HORODAC

Disclaimer Fujimaki Tadaoshi

HORODAC by Nakami~

Rated: T+ / Akashi Seijuurou xKuroko Tetsuya

Genre : Romace, Fantasy

HAPPY AKAKURO DAY!

Untuk merayakan, saya post chapter 1 dari Horodac! Selamat menikmati kisah dari Negeri Tranquilina!

Maaf kalau gaje atau sebagainya, saya masih pemula. :'v

WARNING: OOC, typo(s), dll. Midorima berperan antagonis.

CHAPTER 1

.

.

Akashi berjalan dengan membawa panahannya, ia baru selesai melaksanakan pekerjaannya. Berburu dan menjualnya ke desa Beta. Tentu saja ia menjual hasil buruannya ke keluarga Kise Ryouta. Jika saja , ia menjualnya ke orang lain. Sahabatnya yang berkulit gelap itu pasti akan mulai mengoceh.

Masih setengah perjalanan lagi untuk mencapai desanya. Ia terkadang berpikir, mengapa tidak ia saja yang menjadi raja? Namun, ia selalu menangkas pemikirannya dengan cepat. Karena pada dasarnya ia tidak mempercayai zodiak. Bahkan ia merasa konyol dengan sistem kerajaan yang diterapkan di Tranquilina dan kadang bertanya tanya, siapa yang pertama kali mencetuskan Horodac? Kalau saja Tranquilina memiliki pesawat terbang, ia sudah kabur dari negeri konyol ini.

Berjalan sambil memikirkan masa depannya. Hidup mulai terasa monokrom. Tidak pernah ada perubahan yang signifikan di dalam hidupnya. Bagaimana mau sukses? Kalau seorang suku Sagitarius tidak diperbolehkan berdagang. Karena itu sumber mata pencaharian suku Gemini. Semua sudah dibagi menurut porsinya masing masing. Tidak boleh mengambil porsi orang lain.

"Akashi.."panggil seorang pemuda berkulit gelap sambil melambaikan tangannya

Akashi tersenyum simpul mendekati teman dekatnya "Daiki, lama tidak bertemu."

"Kau habis berburu kan?" tanya Aomine "menjual hasil buruan di toko kekasihku ya, jangan lupa."

"Aku menjualnya di toko Ryouta, tenang saja." Jawab Akashi "Ah— sebentar lagi mencapai perbatasan desa, mungkin Daiki mau berkunjung ke kediamanku?"

Aomine merangkul teman dekatnya "Tentu saja kawan. Apa yang akan kita lakukan? Apa aku harus membawa dvd—"

"Tidak perlu , Daiki." Tangkas Akashi dengan cepat

Aomine hanya tertawa terbahak bahak "kalau begitu, bagaimana kalau majalah – "

"Kalau kau membawa salah satu dari itu, atau keduanya ke rumahku, maka kau tidak akan kuizinkan masuk ke dalam desa Errol lagi." Jawab Akashi tajam.

Aomine mengedip-ngedipkan matanya , kaget "Baiklah kawan, aku hanya bercanda. Santailah sedikit."

Aomine dan Akashi berjalan sambil bersenda gurau, hingga mereka tiba di kediaman Akashi Seijuurou. Akashi tinggal sendirian di rumah peninggalan sang ayah yang sudah meninggal sejak ia di dalam kandungan. Konon katanya sang ibu berasal dari desa Aqua dan sang ayah berasal dari desa Errol. Namun, Akashi tidak terlalu memperdulikannya. Ada atau tidaknya sang ibu, ia tetap tidak bisa tinggal bersamanya.

Aomine duduk di teras rumah Akashi yang cukup luas, Akashi menyediakan air mineral dan sedikit camilan untuknya. Kemudian Aomine mulai bercerita tentang kekasihnya, rumahnya, orang tuanya dan lain lain. Sementara, fokus Akashi sudah berubah sejak beberapa menit yang lalu.

Matanya menangkap seorang pria bersurai biru muda, mengikuti kemanapun ia pergi. Melihat penampilannya dari atas sampai bawah sambil mengingat-ngingat asal desa pemuda tersebut.

