HORODAC
Disclaimer Fujimaki Tadaoshi
HORODAC by Nakami~
Rated: T+ / Akashi Seijuurou xKuroko Tetsuya
Genre : Romace, Fantasy
Selamat menikmati kisah dari Negeri Tranquilina!
Maaf kalau gaje atau sebagainya, saya masih pemula. :'v
WARNING: OOC, typo(s), dll. Midorima berperan antagonis. Dan sepertinya chapter ini bakal membosankan :'D
CHAPTER 2
Pria bersurai merah mengulurkan tangannya "Apa kau baik baik saja Tetsuya?"
Kuroko menerima bantuan dari Akashi sambil sedikit kesusahan untuk berdiri. Kakinya terasa nyeri sekali. "Aku baik baik saja Akashi-kun, terimakasih aku berhutang budi lagi padamu." Jawab Kuroko sambil meringis.
Kuroko sudah berdiri. Akashi memungut kayu kayu yang berhamburan sambil menggerutu di dalam batinnya. Hening.
Akashi teringat pada perbincangannya tentang Horodac dengan Kuroko yang belum selesai. Sambil memungut kayu, Akashi bertanya "Tetsuya, jadi apa yang ingin kau bicarakan tadi? Aku sedikit tertarik, aku ingin mengetahui sistem Horodac yang sebenarnya."
Kuroko diam sejenak "Akashi-kun, aku lupa. Tidak sepantasnya kita membicarakan ini di tempat terbuka."
Surai merah menoleh kepada pria mungil yang sedari tadi belum bergerak satu centi pun.
"Tetsuya?" panggil Akashi
Mata biru melirik , ekspresi wajahnya terlihat sedang menahan sakit.
"Kau benar benar tidak apa apa?" Akashi memulai langkahnya mendekati Kuroko
Pemuda mungil menggigit bibirnya "Kakiku sepertinya keseleo Akashi-kun, he-he" jawab Kuroko cengengesan sambil menahan sakit
Seperti biasa , Akashi berangkat pagi pagi sekali untuk berburu. Kemudian menjualnya di desa Beta. Yang beda dari rutinitasnya kali ini adalah, ia harus pergi ke desa Alpin untuk menagih bayarannya kemarin pada Aomine.
Ya, kemarin kaki Kuroko tidak bisa digerakkan. Jadi Akashi harus menggendongnya untuk dibawa ke tabib terdekat. Sedangkan kayu kayu yang pria biru muda kumpulkan harus terbuang sia sia, karena Akashi bukan pemain sirkus yang bisa menggendong Kuroko sambil membawa kayu.
Dengan kata lain, jika Kuroko sudah merasa baikan dengan kakinya. Ia dapat bertemu Kuroko di desa Alpin hari ini.
Pria berkulit tan dengan badan kekar dan rambut biru tua melambaikan tangannya dari jauh. Terlihat disampingnya seorang pria dengan rambut cerah bergelayutan manja ditangan sang kekasih. Pantas saja Akashi tidak bertemu dengannya di toko, ternyata ia sedang pacaran di desa tetangga.
"Oi! Akashi!"panggil Aomine
Akashi berjalan dengan santai menghampiri temannya "Jadi cepat berikan bayaranku , Daiki."
Bibir Kise mengerucut "Akashicchi tidak menyapaku! Hidoi ssu!"
Aomine menyerahkan sejumlah uang kepada teman dekatnya "Akashi, kau sudah memiliki banyak uang. Mengapa tidak memutuskan untuk menikah?"
"Aku tidak memiliki calon, harusnya aku yang bertanya padamu. Kapan kau dan Kise akan menikah?"timpal Akashi
Aomine memutar bola matanya "Hei, pemuda berambut biru langit itu. Menikahlah dengannya."titah Aomine
Akashi menatap kawannya dengan tajam "Jangan berani memperintahku Daiki. Ngomong-ngomong bagaimana Tetsuya? Sudah bekerja hari ini?"
