ONE LAST TIME

DISCLAIMER BELONGS TO KAGAMI TAKAYA

STORY IS MINE

WARNINGS: TYPO(S), OOC, ALUR BERANTAKAN, ABAL, GAJE AND OTHERS.

STOOOP!

SAYA PENGANUT DLDR!

(DON'T LIKE DON'T READ~)

.

.

2 hari sudah berlalu semenjak Shinya di rawat di rumah sakit dan sudah 2 hari pula sang Mayor Jendral tak sadarkan diri alias koma dan jika di hitung hari ini akan menjadi 3 hari.

"Haah, sepertinya kau sangat menikmati tidurmu ya, Shinya? Sampai-sampai kau tidak mau membuka matamu dan melihatku yang selalu menunggumu untuk bangun." Guren tersenyum tipis sambil menatap seorang pria yang terbujur kaku tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit dan di tubuhnya terpasang beberapa alat medis.

Shinya koma, iya, sudah 2 hari Shinya koma dan penyebabnya adalah pukulan yang di akibatkan sang Ayah terlalu keras dan beberapa kali sempat menghantam kepala dan jantung Shinya, ahh jangan lupa, Shinya juga kehilangan darah cukup banyak akibat pukulan sang Ayah.

"Letkol? Anda tidak menghadiri rapat ya?" Celetuk Shinoa yang sudah berada di ambang pintu.

"Terlalu malas." Balas Guren. Jelas saja dia lebih memilih untuk menemani Shinya disini daripada berada di rapat yang hanya buat sakit kepala.

"Dan anda pasti lebih memilih untuk menemani Nii-san disini kan?" Celetuk Shinoa sambil memasang senyuman mengejek.

"Kau sudah tau, tapi masih bertanya.." Jawab Guren dalam hati.

"Hh, ada apa tiba-tiba kau kesini?" Guren mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Eh? Hanya ingin menjenguk sang Kakak yang terbaring disana." Jawab Shinoa sambil menatap lurus kearah Shinya yang terbaring tak sadarkan diri.

Sudah 2 hari, tapi hanya Guren dan Shinoa lah yang menjaganya. Terkadang mereka bergantian untuk menjaga Shinya. Belum lagi keadaan Shinya yang bisa membuat Guren ikut-ikutan meringis kesakitan. Bagaimana tidak? Melihat orang yang disayang terbaring tak sadarkan diri, belum lagi luka yang di deritanya cukup parah, wajahnya yang diperban sana-sini dan 2 selang yang disambungkan langsung ketubuhnya.

"Tapi aku belum mau gantian." Balas Guren.

"Ahahaha~ kalau begitu kita bisa menjanganya bersama." Shinoa menutup pintu dan berjalan kearah sofa yang ada di ruang rawat Shinya.

"Hn." Sahut Guren.

Heninng untuk beberapa menit dan Shinoa memutuskan untuk memecah suasana hening ini.

"Nee, Letkol Guren." Panggil Shinoa.

"Hm?" Sahut Guren lagi.

"Aku sudah tau lho, bagaimana kisah anda dan Nii-san di masa SMA dulu." Shinoa lagi-lagi tersenyum mengejek.

"Hah?!" Guren langsung membalikkan badan menghadap Shinoa.

"BAGAIMANA BISA?!" Jerit Guren dalam hati.

"Hehehe, Nii-san yang menceritakannya padaku~" Jawab Shinoa sambil tersenyum tanpa dosa.

"Ahh, senyuman itu. Mirip sekali dengan senyuman polos milik Kakaknya." Batin Guren dan dia jadi ikut-ikutan tersenyum tipis karena teringat dengan senyuman Shinya.

"Anda tidak jadi marah atau terkejut?" Celetuk Shinoa.

"Sepertinya tidak." Guren kembali menatap Shinya dengan tatapan yang lembut.

"Cepat buka matamu, baka…." Lanjut Guren sambil mengelus surai keperakan milik Shinya.

Bahkan di sela-sela surai keperakan Shinya terselip warna merah diantara warna perak. Guren yang melihat itu benar-benar kasihan pada Shinya dan tanpa sadar tubuhnya sudah bergetar.

"Letkol?" Panggil Shinoa saat melihat tubuh sang Letkol bergetar.

"Y-ya?" Panggilan Shinoa sukses membuat Guren kembali normal.