'Aqua ?' pikir Akashi, matanya menelusuri punggung tangan pemiliknya, sayangnya ia tidak mendapati informasi yang diinginkan. Pemuda yang sedari tadi ia perhatikan menggunakan sarung tangan cokelat. 'Padahal musim panas'

"Oi Akashi!" panggil Aomine sambil melempar brondong jagung ke arahnya "Perhatikan aku! Aku sedang bercerita!"

Akashi menoleh memasang tampang garang "Kau sudah bosan hidup Daiki?"

Aomine menopang dagunya "Kau penasaran dengannya?" tunjuk Aomine ke arah pemuda yang sedari tadi Akashi pandang "Namanya Kuroko Tetsuya dari desa Aqua , tapi ia bekerja di desa Alpin mengurus perairan sawah. Karena gajinya lebih besar daripada berlayar."

"Kau tahu banyak Daiki. Padahal kau sudah memiliki Ryouta.." sindir Akashi

"Tidak begitu kawan. Tetsu mengurus sawah milik keluargaku, jadi ya.. Hm.. Sedikit banyaknya aku tahu lah."sanggah Aomine

Akashi berdeham "Kau harus memperkenalkannya padaku Daiki, dan lagi kau memanggilnya Tetsu? Tak ku sangka kalian sedekat itu." Ujar Akashi memegang bahu Aomine

"Oi, oi.." Aomine menepis tangan kawannya "Akashi sudah mulai puber rupanya" katanya diiringi tawa.

"Dan lagi.." sambung Aomine "Aku tidak akan memperkenalkan temanku yang suci dan polos itu kepadamu."

Akashi tersenyum

.

.

.

Pukul tiga dini hari, pria berambut merah dengan mata heterokromnya berjalan ke arah hutan membawa panahan. Sudah menjadi kebiasaannya untuk pergi berburu saat tetangganya masih tidur. Bukan hanya tetangganya, tapi juga hewan hewan yang diburunya.

Akashi Seijuurou menelusuri hutan dengan hati hati, tidak ada orang lain selain dirnya. Ia ditemani dengan pohon pohon rindang dan angin malam yang menusuk kulitnya. Akashi menaikkan syalnya hingga menutupi hidung mencoba bertahan dari dinginnya angin malam.

Ia berjalan menuju tempat hewan buruannya tidur, hewan yang akan ia buru kali ini adalah sapi. Sesampainya di tempat tujuan, Akashi menaiki pohon yang tidak jauh dari tempat para sapi tidur. Terlihat empat ekor sapi tidak bersalah tidur dengan nyenyak.

Akashi tersenyum "Aku akan mendapatkan banyak uang kali ini"

Akashi mengambil panahannya, berusaha fokus agar sang panah mengenai bagian vital hewan yang ia incar. Kemudian membiarkan panahnya melesat. Insting hewan Akashi Seijuurou bangkit. Sapi target pertama Akashi berteriak sekali, lalu mati. Ia tidak banyak berteriak sehingga membangunkan sapi lain.

Keakuratan panahnya adalah 100%, jadi tidak ada kata melenceng jika Akashi Seijuurou yang memegang panahan.

Akashi mengulanginya hingga sapi ke empat , lalu turun dan memotong dagingnya kecil kecil untuk dibawa ke desa Beta.

.

.

.

Akashi berjalan membawa karung besar berisi daging sapi. Berniat menjualnya ke toko Kise Ryouta. Niat baiknya mengantarkan ia bertemu sepasang kekasih yang dianggapnya bodoh.

"Akashicchi!" sapa Kise setelah melihat pria dengan mata heterokrom.

"Yo, Akashi!" panggil Aomine

Akashi menyerahkan karung kepada ayah Kise "Ojii-san, tolong hitung semuanya."

"Hahaha, Akashi-san selalu saja mendapatkan hewan buruan. Kau membuat toko kami ramai. Terimakasih nak."jawab Ayah lelaki berambut kuning

Akashi tersenyum

"Akashicchi, lama tak berjumpa ssu~"

Yang dipanggil menoleh masam "Baru saja kita bertemu kemarin, Ryouta"

"Akashicchi hebat ssu" puji Kise "Walaupun membunuh banyak binatang, tapi tak pernah bau daging atau darah. Kau pakai parfum apa ssu?"

