Hope you like this fiction :)
Yang ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kepekaan. Tapi diam-diam, ini bagian yang paling Sehun sukai dari Jongin.
Capture
Pagi ini seperti pagi-pagi biasanya Jongin terbangun dan mandi lebih dulu dari Sehun. Jongin sudah selesai mandi sementara Sehun masih bersantai di atas tempat tidur Jongin sambil memegang ponselnya di tangan kanan dan pengering rambut di tangan kiri.
"Tanganmu kelihatan sibuk sekali ya?" Jongin menghampiri Sehun yang sudah duduk di pinggir tempat tidur mereka lalu duduk dibawahnya. Menunggu Sehun mengeringkan rambutnya, "Aku bisa mengeringkan rambutku sendiri kalau kau mau mandi sekarang Sehunna." Jongin memegang tangan kiri Sehun, mengambil pengering rambut yang dipegang Sehun.
Sehun turun dan ikut duduk berhadapan dengan Jongin. Sehun mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Jongin, membuat Jongin mengernyit bingung. "Apa yang sebenarnya kau lakukan hm?" Jongin bertanya sambil memulai ritual mengeringkan rambutnya.
"Aku sedang merekammu." Sehun menjawab singkat. Sangat berkonsentrasi merekam kekasihnya.
"Untuk apa? Diunggah ke instagram?" Jongin bertanya asal.
Sehun melengkungkan bibirnya ke bawah, "Kenapa kau selalu bisa menebak apa yang ingin ku lakukan sih?"
Jongin mengangkat bahunya, "Tiket menonton film saja kau unggah ke instagram, akan aneh bukan kalau punya kekasih sesempurna aku tapi tidak ditunjukkan pada followersmu?"
Sehun mendengus mendengar jawaban Jongin, "Sebenarnya aku ingin melakukan ini dari dulu, tapi aku selalu lupa."
"Kenapa menungguku selesai mandi? Kau kan bisa mengambil gambarku kapan saja." Jongin bertanya, heran dengan kelakuan kekasihnya ini.
"Wajahmu paling bagus kalau habis mandi, rambutmu yang setengah basah begitu menunjang penampilanmu untuk kutunjukkan." Sehun berhenti merekam dan melihat hasil rekamannya sambil berlalu.
Jongin yang mendengar penjelasan hanya tertawa saja, tapi dia sadar, lalu wajahku yang lain tidak bagus begitu? gumamnya. "Sehuuuun." Geramnya.
"Wajahmu yang lain bagus kok Jong, hanya saja kalau habis mandi sedikit lebih baik." Kata Sehun dari pintu kamar mandi Jongin sambil tertawa.
Mandi Bersama
Jongin mengisi bath tub dengan air hangat dan memastikan suhunya pas untuk berendam, lalu mematikan kran airnya saat volumenya dirasa sudah cukup. Dia mendengar pintu kamar mandi terbuka dan menutup.
"Air hangatnya sudah siap tuan puteri." Kata Jongin menggoda Sehun yang masih mengenakan bath robenya.
Sehun mendengus dan membuka bath robenya lalu masuk ke dalam bath tub dan duduk dengan menyisakan tempat untuk Jongin dibelakangnya. Sehun mendesah lega merasakan kehangatan air menyelimutinya. Sementara Jongin membuka pakaiannya sendiri dan menyusul Sehun. Mereka selalu melakukan ini saat cuaca dingin, seperti musim gugur kali ini.
Sehun membalikkan badannya dan membasuh kepala Jongin. Sehun mengambil shampoo lalu menuangkannya ke tangannya untuk kemudian digunakan pada rambut Jongin. Sehun memijat kepala Jongin pelan, terlihat sangat berkonsentrasi sampai tidak sadar bibirnya terbuka. Jongin yang gemas melihatnya pun mencuri kecupan dari Sehun. "Wajahmu itu kalau sedang berkonsentrasi menggemaskan sekali."
