Main Chara:
Gakupo Kamui || Luka Megurine
Character Support:
KAITO
Len Kagamine
Rin Kagamine
[+++]
Chapter 7
Gakupo menatap punggung Rin dari belakang, bahu gadis itu kecil dan ia sangat kurus. Bahkan tingginya saja masih terbilang jauh dari ukuran wanita normal pada umumnya. Jika dibandingkan dengan Luka, sudah jelas Rin bukanlah tandingannya. "Kau lihat dia 'kan, dia begitu kecil dan harusnya kau malu kalau sampai berduel dengannya hanya karena masalah sepele." Bisik Gakupo ke telinga Luka disisi kanannya.
"Sudah kubilang semuanya baik-baik saja, OKE! Berhenti memojokkanku begitu seolah aku ini monsternya!" teriak Luka tiba-tiba.
"Luka?" Kaito menolehkan pandangannya dan memperhatikan tingkah Luka yang berubah tiba-tiba seperti itu. "Kau baik-baik saja?"
"Ugh! Ya.." jawab Luka seraya memalingkan wajah. "Aku hanya tidak tahan dekat-dekat mahluk idiot satu ini.."
"S-sabarlah, Luka. Sebentar lagi kita sampai, kok!" jawab Len.
"Sebenarnya kita ini mau kau bawa kemana, Rin? Bukannya aku tidak mempercayaimu, tapi kita sudah berjalan selama satu jam dan kau sendiri tidak mengatakan apapun." tukas Gakupo setengah mengomel karena siang itu cuaca memang cukup panas.
Saat kembali berkumpul beberapa waktu sebelumnya, Len datang bersama Rin dengan sikap yang jauh lebih baik. Ia tidak lagi memaki dan wajahnya hanya tertunduk lesu seolah merasa bersalah atas sikapnya yang keterlaluan. Ya, bagaimanapun juga ia memang hampir menyerang Luka dengan sihirnya.
Meski Len telah berhasil membuat Rin mengerti, gadis itu lebih memilih untuk diam dan meminta Len yang menjelaskan segalanya. Tentang tujuannya, tentang maksudnya..
Begitu juga ketika Rin harus menjawab pertanyaan Gakupo, ia mulai membisikkan kalimat demi kalimat ke telinga Len.
Tapi sepertinya Gakupo sudah merasa tidak nyaman dengan sikapnya..
"Sudah cukup perantaranya, Rin! Aku tahu kau bisa berbahasa seperti kami dan jawablah pertanyaanku langsung!" bentak Gakupo seraya menarik lengan Rin agar gadis itu berbalik.
"Aah.. uh.. itu.. aku," tukas Rin terbata-bata. Kedua matanya tidak fokus pada sosok dihadapannya.
"Tenanglah.." Gakupo melepaskan tangannya dan tersenyum.
"Ah itu.. lab," Rin menunduk. "Aku mengantar kalian.. ke lab.." jawabnya dengan suara pelan. Lalu dengan cepat Rin kembali membalikkan badannya dan berjalan memimpin.
"Hebat. Aku salut padamu," puji Kaito seraya menepuk pundak Gakupo setelah melihat kejadian yang menurutnya sangat langka telah terjadi.
Gakupo hanya mengangguk dan kembali menatap punggung Rin yang berjalan menjauhinya. Tapi kali ini kedua matanya tertuju pada jubah yang dikenakan gadis itu. Jubah yang dikenakannya tampak unik. Terdapat bentuk perisai dipunggungnya dengan dasar warna kuning terang. Lalu dipermukaannya terdapat lambang singa jantan yang berdiri memperlihatkan taring dan cakarnya. Rambut dan bulu ekornya pun tampak seperti flame dengan warna merah menyala.
Dari sekian lambang sorcerer yang Gakupo temui, ia menyukai lambang yang satu itu.
"Kaito, Rin itu tidak sama dengan kau atau Len 'kan?" tanya Gakupo yang mulai penasaran.
"Tentu saja tidak! 'lambang jubah menjelaskan segalanya', bukan begitu?" Jawab Kaito. "Dia bagian dari Jaune Soleille, region yang berpusat pada tenaga matahari. Kekuatannya lumayan dahsyat, lho! Jika seandainya tadi Len tidak segera bertindak dan bola kuning itu mengenai Luka, dia bisa terancam."
"S-sehebat itukah kekuatan mereka?"
"Kurang lebih. Setahuku, dulu juga barisan sorcerer Jaune Soleille selalu ditempatkan paling depan dalam regu penyerangan. Mereka hebat dalam serangan jarak dekat dan pertahanan tingkat pertama." Jelas Kaito. "Tapi asal kalian tahu saja, Rin punya kekuatan menarik selain itu, lho~"
"Eh?"
