Main Chara:

Gakupo Kamui || Luka Megurine

Character Support:

KAITO

Len Kagamine

Rin Kagamine (appeared in the end of this chptr)

[+++]

Chapter 5

Sama seperti sebelumnya, Gakupo, Luka, Kaito, dan Len kembali berkumpul.

Kali ini mereka berkumpul untuk membahas perintah yang belum lama turun itu. Beberapa menit yang lalu, saat Kaito sedang berada di balkon bersama Gakupo, ia memang meminta seseorang untuk menyuruh Luka dan Len bertemu. Jelas sekali pada saat itu mereka sedang berada di ruangan yang terpisah.

Gakupo dengan Kaito.

Luka dengan Len.

"Aku tahu aku meninggalkan Luka sendirian selama bersama Kaito di balkon, tapi apa karena kutinggal Luka jadi seakrab itu dengan Len?" batin Gakupo bertanya-tanya. Untuk pertama kalinya ia merasa aneh dengan sikap Luka terhadapnya. Luka ia pelajari selalu duduk disebelahnya. Tapi kini urutan duduk itu berpindah secara drastis. Gakupo-Kaito-Len dan Luka.

Disamping itu, Luka terlihat lebih membuka diri dengan Len. Gadis itu tertawa, tersenyum, berbisik bahkan menyodorkan teh kepada pemuda pendek berwajah shota itu.

"Wah?! Kalian ternyata akrab ya!" celetuk Kaito tanpa pikir panjang.

Luka hanya tersenyum kecut dan Len hanya mengangguk. Tidak ada jawaban khusus.

"Jadi apa yang akan kita bahas kali ini?" Gakupo segera mengalihkan pembicaraan karena ia tak ingin melihat ekspresi apapun yang akan Luka tunjukkan lebih jauh kalau pertanyaan semacam itu terus menerus menghantam gadis itu.

"Kau benar, kita harus membahas soal ini.." tukas Len mengubah mimik wajahnya dan membuka beberapa gulungan.

"Apa itu?"

"Titah dari Yang Mulia Oierro." Len membuka salah satu gulungan. Ia membacanya dan tak lama setelah itu ia merobek gulungan itu dengan kasar. Membuangnya ke tepi sofa dan mengacuhkannya. "Ck, anak itu.." bisiknya seraya menggigit tepi bibirnya.

"Titah dari Yang Mulia?" Gakupo merasa heran dengan sedikit menggoda pria pendek itu.

"Maaf, yang satu itu bukan." Dengan cepat Len meraih gulungan yang kedua. "Ini baru benar.."

"Jadi apa isinya?" Tanya Luka seraya melirik robekan-robekan gulungan yang berserakan di lantai. "Apa sesuatu yang pen-ting?"

"Seperti yang dikatakan Kaito, perintah ini tidak lebih hanya berisi keinginan Yang Mulia untuk bertemu kalian. Dan disini juga tertulis kalian akan dibekali oleh beberapa 'perbekalan khusus', jadi sebisa mungkin kalian harus segera tiba disana sebelum tengah hari.." Jelas Len membaca gulungan yang benar kala itu.

Kaito mengerutkan dahinya. "Lalu bagaimana denganku, Len? Apa tugasku selesai sampai disini?"

Gakupo segera mengalihkan wajahnya kepada Kaito. Ia tidak menyangka kalau Kaito tidak akan melanjutkan perannya. "S-serius?! Apa tidak ada tugas lain untuk Kaito?"

Len membuka gulungan lain dan menggeleng. "Gulungan lain hanya berisi permintaan beberapa anggota tambahan untuk berjaga di perbatasan dimensi. Tidak ada bagian dari gulungan ini yang menyangkut namanya."

"Lihatlah baik-baik! Tak mungkin orang penting seperti dia tidak ikut terlibat dalam hal ini, Len!" tukas Gakupo setengah memaksa.

"Sudah kubilang, aku tidak menemukan apapun tentang Kaito disini.."

"A-apa?!"

Kaito segera menahan Gakupo dengan memegang lengannya. Ia tersenyum dan berkata, "Sudahlah, tidak apa-apa.."

