Main Chara:
(masih) Gakupo Kamui || Luka Megurine
Genre :
Fantasy || supernatural
Warning:
Masih berusaha untuk menghindari typo, kata kebalik, kalimat ngaco, ataupun secuil ide yang nggak nyambung. Kalau masih menemukan dan reader mengetahuinya, silahkan kirim review kalian ke alamat dibawah ini /woy
Semua nama aneh yang akan muncul di chptr ini (mungkin) nggak akan ada artinya meski dicari pake google translate
Pengurangan words
[+ + +]
Chapter 2
Selama waktu istirahat, Gakupo menggunakan waktu senggangnya untuk berlatih bersama para pengawal. Ia melatih fisik dan kemampuan berpedangnya. Sedangkan Luka yang memang sudah berbadan atletis dan sepertinya ia juga pro dalam hal bela diri, ia lebih menggunakan waktunya untuk bersantai membaca buku seraya menikmati kue kering yang dibawakan oleh para pelayan.
"Luka-sama," seseorang yang memiliki suara khas orang tua membuat gadis itu terkejut.
"Kalau kau melakukannya lagi akan kucungkil pita suaramu.." Inilah Megurine Luka; Seorang gadis cantik berperawakan sempurna bagai putri negeri dongeng dan mulut-preman-pasar-nya. Siapa sangka ternyata ia juga tak segan untuk memaki orang yang sudah membantunya. Ya. Tabib tua datang menemuinya. "Memang ada perlu apa?"
"Bisakah anda ikut saya?"
Luka tidak menjawab. Dalam keheningannya ia berdiri dan menghampiri sang tabib.
Sang tabib tua mengerti. Ia paham kalau Luka telah menjawab ajakannya. "Terimakasih atas pengertian Anda, Luka-sama.. ini mungkin akan menyita waktu Anda.."
[. . .]
Tabib tua membawa Luka melangkah jauh kedalam ruang bawah tanah yang lembab dan tanpa penerangan. Satu-satunya penerangan yang menuntun langkah mereka hanyalah obor kecil -itupun dengan intensitas cahaya yang bisa dikatakan masih jauh dari cukup. Semakin turun kebawah, ruangan itu semakin sempit. Bahkan Luka sempat merasakan sesak didadanya.
"Hei, orang tua! Kau tidak sedang membuatku mati perlahan kan?"
Tabib tua menanggapinya dengan sebuah tawa kecil. "Cobalah untuk bersikap sabar, Luka-sama. Kita akan sampai sebentar lagi."
Benar seperti apa yang dikatakan sang tabib tua. Setelah menuruni ratusan anak tangga, akhirnya mereka sampai didasar ruang bawah tanah itu. Awalnya Luka mengira ia akan kembali meneruskan perjalanan dengan menelusuri lorong bawah tanah seperti gorong-gorong yang ada di desanya. Tapi rupanya hal seperti itu tidak ada.
Diakhir anak tangga hanya terdapat sebuah pintu.
Hanya sebuah pintu besi berwarna hitam dengan tulisan aneh dipermukaannya.
"Masuklah.. kita bicara didalam." Sang tabib meminta Luka memasuki ruangan itu lebih dulu.
Tanpa bertanya lebih lanjut, ia membuka pintu itu dengan cara yang normal seperti pintu-pintu lain pada umumnya. Ia pikir mungkin ia akan kesulitan untuk membukanya-karena pintu itu dilihat dari manapun memang terlihat sangat misterius.
Begitu ia melangkahkan kakinya pertama kali kedalam ruang itu, Luka disambut dengan hembusan angin yang entah darimana datangnya. Ia membuka matanya lebar-lebar dan memastikan sedang berada dimana ia sekarang..
Sebuah ruangan berbentuk persegi bercat putih tanpa noda.
