Main Chara:
Gakupo Kamui || Luka Megurine
Character Support:
KAITO
Len Kagamine
Rin Kagamine
[+++]
Chapter 8
("Kau yakin dia orangnya?")
("Seharusnya ada empat orang, tapi kenapa yang keluar hanya satu?")
("Mungkin sisanya masih didalam, bagaimana kalau kita tanyakan saja langsung? Orang itu sepertinya sedang sangat membutuhkan bantuan!")
("Kau benar! Sisanya pasti bisa menyusul.")
Luka merasa ada yang aneh sejak ia mencoba untuk menenangkan dirinya diluar ruangan. Meski berhasil keluar dan menjauh dari Gakupo untuk sesaat, gadis itu tidak bisa seenaknya pergi meninggalkan mereka dan memilih untuk ke tempat Kaito seorang diri. Terlebih lagi, ia tak bisa meninggalkan tempat itu saat ada segerombolan orang tak dikenalnya mulai membicarakan sesuatu. Tidak hanya itu, mereka juga tampak sekilas memperhatikan Luka seolah mereka ingin melakukan sesuatu.
("Ada masalah?") tanya Luka singkat setelah memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada mereka.
("M-maafkan kami, Nona Amnour.. tapi apakah anda yang bernama Luka?") salah satu dari mereka berjalan mendekati Luka dengan badan sedikit bergetar karena malu.
Luka menghilangkan perasaan waspadanya ketika melihat tingkah orang itu. Ia cukup yakin mereka tak akan melakukan hal buruk karena telah bersikap sopan kepadanya.
Terlebih lagi karena badan yang gemetaran itu.
Karena lawan bicaranya adalah masyarakat dan Luka tahu Amnour sangat disegani oleh seluruh rakyat Mytheronomia, ia berusaha keras agar tidak mengeluarkan aura buruknya. Luka berusaha untuk tersenyum penuh paksa meski ia jarang melakukannya. Ia juga berusaha untuk tampak ramah meski sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya.
"Kau tahu.. semua orang bisa berubah, meski dalam hitungan detik sekalipun."
Untuk sepersekian detik, ingatan tentang kalimat mengerikan Gakupo terlintas dibenaknya. Luka merasa ia sedang berada dalam situasi yang sama. Ia harus merubah sikapnya dengan segera agar dapat berkomunikasi dengan orang-orang itu.
"Sejak kapan si dungu itu mulai mengotori isi kepalaku?" bisik Luka pelan sehingga tak mungkin akan ada yang mendengarnya. ("Ya! Aku Luka Megurine.. kalian, ada apa?")
Orang-orang itu saling berpandangan sampai akhirnya memutuskan salah satu dari mereka untuk maju melakukan komunikasi langsung dengan Luka. ("Kau bisa berbahasa seperti kami?")
("Aku mengerti.. kata-kata. Membalas.. tidak lancar.")
Ia mengangguk tanda mengerti. (Namaku Airyn, Nona. Kami berempat bertemu dengan Ketua region Bleure Shierru sebelum datang kemari. Dia meminta kami untuk menyampaikan pesan..") jelas Airyn.
Dari penjelasan dalam bahasa asing itu, Luka hanya dapat menangkap beberapa kata seperti 'bertemu', 'ketua Bleure Shierru', dan 'pesan'. Beruntunglah ia cukup cerdas hingga dapat mengerti kemana arah tujuan pembicaraan Airyn. Luka mengangguk, ("Apa katanya?")
("Ada kerusakan cukup parah di perbatasan. Dia ingin kalian segera menemuinya dan membantu mencari penyebabnya.") sambung Airyn lagi.
"Kerusakan?" Khusus kalimat ini, Luka hanya dapat mengerti satu kata hingga ia tampak kebingungan. Ia tidak tahu kalimat apa untuk menjawab pernyataan wanita paruh baya yang berdiri dihadapannya itu.
("Kau tidak apa-apa, Nona?")
("Ya, baik-baik saja.) jawab Luka spontan agar tidak menimbulkan kekhawatiran. ("Ketua Bleure Shierru, dimana?")
Seolah berbalik, kini Airyn yang terlihat kebingungan. Wanita itu tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan arah kepada seseorang yang sama sekali tak lancar berbahasa Mythegue. Apalagi lawan bicaranya itu bukan warga asli Mytheronomia. Ia melempar pandangan ke arah teman-temannya.
