Main Chara:

Gakupo Kamui || Luka Megurine

Character Support:

KAITO

Len Kagamine

Genre :

Fantasy || supernatural || adventure

[+++]

Chapter 4

Luka membuka kedua matanya perlahan dan memandang sekelilingnya yang agak kabur. Merasa aneh, ia kembali menutup dan kembali membuka matanya sekali lagi untuk memastikan pandangannya baik-baik saja. Beruntung pada kedipan mata untuk kedua kalinya, semua terlihat normal. Luka menghela nafas dan menenangkan dirinya dengan menggulingkan badannya ke sisi lain. Ya. Gadis itu memang sedang bersantai di atas kasur empuk yang sudah lama tidak dijumpainya.

Baru beberapa menit gadis itu bersantai, ia merasa badannya mulai berguncang pelan. Bukan karena ada gempa atau semacamnya, Luka tahu apa yang mengganggu masa-masa tenangnya.

"Tak bisakah kau tidak menggangguku, dasar perusak suasana!"

"Aku tahu kau lelah, tapi kita sudah telat 10 menit." jawab si perusak suasana yang tak lain adalah Gakupo.

"T-tunggu, telat 10 menit? Apa maksudmu?" Luka bangkit dari kasurnya dan duduk bersila. Gadis itu menatap Gakupo dengan heran. Ia merasa dan ingat tidak sedang dikejar waktu apapun.

"Kita janji bertemu Kaito di ruang makan dalam 30 menit, dan kita sudah lewat 10 menit karena ulahmu." Gakupo mengatakannya dengan hati-hati karena ia sedang tak ingin beradu mulut dengan gadis si mulut cabai itu.

Luka beranjak dari kasurnya dan segera mencuci muka di westafel. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin dan mencoba mengingat kejadian apa yang ia lewatkan.

Ia ingat terakhir ia bertemu dengan Len dan pemuda pendek itu mengantarkan mereka ke kamar yang akan digunakan bersamaan dengan Gakupo selama mereka menetap di Sorcelleriette. Setelah Len meninggalkan ia dan Gakupo di kamar, mereka sempat beradu mulut karena Luka mengira Gakupo akan melakukan hal macam-macam terhadapnya. Dan karena kelelahan dan merasa sangat kesal, ia membaringkan tubuhnya di salah satu kasur.

"Sialan aku ketiduran.." Luka mengatai dirinya pelan. "Kenapa kau tidak membangunkanku?"

"Awalnya kupikir kau memang kelelahan, jadi aku tak ingin mengganggu tidurmu."

"Kau bisa meneriaki aku, kan? Atau mengguncangkan tubuhku seperti tadi? Atau apapun yang bisa kau lakukan untuk membangunkanku! Setidaknya berpikirlah! Apalagi kau tahu kita ada di dunia mana!" Luka bergegas mencari handuk kering dengan membuka beberapa lemari dengan kasar.

Gakupo menghampiri Luka dan menempelkan handuk kewajah gadis itu dengan lembut. Tidak hanya itu, Gakupo juga membantu Luka menggosokkan handuknya untuk mengeringkan wajahnya. "Kau sendiri yang bilang aku tak boleh menyetuhmu sedikitpun dalam hal apapun.."

Luka yang merasakan tangan pemuda itu menyentuh pipinya segera mundur dan menutup wajahnya dengan handuk menahan rasa malu. "SUDAH KUBILANG JANGAN SENTUH AKU, DASAR BEJAT!"

"Aku tidak menyentuhmu.." setelah berkata demikian, suara Gakupo terdengar semakin menjauh hingga akhirnya menghilang.

Luka menurunkan handuknya dan melihat sekeliling. Gakupo sudah tidak disana.

"Cepat ganti pakaianmu dengan pakaian yang kuletakkan diatas kasurku. Aku menunggumu diluar. Kita ke ruang makan sama-sama.." Suara Gakupo terdengar dari balik pintu. "Ruangan ini tak ada kuncinya, jadi cepat dan.. percayalah padaku."