"Eh—Akashicchi, daritadi Kurokocchi ada disitu ssu."Kise menunjuk ke arah pintu rumah Aomine.
Akashi menoleh dan mendapati sosok pria berambut biru sedang mengisi ember dengan air. Tanganya yang putih polos dihiasi dengan lambang air kini sedang berusaha membuka keran.
Sungguh indahnya ciptaan Tuhan. Kakinya mulai melangkah meninggalkan kawan kawannya yang mulai menggerutu.
"Dia mulai lagi."tutur Aomine
"Iya ssu, dia meninggalkan kita lagi"
Pundak pria berambut biru ditepuk.
Mata biru langit melirik dan mendapati surai merah dengan mata heterokrom di belakangnya. Barulah ia memutuskan untuk balik badan.
"Akashi-kun"ucap Kuroko sambil tersenyum.
Akashi membalas senyuman Kuroko "Selamat pagi, Tetsuya."
Kuroko membungkuk sembilan puluh derajat "Terimakasih telah membantuku Akashi-kun, aku berhutang budi padamu."
"Hei Tetsuya, tidak usah dipikirkan. Kemarin aku membantumu dengan ikhlas, aku tidak butuh bayaran dan—aduh Tetsuya tidak usah membungkuk seperti itu "jawab Akashi sambil menegakkan tubuh Kuroko.
Kuroko kembali berdiri tegak "Kau sudah banyak membantuku Akashi-kun, setidaknya aku harus menraktirmu makan"tutur Kuroko sambil menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal. Oh sungguh, sebenarnya Kuroko merasa malu dan takut uangnya tidak cukup untuk membayar makanan nanti.
Akashi tersenyum "Kuterima ajakanmu, kau akan menraktirku dimana Tetsuya?"
"Ano.. Etto—Aku akan menraktirmu makanan yang sederhana Akashi-kun. Kalau begitu besok tunggu aku di perbatasan desa Errol dan Aqua pukul 6 sore."ujar Kuroko "Ah—jangan bawa panahanmu Akashi-kun. Kumohon untuk kali ini saja."lanjut Kuroko
Langit biru sudah lenyap tertelan oleh warna jingga, matahari yang berwarna tak jauh berbeda terlihat cukup besar pada jam jam ini. Burung sriti sibuk kembali ke habitat bersama dengan kelompoknya, menghiasi langit jingga. Langit indah pukul enam sore ditatap oleh sepasang mata heterokrom.
"Langit yang indah tapi lebih indah jika melihatnya bersama Tetsuya"ujar Akashi, pria bersurai merah sudah menunggu Kuroko sejak pukul lima sore. Akashi terlalu bersemangat ketika pemuda biru langit mengajaknya makan bersama. Tentu saja hari ini Akashi menuruti permintaan Kuroko untuk tidak membawa panahan miliknya. Padahal panahan merupakan simbol tersendiri dari suku Sagittarius.
"Akashi-kun."panggil Kuroko sedikit berlari ke arah lelaki bersurai merah.
Pemuda biru masih berusaha mengambil napas sebanyak banyaknya, ia sadar telah membuat Akashi Seijuurou menunggu sejak pukul lima. Karena ia mendapat laporan dari tetangganya yang merasa risih dengan adanya orang asing dengan pakaian rapi diperbatasan yang tidak jelas asal-usulnya.
Mata biru melirik ke arah jam yang tertempel di depan toko terdekat "Ah—aku datang tepat waktu." Ujar Kuroko sembari menyeka keringatnya.
"Tidak usah terburu-buru, Tetsuya. Kau datang tepat pada waktunya."
"Apakah aku salah menyebutkan jam? Aku mendengar kau datang dari pukul lima , Akashi-kun."jawab Kuroko cemas
Akashi menggeleng pelan "Tidak, sudah jelas kau tidak salah sebut. Aku memang datang lebih awal, jam di rumahku terlalu cepat satu jam." pemilik surai merah tertawa pelan "Jadi, dimana tempat tujuan kita selanjutnya?"
