Main Chara:
Gakupo Kamui || Luka Megurine
Character Support:
KAITO
Len Kagamine
Genre :
Fantasy || supernatural || adventure
Warning:
Be careful while reading.. just it!
[+ + +]
Chapter 3
Ramuan yang mereka terima adalah sebuah ramuan yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Kedengarannya memang terlalu sederhana. Namun kandungan dalam ramuan tersebut bukan berasal dari bahan-bahan yang mudah dicari dan proses pembuatannya bisa memakan waktu bertahun-tahun dengan bantuan tangan ajaib para tabib. Itulah mengapa ramuan itu dianggap sangat legendaris dan tak ada orang lain yang dapat menggunakannya selain keluarga kerajaan.
Tapi bagi Gakupo dan Luka itu adalah sebuah pengecualian karena mereka istimewa.
[. . . ]
Gakupo merasa pipinya sedang ditepuk-tepuk, ditepuk dengan keras seperti menggunakan batu bata atau mungkin batang pohon pisang.
Karena tak tahan dengan pukulan yang semakin membuat pipinya merasakan sensasi perih luar biasa, pemuda itu mencoba membuka kedua matanya.
"Siapa?"
"BANGUN, BODOH! Mau sampai kapan kau terkapar di tempat begini?!"
Suara seorang wanita yang ia sebut dengan sebutan 'mulut cabai' terdengar menggema begitu jelas dan semakin jelas. Setelah mengumpulkan semua nyawanya yang sempat hilang untuk beberapa menit, akhirnya ia tersadar dimana ia berada.
Sebuah padang rumput.
"AAAAARRRGGHHHH!" pemuda berambut ungu itu berjingkat dengan memasang wajah panik dan bertariak. "AKU SUDAH MATI! AKU SUDAH MATI!"
Luka yang sebelumnya sempat terkejut karena teriakan yang tiba-tiba itu tanpa segan-segan melemparkan kerikil kecil kearah kepala Gakupo. "BERISIK!"
"L-luka?"Gakupo menoleh kepada gadis itu. "Kau ada disini?"
"Tadinya aku ingin kita berdua bekerja sama," Luka melipat lengannya di dada. "Tapi terpaksa sekali aku harus meninggalkanmu disini sebelum memulai semuanya karena otakmu sudah tidak ada gunanya.."
Gakupo menganga. Ia mencoba mengingat semuanya;
( Ia ingat saat Kaisar memberi mereka ramuan kerajaan, lalu setelah itu mereka kembali melakukan latihan. Tepat tengah malam mereka berdua pergi menemui tabib tua karena sebuah panggilan. Entah pada saat itu ia tersadar atau tidak, ia merasa memasuki portal yang datang entah darimana. Dan didalam portal tersebut hanya ada sebuah lorong hitam. Lalu setelah itu, semua yang ia lihat gelap gulita. )
"Luka, apa aku sempat mengalami kebutaan sementara?"
Luka menghela nafas panjang, "Kau berlari di lorong hitam tak tentu arah karena panik dan terjatuh kedalam arus dimensi. Aku sudah memperingatimu, tapi kau tidak mendengarkanku."
"Arus dimensi?"
"Jadi telingamu itu tidak berfungsi juga ya?"
"Ayolah, Luka! Aku benar-benar tak ingat apa-apa.."
"Bodoh sekali! Si kakek tabib tua itu bilang kita harus berhati-hati ketika memasuki arus dimensi. Tak boleh panik, tak boleh tergesa-gesa, tak boleh penuh rasa penasaran, tak boleh ketakutan, HARUS TENANG! Tapi apa yang kau lakukan?! Berlarian karena panik mengira kau sudah buta dan akhirnya jatuh kedalam arus dimensi dalam kondisi yang DILARANG? Kau ini sebenarnya umur berapa, hah?!" Luka membentaknya habis-habisan. "KAU HAMPIR MATI SEBELUM MEMULAI SEMUANYA TAHU!"
