Disclaimer: Dibanding copas cerita, menuliskan lamunan khayalan gaje sendiri lebih seru menurutku. Jadi ceritanya murni buatanku. Karakternya lah yang bukan punyaku '-')v

Balasan Review:

EchaNM: Baca PM

Guest: Hey kamu penasaran? Ini sudah Fura lanjut. Maaf kalau aneh ya XD

Bang Kise Ganteng: Baca PM

.

.

Happy Reading!

.

.

Tok Tok Tok

Cklek

"Sakura? A-ayo masuk." Titah seorang gadis berambut pirang yang kini tergerai di sepanjang punggungnya.

Kemudian Sakura mendudukkan dirinya di salah satu sofa. Tanpa berkata apa-apa, dikeluarkannya isi salah satu kantong plastik yang dibawanya. Ino yang sudah menduga apa yang akan dilakukan temannya selanjutnya hanya berlalu sambil menghela napas.

'Pria menyebalkan. Beraninya mempermalukan aku di perempatan lampu merah.'

Bletak

"Aduh, kenapa kau-"

"HARUSNYA AKU YANG TANYA! BAGAIMANA BISA KAU MENGABAIKANKU YANG SEJAK TADI MEMANGGILMU DARI ARAH DAPUR, JIDAT?!" Bentak Ino usai memberi jitakan di kepala Sakura.

Sakura yang baru sadar kalau sejak tadi dia hanya melamun kini mendesis. Mulutnya kini melantunkan kutukan untuk orang yang membuatnya memikirkannya. Seorang pemuda berambut merah yang tadi nyaris menabraknya. Menjengkelkan memang.

"Kau mau minum apa?" Ino mencoba bersabar saat mengulang pertanyaannya yang sejak tadi tak didengar Sakura.

"Ck, kau memanggil cuma untuk menanyakan itu. Yasudah buat apa saja yang layak minum!" Jawab Sakura sekenanya.

Ino pun kembali beranjak menuju dapur. Meninggalkan gadis bersurai soft pink yang kini sibuk menggambar sketsa di atas kanvas.

"Kau habis belanja lagi?"

Sebuah suara membuyarkan lamunan Sakura. Iris emeraldnya diarahkan pada seorang pemuda yang masih mengenakan piyama. Kini pemuda berambut pirang itu berjalan mendekatinya.

"Hn, kau bilang hari ini kita senang-senang lagi kan?" Sakura mengingatkan.

Naruto pun membulatkan mulutnya pertanda ingat. Tak lama, Ino tiba membawa nampan dengan dua cangkir green tea. Baru saat Ino meletakkan dua cangkir itu, Naruto meraih satu.

Ctak

"Ittai.."

"Aku buat dua untukku dan Sakura!" Bentak Ino pada Naruto.

"Ya ampun, kau ini pelit sekali. Kepada sepupu sendiri jangan pelit, Ino-chan." Lirih Naruto sambil mengusap punggung tangannya yang baru saja mendapat tamparan oleh sendok teh.

"Kalau aku pelit, kau pasti tetap tinggal di Amerika dan tak akan pernah tinggal di rumahku bahkan walau ibumu yang memintanya, Naruto." Sahut Ino santai.

Naruto hanya manyun dan berjalan ke dapur hendak mengambil minumnya sendiri. Sakura hanya menggeleng kepala melihat dua sepupu yang tak akur itu.

"Pipimu kenapa, Sakura-chan?" Tanya Ino tiba-tiba.

Sakura langsung membulatkan matanya dan mengusap pipinya. Dia melirik Ino sejenak dan kembali beralih pada sketsa gambarnya. Enggan menjawab.

"Sasori-niisan melakukannya lagi?" Tanya Ino ragu.

Kemudian sebuah rengkuhan membulatkan mata Sakura. Ino merengkuhnya sambil berucap lirih.

"Tenanglah, dia kakak yang baik. Aku yakin dia tak bermaksud melakukan itu padamu." Ino mencoba meyakinkan.

Kemudian iris emerald yang membulat itu berubah sayu.

'Andai kau benar, Ino. Andai aku mengerti alasannya melakukan itu. Andai aku tak pernah berada di posisi seperti ini.'

.

.

.

"Hey, kapan kau akan selesai dengan itu?!" Cibir Shikamaru sambil menatap Kiba jengkel.

Benar saja, sudah sejak tadi siang Shikamaru bersama Kiba berjalan-jalan di sekitar Konoha Street dan sedikit-sedikit mampir ke cafe untuk minum minuman hangat. Tapi entah apa yang membuatnya semakin jengkel terutama sejak Kiba terus memainkan kaleng pylox di genggamannya untuk menggambar-gambar di dinding rumah orang.

"Ssst! Kau tidak lihat aku sedang menciptakan seni yang indah?!" Sahut Kiba ketus.

Dia tak mempedulikan Shikamaru yang menatap datar di belakangnya. Masih terlalu sibuk dengan graffiti yang sedang digambarnya. Seolah lupa kalau dia dan Shikamaru sudah berencana untuk menjemput Naruto dan Sakura untuk memulai 'aksi' mereka. Tanpa mereka sadari, seseorang berjalan mendekati mereka dengan sesuatu yang disembunyikan di balik punggungnya.

BUK

Kiba yang merasa mendengar suara benturan langsung meneguk ludah. Berpikir untuk menoleh, tapi ragu. Sampai akhirnya dia berani menoleh dan mendapati seseorang dengan posisi tangan terangkat seolah hendak mengayunkan balok kayu panjang ke arahnya. Begitu Kiba menoleh, pemuda yang memegang balok kayu itu menyeringai. Diurungkannya niat untuk memukul Kiba. Kiba membulatkan mata melihat Shikamaru yang terkapar di sebelah kaki pelaku pemukulan.

"Shikamaru!" Seru Kiba sebelum pemuda berambut merah itu meraih kerah bajunya.

"Temanmu itu pingsan. Sebaiknya kalian ikut aku." Ucap pemuda itu sambil menarik Kiba masuk ke dalam mobilnya yang terparkir beberapa kaki dari tempat Kiba membuat graffiti.

"Aku tidak mau! Kau pikir kau siapa?!" Teriak Kiba berontak.

Namun pemberontakannya berhenti begitu melihat pemuda berambut merah itu menunjukkan kartu identitas kepolisian atas nama Rei Gaara.

'Ck, kita tertangkap.'

TBC

A/N:

Fura akui chapter ini pendek. Alur yang konon secepat Yellow Flash Konoha malah jadi selamban Siputnya Tsunade.. *diguyur lendir beracun(?)*

Maafkan semua kekurangan Fura selama penulisan ini. Termasuk kamu yang baru ganti penname! *nunjuk yg request fic*

Oke sekian A.N gajenya, trimakasih banyak yang sudah RnR dan juga Fav/Fol. Fura usahakan bisa update cepat dengan words yang semakin banyak. *deep bow*

Mind to Review?