Teriakan nyaring dari jam weker berhasil membuat sang sleeping beauty terbangun. Tangannya meraba-raba mencari sumber kebisingan. Matanya pun masih sedikit terpejam. Gadis itu duduk dan menoleh ke arah smartphone putihnya. Sedikit banyak berharap ada notifikasi yang berasal dari kekasihnya. Namun kekecewaan yang didapatnya.
Lagi, kekasihnya bagai melupakan kehadirannya. Megurine Luki kembali mengabaikan sosok Shion Kaiko.
Namanya Shion Kaiko. Umurnya 15 tahun-mendekati 16 dalam beberapa bulan. Kelas 1-A di Vocaloid High School. Tingginya sekitar 166cm, dengan berat badan yang tidak diketahui. Sikapnya ramah terhadap siapa saja-persis seperti kedua orang tuanya.
Dia juga salah satu kouhai yang paling diincar di sekolah-setelah Megpoid Gumi dan Kamui Gakuko. Ada banyak siswa yang melirik dirinya, baik seangkatan maupun kakak kelas, meski banyak diantara mereka yang mundur perlahan ketika melihat betapa menyeramkannya amukan Luki saat ada siswa yang menggoda kekasihnya.
Kaiko anak bungsu dari pasangan Shion Akaito dan Shion (sebelumnya Aoki) Lapis. Kedua orang tuanya bekerja di perusahaan mereka yang terletak di luar kota dan hanya pulang beberapa kali dalam setahun. Bukannya sengaja meninggalkan Kaito dan Kaiko, tetapi merekalah yang tidak ingin ikut pindah bersama kedua orang tua mereka. Meskipun jarang bertemu, komunikasi mereka tidak pernah terputus.
Dia tinggal bersama kakak laki-laki satu-satunya, Shion Kaito. Kakaknya ini juga bersekolah di tempat yang sama dengannya, tetapi pada tingkat berbeda. Kakaknya berada di kelas 3-A. Tingginya sekitar 189cm, berat badannya pun ideal. Meski mereka berdua sama-sama pendiam, tetapi berbeda dengan Kaiko sikap Kaito terbilang cukup dingin. Pemuda itu hanya bersikap ramah kepada orang-orang tertentu yang sudah dikenalinya dengan baik.
Dia juga mantan ketua Organisasi Kedisiplinan Sekolah yang terkenal sangat tegas. Dia sering melakukan razia ke tiap-tiap kelas untuk membasmi para pelanggar tata tertib sekolah. Oleh karenanya, dalam satu tahun jabatannya VHS menjadi sekolah paling disiplin di saja, sang kakak juga menjadi salah satu penyebab kepopuleran Kaiko di sekolahnya.
Setelah mencuci muka, Kaiko berlari menuruni tangga menuju ruang perlengkapan kebersihan, menyambar alat penghisap debu, dan mulai membersihkan seluruh sudut rumahnya. Setelah dirasa cukup, dia beranjak menuju ke dapur. Sudah menjadi rutinitasnya untuk menyiapkan sarapan setiap hari.
Selesai sudah tugasnya pagi ini. Rumah sudah bersih dan sarapan telah tertata di atas meja makan. Ia menaiki tangga menuju ke kamar sang kakak, lalu mengetuk pintu dengan kuat, "Kaito-nii bangun! Sudah pagi."
Tak terdengar sahutan dari dalam, Kaiko menjadi sedikit was-was. Dia mencoba membuka pintu, yang ternyata tidak dikunci sama sekali. Ia memasuki kamar dengan hati-hati. Kedua mata Kaiko membulat ketika melihat kondisi kamar kakaknya, pertama kali dalam 16 tahun hidupnya ia melihat kamar kakaknya sehancur ini. Di sana terdapat banyak guntingan buku, koran, dan majalah. Ruangan itu lebih cocok disebut kapal pecah daripada kamar.
Di atas kasur, terdapat sosok kakaknya yang tertidur pulas. Wajahnya terlihat kelelahan. Penasaran dengan apa yang telah dilakukan sang kakak, ia pun mengambil salah satu guntingan itu. Ternyata kakaknya sedang mengumpulkan informasi mengenai berbagai universitas negeri. Dalam hati, Kaiko mengerti kakaknya sibuk memikirkan tujuan selanjutnya setelah tamat SMA. Dengan inisiatifnya sendiri, gadis itu membereskan kamar itu.
Setelah semuanya beres, Kaiko meninggalkan ruangan itu tanpa berniat sedikit pun untuk membangunkannya. Lagipula ini hari minggu, jadi biarlah Nii-chan istirahat beberapa menit lagi, pikirnya dalam hati.
Gadis itu berlalu, memasuki kamarnya yang tepat berada di depan kamar kakaknya. Dia terduduk membelakangi pintu, dengan setetes air mata yang keluar dari pelupuk teringat akan kekasihnya-Megurine Luki-sudah yang dua hari ini tak dapat dihubungi. Hal ini sungguh membuatnya sedih. Pemuda itu menghilang bagai ditelan bumi. Gadis itu duduk di kasur king size miliknya, dan meraih smartphonenya di atas nakas. Dia memandangi wallpaper foto dirinya dengan Luki. Kaiko mencoba menghubungi kekasihnya, berharap kali dapat tersambung dengannya.
'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah-'
Gadis itu mengakhiri panggilan untuk yang kesekian kalinya. Sebenarnya hari minggu ini dia akan berkencan dengan Luki. Tidak mungkin Luki melupakan janjinya sendiri. Namun pemuda itu tak mengirimkan kabar dalam bentuk apapun. Dia mngehela napas, mungkin dia sibuk, pikirnya positif.
Kaiko merenggangkan tubuhnya sesaat, lalu menyambar handuk yang tergantung di dinding dan bergegas menuju ke kamar mandi di kamarnya. Tak lupa membawa serta baju gantinya.
Ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan dres abu-abu selutut. Handuknya bertengger di surai biru kesayangannya. Tanggannya sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, sambil matanya melirik ke arah jam weker di atas nakas. Sudah jam 6 pagi, dan dia baru selesai mandi. Dia lalu menjemur handuk itu di balkon kamarnya.
Salah satu primadona sekolahitu berjalan menuju ruang makanuntuk sarapan. Di sana terdapat sosok kakaknya dengan keadaan yang masih berantakan, khas orang baru bangun tidur. Wajahnya basah karena baru selesai cuci muka.
"Ohayou, Nii-chan," sapa Kaiko, kemudian duduk di salah satu kursi. Kaito menghampiri adiknya, "Hn. Ohayou Kaiko-chan." Kemudian duduk tepat di depan adiknya.
Kaiko menyodorkan salah satu cangkir berisi teh kepada sang kakak. Di atas meja terdapat dua piring nasi goreng buatannya. Di sana juga terdapat makanan lain seperti roti, selai, dan berbagai jenis buah-buahan.
Mereka menangkupkan tangan mereka di depan dada, dengan kepala sedikit menunduk. "Itadakimasu."
"Hmm." Gumam Kaito. Wajahnya tampak berbinar, "Seperti biasa masakanmu enak Kaiko-chan," puji Kaito, membuat adiknya tersenyum bangga karenanya. Kemudian mereka menghabiskan sarapan tanpa obrolan.
"Gochisousama." Setelah sarapan, Kaiko langsung membersihkan peralatan makan yang tadi mereka kerjaannya telah selesai, gadis itu kembali ke kamarnya.
Dia sedikit merias wajahnya dengan make up tipis yang terkesan natural. Lalu ia mengambil syal biru panjang yang terlipat rapi dalam lemari, kemudian melilitkannya di leher, dengan bagian belakang yang membentuk pita yang lumayan besar. Ia berdiri di depan kaca, burputar beberapa kali untuk mengoreksi penampilannya jikalau ada yang kurang.
Dia menyambar tas selempang abu-abu kecil yang sudah berisi barang-barang yang kiranya dibutuhkan. Hari ini dia akan pergi bersama Luki ke taman bermain. Ini pertama kalinya ia pergi ke sana.
Kaito yang sedang menonton tv melihat adiknya berjalan melewati ruang keluarga dengan pakaian yang terbilang rapi. Dengan tergesa-gesa, dia menghampiri adiknya yang sedang memakai flat shoes di pintu depan. "Kau mau kemana Kaiko-chan?" Tanya Kaito heran. Tak biasanya adiknya ini keluar dengan penampilan manis seperti ini.
"Aku mau pergi ke taman bermain," balas Kaiko kalem. "Penampilanku bagaimana?" Tanya Kaiko kemudian.
"Hn, kau terlihat manis."
"Benarkah? syukurlah-"
"Sama siapa?" potong Kaito tiba-tiba. "Siapa apa?" balas gadis itu bingung.
"Perginya sama siapa?" Sorot matanya menajam menuntut jawaban dari Kaiko.
"Pergi ke taman bermainnya sendiri kok." Kaito diam masih menunggu kelanjutan dari perkataan adiknya. Sedangkan gadis itu menampakkan senyum senang. "Tapi aku sudah janjian sama Luki-kun di café dekat taman bermain. Kami akan ke sana bersama," jelas Kaiko lagi. Kini aura menyeramkan menyelimuti Kaito.
"APA?!"
Sepertinya Kaiko lupa kalau kakaknya mengidap sister complex akut, dan dia juga lupa kalau kakaknya itu tidak menyukai Luki sama sekali.
"Kau tidak boleh pergi. Tidak dengan pria pink itu maupun laki-laki lain," putus Kaito telak, membuat Kaiko cemberut mendengarnya. "Onegai? Kaiko sudah besar, bisa jaga diri kok," pinta Kaiko disertai dengan puppyeyes yang biasanya ampuh untuk merayu kakaknya.
"Kalau begitu aku ikut." Kaiko menggeleng pelan mendengar jawaban sang kakak. "Tidak, Nii-chan. Kau harus ikut wawancara di Universitas Tokyo, bukan? Tenang saja, aku akan baik-baik saja," ujar Kaiko sambil tersenyum. Gadis itu berusaha memberikan pengertian kepada sang kakak.