"Oke! Oke! Maafkan aku! Maafkan aku!" Gakupo meminta Luka untuk meredamkan emosinya. Ia tahu semua yang ia lakukan benar-benar sudah merepotkan gadis itu. "Terimakasih sudah mengkhawatirkanku,"
"Terserah. Sekalipun kau mati, aku tidak peduli.." Luka melempar pandangannya dan untuk sesaat ia tak ingin menatap wajah pemuda itu. "Sekarang sebaiknya kita cari bantuan."
Ya, mereka memang harus cepat mengembalikan suasana seperti sedia kala karena mereka sudah berada di tanah Mytheronomia. Baik Gakupo ataupun Luka, keduanya mau tidak mau harus saling bekerja sama untuk dapat bertahan hidup. Apalagi pada saat ini, waktu Mytheronomia sama-sama menunjukkan waktu yang serupa dengan kehidupan di bumi.
Tengah malam.
Suara yang terdengar seperti lolongan serigala hutan terdengar begitu memekikkan telinga sehingga Gakupo hampir menutup kedua telinganya. Mereka berdua paham ada bahaya yang sedang mengancam mereka. Lolongan itu memang terdengar seperti suara serigala, tapi mereka ada di negeri lain, dimensi lain, Mytheronomia. Bisa saja pemilik suara mengerikan itu adalah monster atau bangsa non-human yang berwajah mengerikan dan menguasai ilmu sihir hitam.
"Kita harus cepat pergi dari sini," Gakupo mulai khawatir. "Aku takut katana-ku tidak bisa membelah tubuh mereka jadi dua.."
Luka menyeringai, "Jadi maksudmu kau takut?"
"Takut?" Gakupo kembali mengulangi kata yang Luka ucapkan. Dan ia membenarkannya. "Tentu saja! Aku tidak tahu bagaimana menggunakan kekuatanku dan kemampuanku sekarang hanya bergantung pada ini saja!"
"Jadi maksudmu.. kau tidak tahu cara melakukan ini?" Luka menatap Gakupo dengan penuh rasa kebanggaan diri seraya mengeluarkan sebilah pisau tanpa gagang dari dalam lengannya, -benar-benar dikeluarkan dari kulit lengan kirinya. "Aku bahkan tidak menyentuhnya. Lihat? Ini seperti menerbangkan sebilah pisau dengan sihir. Atau mungkin, bisa kubilang ini memang sihir asli.."
"Bagaimana kau melakukannya?"
Luka melempar pisau itu kearah wajah Gakupo dan memberhentikannya seperti ia memang sudah memerintahkannya. "Aku memanipulasi energiku." Ia tersenyum jail sebelum akhirnya ia menarik kembali pisaunya dan mengembalikannya kedalam kulitnya.
"Memanipulasi?"
"Energi disini sangat kuat, jangan bilang kau tidak merasakannya.."
Gakupo terdiam dan berusaha untuk menenangkan dirinya.
Memang. Dibanding dengan sebelumnya, ketika tenang seperti itu, Gakupo bisa merasakan banyak sesuatu yang tidak terlihat menerpa tubuhnya. 'Sesuatu' itu seolah merasukinya dan menjalar kesetiap tubuhnya. Bahkan ia bisa merasakannya hingga keujung jarinya.
"Perasaan apa ini?"
"Sudah kubilang itu energimu. Kalau di bumi kita butuh makanan untuk mengembalikan energi yang hilang, disini kita tak butuh itu. Terlalu banyak energi yang bisa kita gunakan kapan saja sampai-sampai dapat menggunakannya untuk menciptakan senjata. Disini memang terlalu menarik."
"Bagaimana kau bisa tahu semua itu?"
