Disclaimer: Semua karakter milik Masashi Kishimoto. Fura hanya pinjam nama.
.
.
Happy Reading!
.
.
Ckiiit
Tin tin
Gaara melesat menjadi tameng gadis bercardigan merah yang berdiri mematung di jalan begitu bunyi klakson van putih menyadarkannya.
.
.
.
Gaara merentangkan kedua tangannya sebagai tameng baginya, hanya itu yang Sakura ingat. Sakura terus mengerjapkan kelopak matanya bingung. Dia mematung begitu sadar dirinya pingsan pada saat Gaara menolongnya. Menurut kejadian yang didengarnya, Gaara berlari menghentikan laju van putih itu hingga van itu berhenti di saat Sakura sudah jatuh pingsan duluan di belakangnya setelah merintih akibat kepalanya yang sakit.
Pemilik manik azure itu berjalan mendekati jendela kamar rawat klinik. Dia menatap kosong pada merah mega. Pikirannya semakin tak karuan sekarang ini, kemudian dia menghela napas.
"Kau tak boleh pergi sendiri, Sakura-san. Aku benci dibuat khawatir." ucap Gaara tanpa membalikkan badan bahkan tak menoleh kepada gadis bersurai soft pink yang kini membulatkan iris emeraldnya.
"Ma-maaf kalau membuatmu susah." Pandangan Sakura mulai sendu. Namun kemudian dia beranjak dari ranjangnya dan berjalan ke arah Gaara. "Tapi aku benar-benar harus bertemu denganmu tadi. Itu sebabnya aku lari dengan kepanikan yang tak karuan. A-ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu."
Gaara mendelik ke arahnya. Sakura meneguk ludah bersiap melanjutkan kalimatnya.
"Seseorang meneleponku dengan ponsel Sasori nii-san. Apakah kau mengenal siapa dia? Dia tak sempat katakan siapa dia." ucap Sakura praktis membuat Gaara membalikkan badan memandangnya.
Gaara sukses menyembunyikan raut cemas dan takutnya. Tak tampak sedikit pun mimik khawatir di mata Sakura. Tanpa Sakura sadari jantung Gaara berdegup tak karuan. Pemuda berambut merah maroon itu tahu siapa yang menelepon Sakura dan sedemikian itu pula keringat dingin Gaara bercucuran.
"Apa yang penelepon itu katakan padamu?" tanya Gaara antusias. Sungguh siapa pun akan berpikir untuk menobatkannya sebagai pemilik muka dua terhebat sedunia akibat ekspresi cemas yang sukses disembunyikannya.
"Dia bilang dia diancam dan hampir semua pekerjanya dibunuh. Err, gomen, aku lupa-lupa ingat." jawab Sakura sambil menggaruk tengkuknya.
Tentu saja satu jawaban itu cukup untuk membuat Gaara mengepal erat tangan kanannya. Sulutan api emosi tampak dari mata hijaunya.
.
.
.
Jika dia lupa bahwa dirinya lelaki, pasti dia sudah menangis histeris dengan teriakan miris dari emosinya yang tersulut oleh pemandangan jasad orang-orang di atas tanahnya. Pemuda beriris lavender yang terkapar di atas rerumputan halaman belakang dengan noda darah di kemejanya dan luka parah di sekujur tubuhnya hanya memandang lemah pada langit yang sudah penuh semburat merah. Napasnya tersengal-sengal, sesaknya ditambah oleh kepedihan akan apa yang dilihatnya; jasad para pekerja mansion yang sudah melindunginya dari pengaruh buruk para pembunuh itu. Dia bersyukur karena para pekerjanya sudah mengabdi terlampau jauh. Namun dia juga sakit mendapati pekerja yang turut mengisi suasana kediamannya kini telah menjadi jasad-jasad yang tewas dengan cara yang tidak manusiawi. Selama ini dia hanya berpikir bahwa dirinya tak lebih dari sekedar jaksa muda yang rapuh. Sama seperti Gaara yang notabene sangat menarik perhatian dunia hukum karena kemampuannya sebagai kepolisian intelektual yang kritis dalam menangani kasus dalam usia muda, Hyuuga Neji juga sama menariknya mengingat sudah menjabat jaksa kasus tertentu dalam usia muda. Bagaimana pun juga dia tetaplah rapuh. Siapa pun akan datang untuk mengancam keadilannya dan dia sudah duga pembunuhan sadis seperti ini akan terjadi.
