Hope you like this fiction :)


Jongin selalu punya cara untuk meminta maaf pada Sehun saat mereka bertengkar, walaupun kesalahan Sehun yang menyebabkan mereka bertengkar.


Brunch

Sinar matahari memasukki kamar Jongin yang saat ini sedang ditempati Sehun. Bukan matahari pagi yang hangat, ini hampir tengah hari ngomong-ngomong. Sehun perlahan membuka matanya yang lengket karena menangis semalam.

Kenapa Sehun menangis? Kemarin Sehun melihat Jongin mengobrol dengan Krystal, mantan kekasih Jongin dengan sangat mesra. Krystal berbicara sambil sesekali menyandarkan badannya pada Jongin. Jongin pun tak terlihat risih, itu lah yang membuat Sehun kesal dan menghampiri keduanya. Sehun langsung saja mengutarakan kekesalannya, Jongin menjelaskan tapi Sehun tidak mau dengar. Bertengkar-bertengkar lalu Sehun menangis, berpikir Jongin tidak mencintainya lagi dan pikiran-pikiran negatif lainnya. Bukannya Jongin tidak berusaha menjelaskan, tapi Sehun benar-benar tidak mau dengar. Sampai mereka tiba di apartment Jongin pun Sehun masih tidak mau mendengar apa kata Jongin. Jadi Jongin memutuskan untuk membiarkan saja Sehun.

Sehun mengacak-ngacak rambutnya sebal mengingat bagaimana dia tertidur tadi malam.

"Sudah bangun?" Dengan cepat Sehun membuka selimut yang sedari tadi menutup seluruh tubuhnya mendengar Jongin bertanya. Jongin bersandar pada pintu kamarnya.

"Kelihatannya bagaimana?" Sehun bergumam malas.

"Kau mau makan apa?" Jongin bertanya lagi, seolah tidak perduli kalau Sehun masih marah padanya.

"Aku sedang tidak mau sarapan apa pun." Sehun membalas lagi.

"Ini sudah jam makan siang Sehun, kau belum makan apa pun dari semalam kan?" Jongin mendekat dan duduk disisi kasur yang tidak ditiduri Sehun. Mengusap pelan rambut Sehun, merapihkannya.

"Ramyun saja." Sehun masih marah sih, tapi kan dia butuh makan.

"Katanya mau mulai makan-makanan sehat?" Jongin terdengar menggoda Sehun.

"Ini kan hari minggu, satu hari makan ramyun tidak akan membuat kesehatanku berkurang." Sehun mengelak.

Jongin tertawa mendengarnya, "Yasudah mandi dulu sana. Akan ku masakkan ramyunnya."

Sehun langsung menurut dan mandi. Keluar dari kamar mandi dia melihat Jongin masih dalam posisi yang sama sambil mengetik sesuatu di laptopnya.

"Ku kira tadi kau yang mau masak ramyunnya." Sehun yang sedang marah bukan Sehun yang paling Jongin sukai.

"Ku kira kau masih lama mandinya." Jongin beranjak dan menarik Sehun untuk mengikutinya ke meja makan. Sehun masih melengkungkan bibirnya ke bawah, sebal. Dia sudah membayangkan ramyun hangat untuk mengisi perut kosongnya. Perut yang kenyang dapat memperbaiki mood kan?

Tapi Sehun melihat meja makan mereka penuh dengan masakan lengkap seperti masakan ibunya dirumah.

"Jongin?" Sehun bertanya.

"Err surprise?" Jongin membalas.

"Kau mau menyogokku?" Sehun memicingkan matanya curiga.

Jongin menghela nafas mendengarnya, "Kau bahkan tidak mau mendengarkanku. Hanya cara ini yang terpikir olehku tadi pagi. Bagaimana?"

"Bagaimana apanya?" Sehun berjalan ke arah meja makan yang sudah penuh makanan.

Jongin mengikuti Sehun, "Mau mendengarkan penjelasanku tidak?"

"akumemaafkanmu." Kata Sehun cepat, menunduk sambil mengambil nasi.

Jongin terdiam, "Apa? Kau bilang apa tadi?"