"Aku mempelajarinya selama menunggumu siuman." Luka kembali memainkan kekuatannya dengan menciptakan beberapa benda tajam dengan bentuk yang berbeda-beda. Ia memang hampir dikatakan sudah menguasainya. "Ini terlalu mudah. Aku tinggal memfokuskan bentuk apa yang kuinginkan, dan.. muncul benda ini dalam sekejap. Terlalu menarik dan mudah sampai-sampai membuatku merinding."
"Jadi maksudmu kita hanya perlu memfokuskan energi dan membayangkan apa yang kita mau?"
"Kurang lebih seperti itu, tapi semuanya juga ada batasnya." Luka memasang wajah yang semua pasti tahu bagaimana rasanya bentuk rasa tidak puas. Ia merasa kecewa. "Aku tidak bisa menciptakan senjata yang lebih besar dari sebuah pisau dan ini sangat menjengkelkan."
Gakupo tidak peduli. Ia tidak begitu tertarik dengan kekuatan atau semacamnya. Ia pikir mungkin ada kalanya ia akan menggunakannya disaat yang tepat. Untuk saat ini yang ia butuhkan adalah tempat istirahat.
"Luka," Gakupo memanggil gadis itu lembut dan cukup untuk membuat Luka kehilangan konsentrasi dan menjatuhkan pisau kecilnya.
"A-apa?!"
"Aku mengantuk dan aku tidak sedang bercanda. Kita butuh istirahat sekarang.."
Luka tahu Gakupo serius. Ia memandang sekelilingnya dan segera mencari beberapa ranting ataupun kayu yang bisa digunakan untuk membuat api unggun. "Malam ini kita tidur disini."
"Jangan bercanda! Ini padang rumput dan tak tauh dari sini ada hutan yang kita tidak tahu aman apa tidaknya,"
"Kau bisa istirahat duluan, aku akan berkeliling memastikan semuanya aman."
"He? Kau baik sekali? Kenapa?"
"Aku bukan orang baik, Gakupo." Luka melemparkan korek api pada Gakupo dari dalam sakunya kemudian menyeringai. "Dan lagi, ini membuktikan kalau aku lebih bertanggung jawab daripada kau."
Gakupo tidak menjawab. Dibanding merasa kesal karena harga dirinya dijatuhkan, ia lebih merasa sedikit bahagia. Itu pertama kalinya Luka menyebut namanya.
[. . .]
Luka membuka kedua matanya perlahan. Meski matahari tidak langsung menyorot kearah wajahnya, ia tetap bisa merasakan kalau waktu untuk bangun sudah datang. Ia melihat ke sekelilingnya, tak ada apapun selain abu bekas api unggun semalam.
Begitupun Gakupo.
Pemuda itu tidak ada dimanapun.
"Gakupo?!" Luka berteriak dan kembali memanggil nama pemuda yang kerap ia sebut bodoh, culun, dan sebagainya. "Gakupo!"
"Berisik sekali sih!" tiba-tiba sosok yang dicarinya muncul dari balik semak-semak dengan membawa beberapa buah dan seorang pria tinggi berambut biru laut.
Pria yang muncul bersamaan dengan Gakupo mengenakan jubah panjang dengan lambang khusus di dada kanannya. Lambang itu selintas mirip dengan bentuk perisai pada umumnya. Lambang itu didasari dengan warna putih agak silver dan biru muda, sama seperti warna rambutnya. Namun anehnya, terdapat pola Phoenix yang bersayap seperti kobaran api dengan warna biru langit. Sangat tidak biasa karena kemungkinan pria itu berasal dari sebuah perkumpulan.
Tapi sepertinya Luka sudah bisa menebaknya.
"Mungkinkah dia itu sorcerer?" benak Luka tertuju pada satu kata itu. Apalagi ia memang sudah hampir mengenal dasar-dasar kehidupan di Mytheronomia. Pria itu tampak terlalu didominasi oleh biru. Rambutnya, jubahnya, bahkan lambangnya. Seolah ia adalah bagian dari langit biru, Luka tahu darimana ia berasal. "Bleurre Shierru?"