[. . .]

Gakupo dan Luka ditemani oleh seorang pelayan yang menuntun mereka untuk menemukan ruang makan. Sesampainya di ruang makan yang megah itu, terlihat Kaito dan juga Len sudah bersiap menyambut keduanya. Gakupo yang merasa tak enak hati karena sudah telat dari waktu yang ditentukan segera angkat bicara. "Kaito, Len.. maaf sudah lama menunggu." Tukasnya dengan sopan.

"Ada apa? Kalian tersesat?" Tanya Len basa-basi.

Gakupo tertawa kecil. "Yaa, aku kelelahan dan tak sengaja tertidur. Luka tak mungkin membangunkanku jadi ia membiarkanku." Pemuda itu memutarbalikkan fakta agar Kaito dan Len tidak tahu kejadian yang sebenarnya dan kalau sampai itu terjadi, mungkin saja itu akan meruntuhkan kepribadian Luka yang tampak sempurna.

Atas pernyataan Gakupo yang menurut Luka itu begitu sangat menguntungkannya, ia merasa harus berterima kasih. "Ya.. tapi tidak sekarang."

"Wah, kostum baru kalian cocok sekali!" Tukas Kaito kegirangan setelah mengetahui dua tamunya mengenakan pakaian khas Mytheronomia.

"Hn, terimakasih untuk ini." Luka menanggapinya dengan senang seraya mengangkat bagian depan roknya. Ia tahu kostum itu sangat cocok dan pas dengan imej-nya. "Kostum ini sangat cocok dan bahkan nyaman dipakai untuk berlari."

"Itu kostum spesial yang dibuat dengan bahan-bahan pakaian langka. Pembuatannya juga bertahun-tahun, lho! Kostum itu dirancang oleh beberapa penjahit profesional Myteronomia jauh sebelum kedatangan kalian kemari." terang Len dengan penjelasan singkatnya.

"Kalian sudah tahu kami akan datang?" tanya Gakupo polos seperti biasa.

Baik Len dan Kaito menangguk bersamaan.

"Kami akan menjelaskan semuanya setelah makan. Duduk dan cepat makan selagi masih hangat!" tukas Kaito mengakhiri pembicaraan saat itu.

[. . .]

"Jadi.. bagaimana kalian tahu kami akan datang?" Gakupo kembali mempertanyakan hal serupa setelah mereka ber-empat berpindah ke ruangan yang letaknya tak jauh dari ruang makan. Ruang yang mereka tempati saat ini biasa digunakan oleh Kaito dan para sorcerer lainnya untuk merencanakan strategi.

"Aku dan kelompokku yang melakukannya.." Jawab Len dengan mantap. "Kelompok Grizz Penzees adalah kelompok sorcerer yang sering melakukan pengelihatan masa depan."

"Pengelihatan masa depan?"

"Tsk, meramalkan kejadian yang akan datang, bodoh! Mereka menggunakan kekuatan pikiran alam bawah sadar mereka untuk melihat kejadian penting yang akan terjadi kelak di masa depan." jawab Luka pelan.

"Hhh, kau tidak perlu menjelaskannya! Aku sudah tahu!" tembal Gakupo menanggapi jawaban dari Luka. "Lalu Len.. apa kau tahu apa yang akan terjadi pada kita setelah ini?"

"Sayangnya kami tidak melakukan pengelihatan masa depan kalau tidak ada 'celah'. Kami menunggu adanya panggilan untuk melakukan pengelihatan, tidak bisa seenaknya menggunakan kekuatan istimewa seperti yang lainnya. Masa depan adalah rahasia. Baik di dunia kalian ataupun didunia kami, hal itu mutlak."

Gakupo mengangguk. Sejauh ini ia bisa menangkap apa yang Len jelaskan padanya.