Kuroko menggaruk rambutnya yang tak gatal "Kuharap kau senang dengan masakanku Akashi-kun."
Mata beda warnanya terbelalak "Bukannya kau akan menraktirku makan?"
Akashi duduk di kursi kayu, aroma yang asing memaksa masuk hidungnya. Bukan aroma tidak enak, hanya saja jarang ia hirup. Tidak menyangka bahwa rumah dari sesosok pemuda mungil yang dicintainya ternyata terbuat dari kayu tua. Aroma dari kayu tua yang asinglah yang setia menemaninya menunggu Kuroko memanggil.
"Akashi-kun. Sudah matang." Surai biru berjalan mendekati lelaki tampan yang ia buat menunggu cukup lama.
Akashi tersenyum, beranjak dari kursinya kemudian berjalan mengikuti Kuroko ke arah ruang makan.
Kuroko melepas celemeknya.
"Maafkan aku , Akashi-kun. Ternyata butuh waktu cukup lama untuk memasak ini semua."ujar Kuroko sambil mengambilkan Akashi semangkuk nasi hangat "Apa kau suka ikan? Aku memasak menu ikan, karena ikan di desa Aqua masih sangat segar."
Akashi tersenyum, pemandangan yang ia lihat saat ini membuatnya ingin menjadikan Kuroko sebagai istri, sepertinya suasana rumah sangat menyenangkan jika ada Kuroko di dalamnya.
"Ya, Aku suka" aku suka apapun yang kau buat.
Kuroko tersenyum, "Selamat makan"
Akashi dan Kuroko mulai memakan santapan yang dihidangkan. Terselip sedikit perasaan takut di hati Kuroko. Takut masakannya tidak cocok dengan lidah Akashi. Tapi, sungguh dirinya sudah menyiapkan hidangan yang terbaik malam ini.
Akashi Seijuurou menaruh sumpit di atas mangkuk. Kemudian meneguk segelas air, tanda ia telah selesai makan.
"Tetsuya." Panggil Akashi
Kuroko yang sedang mengelap mulutnya dengan serbet yang telah ia sediakan langsung menghentikan aktifitasnya dan melirik pria yang ada dihadapannya.
"Kau mau menembakku Akashi-kun?"tanya Kuroko dengan wajah datar
Akashi terkekeh pelan "Tidak, kau kegeeran sekali ya Tetsuya."
Surai biru muda menggeleng "Bukan begitu, biasanya seorang pria suka menyatakan cintanya setelah mengajak orang yang disukainya makan malam."
"Kau adalah seorang pria yang mengajakku makan malam Tetsuya. Jadi kau mau menembakku malam ini?"mata heterokrom memicing ke arah mata biru
Skak mat.
Kuroko diam seribu bahasa, tapi dirinya tentu belum mau kalah dari Akashi Seijuurou. Otaknya dengan cepat mencari topik baru untuk mengalihkan pembicaraan.
"Nah , jadi Akashi-kun tadi mau bertanya apa?"
Akashi tersenyum miring "Ah—ternyata Kuroko Tetsuya pandai mengalihkan pembicaraan ya. Sayang sekali aku gagal mendapatkan pacar malam ini."
Kuroko membuang nafas berat "Aku menunggu pertanyaanmu, Akashi-kun." Ujar Kuroko sekali lagi "Oh iya, Akashi-kun jangan sampai lupa ya. Aku adalah pemilik rumah ini." Lanjutnya sembari meneguk segelas air.
Akashi melipat kedua tangannya di depan dada kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi , "Sayang sekali, sepertinya malam ini aku juga akan terusir dari rumah bidadari."
Surai biru hampir saja tersedak "Bidadari? Kalau disuruh memilih antara bidadari dan malaikat. Aku lebih memilih untuk disebut malaikat."