"Kau tahu darimana?" Tanya Kaito heran. Gadis itu menaik-naikkan alisnya usil, "Memangnya siapa yang membereskan kamarmu, eh?"
Kaito menghembuskan napasnya, kali ini biarlah dia mengalah kepada sang adik. "Baiklah. Jika berani macam-macam, katakana padaku. Akan kuhajar dia," ujar Kaito sambil membunyikan jari jemarinya, seolah ingin memukul orang. Hal ini membuat Kaiko sweatdrop.
"Hai'. Onii-chan, ittekimasu ."
"Itterasshai."
Setelah menutup pintu, dia bergegas menuju ke tempat janjiian mereka yaitu di café dekat taman bermain. Sesampainya di sana, matanya tidak menangkap sosok Luki. Gadis itu memang datang 15 menit lebih awal dari waktu janjian mereka. Jadi ia berdiri di sana untuk menunggu Luki.
Tak terasa sudah satu jam dia menunggu. Tak ada tanda-tanda Luki akan muncul. Dia mencoba menghubungi Luki.
'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat-'
Lagi-lagi, suara mesin operator yang menjawab. Namun kali ini Kaiko tak patah semangat, dia kembali mencoba menghubungi kekasihnya. Baru saja dia akan bersorak karena telah tersambung, tapi suara dari seberang sana membuat semuanya runtuh.
"Halo?"
Suara lembut seorang perempuan menyapa indra pendengarannya. Dia terpaku, tubuhnya bergetar, dan air matanya bersiap menerobos keluar. "H-halo. Lukinya ada?" Nada suaranya bergetar tanpa bisa ditahan.
"Ada. Tapi lagi mandi. Ada yang bisa kubantu?"
Tangannya terkepal kuat, kentara sekali menahan emosi yang bergejolak. "Oh, tidak usah. Tapi kalau Luki selesai mandinya suruh dia telepon aku ya."
"Oke."
Pip! Sambungan terputus dengan air mata yang bercucuran di pipi Kaiko. Dia beranjak pergi meninggalkan café itu, langkah kakinya menuntunnya menuju ke taman yang tak jauh dari sekolah. Smartphone-nya bergetar menandakan adanya panggilan masuk. Gadis itu memutuskan untuk duduk di bawah pohon kenari, tempat dia sering menghabiskan waktu bersama dengan sang kakak.
Setelah berusaha menghentikan suara paraunya, gadis itu mengangkat panggilan dari Luki-yang sudah ia duga sebelumnya. "Halo." Dia bersyukur karena suaranya terdengar datar tanpa emosi
"Kaiko—"
"Siapa gadis itu Luki-kun?" dia bertanya dengan nada dingin yang mulai meninggi.
"Oke, dengarkan aku dulu—"
"Dengar apanya?! Sudah jelas kan kalau kau berselingkuh?" suaranya kini terdengar sangat kecewa.
"Nggak! Aku cuma membantunya yang hampir kenapa-napa karena preman kemarin. Tapi dia kabur dari rumah jadi kutawarinya untuk tinggal di apartemenku sampai masalahnya selesai."
"Kau menawari seorang gadis untuk tinggal sekamar denganmu?!" Habis sudah kesabaran Kaiko. Suara dengusan dari Luki dari telepon itu membuat hatinya ngilu.
"Memangnya kenapa? Salah ya aku menolong orang?"
"YA! Kau tidak ingat kalau aku ini masih pacarmu, hah?! Siapa orang itu? Apa dia sebaya dengan kita?!" Meski suaranya kentara akan kemarahan, namun air matanya telah menganak sungai di kedua pipinya.
"Kamui Gakuko."
"Hah?! Kau gila ya?! Gakuko itu kan sudah bertunangan dengan Rinto-senpai!"
"Dia tidak mau bertunangan dengannya. Sudah ya aku sibuk." Luki mengakhiri panggilan mereka secara sepihak. Tanpa memikirkan bagaimana perasaan Kaiko, pemuda itu malah menampung seorang gadis di apartemennya.
Selesai. Kaiko berpikir kalau semuanya telah selesai. Luki mengabaikannya. Luki melupakan janjinya. Luki menghianatinya. Luki telah memilih gadis lain.
Dia memeluk lututnya, menguburkan wajah terlukanya, menyembunyikan air mata yang tidak seharusnya keluar. Dia mengisak pelan, tanpa tahu kalau seseorang sedang mendekatinya.
"Hei. Kenapa menangis, Ojou-san?"
Tubuh Kaiko menegang saat suara baritone itu menyapa telinganya. Tentu saja, dia mengenali suara itu. Dia mendongakkan kepalanya sesaat setelah matanya membola.
Batinnya berkecamuk. 'Dia kan...'
Udara sejuk pagi hari memeluk erat sekujur tubuhnya. Pemuda itu tampak berjalan dengan matanya yang fokus ke layar smartphone miliknya. Pemuda itu tersenyum ketika melihat betapa bahagianya sang sahabat di foto itu. Ya! Foto Kagami Lenka dan Kagamine Rinto saling memeluk yang sedang tertidur pulas di gudang sekolah-tentu saja itu akibat dari ulahnya.
Setelah mematikan smartphone-nya, pemuda dengan surai tealitu kemudian berjalan meninggalkan gudang olahraga tua di belakangnya. Suasana hatinya sama sekali tidak bisa dikatakan baik. Sesekali dia mengeluarkan dengusan dengan kasar dari mulutnya.
Pemuda itu berjalan melewati gerbang sekolahnya. Dia berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Dia hanya membiarkan kemana langkah kakiyang akan menuntunnya. Dia menendang beberapa batu krikil untuk mengurangi rasa bosan.
Namanya Hatsune Mikuo, kelas 2-A di Vocaloid High School(VHS). Usianya 17 tahun sejak beberapa bulan yang lalu. Terakhir kali mengukur, tingginya sekita r 184cm dengan berat badan yang seimbang, tapi mungkin sekarang sudah berbeda lagi. Dia memiliki tubuh yang proposional, hasil dari rutinitasnya berolahraga setiap pagi.
.
.
Title :Lovers
Chapter 3 :Kaiko x Mikuo
Disclaimer :Vocaloid © Crypton Future Media
~Lovers~ © Crayon Melody
Rated : T
Genre :Romance ; Drama
Warning : Typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll
A/N :Fic ini kami bertiga (Milky Holmes, anaracchi, dan Meirin Hinamori) persembahkan spesial untuk semua anak "Role Play Athena Academy" dan tentu saja untuk semua pembaca di fandom vocaloid. Semoga kalian menyukai fic hasil collab kami bertiga. Dan jangan lupa tinggalkan jejak di kotak review ya ;)
.
.
Please Enjoy Reading
.
.
~Lovers~
.
.
Normal POV
.
.
Dia salah satu anggota tim basket inti, dan dia juga anggota tim sepak bola bagian garis depan. Karena kedua hal itu, Mikuo menjadi populer di sekolahnya.
Dia memiliki sahabat sejak kecil bernama Kagami Lenka. Seorang gadis cengeng yang selalu mendambakan sosok hero-Kagamine Rinto-yang telah menolongnya saat masih TK akibat ulah jahilnya. Kini Lenka telah bersama dengan Rinto, dan Mikuo akan merasa tak enak hati jika terus berdekatan dengan Lenka. Ada rasa bahagia sekaligus sesak yang melanda hatinya.
"Hah. Aku bosan. Kalau kayak gini sih biasanya Lenka lagi bawel." Lagi-lagi kakinya menendang beberapa krikil yang berserakan.
Kesepian tanpa sahabat cengengmu, eh?
Langkah kakinya terhenti saat suara isak tangis perempuan tertangkap oleh indra pendengarnya. Irisnya bergerak ke kiri ke kanan dengan gelisah. Hari masih pagi, sudah terang, cerah malah. Masa iya para hantu udah pada keluar?
Mendadak bulu kuduknya meremang.
Dengan bermodalkan nekat, Mikuomulai mendekati arah sumber suara. Sebenarnya hati Mikuo lebih ingin mengambil langkah seribu dari tempat itu secepatnya, akan tetapi akal rasionalnya menolak mentah-mentah. Seolah dia merasa bahwa suara 'hiks-hiks' itu sedang memanggilnya. Secara logika, hantu itu tidak ada¾meskipun ada, tapi hantunya gak bakal bisa gangguin orang-orang yang beriman kayak Mikuo, ¢kan?
Langkah kakinya telah menuntunnya sampai ke suatu taman tak jauh dari sekolahnya. Mikuo terdiam saat melihat seorang gadis dengan memakai syal biru menangis memeluk kedua lututnya di bawah pohon kenari-tempat yang jarang diketahui kebanyakan orang, tapi merupakan tempat yang strategis untuk tidur-tiduran. Dalam hati, Mikuo terkesan karena gadis itu memakai syal, padahal sekarang sudah memasuki musim panas. Terlalu ekstrim untuk mengenakan syal, ckckck.
Mikuo berdehem sejenak. "Hei, kenapa menangis Ojou-san?"
Krik krik. Kacang pun berhamburan.
"Apa kau baik-baik saja?"
Hening. Tak ada respon. Meski ia sedikit kesal, tapi ia tetap mengeluarkan saputangan berwarna tosca dan menyodorkannya pada gadis itu, "Nah, pakailah."
Gadis bersurai biru sebahuitu mengangkat kepalanya untuk menatap Mikuo. Dia menatap Mikuo dengan tatapan heran yang beruraian air mata.
Dan sekarang Mikuo sadar, bahwa dia merasa sesuatu entah apa itu berdenyut sakit ketika melihat gadis ini menangis. Dia pun berjongkok untuk menyetarakan tinggi.
Saat gadis akan ingin mengambil saputangannya, Mikuo malah mengusapkannya pada kedua pipi basah gadis itu. Gadis itu terdiam dengan mata membola karena terkejut, dengan alasan yang tidak diketahuinya. Untuk beberapa saat, pandangan mereka saling mengunci satu sama lain.
Gadis itu mencoba tersenyum, meskipun pada akhirnya gagal. "Anoo, a-arigatou, Hatsune-san." Bahkan suaranya pun masih bergetar.