Beruntunglah salah satu dari mereka dapat menggambar peta singkat untuk membantu Luka menemukan Kaito. Meski tidak jelas, gambar roti menunjukkan toko roti dan garis cross sebagai persimpangan jalannya. Begitu juga dengan air mancur yang berarti taman kota. Luka bisa membacanya dan ia tampak gembira. Setelah berterimakasih, ia melesat seperti seorang ninja meninggalkan Airyn dan gerombolannya, begitu juga lab tempat dimana ketiga rekannya berada.
[. . .]
Berbeda dengan Luka yang tengah bergembira karena berhasil melakukan komunikasi langsung dengan warga Mytheronomia tanpa bantuan siapapun, Kaito justru sedang kurang beruntung. Saat sedang berkeliling diantara reruntuhan bangunan yang sudah ditinggal oleh penghuninya, tanpa sengaja Kaito bertemu dengan tiga Ogre menyeramkan yang sedang sibuk mengobrak-abrik sekitar tanpa tujuan. Salah satu dari mereka tampak sedang menyantap salah satu hewan sekitar yang kurang beruntung pada saat melarikan diri
"Ups.." Kaito segera reflek menutup mulutnya agar kehadirannya tidak disadari oleh para Ogre itu. Ia berusaha mundur pelan-pelan untuk bersembunyi di balik tembok.
*Krekk!*
Ia memang sedang kurang beruntung.
Tanpa sengaja kakinya menyenggol reruntuhan genting yang berserakan dimana-mana.
"Grrrrrrr..." salah satu Ogre melihat keberadaan Kaito. Kulitnya hijau licin berlumut dan bau. Matanya merah menyala. Mulutnya berpolet darah segar hewan tak berdosa dan taringnya dilapisi air liur menjijikan.
Tipikal monster ideal.
Bertemu Ogre tiba-tiba seperti ini bukan yang pertama kalinya bagi Kaito. Dalam kondisi terpojok dan tanpa bala bantuan, Kaito bahkan tidak kehilangan selera humornya. "Aaah ya sudahlah! Aku ini berusaha kabur bukan karena aku takut dengan kalian, lho ya~" Pemuda itu menggulung lengan kemejanya dan memberi aba-aba untuk siap diserang kapan saja. "Tanganku saja cukup kan? Atau kalian lebih suka disihir jadi katak tampan?"
"AAAAAAAAAARRRRRRRRRR!" karena terganggu, dua Ogre berusaha untuk menyerang Kaito.
"Duh kau ini ngomong apa sih, jelek?" Kaito melompat cukup tinggi dan menendang salah satu Ogre yang mendekatinya lebih dulu. Tendangan yang cukup keras membuat mahluk itu terpental dan mati seketika. "Sudah kuduga, kalian masih lembek."
Dengan cepat Kaito kembali mengumpulkan tenaganya dan melakukan tendangan kedua. Sama seperti sebelumnya, Ogre kedua menyusul kematian temannya. Namun pada saat Kaito hendak mendaratkan tinju pada Ogre ketiga yang berusaha menyerang Kaito paling akhir, mahluk itu berhasil menghindar dan kabur kedalam reruntuhan bangunan.
"A-apa?! Kabur?!" Kaito menghentikan serangannya dan mengatur nafas. "Duuh! Percuma saja kabur kan kalau ujung-ujungnya mati juga.."
Tanpa merasa takut, Kaito berjalan dengan tenang menelusuri reruntuhan bangunan yang sudah tidak berbentuk itu. Berharap Ogre itu akan muncul dan menyerangnya dari arah belakang, Kaito sudah mempersiapkan instingnya.
"Ogreeeee kau dimanaaaaa?"
"Kau mencariku, sorcerer?" sebuah suara mengerikan menggema tepat dibelakang Kaito.
Sontak pemuda itu terkejut dan bergegas membalikkan badannya secepat mungkin. "A-apa?!" Kaito mungkin akan sulit mempercayai sosok pemilik suara itu.
Dia bukan manusia.
Mahluk yang dilihatnya seratus kali lebih buruk rupa dari Ogre normal pada umumnya. Badannya sangat tinggi hingga dapat menghalangi cahaya matahari seperti tembok. Kulitnya berwarna merah darah seperti otot manusia tanpa lapisan kulit luar. Taringnya panjang hingga melebihi dagu. Telinganya berbentuk seperti elf dan ada bekas robekan dimana-mana pada daun telinganya. Di telapak tangannya hanya terdapat tiga jari dan kukunya setajam taringnya. Rambutnya mengembang seperti rambut singa dan kusut seolah ukuran kepala mahluk itu tidak sebanding dengan besar tubuhnya. Matanya runcing ber-iris oranye menyala.
