Disclaimer: Semua karakter milik Masashi Kishimoto. Garis cerita dalam fict ini milik Fura.

.

.

Happy Reading!

.

.

"Wakatta. Arigatou gozaimasu" Uchiha Shisui mengakhiri percakapan telepon. Usai menempatkan gagang telepon kembali pada tempat semula, dia menghela napas. Hal itu juga dilakukan oleh Shikamaru, Kiba, dan Naruto yang sejak tadi berdiri memperhatikan percakapan telepon dari dalam sel tahanan kepolisian Konoha. Seolah mereka tau apa yang dikatakan Sasori saat percakapan telepon.

"Haruno-san, tidak adakah pihak keluargamu yang bisa hadir pada saat pengadilan nanti?" tanya Shisui setengah lirih. Sakura yang hanya duduk bersandar di pojok sel tahanan hanya mendongak ke arahnya. Iris emerald gadis itu menatap kilat. Tak lama, gadis bersurai soft pink itu memalingkan wajahnya ke arah lain sebelum berkata.

"Aku tidak punya siapa-siapa,"

Perlahan, Shikamaru berjalan mendekati Sakura. Berbatas jeruji besi yang membatasi tahanan pria dan wanita, Shikamaru meraih pundak Sakura. Sela-sela jeruji cukup lebar untuk membuat tangan Shikamaru meraih pundak sahabatnya itu. Tak lama, iris onyxnya membulat melihat gadis yang memalingkan wajah itu terisak.

"Sakura?" gumam Shikamaru khawatir.

Bruk

.

.

.

Seorang pria bersurai merah maroon berlari terengah-engah di sepanjang koridor rumah sakit. Sejak keluar dari lift, matanya diarahkan untuk menemukan kamar rawat yang ditujunya. Sampai akhirnya didapatinya pintu kamar rawat nomor 26C.

Cklek

Bukan, pemuda itu bukan Haruno Sasori. Pemuda berambut merah maroon yang baru memasuki ruangan serba putih dengan aroma obat yang menyeruak kini berjalan mendekati seorang gadis bersurai soft pink yang terbaring di atas ranjang. Begitu tubuhnya sudah berdiri di sisi kanan ranjang, kelopak pelindung manik emerald di hadapannya perlahan terbuka, memunculkan tatapan sendu gadis bersurai soft pink itu. Perlahan, Gaara meraih salah satu telapak tangan Sakura yang punggung tangannya terpasang pipa infus. Walau genggaman tangannya sempat bergetar, Gaara berusaha untuk tetap menahan tangan gadis itu diantara kedua tangannya dengan kokoh. Gaara tidak mengerti. Beginikah ketidakadilan yang pernah gadis itu maksudkan? Terjun ke dunia bebas aturan dan menciptakan seni jalanan dengan liarnya, itulah akibat dari kesepian yang selalu dialami Sakura. Baru Gaara sadari betapa teganya Haruno Sasori. Baru Gaara sadari betapa teganya sosok ayah yang meninggalkan ibu Sakura hingga Sakura harus menghadapi sisa hidupnya bersama kakaknya yang egois. Sayang? Tentu saja Sasori memang menyayangi Sakura. Namun rasa sayang yang ditunjukkan Sasori dihadirkan dengan cara yang salah. Sasori bekerja untuk memenuhi kehidupan Sakura sebagai walinya sejak mereka tak tinggal bersama orangtua mereka. Tapi haruskah Sasori membuat Sakura kesepian? Itulah ketidakadilan yang selama ini Sakura rasakan. Dan Gaara menyesal baru menyadari semua itu sekarang. Terhitung enam hari untuk membuat Gaara menemukan beragam bukti dan latar belakang Sakura melakukan semua itu. Sudah berlalu juga hari dimana Sakura, Kiba, Naruto, dan Shikamaru diadili. Walau Sakura tidak hadir karena masih dirawat di rumah sakit pada saat pengadilan, Gaara akhirnya bisa mengerti. Dan di sinilah Gaara. Pertama kalinya setelah adu argumen yang terakhir kali di kantor polisi, Gaara bertatap muka kembali dengan Sakura.

"Hey, dokter bilang kau bisa pulang sore ini. Apakah kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Gaara memulai percakapan. Sakura yang tadinya terbaring kini mencoba bangun untuk duduk bersandar dibantu Gaara.

"Cih, pulang atau tidak, tidak ada bedanya. Aku akan tetap merasa kesepian," sahut Sakura ketus disusul helaan napas kasar. Bibir ranumnya mengerucut sebal. Dirinya tidak heran juga pada Sasori yang tak kunjung menjenguknya. Bukan hal yang tabu, pikirnya.

