Main Chara:
Gakupo Kamui || Luka Megurine
Character Support:
KAITO
Len Kagamine
Rin Kagamine
[+++]
Chapter 6
"Rin? Membenci amnour?" Gakupo kembali mengulang kalimat yang Kaito ucapkan sebelumnya dengan penuh curiga. Selama yang ia ketahui, kedatangan mereka ke Mytheronomia justru akan membawa kebahagiaan. Mereka akan membantu negeri untuk memerangi musuh terbesar dari bagian lain bumi ini, jadi sudah sewajarnya semua orang pasti akan menyukai siapapun Amnour yang datang.
Tapi kenapa gadis yang satu itu tidak?
"Jadi... apa kau tahu alasannya?" Tanya Gakupo setengah berbisik pada Kaito yang sejak tadi hanya memperhatikan tingkah Rin dari posisinya.
"Itu tidak begitu penting. Malah kupikir bisa dibilang alasannya terlalu konyol.." jawab Kaito seraya berjalan mendekati Len dan mengulurkan tangan untuk membantu pria kecil itu berdiri. "Hei, tulang punggungmu baik-baik saja?"
"Ya! Sssshhh, rasanya seperti ditindih.." Len menerima uluran tangan dari Kaito dan berterimakasih padanya.
"(Apa?!)" Rin mendengus kesal seraya bertolak pinggang. "(Kenapa kalian semua pakai bahasa mahluk bumi?!)"
"(Sebaiknya kau bersihkan rokmu sebelum membentak kami dengan nada tinggi-cemprengmu itu, Rin.)" ejek Kaito dengan senyum-menyeringainya yang khas.
Mendengar ejekan Kaito yang tiba-tiba itu, Rin kesal dan menepuk-nepuk rok pendeknya tak karuan. "(Sangat langka melihatmu ada disini, kepala biru!)"
"(Hn! Aku bisa berada dimana saja tanpa harus memberitahumu lebih dulu.)" Jawab Kaito setengah menahan emosi setelah dipanggil 'kepala-biru' oleh Rin. "(Dan lagi, terimakasih soal sebutan itu. Andai saja kau bukan calon-masa depan-pendamping Len, mungkin aku sudah membuangmu jauh kedalam jurang tak berdasar.)" Kaito merasa terganggu dengan kehadiran Rin. Setelah membantu Len berdiri ia justru malah menjauh dan kembali ke tempat Gakupo. Ia tak ingin terlibat pertengkaran dengannya.
"C-calon masa depan? T-tunangan?" tanya Luka dengan nada terbata-bata setelah mendengar beberapa kalimat yang diucapkan Kaito untuk Rin dalam bahasa Mythegue.
"(YAA? TERUS APA MASALAHMU?)"Rin menatap Luka seperti musuh.
"(R-rin, jangan bicara begitu padanya, oke! Dia salah satu Amnour yang dipanggil dalam gulungan itu. Tolong jaga sikapmu sebentar saja.)" Len berusaha menenangkannya dengan hati-hati.
"A-AMNOUR?!" Rin berteriak penuh amarah. "Pantas saja aku sudah membencimu sejak pertama kali melihatmu! MATI SAJA KAU, PECUNDANG!" Rin mengatai Luka dengan bahasa yang jelas, mendekati Luka dengan langkah lebar dan mengeluarkan kekuatannya. Ditangannya muncul bola cahaya seterang matahari dengan kilatan petir kecil yang menyambar disekitar bola cahaya itu. Tak perlu diragukan lagi, hanya dengan melihatnya, semua orang bisa menilai itu bukan pertanda yang baik.
"RIN HENTIKAN!" Len memeluk Rin dengan cepat dari belakang. Ia tahu benda itu akan sangat membahayakan bagi Luka. "Berhenti bertindak konyol, Rin!"
Beruntung tindakan cepat dan teriakan Len mampu menghilangkan bola cahaya itu seketika. Tapi sepertinya Rin masih belum bisa meredam amarahnya. "LEPASKAN AKU, LEN! Mereka harus mati! Kita tidak butuh bantuan dari mahluk rendahan seperti mereka! Mereka pecundang!" Rin meronta.