Berbeda seperti mahluk buruk Ogre yang tidak berbusana sama sekali seperti hewan, mahluk tinggi yang satu ini mengenakan pakaian kumal yang sudah tercabik-cabik layak budak.
Dan yang lebih mengerikan diatas penampilannya, mahluk ini dapat berkomunikasi.
"Rekanku bilang kau tak mengerti bahasa kami.. tapi kalau begini kau pasti paham kan ya?" goda mahluk menyeramkan itu seraya memberikan senyuman horor yang tak akan Kaito lupakan seumur hidupnya.
Bulu kuduknya berdiri. Kaito meragukan kemampuan bertarung dengan tangan kosongnya apabila ia harus berhadapan dengan mahluk super menyeramkan itu.
"Sebenarnya kau ini siapa, tuan buruk rupa?" tanya Kaito sembari terus meningkatkan kewaspadaan agar ketakutannya tak terpancar dari ekspresinya. Jujur dari hati yang terdalam, untuk saat ini ia sangat ingin kabur.
"Kalian menyebut kami apa? Ogre? Anorgere?" mahluk itu tertawa. "Bagaimana kalau aku bilang aku ini manusia? HAHAHAHA!"
"JANGAN BERCANDA!" bentak Kaito mengurangi rasa takutnya akibat tawa horor yang kembali menggelegar itu.
"Hnn, kalau begitu bolehkah aku bertanya?" tembal mahluk itu lagi. "Kau, bagaimana rasanya menghabisi rekan kami?" mahluk itu memberikan cengiran lebar memperlihatkan taringnya. "Aku sendiri belum tahu bagaimana rasanya menghabisi sorcerer, lho~"
"Cih, maaf saja. Ogre bodoh yang tak cerdas seperti kalian memangnya bisa apa selain membuat ulah?" Kaito melepaskan jubah kebanggaannya dan menyingkirkannya jauh-jauh karena merasa terganggu. Ia sudah tak bisa mundur lagi dan terpaksa harus mengalahkan mahluk buruk rupa yang baru pertama kali dilihatnya itu.
"Tuan sorcerer, yang bilang aku ini Ogre siapa?" ucap mahluk itu menutup pembicaraan seraya memperlihatkan cakar dan mengambil kesempatan untuk menyerang Kaito.
"Hah?" Kaito goyah. Dengan cepat ia mulai merapal mantra dan membuat pelindung menggunakan sihirnya. Tameng seperti selaput bening berwarna biru terang muncul secara ajaib melindungi tubuhnya dari cakaran pertama. "Wow! Kuakui kau sangat bertenaga,"
Mahluk itu tampak kurang puas. Ia segera kembali melesat mendekati Kaito untuk meluncurkan serangan keduanya.
Melihat gelagat musuh yang mulai brutal, Kaito kembali merapal mantra dan menciptakan senjata ditangannya. Sebuah batangan besi muncul dan ia menyebutnya "Phouyo Rod". Seolah sudah terbiasa, Kaito memutar rod ditangannya dengan cepat, lalu melemparkan benda itu dalam kondisi berputar kearah lawan bagai bumerang.
Sayang benda itu hanya mengenai dada mahluk itu dan tidak menimbulkan efek besar. "Pffft! Rasanya seperti digigit semut!" tukasnya diikuti tawa horor khasnya.
"Kau benar," Kaito mengangkat tangannya dan mengambil rod yang melayang kembali berputar padanya. ".. kubiarkan kau digigit semut dulu sebelum dilahap naga. Semua juga perlu pemanasan."
"HUP!"
Seorang wanita muncul dari udara dan mendarat dihadapan Kaito dengan sempurna. Kedua kakinya berdiri tegap meski ia terdengar seperti jatuh dari ketinggian lima meter hingga membuat tanah agak bergetar.
"L-luka?!" Kaito menganga. Ia tahu benar siapa sosok wanita tangguh yang jatuh dari langit secara tiba-tiba.
"Bantuan dari langit sudah tiba," ujar Luka dengan nada yang terdengar begitu keren dengan efek kibasan rambut pinknya.
[. . .]
"ASTAGA, LUKA DIMANA?!" teriak Gakupo saat ia mulai kewalahan mencari gadis yang ia sebut namanya itu. Tanpa mendengarkan penjelasan Len sebelumnya, Gakupo segera keluar ruangan dan mulai berkeliling tanpa tujuan. "Dia pasti marah karena kata-kataku tadi.." batinnya merasa bersalah.
"T-toloong.."
