alisnya.
"Untuk ini." Jawab Shinya.
BUUGHH
Shinya memukul Guren tepat diwajahnya sampai dia pingsan. Shinya bermaksud untuk membawa Guren kembali, jadi untuk itu dia harus membuat Guren tidak sadarkan diri. Kalau Guren sadar, bisa saja dia berontak atau tubuhnya diambil alih Mahiru lagi.
"Hufttt.. sulit juga untuk meruntuhkanmu ya, Guren?" Shinya tersenyum tipis sambil melihat Guren yang sedang terbaring tak sadarkan diri.
"Nah, sekarang kembali ke misi." Shinya berjalan kearah Byakkomaru-nya yang sempat di tinggalkannya begitu saja.
Shinya kembali ke tujuan awalnya untuk menghabisi musuh. Saat ini dia sedang membidik salah satu pelayan Crowley dan…
DOR!
Salah satu dari pelayan Crowley tumbang karena terkena tembakan Shinya.
(Kita balik ke Mito dkk yang lagi ngehajar Crowley dkk deh)
"Eh?" Mito langsung berhenti berlari ketika melihat lawannya sudah tumbang duluan sebelum ia sampai ditempat.
Bisa Mito lihat, seorang(?) Horn Skuld tumbang terkena tembakan saat berusaha menyerangnya. Dia juga menyaksikan bagaimana Horn Skuld berubah menjaadi debu. Disaat itu juga Mito langsung melihat arah datangnya tembakan tadi dan dia tersenyum sekilas saat tau darimana datangnya tembakan tadi.
"Syukurlah.. kau baik-baik saja, Shinya-sama." Gumam Mito.
"Yosh! Kalau begitu tinggal 2 lagi!" Mito berlari kearah Goshi dan Sayuri yang sedang melawan Chess Belle.
Disaat yang sama Shinya kembali meluncurkan tembakannya pada Chess dan…
DORR!
Kali ini sedikit meleset, tapi setidaknya tangan dan kaki kanannya terluka cukup parah.
(Balik ke Shinya yuk)
"Cih.." Shinya mendecih saat melihat tembakan keduanya sedikit meleset.
Dia langsung membidik kearah sang pimpinan para Vampir, Crowley Eusford.
"Kali ini tak akan kubiarkan kalian lolos." Shinya langsung menembak tanpa menunggu lagi.
DORR!
Crowley yang saat itu tengah dikeroyok Tim Shinoa tidak sadar tembakan dari Shinya datang dan telak menghantam kepalanya. Saat itu juga Tim Shinoa terpaku melihat leluhur ke-13, Crowley Eusford berubah menjadi abu dihadapan mereka.
"Akhirnya.." Ucap Shinya.
(Kita liat keadaan Shinoa dkk)
"Kita berhasil." Ucap Shinoa sambil menghembuskan nafas lega.
"Semoga semuanya baik-baik saja." Balas Yuu.
Semuanya mengangguk, menyetujui perkataan Yuu.
"Sekarang, ayo kita susul Mayjen Shinya ke persembunyiannya." Usul Shinoa.
"Baiklah.." Jawab Mitsuba.
Tim Shinoa langsung menuju ketempat Shinya dan sesampainya disana, Shioa dan yang lain cukup terkejut apa yang dilihat mereka.
"Mayjen Shinya!" Shinoa berlari kearah Shinya.
"Nii-san, Shinoa." Shinya mengoreksi panggilan Shinoa.
"Ah..gomennasai, maksudku..Nii-san." Balas Shinoa.
"Hh, sudahlah.." Ucap Shinya sambil mengeratkan pelukannya pada Guren.
Yah, saat ini Shinya sedang duduk bersender ke dinding sambil memeluk KEKASIHNYA, Guren Ichinose.
"Ta-tapi bagaimana bisa L-letkol Guren berada disini?!" Shinoa benar-benar terkejut setelah melihat orang yang dipeluk Shinya.
"HAH?! GUREN?!"
"LETKOL ICHINOSE?!"
"LETKOL GUREN?!"
"GUREN-SAMA?!"
Eh, tunggu sebentar. Shinya merasa aneh dengan panggilan barusan.
"Guren-sama?" Ulang Shinya dalam hati.
Shinya langsung mengalihkan pandangannya kearah Yuu dkk. Yap, selain Yuu, Kimizuki, Mitsuba dan Narumi, ternyata disana sudah berdiri Mito, Goshi, Sayuri dan Shigure, tapi mereka tidak mendekat, karena mereka tau Shinya tidak akan membiarkan mereka menyentuh Guren untuk sementara.
"May—maksudku Nii-san, kau tidak apa?" Tanya Shinoa sambil memegang bahu Shinya.
"Aku baik-baik saja." Balas Shinya sambil tersenyum tipis.
Shinoa tau Shinya tidak baik-baik saja.