"Nah!" Gakupo menyahut dengan mantap. "Aku tahu kau bisa langsung mengenalnya!"
"Dia juga seorang Amnour?!" pria si rambut biru itu tampak kebingungan. "Dan dia tahu aku?"
"Dia tahu segalanya, meski tidak segalanya." Gakupo menimpali ucapan pria asing itu. "Luka, apa kau mengerti bahasa Myhe.. myth,"
"Mythegue." Ia membenarkan kalimat Gakupo. "Bahasa Mytheronomia, Mythegue. Apa kau juga mengetahuinya?"
"Maaf langsung menanyakanmu dengan pertanyaan aneh-aneh, Luka. Aku tahu ini agak terlalu terburu-buru tapi ketika aku menemukan pria ini didalam hutan, ia bicara padaku dengan bahasa aneh dan beruntungnya ia juga bisa berbahasa jepang. Lalu aku membawa ia kemari untuk bertemu denganmu.."
"Tunggu dulu, aku memang tahu beberapa kata tapi apa kau memintaku untuk mengartikan apa yang dia ucapkan, hah? Kau pikir aku ini apa? Kamus berjalan?!" Luka kembali membentak Gakupo seperti biasa. Ia memang sudah kembali menjadi Luka yang biasanya. "Lagipula bahasa jepangnya lancar! Kenapa kau harus repot-repot membawanya kemari?!"
"Maafkan aku, Nona. Tapi aku sebenarnya hanya ditugaskan untuk menjemput sang Amnour sejak kemarin di perbatasan dimensi. Tapi karena suatu alasan, aku harus meninggalkan tempatku dan mencari sang Amnour yang tak kunjung datang." Seperti yang Luka bilang, pria itu memang lancar berbahasa jepang dan ia berusaha untuk menjelaskan kondisinya dari awal. "Sampai akhirnya aku masuk kedalam hutan dan bertemu pria ini, Kamui Gakupo."
Luka menghela nafas. "Memang, aku tahu ini aneh. Kami berdua datang dari arus dimensi tapi diluar dugaanku, pendaratan kami tidak mulus dan ditempatkan disini. Bahkan salah satu dari kami ada yang panik dan pingsan untuk beberapa menit." Luka melempar pandangannya kearah Gakupo seolah berkata, 'Sejak awal, ini semua salahmu..'
Gakupo paham apa arti pendangan menusuk yang Luka berikan itu. "Ah, aku minta maaf sudah merepotkanmu, Kaito.."
"Kaito?"
"Aku Kaito," pria itu akhirnya memperkenalkan diri dan memperlihatkan senyumannya untuk pertama kali. Begitu alami dan berkilauan bagai seorang pangeran. "Seperti yang sebelumnya kau ucapkan, Nona.. aku sorcerer dari region Bleurre Shierru."
"Sudah kuduga," Luka menimpalinya dengan penuh rasa bangga. Seperti biasa, ia yang tahu segalanya selalu lebih unggul dari Gakupo.
"Dan dua orang pengguna Pyllovu?" Kaito menatap Luka dan Gakupo bergantian.
"Megurine Luka, dia partner-ku.."
Dengan secepat kilat Kaito mengubah ekspresinya dan tersenyum tersipu malu. "Selamat ya, kalian berdua! Aku tidak pernah menjemput dua orang Amnour sebelumnya dan sekalinya itu terjadi ternyata.. kalian memang sudah menyatu."
Luka mengerti kemana arah pembicaraan mereka dan tanpa peringatan, gadis itu segera melompat dan mendaratkan tendangan tepat di pinggul Gakupo, si sumber masalah. Pria itu terpental, merintih, lalu tertawa.
Lalu tanpa mengubah ekspresi dinginnya, ia menatap Kaito tajam. "Sepertinya kau salah sangka, Tuan sorcerer." Luka kembali melipat kedua lengannya di dada, pose yang menjadi andalannya. "Kalau kau sampai menganggap ini serius, jubah biru-mu bisa kuubah dengan warna merah, lho! Merah darah.."