Luka merasa dirinya seperti berada diantara dunia nyata dan ilusi. Gadis itu berusaha untuk berpikir logis. "Bagaimana bisa ada angin di ruangan kecil seperti ini yang letaknya puluh meter dibawah permukaan tanah? Dan lagi.. kenapa di ruangan ini hanya ada kursi taman dan.. jendela?"
"Ini adalah ruangan perbatasan antara bumi dengan dimensi Mytheronomia." jelas tabib tua singkat. "Pintu ini mengarah ke dunia nyata. Sementara jendela itu mengarah ke dimensi yang akan kalian tuju."
"Kenapa kau membawaku kemari?"
"Sesuai dengan aturan yang terdapat dalam Kitab Hitam, Anda diminta untuk melihat keluar jendela itu sebelum melakukan perjalanan sesungguhnya, Luka-sama.."
Luka memperlebar langkahnya demi menggapai jendela itu. Pada awalnya ia merasa begitu antusias, tapi rasa itu hilang seketika setelah ia melihat dunia antah berantah dari balik kaca satu arah yang menempel di dinding ruang itu.
Sebuah dunia hitam.
"Apa yang kau lihat?"
"Rumah iblis."
Tabib tua hanya terdiam dan berusaha untuk tidak berkomentar apapun setelah mendengar dua kata yang dilontarkan Luka kepadanya.
"Apa si bodoh itu tahu soal ini?"
"Tidak, Luka-sama.. Saya hanya memilih Anda melihatnya untuk mewakili salah satu dari kalian. Anda yang lebih banyak tahu soal 'dunia itu' daripada Gakupo-sama. Jadi sudah sepantasnya Anda yang melihatnya." Tabib tua menelan air liurnya. Hati kecilnya merasa waspada. Ia sudah mempersiapkan diri apabila Luka akan mengatainya karena telah banyak bicara dan bertindak tanpa sepengetahuannya.
Tapi sepertinya Luka lebih memilih untuk diam.
"M-menurut anda, apabila Gakupo-sama yang melihatnya, reaksi apa yang akan ia berikan?" sang Tabib berusaha untuk mencairkan suasana karena wajah Luka tampak pucat setelah melihat 'rumah iblis' yang dikatakannya beberapa menit yang lalu.
"Ia pasti panik dan kencing di celana.." Luka menghela nafas panjang dan membalikkan tubuhnya menghadap kearah tabib tua. "Menurutmu apa kemungkinan yang akan terjadi pada kami berdua setelah ini? Apalagi setelah aku tahu yang akan kuhadapi sepertinya bukan sesuatu yang 'main-main'.."
"Sebenarnya ada dua kemungkinan. Yang kau lihat itu tidak salah lagi pasti Diablerios. Kemungkinan pertama, Anda dan Gakupo-sama bisa saja sampai disana untuk pertama kalinya. Tapi itu mustahil karena kalian sama sekali belum mempersiapkan apa-apa."
"Jadi?"
"Kemungkinan lebih tepatnya, mungkin daerah yang kau lihat itu adalah musuh terbesar kalian sebagai seorang Amnour."
"Itu masuk akal. Tapi tunggu," Luka menyela. "Katamu.. kami belum mempersiapkan apa-apa? Apa maksudmu?"
"Hal ini memang tidak disebutkan dalam kitab atau perjanjian apapun. Wajar saja kalau Anda tidak tahu.." tabib tua memainkan janggutnya. " Untuk melawan kekuatan jahat terbesar dari dunia itu, tugas kalian pertama kali adalah mempersiapkan semuanya dengan matang. Kalian membutuhkan bala bantuan."
"Bala bantuan?"
"Anda pasti tahu bagaimana kehidupan disana, Luka-sama." Tabib tua menatapnya tajam. "Untuk orang yang sudah mengetahui inti dari Kitab Hitam seperti Anda, Anda seharusnya tidak perlu menanyakan soal ini kepada saya.."
[. . .]