Belum sempat menanggapi perkataan Kise, matanya mengunci sosok pria mungil bersurai biru yang ia perhatikan tempo hari. Dengan badannya yang mungil, ia membawa banyak sekali kayu, Kuroko Tetsuya pasti sangat kerepotan. Akashi memperhatikannya sambil tersenyum.

Aomine menyikut pelan Akashi "Hei, kalau kau ingin membantunya, bantulah. Jangan abaikan pertanyaan pacarku."

"E—eh?" dahi Akashi mengernyit

Aomine tertawa "Akashi, sebagai temanmu yang baik. Aku tahu kau tidak suka didorong dorong jika akan menyatakan cinta."

"Terimakasih Daiki. Tapi aku tidak akan menyatakan cintaku." Akashi tersenyum , lalu berjalan mendekati Kuroko.

"Halah harus di provokasi dulu"ujar Aomine

Kise bergelayutan di tangan sang pacar "Tapi sisi Akashicchi yang itu sangat manis ssu!"

Aomine mengacak acak rambut sang pacar sambil tersenyum.

Akashi berjalan santai kearah Kuroko, ia memperhatikan gerak geriknya dengan santai. Niatnya memang membantu Kuroko, tapi ia tidak mau berlari. Masih ingin melihat pemandangan indah bidadari yang sedang kesusahan. Akashi kembali tersenyum.

Kuroko Tetsuya membawa banyak kayu , ia berniat membawanya ke desa Alpin untuk mengatur perairan sawah keluarga Aomine. Saking banyaknya kayu yang ia bawa, tiga kayu jatuh dari genggamannya. Terpaksa ia jatuhkan semua kayu, agar dua kayu yang jatuh dapat diraih.

"Kesusahan?" tanya Akashi sambil mengambil kayu yang dijatuhkan satu persatu ke dalam genggamannya

Kuroko menatap lawan bicaranya "Ya, sedikit." Jawabnya sambil tersenyum "Terimakasih sudah membantuku tuan—"

"Namaku Akashi Seijuurou, pilihlah nama panggilan yang cocok untukku."tutur Akashi

"Oh—Terimakasih Akashi-kun." Lanjut Kuroko

Mata Akashi melihat ke arah punggung tangan Kuroko, memastikan asal desanya. Ya, Akashi menemukan lambang air dari tangan mulus Kuroko.

Akashi tersenyum memandang sepasang mata biru "Kuroko Tetsuya? Kau benar benar pengendali air ya."

Kuroko menghembuskan nafas berat tanda tak suka"Aku suku Aquarius, bukan avatar."

"Tapi kalian diberkati dengan kemampuan yang tidak jauh dari air. Berarti kalian pengendali air."ujar Akashi terkekeh

"Kami tidak mengendalikan air, kami dikendalikan air." Kuroko mengambil potongan kayu terakhir "Nah Akashi-kun, serahkan sebagian kayu itu kepadaku."

Akashi menggeleng "Aku akan mengantarmu ke desa Alpin."

Mata biru yang indah terbelalak kaget setelah mendengat jawaban lawan bicaranya "E—eh?"

"Tetsuya tidak suka?" tanya Akashi

"Bukan begitu.. Ano... Etto.. Kalau begitu terimakasih Akashi-kun, aku berhutang budi padamu"Kuroko tersenyum dengan sedikit rona merah dipipinya membuat Akashi berpikir bahwa yang berada dihadapannya benar benar sosok bidadari.

Akashi berjalan berdampingan dengan Kuroko

"Oi, Akashi! Bayaranmu!" Aomine setengah berteriak memanggil temannya, sedangkan di sisinya Kise memberikan kode 'semangat' kepada Akashi

Akashi menoleh lalu menjawab "Aku akan ke sawahmu , datanglah kesana untuk membayarku!"

Akashi dan Kuroko untuk pertama kalinya bertemu dan berbincang. Namun masih ada kecanggungan diantara keduanya. Di dalam perjalanan, lebih banyak keheningan. Kuroko banyak diam, dan sesekali mengomentari pedagang pedagang yang ada di desa Beta. Sedangkan Akashi memutar otak, memikirkan pertanyaan yang akan diajukan. Tapi, bukan Akashi kalau memecah keheningan saja tak bisa.