"Sudah kubilang ini bukan waktu yang pas untuk bertemu dengannya, kan!" Kaito berbisik di telinga Gakupo. "Jangan terbawa emosi, ini tempat umum."
"Aku tidak emosi," Jawab Gakupo dengan polosnya seolah ia sedang menonton pertunjukkan kabaret jalanan. "..aku hanya sedang memperhatikan. Aku bahkan tidak tahu si kecil itu bicara apa."
Ditengah amukan Rin yang terus menerus meronta dan memaki, seseorang membalasnya dengan suara yang cukup keras, "Maumu apa sih?! Pendek begitu, kau bisa apa?!"
"BERANINYA!"
"Tahu diri kalau memang ingin menyerang, bocah! Ini tempat umum, kau tinggal disini dan semua orang mengenalmu. Apa kau tidak malu, HA?! Lihat wajahmu dan lihat reaksi orang sekitarmu!" suara wanita yang terdengar begitu melengking melontarkan kalimat pedas seperti itu dalam sekali nafas.
Siapa lagi yang bisa melakukannya kalau bukan Luka..
"LANCANG SEKALI KAU-"
"Ikut aku!" Sebelum Luka kembali membalas perkataan Rin, Gakupo segera menarik tangannya dan membawa gadis itu menjauh. Ia memegang kedua pundak Luka dengan kedua tangannya erat dan menatap kedua matanya lurus. "Hei, kontrol emosimu!"
"Nah nah nah NAH ini sudah kelewatan rupanya." Kaito yang sejak tadi bersikap tenang kini mulai mengambil tindakan karena mulai merasa risih. Ia berdiri di tengah kerumunan dan mulai berbicara dalam bahasa mereka. Dalam kalimatnya, ia meminta semua orang untuk kembali dan memastikan semuanya sudah baik-baik saja. ("Baiklah, sekali lagi aku mohon maaf atas kejadian ini. Anggaplah kalian tidak lihat apa-apa, oke!")
Setelah memastikan para warga sudah mulai berpencar, Gakupo menghela nafas panjang. "Inilah kenapa aku ingin Kaito ikut bersama kita. Dia orang yang bisa diandalkan." Gumam Gakupo. "Nah, kau baik-baik saja, Luka?"
"Hnn," jawab Luka singkat dan memalingkan wajahnya. Untuk sesaat, pipi Luka terlihat merah padam. "Terimakasih."
Gakupo dibuat terkesan dengan ekspresi lain yang muncul dari wajah Luka yang selalu terlihat marah itu. Gadis itu terlihat manis seperti gadis normal pada umumnya. Hal ini membuat Gakupo justru merasa sangat ingin memeluknya-hanya saja ia tidak mungkin melakukannya dan lebih memilih untuk menahan perasaannya.
"Tersenyumlah! Kita sudah di Oierro, kan! hehe," tukasnya seraya diakhiri dengan cengiran lebar tanpa arti.
[. . .]
Dimensi Oierro, adalah dimensi tertinggi meski wilayahnya tak seluas Sorcelleriette. Bagai ibukota, Oierro adalah dimensi yang begitu padat penduduk. Kehidupan mereka setara dengan kehidupan di negara maju. Bangunan kayu juga tidak ditemukan disini. Seluruh bangunan didominasi dengan bangunan kaca yang begitu kokoh seolah tahan getaran. Jalan setapaknya sudah terbuat dari aspal dan tampak rata tanpa cacat. Terdapat pula kendaraan yang mirip seperti mobil di bumi dan beberapa mahluk cyborg yang dikendalikan dengan remote control.
Meski tampak maju dengan bangunan kokoh, di Oierro terdapat sebuah bukit yang menjulang begitu tinggi dan terlihat dengan jelas. Di bukit itu berdiri dua istana dengan bentuk yang berbeda. Istana pertama, yang terletak di lereng bukit terlihat lebih kecil dan jelas dibandingkan istana kedua yang berada di puncak bukit dengan kondisi setengah tertutup oleh awan dan kabut putih.
