Disclaimer: Semua karakter milik Masashi Kishimoto. Fura hanya pinjam nama.

.

.

Happy Reading!

.

.

Di pagi hari, suara gemertak dan benturan sendok dan piring menggaung di seisi dapur. Tiga insan sedang duduk menikmati sarapannya di ruangan beraroma kari itu. Salah satu gadis di sana, tak kunjung melepas perhatian manik emeraldnya dari satu-satunya laki-laki di sana. Sejak menelan suapan pertamanya, gadis bermarga Haruno itu memang tak kunjung menyuapkan suapan berikutnya dan masih terus memandang Gaara. Merasa terus diperhatikan, pemuda bersurai merah maroon pun meletakkan sendoknya.

"Kau bisa tanyakan apa pun padaku hanya jika kau menghabiskan makananmu, Sakura-san. Jangan sampai selama kau di sini, kau malah semakin kurus." ucap Gaara yang segera melukis seringaian di bibir gadis bersurai soft pink.

"Nah, itu kau paham." Sakura menjentikkan jarinya puas. Sebelum melanjutkan sarapannya sesuai yang diperintah Gaara, dia berujar sejenak. "Hari ini hari Minggu. Mau atau tidak, kau harus membiarkanku pergi keluar untuk main dengan teman-temanku, paham?!"

Pemilik manik azure hanya menghela napas. Dilihatnya gadis beriris emerald melanjutkan sarapannya dengan lahap. Sakura tampak senang karena akan pergi bertemu teman-temannya seperti weekend biasa tidak peduli seperti apa kondisinya dan rumahnya sekarang.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kelanjutan kasus Sasori?"

Pertanyaan yang dilontarkan gadis bersuara berat barusan sontak membuat seluruh pandangan mengarah pada Gaara, tak terkecuali pandangan Sakura. Sakura meneguk ludah menunggu Gaara menjawab. Pada saat yang sama, Gaara meletakkan sendoknya. Gaara baru saja akan menelan suapan terakhirnya.

"Banyak yang mengganjal di benakku soal kasus ini. Aku tak yakin ini merupakan kasus korupsi." ujar Gaara. Temari mengangkat sebelah alisnya.

"Apa maksudmu?" tanya Sakura sambil memandang Gaara dalam.

"Ini terlihat seperti money laundry." jawab Gaara lagi.

"Apakah maksudmu pencucian uang?" Temari turut menatap Gaara antusias. Dan pemilik manik azure mengangguk sekilas.

"Ada yang mengambinghitamkan Sasori. Dan aku khawatir kasus ini tak akan berhenti hanya dengan title korupsi seperti sekarang,"

ujar Gaara yang sedikit menunduk. Enggan membalas tatapan Sakura yang sangat ingin kalimatnya dilanjutkan. 'Akan ada sesuatu terjadi. Dan aku yakin siapa pun yang ingin menjatuhkan Sasori dengan cara ini juga akan menggunakan cara lain. Aku khawatir Sasori dalam bahaya.' lanjut Sasori dalam hati.

Andai Sakura mampu mendengar gumaman hati, pasti dirinya sudah pingsan manakala mendengar lanjutan ucapan Gaara. Kasus money laundry yang terendus dari perusahaan ekspor-impor dan logistik seperti Akasuna Corp. sudah pasti menjadi kasus yang menarik. Benar saja, pencucian uang yang diberlanjutkan atas nama kasus korupsi pasti akan menjadi bahaya bagi yang terlibat di dalamnya. Siapa pun yang ingin menjatuhkan salah satu bagian dari perusahaan itu tak akan sungkan menggunakan rencana apa pun untuk membuat kemalangan terburuk terjadi. Untuk mengakhiri kasus agar nama 'pelaku sebenarnya' tetap bersih, cara apa pun bisa saja dilakukan. Apa pun bisa terjadi. Ya, setangkai mawar akan melindungi 'kecantikannya' walau dengan duri tajamnya yang menusuk, bukan?

"Gaara-san, hari ini kau libur, kan?" tanya Sakura memecah lamunan Gaara.

"Hai'." jawab Gaara singkat.

"Selama aku ke rumah Ino, kau beristirahatlah! Jangan sampai akibat kasus kakakku, kau jadi berbuat banyak." Sakura mengulas senyum tipis. Diraihnya piring di meja makan. Gadis itu melanjutkan langkahnya menuju wastafel untuk mencuci piring. Tanpa disadari, pemuda bersurai merah maroon yang masih memandang punggungnya dari meja makan turut mengulas senyum. Di mata Gaara, gadis beriris emerald itu sudah bisa jadi gadis tegar sekarang. Sejak awal mengenal gadis itu sebagai gadis cuek yang tak mau tau dan selalu membuat kerusuhan kota, kini Gaara bisa mengubah kesannya menjadi berpikir bahwa gadis itu sudah mulai peduli. Tentu saja banyak perubahan terjadi seiring berjalannya waktu.