Sehun menghentikan kegiatannya sebentar lalu membingkai wajah Jongin dengan telapak tangannya, "Aku memang menggemaskan setiap saat." Sehun mengecup balik bibir Jongin yang melengkungkan senyum, lalu kembali pada pekerjaannya, meninggalkan busa pada kedua pipi Jongin.
Lama sekali Sehun melakukan itu, Jongin melihat kaca ruang shower yang ada di samping mereka. Melihat Sehun sedang membentuk rambutnya dengan berbagai macam gaya. "Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan Sehun?" Jongin heran, kenapa Sehun selalu punya sesuatu yang aneh untuk dilakukan?
Sehun tersenyum puas pada hasil kerjanya. "Aku hanya ingin tahu, kalau kau berubah-ubah gaya rambut akan tetap tampan atau tidak."
"Lalu kesimpulanmu bagaimana?"
"Mana mungkin kau tetap jadi kekasihku kalau tidak tampan kan?" Sehun menjawabnya dengan pertanyaan.
Jongin tergelak mendengarnya, "Ada-ada saja." Jongin mengambil botol shampoo yang diabaikan Sehun dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Sehun. Melihat apakah Sehun sama manisnya kalau berganti gaya rambut.
Setelah selesai, Jongin beranjak untuk membilas badan di ruang shower sementara Sehun masih menikmati acara berendamnya sambil menyabuni badannya.
Setelah bersih, Jongin keluar dari ruang shower dan memakai handuk untuk menutupi pinggangnya. Jongin membawa selang shower ke tempat Sehun berendam, "Kau sudah terlalu lama berendam. Ayo berdiri."
Dengan malas Sehun menuruti Jongin dan berdiri di dalam bath tub. "Tutup matamu Sehun." Kata Jongin dan lagi-lagi Sehun menurut. Jongin membilas rambut Sehun pelan, lalu membilas badan Sehun memastikan tidak ada busa yang tertinggal atau masuk ke telinga Sehun. "Sudah." Katanya lagi.
Sehun membuka mata perlahan dan mengusap air yang tertinggal di dekat matanya. Jongin menyimpan kembali shower pada tempatnya lalu mengosongkan air di bath tub. Tapi Sehun belum juga beranjak.
"Nanti bisa kena flu kalau tidak cepat mengeringkan badanmu, sana pakai dulu handukmu." Kata Jongin sambil menyiapkan peralatan untuknya menyikat gigi.
"Tuan puteri kan biasanya dipakaikan handuknya." Sehun berkata ringan.
Jongin yang hampir memasukkan sikat giginya ke mulut langsung tertawa dan mengambil bath robe serta handuk kecil milik Sehun. Masih dengan senyumnya, Jongin menghampiri Sehun. Memakaikan bath robenya lalu membungkus rambut Sehun dengan handuk kecil tersebut. "Kenapa kau menggemaskan sekali sih kalau begini?" Lalu Jongin mencuri lagi kecupan dari bibir Sehun yang melengkungkan senyumnya.
"Oh tenang saja, aku akan tetap menggemaskan sampai berpuluh-puluh tahun ke depan." Sehun menjawab dengan nada yang angkuh dan berjalan keluar kamar mandi, meninggalkan Jongin yang tertawa membayangkan Sehun memakai pakaian tuan puteri di luar sana.
Lazy ass
Jam dua siang di hari sabtu yang cerah di musim gugur ini Sehun dan Jongin sedang menonton kembali What's Your Number? film komedi romantis yang dibintangi oleh aktor kesayangan Sehun. The one and only, Chris Evans. Satu kotak pizza ukuran besar dan beberapa kaleng soda kosong bertebaran di bawah kaki mereka, entah kemana janji untuk memakan makanan sehat. Disamping itu ada Vivi, anak anjing milik kakak Sehun yang sekarang sudah resmi jadi anjing mereka, sedang tertidur. Tampak semalas pemiliknya. Sehun menonton dengan serius sementara Jongin memeluk Sehun sambil menciumi leher Sehun.
