Hope you like this fiction :)


Jongin juga sebenarnya tidak sesempurna yang terlihat dari luar. Ada kalanya Sehun sebal kala Jongin tidak peka. Tidak mengerti apa yang diinginkan Sehun. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini.


Err Happy Birthday?

Sehun sedang dalam mood yang baik hari ini. Karena semua orang pasti akan bahagia di hari ulang tahunnya kan? Dia tidak sabar untuk menerima kado dari Jongin hari ini. Seminggu yang lalu dia sempat memberi tahu Jongin kalau dia menginginkan tas baru yang sebenarnya harganya tidak terlalu mahal, hanya saja Sehun terlalu sibuk saat ini sehingga tidak sempat membelinya. Sebagai balasan, Jongin hanya mengangguk paham.

Terbiasa dengan kepakaan Jongin, Sehun yakin, untuk kado ulang tahunnya kali ini Jongin pasti akan menghadiahkan tas yang diinginkannya. Memikirkannya saja Sehun jadi tersenyum sendiri.

Senyum Sehun tambah lebar saat dia melihat Jongin datang dengan kado ditangannya.

Jongin menghampiri Sehun dan mengecup pipinya, "Selamat ulang tahun Sehunna."

Ada sesuatu di suara Jongin tiap dia memanggil Sehun dengan nama itu yang membuat pipi Sehun memerah. "Terima kasih Jjong."

"Ini kadomu. Ku harap kau menyukainya." Jongin menyerahkan kadonya pada Sehun.

Dengan wajah berbinar Sehun menerima kado dari Jongin, "Waah tidak perlu repot begini. Boleh ku buka sekarang?"

Jongin terkekeh geli, tidak perlu repot tapi sepertinya Sehun sudah tidak sabar untuk membuka kadonya, "Tentu."

Masih dengan senyum terpajang di wajah manisnya, Sehun membuka kotak hadiah yang diberikan Jongin. Tapi senyumnya langsung memudar. Jongin yang memerhatikan Sehun sejak tadi pun bertanya, "Kenapa? Kau tidak menyukai hadiahnya ya?" Terselip nada cemas di dalamnya.

Sehun menatap Jongin dan memasang senyumnya kembali, "Suka sekali Jongin, ini epic." Sehun mengeluarkan sepatu dari dalam kotak tersebut.

Sehun baru saja membeli sepatu yang sama sebulan yang lalu. Jongin juga tahu Sehun sudah membeli sepatu ini. Entah kenapa Jongin bisa lupa. Sehun memang pernah bilang kalau dia menginginkan sepatu ini. Tapi itu sudah lama sekali. Sehun bahkan sudah tidak ingat kapan.

"Syukrlah. Ku pikir tadi kau tidak menyukainya." Jongin memandang jamnya. "Ah Sehunna aku minta maaf harus pergi sekarang. Aku harus menghadiri seminar hari ini. Tak apa kan kalau ku tinggal?" Jongin mengucapkannya dengan nada pernyataan bukan pertanyaan.

Sehun masih memasang senyum yang sama, "Tentu. Aku kan sudah besar." Jongin tertawa mendengarnya, mengecup pipi Sehun lagi dan pergi meninggalkan Sehun yang dikiranya baik-baik saja.


Dinner?

Sehun sedang berada di apartement Jongin sekarang. Jongin memang memberikan kunci cadangan untuk Sehun. Berjaga-jaga kalau Sehun ingin memakai apartementnya, karena kadang-kadang bagi Sehun pulang pagi bisa menjadi sebuah rutinitas. Tuntutan pekerjaan dan Jongin tidak pernah merasa terganggu walaupun Sehun datang ke apartementnya jam 4 pagi.

Hari ini Sehun sudah berjanji pada Jongin untuk menyiapkan makan malam untuk Jongin. Dia tidak pernah mengulang lagi insiden telur ayam yang terjadi saat mereka kuliah dulu. Dan Jongin sudah menyanggupi untuk pulang sebelum jam 8 hari ini.

Jam sudah menunjukkan setengah delapan malam tapi Jongin belum juga pulang. Sehun berpikir positif, jam delapan kurang satu menit pun terhitung sebelum jam 8 kan?

Sehun sudah menata masakannya di atas meja. Dia menunggu di ruang tamu sambil memainkan Candy Crush Sodanya. Sesekali melihat jam. Sehun bosan, jadi dia mengambil kertas bekas dan pulpen yang selalu Jongin taruh di bawah meja. Sehun menggambar dirinya dan Jongin sedang makan bersama. Tidak berhadapan tapi Jongin duduk di sebelah Sehun dengan Sehun yang menyuapinya. Entah kenapa Sehun suka sekali menyuapi Jongin. Sehun suka sekali ide Jongin sebagai bayi besar. Gambarnya terlihat lucu sampai Sehun tertawa geli karenanya. Tawanya memudar saat dia sadar ini terlalu sunyi. Biasanya Jongin akan tertawa juga bersamanya. Walaupun Jongin pendiam, tapi Jongin bukan tipe orang yang suka kesunyian seperti saat ini. Jongin biasanya menyalakan musik, bahkan Jongin tidur dengan TV yang menyala.