"Ada satu yang selalu menjadi pertanyaanku.." Luka menghentikan kalimatnya dan menatap Len dengan gugup. Untuk sesaat ia merasa begitu salah tingkah. "A-aku berpikir, sebenarnya apa yang terjadi disini dan dengan pengguna Amnour yang datang kemari sebelum kami.."

"Apa?! Apa kalian tidak tahu? Apa manusia bumi tidak ada yang menjelaskan soal ini kepada kalian?" tanya Len agak sedikit tidak percaya.

Gakupo dan Luka saling memandang satu sama lain. Mereka berpikir mungkin salah satu dari mereka ada yang sudah mengetahuinya.

Tapi tentu saja tidak.

Tidak ada yang menjelaskan soal itu sejak awal mereka bertemu di kastil hingga sampai saat ini setelah sudah beberapa hari menetap di Mytheronomia. Meski Luka tahu secara garis besar karena kekuatan dari ibu angkatnya, tetap saja itu tidak menjelaskan apapun.

"Baiklah.. sepertinya kalian memang harus tahu kisah ini dari awal." Tukas Kaito seraya merebahkan tubuhnya di sofa dan melipat tangannya.

"Dua belas tahun yang lalu dalam hitungan waktu di bumi, kejadian mengerikan itu terjadi untuk pertama kalinya.. Terbaginya kaum sorcerer, kelahiran Pylovu dan pemilihan Amnour. Sebenarnya dalam Kitab Perjanjian Lama Mytheronomia yang dikenal dengan sebutan Mythelaria, telah disebutkan akan ada suatu masa dimana salah satu dimensi terbesar akan berusaha untuk menghancurkan seluruh negeri.. yang kita ketahui sekarang dimensi itu adalah Diablerios."

"Lalu?"

"Kehancuran ini bermula ketika Diablerios sedang mengadakan pergantian pemimpin. Dua belas tahun yang lalu, Yang Mulia Agung dari Diablerios sebelumnya mengalami Impacze, sekarang kita menyebutnya sebagai orang yang tidak memiliki keturunan, sehingga tak ada keluarga pemimpin yang bisa meneruskan kepemimpinan. Sehingga terpaksa untuk pertama kalinya, ia melakukan pemilihan langsung. Mungkin karena memang sudah ditakdirkan akan terjadi, suatu hari dimana ia masih dalam masa pencarian pemimpin baru, Yang Mulia Agung terpana pada kecantikan salah satu gadis yang termasuk kedalam kandidat dan tanpa pikir panjang ia langsung memilihnya sebagai pemimpin baru."

"Sejak dulu aku selalu menebak gadis itu pasti pakai ramuan aura!" tembal Len tiba-tiba.

"Ramuan aura?" Luka merasa tertarik dengan kalimat yang satu itu.

"Iya! Ramuan yang dicari semua gadis sorcerer dari seluruh penjuru negeri. Ramuan ampuh yang bisa memikat siapapun dengan khasiat membuka aura terdalam sehingga siapapun yang melihatnya akan luluh kedalam genggamannya.."

"Bisakah kalian beri waktu aku melanjutkan cerita? Aku bahkan belum sampai pada intinya.." Kaito merasa jengkel setelah Len memotong kalimatnya.

"Ah, maaf!" Len segera kembali menutup mulutnya dan kembali memperhatikan.

"Terimakasih.. jadi, sampai mana? Ah! Iya, diketahui ternyata gadis itu adalah bagian dari The Untied Sorcerer, si kelompok region sorcerer aneh Roullesanz Reinneros. Dan dibawah pimpinan Yang Mulia Diablerios yang baru dan muda, ia berambisi untuk mendudukan seluruh dimensi dan berusaha menyingkirkan Oierro sebagai dimensi tertinggi di Mytheronomia. Sejak saat itulah, perang terjadi. Dan sampai saat ini belum ada satu sorcerer pun yang dapat menghancurkan kekuatan pemimpin Diablerios itu. Dan.. turunlah titah dari 'Sang Penguasa Tertinggi' untuk meminta bantuan dari dunia manusia."