Kaito mengangguk beberapa kali dan segera menjauh. Sementara Gakupo tetap tertawa untuk menghilangkan rasa nyeri berkepanjangan.
[. . .]
Sorcelleriette adalah sebuah peradaban. Selintas memang bisa terlihat persamaan antara negeri itu dengan beberapa perdaban maju di bumi. Hanya saja yang membuat perbedaan antara keduanya, kota itu dipenuhi dengan objek-objek yang berterbangan kesana kemari. Hewan campuran sejenis kucing dengan burung yang mengantarkan barang, kardus yang melayang-layang, bahkan manusianya.
Bangunan di Sorcelleriette juga dinilai memiliki nilai arsitektur yang sangat tinggi. Meski bangunannya didominasi oleh bangunan sejenis kayu, tapi semua bangunan itu tampak megah seolah dibuat dengan bahan dasar seperti batu bata dan semen. Tentu saja tidak lupa beberapa ornamen dengan warna dasar biru langit begitu memenuhi setiap sisi jalanan.
Sorcelleriette memang kota bagi kelompok sorcerer Bleurre Shierru.
Saat ini Gakupo dan Luka bisa dikatakan mereka sedang melakukan tur keliling kota. Dengan dipandu oleh seorang profesional bernama Kaito, mereka menikmati setiap langkah dalam perjalanannya.
"Kota ini sungguh luar biasa.." Gakupo mengungkapkan kekagumannya.
Sementara Luka tetap menjaga image-nya untuk tetap tenang meski hatinya bergejolak ingin kesana kemari mencicipi segala macam makanan yang dijual. Sejak bangun pagi itu, ia memang belum mengisi asupan berat untuk perutnya.
"Apa kalian lapar?" seolah menjawab jeritan dari dalam perut Luka, Kaito menawarkan tawaran yang begitu tak terbayarkan. Khususnya bagi gadis yang sudah kelaparan.
"Sebenarnya aku tidak begitu lapar," Jawab Gakupo dengan nada normal. "Tapi kurasa aku harus lebih memperhatikan Luka." Setelah mengatakan itu, ia tertawa kecil. "Buah liar hanya akan bertahan beberapa menit saja, bukan begitu?"
Luka sangat ingin menonjoknya. Bahkan sangat ingin menendangnya, lagi. Tapi kalau ia melakukannya, ia pasti tumbang. "Hanya untuk kali ini.. semoga hanya untuk kali ini.." Luka meredamkan emosinya.
"Sebaiknya kalian tidak menolak hidangan gratis," Kaito tertawa. "Sebentar lagi kita sampai.."
Tidak membutuhkan waktu lama, langkah Kaito terhenti didepan sebuah bangunan yang lebih megah diantara bangunan-bangunan lainnya. "Selamat datang di Headquarter Bleurre Shierru!"
"J-jadi kau tinggal disini?"
"Bukan 'kau', tapi semuanya.." Kaito membuka gerbang dan melangkah memasuki area tempat tinggal sekaligus tempat ia melakukan tugas-tugasnya.
Ketika Gakupo, Luka dan Kaito berjalan melewati beberapa anggota Bleurre Shierru lainnya, hampir semua orang bersikap mengagungkan mereka dan terlihat lebih menghormati Kaito. Berdasarkan apa yang dilihatnya, Luka menyimpan pertanyaan besar didalam kepalanya.
"Siapa sebenarnya Kaito ini?"
"Hey, kenapa semua orang menghormatimu?" tiba-tiba saja Gakupo mempertanyakan apa yang menjadi pertanyaan besar bagi Luka. Dan lagi, pemuda itu menanyakannya dengan enteng.
"Oh," Kaito menggerakkan bibirnya. "Bisa dibilang aku ini wakil ketua, tapi entahlah. Aku merasa biasa saja.."
"WAKIL KETUA?!" baik Gakupo maupun Luka terkejut.