"Diam dan makanlah." Sehun menyerahkan mangkuk yang sudah berisi nasi dan memberikannya pada Jongin.

"Tapi aku harus menjelaskannya dulu padamu." Jongin bersikeras.

"Dasar tidak peka." Sehun bergumam sambil memulai makanannya.

Jongin menggeleng lemah, "Kalau sudah menyiapkan semua ini masih dibilang tidak peka lalu harus berbuat apa lagi sampai bisa dianggap peka olehmu Sehunna?"


I'm not

Jongin menunggu Sehun di cafe tempat mereka biasa bertemu. Tidak biasanya Sehun terlambat begini. Sudah lebih dari satu jam Jongin menunggu Sehun. Di telepon pun Sehun tidak mengangkatnya.

Saat sedang berusaha menghubungi Sehun, akhirnya Sehun datang. Tidak terlihat terburu-buru, tidak terlihat bersalah sama sekali.

"Tidak biasanya kau datang duluan Jongin." Sehun berkata sambil duduk disebelah Jongin.

"Kau terlambat satu jam Sehunna." Jongin berbicara dari sela-sela giginya menahan kesal.

"Kau tadi bilang jam 11 kan? Sekarang baru jam 11.03, aku hanya terlambat tiga menit karena keasyikkan mengobrol tentang komik terbaru Captain America." Sehun mengelak.

"Aku tadi bilang jam 10. Dan dengan siapa mengobrol tentang komik baru? Chanyeol?" Jongin sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menaikkan nadanya.

"Kau bilang tadi jam 11 kok. Aku dengar sendiri."

"Jam 10 Sehun. Kau pasti salah dengar."

"Tidak mungkin. Mana mungkin aku salah."

"Pasti kau salah dengar."

"Tidak mungkin. Kenapa jadi kekanakan begini sih Jongin? Demi tuhan, aku cuma terlambat tiga menit." Sehun kesal.

"Kau yang kekanakkan, aku tidak." Jongin mengelak.

"Oh terserahlah aku mau langsung makan saja. Nanti tambah dingin kalau ku biarkan." Sehun mulai memakan makanan yang sudah dipesankan Jongin dari tadi.

"Salah sendiri terlambat." Jongin bergumam.

Mereka makan diselimuti keheningan, bukan hening menyenangkan. Diam-diam Sehun sadar kalau dia yang salah, tadi Chanyeol memang mengajaknya banyak ngobrol makanya dia terlambat datang. Tapi egonya terlalu besar untuk meminta maaf pada Jongin.

Jongin sudah menghabiskan makanannya, "Baiklah, aku minta maaf. Cepat habiskan makananmu. Setelah itu kita beli sepatu yang kau inginkan kemarin."

Sehun memasang senyuman terbaiknya, "Baiklah. Lalu habis itu kita ke taman ya?" Sehun meminta.

"Untuk apa? Biasanya kau paling malas keluar." Jongin berkata heran.

"akumembelianakanjing." Kata Sehun cepat.

Jongin mengernyit bingung. "Kau apa? Bicara yang benar Sehun."

Sehun menelan makanannya pelan, "Aku membeli anak anjing." Katanya serupa bisikkan.

Agak lama Jongin mencernanya. Dia tertawa keras setelahnya, "Kenapa tidak bilang kalau terlambat karena beli anak anjing hm? Aku kan bisa membantumu memilih." Kata Jongin setelah tawanya reda.

Sehun hanya mengangkat bahu, "Dasar tidak peka." Gumamnya lagi.

"Baiklah, aku akan membelikan makanan anjing dan juga mainannya. Sudah peka kan kalau begini?" Jongin bertanya lagi.

Sehun tersenyum dan meminta maaf pada Jongin berkali-kali dalam hati sambil berterima kasih pada kakaknya yang sedang menitipkan anak anjingnya pada ibunya. Bukan salah Sehun kan kalau dia sedikit melakukan white lies? Karena cuma anak anjing dan ayam goreng yang bisa dengan cepat menaikkan mood Jongin, bahkan Sehun kalah dari kedua hal tersebut.


Well, just so you know, every chapter has a different story and different problem with a red line if you look close enough

And yeah a this chapter has a bitter story

Thank you for reading this fiction :)