Saat usiaku baru beberapa minggu, aku dibawa ke rumah ini. Lalu dalam sekejap, aku memiliki orang tua dan seorang kakak lelaki yang 2 tahun lebih tua dariku. Aku tak tahu apa-apa tentang orang tua kandungku. Tak apa, toh sekarang aku punya keluarga. Hubunganku dengan kedua orang tuaku biasa saja seperti pada umumnya, namun tidak dengan kakakku. Kakakku dan aku tak dekat. Seiring kami tumbuh, semakin tebal tembok yang membatasi duniaku dan dunianya. Aku bahkan lebih tinggi daripada kakakku. Rambutku kupanjangkan lebih dari rambutnya. Aku berusaha agar nilaiku lebih bagus dari nilainya, berusaha lebih sopan, lebih ramah, dan berusaha agar aku mendapat lebih banyak teman. Mengapa? Agar aku bisa mengejarnya. Agar aku bisa seperti kakakku. Sejak dulu, aku mengagumi kakakku.
Saat aku 16 tahun, kekagumanku mulai luntur. Bukan hanya karena dia merebut Mizki pacarku, namun karena sepertinya dia tak pernah menganggapku sebagai adiknya. "Kau bukan adikku!" Aku masih ingat saat dia melontarkan kata-kata itu padaku. Tak lama, aku diberitahu jika kakakku memutuskan pacar—mantan pacarku. Aku pun mulai berpikir, mungkin dia merebut pacarku hanya untuk membuatku kesal. Setidaknya itu menurutku.
Aku masuk universitas yang sama dengannya. Kadang saat aku mengobrol dengan teman-temanku dia akan menatap sinis kami dari jauh. Mereka tak ada yang sadar, namun terkadang aku melihatnya. Itu membuatku lebih segan untuk mendekatinya. Kami seperti 2 orang yang tak saling mengenal.
Hari ini aku ke rumah temanku. Hanya sebentar karena Ayah menghubungiku dan menyuruhku pulang. Ada hal yang ingin dibicarakan. Saat aku pulang, aku melihat Ibu yang kedua matanya sembab duduk di kursi ruang tamu, dengan Ayah di sampingnya. Aku tahu, hal yang ingin mereka bicarakan pastilah bukan hal yang menyenangkan. Bahkan mungkin menyakitkan.
"Anakku, duduklah," Ibu tersenyum. Kupatuhi perintahnya. "Kami sudah beritahu kakakmu tentang hal ini. Ini soal orang tua kandungmu,"
"Kau adalah anak dariku dan adik ibumu. Kaito memang kakakmu," ucapan Ayah tak nembuatku kaget. Kurasa aku sudah menduganya.
"Maafkan aku, Nak," lanjutnya.
Aku membuka mulut dan berkata, "Tak apa-apa, kurasa aku bisa menerimanya. Kurasa aku juga tak marah tentang hal itu. Terima kasih sudah memberitahukannya kepadaku," bagaimanapun, aku tetap tak bisa memaksakan senyum. "Di mana Kakak?"
"Kakakmu di kamarnya sejak tadi. Dia hanya diam. Mungkin kau bisa menenangkannya," aku pun bangkit dan berjalan menaiki tangga ke kamarnya. Pasti dia mengunci kamarnya. Sejak dulu, setiap kali dia marah atau sedih, dia selalu mengunci dirinya di dalam kamar. Kadang akhirnya dia keluar juga setelah kubujuk. Yah, walau tak jarang aku membiarkannya begitu saja. Aku juga tak mungkin selalu tahan terhadap sikapnya itu. Kuketuk pintu itu seraya memanggilnya, sekadar bertanya apa dia ada di dalam—hal yang sudah pasti. Dia tak menjawab. Kenapa juga dia marah? Harusnya aku yang marah. Apa dia sebegitu benci aku?
"Kak, kau di sana?" Tak ada jawaban.
"Kak, tak apa jika kau membenciku atau menganggapku tak ada. Sejak dulu, aku selalu menganggapmu kakak dan akan tetap begitu," aku tersenyum, namun entah mengapa dadaku terasa sesak.
"Kau adalah kakakku," begitu aku mengucapkan kata terakhir, pintu terbuka dan kurasakan lenganku ditarik. Dia menciumku.
Sontak aku mendorongnya, kurasakan wajahku memanas. Tadi itu...apa sebenarnya yang dia pikirkan?
"Sadarlah! Kita berdua laki-laki, dan terlebih lagi, kita ini saudara!" Bentakku.
Dia hanya berdiri di depanku. Tersenyum dengan raut wajah sedih.
"Gakupo, selama ini, sejak dulu, aku mencintaimu,"
Apa? A-aku...
"Bukan sebagai saudara," aku merasakan jemarinya yang dingin menyentuh pelan wajahku.
Kulayangkan tamparan ke wajahnya lalu berlari ke kamarku. Seolah tak cukup hanya dengan menamparnya, aku nembanting pintu kamarku walau tahu dia masih berdiri di tempatnya semula, melihatku.
Aku duduk bersandar pada pintu. Apa dia sadar dengan semua perkataan dan perbuatannya? Jika dia sadar, apa dia tahu jika seharusnya dia tidak melakukan semua itu? Apa dia salah membedakan antara rasa sayang saudara dengan rasa cinta dua manusia? Apa dia hanya ingin menggangguku? Kurasa itu terlalu berlebihan.
Lalu mengapa? Mengapa dia...mengapa aku...