"Psst, Luka.." Gakupo mengecilkan volume suaranya. "Sang Penguasa Tertinggi itu Dewa kah?"

Luka mengangguk kecil dan menjawab, "Mungkin.."

"Dan sebenarnya aku tak ingin melanjutkannya, tapi kembali ke pertanyaan Luka soal apa yang terjadi dengan pengguna Amnour pertama sebelum kalian.." Kaito menarik nafas panjang, menghembuskannya dengan cepat dan mengubah ekspresi wajahnya. "Pria itu tewas di medan perang. Salah satu pengikut Diablerios berhasil membunuhnya.."

"Ternyata sorcerer juga ada yang sekejam itu.." Gakupo hendak mengepalkan tangannya, tapi Luka segera menendang kakinya dengan maksud agar Gakupo tidak menunjukkan ekspresi apapun.

"Para sorcerer yang berkhianat pada region dan menggunakan kekuatannya untuk saling membunuh bukan seorang sorcerer. Penguasa Diablerios dan pengikutnya adalah iblis." Tukas Len seraya menggigit kue kering yang disajikan pelayan beberapa menit yang lalu. "Mereka bukan bagian dari kita, mereka parasit. Parasit itu harus dibasmi. Dibunuh. Dihancurkan.." Setelah mengatakan hal semacam itu, Len tertawa kecil dan menghancurkan sekeping kue kering seolah yang didalam genggamannya adalah penguasa Diablerios.

"Tapi kalau memang wanita penguasa Diablerios itu adalah sorcerer yang berubah menjadi iblis, tetap saja sebelumnya dia adalah sorcerer, bukan? Pengikutnya yang sesama sorcerer-pengkhianat itu pasti ada."

"Benar. Sejak awal dugaan kami kuat sekali kalau wanita itu tidak sendiri. Dia pasti memiliki tangan kanan yang lebih kuat dari sebelumnya selama kurun waktu 12 tahun ini.."

[. . .]

"Dimensi ini hebat, lho! Aku tidak menyangka aku bisa lihat kehidupan lain seperti ini kalau bukan karena kondisiku sekarang.." Gakupo menghampiri Kaito yang sedang berdiri seorang diri di balkon yang menghadap kearah peradaban. "Yo!"

Kaito menoleh dan tersenyum. "Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu denganmu disaat luang seperti ini, Amnour-sama.."

"Buhh! Berhenti berbicara pakai aksen negaraku begitu, Kaito! Kau sama sekali jauh dari cocok!" Gakupo tertawa. "Oh, wahai wakil ketua Bleure Shierru, justru hambalah yang merasa lebih terhormat.."

"Rasanya jijik sekali melihatmu begitu.." Kaito tertawa. "Kemarilah, temani aku.."

Gakupo kembali melangkahkan kakinya mendekati pemuda yang didominasi dengan warna biru itu. "Kau suka menyendiri atau kau sedang memikirkan sesuatu?"

"Ada sesuatu yang kupikirkan, tapi bukan sesuatu yang penting, kok! Bagaimana hidangan tadi? Kau menyukainya?" Kaito segera mengalihkan pembicaraannya agar Gakupo tidak mengoreknya lebih jauh.

"AH! Semuanya lezat! Tidak kalah dengan hidangan di bumi.."

"Syukurlah.."

"Kau bilang tempat ini tempat tinggal semuanya, tapi kenapa aku tidak lihat sorcerer lainnya? Kemana semua orang?"

"Mereka semua sedang bertugas di perbatasan dimensi sejak semalam dan baru siang ini mereka akan kembali."

"Tidak diragukan lagi, kalian memang terkuat ya."

