Disclaimer: Semua karakter milik Masashi Kishimoto. Fura hanya pinjam nama.

.

.

Happy Reading!

.

.

Matahari sudah nampak dari ufuk timur. Sinar matahari pagi pun masuk menusuk kaca jendela kamar serba hijau telur asin ini. Cahaya yang masuk membias memberikan rasa silau di mata gadis bersurai soft pink yang masih terpejam ini. Dan perlahan kelopak matanya terbuka, segera terpicing sendiri oleh silau sinar matahari yang masuk. Haruno Sakura yang baru terbangun kini merubah posisinya menjadi duduk bersandar. Sambil mengucek ujung kelopak mata, Sakura bergumam.

"Dimana aku?"

Sakura turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Dibukanya pintu kamar dan mulai berjalan keluar dari kamar. Gadis bersurai soft pink itu berjalan menuruni tangga rumah yang masih dia bingungkan siapa pemiliknya. Begitu sampai di lantai bawah, diedarkannya pandangan ke seisi rumah serba hijau telur asin ini. Sampai akhirnya seseorang meraih pundaknya dari belakang membuatnya sedikit bergedik kaget.

"Sakura-san sudah bangun?" tanya sosok itu membuat Sakura menghadap ke arahnya.

"E-eh? Dimana aku? Dan si-siapa kau?" tanya Sakura ragu. Membuat gadis bersurai kuning kecokelatan di hadapannya tersenyum.

"Namaku Temari. Ayo, sebaiknya kau makan dulu!" titah gadis itu sambil menarik tangan Sakura agar mengikutinya ke ruang makan.

'Temari? Nama yang tidak asing,' gumam Sakura dalam hati.

"Aku harap kau lapar. Temari-neesan memintaku membawakan ini untukmu,"

Temari yang sudah beberapa menit menarik Sakura kini menghentikan langkahnya di dekat meja makan. Senyuman merekah di bibirnya begitu melihat makanan buatannya masih tertata rapih sejak ditinggalkan Gaara yang pergi kerja setelah sempat sarapan. Tapi kemudian senyuman itu memudar begitu gadis di belakangnya menarik paksa tangannya yang sempat digenggamnya.

"Aaa~ apakah kau benar-benar kakaknya Gaara?" tanya Sakura menatap Temari yang masih mengerjapkan mata bingung.

Kemudian, Temari mengangguk. Temari mengambil roti tawar di atas meja makan dan mengolesinya dengan mentega. Kemudian digerakkannya tangannya untuk menuang susu kemasan kotak ke dalam gelas kaca. Setelah semuanya selesai, matanya kembali memandang Sakura.

"Makanlah. Aku akan menceritakan apa yang ingin kau tahu setelah kau kenyang," Temari mengisyaratkan Sakura untuk duduk di salah satu kursi dan Sakura melakukannya.

"Ano, aku tidak butuh cerita darimu. A-aku mau bicara dengan Gaara langsung, apakah bisa?" tanya Sakura pelan.

Temari yang sedang mengelap meja makan kini menoleh memandang gadis beriris emerald. Kemudian Temari menggedikkan bahu mengiyakan.

"Ya, kau tau kau bisa melakukannya hanya jika dia sudah pulang bekerja, oke?" Sakura pun mengangguk.

.

.

.

"Huft, dimana panda tanpa alis itu?!" umpat Sakura yang merutuki keterlambatan Gaara pulang dari kantor polisi. Sesibuk itukah seorang polisi di kota ini? Seramai itukah penjahat kota yang menyita waktu para polisi? Sakura membatin sendiri.

Jam dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul 22.36. Bahkan Temari sudah membujuk Sakura untuk menunggu bicara dengan Gaara besok dan segera tidur. Temari ingin menceritakan hal yang ingin Sakura tahu namun Sakura bersikeras ingin mendengarnya dari Gaara. Mungkin Sakura sangat ingin menyalahkan sikap Gaara yang memilih membawa Sakura ke rumah ini.

Mata emerald itu semakin sayu. Sakura sudah sangat mengantuk duduk di atas sofa ini. Dia sandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Perlahan, kelopak matanya menutup.

.

.

.

Cklek

"Tadaima~ eh?" Gaara mengerjapkan mata bingung. Dilangkahkannya kakinya menuju ruang tamu. Matanya tak kunjung lepas dari menatap gadis bersurai soft pink yang terbaring horizontal di atas sofa panjang. Kemudian pemuda beriris azure itu berjalan ke laci baju dekat tangga menuju lantai atas. Diambilnya sehelai selimut.