Gaara yang sudah bosan dengan pernyataan gadis itu yang selalu terkesan monoton hanya memutar bola matanya acuh. Kemudian dibukanya tas ransel yang sejak tadi melingkar di pundak kanannya, dan dia pun meraih sesuatu.

"Aku harap kau lapar. Temari-neesan memintaku membawakan ini untukmu," ujar Gaara sambil mengacungkan sekotak bento. Sakura segera menerimanya dan menggumamkan kata wah begitu membuka tutupnya. "Dia bilang itu untuk gadis pelukis jalanan yang pingsan di sel tahanan. Itu sebutan yang cocok untukmu, bukan?" goda Gaara yang langsung mendapat delikan tajam dari pemilik manik emerald. Tanpa berlama-lama, Sakura langsung mulai mencoba satu suapan.

"Namaku Gaara. Rei Gaara," Sakura yang sedang mengunyah suapan pertama kini berpaling menoleh Gaara. Kemudian kelopak mata gadis itu mengerjap sebentar. Dan segera suapan pertama itu ditelannya.

"Ah iya, segitu sopannya aku sampai tak ingat untuk mempedulikan nama orang yang memberikanku makanan ini," celetuk Sakura sambil tertawa hambar dan menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Arigatou gozaimasu, Gaara-san," imbuhnya sambil melanjutkan makan.

Tanpa Sakura sadari, Gaara tertegun. Gaara diam tak bergeming sejak melihat Sakura tersenyum saat mengatakannya. Pertama kalinya dia melihat gadis yang kesepian itu menunjukkan senyum cerianya. Senyum yang sangat terkesan manis hingga membuat Gaara dapat merasakan pipinya merona sekarang ini. Setelah beberapa lama mengendalikan degup jantungnya, Gaara berpaling dan melangkah menuju pintu.

"Lima belas menit lagi kau akan pulang. Aku menunggumu di kantin rumah sakit. Aku akan mengantarmu pulang," ujar Gaara setelah meraih knop pintu.

.

.

.

Sakura yang sudah menyelesaikan makan siang -menjelang sore- kini berjalan pergi meninggalkan rumah sakit. Gadis ini tetap berjalan meski penampilannya yang masih mengenakan seragam pasien menjadi perhatian bagi sejumlah orang di ruang tunggu.

"Cih, dia mau antar aku pulang ke rumah?! Enak saja, lebih baik aku mampir ke rumah-"

Set

"HEY KAU MAU BAWA AKU KEMANA?!" teriak Sakura pada seorang pria bertato ai yang berjalan sambil menyeretnya.

"Tentu saja ke tempat parkir," jawab Gaara kalem.

Sakura menghela napas kasar sebelum benar-benar menuruti permintaan pemuda itu untuk memasuki sedan hitam ini. Sakura sadari pemuda yang baru dikenalnya ini sudah terlalu berlebihan memperhatikannya. Namun Sakura tetap pasrah mengingat dia masih enggan menanggung malu jika dirinya yang masih berpakaian ala pasien ini berlari dari kejaran pemuda blasteran panda-manusia yang hendak mengantarnya pulang.

.

.

.

Gaara yang turun dari mobilnya disusul Sakura, kini berjalan memasuki kawasan elit dengan sebuah rumah bercat putih yang berdiri kokoh di sana. Mata azurenya menyusuri setiap sisi rumah dengan Sakura yang mencoba membuka pintu rumahnya.

Cklek

Cklek

Cklek

"Di-dikunci?!" gumam Sakura panik. "Dimana petugas keamanan?" Sakura menoleh ke arah pos security yang tadi dilewatinya.

"Tidak ada siapapun di pos security saat aku tadi lewat sana, Sakura-san," ujar Gaara yang membuat Sakura kembali menatap pintu dan mencoba mengetuknya.

"Niisan! Sasori-niisan!" seru Sakura sambil terus mengetuk pintu. "Ck, tumben sekali rumah ini sepi. Sesepi apapun keadaannya pasti ada satu satpam di sana," gumam Sakura bingung.

Gaara yang berjalan ke sisi rumah melihat taman halaman depan rumah ini. Pemuda beriris azure itu memicingkan matanya membaca tulisan pada papan yang terpasang dengan patok di atas tanah taman.

[TANAH INI DISITA ATAS KETERLIBATAN PEMILIK DALAM KASUS KORUPSI

Ttd.

Akasuna Corp.]

Gaara meneguk ludah usai membacanya.

'Sa-sasori-niisan?'

Bruk

TBC

A/N: Aih, Sakura pingsan again. U,U *timpuk Sasori pake pisang*

Oke semoga chapter ini memuaskan. Dan maaf untuk keterlambatan updatenya ^-^)/ Fura baru beli pulsa '3')a

Mind to Review?