"Hm.." Kaito menyeringai. "Tenang saja. Kau bisa tahu saat tiba nanti~"
[. . .]
"Kita sampai," ucap Len ketika berhenti didepan salah satu bangunan kaca dan membuka pintunya yang cukup besar. "Ini lab tempat Rin bekerja, masuklah.."
"Kalian berdua, cepatlah masuk. Tujuan kita tidak hanya kemari." perintah Kaito.
"Kau tidak masuk?" tanya Gakupo.
"Tidak. Aku menunggu disini saja. Lagipula aku tidak ada kepentingan didalam.." Kaito mendorong Gakupo kedalam ruangan dengan tergesa-gesa.
"Kalau begitu maaf, Kaito.. aku harus menutup pintunya." Ucap Len.
"Ya.. ya.. santai saja. Dan kalau bisa, minta Rin untuk mempercepat tugasnya.." sambung Kaito dengan suara lantang dengan tujuan Rin juga dapat mendengarnya. Namun sebelum berbalik badan, ia berusaha membisikkan sesuatu pada Len. ("Sejujurnya Len, aku merasakan ada yang ganjil disekitar sini. Aku akan berkeliling untuk memastikan dan kalau kalian sudah selesai cepat susul aku.")
Wajah Len berubah menjadi lebih serius. "Soal itu, Kaito.." Len menahan pundak Kaito sehingga pemuda itu kembali berbalik. ("Kalau memang ingin berkeliling, sebaiknya kau pergi ke arah barat.")
("Jadi begitu ya.. Baiklah aku mengerti!") Kaito melambaikan tangan dengan memberikan cengiran khasnya.
("Hati-hati.. mungkin ini tak seperti biasanya.")
"Kau tak perlu khawatir! Intinya kalau urusan kalian sudah selesai, cepat bantu aku. Dah!"
Setelah memastikan Kaito sudah pergi, Len segera menutup pintunya rapat-rapat dan menguncinya.
"Ini aneh.."
[. . .]
Luka tercengang saat pertama kali melihat isi bangunan yang disebut 'lab kerja Rin' itu. Ruangan yang tampak luar seperti kaca ini benar-benar diluar dugaan. Didalamnya ternyata sama seperti bangunan pada umumnya. Furniture dan isinya masih menggunakan perabotan yang terbuat dari kayu dan alumunium. Ruangan itu juga cukup tinggi. Tangga kayu dibuat melingkar seperti menuju puncak mercusuar meski agak curam. Dan disetiap dindingnya terdapat ruangan-ruangan kecil seperti loker untuk menyimpan botol-botol kaca berisi cairan berwarna-warni yang entah apa itu.
"Kau dengar apa kata Kaito barusan, Rin? Sebaiknya kau cepat." ujar Len sebelum ia terdiam dan bersandar pada pintu. "Aku menunggu disini saja.."
Rin mengangguk. "Maaf, t-tapi bisakah kalian berdiri di depan meja itu?" pintanya masih setengah kaku.
Sesuai yang diminta oleh Rin, Gakupo dan Luka segera berdiri di hadapan sebuah meja besar yang diatasnya berjajar lima sampai tujuh buku tebal.
Sementara itu, Rin segera melepas jubahnya dan menggantungkannya disebuah hanger. Ia berjalan ke sisi meja yang lain dan menghadap pada kedua Amnour. Jari Rin menelusuri setiap buku tebal diatas mejanya sampai salah satu telunjuknya berhenti pada salah satu buku coklat lusuh. "Buku ramuan, ini dia.."
"Len, apa yang harus kubuat kali ini?" tanya Rin sebelum ia mulai merapal mantra yang terdapat dalam buku tebal itu.
"Akses untuk menemui Yang Mulia. Kulihat Gakupo dan Luka belum memiliki-nya." Jawab Len. "Dan satu ramuan khusus untuk memperlancar komunikasi ya, Rin."
"-miliki.. apa?" tanya Gakupo.
"Ah, bukan sesuatu yang mencurigakan, kok! Untuk bertemu dengan Yang Mulia diperlukan aura khusus karena pintu menuju singgasana bukan pintu biasa. Kau tahu, seperti model pencegahan adanya penyusup. Mytheronomia memang ketat karena model kejahatannya bisa dalam bentuk apa saja."
"Lalu penduduk disini juga sama? Melakukan hal seperti ini?" tanya Luka yang mulai penasaran dengan sistem penjagaan yang berlaku di Mytheronomia.