Mendengar suara lembut gadis itu, jantung Mikuo serasa disengat ribuan capung dan bikin kokoro no doki-doki. Halyang baru pertama kali dirasakannya ini benar-benar membuatnya terkejut, "Tunggu, kau tahu namaku?" Dan entah kenapa malah kata-kata itulah yang keluar. Gadis itu akhirnya benar-benar tersenyum akibat ulahnya. "Tentu saja, kau 'kan sangat terkenal di sekolah, Hatsune- san."
Mikuo kembali tertegun. Gadis itu terlihat sangat manis saat tersenyum. Kenapa detak jantungnya terasa lebih cepat dua kali lipat dari biasanya?
"Oh, benarkah itu? Apa aku seterkenal itu?" Tangannya kembali bergerak untuk menghapus sisa air mata yang menggenang di kedua pelupuk mata gadis itu.
"Yeah... Begitulah-"
"Lalu apa yang membuatmu menangis di tempat terbuka seperti ini?"Akibat dari pertanyaannya, sorot mata gadis itu kembali meredup. Mikuo menyesal telah bertanya. "Maafkan aku, kau tak perlu menjawabnya jika tidak ingin."
"Aku ingin menjawabnya." Mikuo menarik tangannya, berusaha untuk fokus mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh gadis itu. "Aku..."
"Ya?"
"Aku..."
"Ya? Ya?"
"Aku... Uhm, sebenarnya-"
"Ya? Ya? Ya?"
"Etto, aku tidak bisa menjawab jika kamu terus memotong perkataanku, Hatsune-san."
Mikuo nyengir. Gadis itu kembali tersenyum.
"Kalau aku bilang alasan aku menangis karena baru saja bertengkar dengan kekasihku, apa kau akan menertawakanku, Hatsune-san?" Gadis itu tersenyum miris.
"..."
Untuk beberapa saat, Mikuo terdiam. Dia menggenggam erat dadanya. Sesuatu di dalamnya terluka dan itu sangat kalinya bagi Mikuo merasakan gejolak menyakitkan seperti ini. Gadis ini, memiliki kekasih? Batinnya sarkastik. Melihat reaksi Mikuo, gadis itu terkekeh pelan.
"Kau tidak perlu menahan diri jika ingin tertawa. Aku sadar kalau aku memang gadis yang cengeng."
"Aku tidak bermaksud begitu, sungguh. Kau tahu, aku hanya... uhm, terkejut, mungkin?" Balasnya.
"Sungguh? Apa yang membuat Hatsune-san terkejut?" Tanya gadis itu bingung.
"Err-entahlah. Aku juga tidak begitu tahu," jawab Mikuo sekenanya. Dia bingung ingin menjawab apa.
"Sudahlah, lupakan hal itu. Kenapa kamu bisa bertengkar dengan uhm, pacarmu?" Tanya Mikuo lagi. Mulutnya terasa gatal saat ingin menanyakan hal itu. Gadis itu mendongak, menatap awan di atas sana yang bergerak seiring dengan hembusan angin. Berarak perlahan sesuai arah angin yang menerpanya. Beberapa anak rambut gadis itu terangkat karena terpaan angina sepoi-sepoi. Mikuo terpana melihat sosok gadis di depannya ini.
"Kau tau? Aku berpikir kalau pacarku selingkuh," lirihnya pelan, lengkung senyum miris semakin menjadi di wajahnya. Kali ini, Mikuo merasa bahwa dirinya sangat terkejut. Dan hei! Kenapa sekarang dia merasa, marah?
"Bagaimana bisa kamu berpikiran buruk seperti itu? Harusnya dalam sebuah hubungan harus dibentengi dengan kepercayaan dari dua belah pihak." Setelah mengucapkan hal itu, Mikuo ingin menampar mulutnya sekuat tenaga. Pemuda itumenggerutu dalam hati, kenapa dia bisa berkata layaknya seorang pecinta handal padahal pengalaman cintanya nol?N-O-L-B-E-S-A-R! Silahkan ditebali, dimiringkan, dan digaris bawahi.
Lagipula, kalimat itu benar-benar bertolak belakang dengan isi hatinya. Karena sesungguhnya, pemuda itu malah berharap kalau gadis dihadapannya putus dengan memang, tapi mau bagaimana lagi? Itulah kejujuran hatinya yang tidak bisa diungkapkan.
"Kurasa kau benar. Tapi aku selalu mencoba untuk mempercayainya. Namun hari ini, aku tidak bisa menahannya. Emosi menguasai kepalaku."
"Kalau boleh tau, apa yang telah terjadi?" Tanya Mikuo hati-hati, takut menyakiti hati gadis di depannya. Gadis itu kembali menatap langit, "Sebenarnya, ini bukanlah urusanmu."
Pemuda itu cukup tertohok, "Kau benar. Maaf-"
"Tapi aku benar-benar ingin memberitahumu." Dia menoleh menghadap ke Mikuo. "Sejak dua hari yang lalu, dia tidak memberiku kabar, dia bahkan tidak dapat dihubungi. Berkali-kali aku menelponnya, dan berkali-kali jugamesin operator yang menjawabnya."
"Kupikir mungkin ponselnya mati atau kehabisan daya-"
"Ini bukan pertama kalinya dia mengacuhkanku. Dan lagi aku belum selesai bercerita, Hatsune-san." Gadis itu menggembungkan pipinya kesal. Mikuo terkekeh pelan, kemudian mencubit gemas pipi gadis itu. "Astaga, ekspresimu sangat menggemmaskan. Aku jadi ingin selalu mencubit pipimu," aku Mikuo. Semburat merah tampak menghiasi pipi gadis itu.
"Jangan mencubitinya! Nanti pipiku bisa melar." Gadis itu berucap dengan wajah yang polos. Mikuo jadi semakin gemas dengan tingkahnya. "Jadi, boleh aku melanjutkan ceritaku?"
"Silahkan, Ojou-sama."
"Aku tidak tahu kalau Hatsune Mikuo-san yang sangat dipuja oleh teman-temanku ternyata sangat pandai merayu," ledek gadis itu. Mikuo pura-pura cemberut, namun setelahnya mereka tertawa bersama-sama. "Jadi, apa ceritamu to be continue?"
"Hari ini, kami berencana akan berkencan. Jadi aku kembali mencoba menghubunginya saat telah tiba di tempat janjian kami,dan akhirnya panggilannya tersambung. Aku menunggu dengan gusar. Kau tau apa yang terjadi?" Tanya gadis itu sok misterius, dia menaik-naikkan kedua alisnya. Tingkahnya itu membuat Mikuo tergelak.
"Jika kau sudah bercerita, aku pasti tahu. Tapi kau bahkan belum mengatakannya, bagaimana mungkin aku bisa tau?"
"Yang mengangkat teleponku itu bukanlah Luki-kun, tapi seorang gadis. Aku tidak tau kenapa aku sangat marah kepadanya. Ketika aku bertanya apa yang terjadi, itulah saat-saat dimana aku sudah tidak bisa mengendalikan emosiku, karena saat itu dia dengan entengnya menjawab kalau dia bertemu dengan gadis itu di jalan dan menawari gadis itu menginap di apartementnya."
"..."
"Padahal Luki-kun sudah mencoba menjelaskan apa yang terjadi, tapi aku malah terbawa emosi. Dan sekarang dia pasti marah kepadaku. Dia mungkin sangat membenciku. Aku menyesal, aku sangat menyesal, hiks." Bulir-bulir air mata kembali mengalir di pipi gadis itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" Gadis itu menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang mungil. Dia menangis pilu, dan hal itu membuat Mikuo ngilu melihatnya.
Entah setan dari mana, entah kapan badai menerjang di musim panas, Mikuo menarik paksa gadis itu ke arahnya. Mengurung gadis itu dalam rengkuhannya, mencoba meyakinkan gadis itu kalau dia akan melindunginya. "Maafkan aku, kau boleh menamparku setelah ini-" Mikuo mengeratkan kurungannya.
"Jadi menangislah, aku akan menemanimu," lirih pemuda berusaha untuk menghibur gadis itu, dan juga dirinya sendiri. Karena kini Mikuo sadar, hatinya telah terpaut oleh gadis ini.
Kemudian air mata gadis itu menganak sungai, dengan wajah terluka yang disembunyikan di dada Mikuo. Dia menangis tersedu-sedu dalam pelukan erat Mikuo.
.
.
Angin sepoi-sepoi kembali menerpa wajahnya untuk yang kesekian kalinya. Jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul 01.00 A.M waktu setempat. Tak terasa sudah tiga jam Mikuo berbaring di sana, dengan seorang gadis yang terlelap dalam matanya terlihat sedikit bengkak, tetapi Mikuo menyukai wajah damai gadis itu, rasanya melihat wajah ayu itu juga memberikan efek yang sama dengannya.
Jika saja dia tidak memiliki kekasih... oh! Apa yang baru saja kupikirkan, rutuknya dalam hati. Betapa naifnya pemikiran itu.
Kembali dipandanginya wajah gadis itu. Beberapa anak rambutnya tertiup menutupi sebagian wajah gadis itu. Tangan Mikuo tergerak untuk menyingkirkannya, lalu tanpa sengaja menyentuh pipi gadis itu. Tapi hal itu membuat sang gadis mengeliat sebentar, lalu membuka matanya.
"Ohayou, Ojou-sama. Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Mikuo dengan seringai tengil di wajahnya. Gadis itu terperanjat, kemudian dia langsung terduduk. "G-Gomennasai, Hatsune-san. Setelah kau mendengarkanku, aku malah tertidur," gadis itu menunduk, mencoba menyembunyikan semburat merah muda di pipinya.
"Tak masalah. Lagipula menikmatinya juga," balas Mikuo kalem. Gadis itu tampak salah tingkah, "H-hah? Memangnya b-berapa lama aku tertidur?"
"Entahlah, tapi sekarang sudah pukul sebelas siang. Kau bisa menghitungnya sendiri kalau mau," jawabnya cuek. Gadis itu melongo tak percaya, "Eh? Selama itukah?"