"Cih!" Gakupo melempar pandangannya ke arah lain dan segera beranjak dari sofa. Derap langkah kakinya terdengar dengan jelas. Kedua tangannya mengepal. Ia meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa. Suasana hatinya benar-benar buruk.

"Apa dia marah padaku?" Len merasa bersalah meski ia tahu ia tidak bersalah. Semua gulungan yang ia terima memang langsung dari Yang Mulia. Jelas sekali ia hanya membaca dan menerjemahkannya, bukan yang membuatnya.

"Aku baru melihatnya sekesal itu.." Kaito melipat kedua tangannya di dada, tersenyum kecil dengan santai seolah ia mengerti sesuatu. "Hanya karena aku yang tidak diikutsertakan, apa ia harus bersikap begitu?"

Luka yang sejak tadi hanya memperhatikan, sebenarnya ia juga merasa aneh. Ia memang pernah melihat Gakupo merasa kesal, tapi tidak pernah sampai bersikap seperti itu dan meninggalkan mereka. Bentuk kekesalan yang Gakupo ungkapkan tadi sangat tidak masuk akal.

"Aku harus mengejarnya.." Tukas Luka yang tiba-tiba berdiri dan berlari keluar ruangan.

[. . .]

"Heh, idiot! Mau sampai kapan kau bersikap bodoh seperti itu?"

"Berisik! Urus saja sana urusanmu!"

Luka menatap punggung Gakupo yang tidak menolehnya meski sudah disapa dan tetap memandang langit seperti orang bodoh yang berharap bisa terbang dari balik pagar balkon.

Sebenarnya ia akui kalau mengkhawatirkan orang lain memang bukan sifatnya, tapi entah mengapa melihat sikap Gakupo yang terlalu berlebihan itu benar-benar sangat mengganggunya. "Ini urusan kita, kau dengar?!"

"BERISIK! Aku sedang ingin sendiri, PERGILAH!" Gakupo membalikkan badannya dan menatap Luka dengan emosi.

Merasa tertantang karena dibentak, Luka mendekati Gakupo dan membalasnya dengan mengangkat kerah bajunya. Gadis itu juga sedikit mengangkatnya sehingga Gakupo terpaksa harus berjinjit agar lehernya tidak tercekik. "Hanya karena Kaito yang tidak ikut bersamamu ke Oierro, kau sampai bersikap begini?! KAU INI KENAPA, HAH? Pecinta sesama jenis?!"

"Konyol! Kau pikir aku emosi karena siapa?" Jawaban Gakupo terdengar tak masuk akal. Ia menyeringai dan tertawa dengan suara berat dan menyeramkan seperti bukan dirinya.

*Bukk!*

Sebuah pukulan hebat mendarat dan meninggalkan bekas memar yang cukup jelas di pipi pemuda yang kini terkapar di lantai balkon.

"Haah.." Luka menghela nafas dan meregangkan otot lengan kanannya. "Aku menyesal menaruh perhatian pada orang gila sepertimu. Menjijikan!" Setelah mengatakan kalimatnya, ia membalikkan badan dan berlalu meninggalkan korbannya seorang diri.

Untuk sesaat, pipi Gakupo berasa mati rasa. Ia sedikit merasa kesulitan untuk membuka rahangnya. Ia sadar. Pukulan Luka kali ini benar-benar serius dengan maksud ingin mencelakainya, ingin membuat pemuda itu merasakan rasa sakit sesungguhnya.

Tapi disisi lain, ia juga merasa lega.

"Aku datang dengan obat luar dan perban. Kurasa kau membutuhkannya.." Ia mendengar suara seorang pemuda yang ia kenali dari arah depan.

"Apa kau mendengar aku menjerit memohon pertolongan, Kaito?"

"Aku mendengar jeritan dari dalam tubuhmu." Kaito segera menyiapkan obat dan memotong kain perban. "Maaf harusnya aku segera keluar dan menahan Luka tadi.."

"Kurasa tidak perlu, shhhhh!" Gakupo menahan kalimatnya. "Aku memang butuh sentuhan kepalan tangannya. Ow!"

