Ada hal yang lupa kusampaikan. Gakupo Kamui adalah milik Kaito-maksudku Internet co., seangkan Kaito adalah milik Crypton Future Media. Oh, dan ini fanfic pertamaku, jadi mohon bantuannya. Maaf jika ada typo atau kesalahan penulisan lainnya. Terima kasih banyak ;).

Tertanda

Ana Ruri


Pagi ini, Ayah dan Ibu menyuruhku tetap tinggal di rumah karena ini hari Minggu dan ada yang ingin mereka bicarakan. Gakupo pergi ke rumah temannya, jadi kurasa ini tak ada hubungannya dengan dia. Aku duduk di ruang tamu bersama mereka,

"Kaito, ada yang ingin kami bicarakan..." mulai ayahku. "...ini soal adikmu," aku salah, ini tentang dia.

"Kaito, kalian sudah besar, dan kami pikir akan kejam jika kami terus menyembunyikan kebenarannya. Jadi kami putuskan untuk memberitahumu lebih dulu," aku terdiam, tak berani menyimpulkan tentang apa semua ini.

"Kaito, Gakupo, dia..." Ayah menahan napas sekejap lalu melanjutkan. "...dia adalah anak dariku dan bibimu," Ibu mulai meneteskan air mata, sementara aku terdiam. Mencoba mencerna semua kata-kata itu.

"Aku tahu tak seharusnya aku begitu, tak seharusnya aku selingkuh. Maafkan aku, sungguh, maafkan aku,"

"Setelah bibimu meninggal, kami putuskan membawa Gakupo ke rumah ini. Dia tak bersalah. Dia masih punya masa depan yang terang, sama sepertimu. Kami sepakat untuk tak memberitahu kalian tentang semua ini hingga kalian dewasa," jelas ibuku. Aku masih tak dapat mengucapkan sepatah kata pun, namun bisa kurasakan dengan jelas kedua tanganku gemetar.

"Kaito, dia adikmu," Ucap Ayah. Aku berdiri dan, tanpa berkata apapun, langsung melangkah pergi ke kamarku.

Aku mengunci kamar, dan bersandar pada pintu. Dia adikku? Gakupo adalah adikku? Kami memiliki ayah yang sama? Jangan bercanda! Selama ini aku mencintai adikku sendiri? Selama ini aku memikirkan adikku sendiri? Selama ini, selama ini, orang yang kutatap dengan penuh nafsu adalah adikku sendiri? Astaga, bisa seberapa sial lagi hidupku? Air mataku menetes, entah mengapa semua ini membuatku menangis. Kulihat jam, jam 11 pagi. Mungkin Gakupo sudah kembali. Mungkin Ayah dan Ibu sudah memberitahunya.

Tak lama, kudengar ketukan di pintu.

"Kak, kau di sana?" aku selalu tahu suara itu. "Aku sudah diberitahu segalanya," benar, kan, perkiraanku?

"Kak, tak apa jika kau membenciku atau menganggapku tak ada," bukan, bukan begitu. Aku tak membencimu.

"Sejak dulu, aku selalu menganggapmu kakak, dan akan tetap begitu," aku memutar kunci kamarku perlahan.

"Kak, kau adalah kakakku," tanpa berpikir panjang, kubuka pintu di hadapanku, kutarik lengannya, dan kucium dia secara paksa. Tentu saja, dia mendorongku, lalu berkata,

"Sadarlah! Kita berdua laki-laki, dan terlebih lagi, kita ini saudara!" aku tersenyum sedih, dan akhirnya kuakui perasaanku selama ini.

"Gakupo, selama ini, sejak dulu, aku mencintaimu," dia terkejut. Sangat.

"Bukan sebagai saudara," lanjutku seraya menyentuh wajahnya dengan jemariku, namun dibalas dengan tamparan. Dia pun berlari ke kamarnya dan membanting pintu. Aku jatuh terduduk, kakiku lemas.

Aku bingung harus lega atau sedih.