Dalam kebingungannya, pemuda berambut ungu itu mendengar sebuah suara yang berasal tak jauh dari tempat dimana ia berdiri saat ini. Meski terdengar pelan dan samar-samar, ia tahu betul kalau itu adalah suara dari seseorang yang membutuhkan pertolongan.
"Kurasa Luka bisa menunggu," tukas Gakupo meninggalkan niatnya mencari Luka dan lebih memilih untuk mendekati sumber suara.
Ia menggunakan pendengarannya baik-baik. Selintas ia masih mendengarkan suara itu, tapi dalam bahasa yang lain. Batinnya ragu. Meski begitu, langkah kakinya tak terhenti dan kedua matanya sibuk memperhatikan sekitar sampai akhirnya ia menemukan bongkahan batu yang berserakan diujung jalan sepi siang itu.
"T-tuan!" Gakupo terkejut setelah menemukan seseorang yang lengannya terluka cukup parah akibat tertindih batu besar. Dengan cepat ia segera menghampirinya dan menyingkirkan bongkahan batu tersebut, "Bertahanlah, Tuan!"
"Aah!" rintih orang itu setelah batu besar yang menimpa lengannya tersingkirkan. Darah segar mengalir tanpa henti ketika batu itu terangkat.
Gakupo mulai panik. "Aaaa—bagaimana ini?!" tukasnya bingung setelah melihat darah segar dan luka yang cukup serius.
("Amnour, kah..") tanya orang itu dalam bahasa Mythegue setelah kedua matanya berhasil menatap Gakupo.
Untuk sesaat Gakupo terdiam. Ia tahu betul kalau orang dihadapannya berbicara dengan menggunakan bahasa asing negeri itu, hanya saja dia dapat mengerti betul apa yang diucapkannya. "Mungkinkah ini pengaruh dari ramuan yang Rin berikan padaku?" tapi tetap saja karena keterbatasan komunikasi, Gakupo tidak bisa berbahasa mereka dan lebih memilih mengangguk untuk membalas pertanyaan orang yang lengannya terluka itu.
"Sebentar!" Karena tak tahu apa yang harus diucapkan lagi, Gakupo memilih untuk sibuk mencari cara agar pendarahan di lengan orang itu berhenti.
Tak ada benda sekitar yang bisa digunakan untuk membalut luka saat itu, jadi ia mau tak mau harus mengorbankan ikat rambutnya. "Aku hanya punya ini, setidaknya ini bersih jadi.. aku akan membalut lukamu untuk sementara." Jelasnya penuh dengan peragaan tubuhnya agar orang itu mengerti apa yang ia maksud.
Orang itu mengangguk. Kemudian memejamkan matanya karena sudah merasa lebih tenang ada seseorang yang menemukannya. ("Namaku Dylan,") ucapnya.
"Dylan, ya.. aku Gakupo," jawab Gakupo dengan menggunakan bahasa Jepang yang juga tidak mungkin dimengerti oleh warga sipil itu. Tapi setidaknya mungkin ia bisa tahu kalau Gakupo sedang memberitahukan namanya.
("Namamu Gakupo dan kau seorang Amnour.. desas-desusnya Amnour itu seseorang yang lanjut usia—tapi sepertinya mereka salah ya..") Dylan terkekeh dalam Mythegue-nya yang kental dan penuh aksen.
Gakupo tersenyum tipis dan menggeleng kecil seraya mengikat simpul sederhana pada lengan Dylan. Kali ini dia tidak bertanya. Gakupo mengangkat tangannya dan menunjuk kearah reruntuhan batu dengan wajah penuh tanda tanya dengan maksud 'ada apa dengan semua ini?'.
("Hancur?" Iya hancur, aku korbannya. Tapi yang lain sudah sempat menyelamatkan diri.") jawab Dylan sedikit melenceng karena tidak paham betul apa yang sebenarnya Gakupo pertanyakan dalam bahasa isyaratnya.
"Ugh," Gakupo menggeleng. Kemudian ia menyentuh luka Dylan dan menatap pria paruh baya itu dengan arti 'kenapa kau sampai seperti ini?'.
("Oooh, kau tanya aku kenapa aku bisa jadi korban?") tanya Dylan memastikan.
Gakupo mengangguk.
("Tapi apa kau akan mengerti kalau kujelaskan detailnya?")
Gakupo kembali mengangguk.