"Tetsuya" panggil Akashi, tatapannya masih lurus ke depan

Kuroko menoleh, memandang lawan bicaranya yang masih terfokus pada jalan.

"Aku tertarik dengan ungkapanmu sebelumnya. 'Kami tidak mengendalikan air, kami dikendalikan air'" ujar Akashi "Apa maksud dari kata kata itu?" lanjutnya

Kuroko menunduk lagi , tersenyum namun secara terpaksa "Banyak yang tidak memiliki bakat mengenai air. Namun, dipaksa untuk mengendalikan air. Kurasa kejadian ini hanya terjadi di desa Aqua saja. Karena, penduduk desa Aqua tidak memiliki banyak pilihan dalam pekerjaan. Lingkupnya sangat kecil Akashi-kun."

Akashi menepuk punggung Kuroko perlahan "Tahukah kau? Suku Sagitarius justru tidak memiliki pilihan lain selain berburu." Akashi tersenyum "Bakatku dalam berburu tidak terlalu bagus, percayalah. Aku lebih bagus dalam mengatur perdagangan. Tapi, aku lahir di suku Sagitarius, aku tidak memiliki pilihan."

"Aku menyukai sastra" jawab Kuroko penuh semangat "Aku ingin bisa membuat buku dan menjualnya, tapi aku terlahir sebagai Aquarius. Akhirnya, aku hanya penikmat sastra."

Akashi terkekeh "Kita memiliki cerita yang mirip rupanya. Hahh, membicarakan negeri ini memang tak ada habisnya. Aku kadang bingung, siapa pencetus Horodac?"

"Akashi-kun, Apa kau pernah mendengar sebuah legenda atau gossip—"

'BRAK'

Belum sempat mendengar jawaban Kuroko secara utuh, seorang pemuda berjas hitam dengan dasi belang menubruk Kuroko hingga jatuh. Kayu yang ia bawa terpental kemana mana.

"HEI JANGAN LARI KAU! HEI BELAH TENGAH!"panggil Akashi

'Kayunya sampai terpental, ini pasti kesengajaan!' pikir Akashi

.

.

.

-Di Kastil negeri Tranquilina -

Seorang lelaki datang ke kerajaan memakai jas hitam dan dasi belang, rambutnya belah tengah disisir dengan sangat rapi. Ia berjalan kearah ruangan sang raja. Name Tag nya bertulisan 'Takao Kazunari'. Takao membungkukkan diri dan menyilang tangan kanannya di dada sebagai tanda hormat kepada sang raja yang sudah berada di hadapannya.

"Mohon Izin Yang Mulia Raja Midorima, Saya baru saja menyelesaikan pengintaian."ujar Takao

Midorima meneguk tetes yang tersisa "Jadi, mana laporanmu Takao-san?"

"Sampai saat ini masih belum ada pergerakan di antara kedua suku. Namun, mereka sudah mulai mendekat Yang Mulia Raja."jawab Takao

"Hmm.. Kalau begitu terimakasih Takao-san. Lanjutkan pengintaian seperti biasa esok hari."perintah Midorima

Takao memberikan tanda hormat lagi "Siap Yang Mulia Raja Midorima, saya pamit undur diri."

Takao balik badan dan berjalan ke arah pintu keluarnya seperti biasa, meninggalkan ruangan sang raja. Suatu kehormatan besar baginya untuk bekerja di bawah raja.

"Heeh..." lelaki berambut ungu dengan badan besar muncul dari belakang raja "Mido-chin memanggilnya lagi?" tangannya menggenggam snack kentang.

Midorima tersenyum seraya membenarkan posisi kacamatanya "Firasatku mengatakan sebentar lagi akan terjadi sesuatu, aku butuh informan dari desa"

To be continue

.

.

.

HAPPY AKAKURO DAY! Untuk memperingati Akakuro Day saya ngepost chapter 1 HORODAC dan oneshot Remote Control. \m/ Baca juga ya Remote Control dan The Difference nya nakami wehehe~

Makasih untuk teman teman yang memberikan review kemarin, terimakasih banyak atas kritik dan sarannya. Untuk chapter 1 , saya tunggu reviewnya lagi ya! Sampai ketemu di chapter berikutnya~!