Sehun merasakan matanya memanas karena air mata. Sehun tahu Jongin sedang sangat sibuk akhir-akhir ini. Jongin sedang dipromosikan menjadi penanggung jawab pemasaran produk baru perusahaannya. Sehun sudah berjanji bahwa dia akan mendukung apa pun yang menjadi pilihan Jongin. Dan dia berjanji untuk tidak menangis. Tapi kalau melihat keadaannya sekarang, dia bahkan tidak sadar air matanya mengalir.


Jongin baru pulang jam 11 malam. Terlihat sangat lelah sehabis banyak rapat yang dihadirinya hari ini. Dia berniat untuk mandi air hangat dan bergegas tidur, karena besok dia harus berangkat ke kantor pusat perusahaannya di Jepang dengan pesawat jam 6 pagi. Jongin hanya menghela nafas mengingat jadwalnya.

Jongin melepas sepatunya. Dia melihat lampu ruang tamunya masih menyala. Apa Sehun belum tidur? Gumamnya. Dia bergegas untuk masuk dan menemukan Sehun yang tidur terduduk di kursi ruang tamunya. Jongin mengernyit heran, kenapa Sehun pakai baju serapaih ini? Kemudian matanya tertuju pada meja makannya. Oh crap! Jongin lupa bahwa hari ini dia ada janji makan malam dengan Sehun.

Jongin menghampiri Sehun dan duduk disampingnya. "Sehunna. Bangunlah, jangan tidur begini. Nanti badanmu sakit." Jongin mengguncang bahu Sehun pelan. Rasa bersalah semakin terasa saat terlihat bekas air mata di wajah Sehun.

Perlahan Sehun membuka matanya, melihat Jongin dia tersenyum kecil. "Jongin sudah pulang? Aku lelah sekali, aku tidur duluan ya." Sehun ingin beranjak tapi Jongin malah menarik Sehun ke pelukannya. Jongin tahu kalau Sehun marah dia akan menghindari Jongin sampai dia bisa menata perasaannya sendiri dan Jongin tidak suka itu. Jongin tidak suka kalau Sehun menyimpan untuk dirinya sendiri. Jongin harus super peka untuk menebak apa yang membuat Sehun sedih.

"Maafkan aku Sehunna. Aku lupa janjiku." Jongin berbisik sambil mengusap punggung Sehun. Dia semakin merasa bersalah melihat kertas yang digambari Sehun. Terlihat sekali itu mereka, gambaran Sehun terlalu bagus. "Kau pasti lelah sekali ya menyiapkan makan malam untuk kita?" Jongin terus mengusap punggung Sehun, Sehun suka sekali kalau Jongin melakukan ini.

Lama Sehun terdiam. "Tidak juga. Err ya sedikit sih. Kau tahu dapur bukan sesuatu yang bisa kukuasai dengan mudah." Sehun menatap Jongin yang sangat terlihat bersalah. "Tapi tidak apa-apa." Dia buru-buru menambahkan. "Aku harus terbiasa memasak kan? Kau nanti akan lebih sibuk lagi dan aku akan memastikan kalau kau makan dengan benar, aku akan memasakan makanan kesukaanmu dan.." Sehun ragu meneruskannya.

"Dan menyuapiku makan." Jongin melanjutkan.

"Tapi kau tidak menyukainya kan?" Sehun bertanya.

"Tidak juga. Aku hanya tidak menyukainya kalau kau menyuapiku di depan banyak orang. Aku benar-benar terlihat seperti bayi besar." Sehun terkekeh geli mendengarnya.

"Duh Jongin kau pasti lelah. Kita tidur saja sekarang dan bercanda lagi besok pagi. Besok kan hari sabtu." Sehun berkata semangat, mulai menyusun rencana dalam benaknya.

"Sebenarnya besok pagi aku harus ke Jepang Sehunna, ada yang harus kuurus." Jongin berkata sambil mengeratkan pelukannya pada Sehun. Takut Sehun menghindarinya lagi.

"Nah karena kau harus ke Jepang besok pagi kita harus beristirahat sekarang, ya kan? Aku tidak mau kau terlambat." Sehun menarik Jongin untuk mengikutinya ke kamar untuk tidur.

Sehun membaringkan badannya dan menyamankan dirinya dalam pelukan Jongin, tak perduli Jongin masih bau keringat karena belum mandi. Jongin mengecup pelipis Sehun, "Selamat malam Sehun. Maafkan aku." Jongin berbisik. Sementara Sehun lebih memilih menikmati moment ini ketimbang membalas perkataan Jongin.


Keesokan paginya saat Sehun terbangun Jongin sudah pergi. Sehun sebenarnya merasa saat Jongin terbangun, mandi dan bersiap pergi tapi dia terlalu malas untuk membuka mata. Malas untuk berdebat dengan pikirannya lagi, Sehun langsung mandi dan berpakaian setelahnya.

Memutuskan untuk sarapan dengan masakan yang sudah dimasaknya kemarin dia melihat notes yang Jongin tinggalkan di pintu lemari pendinginnya.

Sehun, my other half.

I'm sorry I haven't been prioritizing you lately but my love for you has never decreased even for a bit. May God showers you with his love the same way you've been pouring me with yours. Smile always! I love you that much! See you on Wednesday, love.

Kim Jong yours.

Sehun hanya tertawa geli membacanya. Ternyata Jongin belum kehilangan kepakaannya.


The weather makes me wrote this

Not that sweet, yes?

Thank you for reading this fiction :)