Berbeda dengan Gakupo yang hidup bahagia dengan keluarganya, Luka hidup dan tinggal bertahun-tahun bersama Gurunya. Masa lalu Luka memang sangat kelam sehingga tidak memungkinkan baginya untuk tinggal bersama kedua orang tuanya. Atas dasar itulah yang membuat ia menjadi wanita yang brutal dan bermulut kasar.
Tetapi hanya kepada Gurunya-lah ia tidak bersikap demikian.
Guru yang sekarang menjadi induk-semang gadis bermulut pedas itu adalah seorang peramal. Sebagai wanita yang lahir dari suku gipsi dan bekecimpung dengan ilmu sihir serta kartu tarrot, ia-bisa dikatakan-tahu segalanya. Termasuk isi dari Kitab Hitam meski tidak secara keseluruhan. Dan Luka yang hidup bertahun-tahun bersamanya, tidak menutup kemungkinan ia pasti sudah mengetahuinya jauh sebelum ia menjadi seorang Amnour seperti saat ini.
"Aku memang sudah tahu apa yang akan kuhadapi.."
Ingatan Luka tentang semua kisah yang diceritakan ibu-tirinya tentang dunia lain diluar bumi tak akan pernah ia lupakan. Tapi yang selalu Luka ingat dan menjadi cerita favoritnya adalah kisah singkat dari negeri bernama Mytheronomia dan pada Sorcerer yang tinggal didalamnya.
Bu, apa Mytheronomia itu?
Mytheronomia adalah nama suatu negeri besar yang meliputi beberapa dimensi didalamnya. Bisa dikatakan, negeri itu adalah sebuah ruang lingkup dari suatu kesatuan dimensi.
Sama seperti kita menyebut bumi dengan benua-benuanya, atau samudra-samudranya.
Seperti bumi yang memiliki lima benua besar, Mytheronomia memiliki sepuluh dimensi; Oierro, Racinevellero, Sorcelleriette, Diablerios, Ogrez, Enferillos, Sanglette, Bleure, Sacrienne, dan Serbelliarous. Diantara kesepuluh dimensi, Sorcelleriette dan Diablerios adalah dimensi yang mencakup ruang lebih besar dibanding kedelapan lainnya.
Lalu.. siapa yang menempati negeri besar bernama Mytheronomia itu?
Bangsa penyihir yang disebut sebagai para Sorcerers. Mereka hidup berdampingan dan saling membantu meski kekuatan mereka berbeda-beda..
Kekuatan mereka berbeda-beda? Apa maksudnya?
Para Sorcerer yang menempati Mytheronomia dibagi menjadi 5 bagian sesuai dengan jenis kekuatan mereka. Dan setiap bagian itu disebut sebagai Region.
Apa itu sama saja seperti kita menyebut 'suku' yang berbeda di setiap belahan bumi?
Benar! 5 region itu adalah Bleurre Shierru yang memegang kuasa atas langit, Jaune Soleille yang memiliki kekuatan dari matahari, Grizz Penzees yang bisa meramalkan kejadian apapun dengan bantuan kabut, Vertelizzer Circulairre yang memiliki kemampuan mengatur kehidupan alam hijau, dan Brunette Arbrello sebagai kebalikan dari kuasa atas langit, yaitu tanah. Itu semua adalah sifat dasar kekuatan mereka. Dan mereka bisa mengembangkan kekuatan mereka dengan melakukan apa saja. Seperti kita yang selalu melakukan pelatihan..
Para Sorcerer itu pasti hidup dalam damai ya, Bu..
Sayangnya tidak semuanya. Ada satu region yang sudah lama dianggap sebagai musuh. Mereka adalah kelompok Roullesanz Reinneros. Kelima region sorcerer itu menyebutnya The Untied Sorcerer karena kelompok itu muncul tiba-tiba dan sifat mereka sangat bertolak belakang dengan kelima region lainnya. Mereka merusak. Menciptakan monster. Dan menghancurkan kedamaian.