Mengapa dia mengatakan mencintaiku, walau sudah jelas selama ini dia menjauhiku? Tak menerimaku, merebut banyak hal yang kusayangi, menatapku dengan tatapan hina juga membuatku berpikir dia membenciku.
Apa dia keliru? Ya, dia pasti keliru. Hal yang diberitahukan Ayah dan Ibu tadi pasti membuatnya keliru berpikir dia mencintaiku. Dia pasti hanya bingung. Haha...kenapa juga aku terlalu memikirkan ini? Tak lama lagi, semuanya pasti akan kembali normal. Pasti.
Aku tak keluar kamar hingga sore, melewatkan makan siang. Kali ini ibuku membiarkan hal itu. Biasanya, beliau akan menyeretku ke meja makan. Aku akan keluar saat tak merasa kesal lagi. Baiklah, kuakui aku masih agak segan, tapi kupikir tak apa-apa jika sekedar berpasan dengannya. Kami serumah, lagipula.
Yaah...masa bodoh dengan yang tadi kupikirkan. Aku baru berjalan menaiki tangga sehabis mandi, saat dia keluar dari kamarnya. Tanpa pikir panjang, aku langsung lari ke kamarku dan mengunci pintu.
"Gaku kenapa kau lari? Aku hanya ingin bicara denganmu!" Pintuku diketuk dengan keras, aku pun membalas,
"U-uh...itu tadi spontan!"
"Setidaknya, bukalah pintunya!"
"Bicaranya dari luar saja!"
Ketukannya berhenti. Apa aku terlalu kasar?
"Dik, aku...aku tak tahu cara menyampaikannya padamu. Kurasa wajar jika kau menghindariku. Kau pasti bingung, ya kan?"
"..."
"Selama ini, mungkin kau berpikir bahwa aku membencimu. Aku tak heran. Maksudku...setelah semua yang kulakukan padamu..."
"..."
"...tapi ketahuilah. Aku tak pernah membencimu. Aku mencintaimu, sungguh, aku benar-benar-"
"Kak, mungkinkah kau hanya bingung? Mungkinkah kau hanya keliru antara perasaanmu sebagai seorang kakak dengan perasaanmu sebagai seorang uhh..laki-laki? Juga, sejak dulu kita sekolah bersama, dan setiap hari bertemu di rumah. Ditambah lagi rambutku panjang. Aku yakin kau mengerti," aku ingin mengakhiri ini.
"...saat aku merebut pacarmu, ingat kan? Itu bukan karena aku menyukainya bukan juga karena ingin membuatmu kesal, atau merebut orang yang kau sayangi. Aku melakukannya karena tak tahan melihat gadis itu dengan bebasnya memelukmu, memegang tanganmu, mengobrol, tertawa bersamamu. Sedangkan aku, aku hanya bisa melihatmu dan menahan diriku sendiri. Aku merebut gadis itu karena aku tak ingin dia memilikimu. Tidak saat aku bahkan tak mampu mengobrol denganmu. Kau tahu, satu-satunya alasan aku tak menyerangmu selama ini adalah karena aku tahu bahwa ini semua salah. Mustahil bagiku untuk berpura-pura tak tahu hal itu."
Aku butuh waktu untuk memahami semua yang dikatakannya. Selama ini dia menahan diri? Saat ini aku hanya bisa terdiam. Untuk beberapa saat, tak satu pun dari kami bicara. Tak yakin dia masih di sana, pada akhirnya aku membuka mulut,
"Hei, Kak. Sebenarnya apa yang kau pikirkan terhadapku selama ini?"
"Aku tak yakin kau ingin mendengarnya,"
Seburuk itukah? "Haha..tak apa-apa, toh tak mungkin terlalu buruk, kan?" Aku hanya penasaran.
"Awalnya, aku hanya berpikir tentang melihatmu tersenyum. Kau sangat manis saat tersenyum. Lalu aku mulai berpikir tentang menggandeng tanganmu atau menciummu. Terkadang, aku berpikir tentang menyetubu-"
"Oke. Cukup. Hentikan." Aku tak tahan lagi mendengarnya, dan untuk kata terakhir...aku cukup yakin aku tahu kelanjutannya.
Aku menyandarkan wajahku pada pintu, lalu berkata dengan lembut namun cukup keras untuk dia yang di balik pintu mendengarnya, "Hubungan kita tak akan sama lagi, bukankah begitu? Dalam artian buruk maksudku. Aku hanya berharap kita bisa tetap berhubungan layaknya saudara seperti biasa. Aku tak bisa mengembalikan perasaanmu. Maafkan aku. Apa menjadi saudara cukup bagimu?"
Menghela napas, dia menjawab, "Harusnya aku yang meminta maaf kepadamu. Aku yang tak bisa menahan nafsuku. Tentu menjadi saudara cukup bagiku. Memang itu yang seharusnya bukan?"
"Ya, memang itu. Terima kasih, Kak."
"Terima kasih juga, Dik."
Dia, kakak pun melangkah pergi. Aku diam di tempat. Hanya tersenyum. Entah mengapa, aku lega.
A/N: Akhirnya chapter yang panjang~ oke, ini belum selesai. Maaf jika ada typo atau kesalahan lain, aku nulis ini dari handphone. Oh, dan peringatan untuk chapter selanjutnya, ada adegan, uh...'itu' kalian ngerti kan? Yaa..gak eksplisit, sih tapi tetep 16+ lho ya...karena beberapa alasan juga sih. Kalian akan tahu nanti :v.