"Sayangnya aku tidak bertanya Tetsuya."
"Jadi apa pertanyaanmu Akashi-kun?"
Mata heterokrom menelusuri desain ruang makan pada rumah Kuroko. Ia masih menghirup aroma kayu tua. "Interior rumahmu unik ya."
"Jadi itu pertanyaanmu, Akashi-kun?"tanya Kuroko
"Yang tadi itu disebut pernyataan Tetsuya."ujar Akashi "Pertanyaanku, kenapa kau memilih desain yang seperti ini? Rumah yang lain sudah memakai tembok."
"Cuma itu saja Akashi-kun?" Surai biru memiringkan kepalanya penasaran.
Akashi mengangguk pelan.
"Rumah ini peninggalan nenekku. Satu satunya keluarga yang kumiliki."jawab Kuroko "Aku tidak ingin mengubah desainnya. Apakah terlalu kuno untukmu?"
Surai merah menjawab dengan gelengan.
"Aromanya."tutur Akashi singkat.
Mata biru Kuroko tidak lepas dari mata merah-emas milik Akashi.
"Aku suka aromanya."lanjut Akashi "Kayu ini memang tua, tapi tidak reyot. Kualitasnya cukup hebat, bisa jadi ini milik uyutmu, Tetsuya."
Kuroko berdecak kesal, bukan masakannya yang dipuji tapi kayu rumahnya.
Akashi beranjak dari duduknya, berjalan ke arah Kuroko kemudian mengelus rambut birunya "Besok kau akan ke desa Alpin kan?"
Kuroko memegang ember besar berisi air penuh, berjalan sedikit compang camping ke arah kebun milik keluarga Aomine. Otot otot tangannya mulai mengeluh tak kuat, tapi otaknya aktif memberi sugesti 'aku bisa' sehingga pria surai biru enggan meminta bantuan ataupun mengeluarkan keluhan dari bibirnya.
Sedikit lagi langkahnya akan menuntun ia ke arah kebun gandum. Berapa kebun yang dimiliki Aomine? Banyak, mulai dari kebun gandum, rambutan sampai durian. Dan Kuroko Tetsuya lah yang bertanggungjawab dengan semua perairan kebun milik keluarga Aomine.
Pria tan berdiri di dekat pagar kebun gandum dengan tangan dilipat depan dada. Mata dongkernya menatap tajam kehadiran pria surai biru langit yang berjalan pelan. "Oi, Tetsu! Butuh bantuan tidak?"
Kuroko menggeleng dengan cepat sambil menepis keringatnya dengan sebelah tangan.
Langkah kecil Kuroko telah mencapai garis finish. Ia sudah berdiri tegak di depan pemilik kebun gandum yang akan ia garap hari ini. "Ada keperluan apa Aomine-kun?"
Aomine Daiki menggeleng pelan "Tidak terlalu penting sih, tapi Akashi semalam bilang akan kesini nanti siang. Mau membalas makananmu kemarin." Tangan kekar menepuk pelan pundak Kuroko kemudian berlalu.
Kuroko memandang punggung Aomine yang semakin lama semakin kecil, sambil bertanya tanya. Sedikit perasaan senang dan menanti nanti terselip di pojok hatinya. Ia mulai mengambil langkah perlahan, bertanya tanya di dalam pikiran. Mulai dari keperluan Akashi menemuinya sampai baju yang akan dikenakan sang pria merah tersebut.
Pemuda berambut bela tengah dan jas hitam dengan tatapan mata tajam berdiri di dekat kursi kebesaran sang raja. Dirinya kembali dipanggil untuk melapor. Tapi nyatanya, ia malah dibuat menunggu kehadiran sang raja yang katanya masih menyantap sarapannya. Berusaha tetap berpikir positif, pria bernama Takao Kazunari berniat untuk meminta maaf karena datang terlalu pagi.