Syut

Senyum tipis terpatri di bibir pemuda bersurai merah maroon itu. Matanya menatap gemas pada sosok gadis yang tertidur berselimutkan selimut yang baru digelarnya di atas tubuh gadis yang sedang tertidur.

"Sasori-niisan, kau dimana?" gumam Sakura yang mengigau. Dan tak butuh waktu lama untuk membuat senyum Gaara memudar digantikan kepalan tangannya yang kini mengerat geram.

.

.

.

Bruk

"Ittai~ eh?" Sakura yang sempat meringis akibat terjatuh dari sofa di saat sedang tidur nyenyak langsung memandang tak percaya pada sosok yang tertidur di single sofa yang berada di seberang meja ruang tamu.

Kemudian iris emerald itu beralih memandang selimut biru tebal yang baru disadarinya sudah menghangatkan saat-saat tidurnya. Sakura menggaruk pipinya yang tak gatal, dan tanpa disadari pipinya merona menimbang kemungkinan Gaara lah yang menyelimutinya semalam.

"Dia tidur di atas sofa setelah menyelimutiku yang tanpa sengaja tidur akibat menunggunya semalaman? Cih, sok manis sekali dia," gumam Sakura sambil berjalan ke arah dapur.

Pandangan gadis berambut bak permen kapas itu beralih pada jam dinding yang menunjukkan pukul 08.05 dan bersamaan itu juga indera pendengarannya mendapati derap langkah seseorang yang menuruni tangga dari lantai atas.

"Ck, aku terlambat" gerutu Temari sambil terus melangkah sambil memeriksa isi tasnya memastikan tidak ada yang tertinggal. "Gaara! Sakura! Aku pamit pergi!" seru Temari yang sudah dekat dengan pintu dan saat itu juga Sakura beranjak menghentikannya.

"Temari-san, kau akan meninggalkanku di sini dengan Gaara-san?" tanya Sakura harap-harap cemas. Sakura bertanya sambil terus memandang bergantian pada Temari dan Gaara yang masih terbaring di sofa. Temari terkekeh mengerti.

"Kau di sini saja, ya. Masaklah sesuatu untuk kalian makan. Aku harus pergi dan aku akan terlambat. Jangan khawatirkan Gaara karena terlepas dari itu semua, dialah yang mengkhawatirkanmu," jelas Temari yang masih membuat Sakura bingung. Temari menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Begini, inilah yang tak ingin kau dengar dariku dan ingin kau dengar darinya walau tak mungkin juga dia akan mengatakannya padamu. Dia mengkhawatirkanmu. Dia membawamu tinggal sementara di sini selagi dia urus semua laporan mengenai ditangkapnya kakakmu. Gaara bekerja sama dengan sejumlah pihak berwenang untuk memastikan kakakmu akan baik-baik saja. Gaara bukan polisi yang asal adil saja. Dia adalah pelurus kesalahan dan akan membuat 'tersangka' pun merasa baik-baik saja. Jadi yang perlu kau lakukan adalah hanya berpikir bahwa semua akan baik-baik saja," jelas Temari sambil tersenyum. Dan matanya membulat terkejut melihat respon Sakura di hadapannya. Sakura menunduk. Perlahan tangannya digunakan untung mengusap air matanya. Sakura terkejut bukan main. Polisi muda yang mengadilinya bahkan mencoba memastikan bahwa kakaknya akan tetap baik-baik saja. Sakura mana tahu kalau alasan Gaara pulang malam adalah kasus kakaknya itu? Polisi, sebuah profesi yang selama ini ingin Sakura lawan dengan keberaniannya membuat kerusuhan kota dan kabur dari kejaran para polisi sebagai kesenangan dan hiburan belaka. Siapa yang tahu bahwa seorang polisi juga yang menolong Sakura di saat keadaan keluarganya sedang seperti ini? Sakura mana tahu kalau polisi ketus dan dingin itu punya rencana sendiri untuk kakaknya?

"Baiklah, Temari-san. Hati-hati di jalan," ujar Sakura sebelum menerima pelukan dari Temari. Setelah menenangkan Sakura dengan rengkuhannya, Temari pergi meninggalkan Sakura.

Krucuk krucuk krucuk

Perut Sakura berbunyi. Dia merasa tak punya alasan untuk tak memasak.

.

.

.

Bruk

Sakura terjatuh saat berdiri di atas kursi untuk mengambil daun teh di laci atas dapur. Beberapa lama mengaduh sakit, didengarnya derap langkah mendekat.

"Tema- Sakura-san?" gumam Gaara terkejut.

Sakura segera bangun dan mendirikan lagi kursinya. Gaara yang mendekat mengusap tengkuknya bingung selama memandang seisi dapur. Iris azurenya membulat melihat dua piring nasi ditemani sup rumput laut tertata rapih di atas meja.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Gaara.

