Disclaimer: Semua karakter milik Masashi Kishimoto. Fura cuma buat cerita Art Not A Crime aja.

Berikut balasan review chapter lalu.

EchaNM: Baca PM

Bang Kise Ganteng: Baca PM

Ha neul: Gomen, baru update. Makasih reviewnya tapi ini tak serapih author-senpai di sana. Maaf juga belum bisa buat yang lebih panjang. Buat RnR-nya, arigatou gozaimasu! Lain kali kalau ada kesalahan penulisan, tolong komentarnya ya, supaya terus semakin rapih. ^-^)b

.

.

Happy Reading!

.

.

"Argghh kenapa sms-ku tak dibalas? Inuzuka Kiba menyebalkan!" Naruto mengacak rambutnya frustasi.

Sudah sejam dia dan Sakura menunggu untuk dijemput Kiba yang katanya mau menjemput. Sudah cukup lama juga sejak Naruto mengirimi Kiba sms, namun tak ada balasan. Sakura yang duduk di sebelahnya hanya menghela napas lelah.

"Kalau begitu aku telepon Shikamaru saja," ujar Sakura yang dibalas cibiran Naruto.

'Kenapa tidak dari tadi?!' batin Naruto sewot.

"Halo, Shikamaru, kau dimana?"

[Menurutmu setelah membuat graffiti yang merusak pemandangan di Konoha Street, dimana para seniman jalanan berlabuh?]

"..." Sakura diam. Dia duga bukan suara pemilik ponsel yang didengarnya.

[Pemilik ponsel ini sedang mendekam di kantor polisi. Salahkan dia yang merusak fasilitas publik]

Nut Nut Nut

Sakura menganga bingung usai berakhirnya pembicaraan telepon. Naruto yang melihat ekspresi bingung Sakura pun menggoyangkan bahu kiri Sakura.

"Hey, kau kenapa, ttebayou?"

"Polisi berhasil menangkap Shikamaru dan Kiba"

.

.

.

"Lepaskan teman kami!" desis Sakura sambil menatap tajam pada polisi yang menahan Kiba dan Shikamaru.

Kini Sakura dan Naruto tiba di Kantor Polisi Konoha. Para polisi berperawakan tinggi itu hanya diam tak mengindahkan pandangan dingin Sakura. Sampai akhirnya Sang kepala polisi datang.

"Kau ingin menjemput teman-temanmu? Atau, kau ingin mengakui kesalahanmu yang sudah berkomplotan dengan mereka untuk merusak kenyamanan kota, Haruno Sakura?"

Sakura membulatkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa Uchiha Shisui tau itu? Selama ini Sakura dan tiga temannya itu selalu lolos dari kejaran polisi dan sangat tidak mungkin untuk teridentifikasi sebagai bagian dari kelompok itu. Sakura menggertak giginya geram. Dia ingin membantah tak peduli sebesar apa kebohongan yang akan dia luncurkan.

"Aku sudah membuat teman-temanmu mengatakan semuanya. Orang-orang seperti kalian harus ditindak tegas. Masalah kecil bisa jadi yang paling memuakkan hanya karena ulah kalian" Shisui menatap Sakura tajam. "Seniman jalanan hanyalah sampah. Kalian tidak diperlukan. Karena bagi Konoha, seni itu adalah sebuah tindak kriminal yang patut untuk dimus-"

BUG

BRUK

Kini tubuh Uchiha itu terkapar di atas lantai dingin kantor kepolisian. Darah mengalir di salah satu sudut bibirnya. Wajahnya merasakan emosi kemarahan seorang Haruno Sakura, gadis yang baru saja memukulnya. Tapi tanpa Shisui sadari, semua itu tak ada artinya dibandingkan rasa sakit Sakura saat mendengarnya. Tak ada siapa pun yang tahu itu.

Seorang pemuda berambut merah maroon berdiri mematung di ambang pintu. Matanya menatap nanar pemilik iris emerald yang baru saja memukul rekan kerjanya.

.

"Aku baru saja melihatnya dengan mataku sendiri. Jadi sekarang, biarkan aku bertanya" ujar Gaara sambil membenarkan posisi duduknya dan menatap Sakura lekat-lekat.

Sakura yang sejak tadi dibawa ke ruangan 'mantan kepala polisi Suna' itu hanya duduk di seberang sofa ruangan Gaara sambil menunduk dalam. Pemuda beriris azure itu pun bersiap memberikan pertanyaan pertama.

"Kau yang selama ini bersama teman-temanmu meneror kenyamanan kota khususnya sekitar Konoha Street?"

Sakura mengangguk singkat. Gaara hendak memberikan pertanyaan berikutnya.

"Kau melakukannya setiap malam dan selalu menghalalkan segala cara untuk meloloskan diri dari kejaran polisi?"

"Hn" gumam Sakura sambil mengangguk.

"Dan apakah kau perempuan yang ku temui waktu itu? Maksudku, kau perempuan yang membawa belanjaan berupa caps pylox dan sebagainya yang hampir aku tabrak kan?"