Kaito mengangguk. "Memang,"

"Jadi sepertinya kau membaca isi hatiku, ya?"

Kaito tertawa,"Sejak pertama kita kumpul di ruang itu kau sudah bertindak aneh. Ini semua karena sikap Luka didepan Len itu, kan?" Godanya seraya menempelkan perban yang sudah diberi obat di pipi Gakupo dengan hati-hati. "Bagaimana sekarang? Lebih baik?"

"Sssh! Cukup. Rasanya rahangku benar-benar copot." Nyeri yang ia rasakan benar-benar menyakitinya. "Soal itu sebaiknya kau diam-diam saja."

"Bahkan Luka?"

"Bahkan Luka.." Gakupo mengangguk. "Entahlah sejak kapan aku jadi tertarik padanya.. sial!"

[. . .]

Keesokan harinya beberapa jam setelah fajar menyingsing, Gakupo, Luka, Len dan Kaito turun dari kereta yang ditarik dengan hewan mutant, -percampuran antara kuda dengan kambing gunung, membawa mereka kesebuah tempat yang jauh dari peradaban. Kini mereka sedang dalam perjalanan mengunjungi pusat dari seluruh dimensi, Oierro.

Kaito yang sebelumnya dipastikan tidak ikut dalam perjalanan, akhirnya apa yang Gakupo harapkan terkabul. Entah karena faktor apa, gulungan yang berisi perintah khusus untuk Kaito datang terlambat. Dalam gulungan terakhir itu tertulis Kaito dipanggil khusus oleh Yang Mulia Oierro untuk mengikuti rapat strategi.

Meski Kaito akhirnya bisa ikut dalam perjalanan, tapi tetap saja itu tidak menyelesaikan masalah antara Gakupo dengan Luka. Sampai saat ini, khususnya Luka masih terlihat sangat berselisih bahkan sampai tak ingin melihat teman seperjuangannya itu sama sekali.

Suasana berat dan suram seolah menyelubungi keempatnya.

"Yaaa akhirnya kita sampai di perbatasaan~" tukas Len dengan nada riangnya. Sejak awal keberangkatan, ia memang mencoba untuk memperbaiki suasana. Tapi sayang hal itu hanya bertahan beberapa menit saja hingga akhirnya suasana akan kembali suram.

"Apa ini Oierro?" tanya Gakupo keheranan dengan apa yang dilihatnya.

"Bukan, ini perbatasan. Batas yang kalian lihat seperti dinding ini sebenarnya hanya selaput bening. Kami menyebutnya Sant Varr-erre. Batas yang kami -para sorcerer buat selama berjaga untuk melindungi dimensi ini dari energi negatif yang berasal dari luar." Kaito menyentuhkan telapak tangannya ke dinding dan seketika saat itu juga menghilang seolah telapaknya terlepas dari tubuhnya. "Kalian pasti sudah terbiasa dengan sihir seperti ini, kan?"

"Wow, keren!" Mata Gakupo berbinar. Ia segera menghampiri Kaito dan melakukan hal yang sama. "Jadi energi negatif macam apa yang kalian hindari sampai-sampai membuat pelindung seperti ini?"

"Dibalik Sant Varr-erre ini ada sebuah lorong dimensi. Kalian juga pasti pernah memasukinya sebelum datang kemari, kan?" Tanya Len seraya menurunkan barang-barang bawaannya.

"Jadi ini sama seperti kami berada di lorong hitam yang mengarah ke arus dimensi itu?"

"Lorong dimensi yang berada di dalam Mytheronomia tidak hitam. Kau pasti akan terkejut kalau sudah melangkahkan kaki kedalam sana." Tukas Len mengakhiri pembicaraan. "Nah, bersiaplah! Kalian bisa menggunakan kekuatan kalian kalau bahaya mendekat. Ayo maju!"