"Kalau begitu ayo kita pulang. Ahh sebelum itu..Mito, tolong berikan perintah pada yang lainnya agar bersiap untuk kembali." Shinya bangkit dari duduknya kemudian membopong Guren yang masih tak sadar.
"Baik." Jawab Mito yang langsung pergi melaksanakan perintah Shinya.
"Biar kubantu, Nii-san." Ucap Shinoa sambil membantu Shinya membopong Guren.
Kemudian mereka semua keluar dari persembunyian Shinya dan memutuskan untuk kembali. Yah, hari ini mereka pulang membawa kemenangan.
-ONE LAST TIME-
Saat ini Shinya sedang berada dibalkon tempat dia biasa bersama Guren sendirian. Iya, sendirian, tanpa Guren.
"Hhh, pada akhirnya aku sendirian lagi." Gumam Shinya sambil menatap langit. (Eh, ucapan Shinya ngingetin author sama lagu ini nih "Dan akhirnya kusendiri lagi, karena kekasihku yang pergi—" Asikk dahh *dipijek Shinya*)
"Shinya-sama." Panggil Mito dari belakang Shinya.
"Hm?" Sahut Shinya.
"Apa anda tidak ingin mencoba menyadarkan Guren?" Tanya Mito.
"Aku sedang memikirkan bagaimana cara agar dia sadar, Mito-chan." Jawab Shinya.
"Aku kasihan melihat keadaan Guren." Mito menatap lurus kearah punggung Shinya.
"…." Shinya diam tak menjawab.
"Hh, kalau begitu.. permisi." Lanjut Mito dan kemudian pergi dari sana.
"Hari ini aku belum melihatnya. Mungkin sebaiknya aku kesana." Ucap Shinya dan kemudian angkat kaki dari sana, sekarang ini tujuannya ke tahanan.
Sebenarnya sudah 3 hari semenjak peperangan berlalu, tapi Guren masih belum bisa melepaskan diri dari iblis yang merasukinya dan sudah 3 hari pula Guren mendekam di tahanan, kenapa? Karena saat dia sadar, dia langsung mengamuk, jadi mau tak mau harus dimasukkan ketahanan.
Dan disinilah Shinya. Di depan pintu tahanan Guren.
"Guren?" Panggil Shinya.
"…." Tak ada jawaban
"Hei, Guren." Panggil Shinya lagi.
"…." Masih tak ada jawaban.
Oke, kali in Shinya agak khawatir. Bisa saja kan Guren didalam sana ternyata sedang terluka?
"Hei, Guren..kau disana?" Panggil Shinya sekali lagi.
"Pergi…" Jawab Guren dari dalam sana.
"Haahh, syukurlah, kukira dia terluka atau terjadi sesuatu padanya." Batin Shinya sambil menghembuskan nafas lega.
Shinya membuka kunci pintu tahanan Guren menggunakan kunci yang sebelumnya sudah dimintanya dari salah satu penjaga. Dia masuk dan mengunci pintu itu dari dalam.
"Guren?" Shinya memperhatikan Guren yang duduk di sudut ruangan yang tidak terlalu terang ini.
"Kau…baik-baik saja?" Tanya Shinya sambil berjalan mendekati Guren.
"Pergi… aku tidak butuh kau.." Jawab Guren datar.
"Ahaha, tentu saja kau butuh aku, waktu itu kau bilang begitu." Sahut Shinya yang sudah duduk dihadapan Guren.
"Kubilang pergi!" Guren mulai emosi dan mencekik Shinya.
"G-guren..tenangkan d-dirimu." Shiya tidak menghindar dia malah bersedia saja dicekik Guren. Dia yakin Guren tak akan membunuhnya.
Perlahan-lahan cekikan dileher Shinya melemah dan Guren melepaskan cekikannya. Shinya langsung menghirup oksigen sebanyak mungkin.
"Mau apa kau kesini?" Tanya Guren sambil menatap lurus ke manik aquamarine Shinya.
"Tentu saja menemanimu." Jawab Shinya enteng sambil tersenyum.
"Heh, ada-ada saja saja." Guren tersenyum 'agak' sinis pada Shinya.
"Aku akan segera membebaskanmu, Guren." Batin Shinya.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
Autor's Note : Halo semuaa! Gimana kabar kalian?! Semoga baik yaaa! Oh iya, udah lama banget aku ga update ya. Maaf banget soalnya penyakit males author kumat mana author kehabisan ide lagi. Author bener-bener minta maaf*sujud* Udah berbulan-belan ga update, tapi author masih baca review kalian semua kok. Oke deh, kali ini author udah ga males lagi, soalnya ide udah muncul, hehehee. Kalo gitu ikutin terus yee? Ah iyaa, author mau ngucapin Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Author minta maaf ya kalo ada salah sama semuanyaaa. Mohon maaf lahir dan batin, Minna-san!
Mind to Review~?