"Tadi tubuh anda sempat bergetar, apa anda sakit, Letkol?" Tanya Shinoa.

"Aku baik-baik saja." Jawab Guren.

Shinoa berjalan mendekat kearah Guren dan saat ini dia sudah berdiri di samping Guren.

"Letkol, apa anda merasa bahagia jika bersama, Nii-san?" Tanya Shinoa.

"Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?" Guren balik bertanya.

"Karena Shinya-nii bilang, dia sangat bahagia bisa mengenalmu. Dia begitu senang ketika anda membalas perasaannya. Dia saaaangat senang. Dia bilang, anda adalah kebahagiannya yang hilang selama ini. Yah, anda tau sendirikan, kalau Shinya-nii sudah lama tidak mendapatkan kasih sayang? Bahkan ayahpun jarang memperhatikan kami. Tapi setidaknya, dulu kami pernah merasakan kasih sayang ibu, Sementara Shinya-nii? Dia sudah hidup sendirian dari kecil." Jawab Shinoa yang tanpa sadar air matanya sudah mengalir.

Guren mengalihkan pandangannya kearah Shinoa dan dia agak terkejut melihat air mata yang mengalir membasahi pipi Shinoa.

"Jangan menangis, Shinoa." Ucap Guren.

"Eh? Aku menangis?" Shinoa heran dan barulah dia menyadari pipinya sudah basah akibat air mata. Dia cepat-cepat menghapus air matanya.

"Mungkin kelemahanku yang paling besar adalah Nii-san." Tambah Shinoa sambil tersenyum tipis.

"Begitu pula aku." Balas Guren dengan suara pelan.

"Shinya-nii juga bilang sesuatu padaku." Ucap Shinoa.

"Memangnya dia bilang apa?" Tanya Guren.

"Dia bilang, suatu saat nanti dia ingin menanggalkan marga Hiraginya dan merubahnya menjadi Ichinose…lebih tepatnya Ichinose Shinya." Jawab Shinoa.

Guren benar-benar terkejut mendengar jawaban Shinoa.

"Ichinose..Shinya?" Batin Guren mencelos tapi sedetik kemudian dia tersenyum.

"Kalau begitu, ketika dia bangun, dia akan menjadi Ichinose Shinya." Guren menggenggam tangan Shinya.

"Kalian berdua ini benar-benar manis ya, Letkol." Ucap Shinoa sambil tersenyum.

Ahh, lagi-lagi senyuman itu mirip dengan senyuman Shinya. Sangat mirip malahan.

'Bagi Letnan Kolonel Ichinose Guren, diminta untuk menghadap Letnan Jendral Hiragi Kureto diruanganya.'

"Cih.." Guren mendecih mendengar suara barusan

Pengumuman itu berasal dari speaker yang berada di luar ruangan Shinya di bagian atas.

"Ayo cepat menghadap Kureto-nii, Letkol. Jika tidak, anda bisa dimarahi habis-habisan olehnya. Aku akan menjaga Nii-san disini." Ucap Shinoa.

"Baiklah. Aku mengandalkanmu, Shinoa." Balas Guren yang kemudian keluar dari ruangan Shinya dan pergi ketempat Kureto.

"Nii-san, cepatlah bangun. Aku dan Letkol Guren menunggumu." Ucap Shinoa sambil menatap Shinya kemudian ia duduk di kursi samping ranjang Shinya yang tadi di duduki Guren.

-ONE LAST TIME-

2 bulan sudah berlalu dan sampai saat ini Shinya masih belum membuka matanya dan lagi-lagi masih sama, hanya Guren dan Shinoa lah yang menjaganya. Bisa dilihat, perban di wajah Shinya sudah dilepas, luka-lukanya juga sudah sembuh, wajahnya sudah kembali seperti biasa, tapi tetap saja Shinya belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun.

"Sampai kapan kau akan tidur, Shinya? Sampai kapan aku harus bermimpi buruk tentangmu?" Tanya Guren pada Shinya, tapi percuma saja Shinya tak akan menjawab.

"Bangunlah dan tersenyum padaku, Shinya. Bangun dan tertawalah lagi seperti biasa. Bangun dan temani aku disini." Guren kembali berucap, tapi tetap saja tidak akan ada yang menanggapi ucapannya.