"Memasak," jawab Sakura cepat.

"Dan apakah itu buatanmu?" Gaara menunjuk menu di atas meja. Dan tak butuh waktu lama membuatnya ber-oh ria pasca Sakura mengangguk. Diambilnya sepiring nasi dengan sup di sana.

Suasana hening kali ini. Di dapur hanya terdengar suara sendok yang bersenggolan dengan piring. Baik Sakura mau pun Gaara, tidak ada yang membuka suara lagi. Sakura berpikir Gaara butuh sarapan untuk melepas lelahnya yang mungkin belum hilang akibat tidur larut malam. Iris emeraldnya terus memperhatikan Gaara yang mulai menyuapkan makan paginya. Sakura melakukan itu tanpa menghentikan kegiatannya mengelap piring.

"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Gaara tiba-tiba. Dia bertanya tanpa melepas fokusnya pada sup rumput laut yang dimakannya.

"Huh?" tanya Sakura spontan. Otaknya belum sepenuhnya konsentrasi dalam mencerna pertanyaan pemuda itu.

Pemilik manik azure meletakkan sendoknya. Menoleh ke arah Sakura tanpa beranjak dari duduknya.

"Tidur di sofa seperti sedang menunggu sesuatu. Apa yang ingin kau tanyakan padaku sampai menungguku semalaman itu?" tanya Gaara mengangkat sebelah alisnya.

Sakura menunduk. Tangannya memainkan ujung apron hijaunya. Menimbang-nimbang apa yang pantas untuk ditanyakannya sekarang mengingat ada sejumlah cerita yang sudah didengarnya dari Temari.

"Err, aku mau tanya, ke-kenapa kau mau...menolongku seperti ini?"

Gaara berbalik kembali mengalihkan pandangan kepada makan paginya. Seolah sup rumput laut itu lebih menarik dari pembuatnya. Sakura mendekat ke meja makan, melepas apron dan ikut duduk di kursi seberang Gaara dengan berbatas meja makan, menunggu jawaban. Pemuda bersurai merah maroon menghela napas.

"Tidak seharusnya kau mempertanyakan alasan kebaikan seseorang," jawab Gaara datar.

Sakura menggeleng sambil menatap kilat pemuda di hadapannya.

"Tapi aku tak mengerti," gumam Sakura membuat Gaara balik menatapnya. "Kau ingat aku kan? Aku gadis perusuh kota yang dikejar-kejar kepolisian dan kau berhasil menangkapku. Setelah semua itu kau masih mau tau tentangku, membantuku, bahkan membawaku tinggal di sini sedangkan kau bekerja sendiri di luar sana untuk mengurus kasus kakakku? Ini kebaikan yang tak masuk akal!"

"Haruno Sakura, aku bukan seorang polisi yang setelah kasus berakhir, kemudian membiarkan setiap orang yang sudah berurusan denganku jadi asal lepas begitu saja. Aku ini orang yang ingin benar-benar memastikan bahwa setiap kasus berakhir, semuanya akan benar-benar baik-baik saja tak terkecuali kau. Itu sebabnya aku turut membantu masalah kakakmu yang membuat tanah kediamanmu itu disita. Yang aku lakukan hanya membuat setiap orang merasa baik-baik saja," jelas Gaara sebelum mendapati iris emerald di hadapannya membulat. Sakura menunduk lagi. Ditenggelamkannya wajahnya dalam lipatan tangannya yang sejak tadi di atas meja. Dia jadi teringat kakaknya, kasus kakaknya, dan semuanya. Ingin liquid bening di sana diteteskannya namun yang dia bisa lakukan hanya berucap lirih.

"Sebagai seorang polisi, kau terlalu aneh. Semua pandanganmu itu benar-benar langka. Aku berani bertaruh hanya kaulah polisi aneh dengan pemikiran semacam itu di dunia," ujar Sakura pelan namun mampu terdengar oleh Gaara yang pandangan azurenya mulai meredup sendu.

"Hn, paling tidak hanya aku yang akan membuat gadis tak bersalah sepertimu merasa aman."

TBC

A/N:

Kalian bisa anggap Akasuna Corp perusahaan tempat Sasori bekerja. Sasori bekerja memegang jabatan cukup penting di sana, dan terduga korupsi pemasukan dana logistik. Sasori tega? Fura jadi merasa tega karena lanjut dengan chapter sependek ini TwT

Thanks to Nurulita as Lita-san, BlackHead394, EchaNM, & Bang Kise Ganteng yang membuat Fura merasa terdorong untuk menulis ch 6 TwT

Mind to Review?