Pintu besar terbuka, lelaki tinggi berambut hijau masuk ke dalam ruangan. Takao menyilangkan tangan seperti biasa. Memberi hormat kepada sang raja. Sedangkan, sang Raja hanya berjalan mengabaikan lalu duduk di kursi kebesarannya.
Tangan kiri dibuat sebagai penopang dagu, belum sempat bicara Takao sudah membuka mulutnya terlebih dahulu "Maaf saya datang terlalu pagi Yang Mulia Raja." Tuturnya sembari membungkukkan badan.
Sang Raja menganggukkan kepalanya "Sudah sudah, syukur kau tahu diri. Jadi tidak ku caci maki tadi."
Hening sesaat.
"Melaporlah seperti biasa nanodayo."titah Sang Raja.
Pria berjas nan rapi kembali menghormat "Izin melapor Yang Mulia Raja Midorima, Saya telah melakukan pengintaian. Sejauh ini, baru suku Aquarius yang menyadari kejanggalan."
"Bagaimana dengan hubungan mereka?"
"Mereka mulai sering bertemu Yang Mulia Raja."lanjut Takao
"Wah, aku tidak menyangka ternyata suku Sagittarius cukup lambat dalam menyadari hal seperti itu ya."tutur sang Raja
"Mohon maaf Yang Mulia Raja Midorima, tapi menurut pengamatan saya, suku Aquarius lebih lambat dalam mengambil tindakan, sehingga jika suku Sagittarius mulai menyadari kejanggalan, mereka akan bertindak lebih awal. Setidaknya Yang Mulia Raja harus tetap awas setiap saat."jawb Takao panjang lebar
"Baiklah, lanjutkan pengintaian seperti biasa"titahnya
Takao memberikan tanda hormat lagi "Siap Yang Mulia Raja Midorima, saya pamit undur diri."
Dengan sigapnya ia balik badan dan berjalan ke arah pintu keluar seperti biasa, meninggalkan ruangan sang raja.
Tentu saja ruangan besar sang Raja menjadi sangat hening ketika pesuruhnya yang satu itu pergi. Namun, ada suara kunyahan snack menggema saat ini. Tanpa harus balik badan, sang raja tahu bahwa koki favoritnya telah berada di belakang.
"Hem, apa yang akan kau lakukan sekarang Mido-chin?" pria dengan perawakan besar dengan rambut ungu panjang berjalan mendekati kursi kebesaran.
"Ya, sesuatu yang besar itu akan segera meledak nanodayo." Sang Raja membenarkan posisi kacamata "Murasakibara, tolong sampaikan kepada Perdana Menteri Miyaji aku akan pergi keluar kota dengan Takao-san dengan melewati jalur dalam sebentar nanodayo."
Murasakibara masih mengunyah makanan ringannya "Heh.. Mido-chin mau kemana?"
"Bertemu orang penting " ujar Sang Raja "Rakyat Tranquilina tidak boleh melihatku, makanya aku tidak boleh melewati gerbang utama nanodayo" lanjutnya
Mata merah beda warna yang indah kini dihiasi kantung hitam. Pemiliknya bangun kesiangan hari ini. Ia sampai tak sempat untuk berburu, mengingat pesan yang ia titipkan pada Aomine pasti sudah sampai pada penerimanya. Dirinya menyesal tidak langsung pulang ke rumah dan malah mampir ke rumah temannya malam itu.
Akashi Seijuurou jalan dengan gagah seperti biasa. Hanya saja kepalanya sangat berat hari ini. Saking beratnya ia sampai tidak sadar telah berada di dekat kebun gandum milik Aomine dan keluarga. Jarang sekali seorang Akashi Seijuurou kehilangan fokusnya.
"Akashi-kun! Mau kemana?"teriak pemuda biru langit , gelombang suara Kuroko dari kejauhan memasuki telinga Akashi Seijuurou, menggetarkan gendang telinga ditangkap oleh saraf auditori membuat pemuda merah menyala sadar dari lamunannya. Sontak dirinya mencari sumber suara.