Kemudian dia menarik napas dalam. "Arigatou Hatsune-sankarena sudah membuatku merasa lebih baik." Senyum tulus terpetak jelas di wajah cantiknya.
"Sekarang, ayo akan ku traktir kau eskrim," serunya bersemangat. Gadis itu akan bangkit dari duduknya sampai Mikuo menahan tangannya. "Sebelumnya, bisa kau beritahu aku-"
Mikuo menarik napasnya sejenak, kemudian kembali melanjutkan, "-siapa namamu?"
Gadis itu tersentak. Dalam hati dia meringis, Mikuo benar-benar tidak mengetahuinya. "Apa aku belum memperkenalkan diri?" Pemuda itu menggeleng sebagai jawaban, membuat gadis itu menepuk keningnya dengan kuat. "Betapa bodohnya aku! Maafkan ketidaksopananku, Hatsune-san." Gadis itu menjulurkan tangannya."Namaku Shion Kaiko. Teman-temanku sering memanggilku Kaiko. Salam kenal."
Rasanya, Mikuo pernah mendengar nama itu, tapi dia lupa. Meskipun sedikit heran, Mikuo tetap menyambut uluran tangannya. "Salam kenal, Kaiko," ujarnya seraya tersenyum tipis.
"Ne, katakan padaku bagaimana caraku agar bisa membalas semua kebaikanmu hari ini, Hatsune-san?" Kaiko bertanya dengan suara riangnya. Mikuo tampak berpikir sejenak, kemudian pemuda itu menjentikkan jarinya dengan keras. "Aku punya permintaan."
"Tapi sebelumnya, cukup panggil aku dengan nama kecilku saja." Kaiko terkikik geli, "Aye aye, Mikuo," balas Kaiko dengan posisi hormat. Di detik berikutnya, keduanya tergelak bersama.
Tak beberapa lama, Kaiko bangkit dari posisi duduknya. Dia menepuk rok dan beberapa bagian bajunya yang tertempel dedaunan. "Maafkan aku Mikuo, sepertinya aku harus pulang sekarang." Lalu Kaiko berojigi sesaat. "Arigatou untuk semua yang telah kau lakukan untukku hari ini. Saat kita bertemu lagi, aku akan melunasi hutangku padamu. Juga janjiku untuk mentraktimu eskrim."
Saat akan berbalik, tangannya ditahan oleh cengkraman Mikuo. Kaiko menoleh ke arahnya ketika dia juga ikut berdiri. "Aku akan mengantarmu. Dan tidak perlu menolak karena aku tidak akan mendengarkanmu." Mikuo menjulurkan lidahnya.
Kaiko tersenyum hangat, saat bersama Luki pun dia tidak merasa senyaman ini. Tapi pemuda ini, entah kenapa pemuda ini mampu membuatnya sangat nyaman. Perasaan nyaman yang hanya dirasakannya bersama keluarganya. Kaiko menatap Mikuo yang berjalan di sampingnya, perasaannya bergejolak tak karuan.
Mereka berjalan beriringan tanpa suara. Keheningan melanda atmosfer keduanya. Tanpa sadar kini mereka sudah memasuki daerah perumahan Utauloid. Mikuo tertegun, ini kan daerah rumahnya. Dia tidak pernah tau kalau gadis ini tinggal di sekitar rumahnya.
"Etto... Jadi kamu tinggal di sekitar sini?" Mikuo akhirnya membuka suara. Kaiko mengangguk. "Ya, tapi aku baru pindah ke sini tiga tahun yang lalu. Ada apa?"
"Aku tidak pernah tahu kau tinggal di daerah rumahku," celutuknya tanpa sadar. Kaiko terkikik geli, "Tapi aku tau kok, bahkan aku tau dimana rumah Mikuo-senpai," balas Kaiko sambil itu terperanjat, bahkan gadis itu tahu dimana rumahnya.
"Loh, Kaiko? Kamu bersama siapa?" Suara baritone itu berasal dari belakang mereka. Keduanya berbalik dan mendapati seorang pemuda dengan surai dark pink menatap mereka. Kaiko terdiam, tubuhnya bergetar. "L-Luki-kun?"
Mikuo tertegun, tangannya mengepal kuat. Dia berusaha menahan diri agar tidak meninju wajah pemuda yang telah membuat gadis di sampingnya ini menangis sampai matanya bengkak.
"Hmm? Apa yang-" Kaiko berlari menerjang tubuh Luki. Luki yang tidak siap pun terjungkal bersama tubuh Kaiko didekapannya. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menuduhmu. Maafkan aku, kumohon maafkan aku, hiks." Tangan Luki bergerak mengusap rambut Kaiko.
"Shht, sudah jangan menangis. Aku juga tidak bermaksud memarahimu." Tangan Luki menepuk kepala Kaiko, berusaha membuatnya tenang. "Aku juga bersalah, jadi maafkan aku ya?" Kaiko mengangguk dalam dekapan Luki.
Tanpa mereka ketahui, Mikuo menatap mereka dengan tatapan terluka. Tangannya yang sedari tadi terkepal kuat, dan jantungnya berdebar tak karuan. Kini dua sejoli itu mendekati Mikuo. "Jadi, dia siapa Kaiko?"
"Dia Hatsune Mikuo, kakak kelas kita. Dia bermaksud mengantarkanku pulang," jawab Kaiko. "Hmm... Kalau begitu salam kenal. Megurine Luki desu."
Keduanya berjabat tangan, meskipun entah kenapa Mikuo merasa enggan. "Hn. Hatsune Mikuo."
"Kalau begitu, kau bisa pulang sekarang Hatsune-san. Arigatou senpai karena telah mengantarkan Kaiko pulang. Selebihnya biarkan aku yang mengantarkannya," ujar Luki. Mikuo mendengus tanpa sadar. "Aaa, baiklah kalau begitu. Sampai jumpa Kaiko, Megurine-san." Mikuo berbalik meninggalkan keduanya. Rasa sesak menyelimuti relung hatinya.
Jadi, beginikah rasanya patah hati?
.
.
Tak lama setelah Mikuo pergi, keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Kaiko yang sudah dekat.
"Anoo, Luki-kun." panggil Kaiko tiba-tiba.
"Ya? Ada apa Kaiko?"
"Umm. Tidak jadi deh. Hehehe~" Kaiko nyengir. Padahal hatinya tersayat-sayat. Luki tersenyum simpul. Dalam hati, Luki merasa bersalah karena telah membohongi gadis ini. Lambat laun dia pasti akan menorehkan luka pada Kaiko.
Tapi, biar bagaimana pun dari awal Luki memang tidak mencintainya. Hubungan ini terbentuk karena perasaan labilnya saat SMP. Hubungan yang seperti ini tidak seharusnya dipertahankan.
"Kau dari mana Luki-kun? Tumben kau ke sini?" ujar Kaiko penasaran.
"Ah tidak. Sebenarnya aku mau minta maaf padamu."
"Tentang yang kemarin? Atau semua yang terjadi hari ini?" tebak Kaiko asal. Luki mengangguk, "Ya, keduanya."
"Kau bahkan tidak datang di tempat janjian kita," lirih Kaiko pedih. Luki menjadi merasa bersalah. "Maafkan aku-"
"Tidak perlu, karena aku tidak marah kepadamu." Potong gadis itu. Kaiko memaksakan diri untuk tersenyum. Luki tertegun, "Aaa, syukurlah kalau begitu."
Mereka berbincang sepanjang sisa perjalanan. Tanpa terasa mereka telah sampai di depan rumah Kaiko. "Arigatou Luki-kun karena telah mengantarku pulang. Mampirlah, aku akan menyiapkan makan malam untuk kita," tawar Kaiko, namun direspon oleh gelengan dari Luki. "Lain kali saja Kaiko, aku harus segera pulang. Sampaikan salamku untuk kakakmu."
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok di sekolah Luki-kun!" seru Kaiko sambil melambaikan tangannya. "Matta ashita," balas Luki kemudian pergi.
Kaiko memandang punggung Luki dengan senyum getir. Entah sampai kapan dia harus menahan semua perasaannya. Kebenaran yang sudah lama diketahuinya adalah Luki tidak pernah mencintainya. Begitu juga dengan Kaiko, hatinya bagai ditusuk belati tajam saat matanya secara langsung melihat Luki yang sedang berkencan dengan gadis lain.
Dulu pun Kaiko tidak mencintai Luki, dan dia lupa alasan dirinya menerima Luki menjadi kekasihnya. Memang dulu dia sempat menyukai sosok Luki, namun hal itu tidak lantas membuat Kaiko mencintainya. Walaupun begitu, tetap saja Kaiko sakit hati saat mendapati penghianatan dari Luki.
Megurine Luki termasuk siswa yang cerdas, oleh karena itu pada tahun pertamanya dia sudah menjabat sebagai sekretaris OSIS. Akan tetapi dibalik itu Luki merupakan sosok playboy ulung. Kaiko yang masih awam soal percintaan pun berniat merubah sikap buruk Luki. Perlahan-lahan, sikap Luki mulai berubah. Bukan hanya meninggalkan sikap playboynya, Luki juga mulai meninggalkan dirinya.
Setelah berlama-lama melamun, akhirnya gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
Tanpa Kaiko ketahui, tujuan Luki yang sebenarnya menemui Kaiko adalah untuk memutuskan hubungan mereka. Karena kebenaran yang sesungguhnya adalah Luki telah berpacaran dengan Gakuko. Namun kata-kata yang seharusnya keluar malah tersangkut di tenggorokannya. Ah! Bagaimanakah ekspresinya di sekolah besok saat menemui Kaiko?
.
.
Hari telah berganti, dari hari minggu kemarin menjadi hari senin sekarang. Bel masuk telah berbunyi 30 menit yang lalu, dan pelajaran pun telah berlangsung selama itu juga. Tetapi kedua iris safir Kaiko tidak menemukan keberadaan Luki di kelasnya. Dia mengabaikan atensi dari Sonika-sensei yang sedang mengoceh di depan sana. Sampai dia merasakan sikutan dari teman sebangkunya. "Ada apa Kaiko? Kau mencari sesuatu?" tanyanya heran sekaligus khawatir kepada Kaiko.