"Kau lihat itu? Istana yang dilereng itu adalah tujuan kita, Yang Mulia Oierro sudah menunggu disana." Tukas Kaito setelah menjelaskan semua tentang Oierro kepada kedua tamunya yang kini sedang duduk bersantai disalah satu balkon penginapan di kota.
Untuk saat ini mereka sedang berpencar demi mencairkan suasana antara Rin-dan kedua Amnour. Sementara Len sedang membawa Rin kesebuah tempat biasa mereka bertemu.
"Aku penasaran dengan istana yang diatas bukit itu," celetuk Gakupo dengan snack dimulutnya. "Apa ada sesuatu diatas sana?"
"Itu tempat tinggal Penguasa dari seluruh dimensi. Dia-Yang-Tidak-Dapat-Terlihat konon katanya tinggal disana."
"Benarkah? Bisakah kita kesana?"
"Jangan bercanda. Tak ada satupun mahluk yang bisa menginjakkan kaki mereka di istana itu meski menggunakan kekuatan seribu sorcerer."
"Kau pasti bercanda,"
"Serius. Bahkan waktu kecil aku pernah menuliskan keinginanku di selembar kertas dan menggantungkannya dipohon depan rumahku berharap siapapun yang membacanya dapat mengantarku kesana. Tapi sekarang aku sudah dewasa dan aku terpaksa harus memendam keinginanku itu karena mustahil.."
"Aku turut berduka.." Gakupo menggeleng-gelengkan kepalanya dan menelan potongan snack terkahirnya. "Jadi sampai kapan kita akan menghabiskan waktu hanya dengan duduk bermalas-malasan seperti ini? bukankah kita seharusnya berada di istana lereng bukit itu sekarang?"
"Seharusnya begitu, tapi izin untuk akses kita masuk kesana sayangnya di pegang oleh Rin. Tanpanya, kita akan terus berlanjut seperti ini."
"Sial!" Gakupo menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya. Untuk sesaat ia melirik kearah Luka yang kini sudah kembali duduk disebelahnya. Hanya saja gadis itu terlihat begitu suram. "Bisakah kau kembali seperti biasa, Luka? Kau mau latihan? Aku bisa pakai pedangku sekarang! Aku dan Kaito akan jadi lawanmu!"
Luka tidak menjawab.
Gakupo menghela nafas. Ia pikir dengan mengajaknya duel, Luka akan sedikit lebih bersemangat. Tapi sepertinya trik seperti itu sedang tidak berhasil. "Hnn, jadiii.. gadis si pemberi akses masuk ituuu, Rin kan? Dia itu tunangannya Len, begitu?" goda Gakupo untuk mengetahui respon Luka selanjutnya.
Tapi Luka masih tidak merespon apapun.
"Tidak kau sangka, kan?" Kaito menadahkan kepalanya pada punggung telapak tangannya. "Sejak kecil Rin tumbuh bersama dengan Len di Oierro. Mereka tinggal bersebelahan dan keluarga mereka sangat akrab. Karena terlalu akrab, masing-masing keluarga mereka menyatukan diri dan menjadi satu keluarga besar. Karena hal itu, Rin dan Len bisa dikatakan sebagai saudara atau sepupu. Hanya saja mereka tidak terikat darah." Jelas Kaito yang memulai diri menceritakan kisah antara Len dan Rin.
"L-lalu kalau begitu pertunangan mereka bagaimana?"
"Seandainya mereka bertunangan pun bisa dibilang sah. Apalagi setelah adanya musibah yang menimpa Rin itu,"
"Musibah? Musibah apa?"
"Kedua orang tua Rin meninggal saat melawan Anorgere yang mencoba menerobos masuk kemari. Kau tahu kan? Mahkluk yang kau bunuh itu, itu adalah Ogre. Kalau Anogere bisa dibilang mahkluk Diablerios beberapa tingkat diatas Ogre. Mereka lebih kuat dan lebih gila. Yah, begitulah.. karena kematian orang tuanya itulah yang membuat ia membenci Amnour. Pertolongan dari Amnour dinilainya terlalu lamban hingga sampai membuat kedua orang tuanya tewas."
"Tapi Amnour sebelumnya juga tewas dalam medan perang, itu yang diceritakan semuanya kan? Bukankah dengan begitu semuanya jadi setimpal? Rin tak harus menyimpan dendam pada kami."