Mata beda warnanya menangkap sosok biru langit yang melambaikan tangan kanannya, tangan kiri memegang cangkul. Baju putih polosnya telah berlumur lumpur, kulit halusnya ternoda tanah laknat yang berani-beraninya mengotori kulit indah milik Kuroko Tetsuya. Bibir Akashi terangkat membentuk senyuman, tak menyangka bahwa pria yang dicintainya ternyata seorang pekerja keras. Langkah besar diambil, hatinya sungguh tak sabar untuk menemui Kuroko.
"Akashi-kun."panggil Kuroko
Akashi menghampiri sang pujaan hati "Tetsuya. Kenapa.. bajumu?"
Kuroko menunduk melihat pakaiannya yang telah ternodai lumpur "Tadi pagi, keluarga Aomine-kun komplain, katanya perairan disini tersumbat." Tutur Kuroko "Setelah kulihat, ternyata banyak sekali sampah. Aku curiga ini ulah dari anak anak yang tinggal di dekat sini. Jadi ku bersihkan..." lanjutnya
"Kelihatannya kau habis menyebur ke lumpur , Tetsuya."
"Akashi-kun jahat."jawab Kuroko sinis, mata biru nya dialihkan ke lain tempat, tidak ingin menatap mata lawan bicara.
"Hei hei, aku bercanda." Akashi mencoba meraih lengan Kuroko yang langsung ditepis pemuda biru dengan cepat.
Akashi menahan tawa, tingkah Kuroko saat sedang ngambek ternyata lucu sekali
Mata biru memicing ke arah lawan bicaranya "Akashi-kun tidak boleh mengejek. Seharusnya Akashi-kun membantu—"
Mulut Kuroko dibekap oleh tangan milik Akashi kemudian memaksa pria biru langit untuk berjongkok "Jangan berisik." titahnya
Mata biru membulat , ekspresi datarnya berubah panik.
"Kau dengar suara itu?"tanya Akashi sedikit berbisik.
Dengan susah payah Kuroko menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Akashi
Mata beda warna milik Akashi Seijuurou dengan awas memandang sekeliling. Tatapan matanya awas seperti siapa-tahu-ada-binatang-buas-tiba-tiba-menyerang.
"Mmm, mmmm mmm mmm mm! Mmmm—" walaupun mulut sudah ditutup Kuroko masih bersikeras untuk berbicara, tangan dan kakinya berontak ingin Akashi segera melepas bekapannya. Tingkat kepanikannya bertambah tinggi saat Akashi mempererat bekapannya.
Akashi menahan segala bentuk pemberontakan dari Kuroko, tapi nyatanya pemilik surai biru langit itu cukup keras kepala dan tidak mau mengalah. Akhirnya pemilik mata beda warna memutuskan untuk melepaskan tangan yang telah menutupi mulut Kuroko.
"Akashi-kun! Setidaknya kau harus beri tahu aku apa yang sedang terjadi! Bagaimana kalau—"
"Ssssh."pembicaraan Kuroko kembali dipotong oleh Akashi "Bicaranya pelan-pelan"bisiknya.
Kuroko melihat kanan dan kiri, tidak ada yang mencurigakan dari lingkungan sekitar. Tapi, mata dan ekspresi Akashi masih menunjukkan suatu kehati-hatian. Pikirannya mencerna situasi yang ada di sekitarnya secara cepat, keadaan genting apakah yang sedang terjadi? Oke, Kuroko Tetsuya tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Yang ia tahu hanyalah satu, dirinya sedang dalam bahaya bersama pria tampan.
"Akashi-kun, beri tahu aku apa yang sedang terjadi!"
Mata beda warna yang sedari tadi tidak henti hentinya mengawasi lingkungan sekitar beralih kepada pria yang ada dihadapannya.