Yurika Sayu namanya, sahabat Kaiko sejak jenjang Junior High School. "Kau melihat Luki-kun?" Kaiko malah balik bertanya. Sayu yang merupakan sekretaris kelas menggeleng pelan. "Ya, Megurine-san tadi ada di kelas, tapi aku tidak tahu kemana dia sekarang," bisik Sayu dengan suara yang sangat kecil, takut kedengaran Sonika-sensei di depan.
"Ada rapat OSIS," timpal seseorang di depan mereka dengan suara kecil masih bisa di dengar oleh keduanya. Dia adalah Sakine Meito, ketua kelas di kelas 1-A.
"Begitu ya..." gumam Kaiko sedih.
Mereka mengakhiri obrolan mereka dan kembali fokus ke papan tulis sebelum Sonika-sensei melemparkan spidolnya ke arah mereka.
.
.
Bel istirahat telah berbunyi. Para siswa kelas 1-A telah berhamburan ke luar kelas. Kaiko bergegas mengambil kotak bekal dari dalam tasnya. Sayu yang melihat kelakuan sahabatnya itu sedikit heran. "Kenapa Kaiko terburu-buru begitu?" tanyanya.
"Gomen Sayu, aku tidak bisa menemanimu makan siang hari ini. Bekal Kaito-nii ketinggalan jadi aku harus mengantarkannya ke kelasnya," jelas Kaiko panjang lebar, berharap Sayu mengerti keadaannya. Sayu tersenyum maklum. "Tidak masalah Kaiko, lagipula aku tidak lapar. Aku mau ke perpustakaan dulu ya, sampai jumpa." Setelah pamit, Sayu keluar meninggalkan kelas, diiringi Kaiko yang keluar menuju kelas kakaknya.
Kelas kakaknya berada di lantai 3, jadi dia harus menaiki beberapa tangga untuk sampai di sana. Di lantai 2, dia berpapasan dengan Hatsune Mikuo dan temannya yang dikenal sebagai Akita Nero. Kaiko tersenyum sekilas yang juga dibalas senyum oleh keduanya, kemudian berlari menaiki tangga. Sepeninggalannya Kaiko, Mikuo memutuskan bertanya kepada pemuda yang hobi mengotak-atik ponsel di sebelahnya.
"Nero, kau tahu kouhai yang memakai syal barusan?" Tanya Mikuo tiba-tiba sambil menunjuk Kaiko yang telah menghilang di ujung koridor. Hal ini langsung membuat pemuda bersurai blonde itu tersedak. "Uhuk-tumben banget kau memperhatikan cewek, kouhai lagi. Dan parahnya, kau tidak tahu siapa dia?" balas Nero.
"Aku cuma tahu namanya Shion Kaiko," ujar Mikuo dengan watados. Nero jadi malu mempunyai teman kuper kayak Mikuo. "Masa nggak tahu? Wah parah! Dia kan adik kandung dari Shion Kaito-senpai," omel Nero.
"Saranku, jangan macam-macam dengan Kaiko-san. Kakaknya bisa menghabisimu kapan saja," lanjut Nero lagi.
Mikuo tersentak, dia ingat semuanya. Pantas saja ia merasa tak asing dengan marga 'Shion'. Kalau dipikir-pikir, wajar saja dia tidak mengenali Kaiko, sedangkan Kaiko saja bisa tahu dimana rumahnya. Kan rumah Kaito-senpai dengan rumahnya hanya berjarak dua blok saja. Argh! Kenapa aku sebodoh ini? Amuknya dalam hati.
Hatsune Mikuo masih bergulat dengan pikirannya ketika seseorang menggenggam pundaknya dari belakang dengan aura mematikan. Nero langsung mundur tiga langkah darinya. Mikuo meneguk ludahnya susah payah, kemudian menoleh dengan gerakan patah-patah. Dibelakangnya, terdapat sosok Kagami Lenka dengan empat buah siku-siku di keningnya seperti menahan kekesalan yang amat sangat. Serta terdapat pula Kagamine Rinto yang tepat berada di samping Lenka, juga dengan wajah menakutkan.
"Etto, aku baru inget kalau ada urusan dengan seseorang. Jaa-" Nero langsung mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan diri. Tidak mau ikut campur dalam masalah mereka.
Rinto dan Lenka melebarkan senyum iblis mereka. "Berita di mading itu ulahmu kan, M-I-K-U-O?" Tanya Lenka dengan aura pembunuh. Mikuo berkeringat dingin, dia hanya nyengir sebagai jawaban. Hal ini membuat Lenka makin kesal.
"Kau-dipanggil-Kiyoteru-sensei-sekarang." Rinto berkata dengan suara berat kentara sekali menahan diri untuk tidak melemparkan pemuda di depannya ini dari lantai 2.
"Oh begitu. Sebelum aku pergi, PJ-nya jangan lupa ya-" Tanpa berpikir panjang Mikuo langsung menyelamatkan diri dari terkaman pasangan Rinto Lenka.
.
Di waktu yang bersamaan, Shion Kaiko sedang berada di kelas 3-A. Dia mencari-cari sosok sang kakak dari kaca jendela. Salah seorang penghuni kelas itu menghampirinya. "Summimasen. Kamu mencari siapa?" Tanya gadis bername tag Sakine Meiko itu kepada Kaiko. Gadis bersyal abu-abu itu sedikit mundur dan menunduk karena malu.
"Aku mencari Shion Kaito. Senpai, apa dia ada di dalam?" Tanya Kaiko balik. "Tunggu sebentar." Gadis berkuncir dua rendah itu sedikit berteriak, "Shion Kaito! Ada Kouhai yang mencarimu!"
Terlihat Shion Kaito yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Saat Kaito berpapasan dengannya, Meiko sedikit berbisik. "Dia terlihat seperti membawa makanan, jangan tolak dengan kasar, oke?" Setelah itu dia mendapat hadiah berupa tatapan tajam dari Kaito, itu membuat dirinya terkekeh geli. Semua orang di kelas mengintip dari jendela untuk melihat apa yang akan Kaito lakukan.
Kaito sedikit mendengus, kemudian keluar untuk melihat siapa yang telah mengganggunya disaat moodnya lagi anjlok. Di samping pintu, terlihat sosok gadis yang sedang bersandar di dinding dengan satu kotak bekal di tangannya. Wajahnya yang tadi terlihat suram mendadak cerah melihat kehadiran adiknya. "Kau membawakan bekalku?"
"Ini." Kaiko menyodorkan salah satu kotak bekal yang dibawanya. "Mau makan bersama?" Tanya Kaito yang dibalas anggukan mantap dari sang gadis.
"CIEEE!"
"Ehem! PJ mana PJ?"
"Akhirnya prince of jones kelas kita sudah hilang~"
Kaiko sweatdrop. Sorak-sorakan dari teman-teman sekelasnya membuat Kaito kesal setengah mati. Masa mereka tidak bisa melihat kemiripan antara dirinya dengan Kaiko?
"Yooo, siapa nama gadis yang sudah memikat hati Shion Kaito ini?" Tanya salah seorang teman sekelas Kaito. Sebelum Kaito menyemburkan emosinya, Kaiko lebih dulu memperkenalkan diri. "Watashi Shion Kaiko desu, Shion Kaito-nii no imouto desu. Yoroshiku," ujarnya dengan sopan sambil berojigi.
Kelas 3-A mendadak hening. Antara terkejut dan tidak percaya. Setelah ditelisik lagi, mereka memang mirip. Kaito menghela napasnya. "Abaikan mereka, ayo masuk," ajak Kaito kepada adiknya.
Kaiko menggelengkan kepalanya. "Sebaiknya aku kembali ke kelas, Nii-chan pasti sedang sibuk," ujar Kaiko. "Jaa." Gadis itu pun berbalik meninggalkan kelas sang kakak.
.
.
Sudah sejam yang lalu bel pulang berbunyi, namun Kaiko baru bisa pulang sekarang dikarenakan ada pasien di UKS. Sebagai anggota PMR, sudah menjadi kewajibannya untuk menunggui pasien tersebut hingga sadar. Beruntung teman kelasnya yang pingsan itu langsung di jemput oleh ibunya sesaat setelah dihubungi.
Dia kembali ke kelas untuk mengambil tasnya. Di jalan dia mengirim pesan singkat kepada kakaknya kalau dia menunggui siswi yang sakit di UKS.
Setelah tiba di pintu kelas, kakinya mendadak berhenti bergerak. Bagai ada yang memaku dirinya untuk tidak beranjak dari sana. Di dalam sana, tampak sosok Megurine Luki sedang mencium seorang gadis bersurai violet-yang dikenalinya sebagai Kamui Gakuko. Tepat dibibir. Yang bahkan tak pernah dilakukan Luki padanya.
Hati Kaiko hancur berkeping-keping, tak bersisa sama sekali. Ia ingin pergi dari sana, tetapi kakinya sama sekali tidak bisa diajak bekerjasama. Air mata mulai mengaliri pipinya tanpa bisa dicegah, yang semakin lama semakin menderas.
Setelah mengakhiri tautan mereka, barulah mereka akan kehadiran dirinya diantara mereka. Dapat terlihat jelas ekspresi terkejut keduanya, terutama Luki. "K-Kaiko?" bahkan suara pacarnya pun ikut tercekat. Ah, apa masih bisa dirinya menyebut pemuda itu sebagai pacarnya?
"G-Go-Gomennasai. A-Aku telah me-mengganggu kalian. A-Aku akan segera pe-pergi dari sini." Setelah menghapus air matanya dengan kasar, Kaiko memasuki kelas dan segera menyambar tasnya lalu segara berbalik hendak meninggalkan mereka. Tapi tangannya ditahan oleh Luki. Tubuh Kaiko semakin menengang karenanya. "L-Lepas Luki," rintih Kaiko, tapi tidak di dengarkan sama sekali oleh Luki.
"Gakuko, pulanglah," pinta Luki akhirnya. Gakuko terkejut mendengarnya. "T-Tapi-"
"Kau tahu benar akan hal ini Gakuko. Sekarang pulanglah."
Gakuko menghela napasnya. "Baiklah. Jaa ne, Luki."