"Begini.. Saat itu, hanya dia yang merasa senang dan bersuka-cita dengan berita duka kematian Amnour sebelum kalian sambil berteriak kalau dendamnya terbalaskan. Jujur saja sikapnya yang seperti itu membuat para sorcerer dari berbagai region merasa khawatir. Orang seperti dia bisa dengan mudah dihasut oleh penguasa Diablerios dan dapat dengan mudah dibujuk untuk mengkhianati kita. Bahkan penguasa sudah menurunkan titah untuk mengeksekusinya."
"E-eksekusi? Maksudmu membunuhnya?"
"Eksekusi pada saat itu kalau tidak salah Rin dijatuhkan hukuman dengan mengubahnya menjadi Ogre dan membuangnya ke Diablerios. Begitu mendengar kabar seperti itu, tentu saja Len tidak terima dan bersedia menangani jiwa abnormal Rin seorang diri. Ia rela melakukan apapun agar Rin mau berubah. Mulai dari melepaskan ikatan keluarga, memandang Rin sebagai wanita, mendapatkan hatinya, sampai sekarang merencanakan pertunangan. Len bilang awalnya memang berat, tapi cara itu ternyata sangat ampuh hingga akhirnya penguasa bisa mencabut hukumannya."
"Apa itu bukan terpaksa namanya? Kalau begitu Len melakukan semua itu demi Rin bukan karena ia benar-benar mencin-"
"Hnn," Kaito mengangkat kepalanya dan menyela kalimat Gakupo. "Kalau kau bilang semua itu karena cinta, maka kau salah total! Benar-benar salah to-tal!"
"Eh?"
"Sebagai orang yang mengenalnya dekat, aku menilai Len sangat menyayangi Rin hingga dia rela melakukan apa saja. Len memandang gadis itu dari segala sisi, segala hal, segala pandangan. Sebagai teman, sebagai sahabat, sebagai keluarga, bahkan sebagai kekasih. Rin sekarang adalah segalanya baginya. Apalagi kedua orangtua Rin sudah tiada, Len pasti akan lebih menyayanginya lebih dari siapapun."
"Tapi itu tidak mengubah pandangan Rin kepada kami kan? Buktinya dia masih berusaha menyerang Luka."
"Wajar saja! Dimata Rin, melihat Amnour sama saja membangkitkan masa lalu." Kaito menatap Luka sejenak. "Tenanglah, ini hanya soal waktu. Len pasti bisa menenangkan gadis kesayangannya. Ahaha~"
Gakupo terdiam. Kaito terlihat begitu dewasa. "Kaito, kau mengatakan ini semua agar kita berdua tidak membenci Rin ya?"
"Tepat sekali!" Jawab Kaito dengan girang. Lalu tak lama ia melempar pandangannya kepada Luka. "Lebih tepatnya aku mengatakan ini untukmu Luka.."
Merasa namanya disebut, Luka akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Kaito.
"Dengar, Luka.." Kaito mengubah wajahnya menjadi lebih serius. "Aku katakan sekali lagi, Rin bukan musuhmu. Kuharap setelah kau tahu latar belakangnya, kau bisa memperbaiki sikapmu padanya.."
Luka tidak merespon apapun. Tapi dari pancaran kedua matanya, Kaito meyakini kalau ia bisa membuat gadis itu memahami setiap perkataannya.
"Ugh, begini ya! Aku memang tidak bisa meyakinimu seperti yang Kaito lakukan," Gakupo angkat bicara. "..tapi kalau memang kau masih merasa terganggu dengan Rin, berusahalah untuk diam dan tidak melakukan apapun. Setidaknya itu lebih baik daripada kau berkoar bertindak seolah kau lebih hebat darinya."
"Hn! Aku sangat setuju dengannya!" Kaito menepuk tangannya sekali. "Sebagai awalan, kau bisa terapkan ajaran Gakupo saat Len dan Rin kembali, oke! Nah, sekarang bagaimana kalau kita cek kondisi Len? Sepertinya kita sudah lama menunggu mereka kembali disini."
[tbc..]