Dengan aba-aba dari Len sekaligus yang menjadi pemimpin perjalanan, mereka melangkahkan kaki menembus Sant Varr-erre. Sama seperti membuka pintu atau gerbang untuk menuju ruangan lain, ternyata pelindung itu memiliki fungsi yang serupa. Baik Gakupo ataupun Luka yang baru pertama kali melewatinya sama sekali tidak merasakan apa-apa. Hanya saja dalam hitungan detik, suasana sekitar sudah berubah dengan cepat.

Berbeda dengan lorong dimensi yang mereka lewati sebelumnya, -bernuansa hitam dan berhasil membuat Gakupo merasa dirinya buta, lorong dimensi yang kini mereka datangi terlihat seperti hutan. Menyeramkan dan mencekam.

Gakupo merasa diawasi. Matanya tak bisa berhenti melihat sekeliling.

"Apa hanya aku atau kalian juga merasa diawasi?" tanya Gakupo memastikan dirinya tidak gila.

"Memang." jawab Len singkat-padat-jelas.

"Tak ada yang merasa aman selama berada di sini, Gakupo. Wajar saja kalau itu membuatmu sedikit merasa diawasi.." sambung Kaito kemudian.

"Sedikit? Aku merasa banyak mata menusukku dari belakang!"

"Jangan panik dan jalan saja! Level 'mereka' jauh dibawah kita.."

"Mereka?! Siapa yang kau sebut mereka?!"

*SRAK! SRAKK!*

Tiba-tiba terlihat sebuah bayangan hitam melintas dari batang pohon ke batang yang lainnya. Pergerakan mereka sangat cepat bahkan bisa dibilang sulit untuk terdeteksi.

Gakupo mulai panik. Meski Kaito sempat mengatakan untuk tidak panik, sekujur tubuhnya hampir merinding. Sesekali ia memberanikan diri untuk menatap Luka. Berharap gadis itu sama ketakutannya sehingga mereka mungkin bisa berbaikan lagi.

Tapi tentu saja tidak.

Pribadi Luka yang gesit membuat gadis itu seolah tak pernah merasa takut dalam segala kondisi. "Ya, anak itu cukup membuatku terkesan ketika pertama kali ia membabat habis pengawal yang berusaha menghalanginya. Dia sangat keren.." batin Gakupo seraya menatap punggung Luka yang berjalan didepannya.

Sedikit demi sedikit rasa gelisah Gakupo menghilang ketika semakin jauh ia membayangkan Luka dalam benaknya. Meski kasar, gadis itu peduli padanya. Bahkan kemarin ketika gadis itu meninjunya, jujur saja Gakupo merasa tertolong. Ia tahu ia hanya perlu jujur. Hanya saja ia tidak bisa. Itulah yang membuatnya kesal sehingga bertingkah konyol dan membuat Luka membencinya.

"Aku ini memang bodoh sekali, ya.." bisik Gakupo.

"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan," bisik Kaito tepat ketelinga kirinya. "Luka terlihat lebih baik kalau dilihat dari belakang, kan? Dia seksi.."

"K-kau!" Gakupo membentak Kaito dan bersamaan dengan itu, sesuatu datang mendekat dari jarak beberapa meter dihadapannya.

Semakin dekat dan semakin dekat.

'Sesuatu itu' berlari dengan dua kaki dan tangannya bergerak dengan bebas di udara, seperti orang pedalaman yang gila atau hewan yang terkena rabies. Hanya saja semakin mahluk itu mendekat, wajahnya semakin terlihat menyeramkan.

Dengan cepat dan tanpa merasa takut sama sekali, Gakupo mengeluarkan katana-nya. Melempar tubuh Kaito kesisi dan bergerak menuju 'makhluk aneh' itu seolah ia siap menyerangnya. Hanya tinggal beberapa meter lagi makhluk itu siap menyerang Gakupo dengan cakarnya, dengan mudah pemuda itu mengayunkan katana-nya dan membelahnya menjadi dua bagian. Setelah membunuh satu, Gakupo tidak berhenti. Ia bergerak ke sisi lain dan kembali mengayunkan senjatanya. Ia menghancurkan sekumpulan semak belukar, membabi-buta, dan berhasil menebas dua jenis mahluk serupa dengan sebelumnya. Setelah memastikan ketiga makhluk itu mati, ia memasukkan katana-nya kembali seperti sedia kala. Pertarungan itu terjadi begitu singkat.