Perlahan, Sakura mendongak. Mencoba melihat untuk memastikan apa pertanyaan itu benar adanya. Dan tak butuh waktu lama untuk membuat kedua iris hijau itu bertemu. Kemudian Sakura segera mengalihkan pandangan dan sedikit mengangguk, menjawab pertanyaan yang barusan.

"Aku akan memberikan pertanyaan terakhir. Sesuai apa yang kulihat, apakah kau pelaku pemukulan kepala polisi yang baru saja terjadi di depan mataku?"

"Ka-kau tidak mengerti!"

Kemudian Gaara ikut berdiri melihat Sakura bangun dari duduknya sambil membantah.

"Tentu saja aku tidak mengerti. Sejak kapan polisi penegak kebenaran dan seorang seniman perusuh yang liar bisa saling mengerti, huh?!" Gaara menatap sinis Sakura. Sakura yang tetap tegap membela diri hanya membuang pandangan. Enggan bertemu pandang dengan polisi angkuh di hadapannya.

"Semua orang punya alasan untuk apa yang mereka lakukan. Dan kau tidak kenal aku. Kau tidak pernah tau alasan aku melakukan semua itu. Dan lagi, seni bukanlah kasus kejahatan yang pantas untuk diberantas!" Sakura mencengkeram kerah baju Gaara. Tidak peduli pada tatapan penuh kejut dari sejumlah polisi yang berada di dalam kantor itu. Sedangkan Gaara hanya bungkam menatap datar iris emerald penuh kilat di hadapannya.

"Ya, itu artinya aku juga punya alasan untuk menangkapmu. Kakashi-san, masukkan dia bersama dua temannya ke tahanan" titah Gaara yang membuat Sakura mengepal tangannya geram sampai akhirnya dua polisi di antara sejumlah polisi itu memborgol kedua tangan Sakura.

"Cih, kau tidak mungkin menangkapku! Aku hanya menggambar graffiti di tembok-tembok jalan dan hukuman ini yang aku terima? Ini tidak adil!" Sakura mendecih tak terima.

"Hn, katakan itu lagi di pengadilan nanti"

"Percuma! Seadil apapun hukum yang kau coba tegakkan, aku tak akan mengatakan apa pun di sana. Karena sampai kapan pun, Haruno Sakura tak akan pernah mendapatkan keadilannya!" Sakura terengah-engah. Dia membentak dengan memaksakan kemampuan suaranya sendiri. Dia terlanjur emosi pada ketidakmengertian polisi muda di hadapannya.

"Yang benar saja, kalau kau tak mau diadili atau pun ditangkap, kenapa coba membela dua tahanan itu? Kalau kau tidak mau ini terjadi, sudah sewajarnya kau mengabaikan mereka demi terbebas dari situasi seperti ini" Gaara hanya berbalik memunggungi Sakura. Mengangkat tangan kanan mengisyaratkan kedua polisi yang menahannya segera membawanya pergi.

"Baka!" Gaara tersentak. Tanpa berbalik melihat Sakura, Gaara tetap mendengar lanjutan ucapan gadis bersurai soft pink itu. Di ambang pintu kantor Gaara, Sakura berkata dengan intonasi tinggi.

"Shikamaru, Naruto, dan Kiba adalah sahabatku. Adalah hal paling bodoh jika aku meninggalkan mereka hanya demi terhindar dari hukuman bodoh ini. Kau tidak tau aku. Selain mereka bertiga, tidak ada yang mau tau dan mau peduli soal aku!" ujar Sakura lirih. Setelah beberapa lama membuat Gaara yang sempat mematung jadi menunduk dalam, Sakura melangkah pergi mengikuti arah polisi yang menggiringnya ke tahanan.

.

.

.

"Halo,"

[Apakah anda Haruno Sasori? Saya Uchiha Shisui kepala polisi Suna. Bisakah anda hadir dalam pengadilan besok untuk menjadi saksi atas pelanggaran yang selama ini dilakukan Haruno Sakura?]

"Na-nani? Sakura kenapa?"

[Besok akan dijelaskan. Jadi, bisakah besok anda-]

"Gomen. Aku tidak sedang di rumah. Aku masih ada urusan kantor besok. Gomen, aku tidak bisa.." Sasori memejamkan matanya penuh penyesalan walau mustahil dilihat oleh Sakura dan orang di seberang telepon. Jujur, Sasori khawatir. Namun waktunya benar-benar tidak tepat.

[Wakatta. Tapi, tidak adakah pihak keluarga Sakura yang bisa datang besok?]

"Etto.."

TBC

A/N: Minna, maaf Fura baru update. Entah kenapa banyak libur malah bikin ide cerita jadi mampet U,U

Tapi Fura berterimakasih pada kalian yg sudah RnR & FnF. Terutama Bang Kise Ganteng yang request fic ini yampon Fura jadi merasa bersalah karena bikin nunggu ,

Arigatou, minna!

Mind to Review?