2 jam sudah Guren berdiam diri dan akhirnya dia memilih untuk tidur. Siapa tau ketika ia terbangun ternyata semua ini hanya mimpi. Begitulah pemikiran Guren, tapi ia tau itu tidak mungkin dan perlahan-lahan akhirnya dia tertidur.

Jari Shinya bergerak perlahan tanpa perlu Guren ketahui. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan ia bisa merasakan selang infus di punggung tangannya, tapi ada yang lain, seperti sesuatu yang hangat dan sedang menggenggam tangannya. Dia pun melirik kearah tangannya dan betapa terkejutnya dia begitu melihat sosok yang tertidur disana.

"Guren.." Lirih Shinya. Ia mengelus surai hitam milik Guren secara perlahan, takut pria itu terbangun.

"Letkol, apa aku boleh ikut menja—" Shinoa yang baru saja membuka ruangan tempat Shinya dirawat langsung membatu melihat pemandangan dihadapannya. Shinya. Sudah. Sadar.

Shinya mengisyaratkan Shinoa agar tidak berisik, tapi Shinoa terlalu senang untuk tidak berisik.

"Letkol Guren!" Shinoa berjalan kearah Guren kemudian menguncang tubuh Guren.

"Ahh, jangan ganggu aku, Shinoa." Balas Guren."

"Nii-san sudah bangun." Bisik Shinoa tepat di telinga Guren dan berhasil membuat Guren bangun dan menegakkan tubuhnya.

"Apa kau bilang, Shinoa?" Tanya Guren. Sementara yang di Tanya hanya tersenyum lega.

"Guren~" Panggil Shinya.

Guren tersentak, dia ingat betul pemilik suara itu belum pernah memanggil namanya 2 bulan terakhir ini, tapi sekarang…sungguh sulit dipercaya.

"Shinya?" Guren menatap Shinya yang tersenyum.

"Ahaha~ terkejut?" Tanya Shinya.

Shinoa kemudian membantu Shinya untuk duduk lalu mengambilkannya minuman.

"Kau…kenapa kau baru bangun sekarang?" Guren malah balas bertanya.

"Maaf, kalian pasti menungguku ya?" Ucap Shinya masih sambil tersenyum.

"Kalau begitu kau minum dulu, Shinya-nii." Ucap Shinoa yang sudah kembali membawakan segelas air untuk Shinya.

Sebelum itu Shioa sudah meletakkan sebuah sedotan di dalam gelas. Pasti tubuhnya masih terasa benar-benar kaku kan? Jadi sudah pasti dia akan kesulitan untuk minum langsung dari gelas. Itu teori Shinoa. Sementara itu Shinya mulai meminum minumannya melalui sedotan sampai habis. Ketika gelas itu kosong, Shinoa meletakkannya diatas meja nakas.

Tak bisa disembunyikan raut kelegaan dan kesenangan dari wajah Guren maupun Shinoa.

"Hei, Guren, Shinoa-chan. Mendekatlah, aku ingin membisikkan sesuatu." Ucap Shinya.

Guren dan Shinoa mendekatkan diri mereka ke Shinya dan bukanlah bisikan yang mereka dapatkan tapi malah sebuah pelukan hangat dari Shinya. Iya, Shinya memeluk Guren dan Shinoa secara bersamaan.

"Terimakasih sudah menjagaku disini." Bisik Shinya kemudian melepaskan pelukannya.

"Ahaha~ sudah jadi tugasku sebagai seorang adik. Ah, sepertinya aku harus pergi ke ruangan ayah sekarang." Balas Shinoa.

"Untuk apa?" Tanya Guren.

"Walaupun begitu, ayah tetap menyuruhku untuk melaporkan keadaan Nii-san." Jawab Shinoa.

"Kalau begitu aku permisi." Shinoa berjalan kearah pintu lalu kemudian keluar dari ruang rawat Shinya.

"Jadi? Kau menikmati tidurmu?" Celetuk Guren.

"Aku sangat menikmatinya!" Balas Shinya sambil tersenyum.

Guren yang mendengar itu hanya mendengus pelan.

"Ahaha~ tentu saja tidak, habisnya aku tidak bisa bertemu Guren disana." Tambah Shinya.

Guren hanya tersenyum tipis sambil menatap Shinya.

"Shinya..Shinya..Hiragi Shinya.." Guren mengucap nama Shinya sambil memainkan nada bicaranya.