("Kejadiannya sekitar setengah jam yang lalu, aku dan para warga sedang mengunjungi toko ini. Lalu tak lama kemudian diambang pintu berdiri sesosok mahluk menyeramkan yang sepertinya berasal dari luar dimensi. Mahluk itu melihat kami dan mulai menyerang tanpa sebab. Semua berhamburan keluar toko tapi aku terlambat melarikan diri karena pintu keluar tertutup oleh kawanan mahluk menyeramkan lainnya.") jelas Dylan menceritakan kejadian singkat yang menimpanya.
Gakupo terdiam menyadari ada suara langkah kaki yang datang mendekat lalu mulai berkeliling melihat sekitar.
("Tenang saja.. sekarang mereka sudah pergi.")
"Ah.. itu temanku, OOII LEEENN!" Teriak Gakupo tiba-tiba setelah melihat sesosok pemuda pendek yang dikenalnya melintas di ujung jalan. "Cepat kemari!"
"Gakupo! Kenapa kau ada di-" tanya Len seraya berlari kecil menghampiri Gakupo dan Rin tepat dibelakangnya. "Astaga, Rin! Ada warga sipil yang terluka! Cepat tolong dia,"
"Baik," jawab Rin mantap.
"Syukurlah kau cepat kemari, Gakupo.. tempat ini sepertinya sangat sepi, padahal biasanya tidak. Ada apa ya?"
Gakupo menceritakan apa yang telah menimpa Dylan kepada Len dan ia mengangguk mengerti. Lalu Len juga menceritakan pembicaraannya dengan Kaito saat berada di depan lab Rin yang sebelumnya telah didengar oleh Luka dan meyakini mungkin itulah alasan gadis itu meninggalkan mereka lebih dulu.
"Lalu sekarang mereka dimana?" tanya Gakupo.
"Berdasarkan cerita Dylan dan reruntuhan ini, kupikir mereka berada tak jauh dari sini. Mahluk menyeramkan yang kau bilang itu mungkin seekor Ogre atau Anorgere, dan bisa jadi Kaito dan Luka sedang membereskan masalah itu." jelas Len seraya memperhatikan sekitar berharap dapat menemukan barang bukti adanya penyerangan dari mahluk asal Diablerios yang brutal itu.
"Sebaiknya aku juga harus menyusul mereka," ujar Gakupo tegas. "Aku mencemaskan Luka karena terakhir kulihat ia tidak seperti biasanya."
"Benarkah?" Len mulai ikut cemas. "Kalau begitu sebentar, aku akan mencoba 'melihat' mereka.."
Len menutup kedua matanya rapat-rapat dan mulai merapal mantra. Ia membuka kedua lengannya dan menciptakan kabut tipis bercahaya kelabu yang mengelilinginya. Dalam kekuatannya, ia dapat melihat siapapun yang menjadi tujuannya. Seperti menonton, Len dapat melihat kejadian apa saja yang terjadi saat ini dan apa yang akan menimpanya meski hanya sekilas karena kekuatannya belum sempurna.
"Baiklah, aku sudah menemukan Kaito.. dia baik-baik saja.. ia.. seperti sedang mencari sesuatu, tapi.. aku tak melihat.. Luka disekitarnya.." jawab Len terbata-bata dalam kondisi mata yang masih tertutup.
"Luka tidak disana?!" tanya Gakupo mulai panik. "Kaito tak bersamanya?!"
Lalu dalam sekejap raut wajah Len berubah. Dahinya berkerut dan ia semakin memejamkan matanya penuh paksa. "Tidak.. Luka terpisah.. ia.. ia dalam bahaya, ini buruk! Mahluk itu.. bukan ogre.. bukan Anorgere.. dan Luka.. dalam bahaya.." Len membuka kedua matanya dan kabut kelabu itu pun menghilang seketika. Nafasnya terengah-engah. Ia juga berkeringat. "Kau harus menyusulnya! KAU HARUS CEPAT MENYUSULNYA!"
"T-tapi dia dimana?! Dan kau bagaimana?!" kepanikan Gakupo semakin menjadi setelah melihat kondisi Len yang berubah tak stabil secara tiba-tiba itu. Badannya juga mulai bergetar. Ia takut akan ada sesuatu yang buruk menimpa Luka.
"Aku.. kekuatanku memerlukan tenaga yang banyak. Jadi saat ini aku benar-benar lelah.." jawab Len terbata-bata. "Lima belas—tidak, sepuluh menit.."
"Sepuluh menit?"
"Sepuluh menit lagi nyawa Luka akan sangat terancam,.. pergilah kearah selatan secepatnya dan temukan Luka. Bawa ia menjauh dari sana atau bantulah dia! Kau harus cepat, waktumu tak bisa lebih dari itu.."
[to be continued..]