"Yang Mulia sangat terlindungi, lho! Beliau tidak akan mudah dijumpai kalau bukan dengan orang-orang yang terpilih selama pelatihan saja." jelas Len. "Khusus para sorcerer pilihan seperti kami, terutama yang akan selalu ada hubungan dengan keluarga kerajaan seperti Kaito, aku, Rin, dan beberapa lainnya akan dapat mantra khusus dan tidak perlu menggunakan ramuan seperti kalian."
"Tunggu, selain itu kau juga meminta ramuan khusus untuk komunikasi. Maksudmu agar kami dapat berkomunikasi lancar dengan semuanya?" tanya Gakupo yang masih belum puas dengan penjelasan Len.
"Bukan 'kami', lebih tepatnya kau, Gakupo~" Jawab Len seraya tersenyum.
"E—eh?! Luka juga harus pakai! Meski dia mengerti beberapa, bukan berarti dia mengerti semuanya kan?!"
"Jangan bodoh! Yang penting aku mengerti!" bentak Luka. "Lagipula kita harus cepat. Seseorang menunggu kita diluar.." Luka menatap Len dengan arti, 'aku tahu apa yang kau sembunyikan'.
("Kau mendengarkan pembicaraan kami?") tanya Len dalam bahasa Mythegue untuk membalas tatapan Luka.
Luka mengangguk. ("Dia.. barat.. hati-hati.. ada bahaya.") jawab Luka dengan kosakata yang terbatas namun menjelaskan kesimpulan pembicaraan antara Kaito dan Len.
Meski terbata-bata, Len mengerti. Pemuda itu mengangguk dan meletakkan telunjuk di bibirnya.
"Tenang saja, lagipula si bodoh ini tak akan tahu aku bicara apa.."
[. . .]
Rin menutup kedua matanya dan mulai merapal mantra.
Ia merenggangkan kedua telapak tangannya dan muncul pusaran angin yang bertiup lembut mengelilinginya. Beriringan dengan munculnya angin itu, buku tebal yang terdapat diatas meja tiba-tiba terbuka. Ratusan lembaran mulai bergerak cepat membuka setiap halaman tak teratur sampai akhirnya angin menghilang dan buku itu pun ikut berhenti.
Kejadian itu hanya terjadi selama beberapa menit saja.
Rin membuka kedua matanya dan membaca halaman yang ditunjukkan oleh 'sang angin'. "Lemari ke 13C hegue, rak 16."
"Lemari apa?" bisik Gakupo mengulang kalimat aneh yang Rin ucapkan.
"Mungkin Dewa sudah memberikan pencerahan khusus padanya," jawab Luka ketus seperti biasa.
Tanpa terganggu dengan bisikan dari Gakupo dan Luka, Rin kembali merapal mantra. Kali ini muncul bola cahaya kecil yang serupa seperti yang pernah ia lakukan saat ingin menyerang Luka.
Dengan cepat Luka mundur selangkah dan mengambil posisi untuk menyerang.
"Luka? Kau kenapa? Tenanglah.."
"Mengambil posisi," Luka menatap Rin tajam seolah ia siap menyakitinya.
"Rin tak akan menyerangmu, bodoh! Santai saja.. bola kuning itu tak akan menyakitimu." Gakupo berbicara pelan demi menenangkan Luka.
"Darimana kau tahu? Mythegue saja kau tidak mengerti.."
"Kau ini bodoh juga ternyata." Gakupo tersenyum geli. "Genggam saja tanganku kalau memang kau takut."
Luka mengerutkan dahinya, "Berisik.."
"Kalau begitu tenanglah dan lihat Rin melakukan pekerjaannya. Seperti yang dikatakan Kaito, ini sangat menarik!"
Rin menuliskan kalimat yang diucapkannya pada selembar kertas kecil, lalu memasukkan kertas itu kedalam bola cahaya yang ia ciptakan dari mantranya. Setelah kertas tak terlihat lagi, bola cahaya itu mulai melayang-layang tak tentu arah di udara. Semakin tinggi dan semakin tinggi. Bola cahaya itu menuju pencakar hingga akhirnya benar-benar hilang dari pandangan.
Rin mendengar suara bisikan kecil ditelinganya. Ia mengangguk dan mengucapkan terimakasih dalam bahasa mythegue. "K-kalian tidak keberatan kalau k-kutinggal sebentar, kan?" tanya Rin setelah itu.
"Alasannya?" Luka membalas pertanyaan Rin dengan ketus. "Kita diperintahkan untuk cepat, kenapa kau sempat-sempatnya sengaja mengulur waktu?"
Rin tidak nyaman. Ia kembali canggung dan menunduk karena sikap ketus Luka. Tapi meski begitu, ia berusaha untuk menjelaskan maksudnya, "A-aku harus mengambil ramuan.. di atas sana.."