Setelah kepergian Gakuko, Luki langsung menarik Kaiko ke atap sekolah. Kaiko hanya diam, tak memberontak sama sekali saat Luki menyeretnya. Dia bahkan tak peduli kemana Luki akan membawanya. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menangisi apa yang telah terjadi padanya. Angin sepoi-sepoi ikut menjadi saksi apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kaiko... Gomennasai," kata Luki akhirnya.
"Sejak kapan, Luki-kun?" lirih Kaiko, mengabaikan suaranya yang terdengar parau. Raut terluka terpetak jelas di wajahnya. Mengerti kemana arah pembicaraan ini, Luki mendesah, dia merasa bersalah. "Kemarin."
"Kenapa kau tidak bilang?" Kaiko menatap kosong bebatuan di ujung sepatunya. "Sampai kapan kau akan menjeratku seperti ini, Luki-kun?" tanyanya lagi. Air mata telah membanjiri wajahnya.
"Kaiko..."
"Kau melukaiku, lagi."
"Aku tahu. Maafkan aku."
"Jadi, inikah pilihanmu?" telak Kaiko final.
"..."
Gadis itu mendongakkan kepalanya menatap dalam kedua iris pink Luki. Tapi Luki hanya diam. Hal itu membuat Kaiko semakin terluka.
"Baiklah, aku mengerti."
Kaiko mengusap kedua matanya, kemudian berbalik hendak meninggalkan Luki. Tetapi lagi-lagi langkahnya kembali terhenti kala Luki tiba-tiba memeluknya dari belakang. Liquid asin itu kembali mengalir. Kaiko terisak.
"Maafkan aku Kaiko. Kau berhak mendapatkan yang lebih baik daripada aku." Luki menarik napasnya sejenak, "Biarkan aku memelukmu seperti ini, mungkin untuk yang terakhir kalinya," bisik Luki. Sedangkan Kaiko hanya diam, tak berniat balas memeluk atau melepaskan pelukan itu. Jadi inilah akhirnya, batin Kaiko miris.
Luki kemudian melepaskan pelukannya. "Sayonara, Kaiko."
.
Mikuo buru-buru memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Latihan hari ini ditiadakan karena Kyoteru -sensei ada urusan mendadak. Di kelas hanya tinggal mereka berempat, yakni Lenka, Rinto, Nero dan dirinya. Dengan sedikit menggerutu, Mikuo membereskan barang-barangnya.
"Jadi, kalian ada rencana lain?" Tanya Mikuo. Nero mengendikkan bahunya sebagai jawaban. "Jangan tanya kami,"timpal Lenka sambil menjulurkan lidahnya. Rinto terkekeh melihat tingkah kekasihnya.
Mikuo membuka pintu kelas hendak keluar. "Kalau begitu aku duluan-" perkataannya terhenti ketika melihat sosok Kaiko ditarik oleh Luki ke menaiki tangga menuju lantai atas. Dia langsung membanting pintu dan berlari mengikuti Luki dan Kaiko. Bantingan pintu itu sontak membuat ketiga temannya terkejut setengah mati. "HATSUNE MIKUO NO BAKA!" Pekik Lenka geram karena merasa jantungnya hampir lepas.
Sedangkan Mikuo masih diam-diam mengikuti Luki dan Kaiko. Firasatnya buruk tiba-tiba menghampirinya. Dan yang paling membuatnya terkejut, Kaiko menangis-terlihat dari jejak air mata di pipi gadis itu.
Emosinya mendadak mencapai puncak. Saat kedua sejoli itu akhirnya berhenti di atap sekolah, Mikuo bersembunyi di balik dinding. Samar-samar dia mendengar percakapan mereka yang diselingi oleh isak tangis. Mikuo pun memilih untuk mengintip daripada sekedar mendengar. Sudah terlanjur basah, mandi aja sekalian!
"Kaiko... Gomennasai."
"Sejak kapan, Luki-kun?"
"Kemarin."
"Kenapa kau tidak bilang?"
"..."
"Sampai kapan kau akan menjeratku seperti ini, Luki-kun?"
"Kaiko..."
"Kau melukaiku, lagi."
"Aku tahu. Maafkan aku."
"Jadi, inikah pilihanmu?"
"..."
"Baiklah, aku mengerti."
"Maafkan aku Kaiko. Kau berhak mendapatkan yang lebih baik daripada aku."
"..."
"Biarkan aku memelukmu seperti ini, mungkin untuk yang terakhir kalinya."
Sudah cukup! Mikuo sudah muak dengan percakapan mereka. Dengan amarah yang meluap-luap, akhirnya Mikuo keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung memhampiri mereka."Sayonara, Kaiko."
Saat Luki berbalik, kepalan tangan kanannya langsung melayang menghantam wajah pemuda itu. Wajahnya memerah kentara dengan emosi yang tak terbendung. Kaiko terpekik melihat adegan berbahaya di depannya.
"KYAAA!"
"APA KAU SADAR DENGAN APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADANYA, BRENGSEK?!" Sembur Mikuo murka. Melihat dari ekspresi Luki, tampaknya pemuda itu tak berniat membalas luka memar pada pipinya. Mikuo langsung menarik paksa tangan Kaiko untuk mengikutinya meninggalkan Luki. Dia berbalik, kemudian mendesis. "Betapa menyedihkannya dirimu. Enyalah kau, bajingan!"
Pemuda itu terus menarik tangan Kaiko tanpa menoleh sedikit pun. Bahkan saat mereka bertemu dengan Rinto dan Lenka di gerbang pun diacuhkannya. Tangan Lenka menahan Rinto saat kekasihnya itu hendak menyusul sahabatnya. "Aku tidak pernah melihatnya semarah itu sebelumnya," ucap Lenka sambil tertegun. Sungguh, ini pertama kalinya sejak dia lahir ke dunia melihat raut wajah marah dari Mikuo.
Sedangkan Rinto hanya menatap kepergian sahabatnya itu dengan wajah khawatir. Dia sangat khawatir dengan keadaan Mikuo. Dan kenapa pula pemuda itu sampai menyeret seorang gadis. "Kita pulang saja yuk, Rinto-kun," ajak Lenka.
Rinto mengangguk sekilas. "Hah... Baiklah."
.
.
Kini Mikuo dan Kaiko sedang berada di dalam bis. Sepanjang jalan Kaiko hanya diam saja, dan hal itu membuat Mikuo khawatir. Pandangan matanya yang sembab itu terlihat meredup, tatapannya kosong. Gadis itu hanya duduk melamun di sampingnya.
Setelah sampai di halte tujuan, Mikuo lekas menarik Kaiko untuk turun bersamanya. Pemuda itu lantas membawa Kaiko memasuki kawasan taman bermain. Suasana sore yang cukup ramai di sana membuat Kaiko tersadar saat dirinya telah berada di area taman bermain.
"Jangan bersedih lagi," kata Mikuo akhirnya. Pemuda itu menatap lurus ke arah Kaiko. Gadis itu terpaku, pandangannya terkunci oleh kedua iris teal Mikuo. Kemudian dia mendengus geli, sambil mengusap kedua matanya yang masih basah. "Kau sampai sebegitunya, Mikuo."
Sudut-sudut bibir gadis itu terangkat membentuk lengkungan yang mempercantik dirinya. "Terima kasih."
"Lupakan. Sedikit refreshing mungkin akan membantumu," seru Mikuo bersemangat.
Mereka mencoba berbagai macam wahana yang ada, mulai dari komedi putar, roller coaster, rumah hantu, serta perahu angsa. Mereka juga membeli berbagai jenis cemilan. Keduanya tampak bersenang-senang di setiap saatnya, dan Kaiko dapat melupakan masalahnya meskipun hanya sejenak.
Mereka juga mencoba photo box. Berbagai ekpresi mereka lakukan bersama, sehingga fotonya lumayan banyak. Meski dengan pakaian basketnya, Mikuo tampak terlihat sangat bahagia juga keren disaat yang bersamaan. Begitu pula dengan Kaiko yang masih mengenakan pakaian sekolah. Beberapa orang di sekitar mereka tampak terpukau dengan keserasian mereka.
Tak terasa waktu telah berlalu, hari pun sudah mulai gelap. Kini mereka memutuskan untuk menaiki wahana terakhir untuk hari ini sebelum pulang. Mereka berencana akan menaiki bianglala. Tanpa Kaiko ketahui, Mikuo meminta petugas bianglala untuk menghentikan perputaran bianglala ketika mereka berada di puncaknya. Rencananya Mikuo ingin melihat indahnya sunset bersama Kaiko.
Saat menaiki bianglala, mereka membagi foto-foto mereka sambil melihatnya. Sesekali mereka tampak memperebutkan foto yang sama, yang kebanyakan di dapatkan oleh Mikuo.
"Arigatou, kau telah menghiburku seharian ini Mikuo. Lagi-lagi aku berhutang padamu," ungkap Kaiko. Gadis itu tampak menikmati pemandangan dari jendela-sama sekali tidak menoleh ke arah Mikuo. "Terima kasih, untuk segalanya."
Tiba-tiba bianglala yang mereka naiki itu berhenti, membuat keseimbangan Kaiko sedikit terganggu. Mikuo dengan sigap menahan tubuh Kaiko. Posisi mereka sangat berbahaya dan juga dekat. Matahari pun sudah mulai terbenam. Entah kenapa suasananya tadi terasa romantis.
"Tak masalah. Berjanjilah untuk tidak memperlihatkan air matamu lagi," balas Mikuo. Kaiko langsung menolehkan kepalanya menghadap Mikuo. Dia benar-benar terkejut mendengar perkataan Mikuo.
Pandangan mereka kembali bertemu. Saling mengunci satu sama lain. Mikuo mulai mendekatkan wajahnya. Perlahan, jarak diantara mereka mulai menipis. Kaiko menggenggam erat kaos basket Mikuo, matanya juga mulai terpejam. Mikuo mempertemukan bibirnya dengan bibir Kaiko. Mengecupnya lama, mencoba mengalirkan perasaannya yang sebenarnya kepada gadis itu.