Neji memejamkan mata begitu mendengar derap langkah mendekatinya. Di atas rumput rindang yang digoyangkan angin sepoi-sepoi, pemilik manik lavender itu menduga-duga siapa yang datang untuknya.
"Neji, kenapa?" tanya sosok yang baru tiba.
Masih dalam posisi terlentang, pemuda beriris lavender itu hanya menyunggingkan senyum pahit. Sudah tahu Neji irit bicara sepertinya, tentu saja dia menyesal bertanya seperti itu barusan. Segera pemuda berambut merah maroon itu membantu Neji berdiri. Pemuda berambut cokelat panjang merintih perih membuat Gaara sesekali ikut meringis. Dengan tangan kanan Neji pada pundak kirinya, sang pemilik manik azure menitah Neji menuju sedan hitamnya yang terparkir di halaman depan. Di perjalanan menuju halaman depan, Neji memandang sendu pada jasad-jasad yang bergelimpangan di atas tanah. Begitu banyak pekerja yang bekerja mengurus rumah tangga dan menjaga keamanan di mansionnya dan sedemikian itu pula mereka merenggang nyawa untuknya.
"Mereka semua tidak mati percuma." gumam Gaara lirih. Kalimatnya cukup untuk membuat lelaki yang ditopangnya meringis.
Neji memejamkan matanya yang sejak tadi berkaca-kaca. Demi apa pun dia sangat berharap air matanya tak usah tumpah. Namun kemudian Gaara menghentikan langkahnya dan membuat Neji membuka mata memandang Gaara. Kemudian mata ungu terang itu diarahkan untuk memandang ke arah Gaara memandang.
"Ne-neji..."
Iris lavender itu sama bulatnya dengan iris azure yang membesar atas keterkejutan yang bukan main. Rahang kedua pemuda expressionless itu sama kerasnya. Gaara menunduk enggan memandang salah satu jasad di sana lebih lama. Kemudian Neji melepas rangkulannya dan berjalan tertatih ke arah jasad yang terkapar di sana. Liquid bening tak sungkan menembus pertahanan dari mata penuh emosinya. Pemuda dengan luka senjata tajam di pundak kirinya dan paha kanannya kini jatuh merangkak mendekati salah satu jasad di sana.
"Hinata, kau pergi juga? Kenapa?" tanya Neji dengan suara berbisik. Neji mengusap lemah puncak kepala bersurai indigo itu.
.
.
.
"Jadi, Gaara melesat pergi meninggalkan aku denganmu karena ingin ke tempat teman semasa sekolahnya, huh? Aku baru tau kalau lelaki seperti dia punya teman." celetuk Sakura asal.
Temari tertawa sembari menggelengkan kepala.
"Hey, biar pun begitu, temannya Gaara itu seorang jaksa lho. Dia juga kan yang menjadi jaksa dalam persidangan money laundry Akasuna Corp. yang sangat bertanggungjawab pada perekonomian negara."
"Nani?!"
Ingin sekali Temari mengutuk dirinya yang kelepasan mengatakan semuanya.
.
.
.
"Adik anda meninggal dibunuh orang yang berniat mempengaruhi anda?" Shisui mengulang pertanyaannya.
Kepolisian Konoha tiba atas panggilan Gaara. Mereka terus meminta kesaksian Neji yang semakin lemas memandang petugas kepolisian yang satu per satu berlalu-lalang membawa jasad penghuni mansionnya. Neji hanya mengangguk.