Layar menunjukkan credit title, menandakan habisnya film yang ditonton. Sehun menghela nafas senang. Menonton Chris Evans selalu bisa memperbaiki moodnya. Sadar filmnya habis, Jongin lalu bertanya pada Sehun, "Mau melakukan apa lagi setelah ini?"
Sehun mengangkat bahu lalu memainkan ponselnya, "Entahlah, aku malas pergi kemana pun."
Jongin mendengus dan bangkit membereskan sampah-sampah yang mereka hasilkan, "Bagaimana kalau kita pergi ke taman, sedikit olahraga sambil mengajak Vivi jalan-jalan." Seolah tahu akan diajak jalan-jalan, Vivi terbangun dan menyalak. Berlari-lari kecil menunjukkan keantusiasannya. Jongin hanya tertawa geli melihatnya.
"Terserah saja." Sehun berkata masih sambil memainkan ponselnya.
Jongin beranjak ke dapur untuk membuang sampah-sampah mereka dan memakaikan peralatan yang dibutuhkan Vivi. Lalu Jongin mengambil jaket Sehun yang tergantung dan melemparkannya pada Sehun. "Cepat pakai. Aku ke kamar mandi dulu." Yang didengar Jongin hanya gumaman Sehun.
Jongin keluar tak lama setelahnya. Sehun masih dengan posisi yang sama, kaki memanjang di sofa dan masih memainkan ponselnya. "Ayo Sehun, kalau terlalu sore nanti akan sangat dingin." Jongin menghampiri Sehun dan menduduki kaki Sehun.
Sehun menarik kakinya cepat dan meletakan kakinya diatas paha Jongin, "Sebentar lagi aku naik level Jong, sebentar saja." Sementara Vivi sudah menyalak tidak sabar ingin jalan-jalan.
"Ku beri tiga menit lagi untuk menyelesaikan levelnya." Jongin berniat menunggu Sehun tiga menit lagi sambil sesekali melempar tulang agar Vivi mengambilnya. Setelah lewat tiga menit yang dihitung Jongin, Jongin melemparkan tulang yang diberikan Vivi agak jauh agar Vivi lebih lama mengambilnya. "Ayo Sehun, tiga menitmu sudah habis." Sehun hanya mengerang sambil tetap memainkan ponselnya. Karena Sehun tidak menunjukkan tanda-tanda akan selesai bermain, maka Jongin mengambil ponsel Sehun dan menyembunyikan di belakang badannya. "Apa aku mendapat perhatianmu sekarang? Waktu tiga menitmu sudah habis, kau bahkan belum memakai jaketmu." Kata Jongin sebal.
"Sedikit lagi Jongin." Sehun merengek sambil berusaha menggapai tangan Jongin yang menyembunyikan ponselnya. Jongin terus mengelak. Jadilah sekarang Sehun duduk di pangkuan Jongin sambil berusaha menggapai ponselnya, dekat sekali.
Sebal karena Sehun yang keras kepala akhirnya Jongin melepaskan ponsel Sehun agar bisa mengunci tangan Sehun dan mencium bibir Sehun. Jongin membuat tangan Sehun berada di pundaknya sementara tangannya berada di kedua sisi pinggang Sehun, mengusapnya perlahan membuat Sehun mendesah dan memasukkan lidahnya menjelajahi mulut Sehun dan berbelit dengan lidah Sehun.
"Guk!" Vivi kembali menyalak, tidak sabar ingin diajak jalan-jalan.
Jongin menarik dirinya dari Sehun yang sedang kesulitan mengatur nafasnya. "Ayo kita pergi. Habis ini kalau kau mau meneruskan yang tadi, kita bisa melakukannya sampai malam." Kata Jongin menggoda Sehun yang sedang memerah wajahnya.
Sehun mendengus lalu bangkit dan memakai jaketnya. Dia memandang Vivi sebal. Kenapa sih dia selalu kalah dengan anak anjing?
This is the last chapter, honestly I'm out of ideas 'cause I made every story based on reality
Thank you for your warm response
See you in my next fiction :)