"Kau kenapa, Guren?" Shinya menaikkan sebelah alisnya, dia heran kenapa Guren malah memainkan nada bicaranya sambil mengucap namanya.

"Tidak apa-apa, aku hanya ingin saja." Jawab Guren.

"Kau aneh Guren." Balas Shinya.

"Aku hanya ingin bilang." Ucap Guren yang kemudian mengecup kening Shinya. Sementara Shinya, dia agak terkejut dengan kejadian barusan.

"Bilang..apa?" Tanya Shinya yang menatap lurus kearah manik ungu milik Guren.

"Okaeri, Ichinose Shinya." Ucap Guren sambil tersenyum..nakal?

BLUSHHHHH

Wajah Shinya langsung berubah jadi merah hanya karena mendengar panggilan Guren barusan.

"Guren..bagaimana kau.." Shinya menggantungkan kalimatnya.

"Shinoa sudah mengatakan semuanya padaku." Sambung Guren.

Shinya menghela nafas panjang dan kemudian tersenyum.

Saat ini Shinya sedang berbaring diatas kasur Guren. Tadi siang dokter sudah memperbolehkannya untuk pulang, jadi seperti biasa dia akan bersama Guren.

Pintu kamar mandi terbuka dan muncul lah sosok Guren yang hanya memakai kimono mandinya.

"Kau lama sekali." Ucap Shiya ketika melihat Guren keluar dari kamar mandi.

"Kau sudah duluan mandi, Shinya. Jadi tidak perlu protes." Balas Guren yang berjalan kearah lemarinya dan berniat untuk mengganti kimononya dengan piyama tidur.

"Guren~ aku bosan." Ucap Shinya.

"Kalau begitu tidur." Balas Guren.

"Aku ingin melakukan sesuatu~" Shinya terseyum pada Guren yang sudah mengganti kimononya dengan piyama tidur dan saat ini sudah duduk dipinggir ranjang.

"Kau baru saja pulih, jadi istirahat saja dulu." Guren berbaring kemudian menarik selimut dan menyelimuti dirinya.

Shinya yang melihat itu mendengus pelan lalu duduk.

"Hei! Ichinose Guren. Dengarkan aku dulu," rengek Shinya sambil menarik selimut yang sudah menutupi Guren.

Shinya hanya menaikkan alis ketika Guren menarik kembali selimutnya tanpa sedikitpun menoleh. Shinya lalu menarik lagi selimut itu dan selimut itu berhasil terlepas dari Guren.

"Ichinose Shinya!"

Shinya tersentak begitu mendengar Guren menaikkan volume suaranya. Tapi bukan itu yang dipermasalahkannya, dia tersentak karena Guren kembali memanggilnya begitu.

"Aku suka ketika kau memanggilku begitu." Ucap Shinya sambil tersenyum.

"Hhh, kau ini..aku juga saat memanggilmu begitu." Balas Guren yang sebelumnya sempat mendengus pelan.

Guren menyerah, ia kembali duduk lagi dan tangannya sudah berada di pinggul Shinya yang saat ini sudah duduk di atas pahanya sambil mengalungkan lengannya ke lehernya.

"Jadi? Kau ingin apa?" Tanya Guren.

"Ayo kita lakukan sesuatu. Aku bosan." Jawab Shinya sambil menatap Guren.

Guren menyeringai. Dia sudah membayangkan yang iya iya dengan Shinya, tapi sayangnya harus buyar karena ketukan pintu.

TOK TOK TOK

"Guren-sama?" Panggil seseorang dari luar dan sudah diketahui itu adalah Sayuri

"Masuklah!" Ucap Guren. Mereka belum mengubah posisi. Awalnya Shinya ingin bergerak turun tapi ditahan Guren dan jadilah mereka masih dalam posisi semula.

Pintu terbuka dan bisa dilihat ekspresi terkejut Sayuri ketika melihat pemandangan di depannya. Ia pun segera menundukkan kepalanya.

"Etto..saya hanya ingin menyerahkan map ini." Ucap Sayuri sambil tetap menunduk. Wajahnya sudah benar-benar merah kali ini.

"Kau bisa meletakkannya diatas mejaku." Balas Guren yang kemudian di jawab anggukan oleh Sayuri.

Setelah permisi untuk pergi, Sayuri menutup pintu kamar Guren dan meletakkan map yang di bawanya di atas meja kerja Guren kemudian ia cepat-cepat keluar dari ruangan Guren.