"Baiklah. Apakah pihak keluarga bersedia kami mengotopsi semua jenazah?"
"Iie." jawab Neji ketus.
"Kenapa?" tanya Shisui setengah tak terima.
"Tak akan pernah ada proses otopsi untuk jasad setiap pahlawan. Tak terkecuali Hinata. Kalau mereka tidak mati, sudah pasti kau tak bisa bicara denganku sekarang."
Penegasan Neji cukup untuk membuat Shisui mengangguk paham. Orang-orang yang merelakan nyawa demi melindungi jaksa yang adil dari pengaruh bayangan kotor sudah pasti mati sebagai pahlawan. Bukankah untuk membuat pahlawan, memang selalu ada pahlawan terdahulu yang pergi?
"Baiklah, kami akan membawa anda ke rumah sakit."
.
.
.
"Nani? Kediaman Hyuuga diserang oknum pengancam jaksa?"
"Ini sudah melampaui batas! Kita tidak bisa hanya diam."
"Tapi apa yang harus kita lakukan? Bahkan adik kandung sang jaksa juga dibunuhnya."
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa rumah jaksa juga harus diserang?"
"Ancaman macam apa ini? Hanya karena korupsi perusahaan swasta Akasuna Corp.?"
Semua anggota ruang diskusi kepolisian Konoha mengemukakan argumen masing-masing. Lebih tepatnya, pertanyaan akan latar belakang dari peristiwa yang terjadi. Pemimpin rapat diskusi, Rei Gaara hanya duduk bersedekap di bangkunya seraya menunduk memejamkan mata. Otaknya yang sudah lama tak mengurus kasus besar, kini dia aktifkan guna menemukan gagasan-gagasan terbaik.
Baginya, memang benar Akasuna Corp. adalah perusahaan swasta semata. Namun keberadaannya yang menjadi tonggak utama perekonomian negara cukup untuk membuatnya perlu berpikir keras. Kasus ini haruslah lekas tuntas. Dan lelaki bermata panda itu tak ingin salah langkah.
"Apa yang akan anda putuskan, Rei-sama? Hyuuga-sama masih dirawat dalam jangka waktu yang belum bisa dipastikan. Orang-orang seperti kalian yang menjadi patokan kami dalam berpikir kritis." seorang anggota diskusi berkacamata dan bergigi runcing mengajukan pertanyaan.
Semua mata beralih pada sosok yang Chojuro pandang. Gaara merubah posisi duduknya menjadi bertopang dagu. Sesekali matanya memandang sederet anggota diskusi di hadapannya.
"Untuk saat ini sepertinya kita akan mengurus lebih dari satu kasus. Kasus korupsi Akasuna Corp., dan juga percobaan pembunuhan Hyuuga Neji yang berujung kematian puluhan penghuni mansion." tegas Gaara yang praktis membuat beberapa peserta diskusi disana menangguk paham.
"Tapi, bukankah akan sulit jika mengurus dua kasus besar itu sekaligus?" tanya Chojuro lagi. Seringaian terulas di bibir lelaki berambut merah maroon itu.
"Untuk itu, aku akan menyeret satu orang lagi yang akan membantu," jawab Gaara kalem. "Ya, untuk itu aku butuh masukan Neji juga."
.
.
.
Shisui yang berada di ruang ICU berdiri di sisi ranjang Neji. Menuruti perintah Gaara yang konon akan kembali usai rapat diskusi. Entah dia harus merasa bodoh atau apa lantaran tak ikut rapat kepolisian itu.
Brak
"Neji, apakah keadaanmu sudah membaik?" tanya sosok yang baru saja masuk dengan mendobrak kasar pintu.
Neji hanya membalasnya dengan anggukan pelan.
"Gaara, bagaimana rapatnya?" tanya Shisui antusias.
"Aku akan membuat keputusan terakhirnya bersama Neji." jawab Gaara asal. Shisui melongo mendengarnya.
'Konspirasi macam apa itu?!' batin Shisui sweatdrop. Dia merasa iri karena tak dibagi peran dalam kasus ini.