.

.

.

Di sebuah mansion yang terletak dikawasan perbatasan Konoha dengan Suna. Lebih tepatnya, di sebuah mansion kediaman keluarga penegak hukum paling dihormati di Konoha, keluarga Hyuuga, sekumpulan petugas keamanan penjaga gerbang menatap tajam pada dua sosok pemuda di depan pintu gerbang. Salah satu pemuda yang berambut klimis menyeringai.

"Masih enggan mempertemukan kami dengan jaksa, huh?" Pemuda berambut klimis bagai pahatan perak merogoh saku tuxedo hitamnya.

Cling

Kilau dari mata pisau lipat yang baru diambil Hidan dari sakunya tak membuat satu pun penjaga gerbang mansion Hyuuga gentar. Melihat tak ada respon apa pun dari sekumpulan insan yang sedang dia ancam, Hidan hanya menghela napas kasar dan mendekati gembok pintu gerbang. Kotetsu, salah satu penjaga gerbang dengan plester di hidungnya mendelik curiga pada pergerakan Hidan saat ini. Dilihatnya pemilik manik magenta itu tampak mencoba membuka gembok dengan mata pisau sambil sesekali mengumpat tak tentu sasaran.

"Argh! Pisau lipat ini tak berguna!" Hidan menggeram kesal dan nyaris melempar pisau lipat itu tak tentu arah sebelum pemilik manik onyx di belakangnya menahan tangannya. Ingin sekali pemuda dengan garis tegas di wajahnya itu menunjukkan betapa malunya dia karena harus bersama dengan Hidan yang notabene kecerdasannya melampaui kejeniusan karakter Meme kebanyakan. Namun niat itu diurungkannya dan hanya sekedar membuat Hidan bergeser.

Uchiha Itachi mencoba membuka gerbang dengan sebuah jepit rambut dari saku celananya. Pemuda dengan tuxedo senada dengan milik Hidan menyeringai puas mendapati percobaannya membuka gerbang menuai sukses. Dan bersamaan dengan itu para penjaga gerbang di halaman depan mansion besar itu meneguk ludah cemas.

"Pertemukan kami dengan Hyuuga Neji, atau pisau lipat yang gagal membobol gembok itu akan segera sukses mengakhiri hidup kalian." ucap Itachi sambil menunjuk sekilas pada pisau lipat yang masih ada pada genggaman Hidan.

"Neji-sama adalah jaksa yang adil dan bersih. Tidak ada siapa pun yang bisa mempengaruhi komitmennya dalam menyelesaikan kasus. Beliau adalah jaksa yang hanya akan mengurus kasus serius. Dan dengan keadilan dari setiap kasus yang ditanganinyalah nyawa kami dibayar!" tegas Izumo -salah satu penjaga gerbang- yang turut memberanikan diri bersuara.

Hidan tertegun bersamaan juga dengan Uchiha Itachi yang menunduk. "Cih, bela saja terus jaksa yang kalian hormati dan kalian banggakan itu. Bahkan seluruh jiwa pekerja yang ada di mansion ini tak akan mampu membayar keadilan seorang jaksa seperti dia."

.

.

.

Senyum manis terpatri di bibir gadis bersurai soft pink yang saraf olfaktorinya baru saja mengimpuls aroma chocolate curd yang menggoda. Beruntung dia karena tiba di rumah Ino yang kebetulan sedang menguji hasil pembelajaran masak-memasaknya tempo hari. Sakura segera meraih sendok untuk mencicipi kue buatan Ino namun pergerakannya terhenti. Setetes keringat mengucur melewati pipi kanannya. Sakura tampak tertegun kali ini, seolah perasaannya sedang menyampaikan sesuatu yang masih belum bisa disadarinya.

'Kenapa aku?' batin Sakura yang merasa wajahnya memucat.

Tak lama, seseorang menggoyang-goyangkan pundaknya menyadarkannya.

"Ugh, nani?" tanya Sakura setengah sadar.

"Heh hahehu huhi!" jawab Naruto yang kata-katanya tersamarkan kunyahan kue. Setelah menelan kue cokelat dengan lapisan almond itu, Naruto mengulang kalimatnya.

"Ponselmu bunyi, dattebayou!" Naruto menunjuk ponsel Sakura di atas meja ruang tamu.

Sakura segera meraihnya kemudian memicingkan mata heran.

'Sasori-niisan?' Sakura membaca nama kontak pada incoming call-nya setengah tak percaya. Tak lama, pemilik manik emerald segera menggeser layar jawab.

"Moshi-moshi, niisan?" sapa Sakura antusias.