"Ah!" Gakupo menyadari perubahan sikap Rin dan setengah memelototi Luka. "Oh, santai saja Rin! Kami bisa menunggu.. dan berhati-hatila, tangga sangat berbahaya!"
Seusai mendapat persejutuan Gakupo, Rin segera melesat pergi menaiki anak tangga yang curam. Meski ini tempat kerjanya dan ia mungkin sering berada di sini, sudah sewajarnya Gakupo juga tetap mengingatkan agar berhati-hati. Tujuannya hanya satu, meyakinkan Rin agar gadis itu tak sungkan lagi dan dapat menganggapnya sebagai teman.
Teman saling mengingatkan.
Setidaknya harus begitu..
Hanya saja sepertinya Luka masih menyimpan dendam pribadi pada Rin dan Gakupo masih belum bisa sepenuhnya mengatasi masalah antar keduanya. Pemuda itu menghela nafas panjang seraya memandang Rin yang kian melangkah semakin tinggi menuju lantai teratas.
"Apa? Kau menyalahkanku lagi?!" bentak Luka ketika merasa dirinya sudah menjadi perhatian Gakupo. "Maaf saja tapi aku bukan tipe mahluk yang tenang dan idiot sepertimu. Ada kalanya seseorang juga harus-"
Gakupo mendekati Luka dan berbisik, "Masih belum puas? Mau sampai kapan dendam kecil konyolmu itu berlanjut?"
"D-dia sengaja mengulur waktu! Sihir, mantra, naik ke atas sana, semua yang ia lakukan terlalu memakan waktu! Dia lamban!"
"CUKUP!" bentak Gakupo tegas. "Aku tahu kau ingin segera menemui Kaito, tapi cobalah untuk bersabar. Rin sedang berusaha keras untuk kita, HARGAILAH USAHANYA!"
Luka terkejut. Dalam sekejap, sekujur tubuhnya merasakan aura dingin yang menusuk. Ia terdiam melihat perubahan sorot mata Gakupo yang begitu tajam. Sangat tajam seolah Luka sedang berhadapan dengan seseorang yang berbahaya. Tidak hanya karena ia telah dibentak oleh mahluk yang dianggapnya 'culun' itu, tapi juga karena Gakupo tahu Luka sangat ingin segera menyusul Kaito diluar sana.
Pemikiran Luka tentang masalah ini tidak akan ada yang tahu selain Len ternyata salah. Meski ia tidak tahu sejauh mana Gakupo mengetahui kedetailannya, tetap saja pemuda itu sudah mengatakan apa isi kepalanya. "D-darimana kau tahu?"
Sekejap setelah Luka melontarkan pertanyaannya, bulu kuduknya berdiri. Ia merasa takut.
Gakupo menyeringai tanda puas diri setelah mengetahui perubahan sikap Luka yang tidak balas membentaknya, "Kau tahu.. semua orang bisa berubah, meski dalam hitungan detik sekalipun."
"A-apa?"
"M-maaf telah membuat kalian menunggu.. ini ramuan yang harus kalian minum." Ujar Rin yang sudah kembali ke mejanya dengan tiga botol berisi ramuan ditangannya. "K-khusus untuk G-gakupo, minum keduanya secara bersamaan, y-ya.. s-sekali! Sekali teguk untuk menghindari rasanya."
"Ohh, kau sudah kembali? T-tunggu apa? Menghindari rasanya? Memang rasanya seburuk itu kah?!" sikap Gakupo kembali normal seolah tampak tak terjadi apa-apa padanya. Seolah ia telah kembali pada kepribadiannya, Rin tak akan tahu perubahan sikap Gakupo yang terjadi beberapa menit sebelumnya.
Luka tak bisa mengatur nafasnya. Jantungnya berdegup kencang. Perubahan sikap Gakupo dan kalimatnya tentang 'perubahan dalam hitungan detik' membuat gadis itu tidak nyaman. Bahkan jelas didepan matanya Gakupo kembali pada sosok aslinya. Tidak ada lagi tatapan tajam dan bentakan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Kini ia bertindak konyol dan bodoh seperti biasanya.
"S-sial!" Luka terbawa suasana hatinya. Meski dipikirkan, meski bertanya-tanya, ia tidak bisa mengungkapkannya. Dan demi menutupi sikapnya itu, ia mengambil ramuan yang diberikan Rin dan meneguknya dalam sekali minum.
"L-luka, kau terlalu terburu-buru!" Rin terkejut. "B-butuh air minum?"
"T-tidak! B-biarkan aku sendiri! Aku ingin keluar!" Nafas Luka tidak teratur. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu dengan tergesa-gesa.
Si bodoh itu..
Aku kenapa?
Sesak..
[to be continued...]