"Ah, tapi mau bagaimanapun juga Sorcelleriette hanyalah dimensi terkuat. Masalah perlindungan dimensi ini juga sebenarnya masih bisa dibilang kurang." Mata Kaito memperhatikan beberapa warga yang sedang bekerja. Tak jarang juga ia melambaikan tangan dan tersenyum menanggapi beberapa orang yang memangil namanya. "Meski tinggal disini, para sorcerer tidak seluruhnya menjaga dimensi ini. Rata-rata mereka sering ditugaskan menjaga Oierro."

"Dimensi Oierro?"

"Oierro itu bisa dibilang pusat dari semua dimensi. Ibu kota, seperti itu.. Disana terdapat dua orang pemimpin. Pemimpin pertama adalah pemimpin yang memegang seluruh kekuasaan Mytheronomia yang sangat misterius. Ia tidak pernah menunjukkan siapa dirinya kepada siapapun. Tidak ada yang pernah melihatnya." Kaito kembali melambaikan tangannya kearah warga. "Dan pemimpin kedua adalah pemimpin dimensi Oierro sendiri. Dan demi melindungi kedua pemimpin, maka dari itu mereka meminta beberapa kelompok socerer dari beberapa dimensi untuk menambah penjagaan Oierro. Apalagi setelah dimulainya perang ini, keamanan Oierro benar-benar harus ditingkatkan."

"Dewa, yang pemimpin paling tertinggi itu sudah pasti Dewa.." batin Gakupo memantapkan hatinya. Diluar itu, ia tak dapat berkata apa-apa. Semua yang didengarnya tak akan pernah ia ketahui apabila ia hanya menetap di bumi. Antara kagum dan rasa tidak percaya memenuhi pikirannya.

"Nah, Gakupo.. apa kau sudah mengerti bagaimana cara menggunakan kekuatanmu?" lagi-lagi Kaito mengubah arah pembicaraannya.

"Luka memang sudah mengajarkannya padaku. Tapi aku tidak begitu tertarik untuk melakukannya." Gakupo menyejerkan dirinya dengan Kaito dan melipat kedua lengannya di pagar balkon. "Ia bisa memanipulasi energi dan memunculkan senjata yang diinginkannya. Gadis itu terlalu hebat."

Kaito mendengarkan kata demi kata yang Gakupo ucapkan. Memang kalimat yang dilontarkannya lebih terdengar merendah dan seolah pemuda itu tidak ada apa-apanya dibanding gadis seperjuangannya itu. "Aku rasa kau lebih kuat darinya.."

"Ah, aku tahu kau hanya berusaha untuk membuatku merasa lebih baik. Aku terkesan. Terimakasih.."

"Tidak, sungguh! Kau memang lebih kuat darinya. Sebenarnya kau juga tahu itu, kan?"

Gakupo menatap Kaito sesaat, -entah karena merasa kata-kata Kaito yang tepat sasaran atau karena tidak megerti kemana arahnya, lalu tertawa. "Entahlah, aku sendiri tidak mengerti. Tapi kalau kau bilang begitu, terimakasih Kaito!"

Melihat Gakupo yang tersenyum dan berterimakasih padanya, Kaito sedikit merasa tersanjung. Pemuda yang baru ditemuinya itu ternyata mudah diajak bicara. Bahkan ia berpikir mereka bisa menjadi teman baik.

"Aku pasti membantumu, Gakupo! Maka dari itu.. berjuanglah!"

Tak lama setelah Kaito mengucapkan kalimatnya, seorang bawahan tiba-tiba berlari kearahnya dan berbicara dengan bahasa Mythegue yang sama sekali tak Gakupo ketahui. Kaito terlihat mengangguk dan tertawa. Ia juga terlihat memberikan perintah sehingga bawahannya itu segera pergi meninggalkan kedua pemuda itu di balkon.

"Ada apa?" tanya Gakupo.

"Kabar baik! Ada undangan untuk kalian," tukas Kaito dengan gembira. "Kau dan Luka diundang untuk datang ke Oierro besok siang!"

[to be continued...]