[Mereka datang ke rumahku. Mereka membunuh hampir semua pekerjaku. Mereka berniat untuk mengancamku. Dimana kau, Gaara-san?] Sakura membulatkan mata tak percaya. Suara baritone itu terdengar asing baginya, jelas itu bukan suara kakaknya. Pikirannya semakin kalut. Dia tak mengerti maksud kata 'membunuh' yang dilontarkan si penelepon. Dia pun tak tau siapa yang pria itu maksud 'mereka'. Namun mendengar nama Gaara membuat akalnya semakin memunculkan dugaan-dugaan aneh dan sangat sulit dimengerti.

"Sumimasen, bisakah aku tau siapa namamu?" tanya Sakura ragu. Dan tak disadarinya iris lavender si penelepon turut membulat. Penelepon juga tak kalah terkejutnya dengan Sakura atas siapa lawan bicara mereka sekarang.

[Kau bukan Gaara.] Neji bergumam pelan. Sakura dengan panik berdiri dari sofa ruang keluarga Ino untuk memahami arah percakapan.

"A-aku memang bukan Gaara. Aku bukan orang yang ingin kau sampaikan apa yang ingin kau katakan. Ta-tapi bisakah kau menjelaskan sesuatu padaku? Kau menelepon dengan ponsel kakakku, ingat?!" Sakura panik. Dia berharap lawan bicaranya menjelaskan sesuatu.

[Apa kau bilan- Argh!]

Tut tut tut

Sakura lemas. Gadis bersurai bak permen kapas itu mendudukkan dirinya kembali ke sofa. Matanya menatap nanar ponsel yang baru saja berhenti menempel pada indera pendengarannya.

"Kenapa teleponnya mati? Kenapa kau tidak katakan apa pun? Kenapa kau tak menjelaskan siapa kau? Kenapa kau memakai ponsel kakakku dan... Dimana kakakku?" Sakura terus menggumam tak jelas. Wajahnya semakin memucat. Jika tak kuat, mungkin dia sudah pingsan. Dirinya sudah semakin lelah dengan keberlanjutan kasus ini. Sejenak, wajah Gaara terlintas di benak gadis beriris emerald itu.

"Sakura, kau kenapa, datteba-"

"Gaara-san! Oh ya, aku harus tanya padanya." Sakura beranjak dari duduknya dan meneguk habis secangkir teh yang disediakan Ino untuknya. Sakura bergegas mengenakan kembali cardigan merahnya sebelum pamit pada Ino dan Naruto yang ucapannya sempat diinterupsi tanpa sebab. Ingin sekali dua insan pirang itu mengutuk sahabat mereka yang satu itu.

.

.

.

Di atas jalan trotoar, seorang lelaki berambut merah maroon berjalan tergesa-gesa dengan bertetes peluh menghidrasi kulitnya. Tak peduli sinar matahari yang semakin terik pada siang ini dan dirinya yang tanpa sengaja menabrak pejalan kaki yang berlawanan arah, dia terus melangkahkan kakinya dan justru mempercepat langkahnya. Lelaki bermarga Rei itu tak sekali pun meredupkan pancaran azurenya yang senantiasa menelusuk seisi jalan yang dilewatinya berharap menemukan orang yang dicarinya.

"Cih, kenapa dia bawa ponselnya itu, sih? Apa yang terjadi kalau jaksa bijak itu menelepon menggunakan ponsel beratasnamakan kakaknya?" Rei Gaara mendecih kesal. Ya, memang tak lucu jika dia menyalahkan Sakura yang pergi membawa ponselnya sendiri. Dan salahnya juga karena tak pernah mencoba menyampaikannya pada Sakura sejak awal.

.

.

.

Sejak turun dari bus yang mengantarnya dari halte bus dekat rumah Ino, pemilik manik emerald ini melangkah cepat menuju kediaman Gaara. Memang kurang dari tiga ratus meter dari halte bus tempatnya turun, namun Sakura tetap berlari cepat agar bisa sampai dengan efisiensi waktu yang lebih singkat. Gadis beriris emerald itu menyeberangi jalan raya yang sepi menurut penglihatannya tanpa menyadari sebuah van putih hendak menghantamnya.

Ckiiit

TBC

A.N: Maafkan keterlambatan Fura. Fura sudah sering mengimajinasikan cerita ini tapi tetap aja dituliskannya lama '-')a

Thanks to Bang Kise Ganteng, EchaNM, Lotuce, BlackHead394 yang sudah review chapter sebelumnya. Walau Fura sendiri bingung dengan review BlackHead394 karena deja vu dengan yang sebelumnya :3 *ditimpuk tombak*

Dan Fura yakin fict ini berkekurangan banyak. Itu sebabnya yang FnF pun belum menampakkan diri di tempat review, bukan? Bagaimana pun Fura cuma ingin setiap kata di setiap chapternya dimengerti. Makasih kalian yang masih baca & FnF ^-^)/