Neji mencoba beranjak duduk dibantu Gaara. Kemudian dahinya mengernyit heran pada sikap Gaara yang kali ini begitu antusias.
"Aku akan membagi tugas untuk penanganan dua kasus ini. Menurutmu, siapa yang mampu untuk menangani kasus Akasuna Corp.?"
Pertanyaan sang pemilik manik azure sukses membuat Neji menggeleng tak suka.
"Tidak semudah itu memindahtangankan penanganan kasus, Gaara. Kau bisa merusak semuanya." ujar Neji yang langsung diamini Shisui.
"Kau ini aneh. Biasanya juga menangani kasus sendirian. Kenapa berpikir untuk membagi tugas?" ujar Shisui yang tak terima. Baginya, terlalu mustahil Gaara dalam keadaan seperti ini.
"Hey! Kalian salah paham. Aku hanya-"
"Iya aku mengerti," sela Neji tiba-tiba. "Apakah kalian ingat pakar ekonom yang sukses menangani perekonomian Iwa yang hancur akibat penyelewengan dana? Dia disewa untuk menangani kasus itu dan dia berhasil."
Gaara mendongak menerawang. Dia mencoba mengingat kasus apa dan kapan itu.
"Eh? Penyelewengan dana yang menghanguskan 62% pemasukan Bank Iwa itu? Ah, itu sudah lama sekali." ujar Shisui.
"Ya, dia pakar ekonom yang biasa-biasa saja dan tak terlalu dipandang oleh khalayak ramai," ujar Neji selepas mengangguk. "Namun pemikiran bidang ekonominya yang dibarengi pandangan psikologis itu cukup untuk membuat kasus besar itu terselesaikan. Dia panutan penegak hukum di kota Iwa. Walau pun bukan politikus atau penegak hukum sekali pun, kecerdasannya dalam memandang sosial masyarakat begitu baik."
Gaara tampak mengkerutkan dahinya bingung. Dipandangnya iris lavender sahabatnya lekat-lekat.
"Tapi, dia sudah bukan siapa-siapa lagi. Kudengar, dia pernah dijumpai menjadi seniman jalanan yang kerjaannya melukis di jalanan trotoar kota Iwa. Bagaimana bisa-"
"Pasti bisa," Gaara memotong ucapan Shisui. "Siapa pun dia sekarang, selama dia masih hidup, maka Konoha akan menemui keberuntungannya. Perekonomian yang terpuruk oleh kasus Akasuna Corp. akan segera pulih. Siapa dalang kasus sebenarnya akan terungkap. Dan bersamaan itu juga akan kita temukan, spesies-spesies licik yang mencoba membunuh Neji."
"Bekerjasama dengannya tidak mudah. Oonoki-sama yang saat itu menjabat walikota Iwa mendapat penolakan saat mencoba memintanya membantunya. Dia menerima permintaan dengan cara psikologis. Jika dia melihat hal yang membuatnya merasa tak harus menolongmu dari matamu, maka dia benar-benar tak akan menolong."
Pernyataan Neji yang meyakinkan itu cukup untuk membuat Shisui meneguk ludah. Lain dengan Gaara yang matanya langsung menunjukkan watak keyakinan. Dengan penuh keyakinan dia yakin akan bisa dibantu dan membantu dalam hal ini.
'Sakura. Aku begini untuk Sakura. Gadis tak bersalah yang sangat ingin kakaknya dalam keadaan baik-baik saja. Tidak peduli walau berapa kali dia katakan bahwa dia membenci Sasori.'
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Lagi, Gaara belum pulang dan Sakura merasa lumutan menunggunya di sini. Dirinya yang sejak tadi berjalan-jalan mengelilingi meja ruang tamu pun menghela napas kasar dan membanting tubuhnya ke atas sofa.
"Huft, dimana dia? Dia meninggalkanku sejak dari klinik dan sekarang aku benar-benar sendirian. Untuk apa juga dia pergi membawa ponselku?" gerutu Sakura panjang lebar.