Apa mereka tinggal diantara kelima itu?
Tidak. Aku melihatnya kalau mereka membangun dimensi yang kuat di Diablerios..
Dan sepertinya mereka benar-benar memiliki niat yang sangat sangat sangat buruk.
Mereka bisa menghancurkan Mytheronomia kalau begitu! Apa tak ada yang bisa menghentikannya?
Ada. Mereka adalah para Amnour.
Hanya para Amnour yang bisa menghentikan kekuatan hitam The Untied Sorcerer itu dengan bantuan para sorcerer terkuat dari Mytheronomia.
Syukurlah kalau sorcerer dari region Amnour bisa menghentikannya, ya bu!
Luka sayang.. para Amnour bukan sorcerer.
Lalu? Amnour itu siapa?
Para Amnour adalah kita. Para manusia. Salah satu dari kita mungkin memiliki setengah jiwa sebagai Amnour yang sudah ditakdirkan untuk menghentikan kekuatan jahat itu.
Amnour terpilih dengan istimewa.
Bu, apa Amnour itu-
Sayang.. aku bisa menceritakan Mytheronomia kepadamu karena itu cerita negeri dari luar bumi ini..
Tapi kalau Amnour, mereka adalah kita. Aku tidak ingin menceritakan lebih lanjut soal itu.
[. . .]
Mungkin saat itu Luka mengira ibu-tirinya adalah wanita yang setengah pelit informasi. Tapi setelah ia tahu bagaimana rasanya memegang kewajiban sebagai seorang Amnour, ia paham kenapa wanita itu tidak mau menceritakannya.
Kemungkinannya hanya satu..
Ibunya pasti sudah tahu Luka akan menjadi calon Amnour dimasa depan. Itulah mengapa ia membiarkan Luka tahu -dan mungkin itulah mengapa Luka diangkat anak oleh seorang wanita gipsi yang baik hati. Wanita itu membekali Luka dengan informasi soal 'dunia itu' sedini mungkin agar anak angkatnya itu dapat selamat dan kembali ke bumi berkumpul lagi dengannya.
"Ibuku memang tahu segalanya.." tukas Luka membuka sebagian kisah hidupnya dihadapan sang tabib tua.
"Apa ia ibu kandung Anda?"
"Bukan. Dia ibu tiriku."
"Lalu ruh siapa yang disegel oleh para Pyllovu?"
"Ibu tiriku.. -maksudku, dialah orang yang sangat kuhormati. Ia satu-satunya orang yang memberiku hidup. Aku tidak butuh ibu kandungku selama ada wanita itu."
"Aku mengerti." Atmosfer antara Luka dan tabib tua semakin membaik. "Lalu ada dimana Anda saat wanita itu, maaf.. saat ibu angkat Anda bertemu dengan Pyllovu?"
"Daripada bertanya dimana aku saat itu.. bisa dibilang aku sudah mengetahuinya beberapa jam sebelum para Pyllovu mendatanginya. Sebelumnya ia memberitahuku kalau kupu-kupu aneh akan datang dan aku harus segera menemui kalian di kastil ini." untuk pertama kalinya Luka bersikap terbuka pada orang lain selain kepada ibu-tirinya. Entah mengapa rasanya ia bisa bersikap jujur apa adanya dihadapan tabib tua itu. "Dan ia juga menitipkan kertas ini padaku.."
"Apa Anda tidak keberatan saya membacanya?"
"Kau sudah banyak membantuku. Anggaplah kisahku dan isi kertas ini sebagai permintaan maaf karena telah mengataimu, jii-san.."
Tabib tua tersenyum bahagia sekaligus merasa bangga. Dalam hatinya ia merasa berhasil menaklukkan gadis muda bermulut dan berkelakuan seperti preman itu.
Sang tabib menerima secarik kertas itu dan membukanya. Tertulis sebuah kalimat singkat yang ditulis menggunakan tulisan tangan; "Katakan pada mereka kalau kau adalah calon Amnour selanjutnya, Luka sayang.. Ibu menunggumu kembali dalam kedamaian."