Untuk pertama kalinya, Gakupo memperlihatkan kekuatannya.

Sosoknya yang culun dan selalu pantas dikata bodoh atau idiot seolah hilang dari pancaran wajahnya. Tatapannya kini tajam dan auranya seperti seorang pembunuh.

"Sudah kubilang ia kuat, Len.." Tukas Kaito yang sejak tadi memperhatikannya.

"Apa kau sengaja membuatnya seperti itu?" tanya Len setengah berbisik.

Kaito mengangguk. "Aku tahu soal Ogre itu dan kubiarkan dia yang membunuhnya.."

"Jadi kau setengah menelitinya? Secara diam-diam? Didepan Amnour yang lain?" nada Len terdengar sinis. Ia tahu tindakan Kaito tidak salah, hanya saja jujur seperti itu didepan Luka bisa memberikan dampak yang kurang baik.

"Sudah tugasku." Jawab Kaito enteng. "Lagipula saat ini Luka juga tidak begitu peduli padanya, kan?"

Luka membuang muka. Meski dibilang ia tidak peduli, sejujurnya ia juga sangat ingin tahu bagaimana Gakupo menggunakan kekuatannya. Hanya sekedar tahu. Selanjutnya, mungkin ia akan kembali bersikap acuh.

"Berilah ia pujian saat ia kembali, Luka. Aku tahu kau terkesan dengan aksinya tadi.." goda Kaito setelah menyadari Luka telah berbalik dan memunggungi ketiga temannya yang lain. "Matamu hampir berbinar. Kau tidak menyangka ia akan sekuat itu, kan?"

"Len, ayo jalan.." Luka kembali melangkahkan kakinya dan meminta Len kembali memimpin jalan.

"T-tapi, Gakupo sepertinya ia masih dalam pengaruh kekuatannya. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan kalau ia masih seperti itu," jelas Len.

"Jalanlah duluan, temani si nona keras kepala itu." tukas Kaito seraya mencari dahan untuk ia duduki. "Aku akan menunggu Gakupo kembali ke versi aslinya. Ini tidak akan lama. Kami pasti menyusul.."

[. . .]

Gakupo bisa merasakan seluruh tubuhnya dingin, basah, dan setengah melayang seolah ia sedang berada didalam tabung yang berisi air. Ia berusaha menggerakkan kesepuluh jari tangannya untuk memastikan seluruh syarafnya bekerja dengan baik seperti yang ia inginkan. Setelah memastikan tangannya baik-baik saja, kini ia beralih untuk membuka kedua matanya.

"Apa?"

"Kau sudah bangun?" Tanya Kaito dengan suara samar-samar dan bayangan tubuhnya tampak bergerak. Berbayang, seolah pria itu berada di dasar laut.

Gakupo membuka kedua matanya lebar-lebar dan menatap sekelilingnya. "Aku dimana?"

"Maaf, kau sudah kembali ke asalmu, kan?" Kaito menjentikkan jarinya dan seketika itu pula tubuh Gakupo terjatuh ke tanah dengan posisi kedua kakinya berdiri seperti sedia kala. "Kau baik-baik saja?"

Dahi Gakupo mengerut. Ia menggerakkan kedua tangannya, menelusuri seluruh anggota tubuhnya. Rambut, pipi, leher, dada, pinggang, paha, semuanya terasa biasa saja. Sensasi dingin dan basah yang ia rasakan tadi seolah hilang begitu saja. "Aku kenapa?"

"Serius? Apa kau tak ingat apapun?" tanya Len.

"Aku ingat saat membunuh tiga mahluk aneh, lalu setelah itu Kaito meneriakiku. Mungkin sejenis mantra. Lalu ada cahaya yang menghantam tubuhku, lalu begitu terbangun rasanya seperti sedang tenggelam. Anehnya aku bisa bernafas dan menjawab pertanyaan Kaito."

"Berarti kau mengingat semuanya," Kaito bertepuk tangan. "Maafkan aku, aku memang merapalkan mantra khusus untukmu."