"Sebegitu terkejutnya kah kalian berdua?" Kaito menggodanya. "Nah, aku akan ke kamarku dan mengganti pakaian. Aku akan meminta beberapa rekanku untuk menunjukkan kamar kalian. Kau tahu, wanita akan lebih senang membersihkan badan atau mengganti pakaian kotornya lebih dulu sebelum makan? Mungkin?"
"Ah, aku mengerti.." Gakupo mengangguk.
"Baiklah, kita bertemu sekitar 30 menit lagi." setelah mengakhiri kalimatnya, Kaito segera menaiki tangga dan berlalu kearah lorong yang lain meninggalkan Gakupo dan Luka di aula bangunan yang dipenuhi dengan lambang region mereka.
"Jadi sekarang kita hanya perlu menunggu rekan si Kaito itu datang dan, kamar kita.." Gakupo memperhatikan beberapa ornamen didalam ruangan.
"Kamar kita?" Luka sedikit meledeknya. "Maaf tuan, apa aku tidak salah dengar?"
"Kalaupun kita dapat sekamar, aku tak akan melakukan apapun. Kau pikir aku ini apa?" Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Gakupo menimpali kalimat Luka dengan sedikit emosi. "Sekali saja, jangan terlalu merendahkan orang lain, Luka! Kau akan dibenci."
"Tahu apa kau?!" Luka membentaknya pelan dan kembali memalingkan wajahnya. "Lagipula aku hidup memang untuk dibenci. Apa pedulimu soal itu?"
"K-kau.." Sebelum Gakupo menyelesaikan kalimatnya, seseorang menepuk punggung pemuda itu dua kali.
"Hai!" ucap seorang pria bertubuh pendek berambut kuning keemasan. Kulit wajahnya selintas terlihat begitu kencang dan lembut. Seperti wajah anak-anak. Ia mengenakan pakaian yang terlihat seperti pakaian tradisional dengan dominasi warna abu-abu dan putih. "Aku Len dari region Grizz Penzees." pria kecil itu menyodorkan tangannya dengan memancarkan senyuman paling manis yang pernah mereka lihat.
"Len?" Gakupo meraih tangan Len dan saling berjabat tangan.
"Dan kalian pasti Gakupo dan Luka, benar?"
"Begitulah, dan kau ini Len yang.."
"Ah," pria bernama Len itu tertawa. "Maaf, aku teman Kaigerro dan ia bilang kalian sudah datang. Jadi aku ingin cepat-cepat menyambut kalian begitu saja.."
"Kaigerro?"
"Aduh maksudku, Kaito! Kaigerro adalah nama 'pemberian'-nya. Kalian sebaiknya tidak memanggilnya seperti itu karena ia sangat tidak menyukainya." Len terlihat santai dan bersahabat. Ia tidak kaku dan dinilai lebih cepat menyesuaikan diri dengan orang baru.
"Begitu kah?"
Len mengangguk. "Jadi, kalian mau kuantar ke kamar kalian atau ingin segera makan saja?"
"Tidak, kami berjanji akan bertemu dengan Kaito di ruang makan dalam 30 menit. Akan sangat lancang sekali kalau kami datang lebih dulu sebelum yang mengundang. Jadi, mungkin sebaiknya kami istirahat dulu." terang Gakupo.
"Aku mengerti," Len kembali mengangguk disertai senyuman manisnya. Setelah berbicara dengan Gakupo, Len melempar pandangan ke arah Luka. "Gakupo, bolehkah aku bertanya satu hal?"
"Tentu, apa?"
"Kenapa Nona Luka melihatku seperti itu?" setelah mengutarakan pertanyaannya, entah kenapa wajah Len terlihat agak memerah dan ia bersikap seperti salah tingkah.
Cukup mengejutkan.
Gakupo mendapati gadis itu tengah memperhatikan Len dengan kedua matanya yang berseri-seri..
[ to be continue ]