"Akashi-kun, beri tahu aku apa yang sedang terjadi!" ulang Kuroko dengan memelankan volume suaranya.
Dahi mengernyit, alis terangkat sebelah "Apa yang tadi kau bilang?" tanya Akashi
"Akashi-kun, beri tahu aku apa yang sedang terjadi!" ulang Kuroko menaikkan volume suaranya sedikit.
"Aku tidak bisa mendengarmu, coba mendekat. Kita tidak boleh berisik saat ini"
Kuroko mendekat pelan pelan, tidak ingin membuat kegaduhan lagi "Akashi-kun, beri tahu aku—"
Pemuda surai merah mendekatkan wajahnya, menyentuh sekilas bibir Kuroko Tetsuya. Yang berhasil membuatnya bungkam seketika dengan mata terbelalak dan sedikit rona merah di pipi.
Akashi berdiri dari tempatnya "Situasi gentingnya telah selesai Tetsuya. Sampai ketemu besok!" ujarnya seraya berlari kecil keluar dari kebun gandum. Energinya sudah kembali terisi sekarang.
"Aominecchi! Kau lihat tadi ssu?" Kise berbicara dengan sedikit berteriak kepada kekasihnya.
Ya dari kejauhan, Aomine dan Kise diam diam memperhatikan pertemuan Akashi Seijuurou dan Kuroko Tetsuya. Tentu saja mereka juga melihat kawannya mencium Kuroko dengan cara yang cukup menghibur.
"Ya, aku melihatnya."jawab Aomine singkat.
Kise masih senyum senyum sendiri memperhatikan Kuroko yang sedang bingung dan masih saja membatu. Dirinya ingin sekali menghampiri pria biru langit itu dan menyadarkannya dari lamunan. Tapi nyatanya Aomine berkata "Jangan dulu."
Aomine terlihat berpikir keras. Jarang sekali Kise melihat kekasihnya berusaha memecahkan suatu masalah dengan pemikiran yang rasional. Biasanya langsung main otot. Fokusnya tiba tiba berpindah kepada sang kekasih. Tentu saja pemuda tan itu sadar sedang diperhatikan.
"Hei Kise, bisa tidak kau berhenti memandangi ku? Aku berusaha untuk berpikir"ujar Aomine
Kise tertawa kecil, kemudian mengalihkan pandangannya pada lingkungan sekitar "Apa yang sedang kau pikirkan Aominecchi?"
"Ada yang ganjil dari situasi ini."jawabnya
"Jarang sekali kau berpikir ssu , biasanya malas. Langsung tindak pakai otot saja biar cepat."tutur Kise, matanya kembali memperhatikan lingkungan sekitar.
Hening.
"Aominecchi, aku mau bertanya ssu."
"Bertanya saja."
"Kebun gandum milikmu tidak berada di jalan utama, bukan begitu ssu?"
"Ya"
"Lalu, mengapa suku Sagittarius itu melewati jalan ini dan bukan jalan utama?"
"Kise, ayo berlari"
Mata kuning emas terbelalak kaget
"Kita tidak boleh biarkan Akashi pulang ke rumahnya hari ini."
TO BE CONTINUE
Makasih yang udah setia nungguin HORODAC update. Berhubung lama update, chapter dua dibikin rada panjang. Oke, sekali lagi. Rada panjang. :"D
Maaf lama banget update, dan sempat php karena sebulan kemarin disibukkan sama tugas sebelum UKK ,UKK dan beberapa remidi /cry. Akhirnya baru bisa update pas bulan Ramadhan, karena liburan XD
Duh, malah curhat.
Makasih untuk teman teman yang memberikan review kemarin, terimakasih banyak atas kritik dan sarannya. Untuk chapter 2 ditunggu review nya lagi ya semua, review kalian membuatku kebelet ingin lanjutin ke chapter berikutnya he-he-he xD Sampai ketemu di chapter berikutnya~~