Temari belum pulang sejak pamit berkunjung ke rumah temannya. Sakura sebagai penumpang di rumah ini merasa dikekang. Tapi kalau dipikir lagi, ini semua demi keamanannya juga.
Tok tok tok
Sakura beranjak bangun dari posisinya yang sebelumnya terbaring. Mengerjapkan mata heran dan memandang pintu dan jam dinding secara bergantian. Dia penasaran siapa yang datang di tengah malam begini. Haruskah Gaara pulang mengetuk pintu terlebih dahulu? Ah benar juga, bisa saja itu terjadi mengingat pintu rumah itu terkunci. Tapi bukankah Gaara punya kunci duplikat? Tanpa ambil pusing, gadis beriris emerald itu beranjak mengintip dari jendela. Sakura kembali membelakangi pintu dengan napas tercekat. Itu bukan Gaara.
'Apakah itu tamu Gaara?' tanya Sakura dalam hati.
Namun seketika kepalanya menggeleng. Tidak mungkin ada yang bertamu di rumah seorang bidang kepolisian di tengah malam begini.
Tok tok tok
Sakura meneguk ludah. Ketukan pintu dengan frekuensi yang sama kembali terdengar oleh kedua telinganya. Matanya yang menatap horror seisi rumah langsung membulat begitu melihat sebuah telepon rumah yang berada di atas meja deretan hiasan rumah.
Gadis bersurai soft pink itu melangkah menghampiri telepon dan mencari nama Gaara di buku telepon sebelahnya. Begitu ketemu, Sakura segera menekan tombol nomor yang ditujunya.
[Moshi-moshi,]
"Gaara! Dimana kau?"
[Aku di perjalanan. Kenapa kau belum tidur?]
"Aku mohon cepatlah pulang. Dua orang lelaki berada di depan rumah. Haruskah aku bukakan pintu untuk mereka? Temari-san tidak sedang di sini."
[Siapa yang kau maksud?]
"Ck, mana mungkin aku kenal. Apa yang harus kulakukan? Mereka tak kunjung pergi dan terus mengetuk pintu."
[Seperti apa ciri mereka?]
"Salah satunya berambut klimis. Dan yang satu lagi berambut gelap dikuncir longgar dengan dua garis aneh di wajahnya."
[Huh?!]
Tok tok tok
TBC
A.N: Seperti biasa, kalau ide cerita mengucur jelas di dalam pikiran, pasti Fura usahakan update per minggu. Dan bersamaan itu pula kekurangan dalam words itu terjadi. Maklum, tak ada author yang sempurna. Kalau update banyak, pasti lama (per bulan -red). Kalau update cepat, pasti sesedikit ini.
Balasan review:
Bang Kise Ganteng: Maaf belum bisa pasang banyak scene romance U,U Neji matikah? Kalo Neji mati, Fura jadi apa? *nyakar tembok* Asghahqrtqagq lupakan soal pembicaraan telepon itu. Fura sendiri sering gagal paham dengan apa yang Fura tulis XD HidanIta akan terjawab segera [Inner: Atau udah? :3] Makin greget, huh? Yosha! Makasih semangat & reviewnya *-*)9
EchaNM: Makasih reviewnya *-* Maaf kalau kurang panjang, huahaha(?) Iya Nejikuh keluar XD Semoga yang ini tak kalah memuaskan ^3^
Ha neul: Weh bisa dateng lagi lo :v *disambit* Makasih sudah review *-* Tapi ini greget dimananya? Reviewmu kurang spesifik '-' *disambit[2]*
Brokoro: Kamu siapa? Kok reviewnya cuma satu kata? '-' [Brokoro: MASIH UNTUNG DIREVIEW :V] Yodah makasih reviewnya *-*
Oke makin kemari Fura merasa makin ngaco dan absurd dalam pembalasan review. Gomen, minna-san. Oke jaa~