"Kenapa kau membiarkan Sayuri-chan melihatnya? BAKA Guren!" Ucap Shinya setelah melihat pintu kamar Guren tertutup.

"Berisik." Balas Guren yang kemudian mengecup bibir Shinya singkat.

Shinya yang berisik bisa langsung bungkam hanya dengan sebuah kecupan dari Guren.

"Kenapa? Kau mau lebih?" Tanya Guren sambil memasang seringai mesumnya dan kembali mengecup bibir Shinya.

"Ha? Jangan mengada-nga—" Ucapan Shinya terhenti karena Guren kembali mengecup bibirnya.

"Hentikan itu, Gu—" Shinya baru saja akan mengomeli Guren tapi akhirnya terhenti lagi karena Guren kembali mengecupnya.

"Mou Guren! Dengarkan aku dulu!" Shinya menutup—lebih bisa dibilang membekap mulut Guren sebelum ia mengecupnya lagi.

Shinya melepaskan bekapannya setelah Guren diam.

"Kenapa kau terus-terusan melakukan itu pada—Guren!" Shinya terkejut bukan main ketika Guren membalikkan posisinya. Saat ini Guren berada diatas dan dia dibawah.

"Aku merindukanmu dan aku sangat sangat menginginkanmu, Ichinose Shinya." Bisik Guren tepat di telinga Shinya.

Shinya tersenyum penuh arti lalu menatap Guren.

"Katakan kalau kau mencintaiku, baru kau boleh mendapatkanku." Ucap Shinya.

"Hh, aku mencintaimu." Balas Guren.

"Masih kurang tepat." Ucap Shinya.

"Aku mencinntaimu, Shinya." Ulang Guren.

"Masih belum tepat Guren~" Ucap Shinya lagi.

"Aku mencintaimu, Ichinose Shinya. Sampai kapan pun aku selalu mencintaimu." Ulang Guren dengan tambahan.

"Aku juga mencintaimu, Ichinose Guren!" Shinya dengan mudah membalikkan keadaan dan dia sudah berada diatas saat ini.

"Apa-apaan ini, Shinya.." Ucap Guren.

Shinya turun dari ranjang dan berjalan agak menjauh dari ranjang.

"Tidak semudah itu kau bisa mendapatkanku." Shinya menjulurkan lidahnya kemudian keluar dari kamar Guren.

"Shinya!" Teriak Guren yang kemudian menyusul Shinya ke ruangannya, tapi sayangnya Shinya sudah pergi dari sana dan bisa dilihat pintu ruangannya terbuka. Itu berarti Shinya keluar.

Guren keluar dari ruangannya. Bisa dilihat masih banyak oranng-orang yang belum kembali ke kamarnya dan memilih untuk berada di luar. Apalagi mereka sedang gencatan senjata, jadi mereka bisa bersantai untuk sementara.

"Are? Letkol Ichinose?" Sahut seorang dan itu adalah Mitsuba.

Guren mengalihkan pandangannya pada Mitsuba.

"Kenapa anda masih berada disini?" Tanya Mitsuba.

"Mencari seseorang." Jawab Guren lalu mengedarkan pandangannya.

Dan Guren menangkap seseorang dengan piyama berwarna navy berlari setelah mereka melakukan kontak mata.

"Itu dia!" Guren berlalri menyusul pria yang lari itu.

Mitsuba yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.

"Oiii, Shinya! Berhenti kau disana!" Guren masih mengejar Shinya dan bisa dilihat mereka mendapat tatapan geli, heran dan lain lainnya dari para orang disekitar mereka yang melihat mereka.

.

Apakah Guren berhasil menangkap Shinya? Kita nantikan saja di chapter depan~~.

.

.

TO BE CONTINUED

Author's Note : Yeaayyy! Amika terlalu seneng karena Shinya masih hidup! Beneran loh, author langsung loncat-loncat pas ngeliat Shinya di manga lanjutan Ons. Tapi sayangnya dia ditahan :'( Syedihhhh T^T tapi yang jelas author udah tau dimana keberadaan Shinya, jadi legaan gitu rasanya. Ngomong-ngomong makasih udah ngereview chapter sebelumnya! Ah iya! Jangan lupa baca cerita terbaru aku 60 SHADES OF GUREN*promosi*oke itu ajadeh untuk saat ini sampai jumpa di chapter depan!

Mind to Review~?