Tangan sang tabib bergetar. Dengan cepat ia melipat kertas itu dan mengembalikannya pada Luka. "S-saya ikut menyesal soal itu, Luka-sama. Tapi Anda juga tahu bukan hanya Anda yang merasa kehilangan seperti ini.."
Luka mendengus pelan. "Aku tahu. Untuk itulah aku harus selamat dan kembali kemari.."
"Bukan hanya Anda.. kalian berdua."
"Yah, begitulah! Sayang sekali dalam garis takdirku harus muncul orang bodoh seperti dia." Luka melipat lengannya di dada. "Bekerja sama dengannya? Tsk! Lebih baik aku jadi kuli pengangkut barang di pasar saja.."
[. . .]
Sekembalinya dari ruangan itu, Gakupo terlihat sedang berlari kesana kemari disepanjang koridor kastil seperti orang yang terbakar janggutnya-atau mungkin terlihat seperti bocah yang sedang berlari karena dikejar teman imajinasinya. Tampak bodoh.
Wajahnya terlihat setengah panik bercampur emosi dan keringat bekas latihannya. Ia juga berteriak terus menerus memanggil nama dua orang yang tidak lain adalah tabib tua dan Luka Megurine.
"Lihatlah si bodoh itu mencari kita," Luka menahan tawa.
"Gakupo-sama," Tabib tua bersuara lantang demi mendapat perhatian dari pemuda tampan yang berubah menjadi setengah culun karena sikapnya itu.
"AAH!" Gakupo menyahut dan segera berlari mendekati dua orang yang baru saja kembali dari ruang bawah tanah misterius itu. "Kalian dari mana saja?! Kau! LUKA!" Gakupo menunjuk wajah gadis itu dengan telunjuknya, "Para pelayan bilang kau hilang bersama tabib tua saat sedang mengisi perutmu-"
"Tenanglah, culun! Hilang? Kau pikir kita ini apa? Alien?!" Luka menampik telapak tangan Gakupo sekuat tenaga sehingga meninggalkan bekas berwarna merah diatas permukaan kulit pemuda itu. "Kau ini kenapa, hah?! Tidak biasanya kau bertindak bodoh-keterlaluan begitu!"
Gakupo memutar kedua bola matanya. "Kalau ini bukan karena titah Kaisar, sudi sekali aku mencari wanita setengah monster sepertimu!" Ia membalas mengatainya seraya menggenggam telapak tangannya. "Cepatlah! Kita dipanggil Kaisar sejak satu jam yang lalu."
"Kaisar?" Luka mengulang kata yang dianggapnya begitu memiliki arti agung dan penuh kuasa. Ia berprasangka mungkin ia akan dihukum karena dianggap telah mengabaikan perintah penguasa di tempat ia menumpang tinggal sementara itu.
"Berterima kasihlah padaku, monster. Aku sudah beralasan pada Kaisar kalau kau pergi bersama Tabib tua karena urusan yang menyangkut kehidupanmu sebagai Amnour. Kau selamat."
Luka menatap Gakupo datar yang mengandung arti, "Ayolah, nak! Itu bukan alasan! Itu fakta. Tak pandai berbohong sekali bocah-besar ini.."
"Sudahlah kalian berdua, cepatlah temui Kaisar sebelum ia berubah pikiran.." Tabib tua mendorong punggung Luka dan Gakupo bersamaan.
"Baiklah, kita pergi dulu, jii-san!"
[. . .]
Di dalam salah satu bangsal kastil tempat dimana singgasana Kaisar berada, Gakupo dan Luka menunggu Sang Penguasa itu kembali dari kamarnya. Saat itu mereka tidak sendirian. Para pengawal menjaga mereka ketat dari mulai depan pintu hingga kesemua jendela yang ada dengan arti, pertemuan antara para Amnour dan Kaisar itu hanya boleh diketahui oleh beberapa orang tertentu. Apa yang akan mereka lakukan, apa yang akan terjadi, hanya mereka yang berada disana yang mengetahuinya.