Kaiko yang awalnya membatu, kini mulai membalas ciuman dari Mikuo. Kini Kaiko sadar, dirinya mencintai pemuda itu. Sekaranglah waktu yang tepat bagi dirinya untuk bahagia-bersama Mikuo. Sekitar satu menit berlalu, keduanya melepaskan tautan mereka.
Baik bagi Mikuo maupun Kaiko, itu adalah ciuman pertama mereka. Wajah keduanya sama-sama bersemu merah. Tapi wajah Kaiko jauh lebih merah, dan Mikuo tidak menyadarinya. Gadis itu mencoba tersenyum disela rasa sakit yang menyerang kepalanya.
Bianglala kembali berputar, dengan latar belakang langit keemasan yang mulai menggelap Mikuo mengungkapkan perasaannya. "Kaiko, Aku mencintaimu," ungkap Mikuo. Kaiko tercengang, sambil terus berusaha mempertahankan kesadarannya yang menipis.
"Ugh!" Mikuo terkejut saat melihat Kaiko memegang kepalanya seperti menahan rasa sakit. Ia tambah terkejut saat melihat wajah Kaiko yang benar-benar merah. Tangannya yang besar itu mencoba meraba kening Kaiko. "Astaga, kau demam!"
Kaiko tersenyum lemah, pandangannya sudah menggelap. Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, gadis itu berucap lirih. "Iie, daijobu desu."
Mikuo panik. Dia benar-benar panik saat gadis yang dicintainya pingsan di bahunya.
.
.
Kaiko mengeliat pelan. Matanya mengerjap-ngerjap, berusaha beradaptasi dengan cahaya di sekitar, pertanda bahwa dia baru sadar. Dia melihat sekeliling, ruangan bernuansa putih ini bukanlah kamarnya. Kenapa dia bisa berada di sini?
"Ugh... Ini dimana?" lirih Kaiko. Tangan mungilnya menggapai handuk yang melekat di keningnya.
Dia mencoba untuk duduk, dan ketika itulah dia sadar kalau ada seorang pemudadengan posisi duduk di kursi tepat di samping kasur, kini sedang terlelap dengan kedua tangan yang dijadikan sebagai bantalan di kasur. Air mata melesak keluar begitu saja. Kaiko menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia terisak pelan. Kini dia sadar, kalau dia mencintai pemuda yang terlelap karena menungguinya terbangun.
Dia mencintai Hatsune Mikuo.
Shion Kaiko mencintai Hatsune Mikuo. Dan Mikuo telah mengungkapkan perasaannya kepada dirinya-meskipun Kaiko sendiri tidak terlalu yakin akan hal itu.
Dia mengusap matanya pelan. Mencoba menghentikan bulir-bulir air mata yang telah melesak keluar. Lalu Kaiko hanya duduk diam, sambil memperhatikan wajah damai Mikup. Tanpa di duga-duga, tangannya mencoba mengusap surai teal pemuda itu. Belum puas Kaiko mengusapnya, tangannya langsung di cengkram oleh Mikuo. "Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?"
"Aku sudah merasa lebih baik, arigatou." Ujar gadis itu. Mikuo meraih semangkuk bubur di atas meja.
"Makanlah, kau belum makan apapun," ujar Mikuo, kemudian meraih sesendok bubur dan mengarahkannya ke mulut Kaiko, "Aku akan menyuapimu."
Gadis itu pun akhirnya mau membuka mulutnya, melahap bubur itu dengan perlahan. Matanya berbinar bahagia, "Oishii."
"Syukurlah kalau kau menyukainya," ujar Mikuo. Kaiko melahap habis bubur itu. Rasanya perutnya kini telah terisi penuh. "Emm, ini dimana?" Tangannya meremas ujung seragamnya.
"Ini di klinik taman bermain. Tadi kau pingsan, ingat?" Pernyataan Mikuo membuat Kaiko mengangguk.
"Anoo, aku harus pulang sekarang. Nii-chan pasti sedang mencariku sekarang," ujar gadis itu. Dia menuruni ranjang king size itu dan mencoba berdiri, tetapi kakinya masih terlalu lemas sehingga tubuhnya langsung oleng.
Dengan sigap Mikuo langsung menangkap tubuh gadis itu, dan mendudukkannya kembali di tepi kasur. Kemudian ia mencubit gemas hidung gadis di depannya. "Tubuhmu masih lemas begini, istirahatlah sebentar lagi," nasihatnya kepada sang gadis. "Aku telah menghubungi kakakmu. Dia akan menjemput kita," tambah Mikuo lagi. Tetapi pada dasarnya gadis itu berkepala batu, jadi dia bersikeras menolak. "Kalau begitu ayo keluar. Onegai," pinta Kaiko disertaipuppy eyes yang menjadi andalan.
Menghela napas lelah, pemuda itu pun memilih untuk mengalah daripada mendapat rengekan dari Kaiko. "Baiklah, baiklah. Kita akan menunggu di luar."
Senyum Kaiko makin mengembang. Dia bersyukur Mikuo mau menuruti keinginannya. Tetapi lagi-lagi tubuhnya oleng, padahal baru beberapa langkah dari kasur. Mikuo menghampirinya, kemudian berjongkok membelakanginya. "Naiklah," Mikuo menawarkan diri untuk menggendongnya.
Dia terdiam menatap punggung Mikuo yang terbuka menyambut dirinya. "Apa ini tidak apa-apa?" gumam Kaiko, dia tidak ingin membebani Mikuo. Pemuda itu mengerutkan alisnya, "Bukankah kau ingin pulang sekarang?" balasnya. Kaiko pun mendekat, mengalungkan kedua tangannya di leher Mikuo. Memeluknya erat, tanpa ingin melepas.
Mikuo mulai beranjak saat dirasa pegangan Kaiko padanya cukup kuat. Keheningan menyelimuti perjalanan keduanya. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang, pemuda itu mengucapkan terima kasih kepada dokter penjaga klinik kemudian keluar dari klinik. Mereka terdiam sambil menunggu kedatangan Kaito.
"Kenapa?" Kaiko akhirnya membuka suara, Mikuo mendengarkan dengan seksama. "Sikapmu ini terlalu berlebihan, aku takut salah tanggap," akunya kemudian.
Mikuo terdiam untuk beberapa saat. "Hei... Kau masih punya satu hutang padaku kan?" Tanya Mikuo dengan suara memberat. Kaiko semakin bingung dibuatnya. "Ya, kau benar."
"Bisakah aku menagihnya sekarang?" Celutuk pemuda itu. Dia bisa merasakan anggukan sang gadis di punggungnya. "Kalau begitu-"
Mikuo menarik napas panjang, "-Shion Kaiko, jadilah kekasihku."
Singkat, padat, jelas, dan sarat akan perintah. Tangannya menggenggam erat salah satu tangan lembut Kaiko. "Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi. Aku ingin selalu melihat senyumanmu. Juga aku akan melindungimu, itu janjiku."
Kaiko merasa hatinya bergetar ketika mendengar pernyataan dari Mikuo. Air mata Kaiko mengaliri pipinya, dan turut membasahi punggungnya. Kaiko menggenggam balik tangan pemuda itu. Tangannya yang lain memeluk erat leher pemuda itu. Kemudian dia meletakkan kepalanya di atas bahu kanan Mikuo. "Terima kasih, untuk segalanya," bisik Kaiko. Suaranya terdengar lemah khas orang sedang sakit.
"Kumohon, jagalah hatiku," lanjutnya lagi. Mikuo tersenyum lembut. Pemuda itu mengelus kepalanya sebentar dengan lembut. Tak beberapa lama kemudian sebuah mobil Ferrari berhenti tepat di depan mereka. Sosok Shion Kaito keluar dari mobil itu dengan tergesa-gesa.
"Astaga Kaiko-chan. apa yang terjadi padamu?" Kaito terkejut ketika melihat adiknya terkulai lemas di punggung Mikuo. Kaiko sendiri hanya tersenyum lemah."Hatsune-san, katakan padaku apa yang telah terjadi," tuntut Kaito. "Kita bicara di jalan saja. Cuaca seperti ini tidak bagus untuk Kaiko," usul Mikuo. Melihat keadaan Kaiko yang seperti itu, Kaito mengangguk dan segera membuka pintu belakang mobilnya.
Kaito mengambil Kaiko dari gendongan Mikuo dan membaringkannya di jok belakang. Mikuo sendiri duduk di depan tepat di samping Kaito. Perjalanan yang tadinya hanya memakan waktu 20 menit kini terhambat oleh jalanan macet. Jam 8 malam seperti ini memang jam pulang.
Mikuo memanfaat waktu macet itu untuk menceritakan semuanya kepada Kaito. Mulai dari pertemuan pertamanya dengan Kaiko yang sedang menangis sendirian di taman, sampai dengan semua kejadian yang telah terjadi hari ini. Kaito memegang erat stir mobil untuk menahan emosinya.
"Sial! Sudah kuduga pria itu memang brengsek!" Dengus Kaito dengan wajah marah. Mikuo hanya diam, dari ekspresinya dia tampak seperti memikirkan sesuatu. Setelah berlama-lama di jalanan macet, akhirnya mereka memasuki kawasan Utauloid.
Kaito sesekali melirik keadaan Kaiko di belakang melalui spion. Adiknya sedang tertidur di belakang. Perhatiannya teralihkan saat Mikuo membuka suaranya. "Kaito-senpai, izinkan aku menjadi pacar Kaiko."
Ckiiit!
Kaito menginjak rem mobil dengan kuat. Mobil pun terhenti tepat di depan rumah keluarga Shion. Kaito baru saja akan menyembur Mikuo jika saja Mikuo masih berada di sampingnya. Pemuda bersurai teal itu keluar dari mobil membuka pintu belakang. Dia menggendong Kaiko ala bridal style dan mengeluarkannya dari mobil. Sadar dengan apa yang sedang di lakukan Mikuo, Kaito langsung keluar dan membuka pagar besi rumahnya. Dia juga membuka pintu dengan tergesa-gesa, dan bergegas menuju ke kamar adiknya. Sedang Mikuo mengikuti Kaito dari belakang.
Mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Kaito langsung membuka kamarnya, diiringi dengan Mikuo yang langsung membaringkan Kaiko di atas kasur. Tak lupa dipakaikannya selimut di tubuh Kaiko sebatas bahu. Kaito yang melihat tindakan Mikuo kembali tertegun.
"Senpai, bisa kau beritahu aku dimana dapur? Aku akan mengompresnya," kata Mikuo. Kaito langsung beranjak dari tempatnya, "Biar aku ambilkan. Kau di sini saja menjaga Kaiko."
Kaiko melenguh pelan. Matanya mulai terbuka. Gadis itu terbangun dan duduk di kasurnya. Dia melihat sekeliling, dan ia sangat yakin kalau ini kamarnya. Di sana juga terdapat sosok Hatsune Mikuo. "Kapan aku sudah berada di rumah?" Tanyanya bagai orang linglung.
Pemuda hanya tersenyum, lalu itu menghampiri dirinya. "Baru saja, sekarang beristirahatlah. Atau apa kau butuh sesuatu?" Tanya Mikuo dengan lembut. Kaiko menggelengkan kepalanya. "Tidak, terima kasih."
Pemuda itu menyatukan kening mereka, untuk mengukur suhu tubuh kekasihnya sejak beberapa jam yang lalu. "Syukurlah, demammu sudah turun," ucapnya lega. Tetapi melihat wajah Kaiko yang memerah, keyakinannya akan kesembuhan gadis itu menurun drastis. "Kau masih pusing? Mukamu merah," ungkap Mikuo. Sedangkan wajah Kaiko makin memerah.
"T-Tidak! Kurasa mukaku merah karena hal lain," elak Kaiko. Mikuo gemas melihat tingkah kekasihnya itu akhirnya mencium sekilas bibir gadisnya. Lalu dia tengacak-acak surai biru kekasihnya itu.
Tak lama kemudian, sosok Kaito muncul dengan sebaskom kecil berisi air dingin, selembar handuk kecil, dan juga beberapa jenis obat-obatan. Dia membiarkan adik kelasnya itu bertindak. Dia memperhatikan semua tindakan yang dilakukan Mikuo terhadap adiknya, seperti caranya membujuk Kaiko untuk minum obat.
"Baiklah sekarang waktunya istirahat," titah Mikuo. Kaiko membaringkan dirinya, mencari posisi yang paling nyaman untuk tidur. Mikuo kembali memakaikan selimut padanya. Pemuda itu kembali mencium keningnya lama. "Oyasuminasai. Cepat sembuh ya sayang."
"Oyasumi, Mikuo. Aku mencintaimu." Itulah kata cinta yang pertama kali keluar dari mulut Kaiko. Kaito sedikit tersedak mendengarnya. Lalu perlahan-lahan senyum tulus mengembang di wajah pemuda berusia 18 tahun itu.
Mikuo mengelus rambut Kaiko sesaat, "Aku juga mencintaimu."Pemuda itu menghidupkan lampu tidur di atas nakasa, lalu dia mematikan lampu dan beranjak keluar dari kamar kekasihnya. Setelah ia menutup pintu, saudara kandung dari Kaiko itu buka suara.
"Baiklah. Kita harus bicara," ajakan yang lebih mirip perintah itu keluar dari mulut Kaito. Dia beranjak dari sana dengan mengikut sertakan Mikuo. Mereka akan berbicara empat mata di ruang keluarga.
"Silahkan duduk." Sang tuan rumah mempersilahkan tamunya untuk duduk. "Jadi, kau Hatsune Mikuo. Anak tunggal dari tuan Hatsune Lui dengan nyonya Hatsune Zunko, benar?" Kaito membuka sesi introgasinya. Mikuo mengangguk sambil menggumamkan kata 'Hn' sebagai jawaban.
"Hatsune Mikuo-san, kenapa kau sampai rela melakukan semua ini untuknya?" Tanya Kaito to the point. Pandangan Mikuo kini tertuju padanya. "Hanya ada satu alasan, karena aku mencintainya." Jawab Mikuo tegas. Sorot matanya pun tak menunjukan keraguan tersenyum tipis, dia menyukai cara pemuda dihadapannya ini memandang.
"Kau tahu, cinta bisa datang dan pergi tanpa kau inginkan. Bagaimana jika suatu saat kau bosan dengan adikku?" Tanyanya lagi. Dari sorot matanya, Kaito tahu bahwa keteguhan Mikuo tidak goyah sedikit pun. "Akan ku pastikan hal itu tidak terjadi. Tapi jikalau memang suatu saat kejadian semacam itu terjadi, kau bisa melakukan apapun terhadapku. Aku tidak akan menghindar," jelas Mikuo.
Kaito menyerah. Keyakinan hati Mikuo tidak bisa digoyahkan sama sekali. "Kalau begitu, kutitipkan dia padamu," ujar Kaito pada akhirnya. "Jagalah adikku, seperti kau menjaga nyawamu." Mikuo mengangguk mantap.
Setelah itu, Mikuo pamit pulang. Kaito mengantarkan sampai di pagar rumahnya. Setelah itu pemuda itu langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Kini dia sudah sedikit tenang karena ada seseorang lagi yang dapat diandalkan untuk menjaga Kaiko.
Mikuo pulang ke rumah dengan perasaan lega. Kaito sudah merestui hubungan mereka. Bagaimanakah reaksi kedua orang tuanya ya saat Mikuo bilang kalau dia punya pacar?
"Hacchi!"
Sebagi bonus, sepertinya Mikuo sudah tertular virus penyakit dari Kaiko akibat ciuman yang diberikannya. Puk puk, sabar ya Mikuo!
.
.
End
.
.
Only story : 8608 words
Pojok curahan author:
Bella: Tak perlu membuang-buang waktu, ayo langsung saja ke sesi balas riview~
Meirin: Baiklah! Yang pertama untuk Kurotori Rei, gapapa dong sekali-kali LukiGakuko happy ending. Kasian kalau ngenes mulu XD /plakk
Audrey: -_-
Bella: Enak aja, sampai kiamat Rinto tetap punya Lenka -3- /lempar pisang as request/
Meirin: Ini dia bagian MikuoKaiko-nya, semoga Tei suka. Makasih sudah meriview xD
Audrey: Selanjutnya buat CelestyaRegalyana, makasih buat pujiannya. Gomennasai, tapi dari awal proyeknya memang dibuat Luki x Gakuko, jadi mohon pengertiannya dan terima kasih atas riviewnya. Semoga kamu suka bagian ini XD
Bella: Buat Olivershotta, Oliver gak usah malu mengakui ke-shotta-an kamu. Kamu salah satu kandidat terkuat kategori tershotta di Athena Academy XD
Meirin: Kamu sebenernya mau ngomong apa coba. Aku cuma ngerti kalo kamu menertawakan nasip ngenes Kaiko di rp-_,- /nyes
Audrey: Tenang aja, gak bakal nyampe puluhan kok, soalnya kita juga capek nulis mulu xD /plaak Oh iya hastagnya kebanyakan tuh, gamuat kalau mau retweet :v
Bella: Terakhir, untuk Reo Toa Hikari dan Hikaru, Gakuko PHO cuma di fict ini kok, aslinya mah Gumi juga tau gimana XP
Meirin: Yaudah kapan-kapan kita masukin Gumi sebagai pedagang wortel kece di pasar sayur XD /noway
Audrey: BUNDA TEGA BANGET T_T
Bella: Fyuuh, akhirnya selesai juga proyek ini. Di sini Bella yang paling capek nagih dan kena php mulu -3- /lirik seseorang/
Meirin: /jleb/
Audrey: Tau nih, padahal readers udah pada nunggu.
Meirin: Eh tapi aku terharu karena ada beberapa orang yang nungguin bagian MikuoKaiko /nangis bombay/
Audrey: Abaikan dia.
Bella: Ini juga merupakan proyek pertama kami yang telah selesai /tebar-tebar confetti/
Audrey: Yap! Padahal fanfict ini proyek yang terakhir direncanakan, tapi taunya jadi proyek pertama yang selesai XD
Meirin: Omedettou untuk kita semua~~ /party
Bella: Oh iya masih suasana Lebaran, kami mau minta maaf kalau selama ini ada salah-salah sama semuanya~
Meirin: Baik salah kata, telat update, cerita yang gak menarik, dsb yang bikin para readers sekalian kurang puas~
Audrey: Selamat hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1437 Hijria bagi yang menjalankan^^
All: KELUARGA BESAR CRAYON MELODY MENGUCAPKAN, MINAL 'AIDIN WAL FAIDZIN. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN MINNA! /teriak pake toa/
NOTE : Minna-san, kami mengucapkan banyak terima kasih karena sudah mengikuti fanfic ini hingga selesai. Terima kasih atas review, like, dan follow kalian. Akhirnya fanfic ini sudah complete, tapi kalian jangan bersedih hati karena akan ada sequel dari fanfic ini yang berjudul "Lovers 2 : Cupid" yang akan segera dipublish dalam waktu dekat. Jadi tunggu saja ya minna-san ;)
.
.
Omake :
Kagami Lenka yang baru pulang dari minimarket tercenung melihat pemandangan di hadapannya. Sahabatnya, Mikuo yang menggendong sosok gadis-yang sama dengan yang tadi siang-dengan gaya bridal style ke dalam rumah Kaito-senpai benar-benar membuatnya terkejut. Setahunya, Mikuo bukan tipe orang yang suka melakukan kontak fisik dengan lawan jenis. Tiba-tiba muncul sebuah ide jahil di dalam kepalanya.
Dia mengeluarkan smartphone dari saku jaketnya, kemudian mengabadikan momen-momen langkah di depannya dalam bentuk gambar. Setelah puas memotret, gadis itu memeriksa hasil jepretannya. Seringainya mengembang dengan sempurna kala melihat kumpulan gambar itu. "Fufufu~ Kubalas kau, Mikuo-kun," gumam Lenka dengan segala rencana liciknya untuk membalas dendam. Sudah dipastikan, foto-foto ini akan membuat heboh satu sekolah. Kita lihat saja nanti, batin Lenka tertawa jahat.
.
.
-The End-