"HAH? Memangnya aku kenapa?" Gakupo bertolak pinggang setengah memelototi Kaito.

"Dengar," Kaito menepuk dada Gakupo dengan kencang sehingga pemuda itu mundur selangkah. "Memang selama kau menggunakan kekuatanmu sebagai Amnour tidak ada halangan apapun hingga kami sempat merasa tercengang dengan kehebatanmu. Tapi Tuan Muda, aku tidak ingin ditinggal Len dan Luka sendirian di tengah lorong dimensi bersama Ogre-ogre menyedihkan. Bukannya aku takut, tapi menunggumu kembali ke sosok aslimu itu LAMA SEKALI. Jadi terpaksa aku merapal mantra khusus yang akan membantumu stabil. MENGERTI?!"

"Oh.." Gakupo menurunkan alisnya dan memberikan cengiran lebar yang menandakan 'oke baiklah,'. "Terimakasih untuk-"

"LEN!" sebelum Gakupo melanjutkan kalimatnya, suara seorang gadis yang terdengar begitu nyaring mendekat dari arah lain.

"RIN?" mata Len melotot seolah kedua bola matanya hampir copot. Melihat sosok yang sangat dikenalnya, ia justru merasa gadis yang memanggil namanya itu muncul disaat yang kurang tepat.

Gadis yang dipanggil Rin itu berlari kearah Len dengan tergesa-gesa, melompat kearahnya, dan memeluknya hingga keduanya jatuh ke tanah saling tindih. Kedua lengan Rin memeluk leher Len dengan erat seolah ia tak akan melepaskannya. Melihat hal itu, Kaito dan Gakupo justru memandang tingkah laku mereka dengan wajar.

"Tak aneh, pacarnya.." batin Gakupo menyimpulkan sendiri apa yang dilihatnya.

Tapi tentu saja Luka tidak merasa nyaman dengan apa yang dilihatnya. Sebagai seorang wanita yang baru saja mengakrabkan diri dengan seorang pria, pastinya ia merasa seolah ada kerikil yang baru saja menyentil hatinya. Dan melihat kejadian pria kecil itu dipeluk dengan erat oleh wanita yang sama kecilnya, Luka justru terlihat agak geram.

Len dan Rin benar-benar serasi.

"S-siapa cecunguk centil itu?" Luka terus menerus mengatai Rin dari dalam lubuk hatinya.

"Hn?!" Rin memalingkan wajahnya dan menatap Luka tajam. Lalu seketika itu juga ia kembali menatap Len dan berbicara dengan bahasa daerah mereka, Mythegue.

Kalimat yang dilontarkan Rin kepada Len terdengar sinis dan seolah banyak unsur negatif yang keluar dari mulutnya. Lalu ditambah lagi ekspresi Len yang tiba-tiba canggung dengan wajah yang agak memerah.

Percakapan mereka tentu saja tak akan dimengerti baik Luka ataupun Gakupo. Tapi tentu saja tidak bagi Kaito. Mendengar kata-kata Rin, Kaito justru menutup mulutnya rapat-rapa dan menggembungkan pipinya. Menahan tawa.

"Ada apa?" Gakupo berbisik ke telinga Kaito.

"Dengar, Rin tadi mengatai Luka.." jawab Kaito dengan cengiran yang ditahan. "Dia bilang.. dia bilang.. 'k-kenapa gadis berdada besar itu melototiku? Angkuh sekali! Aku tahu miliknya lebih besar dari milikku, tapi kau jangan terlalu dekat dengannya', haha..bhaahaha.. aduh maafkan aku,"

Bersamaan dengan meledaknya tawa Kaito, Gakupo juga ikut mentertawakannya.

"Tapi ketahuilah, bertemu dengan Rin disaat seperti ini bisa jadi bencana, lho!" Kaito menghentikan tawanya dan menatap Rin dengan seksama.

"Apa maksudmu?" mendengar kalimat Kaito yang terdengar serius, Gakupo ikut menghentikan tawanya perlahan-lahan.

"Rin itu.. dia sangat membenci Amnour.."

[To be continued..]