Selang beberapa menit setelah terdengar bunyi pintu geser yang terbuka, Kaisar muncul dengan menggunakan pakaian yukata santai. Agak aneh karena seharusnya sebagai seorang kaisar, ada baiknya apabila tetap berpenampilan sempurna dihadapan siapapun.
Sang Kaisar tersenyum ramah dan menatap Luka untuk sesaat, "Apa urusanmu sudah selesai, Megurine-kun?"
Berita soal betapa kuat-kasar-dan bermulut pedasnya Luka Megurine ternyata cepat sampai ditelinga Kaisar. Hal ini pasti menjadi sebab mengapa sang penguasa agung itu menyebut namanya dengan embel-embel -kun. Dalam arti, penguasa itu pasti menganggap gadis itu macho seperti lelaki pada umumnya!
"M-maaf telah membuat Anda menunggu, Yang Mulia.." sepertinya Luka tidak merasa terganggu dengan sebutan apapun. Ia tetap bersikap sempurna. Bahkan ia sempat menunduk dan meminta maaf atas keterlambatannya.
"Tidak masalah." Kaisar tersenyum. "Sudah kewajiban kalian mencari banyak informasi tentang 'dunia sana' sebelum tengah malam nanti."
"Apa kita benar-benar akan berangkat malam ini, Yang Mulia?" Gakupo tiba-tiba beceletuk seolah ia sedang berhadapan dengan siapa saja yang pernah ditemuinya.
Dimata Luka, nilai sopan santun pria itu sudah pasti NOL BESAR.
"Tentu saja! Malam ini tepat bulan purnama. Akses perjalanan kalian akan terbuka malam ini." jawab Kaisar santai.
Luka menganggap hubungan Gakupo-Kaisar benar-benar sangat aneh. Mereka seolah sudah saling mengenal satu-sama-lain sehingga menghilangkan kesan formal diantara keduanya. Tapi itu tidak akan mengubah sedikitpun rasa hormat Luka pada penguasa itu, "Maaf menyela, Yang Mulia.. tapi sebenarnya ada tujuan apa Anda memanggil kami berdua kemari?"
"Ohohoho~" Kaisar tertawa. "Kau benar.."
Ia melambaikan tangan kearah ruang yang letaknya tak jauh dari singgasananya seolah ia sedang memberi tanda. Lalu tak lama setelah itu muncul seorang pelayan seraya membawa nampan berwarna merah ditangannya.
Baik Gakupo dan Luka tercengang. Sebuah ramuan legendaris yang menurut cerita eksistensinya hampir tidak ada, kini muncul dihadapan keduanya.
"Anggaplah ini hadiah dariku dan jangan bilang apapun pada si tabib itu.." Kaisar menyeringai jail dan meletakkan telunjuknya di bibirnya.
[TBC~~]
ujung(?) halaman~
pertama, SAYA BERTERIMA KASIH SEKALI buat yang udah ninggalin 'Review-san' di chapter sebelumnya. /krn pada awalnya saya kira ff ini nggak akan ada yang baca karena genrenya yang nggak epik *glundungan. Makasih banget loh.. makasih.. berasa dikasih lampu hijau! Itulah kenapa saya memutuskan(?) untuk ngelanjutin ff ini ke chapter selanjutnya.. *nangis pelangi.
Kedua, kalau memang dikasih kesempatan cerita ini buat lanjut -sedih amat, mungkin bakal update sekitar hari jumat-sabtu-atau minggu /itupun tergantung nasib ff ini juga sih mau dibawa kemana *dihajar
Oke.. mungkin itu aja.
Akhir kata,
Siapapun yang baca ini-sampe saat ini, makasih banyak!
